Anda di halaman 1dari 45

1.

Prinsip-Prinsip Bisnis dan Ritel

PRINSIP-PRINSIP BISNIS DAN RITEL


1. Pengertian Bisnis Ritel dan Bisnis Eceran
2. Mencari persamaan dan peredaan Bisnis Ritel dan Bisnis Eceran
3. Menjelaskan peran dan fungsi Bisnis Ritel
A. Pengertian Bisnis Ritel dan Bisnis Eceran
Kata Ritel berasal dari bahasa perancis, retailler, yang berarti memotong atau
memecahkan sesuatu. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Eceran berarti secara satusatu, sedikit-sedikit atau satu-satu langsung kepada konsumen akhir untuk keperluan
konsumen pribadi, keluarga, ataupun rumah tangga dan bukan untuk keperluan bisnis (dijual
kembali). Ritel tidak hanya terbatas pada penjualan barang, seperti sabun, minuman ataupun
deterjen, tetapi juga layanan jasa potong rambut,ataupun penyewaan mobil.Ritel merupakan
merupakan salah satu rantai saluran distribusi yang memegang peranan yang penting dalam
penyampaian barang dan jasa kepada konsumen akhir. Ritel meliputi semua kegiatan yang
melibatkan penjualan barang atau jasa secara langsung pada konsumen akhir untuk
penggunaan pribadi dan bukan bisnis.
=>> Pengertian Ritel menurut para ahli:
Kotler ( 2003: 535 ) dalam buku Foster (2008:34) mendefinisikan sebagai berikut:
ritel meliputi semua kegiatan yang melibatkan penjualan barang atau jasa secara langsung
pada konsumen akhir untuk penggunaan pribadi dan bukan bisnis.
Sedangkan menurut Berman dan Ervans(2002 : 3) dalam buku Foster (2008:34)
pengertian ritel adalah: ritel adalah tingkat terakhir dari proses distribusi, di dalamnya
terdapat aktivitas bisnis dalam penjualan barang atau jasa kepada konsumen.
Menurut Gilbert, retail adalah semua usaha bisnis yang mengarahkan secara
langsung kemampuan pemasarannya untuk memuaskan konsumen akhir berdasarkan
organisasi penjualan barang dan jasa sebagai inti dari distribusi (2003 : 6).
Dari berbagai pengertian diatas dapat dirumuskan bahwa ritel adalah segala aktivitas
perdagangan barang atau jasa kepada konsumen akhir untuk digunakan sendiri, bukan untuk
diperdagangkan lagi.
Secara garis besar, usaha ritel yang berfokus pada penjualan barang sehari-hari terbagi
dua, yaitu usaha ritel tradisional dan usaha ritel modern. Ciri-ciri usaha ritel tradisional
adalah sederhana, tempatnya tidak terlalu luas, barang yang dijual tidak terlalu banyak
jenisnya, sistem pengelolaan / manajemennya masih sederhana, tidakmenawarkan
kenyamanan berbelanja dan masih ada proses tawar-menawar harga dengan pedagang, serta
produk yang dijual tidak dipajang secara terbuka sehingga pelanggan tidak mengetahui
apakah peritel memiliki barang yang dicari atau tidak.
Sedangkan usaha ritel modern adalah sebaliknya, menawarkan tempat yang luas,
barang yang dijual banyak jenisnya, sistem manajemen terkelola dengan baik, menawarkan
kenyamanan berbelanja, harga jual sudah tetap (fixed price) sehingga tidak ada proses tawarmenawar dan adanya sistem swalayan / pelayanan mandiri, serta pemajangan produk pada
rak terbuka sehingga pelanggan bisa melihat, memilih, bahkan mencoba produk terlebih
dahulu sebelum memutuskan untuk membeli.

*) Pengertian Perdagangan Eceran


Kegiatan perdagangan besar dan perdagangan eceran adalah sangat penting dalam
proses penyaluran barang dan jasa. Tanpa usaha perdagangan besar dan eceran, sulit produsen
menyalurkan barangnya, walaupun beberapa produsen dapat langsung menyalurkan barang
kepada konsumen atau ke pengecer, tapi kegiatan tersebut tidak dapat diandalkan dan tidak
efisien.
Perdagangan eceran bisa didefinisikan sebagai suatu kegiatan menjual barang dan jasa
kepada konsumen akhir. Perdagangan eceran adalah mata rantai terakhir dalam penyaluran
barang dari produsen sampai kepada konsumen.
Sedangkan pedagang eceran adalah orang-orang atau toko yang kerja utamanya
mengencerkan barang. Dalam hal ini harus diingat kata UTAMA di atas. Sebab dalam praktik
bisa terjadi seorang pabrikan atau petani produsen menjual langsung barangnya pada
konsumen akhir, ini bukan retailer. Juga ada retailer yang menjual barang untuk restoran
(restoran bukan konsumen akhir), ini juga bukan pekerjaan retailing. Jadi yang penting disini
ialah pekerjaan utama retailing ialah menjual barang pada konsumen akhir.
B. Persamaan dan Perbedaan Bisnis Ritel dan Bisnis Eceran
Persamaan dan Perbedaan
Bisnis Ritel

Bisnis Eceran

1. Persamaan
1.
*) Saluran distribusi.
*) Suatu kegiatan menjual barang dan jasa
kepada konsumen akhir bukan untuk
keperluan bisnis (dijual kembali).

Persamaan
*) Saluran distribusi.
*) Suatu kegiatan menjual barang dan jasa
kepada konsumen akhir bukan untuk
keperluan bisnis (dijual kembali).

