Anda di halaman 1dari 52

MAKALAH PREKLINIK

APLIKASI KLINIK GIGI DAN PENCEGAHAN


CARIES RISK ASSESSMENT

Anggota:
Kelompok 9

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Novi Puspitasari
Falahunnisa N.A
Vikri Eka P
Annur Aviani
Risma Dwi Irfanto
Arbi Fima Rifati

: 12/335457/KG/09247
: 12/336420/KG/09322
: 12/336319/KG/09321
: 12/336614/KG/09325
: 12/337818/KG/09329
: 12/339038/KG/09331

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN GIGI


FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS GADJAH MADA
2016
PENDAHULUAN
Mayoritas masyarakat di Indonesia belum mempertimbangkan kesehatan gigi dan
mulut, angka kesakitan gigi juga cenderung meningkat setiap dasawarsa (Sintawati, 2007 sit.
1

Nurhidayat dkk, 2012). Saat ini prevalensi tertinggi penyakit gigi dan mulut adalah karies dan
penyakit periodontal. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Depkes tahun 2007
menunjukkan 72,1% penduduk punya pengalaman karies dan sebanyak 46,5% diantaranya
merupakan karies aktif yang belum dirawat (Matram, 2009 sit Rizka dan Abi, 2012).
Karies gigi merupakan penyakit mulut yang paling umum pada kedokteran gigi
meskipun ilmu pengetahuannya berkembang dan selalu menjadi perhatian. Manajemen
penyakit ini terus menjadi tantangan dan memerlukan tenaga profesional. Secara historis,
kedokteran gigi telah manajemen penyakit karies gigi melalui pendekatan bedah-restoratif.
Lesi karies dapat diperbaiki tetapi gigi yang memiliki karies tidak sepenuhnya dirawat karena
penyebab sebenarnya adalah faktor risiko yang diperbaiki (Hurlbutt, 2011).
Untuk mencegah terjadinya karies dengan menghilangkan faktor resiko kita harus
mengetahui penyebab utama terlebih dahulu. Mengetahui penyebabnya merupakan hal
penting agar mengerti bagaimana melakukan pencegahan atau edukasi pada masing-masing
individu dengan tepat.
Dasar-dasar pencegahan karies adalah dengan modifikasi satu atau lebih dari tiga
faktor utama penyebab karies yaitu : plak, subtrat karbohidrat yang sesuai, dan kerentanan
gigi (Kidd dan Bechal 1991).
Caries Risk Assessment (CRA) merupakan komponen penting dalam menejemen
karies gigi untuk mengetahui resiko penyebab karies pada masing-masing individu. Terdapat
berbagai metode untuk melakukan pemeriksaan risiko karies, di antaranya American
Academy of Pediatric Dentistry Caries-risk Assessment Tool (CAT), Simulator Irenes Donut,
Caries Management by Risk Assessment (CAMBRA), Cariogram, Traffic Light Matrix, dan
lain-lain.

A. CAMBRA
CAMBRA merupakan singkatan dari Caries Management by Risk Assessment,
adalah sebuah metode untuk mencegah atau merawat lubang gigi pada tahap awal
berdasarkan penilaian faktor. (ADHA, 2012) Dasar penilaian

faktor berdasarkan

indikator penyakit gigi berlubang setiap pasien, faktor risiko dan faktor proteksi mengenai
terjadinya gigi berlubang pada saat ini dan masa yang akan datang. Indikator penyakit
gigi berlubang pada setiap pasien dinilai melalui tanya jawab langsung ke pasien dan
pemeriksaan klinis (Hurlbutt, 2011).
Faktor penyakit karies digambarkan sebagai sebuah tanda fisik adanya karies baru
atau lama. Sedangkan faktor risiko dijelaskan sebagai biological reasons yang
2

menyebabkan atau memicu karies. Secara tradisional faktor risiko dihubungkan dengan
etiologi penyakit. Sementara faktor pelindung adalah tindakan biologis atau terapeutik
yang bisa digunakan untuk mencegah atau memicu patologi dari faktor risiko karies.
Semakin tinggi keparahan faktor risiko, semakin tinggi pula intensitas faktor pelindung
yang diperlukan untuk melawan proses karies (Hurlbutt, 2011).
Menurut ADA, berikut faktor untuk penilaian CAMBRA antara lain :
1. White Spots on Smooth Surface
Proses demineralisasi enamel dapat ditandai dengan keberadaan lesi bercak putih.
Keberadaan bercak putih tersebut disebabkan oleh pelepasan sejumlah ion kalsium
dan dan fosfat dari lapisan enamel akibat asam orgaik yang dihasilkan oleh bakteri
patogen. Hilangnya ion kalsium dan fosfat berdampak pada timbulnya porositas pada
permukaan enamel serta mengubah keadaan normal yang semula translusen menjadi
opak. Dalam keadaan normal, enamel umumnya tampak translusen baik dalam
keadaan basah oleh saliva maupun dalam keadaan kering, selain itu permukaan
enamel yang normal memiliki tekstur yang halus. Namun, tidak semua bercak putih
pada permukaan enamel mengindikasikan adanya aktivitas karies. Beberapa keadaan
lain seperti fluorosis, hipokalsifikasi, staining akibat penggunaan tetrasiklin, dan diet
dengan kandungan asam yang tinggi juga dapat menyebabkan timbulnya bercak
putih. Untuk mengetahui faktor yang dapat menyebabkan lesi bercak putih pada
enamel tersebut (perbedaan antara bercak putih yang disebabkan oleh karies dan
bukan karies), maka perlu dilakukan pemeriksaan berdasarkan hasil radiograf
maupun pemeriksaan secara klinis. Beberapa indikator yang dapat digunakan
diantaranya adalah warna berdasarkan kontaminasi saliva, tekstur enamel, dan
tingkat kekerasan permukaan enamel.

Dengan demikian, dalam form penilaian CAMBRA karakteristik white spot


untuk kategori karies adalah jika dilakukan pengeringan maka permukaannta akan
3

tampak opak (tidak glossy) dan umumnya mengalami pelunakan permukaan. (Angela,
2005)
2. MS dan LB
Penghitungan jumlah lactobacillus
Cara pengukuran :
a. Saliva dikumpulkan dengan rangsangan mengunyah paraffin wax atau
gelang karet steril sebanyak 1 gr selama 3 menit
b. Sebanyak 1 ml saliva ditempatkan dalam cawan petri
c. Spesimen dikocok dan diencerkan dengan Nacl 0,9% dengan perbandingan
1;10 (1ml saliva + 9ml NaCL 0,9%)
d. Larutan diambil 0,4 ml dan dimasukkan ke dalam medium plat agar
e. Spesimen diinkubasi pada suhu 37 derajat celcius selama 3-4 hari, lalu
hitung dengan bantua mikroskop

Tes streptococcus mutans


Cara pengukuran:
a. Saliva sebanyak 1ml ditempatkan pada cawan petri berisi agar mitis salivarius
(yang berisi sukrosa dan bacitracin)
b. Spesimen diinkubasi selama 4 hari pada suhu 37 derajat celcius
c. Jumlah koloni streptococcus mutans dihitung dengan bantuan mikroskop
(perbesaran 10x).3

Faktor yang diukur

Jumlah S. Mutans

Kategori risiko karies


Rendah

Sedang

tinggi

< 105

105 - 106

106

3. Kedalaman Pit dan Fissure (sumber)


Cara memeriksanya dengan menggunakan sonde, memeriksa pada gigi posterior
(premolar dan molar). Jika pit dan fisur tersebut dalam (tidak berwarna hitam), maka
sonde akan terkait. Kriteria Low Risk apabila pit dan fissur nya tidak dalam (sonde
4

tidak mudah terkait pada pit). Kriteria Moderate Risk apabila pit dan fissur nya dalam
(sonde mudah terkait pada pit).
Pit dan fisure : cekung,sempit,berkelok
4. Recreational drug
Recreational Drugs merupakan obat penenang atau antidepresan. Contoh recreational
drugs:Amfetamin digunakan untuk mengobati gejala luka-luka traumatik pada otak
dan gejala mengantuk pada siang hari pada kasus narkolepsi dan sindrom kelelahan
kronis.Pada awalnya, amfetamin sangat populer digunakan untuk mengurangi nafsu
makan dan mengontrol berat badan.
5.

Aliran saliva adequate (> 1 ml/min stimulated)


Kecepatan aliran sekresi saliva berubah-ubah pada individu atau bersifat kondisional
sesuai dengan fungsi waktu, yaitu fungssi saliva bersifat minimal pada saat tidak
distimulasi dan mencapai maksimal pada saat di stimulasi.
Pada orang dewasa laju aliran saliva normal yang distimulasi mencapai 1-3 ml/menit,
rata-rata terendah mencapai 0,7-1 ml/menit dimana pada keadaan hiposalivasi ditandai
dengan laju aliran saliva yang lebih rendah dari 0,7 ml/menit. Laju aliran saliva
normal tanpa adanya stimulasi berkisar 0,25-0,35 ml/menit, dengan rata-rata terendah
0,1-0,25 ml/menit dan pada keadaan hiposalivasi laju aliran saliva kurang dari 0,1
ml/menit.
Cara menghitung laju aliran saliva:
a. Non stimulasi
Melihat jumlah laju aliran saliva yang masuk ke rongga mulut tanpa
adanya stimulus eksogen (dari luar). Pemeriksaan ini disebut juga dengan resting
flow

rate.

Cara pemeriksaan:

Sediakan tisu (apa saja) yang dilapis dua.

Tarik bibir pasien dan letakkan tisu pada setengah permukaan bibir pasien.

Lihat droplet (pembasahan, biasanya berbentuk bulat) yang terbentuk pada

tisu.
Hasil pemeriksaan:
5

Droplet terbentuk <30 detik, hasilnya tinggi.

Droplet terbentuk 30 - 60 detik, hasilnya sedang.

