Anda di halaman 1dari 19

Materi kuliah Alsintan

N
o
1

Materi kuliah
ALSIN PENGOLAHAN TANAH
1.
PENGOLAHAN TANAH PERTAMA (PRIMAIR
TILLAGE )
2. PENGOLAHAN TANAH II (SECUNDAIR TILLAGE )
3. PENGOLAHAN TANAH TERAKHIR ( FINISHING TILLAGE)

ALSIN PENANAMAN

3
1.
2.
3.
4.
5.
4

Dose
n
1

Jadwal
Mg 1
2
3

ALSIN PEMELIHARAAN TANAMAN


PENDANGIRAN
PENGAIRAN
PEMUPUKAN
PENGENDALIAN
HAMA
&
PENYAKIT
TANAMAN
PENJARANGAN
ALSIN PEMANENAN

4
5
6
7

ALSIN PENANGANAN PASCA PANEN


1. PERONTOGAN (THRESHING)
2. PENGERINGAN (DRYING)
3. PENGGILINGAN (HULLING)

8
9
10
11

DAYA PENGGERAK MESIN


1. MOTOR
BAKAR
(DIESEL,
KAROSENE, BIOGAS )
2. MOTOR LISTRIK

12
13
14
15

16

MANAGEMENT ALSINTAN
1. PEMELIHARAAN & PERAWATAN
2. ANALISA BIAYA OPERASI ALSINTAN

KULIAH LAPANG/ PRAKTIKUM


1. PENGOLAHAN TANAH ( HAND TRACTOR )

BENSIN,

2. PENGENDALIAN HAMA & PENYAKIT ( POWER SPRAYER)

3. PRAKTEK PENGAIRAN ( POMPA & SPRINKLER )


4. PENGERINGAN ( BIN DRYING, CABINET DRYING )
5. PRAKTEK PENGGILINGAN (HULLER )
Keterangan:
1.Dosen 1: Ir Basito, MSi
Dosen 2: D.Ir. Qomariah
Dosen 3: Ir.Dwi Harjaka, MS
Dosen 4: Ir.Nur Heriyadi P, MSi
2.Hari tanggal mengajar sesuai kesepakatan ke 4 Dosen
pengampu
3.Jadwal evaluasi/ujian untuk masing-masing dsn. pengampu
dilaksanakan atas dasar kesepakatan mhs dengan dosen ybs.
4.Jadwal pelaksanaan praktek lapang menyusul

Materi kuliah Alsintan


II.

ALSIN PENGOLAHAN TANAH


1. PENGOLAHAN TANAH PERTAMA ( PRIMAIR TILLAGE )
2. PENGOLAHAN TANAH II ( SECUNDAIR TILLAGE )
3. PENGOLAHAN TANAH TERAKHIR ( FINISHING TILLAGE )
III. ALSIN PENANAMAN
IV. ALSIN PEMELIHARAAN TANAMAN
1. PENDANGIRAN
2. PENGAIRAN
3. PEMUPUKAN
4. PENGENDALIAN HAMA & PENYAKIT TANAMAN
5. PENJARANGAN
V. ALSIN PEMANENAN
VI. ALSIN PENANGANAN PASCA PANEN / PENGOLAHAN
1. PERONTOGAN ( THRESHING )
2. PENGERINGAN ( DRYING )
3. PENGGILINGAN ( HULLING )
VII. DAYA PENGGERAK MESIN
1. MOTOR BAKAR (
DIESEL, BENSIN, KAROSENE,
BIOGAS )
2. MOTOR LISTRIK
3. MOTOR UAP
VIII. MANAGEMENT ALSINTAN
1. PEMELIHARAAN & PERAWATAN
2. ANALISA BIAYA OPERASI ALSINTAN
IX. KULIAH LAPANG
1. PRAKTEK PENGOLAHAN TANAH ( HAND TRACTOR )
2. PRAKTEK PENGENDALIAN HAMA & PENYAKIT ( POWER
SPRAYER)

3. PRAKTEK PENGAIRAN ( POMPA & SPRINKLER )


4. PRAKTEK PENERINGAN ( BIN DRYING,
CABINET
DRYING )
5. PRAKTEK PENGGILINGAN ( HULLER )

ALAT DAN MESIN2 PERTANIAN


II. ALSIN PENGOLAHAN TANAH
1. PENGOLAHAN TANAH PERTAMA / PEMBAJAKAN ( PRIMAIR TILLAGE )
- BAJAK SINGKAL (MOULDBOARD PLOW )
- BAJAK PIRINGAN ( DISK PLOW )
- BAJAK ROTARI ( ROTARY PLOW )
2. PENGOLAHAN TANAH II / PENGGARUAN ( SECUNDAIR TILLAGE )
- GARU PIRINGAN ( DISK HARROW )
- GARU SISIR ( SPIKE TOOTH HAROOW )
- GARU PEGAS ( SPRING TOOTH HARROW )
3. PENGOL.TANAH TERAKHIR/ PEMBUATAN ALUR (FINISHING TILLAGE )
- SUBSOILLER
- RIDGER
- GIANT PLOW
- FURROWER
- MIDLEBREAKER