2. Perbedaan
*) Tidak memerlukan banyak perantara,
yaitu: Produsen
Pengecer
Konsumen
Akhir.

2. Perbedaan
*) Memerlukan banyak perantara, yaitu:
Produsen
Agen
Grosir
Pengecer
Konsumen Akhir.

C. Peran dan Fungsi Bisnis Ritel


1. Peran Usaha Ritel
Produsen menjual produknya kepada grosir (wholesaler). Kemudian grosir menjualnya
kepada pedagang eceran / ritel ( pengecer / peritel). Pengecer / peritel adalah orang-orang
atau toko yang kegiatan utamanya mengecerkan barang. Mereka menjual barang pada
konsumen akhir. Pemasaran ritel ini sangat penting artinya bagi produsen karena melalui
usaha ritel, produsen dapat memperoleh informasi berharga mengenai produknya. Produsen
dapat mewawancarai peritel mengenai pendapat konsumen mengenai bentuk, rasa, daya
tahan, harga dan segala sesuatu mengenai produknya. Selain itu juga dapat diketahui
mengenai kondisi perusahaan pesaing. Produsen dan peritel dapat menjalin kerjasama yang
saling menguntungkan. Produsen dapat memasang iklan, mengadakan undian, atau memberi
hadiah kepada konsumen melalui toko-toko peritel. Kadang kala ada produsen yang
langsung memberikan bonus kepada peritel.
Usaha ritel memberikan kebutuhan ekonomis bagi pelanggan melalui lima cara, antara
lain :

1.

2.

3.
4.

5.

Memberikan suplai / pasokan barang dan jasa pada saat dan ketika dibutuhkan
konsumen/pelanggan dengan sedikit atau tanpa penundaan. Usaha ritel biasanya berlokasi
didekat rumah pelanggan, sehingga pelanggan bisa dengan segera mendapatkan suatu
produk tanpa perlu menunggu lama.
Memudahkan konsumen/pelanggan dalam memilih atau membandingkan bentuk,
kualitas, dan barang serta jasa yang ditawarkan. Pelanggan mungkin hanya ingin lebih
dari sekedar mendapatkan barang yang diinginkan pada tempat yang nyaman. Mereka
hampir ingin selalu belanja di mana bisa mendapatkan kemudahan memilih,
membandingkan kualitas, bentuk, dan harga dari produk yang diinginkan. Dalam menarik
dan memuaskan pelanggan, para peritel biasanya akan berusaha menciptakan suasana
belanja yang nyaman.
Menjaga harga jual tetap rendah agar mampu bersaing dalam memuaskan pelanggan.
Membantu meningkatkan standar hidup masyarakat. Produk yang dijual dalam usaha
ritel, tergantung pada apa yang dibeli dan dikonsumsi oleh masyarakat. Upaya promosi
yang dilakukan, tidak hanya memberikan informasi kepada masyarakat mengenai
beragam produk barang dan jasa, tetapi juga dapat meningkatkan keinginan pelanggan
untuk membeli. Hasil akhirnya adalah peningkatan standar hidup dan penjualan produk.
Adanya usaha ritel juga memungkinkan dilakukannya produksi besar-besaran (produksi
massal). Produksi massal tidak akan dapat dilakukan tanpa sistem pengecer yang efektif
dalam mendistribusikan produk yang dibuat secara massal bagi pelanggan.
Peran ritel dalam kehidupan perekonomian secara keseluruhan, yaitu sebagai
pihak akhir (final link) dalam suatu rantai produksi, yang dimulai dari pengolahan bahan
baku, sampai dengan distribusi barang (dan jasa ) ke konsumen akhir.

2. Fungsi Usaha Ritel


Fungsi usaha ritel dalam memberikan pelayanan kepada pelanggan antara lain :
1. Melakukan kegiatan usahanya di lokasi yang nyaman dan mudah di akses pelanggan,
seperti di sekitar rumah-rumah penduduk,
2. Memberikan beragam produk sehingga memungkinkan pelanggan bisa memilih
produk yang diinginkan,
3. Membagi produk yang besar sehingga dapat dijual dalam kemasan/ukuran yang
kecil,
4. Mengubah produk menjadi bentuk yang lebih menarik. Adakalanya untuk
meningkatkan penjualan, peritel menggunakan promosi beli satu gratis satu. Dalam
hal ini, produk dikemas secara menarik sehingga pelanggan tertarik untuk
5. Menyimpan produk agar tetap tersedia pada harga yang relatif tetap,
6. Membantu terjadinya perubahan (perpindahan) kepemilikan barang, dari produsen ke
konsumen,
7. Mengakibatkann perpindahan barang melalui sistem distribusi,
8. Memberikan informasi, tidak hanya ke pelanggan, tapi juga ke pemasok,
9. Memberikan jaminan produk, layanan purna jual, dan turut menangani keluhan
pelanggan,
Memberikan fasilitas kredit dan sewa. Contohnya, jasa penyewaan mobil yang
kegiatan usahanya menyewakan mobil, atau toko kmoputer yang menyediakan
fasilitas pembelian komputer jinjing (laptop) secara kredit.

-pengegertian bisnis retail adalah kegiatan usaha menjual barang atau jasa kepada
perorangan untuk keperluan diri sendiri, keluarga atau rumah tangga. Terkadang orang-orang
berpikir bahwa retailing hanya melakukan penjualan produk di toko. Jasa yang ditawarkan
oleh dokter gigi juga dapat disebut retailing, tukang salon, maupun penyewaan komik.
-FORMAT BISNIS RITEL

Kata ritel berasal dari bahasa Prancis, retallier, yang berarti memotong atau memecah
sesuatu. Usaha ritel atau eceran (retailing) dapat dipahami sebagai semua kegiatan yang
terlibat dalam penjualan barang atau jasa secara langsung kepada konsumen akhir untuk
penggunaan pribadi dan bukan penggunaan bisnis. Ritel juga merupakan perangkat dari
aktivitas-aktivitas bisnis yang melakukan penambahan nilai terhadap produkproduk dan
layanan penjualan kepada para konsumen untuk penggunaan atau konsumsi perseorangan
maupun keluarga.
Ritel juga melibatkan layanan jasa, seperti jasa layanan antar (delivery
service) ke rumah-rumah.
Tidak semua ritel dilakukan di dalam toko. Contoh ritel yang dilakukan di luar
toko (non-store)
antara lain penjualan album rekaman di Internet, penjualan langsung (direct
sales) kosmetik
AVON, maupun penggunaan media lainnya seperti katalog atau daftar
belanja. Kegiatan yang
dilakukan dalam bisnis ritel adalah menjual berbagai produk, jasa atau
keduanya kepada
konsumen untuk keperluan konsumsi pribadi maupun bersama. Para peritel
berupaya memuaskan kebutuhan konsumen dengan mencari kesesuaian
antara barang-barang yang dimilikinya dengan harga, tempat dan waktu
yang diinginkan pelanggan. Ingat kiat sukses peritel. Coba pikirkan bahwa
ritel sebagai kegiatan terakhir dalam jalur distribusi yang menghubungkan
produsen dan konsumen.

