Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN
Histerosalpingografi (HSG) merupakan suatu prosedur radiologi untuk melihat
rayangan rongga rahim dan bentuk tuba fallopi dan biasanya dilakukan untuk mencari
penyebab infertilitas. Pemeriksaan hosterosalfingografi (HSG) kini telah merupakan
pemeriksaan rutin ditiap rumah sakit yang mempunyai peralatan rontgen yang cukup besar.
Dinegeri kita pemeriksaan ini dilakukan sendiri oleh ahli radiologi dengan atau tanpa
bantuan

fluroskopi.

Histerosalfingografi

(HSG),

juga

dapat

disebut

sebagai

uterosalfingografi, adalah pemeriksaaan radiologi yang digunakan untuk membantu


mendiagnosa tumor, massa, atau kelainan bawaan intrauterus, atau dimana tuba faloppi
mungkin tersumbat. Sebuah HSG menggunakan bentuk khusus dari sinar-x yang disebut
fluroskopi dan bahan kontras. Meskipun pemeriksaaan ini akurat untuk mengakses uterus
dan tuba akan tetapi memiliki sensitivitas yang rendah dalam mendiagnosis adhesi pelvis
sehingga tidak dapat menggantikan pemeriksaan fluroskopi.
Waktu yang optimum untuk pemeriksaan HSG ini adalah pada hari ke 9-10 sesudah
haid mulai. Pada saat itu biasanya haid sudah berhenti dan selaput lender uterus sifatnya
tenang. Bilamana masih ada perdarahan, dengan sendirinya HSG tidak boleh dilakukan
karena ada kemungkinan kontras masuk kedalam pembuluh darah balik. Selama
histerosalfingogram, pewarna (kontras) diletakkan melalui pipa tipis yang dimasukkan
melalui vagina dan kedalam rahim. Karena rahim dan saluran tuba terpancing bersamasama, akan mengalir kedalam tuba. Pada tahun terakhir ini dipakai bahan kontras lipiodol
ultrafluid untuk pemeriksaan HSG. Pertanyaan yang sering diajukan pasien adalah apakah
pemeriksaannya sakit (nyeri), yang harus di jawab oleh dokter dengan terus terang. Pada
waktu portio dijepit memang timbul rasa nyeri, tetapi dari pengalaman ternyata bahwa rasa
nyeri ini sifatnya individual. Dengan penjelasan dari ahli radiologi, bahwa tindakan ini
bukan suatu operasi melainkan hanya untuk memasukkan bahan kontras kedalam uterus,
kebanyakan pasien merasa lega. Hal ini menimbulkan kerjasama yang baik antar pasien
dengan dokter, hingga memberikan hasil pemeriksaan yang memuaskan. Sikap dan
pengalaman ahli radiologi juga dengan sendirinya mempunyai peranan penting untuk

keberhasilan pemeriksaan ini.Saat pemeriksaan HSG pada anita dengan siklus haid tidak
teratur ditentukan secara individual.
Indikasi HSG yang paling sering adalah dalam genekologi, baik sterilitas primer
maupun sekunder, yaitu untuk melihat posisi tuba. Pada tuba yang paten akan terjadi
pelimpahan kontras dari tuba menuju ke dalam rongga peritoneum. Hal ini akan
memberikan gambaran karena bahan kontras akan tersebar di antara lingkaran-lingkaran
usus dalam perut. Selain itu, HSG memberikan gambaran tentang kelainan-kelainan uterus
dan kanalis servikalis. Dengan demikian kelainan-kelainan bawaan uterus dapat diketahui.
Kadang-kadang HSG juga dikerjakan sesudah operasi tuba untuk memberikan informasi
mengenai keberhasilan operasi beberapa minggu atau beberapa bulan pasca operasi.
HSG dapat juga digunakan sebagai skrining awal dengan biaya yang tidak terlalu
mahal, dan tes diagnostic beresiko rendah pada pasien infertile pada riwayat PID,
endometriosis dan pada pasien yang ingin melakukan tes potensi tuba dan pada pasien
dengan resiko tinggi seperti pada pasien berusia tua. Selain itu HSG juga dapat dijadikan
sebagai terapi dimana jika terjadi perlengketan atau sumbatan ringan pada rahim atau
saluran telur dengan cairan yang : masukkan maka perlengketan atau sumbatan akan
terbuka. Kehamilan sering terjadi dalam tiga : klus setelah pemeriksaan dilakukan dan juga
sering terjadi setelah pemeriksaan HSG. Kemungkinan besar kontras membuka secara
mekanis obstruksi-obstruksi yang disebabkan oleh secret-sekret, melepaskan adhesi,
meluruskan bengkokan tuba, dan menimbulkan peristaltic yang lebih aktif karena
masuknnya bahan kontras.
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengemukakan prosedur pemeriksaan
HSG dan peranan HSG dalam menggambarkan organ reproduksi wanita, serta membantu
menurunkan tingkat infertilitas yang saat ini sudah sering dilakukan diberbagai rumah
sakit.

