Anda di halaman 1dari 2

FIBROSIS PENIS

ABSTRAK
Sebuah mitos yang menyesatkan soal organ seksual laki-laki tampaknya masih ada di Indonesia
khususnya di NTB, dimana ukuran penis yang besar akan memberikan kepuasan yang besar
kepada pasangannya. Sehingga penyuntikan cairan secara instan untuk meningkatkan penis
tampaknya menjadi cara mudah untuk mendapatkan hasil pembesaran penis yang diinginkan.
Silikon cair atau minyak seperti parafin atau vaselin adalah bahan yang umum digunakan secara
luas di Asia dan Eropa oleh tenaga non-medis atau oleh pasien sendiri. Namun, alih-alih
mendapatkan hasil yang memuaskan, beberapa memiliki efek yang parah sehingga
mengakibatkan hasil yang buruk secara estetika dan timbul reaksi komplikasi yang tidak di
inginkan.
Fibrosis penis adalah kasus yang masih sering ditemukan di Indonesia dikarenakan oleh suntikan
seperti silikon cair (silikonoma), parafin (parafinoma), vaselin atau minyak mineral lainnya pada
penis dengan tujuan pembesaran penis yang dilakukan oleh orang non-medis atau oleh pasien
sendiri.
LAPORAN KASUS
.
.
.
DISKUSI
Umumnya, suntikan subkutan parafin pada penis untuk pembesaran penis yang dilakukan oleh
orang nonmedis, dalam kondisi yang tidak dapat diterima secara medis (tindakannya tidak
dilakukan secara aseptic dan bahan yang tidak dapat diterima tubuh). Reaksi fibrosis

Ini

biasanya terjadi beberapa bulan sampai tahun setelah penyuntikan. Sayangnya suntikan
umumnya diulang beberapa kali untuk mencapai pembesaran dan bentuk yang diinginkan, yang
pada gilirannya menyebabkan komplikasi. Beberapa jenis reaksi benda asing, termasuk jaringan
parut penis dan deformitas, pembentukan abses, ulserasi, disfungsi ereksi dan bahkan gangren

Fournier, telah dilaporkan setelah injeksi minyak ini. Setelah injeksi minyak ini, reaksi terhadap
minyak ikan atau minyak urang-aring cenderung terjadi tak lama ( 1-2 minggu ) setelah injeksi,
sedangkan reaksi parafin atau minyak mineral cenderung terjadi 1 sampai 2 tahun setelah
penyuntikan; biasanya akan menyebabkan jaringan parut pada kulit penis sehingga timbul
parafimosis dan deformitas penis, atau infeksi kulit yang menyebabkan discharge purulen,
ulserasi dan bahkan nekrosis.
Pada tahun 1899 , Robert Gersuny yang merupakan ahli bedah dari Wina Austria menyuntikkan
minyak mineral (Vaseline) sebagai pengganti testis pada pasien yang telah menjalani
orchidectomy bilateral di pasien TBC epididimitis. Keberhasilan langsung operasi tersebut
mendorongnya untuk menggunakan Vaseline sebagai bahan pengisi untuk pasien dengan cacat
jaringan lunak. Komplikasi dari penyuntikan zat minyak ini telah dilaporkan pada tahun 1906
pada 2 pasien yang menerima suntikan parafin untuk keriput pada wajah dan mengakibatkan
nodul subkutan pada wajah.
Meskipun komplikasi serius telah dilaporkan, prosedur ini tetap populer pada abad ke-20.
Meskipun hasil yang baik muncul pada awal dilakukan penyuntikannya, komplikasi sekunder
atau berat akan muncul belakangan oleh karena pengendapan parafin. Pembentukan nodul
disebut lipogranulomas, yang sangat sulit untuk dihilangkan. Meskipun merusak parah, prosedur
ini masih populer di beberapa belahan dunia, seperti Asia dan negara-negara Eropa Timur.
Pada Anamnesis ditemukan adanya riwayat tindakan penyuntikan cairan pada penis
yang dilakukan beberapa minggu/bulan bahkan sampai dengan beberapa tahun
yang lalu. Pada pemeriksaan fisik ditemukan perubahan wujud penis yang menjadi tak
berbentuk dan bengkak pada kulit penis, nyeri penis pada saat ereksi, perubahan warna kulit
amorf. Empat tanda kardinal peradangan akan tampak seperti, (perubahan warna, dolor, tumor,
dan rubor ) pada pemeriksaan fisik pada penis pasien. Kadang-kadang ada ulserasi, atau
pembesaran kelenjar getah bening inguinal di sekitarnya. Pengobatan untuk kasus tersebut
mungkin termasuk obat-obatan konservatif seperti antibiotik dan obat anti nyeri, bahkan sampai
pembedahan dengan eksisi radikal.