-Gambaran Umum Bisnis Ritel

Pengertian Retail
Retail adalah penjualan dari sejumlah kecil komoditas kepada konsumen.
Retail berasal dari bahasa Perancis yaitu Retailer yang berarti Memotong menjadi kecil
kecil (Risch, 1991 ).
Pengertian Retailing adalah semua aktivitas yang mengikut sertakan pemasaran barang dan
jasa secara langsung kepada pelanggan

Pengertian Retailer adalah semua organisasi bisnis yang memperoleh lebuh dari setengah
hasil penjualannya dari retailing ( lucas, bush dan Gresham, 1994)
Klasifikasi Retail
Menurut Pintel dan Diamond (1971), Retail dapat di klasifikasikan dalam banyak cara,
sebagai contoh Retail dapat di kelompokkan sesuai dengan aktivitas penjualan barang
berdasarkan sbb :
Retail Kecil
Bisnis Retail kecil di gambarkan sebagai retailer yang berpenghasilan di bawah $500
pertahun. Pemilik retail pada umumnya bertanggung jawab penuh terhadap seluruh penjualan
dan manajemen.Biasanya kebanyakan pemilik toko pada bisnis retail kecil ini dimiliki oleh
secara individu (Individual Proprietorship) .
Retail Besar
Pada saat ini industri Retail di kuasai oleh organisasi besar, organisasi tersebut meliputi :
Departemen Store Chain organization (organisasi berantai), Supermarket, Catalog Store,
Warehouse, Outlet dan Online Store (Toko Online )
Departemen Store merupakan salah satu dari retailer besar dimana menawarkan berbagai
macam jenis produk / barang, tingkat harga dan kenyamanan dalam berbelanja.
-PERILAKU KONSUMEN
Perilaku konsumen merupakan suatu proses dan aktivitas ketika seseorang berhubungan
dengan pencarian, pemilihan, pembelian, penggunaan, serta pengevaluasian produk dan jasa
demi memenuhi kebutuhan dan keinginan.
Perilaku konsumen merupakan hal-hal yang mendasari konsumen untuk membuat keputusan
pembelian. Untuk barang berharga jual rendah (low involvement) proses pengambilan
keputusan dilakukan dengan mudah, sedangkan untuk barang berharga jual tinggi (high
involvement) proses pengambilan keputusan dilakukan dengan pertimbangan yang matang.
Perilaku konsumen adalah aktivitas seseorang saat mendapatkan, mengkonsumsi, dan
membuang barang atau jasa (Blackwell, Miniard, & Engel, 2001). perilaku konsumen sendiri
dapat di definisikan sebagai interaksi dinamis dari pengaruh dan kesadaran, perilaku, dan
lingkungan dimana manusia melakukan pertukaran aspek hidupnya. Dengan kata lain
perilaku konsumen mengikutkan pikiran dan perasaan yang dialami manusia dan aksi yang
dilakukan saat proses konsumsi.
Perilaku konsumen menitikberatkan pada aktivitas yang berhubungan dengan konsumsi dari
individu. Perilaku konsumen berhubungan dengan alasan dan tekanan yang mempengaruhi
pemilihan, pembelian, penggunaan, dan pembuangan barang dan jasa yang bertujuan untuk
memuaskan kebutuhan dan keinginan pribadi.

Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa perilaku konsumen adalah tindakantindakan yang dilakukan oleh individu, kelompok atau organisasi yang berhubungan dengan
proses pengambilan keputusan dalam mendapatkan, menggunakan barang-barang atau jasa
ekonomi yang selalu berubah dan bergerak sepanjang waktu.
Menurut Handi Irawan, Perilaku Konsumen Indonesia dikategorikan menjadi sepuluh, yaitu :
1. Berpikir jangka pendek (short term perspective), ternyata sebagian besar konsumen
Indonesia hanya berpikir jangka pendek dan sulit untuk diajak berpikir jangka
panjang, salah satu cirinya adalah dengan mencari yang serba instant.
1. Tidak terencana (dominated by unplanned behavior). Hal ini tercermin pada kebiasaan
impulse buying, yaitu membeli produk yang kelihatan menarik (tanpa perencanaan
sebelumnnya).
1. Suka berkumpul. Masyarakat Indonesia mempunnyai kebiasaan suka berkumpul
(sosialisasi). Salah satu indicator terkini adalah situs social networking seperti
Facebook dan Twitter sangat diminati dan digunakan secara luas di Indonesia.
1. Gagap teknologi (not adaptive to high technology). Sebagian besar konsumen
Indonesia tidak begitu menguasai teknologi tinggi. Hanya sebatas pengguna biasa dan
hanya menggunakan fitur yang umum digunakan kebanyakan pengguna lain.
1. Berorientasi pada konteks (context, not content oriented). Konsumen kita cenderung
menilai dan memilih sesuatu dari tampilan luarnya. Dengan begitu,konteks-konteks
yang meliputi suatu hal justru lebih menarik ketimbang hal itu sendiri.
1. Suka buatan Luar Negeri (receptive to COO effect). Sebagian konsumen Indonesia
juga lebih menyukai produk luar negeri daripada produk dalam negeri, karna bias
dibilang kualitasnya juga lebih bagus dibanding produk di Indonesia
1. Beragama(religious). Konsumen Indonesia sangat peduli terhadap isu agama. Inilah
salah satu karakter khas konsumen Indonesia yang percaya pada ajaran agamanya.
Konsumen akan lebih percaya jika perkataan itu dikemukakan oleh seorang tokoh
agama, ulama atau pendeta. Konsumen juga suka dengan produk yang
mengusung simbol-simbol agama.
1. Gengsi (putting prestige as important motive). Konsumen Indonesia amat getol
dengan gengsi. Banyak yang ingin cepat naik status walau belum waktunya. Saking
pentingnya urusan gengsi ini, mobil-mobil mewah pun tetap laris terjual di negeri kita
pada saat krisis ekonomi sekalipun. Menurut Handi Irawan D,ada tiga budaya yang
menyebabkan gengsi. Konsumen Indonesia suka bersosialisasi sehingga mendorong
orang untuk pamer. Budaya feodal yang masih melekat sehingga menciptakan kelaskelas sosial dan akhirnya terjadi pemberontakan untuk cepat naik kelas.
Masyarakat kita mengukur kesuksesan dengn materi dan jabatan sehingga mendorong
untuk saling pamer.
1. Budaya lokal (strong in subculture). Sekalipun konsumen Indonesia gengsi dan
menyukai produk luar negeri, namun unsur fanatisme kedaerahan-nya ternyata cukup
tinggi. Ini bukan berarti bertentangan dengan hukum perilaku yang lain.