BAB II
PEMBAHASAN

II.1 Definisi
Hystero berarti uterus, Salpingo berarti tuba, jadi histerosalfingografi berarti
pengambilan gambar dari uterus dan tuba falopii. Histerosalpingografi adalah pemeriksaan
yang menggunakan sinar-x untuk menilai keadaan saluran leher rahim (kanalis servikalis)
dan rongga rahim uterus, dan saluran telur (tuba falopii), dan rongga peritoneum secara
sekaligus dengan memasukkan bahan radioopak ke dalam rongga cavum uteri melalui
serviks,

menggunakan

kanula.

Disebut

juga

uterosalpingografi,

uterotubografi,

hysterotubografi, metrosalpingografi, dan metrotubugrafi.

II.2 Bahan Kontras dalam pemeriksaan HSG


Bahan kontras yang sering digunakan oleh ahli radiologi di Indonesia adalah zat
kontras yang larut dalam air yaitu urografin 60% (meglumin diatrizoate 60% atau sodium
diatrizoate 10%). Bahan kontras ini sifatnya encer, memberikan opasitas yang memuaskan
dan mudah masuk ke dalam tuba dan menimbulkan pelimpahan kontras ke dalam rongga
peritoneum dengan segera. Pada tahun-tahun terakhir ini dipakai juga bahan kontras
lipiodol ultrafluid yang juga dipakai untuk pemeriksaan limfografi, sialografi, fistulografi,
dan saluran-saluran yang halus. Kekurangan lipiodol adalah bahwa resorpsi kembali
berlangsung lama sekali jika kontras ini masuk ke dalam rongga peritoneum. Jumlah bahan
kontras yang digunakan berbeda-beda, tergantung pasien, tetapi biasanya mendekati 10 ml.
Kontras larut minyak sekarang sudah banyak ditinggalkan, karena komplikasi yang
ditimbulkan yaitu 1:

Emboli paru

Granuloma pada permukaan peritoneum

Fibrosis peritoneum

Penyerapan lebih lama

Bahan kontras lain yang juga sering dipakai dan memberikan hasil sama seperti urografin,
misalnya hipaque 50% (sodium diatrizoate), endografm (meglumine iodipamide), diaginol
scous (sodium acetrizoate plus polyvinyl pyrolidone), isopaque (metrizoate), lipiodol
ultrafluid, dan sebagainya.
II.3 Indikasi Pemeriksaan HSG
Indikasi pemeriksaan histerosalpingografi yaitu Infertilitas: untuk menggambarkan
tuba fallopi dan salurannya sampai ke kavum peritoneum, abortus berulang:
menggambarkan apakah ada kelainan bawaan pada kavum uteri. Memonitor pasca operasi
tuba, seperti pada prosedur sterilisasi. Indikasi HSG yang paling sering ialah dalam
ginekologi, baik sterilitas primer maupun skunder, untuk melihat potensi tuba. Pada tuba
yang paten akan terjadi pelimpahan kontras dari tuba ke dalam rongga peritoneum. Hal ini
memberikan gambaran yang khas karena bahan kontras akan tersebar diantara lingkaranlingkaran usus dalam perut. Selain itu HSG memberikan gambaran tentang kelainankelainan uterus dan kanalis servisis. Dengan demikian kelainan-kelainan bawaan uterus
dapat diketahui. Kadang-kadang HSG juga dikerjakan sesudah operasi tuba untuk sterilitas
guna menentukan berhasilnya tindakan operatif. Pemeriksaan HSG sekarang juga
dilakukan untuk menentukan apakah IUD (intra- uterine device) masih ada dalam kavum
uteri. Untuk indikasi ini, sebaiknya dibuat dahulu foto polos abdomen untuk melihat
apakah IUD masih di dalam abdomen. Jika tidak nampak lagi, IUD yang sengaja dibuat
opak, maka HSG tidak perlu dilakukan. Jika IUD berada jauh dari lokasi uterus, misalnya
di abdomen bagian atas, maka dengan sendirinya HSG tidak perlu dikerjakan lagi.
Selain itu terbukti bahwa HSG juga mempunyai efek terapeutik, bahwasannya
kehamilan sering terjadi segera sesudah pemeriksaan HSG dilakukan. Kemungkinan besar
kontras membuka secara mekanis obstruksi-obstruksi yang disebabkan oleh sekret,
melepaskan adesi yang ada dalam tuba, meluruskan bengkokan tuba dan menimbulkan
peristaltik yang lebih aktif karena masuknya bahan kontras. Kalau memang demikian,
maka pemakaian kontras yang dicampur dalam minyak seperti lipiodol ultrafluid dapat
menyebabkan kehamilan lebih banyak dibandingkan dengan pemakaian kontras yang cair.
HSG juga diindikasikan jika ada perdarahan per vaginam sedikit, misalnya disebabkan

oleh mioma uteri, polip endometrium, adenomatorus, dan lain-lain. HSG juga dapat dilihat
jika ada kelainan bawaan uterus atau adhesi dalam kanalis servisis dan kavum uteri yang
dapat menyebabkan abortus. HSG kadang-kadang dilakukan sesudah section caesaria
untuk melihat parut-parut pada cerviks dan uterus. Tumor maligna kavum uteri kadangkadang juga perlu diperiksa dengan HSG untuk melihat lokasi, ekstensi, dan bentuk tumor.
Tumor maligna seperti koriokarsinoma memperlihatkan bentuk yang khas pada HSG.
Sekarang HSG juga perlu dilakukan pada kasus-kasus inseminasi buatan. Sebelum
inseminasi, sebaiknya dilakukan HSG untuk melihan kelainan pada traktus genitalis.
II.4 Kontraindikasi Pemeriksaan HSG
Kontraindikasi pemeriksaan HSG : Infeksi pelvis yang aktif dapat menyebarkan
infeksi Penyakit ginjal atau jantung yang berat Hipersensitifvitas pada zat kontras Pasien
yang baru kuretase kehamilan Seminggu sebelum menstruasi berikutnya dan belum lebih
seminggu setelah menstruasi. Pada umumnya penentuan indikasi pemeriksaan HSG dibuat
oleh ahli obstetri ginekologik. Proses-proses inflamasi yang akut pada abdomen
merupakan kontra indikasi. Pada hamil muda, pemeriksaan ini tidak boleh dikerjakan,
karena bahaya terjadinya abortus. Lagi pula radiasi terhadap fetus tinggi sekali. Pada
umumnya pada hamil muda tak boleh dilakukan pemeriksaan foto polos abdomen, karena
selsel fetus masih dalam stadium pembagian yang aktif, Kontra indikasi lain adalah
perdarahan pervaginam yang berat. Pemeriksaan tertentu harus ditundas sampai perdarahan
berhenti. Jika ada perdarahan, maka bahan kontras bias masuk ke dalam vena uterina dan
vena ovarii, masuk kedalam vena kava inferior, jantung sebelah kanan, kemudian masuk
kedalam paru-paru. Tuberkulosis aparat genital tidak merupakan kontra indikasi yang
absolut, malahan kadang-kadang penyakit ini ditemukan pada pemeriksaan HSG. HSG
juga tidak boleh dilakukan segera setelah dikerjakan kuretase atau dilatasi kanalis
servikalis, karena ada kemungkinan masuknya kontras kedalam vena-vena sekitar uterus.
Penyakit ginjal dan jantung yang sudah lanjut juga merupakan kontra indikasi untuk
dilakukan HSG. Pemeriksaan HSG juga tidak dilakukan segera setelah dan sebelum
menstruasi karena pada saat ini, endotel menebal dan dapat terjadi intravasasi kontras,
sehingga interpretasi foto akan lebih sulit.

