Anda di halaman 1dari 5

SEJARAH PURBAKALA DAN PERMUSEUMAN

KECAMATAN BUNGURAN BARAT

I. IDENTITAS DAERAH
Kecamatan Bunguran Barat merupakan salah satu wilayah Kecamatan yang ada di
Kabupaten Natuna. Daerah ini memiliki luas wilayah sekitar 19.296 km2 terdiri dari luas
daratan 1.000 km2 sedangkan luas lautan 18.296 km2. Kecamatan ini beribukotakan
Sedanau. Jumlah Pulau yang dimiliki Kecamatan ini sebanyak 30 Pulau. Yang telah
dihuni sebanyak 10 Pulau. Sedangkan yang belum dihuni sebanyak 20 Pulau.
Kecamatan Bunguran Barat terdiri dari :
- Kelurahan Sedanau
- Desa Sedanau Timur
- Desa Sabang Mawang
- Desa Pulau Tiga
- Desa Sededap
II. OBJEK BERSEJARAH
A. KERAMAT

- Desa Mekar Jaya


- Desa Batubi Jaya SP I
- Desa Gunung Putri SP II
- Desa Sedarat Baru SP III

NO
1
2
3
4
5
6

NAMA
KERAMAT

JARAK
TEMPUH

Keramat Binjai
Keramat Tukong
Keramat Kunyol
Keramat Pucong
Makam P. Hujan
Keramat Air Jambu

15 Menit
04 Jam
35 Menit
30 Menit
15 Menit
10 Menit

SARANA
TRANSPORTASI

LOKASI

Pompong/ Motor
Pompong
Pompong
Jalan Kaki
Sepeda Motor

Binjai
Binjai
Sedanau

KET

B. PENINGGALAN BENDA BERSEJARAH


NO
1
2
3

JENIS
Meriam
Rumah Tua
Dulang

LOKASI

PENINGGALAN

Sedanau
Sedanau
Sedanau

Belanda

PEMEGANG

JUMLAH

KET

1 buah
1 buah
1 buah

C. TEMPAT BERSEJARAH
NO
1.
2.
3.
4.
5.

NAMA TEMPAT

JARAK
TEMPUH

M. Panglima Hujan
Keramat Binjai
30 Menit
Keramat Pucung
Keramat Kunyol
Keramat Tukong

SARANA
TRANSPORTASI

Motor/ pompong

LOKASI

KET

Binjai

III. LAGENDA/ DONGENG/ HIKAYAT/ CERITA RAKYAT.


HIKAYAT DEWA MENDU
Sejarah Hikayat Mendu di Kecamatan Bunguran Barat berawal dari Pulau Laut
yang dimainkan dan di kembangkan oleh orang Kaya Maddun. Karena kedudukan orang
kaya sangat kuat di Pulau Laut saat itu, maka permainan ini sangat cepat berkembang
keseluruh pesisir pantai. Permainan ini pada saat itu menggunakan syeh-syeh orang
Kayangan, dimana syeh-syeh tersebut di bangkitkan/ dipanggil oleh orang kaya Maddun

sebagai seorang bangsawan. Karna bermain dengan Syeh/ orang halus maka orang-orang
atau masyarakat sangat tertarik melihat dan mendenganr alat musik dan nyanyian Mendu
tersebut. Sehingga mereka sanggup datang dari jauh, bahkan tidak pulang bila permainan
belum selesai, walaupun permainan sampai larut malam dalam satu episode.
Permainan Mendu sebenarnya dimainkan oleh orang-orang banyak yaitu berkisar
40 orang, dengan personil laki-laki semuanya. Sedangkan permainannya memakan waktu
7 malam. Dengan dibuatkan panggung sederhana dari atap daun Sagu, dan batasan kiri
kanannya terbuat dari daun kelapa, bunga daun Gading, dan daun Pinang. Kesemuanya
dihias disekitar tempat bermain. Anyaman Ketupat digantung pada setiap tempat,
terutama tempat duduk Dewa Mendu berlandun memberi titah dan sebagainya.
Di dalam permainan Mendu ada dialog dan nyanyian lagu-lagu Mendu, baik saat
dialog berdua maupun suasana peperangan. Lagu-lagu tersebut sebanyak 14 buah lagu,
yang terdiri dari :
1. Lagu nomor 1 ( Satu ), Antara Dewa Mendu dengan Mamak Mentri
2. Lagu Serawak
3. Lagu Indar, Dewa Mendu dengan Wasir Mentri
4. Lagu Pecah Wangkang
5. Lagu Catuk, lagu untuk Pahlawan.
6. Lagu Lemak Lamaun, Dewa Mendu dengan Anaknya
7. Lagu Singkawang, Dewa Mendu dengan Anaknya
8. Lagu Bawang Putih, Tuan Putri sedang bermain di taman bunga
9. Lagu Air Mawar, saat berperang
10. Lagu hilang Wayat, saat Berladun
11. Lagu Tari Inai, Lahu Tok Imam, Tok Niaga, Yok Ketet
12. Lagu membawa nasib, Tuan Putri saat berduka
13. Lagu berkelana Kumun, Pengiring saat berjalan di hutan
14. Lagu Lakau, Datok Mentri saat berperi
PUSAT PEMERINTAHAN DI WILAYAH PULAU TUJUH
ZAMAN HINDIA BELANDA DI SEDANAU
KEPALA PEMERINTAHAN YANG PERNAH MENJABAT
SEBAGAI CONTROLEUR, AMIR, POSTHOUDER DAN
TO CHO WILAYAH NATUNA
Yang Menjabat Sebagai Amir :
1.