10. Kurang peduli lingkungan (low consciousness towards environment). Salah satu karakter
konsumen Indonesia yang unik adalah kekurangpedulian mereka terhadap isu lingkungan.
Tetapi jika melihat prospek kedepan kepedulian konsumen terhadap lingkungan akan
semakin meningkat, terutama mereka yang tinggal di perkotaan begitu pula dengan kalangan
menengah atas relatif lebih mudah paham dengan isu lingkungan. Lagi pula mereka pun
memiliki daya beli terhadap harga premium sehingga akan lebih mudah memasarkan produk
dengan tema ramah lingkungan terhadap mereka.
1. PENDEKATAN PERILAKU KONSUMEN
Teori tingkah laku konsumen dapat dibedakan dalam dua macam pendekatan yaitu:
1. Pendekatan nilai guna (Utility) Kardinal
2. Pendekatan nilai guna Ordinal
Pendekatan nilai guna (Utility) Kardinal
Pendekatan nilai guna (Utility) Kardinal atau sering disebut dengan teori nilai subyektif :
dianggap manfaat atau kenikmatan yang diperoleh seorang konsumen dapat dinyatakan
secara kuantitif / dapat diukur, dimana keseimbangan konsumen dalam memaksimumkan
kepuasan atas konsumsi berbagai macam barang, dilihat dari seberapa besar uang yang
dikeluarkan untuk membeli unit tambahan dari berbagai jenis barang akan memberikan nilai
guna marginal yang sama besarnya. Oleh karena itu keseimbangan konsumen dapat dicari
dengan pendekatan kuantitatif.
Kepuasan seorang konsumen dalam mengkonsumsi suatu barang dapat diukur dengan
satuan kepuasan. Misalnya: mata uang.
Setiap tambahan satu unit barang yang dikonsumsi akan menambah kepuasan yang
diperoleh konsumen tersebut dalam jumlah tertentu.
Kepuasan marginal (marginal utility). Tambahan kepuasan yang diperoleh dari penambahan
jumlah barang yang dikonsumsi. Hukum tambahan kepuasan yang semakin menurun (The
Law of Diminishing Marginal Utility). Besarnya kepuasan marginal akan selalu menurun
dengan bertambahnya jumlah barang yang dikonsumsi secara terus menerus.
Pendekatan nilai guna ordinal
Pendekatan nilai guna ordinal atau sering juga disebut analisis Kurva indeference : manfaat
yang diperoleh masyarakat dari mengkonsumsikan barang-barang tidak kuantitif / tidak dapat
diukur. Pendakatan ini muncul karena adanya keterbatasan keterbatasan yang ada pada
pendekatan cardinal, meskipun bukan berarti pendekatan cardinal tidak memiliki kelebihan.
Kelemahan pendekatan ordinal
Kepuasan konsumen dari mengkonsumsi barang dapat diukur dengan satuan kepuasan. Pada
kenyataannya pengukuran semacam ini sulit dilakukan.
Persamaan kardinal dan ordinal

Persamaan cardinal dan ordinal yaitu sama-sama menjelaskan tindakan konsumen dalam
mengkonsumsi barang-barang yang harganya tertentu dengan pendapatan konsumen yang
tertentu pula agar konsumen mencapai tujuannya (maximum utility).
Perbedaan kardinal dan ordinal
Nilai guna (Utility) Kardinal menganggap bahwa besarnya utility dapat dinyatakan dalam
bilangan/angka. Sedangkan analisis ordinal besarnya utility dapat dinyatakan dalam
bilangan / angka.

Analisis cardinal mengunakan alat analisis yang dinamakan marginal


utiliy(pendekatan marginal). Sedangkan analisis ordinal menggunakan analisis
indifferent curve atau kurva kepuasan sama.

1. KONSEP ELASTISITAS
Dalam ilmu ekonomi, elastisitas adalah perbandingan perubahan proporsional dari sebuah
variabel dengan perubahan variable lainnya. Dengan kata lain, elastisitas mengukur seberapa
besar besar kepekaan atau reaksi konsumen terhadap perubahan harga. Elastisitas juga
merupakan salah satu konsep penting untuk memahami beragam permasalahan di bidang
ekonomi. Konsep elastisitas sering dipakai sebagai dasar analisis ekonomi, seperti dalam
menganalisis permintaan, penawaran, penerimaan pajak, maupun distribusi kemakmuran.

Elastisitas Harga Permintaan (Price Elasticity of Demand) adalah tingkat perubahan


permintaan terhadap barang/jasa, yang diakibatkan perubahan harga barang/jasa
tersebut. Besar atau kecilnya tingkat perubahan tersebut dapat diukur dengan angkaangka yang disebut koefisien elastisitas.