II.5 Komplikasi pada Pemeriksaan HSG


Pada umumnya pemeriksaan HSG hanya ringan saja.Keluhan utama ialah rasa
nyeri pada waktu pemeriksaan dilakukan. Rasa nyeri ini akan hilang sendiri dalam
beberapa jam. Kadang-kadang timbul keadaan pra-renjatan (pre-shock) karena pasien
sensitif terhadap zat kontras. Tensimeter dan obat-obat untuk keadaan darurat harus selalu
tersedia. Keadaan ini biasanya dapat ditanggulangi dengan mudah pada pemeriksaan HSG.
Adapun komplikasi lainnya yaitu kemungkinan rusaknnya sel atau jaringan karena
terekspose radiasi akan tetapi kemungkinan ini sangatlah rendah dibandingkan keuntungan
yang didapatkan dari pemeriksaan HSG. Kemungkinan lain yang dapat terjadi adalah
infeksi pelvis, endometrisis, salpingitis setelah pemeriksaan. Pada proses inflamasi, infeksi
pelvis, penyakit menular seksual yang tidak diobati, yang tidak dideteksi oleh dokter, dapat
menjadi lebih parah akibat pemeriksaan ini.
Pada kasus yang jarang, jika kontras dengan dasar minyak ( oil-based dye )
digunakan, minyak tersebut dapat masuk kedalam darah dan menyebabkan blockade dari
aliran darah paru (emboli paru). Akan tetapi kebanyakan histeosalpingografi menggunakan
kontrasbahan dasar air.
Bercak darah pervaginam dapat timbul selama beberapa hari setelah pemeriksaan.
Hal-hal yang harus diperhatikan adalah jika perdarahan tersebut berat (lebih dari satu
pembalut dalam satu jam atau perdarahan lebih dari 3-4 hari), demam atau nyeri perut yang
hebat.
Komplikasi lainnya adalah perforasi uterus dan perdarahan pasca pemeriksaan,
Intravasasi vena atau limfatik pada media kontras berbahan dasar beminyak telah
dilaporkan 0 6,4%. Media kontras berbahan dasar minyak dapat persisten dipelvis
berbulan-bulan hingga menahun yang dapat mencetuskan terjadinya granuloma.

II.6 Waktu Pemeriksaan HSG


Waktu yang paling baik ntuk melakukan pemeriksaan HSG hari ke 9-10 setelah
haid dimulai. Pada saat ini biasannya haid mulai berhenti dan selaput lender uterus sudah

bersifat tenang. Apabila masih ada perdarahan yang terjadi, maka pemeriksaan HSG tidak
boleh dilakukan karena berarti ada kemungkinan dimana kontras masuk ke dalam
peredaran pembuluh arah balik (Vena). Setelah hari ke 10 dapat dilakukan pemeriksaan
bila tidak terjadi pembuahan dan tidak ada hubungan seksual untuk menghindari
terjadinnya kehamilan.

II.7 Persiapan HSG


1. Menanyakan dengan jelas mengenai siklus menstruasi pasien dan rencana
melakukan pemeriksaan HSG 10 hari setelah menstruasi dimulai. Memberitahu
pasien untuk tidak melakukan hubungan seksual sebelum melakukan
pemeriksaan.
2. Meminta pasien meminum dulcolax 2 tablet pada jam 8 malam saat malam hari
sebelum pemeriksaan akan dilakukan, untuk mengosongkan usus sehingga
terdapat gambaran yang lebih baik dan mengurangi area yang terobstruksi oleh
3.

gas usus maupun feses.