Droplet terbentuk >60 detik, hasilnya rendah.

b. Stimulasi
Melihat jumlah laju aliran saliva dengan adanya pemberian stimulus.
Metode pengambilan saliva dengan cara:

Metode draining, yaitu dengan cara membiarkan saliva terus mengalir ke


dalam tabung gelas.

Metode spitting, yaitu dengan cara saliva dikumpulkan terlebih dahulu dalam
keadaan mulut tertutup, setelah itu diludahkan ke dalam tabung gelas.

Metode suction, yaitu dengan cara saliva disedot dengan menggunakan pipa
suction yang diletakkan di bawah lidah.

Metode swab, yaitu dengan cara menggunakan 3 buah cotton roll. 1 buah
cotton roll diletakkan di bawah lidah, 2 buah sisanya diletakkan pada
vestibulum molar 2 atas. Setelah itu, dilakukan penimbangan berat saliva.

Cara :
Metode pengukuran yang digunakan adalah spitting, karena lebih mudah dilakukan
oleh pasien. Pemeriksaan dilakukan dengan menyuruh pasien untuk menguyah wax
gum yang dikunyah selama 3 menit, kemudian salivanya diludahkan ke tabung gelas.
Selanjutnya kunyah lagi dan saliva diludahkan setiap 1 menit. Lakukan sebanyak 5
kali. Jadi lama pemeriksaan saliva adalah 8 menit.

6.

Hasil

Jumlah Saliva

<3,5 ml

very low

3,5 5,0 ml

low

>5,0 ml

normal

Faktor-faktor yang mempengaruhi berkurangnya saliva


a. Obat-obatan
Penggunaan beberapa obat dapat mempengaruhi laju aliran dan komposisi saliva.
Obat-obatan tersebut seperti antidepresan, antipsikotik, obat penenang, hipnotika,

antihistamin, antikolinergik, antihipertensi, obat diuretic, anti Parkinson, dan obat


b.

pengurang nafsu makan.


Radiasi
Penyinaran dengan ionisasi dapat menyebabkan kerusakan jaringan kelenjar ludah
berupa atropi pada kelenjar ludah, terutama pada kelenjar parotid, sehingga dapat
menyebabkan xerostomia. Tetapi dengan teknik radioterapi yang baru dan lebih
baik, kelenjar ludah dapat dilindungi untuk mencegah terjadinya kerusakan.

c.

Sistemik
Penyakit diabetes melitus yang tidak terkontrol serta berhubungan dengan
polidipsia dan poliuria, dapat menyebabkan xerostomia.

7. Varnish Fluoride pada 6 bulan terakhir


Fluoride varnish merupakan suatu bahan yang melekat pada permukaan gigi,
berwarna kuning, semi liquid, berisi fluoride resin dan mengandung alcohol yang
dapat mempercepat proses pengeringan. Bahan ini mengandung 5% sodium fluoride
(22.600 ppm). Adapun merek dagang dari fluoride varnish diantaranya durapahat dan
fluor protector.
a.

Duraphat
Duraphat (colgate oral pharmaceuticals) merupakan cairan alcohol dari natural
varnish yang berisi 50 mg NaF/ml di dalam Natural Colophonium Resin.
Duraphat berkhasiat dalam pelepasan fluoride yang dapat berlangsung selama 6

b.

bulan.
Fluor protector
Fluor protector (ivoclar north America-vivadent) merupakan fluoride sealant
varnish yang tidak berwarna. Bekerja dengan menutup tubulus dentin yang
terbuka, mengontrol proses remineralisasi, menyebarkan fluoride hingga lapisan
enamel yang terdalam, meremineralisasi lesi karies dini serta mencegah
hipersensitifitas gigi.

Kriteria penggunaan fluoride varnish:


a) Adanya plak dipermukaan gigi
b) Karies gigi
c) Lesi white spot
8. Topical aplikasi fluor dalam 6 bulan terakhir
7

Penggunaan fluor secara topikal untuk gigi yang sudah erupsi, dilakukan dengan
beberapa caran(Yanti, 2002):
a.

Topikal Aplikasi
Topikal aplikasi fluor adalah pengolesan langsung fluor pada enamel.Setelah gigi
dioleskan fluor lalu dibiarkan kering selama 5 menit, dan selama 1 jam tidak
boleh makan, minum atau berkumur. Sediaan fluor dibuat dalam berbagai bentuk
yaitu NaF, SnF, APF yang memakainya diulaskan pada permukaan gigi dan
pemberian varnish fluor. NaF digunakan pertama kali sebagai bahan pencegah
karies.NaF merupakan salah satu yg sering digunakan karena dapat disimpan
untuk waktu yang agak lama, memiliki rasa yang cukup baik, tidak mewarnai gigi
serta tidak mengiritasi gingiva. Senyawa ini dianjurkan penggunaannnya dengan
konsentrasi 2%, dilarutkan dalam bentuk bubuk 0,2gram dengan air destilasi 10
ml (Yanti, 2002).
a)

Topikal Aplikasi Sodium Fluoride dengan Teknik Knutson

Pada kunjungan pertama bersihkan gigi dengan pumice dan rubber cup

Bersihkan mulut dan isolasi dengan cotton rolls

Keringkan gigi dan aplikasikan Sodium fluoride 2% pada permukaan


gigi termasuk permukaan proksimal dengan cotton aplicator atau spray

Biarkan larutan mengering pada gigi selama 3-5 menit

Lakukan pula pada gigi antagonisnya

Pada kunjungan ketiga ulangi prosedur yang sama

Prosedur topical aplikasi efektif dilakukan pada umur 3, 7, 10 dan 13


tahun

b)

Topikal Aplikasi Stannous Fluoride

Bersihkan gigi dengan pumice

Isolasi gigi dengan cotton rolls

Aplikasikan Stannous fluoride 8% pada gigi yang sudah kering dengan


cotton aplicator, jaga kelembabannya dengan pengolesan ulang
stannous fluoride setiap 15-30 menit

Instruksikan pasien untuk tidak makan, minum ataupun berkumur


selama 30 menit setelah aplikasi topikal Stannous fluoride.

b.

Pasta gigi fluor


8

Penyikatan gigi dua kali sehari dengan menggunakan pasta gigi yang
mengandung fluor terbukti dapat menurunkan karies (Angela, 2005).Akan tetapi
pemakaiannya pada anak pra sekolah harus diawasi karena pada umunya mereka
masih belum mampu berkumur dengan baik sehingga sebagian pasta giginya bisa
tertelan.Kebanyakan pasta gigi yang kini terdapat di pasaran mengandung kirakira 1 mg F/g ( 1gram setara dengan 12 mm pasta gigi pada sikat gigi) (Kidd dan
Bechal, 1991).
c.

Obat kumur dengan fluor


Obat kumur yang mengandung fluor dapat menurunkan karies sebanyak
20-50%.Penggunaan obat kumur disarankan untuk anak yang berisiko karies
tinggi atau selama terjadi kenaikan karies (Angela, 2005). Berkumur fluor
diindikasikan untuk anak yang berumur diatas enam tahun karena telah mampu
berkumur dengan baik dan orang dewasa yang mudah terserang karies, serta bagi
pasien-pasien yang memakai alat ortho (Kidd dan Bechal, 1991).

9.

5000ppm fluor dalam pasta gigi


Kebanyakan pasta gigi yang kini terdapat di pasaran mengandung kira-kira 1 mg F/g (
1gram setara dengan 12 mm pasta gigi pada sikat gigi) (Kidd dan Bechal, 1991).
Ada berbagai jenis fluoride yang terkandung dalam pasta gigi, tetapi jenis fluoride
yang banyak digunakan adalah jenis sodium monofluoro fosfat (MFP) dan sodium
fluoride (NaF).Berdasarkan hasil penelitian ini dan untuk melindungi kepentingan
konsumen, Lembaga Konsumen Jakarta menuntut kepada pemerintah, dalam hal ini
adalah Badan POM untuk:
a) Menurunkan standar kandungan fluoride dalam pasta gigi khususnya untuk anakanak dari 800-1500 ppm menjadi 250-500 ppm.
b) Segera menginstruksikan penarikan seluruh

produk

pasta

gigi

anak

yang masih mengandung fluoride lebih dari 500 ppm dari pasaran.
c) Mewajibkan kepada para produsen agar menghilangkan penambahan rasa
yang dapat meningkatkan keinginan anak-anak untuk menelan pasta gigi saat
mereka menggosok gigi.
d) Mengganti kewajiban

pelabelan

kandungan

fluoride

dalam

kemasan

pasta gigi dari menggunakan persentase zat yang mengandung fluoride dengan
jumlah (ppm) kandungan fluoride sebenarnya.
9

e) Mewajibkan produsen pasta gigi anak-anak memberikan peringatan dan


keterangan dalam kemasannya penggunaan kuantitas pasta gigi yang semestinya
diberikan kepada anak-anak dan kemungkinan bahaya overdosis fluoride.
Kandungan fluor yang lebih tinggi dapat dijumpai dalam pasta gigi, contoh pasta
gigi dengan merek colgate duraphat. Merek Colgate Duraphat 5000 ppm memiliki
kandungan

fluoride

lebih

tinggi

dibandingkan

pasta

gigi

biasa.Penelitian

menunjukkan bahwa pasta gigi ini dapat mengurangi karies sebesar 70%.Colgate
Duraphat 5000 ppm pasta gigi berfluoride cocok untuk orang dewasa dan anak di atas
16 tahun serta digunakan pada orang yang mempunyai resiko karies tinggi.Termasuk
dalam resiko karies tinggi termasuk pasien dengan:

Riwayat kerusakan gigi


Permukaan akar yang terpapar
Diet gula tinggi
Peralatan ortodontik
Mulut kering

Colgate Duraphat 5000 ppm pasta gigi fluoride hanya bisa diresepkan oleh seorang
dokter gigi. Hasil pemeriksaan klinis menunjukkan efektifitas colgate duraphat jika
digunakan sehari-hari di rumah dapat mengurangi 54,9% lesi karies primer setelah 3
bulan dan 76,1% setelah 6 bulan (Jensen, 2007).
10. Peresepan / penggunaan chlorhexidine perhari dalam 1 minggu selama 6 bulan
terakhir
Klorheksidin merupakan antibakteri dengan spektrum luas dan sangat efektif
untuk bakteri Gram positif (+), Gram negatif (-), bakteri ragi, jamur, serta protozoa.
Klorheksidin biasanya di tambahkan dalam obat kumur antiplak. Kumur-kumur dua
kali sehari selama 60 detik dengan larutan klorheksidin akan mengurangi
mikroorganisme dalam saliva sebanyak 80%. Selain dalam bentuk obat kumur,
klorheksidin tersedia dalam bentuk gel, spray, chip dan pasta gigi. Obat kumur yang
mengandung klorheksidin tersedia dalam konsentrasi yang berbeda-beda, tetapi yang
umum digunakan adalah larutan klorheksidin 0,2% dan 0,12%.
Klorheksidin tidak dilaporkan memiliki bahaya terhadap pembentukan
substansi

karsinogenik.

klorheksidin

sangat

sedikit

diserap

oleh

saluran

gastrointestinal, oleh karena itu klorheksidin memiliki toksisitas yang rendah. Namun
10

demikian, klorheksidin memberikan efek samping berupa rasa yang tidak enak,
mengganggu sensasi rasa, dan menghasilkan warna coklat pada gigi yang susah
disingkirkan. Hal ini juga dapat terjadi pada mukosa membran dan lidah yang
dihubungkan dengan pengendapan faktor diet chromogenic pada gigi dan membran
mukosa.
Penggunaan jangka panjang dari klorheksidin sebaiknya dilarang pada pasien
dengan keadaan periodontal yang normal. klorheksidin digunakan dalam jangka
waktu yang pendek hingga dua minggu ketika prosedur oral hygine sukar atau tidak
mungkin dilakukan. Seperti pada infeksi rongga mulut akut, dan setelah prosedur
bedah rongga mulut.
11.

Xylitol gum / lozenges 4x sehari dalam 6 bulan terakhir


Xylitol merupakan gula alkohol dengan 5 rantai karbon, yang bersifat sebagai
antimikrobial. Sifat lima rantai karbon ini menghambat pertumbuhan bakteri mulut
seperti Streptococcus mutans, karena bakteri-bakteri tersebut tidak mampu
memfermentasi dan menggunakann gula dengan lima rantai karbon untuk zat energi.
Penelitian oleh Sudhana JW, Astoeti TE, Trenggono BS, tahun 2007 membuktikan
bahwa, konsumsi permen karet dengan xylitol selama 28 hari mampu meningkatkan
pH plak intradental dibanding permen karet dengan kandungan gula selain xylitol
(CHOH)3 (CH2OH)2.

12.

Pasta supplement kalsium dan phosphate selama 6 bulan terakhir


Fungsi:
1.
2.

Membantu membangun tulang dan gigi


Berperan dalam proses pembekuan darah

Fungsi:
Fosfor memiliki beberapa peran penting dalam tubuh. Sebagai contoh di antaranya:
1.
2.

Membantu membangun tulang dan gigi


Membantu menghasilkan energi dari makanan yang kita maka

Kategori Risiko Karies menurut CAMBRA


1. Low risk : Seseorang masuk dalam kategori low risk caries apabila protective factors
lebih tinggi daripada risk factors.

11

2. Moderate risk : Seseorang masuk dalam kategori moderate risk caries apabila risk
factors lebih tinggi daripada protective factors.
3. High risk : Seseorang masuk dalam kategori high risk caries apabila terdapat 1 atau
lebih indikator penyakit.
4. Extreme risk : Seseorang masuk dalam kategori extreme risk caries apabila terdapat 1
atau lebih indikator penyakit (high risk caries) ditambah adanya hiposaliva. (Jensen,
2007)
Prosedur :
1. Ambil rincian pasien, riwayat pasien (termasuk obat-obatan) dan melakukan
pemeriksaan klinis. Kemudian melakukan CRA.
2. Lingkari kategori YES pada tiga kolompada formulir(Tabel 1.3).
3. Jika jawabannya adalah"ya" untuk salah satu dari empat indikator penyakit pada panel
pertama, maka kultur bakteri harus diambil dengan menggunakanCaries Risk Test
(CRT) marked by Vivadent, (Amherst, N.Y.)
4. Membuat overall judgment, apakah pasien berada pada risiko high, moderateatau low
pada keseimbangan, bergantung pada keseimbangan antara indikator penyakit/faktor
risiko dan protective factor menggunakan the caries balance concept (lihat bagian
bawah Tabel 1.1dan Gambar 1.2).
5. Jika ada seorang pasien high risk dan memiliki hipofungsi kelenjar ludah yang parah
atau kebutuhan khusus, maka mereka berada di"extrim risk" dan memerlukan terapi
yang sangat intensif.
6. Lengkapi bagian therapeutic recommendations seperti yang telah dijelaskan dalam
form oleh Jensonetal. masalah ini, berdasarkan assessed level of risk untuk lesi karies
di waktu mendatang dan aktivitas karies berkelanjutan. Gunakan rekomendasi
terapheutiks ebagai titik awal untuk rencana pengobatan.
7. Menyediakan pasien dengan therapeutic and home care recommendations in the form
of a letter, berdasarkan observasi klinis and hasil Caries Risk Assessment (CRA).
8. Berikan pasien lembar yang menjelaskan bagaimana karies terjadi dan surat dengan
rekomendasi anda. Surat sampel diberikan.
9. Salin lembar rekomendasi, dansurat untuk grafik pasien (atau jika Anda memiliki
electronic records berbagai bentuk dan rekomendasi dapat dihasilkan untuk dicetak
custome untuk setiap pasien).
10. Menginformasikan pasien dari hasil dari setiap tes. Misalnya, menunjukkan pasien
bahwa bakteri tumbuh dari mulut mereka(hasil uji CRT *) bisa menjadi motivator
12

yang baiks ehingga dengan memiliki culture tube or digital photograph dari slide uji
akan berguna pada kunjungan berikutnya(atau menjadwalkan satu kali pertemuan
untuk tujuan ini, untuk terus memuaskan pasien dalam beberapa minggu), atau
memberikan/mengirim mereka gambar(kamera digital dane-mail).
11. Setelah pasien telah mengikuti rekomendasi Anda selama tiga sampai enam bulan,
pasien dipersilakan kembali untuk menilai lagi seberapa baik instruksi yang telah
mereka jalankan. Tanyakan kepada merekajika merekamengikutiinstruksi Anda dan
seberapa sering.
Jika level bakteri yang awalnya moderate or high, maka ulangi kultur bakteri untuk
melihat apakah level bakteri telah berkurang. Beberapa dokter melaporkan meningkatnya
motivasi pasien ketika tes bakteri kedua dilakukan segera setelah bulan pertama
pengobatan antibakteri.

FORM PENILAIAN CAMBRA UNTUK USIA 6 TAHUN KE ATAS


Indikator

penyakit

(apabila

terdapat

satu Ya

= Ya

= Ya

jawaban Ya memiliki kemungkinan risiko karies Lingkaran Lingkaran Lingkaran


tinggi serta perlu melakukan tes bakteri** )
Terdapat kavitas/pada gambaran radiografi mencapai Ya
dentin.
Adanya lesi enamel approximal (yang dilihat dengan Ya
gambaran radiografi)
Terdapat bercak putih pada permukaan yang halus
Terdapat restorasi selama 3 tahun terakhir
Faktor Risiko (predisposisi faktor biologi)
Terdapat streptococcus mutans dan Lactobacillus

Ya
Ya
Ya
Ya

dalam jumlah sedang maupun tinggi (dengan


dilakukan kultur bakteri)
Adanya plak yang terlihat di permukaan gigi
Konsumsi makanan ringan lebih dari 3x diantara

Ya
Ya

waktu makan
Terdapat pit dan fisura yang dalam
Mengkonsumsi obat penenang atau antidepresan

Ya
Ya

Contoh: Amfetamin, frixitas, alprazolam, dumolid,


calmlet
Aliran saliva yang kurang memadai sehingga perlu

Ya

dilakukan observasi maupun dilakukan pengukuran.


13

Faktor-faktor

yang

mengurangi

laju

saliva

(medikasi/radiasi/sistemik)
Akar yang terlihat (akibat terjadinya resesi gingiva)
Penggunaan ortodontik
Faktor pelindung
Melakukan fluoridasi pada lingkungan kerja, sekolah

Ya
Ya
Ya
Ya

maupun keluarga
Penggunaan pasta gigi berfluor minimal satu kali

Ya

sehari
Penggunaan pasta gigi berfluor minimal 2x sehari
Penggunaan obat kumur berfluor yang mengandung

Ya
Ya

0,05% NaF setiap hari, contoh KIN


Penggunaan pasta gigi berfluor 5000 ppm F setiap

Ya

hari. Contoh: Colgate Duraphat


Melakukan varnish dengan fluoride pada 6 bulan

Ya

terakhir
Melakukan topikal aplikasi fluor pada 6 bulan

Ya

terakhir
Penggunaan / pemberian resep chlorhexidine setiap 1

Ya

minggu selama 6 bulan terakhir


Konsumsi permen karet mengandung Xylitol 4x

Ya

sehari dalam 6 bulan terakhir


Penggunaan pasta mengandung

dan

Ya

Contoh : pepsodent, sensodyne


Aliran saliva yang memadai (> 1 ml/min apabila

Ya

kalsium

phosphate selama 6 bulan terakhir

dilakukan stimulasi)
**Bacteria/Saliva Test Results: MS:

LB:

Flow Rate:

ml/min.