Elastisitas Silang (Cross Elasticity) menunjukkan hubungan antara jumlah barang


yang diminta terhadap perubahan harga barang lain yang mempunyai hubungan
dengan barang tersebut. Hubungan tersebut dapat bersifat pengganti, dapat pula
bersifat pelengkap. Terdapat tiga macam respons prubahan permintaan suatu barang.

1. Elastisitas silang positif


Peningkatan harga barang A menyebabkan peningkatan jumlah permintaan barang B. Sebagai
contoh, peningkatan harga kopi meningkatkan permintaan terhadap teh. Kopi dan teh
merupakan dua barang yang dapat saling menggantikan (barang substitutif).
1. Elastisitas silang negatif
Peningkatan harga barang A mengakibatkan turunnya permintaan barang B. Sebagai contoh,
peningkatan harga bensin mengakibatkan penurunan permintaan terhadap kendaraan
bermotor. Kedua barang tersebut bersifat komplementer (pelengkap).
1. Elastisitas silang nol
Peningkatan harga barang A tidak akan mengakibatkan perubahan permintaan barang B.
Dalam kaus semacam ini, kedua macam barang tidak saling berkaitan. Sebagai contoh,
kenaikan harga kopi tidak akan berpengaruh terhadap permintaan kendaraan bermotor.

Elastisitas pendapatan

Elastisitas pendapatan adalah suatu perubahan (peningkatan/penurunan) daripada pendapatan


konsumer yang akan berpengaruh terhadap permintaan berbagai barang, besarnya pengaruh
perubahan tersebut diukur dengan apa yang di sebut elistisitas pendapatan
--Analisis kebijakan (policy analysis) dapat dibedakan dengan pembuatan
atau pengembangan kebijakan (policy development). Analisis kebijakan
tidak mencakup pembuatan proposal perumusan kebijakan yang akan
datang. Analisis kebijakan lebih menekankan pada penelaahan kebijakn
yang sudah ada. Sementara itu, pengembangan kebijakan lebih
difokuskan pada proses pembuatan proposal perumusan kebijakan yang
baru. Namun demikian, baik analisis kebijakan maupun pengembangan
kebijakan keduanya memfokuskan pada konsekuensikonsekuensi
kebijakan. Analisis kebijakan mengkaji kebijakan yang telah berjalan,
sedangkan pengembangan kebijakan memberikan petunjuk bagi
pembuatan atau perumusan kebijakan yang baru. Dengan demikian,
maka dapat disimpulkan bahwa analisis kebijakan sosial adalah usaha
terencana yang berkaitan dengan pemberian penjelasan (explanation)
dan preskripsi atau rekomendasi (prescription or recommendation)
terhadap konsekuensikonsekuensi kebijakan sosial yang telah diterapkan.
Penelaahan terhadap kebijakan sosial tersebut didasari oleh prinsip
prinsip umum yang dibuat berdasarkan pilihanpilihan tindakan sebagai
berikut:
a.

Penelitian

dan

rasionalisasi

yang

dilakukan

untuk

menjamin

keilmiahan dari analisis yang dilakukan.


b.

Orientasi nilai yang dijadikan patokan atau kriteria untuk menilai


kebijakan sosial tersebut berdasarkan nilai benar dan salah.

c.

Pertimbangan politik yang umumnya dijadikan landasan untuk


menjamin keamanan dan stabilitas

-KEPUASAN KONSUMEN
bahwa kepuasan atau ketidakpuasan
pelanggan adalah respon pelanggan
terhadap ketidaksesuaian yang dirasakan
antara harapan sebelumnya dan kinerja
aktual layanan setelah memakainya.
Shemwell; Yavas and Bilgin (1998) secara
tegas membedakan antara service quality
dan customer satisfaction, service quality
merupakan bagian dari proses kognitif,
sedangkan
consumer satisfaction
merupakan
bagian dari proses afektif. Hal ini patut
diperhatikan karena saat ini konsumen tidak

hanya berpedoman pada harga yang murah


saja, tetapi juga pada kualitas pelayanan,
lokasi usaha, Kualitas produk yang
ditawarkan, serta kerapian tata letak produk
yang dilakukan dan lain sebagainya (yuliani,
2005).
Berdasarkan hal-hal diatas maka
dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa
kepuasan dapat dilihat dari beberapa
indikator, yaitu:
1.
kepuasan terhadap kemampuan
untuk
melaksanakan jasa yang
dijanjikan.
2.
kepuasan terhadap kemauan
membantu pelanggan.
3.
kepuasan terhadap pengetahuan dan
kesopanan.
4.
kepuasan terhadap kepedulian pada
pelanggan dan
302
Jurnal Optimasi Sistem Industri, Vol. 12 No.12, Apr
il 2013:301-309
ISSN 2088-4842
OPTIMASI SISTEM INDUSTRI

5.
kepuasan terhadap penampilan
fasilitas fisik.
Pengertian Pelanggan
Menurut Zulian Yamit (2005 : 75) secara
tradisional pelanggan diartikan orang yang
membeli dan menggunakan produk. Dalam
perusahaan yang bergerak dibidang jasa,
pelanggan adalah orang yang menggunakan
jasa pelayanan. Dalam dunia perbankan
pelanggan diartikan nasabah. Pandangan
tradisional ini menyimpulkan bahwa
pelanggan adalah orang yang berinteraksi
dengan perusahaan sebelum proses produksi
selesai, karena mereka adalah pengguna
produk.
Perilaku
Konsumen
(
Consumer
Behavior)
Perilaku konsumen menjadi sebuah hal yang
fundamental dalam bisnis swalayan,
terutama swalayan berskala besar. Hal ini
didukung oleh definisi