III. ALSIN PENANAMAN


- SEEDRILL, PLANTER, CORN PLANTER
IV. ALSIN PEMELIHARAAN TANAMAN
1. PENDANGIRAN
- CANGKUL, SOROK, LANDAK
- CULTIVATOR
- ROYARY HOE
2. PENGAIRAN
- POMPA AIR
TIPE CENYRIFUGAL, AXIAL, RECIPROCATING
- SPRINKLER
3. PEMUPUKAN
- FERTILIZER
4. PENGENDALIAN HAMA & PENYAKIT TANAMAN
- POWER SPRAYER ( BERBAGAI MACAM TIPE )
- POWER DUSTER ( BERBAGAI MACAM TIPE )
- FOG MACHINE
- BLOWER SPRAYER
5. PENJARANGAN (TINNING )
V. ALSIN PEMANENAN
COMBINE HARVERSTER
VI. ALSIN PENANGANAN PASCA PANEN / PENGOLAHAN
1. PERONTOGAN ( THRESHING )
2. PENGERINGAN ( DRYING )
3. PENGGILINGAN ( HULLING )

BANGUNAN PERTANIAN
1. WADUK
2. PINTU AIR PRIIMAIR, SECUNDAIR, TETEK
3.SALURAN : SAL PRIMAIR, SECUNDAIR, TERTIER, QUARTAIR
4. BANGUNAN PEMECAH ARUS DALAM SALURAN
5. BANGUNAN GUDANG
6. BANGUAN PENGERING
7. BANGUNAN INSTALASI POMPA AIR, HULLER,
8. BANGUNAN PERBENGKELAN
VII. DAYA PENGGERAK MESIN
1. MOTOR BAKAR ( DIESEL, BENSIN, KAROSENE, BIOGAS )
2. MOTOR LISTRIK
3. MOTOR UAP
VIII. MANAGEMENT ALSINTAN
1. PEMELIHARAAN & PERAWATAN
2. ANALISA BIAYA OPERASI ALSINTAN
IX. KULIAH LAPANG
1. PRAKTEK PENGOLAHAN TANAH ( HAND TRACTOR )
2.PRAKTEK PENGENDALIAN HAMA & PENYAKIT ( POWER SPRAYER)

3. PRAKTEK PENGAIRAN ( POMPA & SPRINKLER )


4. PRAKTEK PENERINGAN ( BIN DRYING, CABINET DRYING )

5. PRAKTEK PENGGILINGAN ( HULLER )

PENGOLAHAN TANAH

Konsep pengolahan tanah dibidang pertanian:


manipulasi mekanik pada tanah untuk mendapatkan lingk
fisik, kimia dan biologi tanah yg baik untuk
pertumb.tnmn.
Ling fisik tanah:
- aerasi tanah
- kandungan air dalam tanah
- temperatur tanah
- porositas tanah
- kemantapan agregat anah
Lingk kimia tanah :
- kandungan unsur hara tanah
- tersedianya unsur hara untuk pertumb. tanaman
- pH tanah
- salinitas tanah
Lingk biologi tanah :
- Keragaman & pertumbuhan micro organisme
tanah termasuk aktivitasnya.
Diskripsi tujuan pengol.tanah:
1. Mengembangkan strukturtanah
2. Mematikan & membenamkan herba
3. Mengurangi terjadinya erosi
4. Mencampur dan mengaduk tanah dengan bhn organik
5. Meratakan permukaan tanah
6. Memperbaiki aerasi tanah
7. Memacu aktiviatas micro-organisme tanah
Kriteria tanah olah yang baik memiliki struktur tanah:
remah, lepas, granulair dan kapasitas penahanan air yg
besar
- remah : butir2 tanah secundair mrpk kumpulan dari butir2
tanah primair yang seragam, zarah tanah tersusun
longgar, dan banyak rongga.
- lepas : tidak lengket, antara butir tanah yang satu dengan
yang lain tidak terdpt gaya yang bekerja
- granulair : mawur ( bongkah-bongkah tanah berdiri
sendiri2 dan banyak didapatkan pori tanah macro)