Raja Mahmoed = ( Wakil Soeltan )


Amir Poelau Toejoe ( 1896 ) tinggal
Di Sedanau
Tengkoe Said = dari Singapoera

9.

Raja A. Madjid = Amie Sedanau


( Wakil Soeltan )

10

R. Boedjang = Amir Sedanau dari


Seomatra

2.

3.

( Wakil Sultan ) tinggal di Sedanau


semasa zaman Datoek Kaya
Soean
Tengkoe Haji Oesman = Amir di
Sedanau dari Riau Pulau
Penyengat

11

A. Hamid = Amir Sedanau dari


Soematra ( 1925 1933 )

12

Syahroedin = Amir Sedanau dari


Mandailing ( 1933 1936 )

13

M. Dahlan = Amir Sedanau dari


Palembang ( 1936 1939 )

14

Encik Moehd. Apan = Amir


Sedanau ( Dari Riau Penyengat
Hanya 6 bulan )

4.

Raja Yoenoes. Amir Sedanau


( Wakil Soeltan Riau )

5.

Tengkoe Mahmoed. Amir


Sedanau ( Wakil Soeltan )
Tengkoe Ali = Amir Sedanau
9 Wakil Soeltan )

15

6.

Rd. Soeardiono = Amir Sedanau


( Dari Pulau Djawa ) 1939 1944

16

7.

Raja Haji Djaafar = Amir


Sedanau ( Wakil Sedanau )

Wan Ismail = Amir Sedanau ( Dari


Boengoeran/ Natoena 1944 - 1945

8.

Raja Haji Idris = Amir Sedanau


( Wakil Soeltan )

Yang Menjabat Sebagai


TO CHO : ( Wakil Belanda )
1

D. Soewaart = Controleur Wilayah


Pulau Tujuh ( 1896 ) Berdomisili
di Tanjungpinang

Syarif = Posthouder Sedanau


( dari Mandailing ) taklama pindah
ke Serasan

Van Kerkhof ( Geragebber ) =


Controleur Pulau Tujuh tinggal di
Tanjungbelitung depan Sedanau

Manoesama = Posthouder di
Sedanau ( dari Ambon )

9
3

J. Russer = Posthouder di
Sedanau ( 1911 - 1914 )

J. Mamahit = Posthouder tinggal


Di Sedanau ( Dari Manado )

10
4

Van Haster = Controleur Poelau


Toejoeh tinggal di Sedanau
( 1915 1918 )

Wuhamanu = Posthouder tinggal


Di Sedanau ( Dari Ambon )

11

Mowa = Posthouder tinggal di


Sedanau ( Dari Manado )

12

Mamahit = Posthouder di
Sedanau ( Dari Manado )

Haga = Controleur Poelau


Toejoeh ( 1918 1920 ) tinggal di
Sedanau
Redum = Posthouder di

Sedanau ( 1920 ) pindah ke


Tarempa menjadi Controleur

Sedanau : 01 Oktober 1944


STELM : WAN ISMAIL BIN WAN HAJI MOEHD.ISA
ONDERDISTRICT HOOFD
VAN BOENGORAN BARAT
Rumah bekas tempat kediaman para Amir di Pulau Tujuh ( Sedanau ) yang pernah
ditempati Van Kerkhoff selaku Posthouder Sedanau pada tahun 1908. Catatan dari Van
Tillaard bekas Poshouder Wilayah Pulau Tujuh tahun 1913.
Natuna sebagai Pusat Pemerintahan pada zaman Hindia Belanda di Sedanau.
Peninggalan : Bekas kantor Kontelir Belanda Pulau Tujuh di Sedanau ( T.1908 ).
Kontelir Soewaart : Kepala Pemerintahan Hindia Belanda yang pertama kali
ditetapkan di Wilayah Pulau Tujuh Thn. 1895. Dan pernah mengadakan kunjungan kerja
di Wilayah Pulau Tujuh bersama Raja Ali ( Engku Kelana ) mewakili Sultan Riau Lingga
dari Tgl. 19 Februari s/d 6 Maret 1896. Saat itu Kontelir Soewaart masih berdomisili di
Tanjungpinang sedangkan Amir Pulau Tujuh Raja Mahmud berkantor di Sedanau.
( Sejarah Perjalanan Engku Kelana ke Pulau Tujuh HI : 7 ).