consumer behavior
yakni sebuah perilaku yang ditunjukkan
konsumen dalam pencarian, pembelian,
pemakaian,
pengevaluasian,
dan
pembuangan produk serta layanan yang
diharapkan untuk memuaskan kebutuhan.
Dari definisi tersebut,
consumer behavior
menjadi sebuah hal yang mutlak dalam
menentukan omset sebuah swalayan.
Citra Perusahaan
Menurut Keller dan Aaker (1992), kredibilitas
perusahaan berkenaan dengan tingkat
dimana konsumen percaya bahwa
perusahaan dapat mendesain dan
mengirimkan produk dan service yang dapat
memuaskan kebutuhan dan keinginan
konsumen.
Ritel
Kegiatan Ritel (
retailing
) merupakan salah
satu industri yang terbesar di dunia karena
melibatkan peran berbagai golongan peritel
mulai dari skala pengecer hingga
Hypermarket. Ritel meliputi semua
perusahaan yang memiliki aktivitas membeli
produk dari sebuah organisasi untuk dijual
kembali kepada konsumen akhir, umumnya
tidak melakukan transformasi produk, dan
memberikan pelayanan akan penjualan
2

RUANG LINGKUP BISNIS


1. Pengertian Bisnis dan Jenisnya
Menurut Glos, Steade, dan Lowry (1996)
Bisnis adalah jumlah seluruh kegiatan yang di organisir oleh orang-orang yang berkecimpung
dalam bidang perniagaan dan industry yang menyediakan barang dan jasa untuk kebutuhan
mempertahankan dan memperbaiki standard serta kualitas hidup mereka.
Menurut Hughes dan Kapoor
Bisnis ialah suatu kegiatan individu yang terorganisasi untuk menghasilkan dan menjual
barang dan jasa guna mendapatkan keuntungan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat dan

ada dalam industry.


Ada berbagai macam-macam bisnis yang ada di saat ini. Dan berikut ini macam-macam
bisnis yang ada saat ini adalah:
a. Bisnis internet : bisnis yang menghasilkan dan menjual barang atau berupa jasa guna
mendapatkan keuntungan melalui internet. Berikut jenis bisnis melalui internet :
Online store
b. Bisnis waralaba : suatu usaha atau bisnis yang di miliki seseorang dan di berikan kepada
pihak lain dengan suatu merk dagang tersebut kepada orang lain dengan menggunakan suatu
persyaratan dan perjanjian sebagai dasar untuk menjalankan bisnis tersebut.
Franchise KFC
c. Bisnis jasa : suatu usaha atau bisnis yang berupa pelayanan dan mendapatkan keuntungan
dengan cara meminya bayaran atas jasa yang telah di berikan
Jasa konsultan
Jasa pembuatam SIM atau STNK
d. Bisnis perbankan : bisnis yang berkaitan dengan bidang keuangan
Simpan pinjam
Pinjaman ( kredit )
e. Bisnis rumahan : bisnis yang menghasilkan dan menjual barang atau jasa dalam skala yang
kecil yang biasa nya dilakukan di rumah
f. Bisnis manufaktur : bisnis yang memproduksi suatu produk yang berasal dari barang
mentah yang kemudian di jual untuk mendapatkan keuntungan
Penjualan mobil , dll
g. Bisnis utilitas : bisnis yang berkaitan dengan kepentingan publik yang biasanya dibiayai
dengan pemerintah
Listrik dan air
h. Bisnis pertanian dan pertambangan : bisnis yang memproduksi barang mentah
Tanaman ( sayuran,padi,buah,dll )
Batubara ,minyak bumi ,dll
i. Bisnis transportasi : bisnis yang mendapatkkan keuntungan nya dengan cara mengantarkan
barang atau individu dari suatu tempat ke tempat lain
Jasa travel
j. Bisnis ritel / eceran : suatu bisnis yang meliputi penjualan barang secara langsung ke
konsumen
Supermarket
Toko kelontong
k. Bisnis grosir : bisnis yang menjual kembali barang kepada pengecer , pengguna industri
dalam jumlah yang besar
Pakaian
Makanan
l. Bisnis hiburan : bisnis yang bergerak dalam bidang hiburan dan bersifat untuk menghibur
Tempat karoeke

Sirkus
m. Bisnis real estate : bisnis yang menghasilkan kenuntungan dari menjual,menyewakan dan
mengembangkan pembangunan properti
n. Bisnis MLM : suatu bisnis usaha yang menggunakan sistem penjualan dimana tenaga/agen
penjual menerima komisi dari penjualan nya dan dapat merekrut seseorang yang sebelumnya
terlebih dahulu membeli produk tersebut
CNI
Tianshi
Salah satu contoh yang bebau bisnis dan menjadi marak saat ini
MLM untuk saat ini sudah sangat merajalela karena MLM ini sesuatu yang berbau bisnis
yang dapat mendapatkan keuntungan. MLM ( Multi Level Markerting ) merupakan suatu
usaha atau bisnis dengan menggunakan strategi pemasaran dimana keuntungan tidak hanya
untuk penjualan secara pribadi tetapi juga untuk merekrut orang lain untuk bergabung dalam
usaha ini. Komisi yang dibagikkan sesuai dengan banyak nya produk yang dijual melalui
upaya mereka sendiri ,biasanya mereka menawarkan dagangan nya dengan cara menawarkan
dari satu tempat ke tempat lain. MLM ini merupakan suatu jalur alternatif perusahaan untuk
mendistribusikan produknya. MLM pada umumnya merekrut banyak orang untuk
memasarkan produknya. Produk yang ditawarkan pada MLM ini banyak sekali macam nya
dari makanan, obat kesehatan , minuman , dll. MLM ini biasanya dilakukan dengan
berkelompok. Contoh usaha MLM seperti CNI, tianshi, oriflame , ifa , dll. Dalam bisnis
MLM ini para agen bisa mendapatkan reward jika telah mencapai penjualan dan pada level
tingkat tertentu yang telah ditetapkan.
Keuntungan dari bisnis MLM ini boleh dikatakan bagus namun dalam menjalankan bisnis
seperti ini harus bekerja keras dan aktif untuk menawarkan produk nya bukan hanya dengan
berdiam diri. Tentu nya kita sudah mengenal bisnis MLM yang terkenal dan sukses sampai
sekarang yaitu CNI, CNI ini sudah banyak merekrut banyak agen. Agen agen inilah yang
membuat bisnis MLM ini berjalan.
Bila ingin membuka atau megikuti bisnis MLM ini sebaiknya dilihat terlebih dahulu sistem
kerja pada MLM tersebut agar kita tidak dirugikan. Sebaiknya pilihlah MLM yang telah
terpercaya. Dalam bisnis MLM ini diperlukan keahlian untuk menawarkan suatu barang
kepada seseorang dengan baik.
Salah satu contoh jenis bisnis lainnya yaitu bisnis affiliasi. Apa itu bisnis affiliasi? Bisnis
affiliasi adalah kita mempromosikan produk milik orang lain, dan apabila terjadi transaksi
sesuai dengan aturan yang disepakati, maka kita akan mendapat komisi.
Pada awalnya, bisnis affiliasi memang terbatas pada kegiatan mempromosikan barang
dagangan milik orang lain, dan apabila ada orang yang membeli melalui referensi kita, maka
kita akan mendapatkan tips dari transaksi yang terjadi.
Namun dengan pesatnya perkembangan bisnis internet, maka bisnis affiliasi turut berevolusi
sehingga tidak lagi terbatas pada proses menjual saja. Salah satu contoh bisnis affiliasi
diantaranya:
Pay Per Sales (PPS)
Pay Per Sales adalah jenis bisnis affiliasi tradisional dimana seorang affiliate akan mendapat
komisi setiap kali produk atau layanan milik penyedia jasa affiliate terjual. Contohnya