Date:

B. Kariogram
Pada tahun 1997, kariogram diperkenalkan oleh Dr. Bratthal untuk memperoleh
pemahaman yang lebih baik tentang karies gigi. Kariogram adalah sebuah program
perangkat lunak pada komputer yang bertujuan untuk menunjukkan latar belakang multifaktorial karies gigi dengan menggambarkan interaksi yang berhubungan dengan sepuluh
faktor karies. Pembuatan kariogram bertujuan untuk menunjukkan grafik resiko karies,
14

untuk menggambarkan hubungan karies serta faktor-faktor yang berhubungan, dan untuk
memberitahukan pada klien cara menghindari karies baru. Kariogram pertama kali
diluncurkan dalam versi bahasa Swedia, kemudian kariogram diterjemahkan ke dalam
beberapa bahasa yang digunakan beberapa negara untuk kepentingan studi penelitian
termasuk bahasa Indonesia. (Bratthall, dkk, 2004).
Kariogram memiliki beberapa tujuan, yaitu mengilustrasikan hubungan karies
dengan beberapa faktor, mengilustrasikan pencegahan karies, menunjukkan grafik risiko
karies, merekomendasikan upaya pencegahan (preventif), sehingga dapat digunakan di
klinik, dan dimasukkan sebagai program pendidikan.
Pengumpulan data menggunakan kariogram dengan cara mengisi dan memberi skor
pada kotak yang tersedia pada sepuluh parameter, dengan melakukan pengukuran
pengalaman karies, penyakit yang berhubungan, frekuensi makan, kandungan makanan,
banyaknya plak, jumlah bakteri streptococcus mutans, program fluor, pH saliva, dan
volume saliva, sekresi saliva, kapasitas buffer, program fluor, dan penilaian klinik.
Diukur prevalensi, faktor utama dan urutan faktor karies gigi, peluang untuk
menghindari terjadinya karies baru (Sutrisman, 2006 dan Pintauli, 2008).
Kariogram, sebuah diagram lingkaran, yang dibagi menjadi lima sektor dalam
beberapa warna, yaitu hijau, biru tua, merah, biru muda, dan kuning yang
mengindikasikan kelompok faktor yang berbeda-beda yang berhubungan dengan karies
gigi. Sektor hijau menunjukkan sebuah perkiraan mengenai kemungkinan untuk
menghindari timbulnya kavitas baru. Sektor biru tua menunjukkan diet berdasarkan
kombinasi kandungan dan frekuensi diet. Sektor merah menunjukkan sektor bakteri
berdasarkan kombinasi skor plak dan Streptococcus mutans. Sektor biru muda
menunjukkan kerentanan berdasarkan kombinasi program fluoride, sekresi saliva, dan
kapasitas buffer saliva. Sektor kuning menunjukkan faktor keadaan yang berdasarkan
kombinasi pengalaman karies masa lalu dan penyakit yang terkait (Riech, dkk, 1999
dalam Gozali, 2011).

15

Diagram lingkaran kariogram


Tujuan kariogram :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Mengilustrasikan interaksi karies dari berbagai faktor


Mengilustrasikan kemungkinan yang dapat menhindarkan pembentukan karies
Menampilkan resiko karies secara grafik
Menentukan rencana perawatan preventif
Dapat digunakan untuk perawtan klinik
Dapat digunakan sebagai sarana edukasi pasien

Faktor risiko karies yang terdapat pada kariogram :


1. Pengalaman karies
Untuk mengetahui rata-rata pengalaman karies pada masa lalu yang dihitung dengan
indeks DMFT. Pengalaman karies meliputi kavitas, tumpatan dan kehilangan gigi
akibat karies.
2. Penyakit yang berpengaruh
Penyakit umum atau kondisi yang berhubungan dengan karies gigi, yaitu penyakit
mulut kering dan penyakit gula.
3. Kandungan makanan
Untuk mengetahui makanan yang mengandung karbohidrat yang dibedakan atas
tingkat rendah, sedang, tinggi dan sangat tinggi.
4. Frekuensi makan
Untuk mengetahui frekuensi makan atau jajan dalam 1 hari.
5. Skor plak
Untuk mengetahui skor kebersihan gigi dengan menggunakan Indeks Plak.
6. Streptokokus mutans
Untuk mengetahui banyaknya jumlah bakteri Streptokokus mutans pada permukaan
gigi.
7. Program fluor
Untuk mengetahui frekuensi dan bentuk pemakaian fluoride.
8. Sekresi saliva
16

Untuk mengetahui rata-rata sekresi saliva yang dibedakan atas tingkat normal, rendah,
lebih rendah, dan sangat rendah selama 1 menit.
9. Kapasitas buffer
Untuk mengetahui asam, basa dan netralnya saliva dalam rongga mulut.
10. Penilaian klinik
Penilaian dan pemberian skor secara langsung oleh peneliti berdasarkan faktor sosial
ekonomi pasien.
Cara Penggunaan Kariogram
Terdapat beberapa tahapan menggunakan kariogram, yaitu:
1. Start program
Program kariogram hanya dapat digunakan pada komputer berbasis Windows.
Kemudian ikuti petunjuk yang diberikan pada halaman tersebut dan dilanjutkan
dengan mengklik simbol start pada kariogram.
2. Fungsi
Dengan cara mengklik ikon yang terdapat pada ujung kiri atas layar terdapat beberapa
informasi yang memiliki fungsi sebagai berikut:

Ikon fungsi pada kariogram


a. Keluar, digunakan jika ingin menutup program.
b. Pasien baru, digunakan jika ingin membuat halaman (pasien) baru.
c. Mengenai, digunakan untuk mengetahui tujuan program.
d. Bantuan, digunakan untuk mendapatkan informasi lebih lanjut tentang
penggunaan program.
e. Catatan, digunakan untuk mendaftar dan menulis komentar pasien.
f. Rekomendasi secara umum, digunakan untuk mengetahui tindakan preventif dan
klinis yang berdasarkan nilai yang telah dimasukkan.
g. Cetak, digunakan untuk mencetak kariogram.

17

3. Mendaftar pasien
Untuk mendaftar pasien baru, dapat dilakukan dengan mengklik ikon catatan yang
terdapat pada ujung kiri atas program. Untuk mendaftar pasien, diperlukan beberapa
data, yaitu nama, nomor, tanggal, dan pemeriksa.

Cara mendaftar pasien


Untuk memasukkan informasi data pasien pada program, dapat dilakukan dengan
mengklik ikon catatan. Kemudian mengisi informasi data pasien dan dapat juga
memberi beberapa komentar pada halaman tersebut. Apabila ingin menutup halaman
catatan dengan mengklik 'OK'

Pengisian data siswa pada kariogram


Informasi rincian data pasien yang telah dimasukkan akan muncul di sudut kiri layar
seperti gambar di bawah ini. Informasi data pasien tidak dapat disimpan dalam
program ini. Oleh karena itu, disarankan untuk mencetak informasi data dan komentar
tersebut.

18

Data yang telah diisi


4. Warna pada beberapa sektor
Pada bagian bawah kiri layar, terdapat beberapa sektor kariogram. Setiap sektor
kariogram tersebut, memiliki warna dan memiliki faktor tersendiri.

Sector warna pada kariogram


5. Pengaturan untuk 'negara/daerah'
Faktor risiko karies pada setiap negara atau daerah berbeda-beda, bergantung pada
latar belakang negara tersebut. Terdapat beberapa pilihan dalam menentukan
'negara/daerah', yaitu 'standar', 'risiko rendah', dan 'risiko tinggi'. Untuk negara dan
daerah industri tanpa fluoridasi air minum, digunakan pilihan standar. Pilihan risiko
rendah dan risiko tinggi disesuaikan terhadap negara/daerah yang berisiko rendah atau
tinggi.

Pilihan resiko karies pada Negara/ daerah


6. Pengaturan 'kelompok'
Seorang pasien mungkin dikategorikan dalam kelompok risiko yang lebih tinggi atau
lebih rendah. Contoh: pasien lanjut usia dengan permukaan akar gigi yang terbuka,
19

maka memiliki risiko yang lebih tinggi. Oleh karena itu, pasien lanjut usia tersebut
dapat dikatergorikan dalam kelompok risiko tinggi.

7. Memberi skor pada beberapa faktor yang berbeda


Untuk membentuk sebuah kariogram, diharuskan memberi skor (0-2) atau (0-3)
sedikitnya tujuh dari sepuluh parameter yang sesuai dengan kriteria pasien yang
terdapat pada kotak kosong dengan mengklik tanda panah ke atas atau ke bawah.
Setiap skor memiliki prevalensi yang berbeda-beda.

Hasil pemberian skor pada 7 parameter

8. Rekomendasi secara umum


Kariogram dapat memberikan interpretasi umum dan beberapa tindakan yang perlu
dilakukan dengan mengklik ikon Rekomendasi secara umum, setelah hasil
kariogram dari data-data yang dimasukkan muncul. Rekomendasi yang dihasilkan
bergantung pada skor yang kurang baik pada parameter kariogram.

20

Rekomendasi secara umum pada kariogram

Interpretasi awal dan tindakan yang diusulkan


9. Cetak
Program kariogram ini dapat mencetak dalam dua pilihan warna, yaitu cetakan
berwarna dan cetakan berwarna hitam putih. Program ini juga dapat mencetak
komentar dan interpretasi awal dan tindakan yang diusulkan.