Saat kedatangan pasien, berikan inform consert, tanyakan apakah pasien untuk
mengganti pakaian dengan pakaian pemeriksaaan dan melepaskan benda-benda

4.

yang dapat menghalangi hasil foto yang baik (terutama benda logam ).
Minta pasien untuk berkemih sebelum pemeriksaan. Pengosongan kandung

5.

kemih dapat mencegah perpindahan uterus dan tuba uterine.


Dapat pula diberikan obat penghilang nyeri atau sedative untuk meminimalisir

6.

rasa sakit saat dilakukan tindakan pemeriksaan HSG.


Membersihkan vulva dan perineum terlebih dahulu sebelum dilakukan
tindakan.

II.8 Teknik Pemeriksaan HSG

Pasien terlentang dalam posisi litotomi


Prosedur ini menempatkan sebuah spekulum ke dalam vagina untuk visualisasi
leher rahim. Sebelumnya digunkan solutio untuk membersihkan leher rahim dan

vagina. Lalu menggunakan sebuah penjepit untuk memungkinakn traksi.Seperti


mencubit saat disuntik mungkin dirasakan pada saat ini, tetapi biasanya terlalu

cepat.
Lalu digunakan kanula untuk dengan stopper karet diujungnya untuk ditempatkan
terhadap mulut serviks sehingga saat pembukaan serviks dan media kontras

disuntikkan tidak tumpah kembali ke dalam vagina.


Kemudian spekulum diambil dan pasien diposisikan kembali ke dalam vagina.
Lalu spekulum diambil dan pasien diposisikan dengan benar di bawah mesin
radiologi. Seorang ahli radiologi hadir untuk melakukan fluoroscopy, atau

mengambil sinar - x
Saat setelah kontras dimasukkan, maka kontras akan terlihat pada layar monitor.
Pasien dan keluarga diperbolehkan untuk melihat layar monitor saat prosedur

dilakukan.
Setelah kontras dimasukkan maka ahli radiologi merekam / mengambil gambaran
radiologi yang menunjukkam temuan HSG. Idealnya kontras akan tmapak tumpah (
spill ) pada ujung saluran tuba. Pemotretan dilakukan dengan proyeksi AP dan
oblique ( RPO dan LPO )

VATOMI ALAT REPRODUKSI WANITA


Uterus: Terdapat dalam rongga panggul, bentuknya seperti buah peer, panjang 6,5
cm cm dan tebal 2,5 cm 4 cm. Uterus terletak di belakang kandung kencing dan di
depan 'rctum. Uterus terdiri dari fundus uteri yang merupakan bagian terbesar, dan ismus
uteri yang menghubungkan korpus dan serviks. Kanalis servikalis berbentuk spindle,
panjangnya 2 cm 3 cm. Biasanya pada nullipara ostium uteri ekstema terbuka hanya 0,5
cm.
Beberapa posisi uterus: Antefleksi Retrofleksi Anteversi Retroversi Dinding uterus
terdiri dari luar ke dalam yaitu perimetrium, miometrium dan endometrium. Uterus
mempunyai alat penahan dan penggantung yaitu ligamentum teres uteri, ligament kardinale
dan ligamentum rekto-zerina.
Saluran telur (tuba uterina): Merupakan saluran membranosa yang mempunyai
panjang kira-kira 10 12 cm. Terdiri dari 4 bagian yaitu: Pars interstisialis, yaitu bagian
yang menempel pada dinding uterus Pars ismika, merupakan bagian medial yang
menyempit seluruhnya Pars ampularis, bagian yang berbentuk saluran agak lebar
Infundibulum, bagian ujung tuba yang terbuka ke arah abdomen dan mempunyai fimbria.
Ovarium: Terletak dalam fosa ovarika, terdapat dua buah di kanan dan kiri dengan
mesovarium menggantung di bagian belakang ligamentum latum. Ukuran normal ovarium,
panjang 2,5 5 cm, lebar 1,5 3 cm dan tebal 0,6 1,5 cm. Sistem vaskularisasi: Uterus
mendapat perdarahan dari arteri uterina yang merupakan cabang terbesar dari arteri iliaka
intema, berjalan di dalam jaringan ikat subperitoneal menyilang ureter dan menuju basis
gamentum latum kemudian menuju ke uterus setinggi serviks dan bercabang jadi arteri
aginalis menuju vagina. Tuba uterina mendapat perdarahan dari r. tubarius arteri uterina
dan r. jbarius arteri ovarika. Memberi 6-8 cabang ke sekitar tuba dan membentuk arcade.
Ovarium mendapat perdarahan dari arteri ovarika yang merupakan cabang dari aorta dan
berjalan di atas m. psoas di depan ureter menuju ligamentum suspensorium ovarii.
Ovarium juga mendapat perdarahan dari cabang arteri uterina. Vena berjalan sesuai dengan
jalannya arteri.