Macam-macam cara pengol.tanah berdasarkan:


1. Tenaga yang dibutuhkan:
a. Pengolahan tanah dengan tenaga manusia, misal untuk
pendangiran, bumbun, drainasi
b. Tenaga hewan, misalnya untuk penyiapan tanaman
semusim ( membajak dan penggaru )
c. Tenaga secara mekanis dengan traktor ( semua kegiatan)
2. Kedalaman
a. dangkal (shallow tillage < 5 cm), misalnya untuk
keperluan penangiran, top soil tipis
b. sedang ( medium deep tillage = 20 30 cm ), untuk
tanaman semusim: padi, polowijo, sayuran
c. pengol.tanah dalam ( deep tillage > 40 cm ),: tanaman
keras, tebu, pisang, persiapan drainase dan lain-lain.
3. Berdasarkan berat/ringannya tanah
a. pengol.tanah ringanb : dilakukan pada anah-tanah yang
bertextur pasiran, umumnya dengan tenaga manusia
b. pengol.tanah berat : pada tanah lempungan
4. Jenis tanaman yang diusahakan
a. Pengol.tanah partial: disekeliling tanaman, umunya
tanaman keras di perkebunan untuk persiapan
pemupukan menjelang tanaman berbuah
b. Pengol.tanah total : persiapan tanam ( ladang/ sawah )
5. Berdasarkan kandungan air pada lahan
a. Pengolahan tanah basah: penyiapan dan pendangiran
pada tahan basah
b. Pengol.tanah kering: persiapan tanam sawah tdah hujan,
ladang, tanaman sayuran.
Waktu pengolahan tanah yang tepat dipanen
( pada kondisi tanah masih basah )
- persawahan & perladangan, pembajakan segera setelah
padi dipanen, penggaruan dilakukan setelah benih akan
ditanam ( tekstur tanah lempungan )
- perkebunan, menjelang pohon berbunga
- Sawah tadah hujan, pengol.tamah segera padi
2

Alat & mesin untuk pengolahan tanah.


A. a.Pembajakan tradisionil
1. Bajak singkal yang ditarik hewan ( kerbau /sapi )
2. Bajak lawet / brujul (hampir sama bajak singkal tapi
sayap pendek )
3. Cangkul , 4 Garpu
b. Penggaruan
1. Garu sisir
2. Blebes
c. Pembuatan alur drainasi ( termasuk bumbun
1. Cangkul
3. Garpu
2. Sekop
B. Pembajakan tenaga mekanis
a.Pengolahan tanah pertama
1. bajak singkal ( mouldboard plow )
2. bajak piringan ( disk plow )
3. Rotari ( Rotary plow )
b.Penggaruan
1. Garu piringan ( disk harrow )
2. Garu sisir ( sapike tooth harrow )
3. Garu pegas ( spring tooth harrow )
c. Pembuatan alur
1. Midlebreaker
2. Disk ridger
3. Subsoiler
4. Furrower
d. Bumbun
1.Giant Plow
2. Disk ridger
e. Membersikan seresah dan membenamkan
Mesin Rake
f. Mesin menjaga kapasitas air dlm tanah
Grinder
C. Alat mesin untuk pendangiran
a. Alat tradisionil : cangkul, sorok, landak
b. Alat mesin mekanis : cultivator, rotary hoe
Keterangan: A, B,C, cara mekanis dengan penggerak traktor