Amazon Associates, Clickbank, dan PayDotCom.


Pay Per Action (PPA)
Pay Per Action adalah jenis bisnis affiliasi dimana seorang affiliate akan mendapat komisi
setiap kali ia berhasil mereferensikan orang lain untuk melakukan suatu kegiatan sesuai
dengan yang disyaratkan oleh penyedia program affiliasi.
Kegiatan disini biasanya bersifat spesifik dan memiliki parameter-parameter tertentu yang
harus dipenuhi. Misalnya mengisi survey, mengunduh software, dan sebagainya. Contoh
program affiliasi jenis ini adalah CPALead.

aspek hukum dalam bisnis, sumberdaya manusia yaitu tentunya siapa sajakah yang ingin
menjalankan bisnis tersebut, dan yang harus di perhatikan lagi adalah bagaimana sistem dan
cara mengelola bisnis yang anda dirikan, dan bagai mana pemasaran yang anda akan masukin
atau produk yang anda produksi akan anda pasarkan, dan yang harus di fikirkan selanjutnya
bagaimana anda mendapatkan bahan-bahan mentah dan bagai mana mengelola atau
mengolah bahan tersebut dan masih banyak lagi.

Aspek Hukum Indonesia Dalam Bisnis

Setelah persiapan yang anda siapkan dan bisnis yang anda sudah siap untuk di jalankan, perlu
di perhatikan bagi anda pendiri bisnis tersebut untuk memperhatikan aspek hukum Indonesia
dalam bisnis apakah sudah mencukupi persyaratan yang telah di buat oleh pemerintah, karena
dalam bisnis ini antara bisnis dan pemerintah adalah satu kesatuan dan tidak bisa di pisahkan,
seperti kita lihat bisnis tidak bisa pisah dengan komponen-komponen yang lain.
Selain itu bisnis juga mengatur hubungan antara manusia dengan masyarakat, yang mana
bisnis mengandung pengertian kegiatan usaha yang telah di jalankan suatu badan usaha atau
perorangan dengan cara terus menerus.
Aspek Hukum yang Diterapkan Dalam Bisnis
Dengan mengelola bisnis secara terus menerus akan menimbulkan suatu bisnis yang taat akan
adanya hukum yang telah berlaku di masyarakat baik yang tidak tertulis maupun yang
tertulis. Hukum merupakan salah satu perangkat yang di gunakan oleh suatu negara untuk
mengatur suatu perilaku perorangan atau badan usaha yang melanggar dan dapat
menyelesaikan suatu perkara yang timbul di dalam bisnis tersebut.
Dengan adanya aspek hukum yang di terapkan dalam bisnis maka akan lebih memudahkan
suatu bisnis untuk menjalankan suatu proses dan kegiatan yang telah berlangsung sehari-hari.
Karena bagi para pihak yang telah terlibat dalam perusahaan akan perpijak atau berpatokan
terhadap ketentuan yang sudah di sahkan secara tertulis maupun secara tidak tertulis. Dengan
adanya hukum yang selalu berdampingan dengan hukum, maka tidak ada unsur menyimpang

di dalam bisnis tersebut jika sebelumnya telah di terapkan aspek hukum yang telah di
terapkan sejak dulu dalam dunia bisnis.
Aspek Hukum dalam Format Bisnis
Pemerintah di dalam mengatur dunia bisnis, contoh di dalam bisnis
waralaba pemerintah mengeluarkan beberapa peraturan
pemerintahan PP RI no 16 tahun 1997 tentang bisnis waralaba. PP
No 16 tahun 1997 tentang waralaba ini telah di cabut dan telah di
ganti dengan PP No 42 tahun 2007 tentang waralaba, dan ada
beberapa ketentuan yang sangat mendukung aspek hukum dalam
format bisnis waralaba ialah :
1. Keputusan mentri perindustrian dan perdagangan RI no. 259 /
MPP / KEP / 7 / 1997 ketentuan tata cara pendaftaran usaha
waralaba.
2. Keputusan mentri perindustrian dan perdagangan RI No.31 / MDAG / PER / 8 / 2008 tentang penyelenggaraan waralaba.
3. Undang-undang No 14 tahun 2001 tentang hak paten.
4. Undang-undang No 30 tahun 2000 tentang rahasia dagang.
Banyak orang di indonesia masih bingung dengan kepastian hukum
yang menyangkut dengan bidang waralaba di indonesia. Semoga
dengan informasi yang saya tulis tentang aspek hukum dalam bisnis
dalam bisnis ini dapat bermanfaat bagi pembacanya dan semoga
menjadikan suatu wawasan yang sangat luas bagi kalangan
pebisnis yang ingin mengembangkan usahanya terutama bisnis yang
menjanjikan. Terima kasih.