10

II.9 Gambaran Histerosalpingografi Normal


Kanalis servikalis panjangnya 3-4 cm atau kira-kira sepertiga panjang uterus.
Bentuknya lonjong. Ismus antara kavum uteri dan kanalis servikalis lebih sempit. Ostium
uteri intemum nampak seperti penyempitan pendek. Kavum uteri berbentuk segitiga, sisi
dan fundus uteri lurus atau konkaf. Fundus kadang-kadang konfeks dan lebih lebar
daripada panjang uterus. Jarak antara kornu kanan dan kiri rata-rata 3,5 cm. Sfingter komu
bentuknya khas seperti bawang. Apeks kornu langsung berlanjut pada ismus tuba. Ismus
tuba ini panjangnya variable, nampak seperti garis potlot pada radiogram dan jalannya
bergelombang. Ismus tuba kemudian melebar sebagai ampula tuba.

Gambar HSG normal dimana korpus uterus dan serviks uteri tampak terisi oleh
kontras.Kedua tuba falopii terisi oleh kontras dan disertai spill awal pada peritoneum.

II.10 Abnormalitas Pada Pemeriksaan HSG


Gambaran abnormal yang dapat ditemukan pada HSG antara lain anomali yang
bervariasi mulai dari kelainan komplit dimana vagina, serviks, dan uterus didapatkan
ganda, sampai kelainan yang bersifat ringan berupa lekukan pada fundus uterus. Kelainan
lainnya berupa fibroid, polip, hiperplasia endometrium, adenomiosis, sinekia intrauterine,

11

penyakit dan defek raba berupa hidrosalping, abses tuba-ovarium, kinking dan adhesi,
salpingitis, isthmica nodosa, endometriosis, oklusi tuba akibat infeksi, amputasi tuba dan
penutupan tuba.
Karsinoma uterus, lesi servikal yang bervariasi dari stenosis hingga polip dan
adenomiosis, lesi os internal, tumor ovarium, dan gambaran abnormal HSG berkaitan
dengan ligasi tuba setelah pembedahan.

II.10.1 Kelainan Uterus Kongenital


Uterus berkembang sebagai hasil fusi dari sistem duktus mulleri.Kegagalan fusi
komplit atau parsial terjadi pada sekitar 3 - 4 % dari populasi umum. Abnormalitas pada
HSG seringkah tidak menunjukkan signifikansi klinis akan tetapi terdapat peningkatan
insidens terjadinya abortus berulang pada pasien dengan uterus septa, sehingga penting
untuk membedakan uterus septa dengan uterus bikomu. Pada HSG, sudut interkomu 90 %
mengrahakan diagnosis ke uterus bicornu akan tetapi untuk pemeriksaan lebih lanjut
dengan melakukan pemeriksaan taktik fundus andal notch).
Uterus unicornu jarang, sehingga jika pada uterus tampak gambaran unicornu maka
perlu dicari ada tidaknya kornu yang rudimenter atau serviks sekunder. Gambar berikut
yang menunjukkan tipe - tipe kelainan kongenital pada uterus.