Kapasitas kerja mesin2 Pertanian


Kapasitas kerja suatu mesin diketahui:
1. Identifikasi mesin (leaflet, manual hands book, promosi)
2. Praktek lapang
Usaha identifikasi belum dpt dipastikan mewakili
besarnya kapasitas kerja mesin karena :
1. Karateristik obyek pekerjaan setiap daerah berbeda,
misalnya: gabah, tanah, berat jenis air.
2. Kapasitas kerja mesin yang tertera dalam manual hand books
merupakan hasil pengujian dimana pabrik berada
3. Pengujian mesin dilakukan pada kondisi yang ideal
4. Unsur promosi.
Kapasitas kerja pengolahan tanah
C = w x s dimana
w = lebar kerja mesin ( m, Cm)
s = kecepatan kerja traktor (Km/jam)
C = Kapasitas kerja teoritis
CAkual = w x s x dimana = effisiensi kerja, besarnya
antara 75 % - 85 % , tergantung adanya:
1. waktu hilang karena lebar kerja
2. waktu hilang pengaturan alat
3. waktu hilang percepatan dan perlambatan
4. waktu hilang karena adanya slip roda penggerak traktor
5. lain-lain ( istirahat, carier factor operator )
Contoh soal:
Satu unit hand traktor dengan mesin pembajak rotary lebar
kerjanya 0,5 m dioperasikan di Kab.Ngalengko yg memiliki
lahan pertanian seluas 3000 Ha, digunakan untuk membajak
tanah tegalan dengan kecepatan kerja 4,4 Km/jam.
a. Hitung kapasitas kerja pembajakan, bila diassumsikan
effisiensi kerja 80 %, satu hari beroperasi 10 jam.
b. Hitung berapa unit traktor yang diijinkan, bila waktu luang
pengolahan tanah setiap musim tanam 15 hari
Jawab :
a.
CAktual = w x s x
= 0, 5 m x 2,4 Km/jam x 80 %
= 0,5 m x 2400 m/jam x 0,80
= 960 m2/jam
Bila satu hari bekerja 10 jam CAktual = 10 x 960 m2/jam
= 0,96 Ha/hr
c. Jumlah traktor = luas total lahan = 3000 Ha
.
CAkual x waktu
0,96 Ha/hr x 15 hr
= 20,8 unit
= 21 unit
4

Pengeringan
Konsep pengeringan
Diff umum: Proses pemindahan panas dan uap air atau
cairan dari suatu bahan (produk) secara
simultan yang memerlukan energy panas.
Dibidang pertanian:

Pengeringan adlh proses pengambilan atau pengurangan


kadar air produk pertanian sampai batas ttt shg dpt
memperlambat proses: kimia, kegiatan mikro-organisme
dan aktivitas enzym dlm produk, sebelum diolah/
dipasarkan.
- proses kimia : oksidasi, hidrolisa, reduksi
- micro-organisme : jamur, bakteri, baccillus
- enzym : cairan yang mengatur metabolisme produk

Tujuan pengeringan:
mengurangi kadar air/ cairan dlm produk olahan agar
tahan lama kwalitasnya
Kwalitas : nilai gizi, aroma, rasa, dan warna.
Manfaat pengeringan:
1. Mengurangi aktivitas enzym, micro-organisme,
jamur, bakteri, dsb
produk tidak mudah busuk
2. Memperkeras produk
produk tidak mudah
rusak akibat benturan maupun gesekan mekanis
3. Mengurang dimensi produk (volume)
produk
lebih ringkas, tidak memakan tempat/ ruang
4. Mengurangi bobot
beaya trasportasi lebih mura
5. Produk lebih inert
dpt disimpan lebih lama

Kriteria suhu pengering


1. Pengeringan suhu sangat rendah ( - 7o s/d 1oC )
( ultra low temperatur drying systeem )
2. Pengeringan suhu rendah ( 35o 45oC )
( low temperatur drying systeem )
3. Pengeringan suhu tinggi ( 77o 82oC )
( hight temperatur drying systeem )
4. Pengeringan suhu sangat tinggi ( 93o 116oC )
( ultra hight temperatur drying systeem )
5

Theori pengeringan

P0

PA

P0

PA

Sebelum dipanasi
Terjadi keseimbangan tekanan
P0 = PA
Setelah dipanasi
Suhu disekeliling produk naik

P0 > PA

Energi panas
Lapisan produk 2
P0
P2

P1
P1

PA
Lapisan produk 1

Pemanasan kontinu :
P0 > P2 > P 1 > PA , akibatnya uap air keluar dari lap
1 ke PA , Lap 2 ke PA melewati lap2, dan P0 melalui P2 dan
P1 ke PA akhirnya produk kering
Faktor 2 yang berpengaruh thd laju pengeringan
1. faktor ekstern ( luar produk )
- kadar air udara pengering ( R H )
- Kecepatan volumetrik udara pengering
- suhu udara pengering
2. faktor intern ( dlm produk )
- Dimensi ( ukuran produk )
- Kadar air awal produk
- Tekanan uap partial produk ( karateristik )
- Bentuk produk ( oval, pipih, bulat dsb )
Keterangan:
Agar tidak terjadi cracking ( kerusakan/produk pecah )
Perlu adanya timming: yaitu pemberhentian proses
pengeringan, agar terjadi keseimbangan kadar air antara
lapisan produk luar dengan produk dalam
6

CARA PENGERINGAN

1. Pengeringan dengan sinar matahari (sun drying)


2. Pengeringan hibrid (Kombinasi sun + art drying)
3. Pengeringan buatan (artficial / mechanik drying)
ad 1. Pengeringan dengan sinar matahari
Pengeringan dengan menggunakan tenaga sinar ultra
violet dan sinar infra merah sbg sumber tenaga panas.
Dilakukan sejak nenek moyang, terutama produk
pertanian yang tahan terhadap pengaruh sinar mthari.
Keuntungannya:
1. Biaya murah
2. Tidak memerlukan alat dan perlakuan khusus
3. Tidak memerlukan keahlian khusus
4. Sinar infra merah dpt menembus sampai pada lapisan
bagian dalam dari produk
5. Daerah tropis ( katulistiwa) sinar matahari tersedia
sepanjang tahun
Kelemahannya:
1.