Pemilihan cetak
Risiko karies rendah menandakan sektor hijau (peluang untuk menghindari karies
baru) diatas 75%, maka dapat disimpulkan bahwa pasien memiliki peluang yang besar
21

terhindar dari karies baru dengan catatan bahwa kondisi tidak berubah. Apabila sektor hijau
bernilai 25% - 75% menandakan risiko karies sedang dan apabila sektor hijau dibawah 25%,
menandakan bahwa risiko karies sangat tinggi.
Dalam program Pencegahan karies Kariogram digunakan untuk menghitung
kemungkinan tidak terjadinya kavitas pada kelompok usia 18 tahun (Bratthall dkk, 1996).
Kariogram ini merupakan model yang juga dipublikasikan secara interactive di internet dari
parameter yang digunkan dalam model diketahui risiko terjadinya karies yang dinyatakan
dalam persen. Bila persentasi terjadinya kavitas tinggi dan sebaliknya, bila persentasi tinggi
berarti kemungkinan tidak terjadinya kavitas sangat rendah. Parameter tersebut meliputi diet,
bakteri, kerentanan dan lingkungan yang khusus ditunjukkan untuk kelompok usia 18 tahun.
Dalam uraian operasional parameter, yang dimaksudkan dengan diet adalah frekuensi
dan banyaknya kandungan gula yang biasa dikonsumsi. Unsure bakteri menentukan
kematangan plak dan kuantitas S.mutans yang diukur melalui indeks plak dan aktivitas
bakteri yang tumbuh sesudah dibiakkan dalam media kultur. Unsure kerentanan gigi
menjelaskan kemampuan daya tahan gigi terhadap karies yang diukur melalui jumlah
kerusakan gigi karena karies dan penyakit periodontal yang pernah diderita. Akhirnya, unsur
lingkungan atau kondisi individu menjelaskan peran program fluoridasi, kecepatan sekresi
saliva dan kapasitas dapar saliva.
Evaluasi data dilakukan berdasarkan seni dan ilmu terhadap faktor-faktor tersebut
memberikan bobot tinggi untuk faktor yang paling berpengaruh, dan bobot rendah untuk
yang kurang berpengaruh. Parameter kariogram tersebut berasal dari penelitian literature dan
dari berbagai pengalaman klinik di Negara maju yang ditunjukkan untuk kelompok usia 18
tahun. Beberapa parameter yang digunakan belum tersedia secara luas di Indonesia, misalnya
pemakaian suplemen fluor atau fluor dalam air minum, dan pemeriksaan bakteri. Untuk dapat
digunakan pada kelompok umur yang lebih muda perlu dilakukan modifikasi terhadap
parameter Kariogram.

C. Caries Risk Assessment menurut ADA


Penilaian risiko karies menurut ADA (American Dental Association) digunakan
sebagai alat bantu dokter gigi dalam mengevaluasi perkembangan karies pada pasien.
Formulir penilaian risiko karies menurut ADA terbagi menjadi dua, yaitu formulir
22

penilaian risiko karies pada pasien usia 0-6 tahun dan formulir penilaian risiko karies
pada pasien usia lebih dari 6 tahun. Faktor risiko yang dimuat dalam formulir ini
bertujuan untuk memberikan informasi kepada pasien yang dapat membantu di dalam
menurunkan risiko karies dari waktu ke waktu.
Formulir ini dirancang dengan menyertakan faktor yang mudah diamati dan
ditemukan dalam evaluasi kesehatan mulut. Di dalam formulir terdapat 3 jenis warna
yang digunakan untuk mengindikasi karies yaitu hijau, kuning dan merah. Warna hijau
menunjukkan reiko rendah (low risk), kuning untuk resiko sedang (moderate risk) dan
merah untuk resiko tinggi (high risk). Cara pengisiannya dengan memberi tanda cek pada
kotak di bawah kolom low risk, moderate risk,atau high risk untuk masing-masing faktor
risiko.

Formulir caries risk assessment untuk anak usia 0-6 tahun

23

Formulir caries risk assessment untuk anak usia di atas 6 tahun

24

Rekomendasi resiko karies menurut ADA :


Untuk Usia 0 6 tahun
a. Low Risk (Risiko Rendah)
Pada pasien risiko karies rendah (low risk) dilakukan pemberian fluoridasi
air dan penggunaan pasta gigi berfluoride yang dapat mencegah karies pada
kategori risiko ini. Pemberian topikal aplikasi fluor atau tidak pada pasien
merupakan keputusan yang diambil secara seimbang melalui pertimbangan
praktisi profesional dan preferensi pasien.
b. Moderate risk
Pada pasien resiko karies sedang (moderate risk) harus mendapatkan aplikasi
varnish fluoride pada interval 6 bulan. Varnish fluoride mengandung fluoride lebih
sedikit dibanding fluoride gel sehingga penggunaannya mengurangi risiko tertelan
pada anak usia dibawah 6 tahun.
c. High risk
25

Pada pasien resiko karies tinggi (high risk) harus mendapatkan aplikasi
varnish fluoride atau fluoride gel pada interval 3-6 bulan.
Untuk Usia lebih dari 6 tahun
a. Low Risk (Risiko Rendah)
Pada pasien risiko karies rendah (low risk) dapat diberikan fluoridasi air dan
penggunaan pasta gigi berfluoride yang dapat mencegah karies pada kategori
risiko ini. Pemberian topikal aplikasi fluor atau tidak pada pasien merupakan
keputusan yang diambil secara seimbang melalui pertimbangan praktisi
profesional dan preferensi pasien.
b. Moderate risk
Pada pasien resiko karies sedang (moderate risk) harus mendapatkan
aplikasi varnish fluoride atau fluoride gel pada interval 6 bulan.
c. High risk
Pada pasien dengan moderate risk harus menerima varnish fluoride atau
aplikasi gel fluoride dalam interval 3- 6 bulan. Dalam interval 3 bulan dengan
varnish fluoride dan 3 bulan selanjutnya dengan gel fluoride.
Edukasi Kesehatan Gigi dan Mulut Pada Pasien
Childrens dental health

Erupsi gigi : gigi desidui dan gigi

Fluoride

permanen, gigi pertama bayi


Fluoride Treatment in the dental office,
Flouride natures cavity fighter, the fact

Diet

about bottled water


Kebiasaan makan

Saliva Insufficiency

Oral Moisturizers: produk yang dapat

Tobacco habits

membantu meredakan mulut kering


Membantu untuk berhenti merokok,

Drug Habit

menjaga senyum sehat


Methamphetamine Use and oral health

Restoration

Does your filling need replacing ? ;dental


radiographs A diagnostic tool; when a

Chemo/Radiation Therapy

filling needs to be replaced


Perawatan mulut untuk pasien kanker

Expossed Root Surface

Gigi sensitif: Penyebab dan Pengobatan


26

Dental/Orthodontic
Appliances
Caries Experience
mother

Menghisap jari dan penggunaan dot


of

Meskipun hamil tetap menjaga kesehatan


rongga mulut untuk menjaga senyum sehat

Informasi Tambahan Tentang Faktor Risiko Spesifik


a. Paparan Fluoride
Menanyakan kepada pasien mengenai paparan fluor yang pernah diterima.
Pasien yang belum pernah mendapatkan paparan fluoride maka dapat di anggap
memiliki risiko pada tingkat sedang (moderate risk) terhadap kejadian karies.
b.

Makanan dan Minuman yang Mengandung Gula


Makanan yang mengandung gula dapat mempengaruhi perkembangan
karies. Gula dapat terkandung dalam makanan, minuman dan obat. Pasien
mungkin tidak menyadari adanya kandungan gula dalam suatu produk. Tabel
berikut berisi daftar berbagai bentuk gula yang digunakan dalam olahan dalam
makanan.

c. Pasien dengan Kebutuhan Khusus


Pasien dengan kebutuhan khusus memiliki keterbatasan dalam rutinitas
perawatan kesehatan mulut, hal ini menyebabkan mereka lebih berisiko terhadap
karies.
d. Medikasi yang Dapat Menurunkan Produksi Saliva
Berkurangnya aliran saliva akan menyebabkan mulut kering. Mulut kering
akan mengiritasi jaringan lunak dalam mulut yang dapat menyebabkan timbulnya
inflamasi dan lebih rentan terhadap infeksi. Jika tidak ada selfcleansing saliva,
maka akan menimbulkan masalah kerusakan gigi dan kesehatan mulut.
D. The Traffic Light System
TL-M merupakan salah satu instrumen pemeriksaan resiko karies seseorang dengan
menggunakan lampu lalu lintas sebagai elemen pertama dari sistem ini. Pada model ini
27

tidak hanya penilaian risiko yang ada, namun termasuk juga penilaian motivasi pasien
dan gaya hidup pasien. Model ini dirancng untuk membantu dokter gigi untuk
menentukan treatment yang tepat untuk pasien yang berdasarkan dengan resiko karies
individu tersebut. Model TL-M mengalokasikan nilai ambang batas untuk setiap kategori
risiko. Jika informasi dari pertanyaan atau hasil pengujian klinis melibihi ambang batas
yang ditentukan akan membuat peringatan untuk dokter akan adanya kemungkinan
masalah (Mount dan Hume, 2005).
Elemen kedua dari model TL-M adalah matriks. Ini dirancang sebagai sarana
menilai status penyakit pasien dan sikap untuk menjaga kesehatan gigi mereka sendiri.
Hal ini juga merupakan cara yang sederhana untuk memberikan informasi tentang potensi
kepatuhan pasien antara operator yang berbeda dalam praktek yang sama atau pada saat
rujukan ke praktisi lain (Mount dan Hume, 2005).