12

Abnormalitas pada Uterus yang akan nampak pada gambaran HSG

13

14

15

II.10.2 Kelainan Uterus Non-Kongenital


Gambaran HSG pada fibroid tergantung dari posisi fibroid pada uterus. Fibroid
subserosa dapat mengakibatkan perubahan letak kavum uterus tapi dapat juga tidak
terdeteksi, fibroid mural menyebabkan pembesaran dari kavum dan dapat pmenyebabkan
distrosi. Fibroid submukosa tampak sebagi filling defect polipoid pada kavum uteri, dan
tidak bisa dibedakan dengan polip endometrial.Foto pada filling masa awal perlu untuk
menunjukkan fibroid yang kecil dan posisi oblique membantu dalam menentukan lokasi
pasti fibroid.
Adhesi intrauteri dan bentuk kavum irreguler yang kecil juga tampak pada
endometritis pada tuberkulosis.Tuberkulosis genital menyerang secara primer pada tuba
falopii dan 50% pasien dengan penyakit tuba memiliki kelainan pada uterus, Tuberkulosis
tuba memilikai gambaran tuba kaku yang abnormaldengan oklusi di ismus. Pada akhir
dapat tamoak clubbed dan gambaran seperti divertikula (diverticula - like projections )
pada permukaan tuba. Dapat juga terlihat kalsifikasi.
Bentuk kavum uterus yang kecil seperti huruf T irreguler, demgan kontriksi sekitar
korpus, berkaitan dengan paparan DES, obat yang sering digunakan pada tahun 1940 1960 untuk mengobati abortus.Dan terjadi abnormalitas pada anak perempuan yang ibunya
diterapi DES.
Penyakit Inflamasi Pelvis ( PID ) adalah penyebab tersering dari oklusi tuba distal
dan proksimal. Adhesi peritubal tidak dapat diidentifikasi secara akurat pada HSG akan
tetapi keberadaan adhesi dapat diduga jika kontras tetap sekitar tuba dan tidak terdapat
spill ke peritoneum, dan jika tuba tampak angulasi dan distorsi. Penyebab lain dari oklusi
tuba adalah endometriosis, infeksi pascaabortus atau infeksi postpurpuralis dan
tuberkulosis.
Salpingitis isthmica nodosa memiliki gambaran khas berupa pengumpulan kontras
multipel dengan gambaran diverticula - like yang diproyeksikan kelumen tuba. Kelainan
ini berhubungan dengan PID atau endometrisosis dan dikaitkan dengan peningkatan
insidensi subfertilitas atau kehamilan ektopik.

16

17

18

19

Leiomioma submukosa seringkali menyebabkan distorsi kavum uterus, dimana


leiomioma intramural dan subserosa sering dikaitkan dengan temuan HA+SG yang normal.
Leiomioma tunggal akan menyebabkan filling defect dengan kontur halus dan bulat pada
kavitas usus. Leimioma submukosa multipel dikaitkan dengan filling defect terpisah dan
kadang - kadang terdapat distorsi kasar dari kavum uterus tetapi HSG tidak lagi
direkomendasikan untuk menilai leimioma submukosa.

20

21

Gambaran HSG yang menunjukkan adanya spill pada tuba kiri namun tidak terjadi
spill pada tuba sebelah kanan yang disebabkan karena adanya proses perlengkapan
atau kebuntuan saluran, dan memberikan gambaran seperti kantong yang disebut
Hidrosapling

Gambaran HSG yang menunjukkan tidak ada spill pada kedua kapangan
pandang paru, namun justru membentuk kantung dengan tepi - tepi
irreguler yang merupakan ciri khas dari Salfingitis.

22

BAB III
KESIMPULAN

Histerosalpingografi (HSG) merupakan suatu untuk pemeriksaan dasar untuk


mengetahui anatomi dan fisiologi alat genital wanita, melihat bayangan rongga rahim dan
bentuk tuba fallopi. Biasanya dilakukan untuk mencari penyebab infertilitas Bahan kontras
yang sering digunakan oleh ahli radiologi di Indonesia adalah zat kontras yang larut dalam
air yaitu urografin 60% Indikasi HSG yang paling sering ialah dalam ginekologi, baik
sterilitas primer maupun sekunder, untuk melihat potensi tuba .
Kontraindikasi HSG:
a.