Suhu pengering sulit dikontrol, shg untuk produk


tertentu sering mengalami keretakan ( sun craking)
2. R H ( kelembaban udara ) tak dapat dikontrol
3. Hanya berlangsung bila ada sinar matahari
4. Memerlukan tempat / halaman yang relatif luas
5. Sering terjadi perubahan warna dan nilai gizi
6. Produk mudah terkontaminasi dengan kotoran
7. Kemungkinan kehilangan produk lebih besar, karena
dimakan serangga atau hewan
8. Dapat terjadi proses oksidasi produk, shg produk
cendenrung berwarna kemerahan
9. Bila saat pengeringan terjadi hujan dan produk terkena tetes hujan, dapat menurunkan kwalitas produk
10. Bila produk belum bisa kering dalam satu hari,
memerlukan banyak tenaga pengeringan untuk
bongkar/muat.
7

Lantai jemur
Keterangan lantai penjemuran:
1. Lantai harus di design kedap air, sehingga pori-pori
lantai tidak ada , agar aktifitas air/ kadar air lantai tidak
mengganggu proses pengeringan.
2. Konstruksi lantai sedapat mungkin agak cembung
sehingga air tidak menggenang
3. Posisi lantai penjemuran, sebaiknya ditempatkan pada
lokasi yang banyak mendapatkan sinar matahari ( mis :
untuk selatan katulistiwa bangunan lantai pengering
sebaiknya dibangun disebelah utara bangunan
penyimpan / bangunan lain
4. Perlu adanya saluran drainasi, agar drainase lantai
lancar dan kondisi lantai benar-benar kering.
5. Bangunan penyimpan dibuat sedekat mungkin agar
proses bongkar/muat dilakukan cepat.
6. Bangunan procesing (pemrosesan lanjut): sedapat
mungkin dibangun dekat dengan lantai pengering
7. Perlu adanya cerobong asap, apabila proses lanjutan
menimbulkan asap atau bau lain yang mengganggu
lingkungan.
8. Dari bangunan penyimpan perlu adanya jalan utk
keperluan distribusi produk
9. Perlu adanya tanaman pelindung disekeliling lantai
jemur yang ditanam sedemikian rupa shg tidak
meneduhi lantai pengering, demi kearifpan
lingkungan, kenyamanan kerja, dan penangkal
hembusan angin yang berlebihan.
10.Untuk menghindari kemungkinan produk basah, akibat
adanya hujan mendadak, perlu disiapkan penutup yang
kedap air (plastik)
11.Untuk menghindari kehilangan produk ( losses )
akibat hewan / pencuri perlu dibuat pagar
12.Sebaiknya perlu adanya bangunan penjaga.

ad 2. Pengeringan hybrid

Merupakan perpaduan pengeringan secara alami


(tradisionil) dan langkah awal penggunaan tehnologi
pengeringan.
Tenaga
untuk
pengeringan
masih
menggunakan sinar matahari.

Keuntungan penggunaan pengering hibrid:


1. Produk tidak terkontaminasi dengan kotoran
2. Kehilangan produk tidak ada
3.Tidak perlu pengawasan dan penanganan
terutama bila hujan tiba

lanjut

Kelemahannya :
1.

Penggunaan unit pengering hibrid hanya


terbatas pada produk yang berbentuk grain
2.
Selama proses pengeringan berlangsung, tidak
bisa mengontrol suhu dan R.H udara pengering.
3.
Proses pengeringan sangat dipengaruhi oleh
intensitas dan lama penyinaran
4.
Laju pengeringan sangat dipengaruhi oleh
faktor luar.(RH, suhu udara, sinar mthr )
V

...........................
.......... Pr ...........
...........................
G

C
Ha

Mekanisme bekerjanya:
Tenaga sinar mthr menembus papan G yg terbuat dari kaca,
seng, kristal atau bhn lain yang bersifat konduktor panas,
kemudian diteruskan dan diserap oleh Ha (bahan penyerap panas:
abu, arang ). Dalam ruangan Ha suhu udara naik dan mengembang,
sehingga berat udara lebih ringan, dan akhirnya mengalir menuju
camber ( C ) dan didistribusikan menuju produk (Pr). Dengan
adanya udara pengering yang panas, maka produk menjadi kering.
Untuk memperlancar proses pengeringan, udara yang telah
mengandung uap air keluar melalui lubang ventilasi ( V )
9