Keterangan :

Kriteria skor sikap pasien terhadap kesehatan gigi :


a. Termotivasi
Sadar kesehatan gigi dan menjaga kesehatan gigi yang merupakan prioritas
tinggi
b. Menyadari
Sadar akan kesehatan gigi namun masih bergantung tim kesehatan gigi untuk
memotivasi dan membantu menjaga kesehatan
c. Tidak termotivasi
Tingkat kesehatan gigi rendah dan tidak sadar tentang kesehatan gigi yang
merupakan prioritas rendah.
28

Status penyakit
1. Tidak ada penyakit
Tidak ada pengobatan pada saat ini, belum atau tidak ada restorasi atau bukti
penyakit masa lalu
2. Penyakit dikendalikan
Mungkin ada pengobatan yang diperlukan untuk alasan fungsional, seperti
restorasi yang rusak, tetapi tidak ada tanda-tanda penyakit aktif.
3. Penyakit aktif
Penyakit aktif jelas terjadi seperti adanya lesi baru atau adanya aktivitas
penyakit restorasi disekitarnya (Mount dan Hume, 2005).
Model Traffic Light Matrix (TL-M) memiliki 19 kriteria yang terdapat dalam 5

kategori yang berbeda. Kategori tersebut yaitu saliva memiliki 6 kriteria, plak memiliki 3
kriteria, diet memiliki 2 kriteria, paparan flouride memiliki 3 kriteria dan faktor
modifikasi memiliki 5 kriteria dimana lampu lalu lintas mengambarkan berbagai tingkat
risiko. Warna merah menunjukkan bahwa pasien memiliki risiko karies yang tinggi,
warna kuning menunjukkan pasien memiliki risiko karies sedang dan warna hijau
menunjukkan bahwa risiko karies rendah. Berikut ini merupakan kategori beserta kriteria
pada model Traffic Light Matrix (TL-M) :
1. Saliva :
a. Saat istirahat
: hidrasi, viskositas, dan pH
b. Saat tersimulasi
: jumlah, pH, dan kapasitas buffer saliva
2. Plak : pH dari plak, kematangan plak, dan jumlah bakteri S. Mutans
3. Diet : jumlah konsumsi gula dan asam pada saat diantara waktu makan
4. Flouride : paparan flouride melalui air / pasta gigi/ perawatan flouridasi secara
profesional
5. Faktor modifikasi : pemakaian obat yang menyebabkan penurunan aliran saliva,
penyakit yang menyebabkan mulut kering, pemakaian alat kedokteran gigi
(protesa/ alat ortodontik baik yang cekat maupun lepasan), status sosial ekonomi,
dan riwayat karies aktif (Ha dkk., 2015).
1. Saliva
Salah satu faktor dari lingkungan oral yang harus diperiksa dan dinilai dalam
menentukan faktor resiko karies adalah saliva. Lima faktor yang dinilai dalam tes
saliva adalah derajat hidrasi, viskositas, pH, kuantitas, dan kapasitas buffer (kualitas)
(Mount & Hume, 2005).

29

a. Tes Derajat Hidrasi


Unstimulated saliva memiliki peran penting untuk hidrasi dan kenyamanan
rongga mulut, karena stimulated saliva hanya diproduksi selama mastikasi.
Kelenjar saliva minor menghasilkan 15% dari seluruh produksi saliva harian,
dan kelenjar submandibula merupakan kelenjar yang memberi kontribusi
utama. Terdapat banyak variasi flow rate pada kelenjar saliva minor yang
terdapat pada berbagai macam area dalam mulut. Penurunan flow rate
unstimulated saliva pada kelenjar saliva minor di daerah palatum dapat terjadi
seiring pertambahan usia individu, namun tidak terdapat perubahan yang
berhubungan dengan usia dari kelenjar-kelenjar minor yang terdapat pada
daerah bukal dan labial, sehingga pemeriksaan dilakukan pada kelenjar saliva
minor yang terdapat pada bagian dalam bibir bawah.
Cara pemeriksaan:
Pasien duduk tegak
Bibir bawah pasien ditarik ke arah luar dan dikeringkan dengan kasa
Waktu yang dibutuhkan saliva untuk keluar dari duktus kelenjar

saliva minor dicatat


Petunjuk interpretasi hasil tes hidrasi pada pemeriksaan saliva dengan
menggunakan Saliva Check Buffer Kit

Hasil dan interpretasi:


Waktu yang dibutuhkan bagi titik-titik saliva untuk muncul mengindikasikan
keadaan kelenjar saliva minor:

30

Merah menunjukkan tidak adanya fungsi kelenjar saliva minor yang dapat
disebabkan karena:

Dehidrasi parah
Kerusakan kelenjar saliva karena radioterapi atau karena proses

patologis
Ketidakseimbangan hormonal
Efek samping obat

Kuning menunjukkan level ringan:

Dehidrasi
Efek samping obat

Hijau menunjukan fungsi normal kelenjar saliva minor.


b. Tes Viskositas
Saliva terdiri dari 99% air dan 1% protein dan elektrolit, sehingga saliva
seharusnya tampak jernih, encer, dan mengandung sedikit buih serta memiliki
kemampuan untuk membentuk lapisan yang sangat tipis pada seluruh jaringan
keras dan lunak. Ketebalan film bervariasi antara 10-100 m, tergantung
lokasinya pada rongga mulut. Kaca mulut digunakan untuk mengangkat saliva
yang terkumpul pada dasar mulut. Ketika instrumen diangkat, jaring dari
saliva akan terbentuk, terenggang hingga akhirnya putus. Saliva normal dapat
membentuk web saliva yang dapat terenggang hingga 2-5 cm, sedangkan pada
saliva kental web saliva dapat terenggang hingga 15 cm.
Cara kerja:
- Pasien duduk tegak
- Pasien diminta untuk berhenti menelan saliva selama 30 detik
- Kepala pasien dimiringkan ke depan
- Pasien diminta untuk membuka mulut dan keadaan saliva dicatat
- Pasien diminta untuk menyentuhkan ujung lidah ke daerah palatum
31

- Keadaan mukosa dan saliva pada dasar mulut dicatat


- Web test dilakukan dan hasil dicatat
Hasil dan interpretasi:
Salah satu fungsi penting saliva adalah untuk membersihkan debris dari
rongga mulut. Saliva yang berbuih memiliki kandungan air yang lebih sedikit
dan memiliki kemampuan protektif yang lebih rendah terhadap jaringan lunak
dan keras yaitu berkurangnya kemampuan clearance dan ketidakmampuan
saliva dalam membentuk lapisan yang dapat melindungi permukaan gigi.

c. Tes pH
Permukaan gigi dilapisi oleh lapisan tipis unstimulated saliva, sehingga
keadaan pH saliva dapat mempengaruhi keadaan biofilm pada permukaan gigi.
Cara kerja:
- Pasien diminta untuk meludah ke dalam kontainer plastik
- Strip pH dicelupkan ke dalam saliva yang telah terkumpul
- Setelah 10 detik, pH diukur berdasarkan aturan pabrik
Hasil dan interpretasi:
pH unstimulated saliva merupakan indikator umum keadaan asam rongga
mulut. Umumnya, pH kritis hidroksi apatit adalah 5,5, sehingga semakin dekat
pH unstimulated dengan pH kritis, maka semakin besar resiko demineralisasi.

d. Tes Kuantitas
32

Komposisi stimulated saliva tergantung pada flow rate yang merupakan


representasi produksi kelenjar saliva mayor dan minor. Rata-rata flow rate
stimulated saliva adalah 1,6 ml/menit. Flow stimulated saliva sebesar 0,7
ml/menit dianggap sebagai ambang, dimana flow rate di bawah batas tersebut
menunjukkan peningkatan resiko terjadinya karies.
Cara kerja:
- Pasien duduk tegak
- Pasien diminta untuk mengunyah permen paraffin tanpa rasa
- Setelah 30 detik, pasien diminta untuk membuang saliva yang
terkumpul
- Pasien diminta untuk mengunyah paraffin kembali selama 5 menit
- Pasien diminta untuk membuang saliva ke dalam kontainer plastik
dengan interval teratur pada 5 menit pengunyahan.
- Setelah 5 menit, volume saliva dicatat
- Saliva dipersiapkan untuk tes kapasitas buffer
Hasil dan interpretasi:

e. Tes Kapasitas Buffer


Kapasitas buffer menunjukkan kemampuan saliva dalam menetralisir asam
dan hal ini tergantung pada konsentrasi bikarbonat dalam saliva.
Cara kerja:
- Sampel yang digunakan adalah saliva yang dikumpulkan pada tes
-

kuantitas saliva
Masing-masing strip test ditetesi oleh saliva
Kelebihan saliva dibuang dengan memiringkan strip sebesar 90 derajat
untuk memastikan volume konstan
33

Setelah 5 menit, warna pada strip test dibandingkan dengan panduan dari
pabrik

Hasil dan interpretasi:


Masing-masing warna memiliki skor berdasarkan instruksi pabrik. Seluruh
skor dijumlahkan dan diinterpretasikan sesuai:

Hasil test saliva

2. Plak
Pemeriksaan pH dan kematangan plak dengan menggunakan GC Plaque Check + pH
sedangkan jumlah s.mutans dalam saliva dapat diukur dengan menggunakan Saliva
Check Mutans dari GC.

34

Kematangan plak dapat diamati dengan menggunakan disclosing solution. Warna


merah menunjukkan bahwa plak tersebut baru terbentuk dan warna biru menunjukkan
plak sudah matang (GC Asia Dental, 2008).

35

Untuk mengetahui jumlah dari s.mutans dapat dilakukan dengan mengunyah permen
karet selama 1 menit kemudian keluarkan saliva yang terkumpul pada kontainer,
memasukan reagent pertama sebanyak satu tetes, tutup kontainer dan tepuk kontainer
sebanyak 15 kali selama 10 detik, setelah itu tambahkan lagi reagent kedua sebanyak
empat tetes, goyangkan kontainer sampai larutan saliva berubah menjadi warna hijau,
ambil saliva dengan menggunakan pipet dan masukkan kedalam uji tes. Apabila
terdapat garis merah pada sisi huruf T menandakan jumlah s.mutans dalam saliva
melebihi 500.000 cfu/ml, apabila tidak terdapat garis merah pada sisi T menunjukkan
jumlah s.mutans dalam saliva kurang dari 500.000 cfu/ml (GC Asia Dental, 2008).