Infeksi pelvis yang aktif: dapat menyebarkan infeksi

b.

Penyakit ginjal atau jantung yang berat

c.

Hipersesitifvitas pada zat kontras

d.

Pasien yang baru di kuretase

e.

Kehamilan

f.

Seminggu sebelum menstruasi berikutnya dan belum lebih seminggu setelah


menstruasi.

Pemotretan pertama dilakukan sewaktu kavum uteri terisi kontras dan dilakukan
traksi. Biasanya diperlukan 2 cc kontras untuk mengisi kavum uteri. Pemotretan
selanjutnya sewaktu tuba telah terisi dan terjadi spill.

23

TINJAUAN PUSTAKA

1.

Bryan G J. et al. Hystero-salpingography, Diagnostic Radiography, Fourth Edition


1987: 351-355 Hiramatsu Y, MD.

2.

Guyton & Hall : Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Penerbit Buku Kedokteran EGC,
Jakarta.2008. Edisi 11 hal 1064-1079.

3.

Hysterosalpingography, Radiologi Diagnostik, Edisi Kedua, 2008 : 321-324 Sutton D.

4.

The Genital Sistem, An Atlas of Anatomy Basic to Radiology, Volume 2, 1975: 10751080 DaffnerRH, MD.

5.

Gynecologic Imaging, Clinical Radiology, First Edition 1993: 260-262 Ballinger P W.


et al.

6.

Hysterosalpingography: Spectrum of Normal Variant and Nonpatologic Findings. AJR


July 2001; 177: 131-135.

7.

Dorland, W. Kamus Kedokteran edisi 29, Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran EGC,
2002:980 1323.

24

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan
rahmatNya

sehingga

saya

dapat

menyelesaikan

referat

dengan

judul

HISTEROLFINGOGRAFI.
Adapun refrat ini dibuat dengan tujuan untuk mendalami pemeriksaan
Histerosalfingografi dan guna memenuhi salah satu tugas dari kepaniteraan klinik di
bagian Radiologi RS Umum FK UKI. Dalam membuat referat ini, saya mengambil
referensi dari buku-buku dan jaringan internet.
Dalam menyusun referat ini, saya mendapat banyak bimbingan dan motivasi dari
berbagai pihak sehingga saya dapat melewati hambatan-hambatan yang ada.
Saya mohon maaf atas segala kekurangan yang terdapat dalam referat ini. Semoga
referat ini dapat bermanfaat bagi siapapun yang membacannya.

Hormat Saya

Penyusun

i
25

DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR.......................................................................................

I.

PENDAHULUAN...................................................................................

II.

PEMBAHASAN.....................................................................................

II. 1

Definisi........................................................................................

11.2

Bahan kontras dalam pemeriksaan HSG.....................................

11.3

Indikasi Pemeriksaan HSG..........................................................

11.4

Kontraindikasi Pemeriksaaan HSG.............................................

II. 5

Komplikasi pada Pemeriksaan HSG...........................................

11.6

Waktu Pemeriksaan HSG............................................................

11.7

Persiapan Pemeriksaan HSG.......................................................

11.8

Teknik Pemeriksaan HSG............................................................

11.9

Gambaran HSG Normal..............................................................

11

II.

10 Abnormalitas pada Pemeriksaaan HSG..................................

11

10.1 Kelainan Uterus Kongenital................................................

12

10.2 Kelainan Uterus Non-Kongenital........................................

16

III.

KESIMPULAN......................................................................................

22

IV.

TINJAUAN PUSTAKA..........................................................................

23

ii
26

R E F E R AT
HISTEROSALFINGOGRAFI (HSG)

Disusun Oleh :
Mazen (09-023)

Pembimbing :
(

KEPANITERAAN KLINIK RADIOLOGI


Periode 24 Juni 20 Juli 2013

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA
JAKARTA

27