Skema unit bangunan pengering / penyimpan

Ag

Ag
Ha
V

Produk

- - -- - - - - - - - - - - - B

K
B

Mekanisme penyaluran energi:


Tenaga panas mthari menembus atap (Ag) bangunan yang
terbuat dari bahan yang dpt meneruskan tenaga sinar matahari (kaca,
seng, kristal dsb). Tenaga panas tsb diserap dan disimpan oleh bahan
penyerap panas ( Ha : abu, arang dsb ), kemudian dengan kipas (B)
udara panas dihisap melalui pipa (P) menuju ruang chamber (C) dan
akhirnya dari camber tsb udara panas didistribusikan kdlm ruang
penyimpan dan sekaligus sebagai pengering. Uap air dalam produk
keluar, melalui lubang ventilasi (V).
Ket:1. Apabila produk sangat berat, lantai kassa biasanya diganti
pipa ( pralon ) yang ditanam dalam lantai dan berlubanglubang bagian atasnya
2. Biasanya produk dikemas dalam karung, shg produk sudah
agak kering
3. Debid udara pengering diatur oleh kecepatan kipas ( B ) atau
katup K
10

add.3 Pengeringan buatan ( artficial drying)


- Sumber tenaga yang digunakan : listrik, batubara, minyak
tanah, kayu bakar, sekam dll

- Memerlukan peralatan dan keahlian khusus, sesuai


dengan jenis produk
- Persyaratan kriteria pengeringan mudah diontrol
Keuntungannya:
1. Tidak tergantung pada cuaca.
Musim panen jatuh pada musim penghujan tidak masalah,
misal : ikan, padi, jagung, singkong dll
2. Kapasitasnya dapat diatur, menurut dimensi mesin
3. Suhu mudah dikontrol, misal untuk keperluan benih +
45o C, konsumsi 60o - 70oC.
4. Tidak memerlukan tempat yang luas
5. Dpt dilakukan siang dan malam
Kelemahannya:
1. Memerlukan beaya yang besar, meliputi pengadaan:
mesin dan pemeliharaannya, bahan bakar
2. Memerlukan keahlian khusus dibidang pengeringan.
Misalnya : persyaratan suhu yang dikehendaki, kadar air,
pengaturan suhu pengering dll.
Skema unit pengering bin dryer

Produk

ProdukProPp
Ppuotur Produk

K
-- - - - - - - - -- - - - -

H
11

Bagian utama berikut fungsinya:

1. Blower : unit mengembus udara menuju pemanas


2. Katup : mengatur besar/kecilnya debid udara
3. Heater : pemanas

4. Ruang camber: mendistribusikan udara panas


5. Boom dryer : penampung produk yang dikeringkan
6. Cerobong asap : lubang pengeluaran uap & gas lain

Mekanisme bekerjanya alat pengering type bin:


Udara yg dihembus oleh blower dipanasi oleh heater,
mengalir menuju camber yg berfungsi utk mendistribusikan udara panas menuju produk. Setelah produk panas, dan
tekanan udara disekitar produk lebih rendah dibanding tekan
partial uap air dlm produk, akhirnya uap air yg berada dlm
produk keluar. Karena hembusan blower terus menerus, maka
uap air yang berada disekitar produk mengalir menuju
cerobong uap. Besar / kecilnya debit udara dan suhu pemanas
dapat diatur oleh katup, semakin lebar tebuka udara banyak,
tapi suhu kecil.

Keterangan:
1. Untuk bin pengering yang modern sering dalam bin dryer
dilengkapi dengan alat thermometer, dan ther- mostat
yang berfungsi untuk menstabilkan suhu agar produk yg
respon thdp suhu tdk mudah rusak.
2. Disamping konstruksi unit pengering tersebut diatas,
sering pada lubang pengeluaran uap air ( outlet ),
ditambah kipas penghisap yang kemampuanya lebih
besar dp blower, shg tekanan udara di dlm bin lebih kecil
dp tek udara luar.
pengeringan lebih cepat
Kapasitas bin dryer:
Yang dimaksud kapasitas kerja pengeringan bin dryer
adalah kemampuan kerja bin dryer dlm pengeringkan produk,
sesuai dengan kadar air akhir yang disyaratkan, dihitung dlm
satuan bobot/waktu atau satuan volum/waktu.( Ton/hari)