Tabel pemeriksaan Traffic Light Matrix ( TL-M)

36

Rekomendasi untuk pasien :


Beberapa tindakan yang bisa dilakukan pasien dengan risiko karies tinggi adalah :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Peningkatan teknik kebersihan mulut


Meningkatkan pH
Peningkatan asupan kalsium dan fosfat
Penggunaan flouride
Penggunaan bahan antibakteri
Menurunkan frekuensi konsumsi karbohidrat terfermentasi (GC Asia Dental,
2008).

E. Oral Tester
37

Oral tester adalah suatu perangkat pengukuran risiko karies yang terdiri atas
pengukuran kuantitas saliva, uji bufer dan uji Streptokokus mutans dilengkapi dengan
perangkat lunak. Cara ini dikembangkan oleh Dr. Takashi Kumagai, seorang kariologis
Jepang dari Klinik Gigi Tokuyama (Hamada, 2012).

Oral tester dapat dilakukan di praktek dokter gigi karena caranya sangat sederhana
dan waktu yang dibutuhkan sedikit yaitu tidak lebih dari 30 menit. Sebelum dilakukan
pemeriksaan, biasanya pasien diberi penjelasan terlebih dulu tentang risiko karies dan
cara pengukurannya. Selain itu dijelaskan tindakan apa saja yang akan dilakukan oleh
dokter gigi mulai dari kunjungan pertama sampai akhir perawatan. Setelah itu baru
dilakukan pemeriksaan secara visual diikuti dengan pemeriksaan yang meliputi
pengukuran kuantitas saliva, uji bufer dan uji Streptokokus mutans (Hamada, 2012).
Hasil pemeriksaan ini akan dijelaskan kepada pasien apakah pasien berisiko tinggi
atau tidak. Selain itu, dijelaskan juga apa yang akan dilakukan oleh dokter gigi kepada
pasien tentang strategi pemeliharaannya yang meliputi penyikatan gigi, diet, tindakan
Profesional Mechanical Tooth Cleaning (PMTC), pemberian fluor dan silen (Hamada,
2012).

Prosedur pengukuran risiko karies dengan oral tester menurut Hamada (2012) meliputi:
38

1. Saliva dikumpulkan selama 5 menit. Bagi yang salivanya sulit diperoleh, dapat
dirangsang dengan mengunyah permen karet tanpa rasa selama 5 menit atau dengan
menggosok gigi selama 30 detik.
2. Saliva yang sudah terkumpul selama 5 menit dimasukkan ke dalam gelas ukur dan
volumenya langsung dapat dilihat pada gelas ukur tersebut. Untuk melihat daya bufer
saliva, diambil 0,5 ml saliva dan dimasukkan ke dalam tabung yang sudah berisi
larutan reagen, tabung dikocok dan dilihat perubahan warna yang terjadi dan
disesuaikan dengan Kartu warna (chart). Perubahan warna akan menunjukkan daya
bufernya.
3. Antigen diambil dari larutan saliva.
4. Pengukuran Streptokokus mutans dilakukan secara immunochromatography dan
hasilnya dapat dilihat pada media yang tersedia.

Saran yang diberikan berdasarkan hasil analisis faktor risiko yang dibuat:

Mengurangi frekuensi konsumsi makanan manis dan usahakan untuk tidak mengemil

diantara jam makan.


Sarankan untuk kumur atau minum air putih setelah makan untuk self cleansing

karena laju alir salivanya rendah bila memungkingkan dilanjutkan dengan sikat gigi.
Perbanyak konsumsi sayuran dan buah-buahan yang berserat dan berair untuk

membersihkan dan merangsang sekresi saliva.


Ajarkan kepada pasien bagaimana cara menyikat gigi yang benar dan beritahu kepada
pasien waktu dan frekuensi yang tepat untuk menyikat gigi, yaitu pagi setelah sarapan

dan malam sebelum tidur.


Lakukan penambalan pada gigi yang berlubang dan penggantian gigi yang hilang.
Aplikasi topikal fluor untuk mencegah terjadinya karies kembali.
Kontrol berkala ke dokter gigi 3-6 bulan sekali untuk mengevaluasi hasil perawatan
yang telah dilakukan, pemeliharaan kesehatan gigi, DHE, dan mencatat perubahan
yang terjadi seperti jika ada karies sekunder atau tambalan yang rusak.

F. IreneS Donat Simulator


39

Simulator Risiko Karies (Donut Irene) merupakan suatu program interaktif dalam
bentuk program komputer atau versi manualnya. Program ini memuat faktor-faktor risiko
terkait perilaku anak, kondisi kesehatan gigi anak, kondisi lingkungan ibu dan anak,
pengetahun, sikap dan perilaku orang tua anak, maka program akan menampilkan
gambaran besar risiko anak terhadap kemungkinan terjadinya karies gigi. Dalam program
ini juga ditawarkan menu apa yang dapat dilakukan orang tua atau anak untuk
mengurangi risiko karies tersebut, serta dapat dibawa sebagai pegangan untuk tindak
lanjut dirumah.
a. Tujuan:
1) Memberikan pemahaman tentang faktor-faktor risiko karies sejak dini.
2) Memberikan pemahaman tentang cara mencegah karies gigi.
3) Memberikan gambar visual besar risiko karies yang dihadapi dan kemungkinan
perbaikannya.
4) Memberdayakan orang tua anak (masyarakat sekolah) untuk pemeliharaan
kesehatan gigi anak.
b. Instrumen simulator risiko karies:
1) Flipchart Simulator Risiko Karies Donut Irene versi manual / versi Komputer
2) Formulir / status pemeriksaan kesehatan gigi anak
3) Lembar kerja / rapor gigi
4) Set pemeriksaan pH biolm
5) Kaca mulut
c. Penatalaksanaan simulator risiko karies dan posisi operator.
1) Siapkan Instrumen simulator risiko karies / alat tulis
2) Ibu dan anak serta operator duduk menghadap komputer / ipchart
3) Jalankan program dan lakukan seperti yang diminta program dengan mengisi data
yang diperlukan.
4) Mengambil sampel plak untuk diperiksa derajat keasamannya
Sampel biofilm diambil dari salah satu gigi anterior atas (elemen gigi 51 atau 61)
menggunakan stik plastik sekali pakai. Lalu, sampel biofilm dicelupkan ke dalam
larutan sukrosa (larutan A) dan stik segera ditaruh pada pad untuk menunggu 5
menit. Setelah 5 menit, perubahan warna yang terjadi pada biofilm dicocokkan
dengan warna pada tabel dari manufaktur untuk menentukan derajat keasaman
(pH) biofilm.

Gambar Urutan pemeriksaan indikator pH biofilm (permission Asia Dental Pte.


Ltd)
5) Tanyakan setiap pertanyaan yang ditampilkan program
40

6) Pada saat memeriksa white spot/sur hitam ajak ibu melihat juga kondisi gigi
anaknya.
7) Bila semua telah selesai diisi tunjukkan gambaran tingkat risiko karies.
8) Tawarkan antisipasi (menu) yang dapat dilakukan dan tunjukkan perubahan risiko
yang tergambar
9) Pada hasil wawancara tunjukkan apa yang harus dilakukan sebagai pekerjaan
rumah.
Penyelesaian:
10) Catat / kompilasi hasil isian Donut Irene (faktor yang jadi bersamaan, faktor
yang dapat diantisipasi, besar risiko sebelum dan sesuadah antisipasi).
11) Lakukan tindakan surface protection / terapi remineralisasi (dilakukan di
sekolah atau dirujuk sesuai kemampuan)
12) Lakukan evaluasi pengisian PR dan analisis keberhasilannya.
13) Lakukan diskusi untuk meningkatkan peran serta orang tua dalam pemeliharaan
gigi anaknya.
d. Rekomendasi Simulator untuk Intervensi
Faktor risiko dalam simulator dikelompokkan sebagai berikut.
1) Kebiasaan/pola hidup anak, yaitu pertanyaan no 1 sampai dengan 5.
Rekomendasi yang diberikan adalah mengubah kebiasaan/pola hidup yang jelek
sesuai dengan besarnya (skor).
2) Pertanyaan no. 6 sampai dengan 10 adalah faktor risiko sebagai faktor
predisposisi yang tidak dapat diubah. Untuk menghadapi kondisi ini, perlu
intervensi peningkatan kesehatan umumnya maupun kesehatan gigi anak
khususnya.
3) Pertanyaan no. 11 sampai dengan 13 adalah faktor risiko dari kondisi gigi anak
melalui pemeriksaan oleh dokter gigi. Keadaan ini perlu intervensi berupa
tindakan oleh dokter gigi.
Berikut ini adalah saran-saran dan daftar monitor kegiatan ibu yang akan keluar sesuai
dengan faktor risiko.
DAFTAR

MONITOR

FAKTOR RISIKO

SARANSARAN

LAMA ASI

Mengingat pemberian ASI Mengangkat bibir atas dan

KEGIATAN IBU

melebihi 1 tahun, terutama


pemberian
malam,

di

tengah

maka

berisiko

menyebabkan

gigi

memeriksa gigi depan atas


dan

gigi

depan

bawah,

untuk memastikan tidak ada


lagi

gigi

anak

yang
41

berlubang, karena itu perlu berlubang.


perhatian lebih besar untuk
upaya

pemeliharaan

kebersihan mulut dan gigi.


Perhatikan bahwa gigi tetap Bersihkan daerah gigi yang
akan mulai tumbuh. Gigi akan tumbuh dengan kapas
UMUR

tetap

yang

akan

mulai basah.

tumbuh adalah gigi depan


atas dan bawah, serta gigi
paling belakang.
Anak yang diasuh oleh Membantu anak menggosok
keluarga sendiri harus lebih

PENGASUHAN

gigi

diperhatikan. Pastikan anak pada malam hari sebelum


menggosok gigi

tidur

sebelum tidur malam.