Randement pengeringan

Randement pengeringan :
R = produk kering x 100 %
produk basah
12

Mesin perontog
Thresher (perontok type drum), biasanya digunakan untuk merontokan
hasil pertanian yang berupa butir, contohnya padi, kedele, sorgum.
Bagian utama dan fungsi bagian utama:

1. Floor inlet: tempat awal produk yang akan dirontok


2. Drum perontok: tempat kedudukan gigi-gigi perontok/rotor
3. Gigi rotor: berfungsi memukul produk dengan cara berputar
hingga lepas dari tangkai butir
4. Saringan(screen): menyaring /memisahkan butir-butir produk
dengan tangkai atau seresah lainya
5. Blower : berfungsi untuk memisahkan produk dengan kotoran.
Mekanisme bekerjanya mesin:
Produk yang berada di floor inlet didorong menuju ruang perontokan.
Dalam ruang perontokkan produk dibentur dengan benturan gigi
perontok(rotor). Dengan gaya beratnya sendiri produk akan turun
menuju screen(saringan). Dalam screen produk dipisahkan antara
jerami & kotoran lainya dengan butir produk. Butir produk yang telah
melewati saringan, langsung turun menuju outlet. Agar produk bersih,
kotoran (jerami, seresah) dihisap oleh blower.

Mesin penggilingan padi (huller, Rice milling)


Bagian utama dan fungsinya:
1. Hopper: tempat gabah yang akan digiling
2. Katup inlet: mengatur besar/kecilnya gabah yang akan digiling
menuju roll penggiling
3. Pengatur jarak roll: mengatur renggang-dekatnya kedua roll,
sehungga berpengaruh terhadap kwalitas penggilingan.
4. Roll utama: mengupas gabah dengan cara gesekan dengan
produk, beputar lebih cepat dari pada roll penuntun
5. Roll penuntun: mengupas
6. Separator: memisahkan beras utuh dengan beras pecah, dengan
gerakan oxilasi (geser kanan-kiri)
7.Katup pengatur kecepatan angin: berfungsi mengatur
deras/tidaknya udara dari blower untuk membersihkan beras dari
kotoran.
Keterangan: Untuk mendapatkan kwalitas giling yang baik hal yang
perlu diperhatikan adalah kadar air gabah (+ 18 %), dan
pengaturan jarak roll utama dan roll penuntun. Terlalu dekat,
beras mudah pecah, terlalu renggang, derajad penggilingan
kurang baik (masih banyak gabah yang belum tergiling)
13

Management Alat & Mesin Pertanian


Biaya Operasi mesin
Perhitungan biaya mesin & peralatan pertanian dan bidang
industri dikenal 2 komponen biaya, yaitu:

a.Biaya Tetap (Fixed Cost/Owning Cost)

b.Biaya Tidak Tetap (Variable Cost/Operating Cost)


A. Biaya Tetap

Dasar perhitungan :
besarnya tidak berubah dengan perubahan jam kerja tiap
tahun dari pemakaian alat / mesin.
tetap dihitung sebagai pengeluaran meskipun mesin dan alat
tersebut tidak digunakan.
Komponen biaya tetap:
1.biaya penyusutan (depreciation cost)
2. biaya bunga modal investasi (interest on investment)
3. biaya asuransi (insurance)
4. biaya pajak (taxes)
5. biaya gudang/garasi/gedung (housing/sheltering cost)
6. biaya dana sosial, sumbangan, dll.
Add 1: Biaya penyusutan (depreciation cost)
Penyusutan: penurunan nilai ekonomi barang dgn berlalunya
waktu dan penggunaan.

Fakktor-faktor yg menyebabkan nilai alat/ mesin merosot:


a. adanya bagian-bagian mesin/alat yang menjadi rusak
karena pemaFakaian dan tidak dapat bekerja lagi
seefektif daripada keadaan sebelumnya.
b.adanya peningkatan biaya operasi yg dibutuhkan per unit
output yang sama pada tingkat performansi mesin yang
sudah terpakai lama dibandingkan dengan yg masih baru.
b.
munculnya mesin/alat model baru
yang lebih efisien, canggih dan praktis akibat
perkembangan teknologi.
Metode Perhitungan Biaya Penyusutan
Metode Penyusutan Klasik
a. Straight Line Depreciation
b. Sum-Of-Years Digits Depreciations
c. Declining Balance Depreciation
d. Declining Balance with Conversion to Straight
Line Depreciation
e. Unit-Of-Production Depreciation
14

1. Straight Line Depreciation (SL)

Metode SL mengasumsikan bhw suatu jumlah tetap yang


didepresiasi setiap tahunnya atas umur depresiasi aset.
Persamaan:
Biaya penyusutan pertahun (D) = (P - S)

N
N = umur depresiasi aset dalam tahun (umur ekonomis)
P = harga beli dari aset (cost basis)
S = salvage value (nilai estimasi pada akhir tahun N)
Biasanya diassumsikan 10 % x P
Contoh:
Satu unit hand traktor dibeli seharga Rp 30 juta, tafiran umur
ekonomis mesin tersebut 5 tahun. Hitung penyusutan perjam kerja
bila satu tahun beroperasi 4 bulan, satu bulan operasi 25 hari, dan
satu hari operasi 8 jam.
Jawab: Total umur ekonomis mesin = 5 x 4 x 25 x 8 = 4000 jam
Penyusutan (D) = 30 juta - 10 % x 30 jt = Rp 6750,4000
Keterangan:
- Umur ekonomis mesin: umur didasar pada lama mesin dipakai
selama masih dapat mendatangkan keuntungan
- Umur teknis mesin: umur didasarkan pada lama mesin yang
dipakai selama mesin masih sesuai dengan fungsi awalnya.
Add 2: Biaya Bunga Modal
dihitung sebagai biaya untuk mengembalikan nilai modal yang
ditanam shg pada akhir umur peralatan diperoleh suatu nilai uang
yg sama dgn nilai modal yang ditanam.
- persamaan: I = i (P) (n + 1)
2n
I = total bunga modal
i = total persen bunga modal
P = harga awal mesin, Rp.
n = umur ekonomis, th. (periode penyusutan)
contoh:
Untuk membeli Huller pinjam bank, tingkat bunga = 12 % /th
Umur ekonomis = 5 th, Harga awal = Rp. 20.000.000,Bunga modal/th = ?
Jawab:

I = (0,12 x Rp.20.000.000 x (5+1)


2x5
I = Rp.1.743.000,-/th
Bila mesin setiap tahun beroperasi 4 bulan, setiap bulan 25 hari, dan
setiap hari beroperasi 8 jam, mk bunga modal per jam
= Rp 1.743.000 = Rp 436,5 x 4 x 25 x 8
15

Add 3 Assuransi

Pada umumnya petani pemilik mesin-mesin pertanian


enggan meng-aqssuransikan mesin, disamping itu aturan
/hokum assuransi di Indon belum ada/dipublikasikan
- Untuk assuransi diassumsikan 1,25 % x P pertahun

Add 4 Biaya Pajak Alat/Mesin

Pajak kepemilikan mesin Pertanian di Indon belum


diberlakukan. Untuk Negara maju dihitung 1,5 % x P
- Untuk pajak perhitung di assumsikan 1,5 % x P
Contoh:
Satu unit Mini Traktor dibeli seharga Rp 50 juta, traktor tsb
diassuransikan 1,25 % dan dikenai pajak 1,5 %.
Maka jml Ass + Pjk = (1,25% + 1,5 %) x Rp 50 juta= 1,375 jt
Add 5. Beban Garasi/Gedung
tidak nyata nilai uangnya, namun dpt diketahui akibatnya
terhadap mesin, karena peran garasi/gedung:
a. manajemen yang lebih baik
b. perbaikan yang mudah dan aman
c.dapat mengurangi kerusakan thd mesin/alat

adanya garasi biaya perbaikan lebih kecil dibandingkan


bila tak ada gedung.
Diassumsikan besarnya biaya garasi 2 % x P pertahun

Add 6. Biaya Dana Sosial

nilainya cukup kecil shg dapat diabaikan

B. Biaya Tidak Tetap


Dasar perhitungan :
dipengaruhi oleh jam pemakaian.
dipengaruhi oleh faktor ekstern
Komponen biaya tidak tetap:
1. biaya bahan bakar = 0,2 liter/jam x Hp x harga
2. pelumas = 0,1 liter/ 100 jam x Hp x Harga
3. biaya perawatan preventif
4. biaya operator = sesuai persetujuan
5. biaya reparasi (bervariasi)
Contoh:
Hitung biaya pengadaan bhn bakar dan pelumas satu unit
pompa air, 25 Pk/Hp, bila harga solar Rp 5.500,- dan pelumas
Rp 20.00,-/liter.
- Bahan bakar: 0,2 liter/jam x 25 x Rp 5.500,- = Rp 27.500,- Pelumas : 0,1lt/100 jam x 25 x Rp 20.000,- = Rp 5000,-/jam
16