Tingkatkan

pengetahuan Untuk anak 2 tahun ke atas

dan sikap ibu mengenai

gunakan

kesehatan gigi anak.

pasta

gigi

sedikit

saja,

TOTAL

seukuran

PENGETAHUAN

kacang polong. Untuk 2


tahun ke

dan SIKAP

bawah, pasta gigi hanya


dioleskan
tipis.
Kurangi frekuensi minum Batasi
softPdrink karena
SOFT-DRINK

frekuensi

minum

softPdrink

keasamannya menyebabkan maksimal sekali seminggu


mineral gigi mudah
larut (lubang).

FREKUENSI SUSU

Biasakan anak berkumur Tidak memberikan susu di


42

setelah minum susu.


Hindari

tengah

pemberian

susu waktu tidur malam.

ditengah;tengah waktu
tidur malam.
Latih anak menggunakan Memastikan anak minum
LAMA SUSU BOTOL

gelas jika minum susu

susu dan

atau sari buah yang manis

juice menggunakan gelas.

Batasi makanan manis pada Mengganti permen dengan


anak. Misalnya,
SUKA PERMEN

membuat

aktivits

aturan

bahwa bermain.

permen, coklat, jelly,


snack hanya diberikan pada
hari libur.
Latih

anak

untuk

tidak Mengusahakan anak tidak

mengemut makanannya.

ngemut

NGEMUT
Periksa apakah ada gigi makanan.
MAKANAN

yang sakit sehingga anak


malas mengunyah.

DISKOLORASI
FISUR

Perlu

dilakukan Pergi ke dokter gigi untuk

surface&protection/

melapisi

proteksi gigi.

gigi anak.

Pelu dilakukan profilaksis Mengoleskan


dengan CPPPACP (Krim
WHITE SPOT

Calcium&Phosphat).

Gigi

dengan bercak putih jika


dibiarkan

akan

CPPPACP&(Krim
Calcium&
Phosphat) 2x sehari.

segera

menjadi lubang.
PH BIOFILM

Perlu minum air putih yang Memastikan anak minum


cukup, sikat gigi

cukup air
43

sebelum

tidur

malam, putih.

oleskan CPPPACP (Krim


Calcium&Phosphat)

2x

sehari.
ADA GIGI
BERLUBANG

Perlu penambalan gigi yang


belubang.

ATAU TIDAK

Gambar Aplikasi Irenes Donut

44

Contoh Saran dari Hasil Pemeriksaan

G. American Academy of Pediatric Dentistry Caries-risk Assessment Tool (CAT)


Caries Risk Assessment (CRA) merupakan penentuan kejadian karies (yaitu jumlah
dari kavitas baru atau lesi) selama jangka waktu tertentu atau adanya perubahan dari
ukuran atau aktivitas lesi yang sudah ada. The American Academy of Pediatric Dentistry
(AAPD) menyatakan bahwa penilaian dan manajemen risiko karies dapat membanu
dokter dalam memberikan pengobatan berdasarkan risiko karies dan kepatuhan pasien
serta merupakan elemen penting dari perawatan klinis modern untuk bayi, anak-anak dan
remaja.
Caries-risk Assessment Tool (CAT) merupakan alat yang dibuat oleh American
Academy of Pediatric Dentistry (AAPD) untuk menilai risiko karies pada bayi, anak-anak
dan remaja. Menurut AAPD, penilaian risiko karies dapat membantu tenaga kesehatan
gigi dalam pengambilan keputusan klinis mengenai tindakan pencegahan dan perawatan.

45

Menurut American Academy Of Pediatric Dentistry, penilaian risiko karies pada anak
dibagi menjadi tiga indikator yaitu:
Indikator risiko
karies
Kondisi klinis

Risiko rendah

Risiko sedang

Tidak ada gigi


yang

karies

selama

24

Ada

Risiko tinggi

karies

selama

24

bulan terakhir

Ada

karies

selama 12 bulan
terakhir

bulan terakhir
Tidak

ada

demineralisasi
enamel (karies
enamel

white

spot lesion)

Terdapat

satu

area

demineralisasi

demineralisasi

enamel

(karies

enamel (karies

enamel

white

enamel

spot lesion)

white

spot lesion)
Tidak dijumpai

Terdapat satu area

Gingivitis

Secara radiograf
dijumpai

plak, tidak ada

karies

enamel

gingivitis

Dijumpai

plak

pada gigi anterior


Banyak jumlah S.
mutans
Penggunaan alat
Karakteristik
lingkungan

Keadaan
optimal

Keadaan
suboptimal

topikal fluor yang

penggunaan

pengguna fluor

suboptimal

fluor

secara sistemik

sistemik

dari

yang

ortodontik
Penggunaan

secara
dan

topikal

dan

optimal

pada
penggunaan
topikal aplikasi

Mengonsumsi
sedikit

gula

Sekali-sekali
(satu atau dua)

Sering
mengkonsumsi
46

atau

makanan

di antara waktu

gula atau makanan

yang berkaitan

makan

yang

erat

gula

atau

berhubungan

permulaan

makanan

yang

dengan

karies

karies terutama

sangat berkaitan

diantara

waktu

pada

terjadinya karies

makan

dengan

saat

terkena

sangat

makan
Status

sosial

Status

ekonomi yang
tinggi

Kunjungan
ke

secara teratur
Keadaan

ekonomi

menengah

rendah

berkala

gigi

Status

ekonomi

Kunjungan

berkala
dokter

sosial

sosial
yang

Karies aktif pada


ke

ibu

dokter gigi tidak

Jarang ke dokter

teratur

gigi
Anak-anak yang

kesehatan umum

membutuhkan
pelayanan
kesehatan khusus
Kondisi

yang

mempengaruhi
aliran saliva
Kategori risiko karies
Risiko rendah

Karakteristik
Penggunaan optimal fluor secara sistemik dan
topikal
Mengkonsumsi sedikit gula
Status sosial ekonomi yang tinggi

Risiko sedang

Kunjungan berkala ke dokter gigi secara teratur


Penggunaan suboptimal fluor secara sistemik dan
optimal fluor secara topikal
Makan di antara waktu makan (1-2 kali)
Status sosial ekonomi menengah
47

Risiko tinggi

Kunjungan berkala ke dokter gigi tidak teratur


Penggunaan suboptimal fluor secara topikal
Sering mengkonsumsi gula
Status sosial ekonomi rendah
Jarang ke dokter gigi
Karies aktif pada ibu
Anak-anak dengan pelayanan kesehatan khusus
Kondisi penurunan saliva

Form Caries-risk Assessment untuk usia 0-3 tahun

Form Caries-risk Assessment untuk usia 0-5 tahun

48

Form Caries-risk Assessment untuk usia 6 tahun

49

Tabel contoh managemen karies untuk usia 1-2 tahun

Tabel contoh managemen karies untuk usia 3-5 tahun


Tabel contoh managemen karies untuk usia 6 tahun

50

DAFTAR PUSTAKA

ADA, 2007, ADA Fluoride Treatments in The Dental Office.


Adyatmaka, Irene. 2008. Model Simulator Risiko Karies Gigi pada Anak PraSekolah.
Disertasi. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, Jakarta.
American Academy of Pediatric Dentistry., 2002, Guidline on caries risk assessment a and
Management for inflants, children, and Adolescents, Clinical Guidelines.
Angela, 2005, Pencegahan Primer pada Anak yang Berisiko Karies Tinggi, Majalah
Kedokteran Gigi (Dent. J.):38(3)
Bratthal D, Petersson GH, ; Stjernsward JR, 1997, Cariogram Manual,, Frlagshuset Gothia,
Stockholm.
GC Asia Dental, 2008, Enlightenmen Saliva Check Mutan, Changai, Singapore.
Ha, D., Amarasena, N., Lallo, R., Peres, K., 2015, Australian Research Centre for Population
Oral Health Caries Risk Assessment for Children: Information for Oral Health
Practitioners, The University of Adelaide.
Hamada T. Menuju gigi dan mulut sehat. Medan: USU Press, 2012: 4-24.
Http://www.ada.org/~/media/ADA/Science%20and%20Research/Files/report_fluoride.pdf?
la=en diunduh pada tanggal 04 April 2016.

51

Hurlbutt, M., 2011, CAMBRA: Best Practices in Dental Caries Management, The Academy
of Dental Therapeutics and Stomatology, PenWell, hal 1-15, 95-107.
Jenson, L, 2007, Clinical Protocols for Caries Management by Risk Assessment, CDA
Journal, Vol 35. no. 10.
Kidd, E.A.M dan Bechal, S.J., 1991, Dasar-dasar Karies Penyakit dan Penanggulangannya
(terj.), EGC, Jakarta, hal. 30-31, 98-119.
Mount GJ and W.R Hume. Preservation and Restoration of Tooth Structure. 2 ed. Australia :
Knowledge Books and Sofware, 2005 : 78-92

Nurnaini, L. D., 2005, Pencegahan Terjadinya Karies Baru Pada Anak Berdasarkan Pola
Urutan Faktor Resiko Dan Rekomendasi Dari Kariogram, Tesis, Universitas Gadjah
Mada, Yogyakarta
Pintauli S, Silitonga HE. Pengukuran risiko karies. Dentika Dent J 2007; 12(1):96-100.
Sutrisman, A., 2006, Prediksi terjadinya karies baru berdasarkan kariogram pada anak
sekolah dasar di Kecamatan Ampenan Nusa Tenggara Barat, Tesis, Universitas Gadjah
Mada, Yogyakarta
Yanti, S. 2002. Topikal Aplikasi Pada Gigi Permanen Anak. USU e-Repository.
www.adafoundation.org%2F~%2Fmedia%2FADA_Foundation%2FGKAS%2FFiles
%2Ftopics_caries_instructions_GKAS.pdf%3Fla
%3Den&usg=AFQjCNG_Lp3NKqj68XVBbFzGT_Y34wTAQ&sig2=Nqx8OyCAFwr
n2q_4mKw0hQ diunduh pada tanggal 04 April 2016

52