KARAKTERISTIK DASAR RITEL


Karakteristik dasar ritel dapat dipergunakan sebagai dasar mengelompokkan jenis ritel.
Terdapat tiga karakteristik dasar yaitu:

1. Pengelompokkan berdasarkan unsur-unsur yang digunakan ritel untuk memuaskan


kebutuhan konsumen
2. Pengelompokkan berdasarkan sarana atau media yang digunakan
3. Pengelompokkan berdasarkan kepemilikan
PENGELOMPOKKAN BERDASARKAN UNSUR-UNSUR YANG DIGUNAKAN RITEL
UNTUK MEMUASKAN KEBUTUHAN KONSUMEN
1. Jenis barang yang dijual
2. Perbedaan dan keanekaragaman barang yang dijual
3. Tingkat layanan konsumen
4. Harga barang
Berdasarkan unsur-unsur diatas, ritel dapat dikelompokkan sebagai berikut:
a. Supermarket tradisional
Supermarket traditional melayani penjualan makanan, daging, serta produk produk makanan
lainnya, serta melakukan pembatasan penjualan terhadap produk produk nonmakanan, seperti
produk kesehatan, kecantikan, dan produk-produk umum lainnya. Sedangkan supermarket
konvensional yang lebih luas yang juga menyediakan layanan antar, menjual roti dan kue-kue
(bakery), bahan makanan mentah serta produk nonmakanan disebut sebagai superstore.
b. Big-box retailer
Lebih dari 25 tahun berikutnya, supermarket mulai berkembang dengan semakin memperluas
ukuran dan mulai menjual berbagai produk luar negeri yang bervariasi. Pada format big-box
retailer, terdapat beberapa jenis supermarket, yaitu supercenter, hypermarket, dan warehouse
club.
Supercenter adalah supermarket yang mempunyai luas lantai 3.000 sampai 10.000 meter
persegi dengan variasi produk yang dijual, untuk makanan sebanyak 30-40% dan produkproduk nonmakanan sebanyak 60-70%. Supermarket jenis ini termasuk supermarket yang
tumbuh dengan cepat. Persediaan yang dimiliki berkisar antara 12.000-20.000 item.
Supermarket jenis ini memiliki kelebihan sebagai tempat belanja dalam satu atap (one stop
shopping) sehingga banyak pengunjungnya yang datang dari tempat jauh.
Hypermarket merupakan supermarket yang memiliki luas antara lebih dari 18.000 meter
persegi dengn kombinasi produk makanan 60-70% dan produk-produk umum 30-40%.
Hypermarket merupakan salah satu betnuk supermarket yang memiliki persediaan lebih
sedikit dibanding supercenter, yaitu lebih dari 25.000 item yang meliputi produk makanan,
perkakas (hardware), peralatan olahraga, furniture, perlengkapan rumah tangga, computer,
elektronik, dan sebagainya. Dengan demikikan hypermarket adalah took eceran yang
mengombinasikan pasar swalayan dan pemberi diskon lini penuh.
Warehouse merupakan ritel yang menjual produk makanan yang jenisnya terbatas dan
produk-produk umum dengan layanan yang minim pada tingkat harga yang rendah terhadap
konsumen akhir dan bisnis kecil. Ukurannya antara lebihdari 13.000 meter persegi dan
lokasinya biasanya di luar kota. Pada jenis ritel ini, interior yang digunakan lebih sederhana.
Produk yang dijual meliputi makanan dan produk umum biasa lainnya.
Tabel 1.1.

Karakteristik Ritel berorientasi Makanan

Keterangan Convenience
Store
Supermarket
Supercenter Warehouse
Store
Hypermarket
Area penjualan <350 m2 1.500-3.000m2 3.000-10.000 >13.000m2 >18.000m2
Jumlah pengecekan
1-3
6-10
>20
>20
>30
Jumlah Barang 3.000-4.000 8.000-12.000 12.000-20.000 5.000-8.000 >25.000
Penekanan utama Kebutuhan sehari-hari Makanan hanya 5% dan barang dagangan One stop
shopping, barang dagangan 20-25% penjualan Harga rendah, 60% nonmakanan dan 40%
makanan One stop shopping 40% penjualan dari item nonmakanan
Margin kotor 25-30% 16-22% 15-18% 10-11% 12-15%
Sumber: Levy dan Weitz, Retail Management, 2004
c. Convenience store
Convenience store memiliki variasi dan jenis produk yang terbatas. Luas lantai ritel jenis ini
berukuran kurang dari 350 meter persegi dan bisanya didefinisikan sebagai pasar swalayan
mini yang menjual hanya lini terbatas dari berbagai produk kebutuhan sehari-hari yang
perpurannya relative tinggi. Convenience store ditujukan kepada konsumen yang
membutuhkanpembelian dengan cepat tanpa harus mengeluarkanupaya yang besar dalam
mencariproduk-produk yang diinginkannya. Peroduk-produk yang dijual biasanya ditertpakan
dengan harga yang lebih tinggi daripada di supermarket.
d. General Merchandise retail
Toko diskon
Toko khusus
Toko kategori
Department store
Off-price retailing
Value retailing
PENGELOMPOKKAN BERDAARKAN SARANA YANG DIGUNAKAN
Penjualan Melalui toko
Penjualan tidak melalui toko

Ritel elektronik
Catalog dan pemasaran surat langsung
Penjualan langsung
Television homeshopping
Vending machine retailing

ndonesia dengan jumlah penduduk sekitar 230 juta merupakan pasar potensial bagi bisnis
ritel modern. Dengan dibukanya pintu masuk bagi para peritel modern sebagaimana
Keputusan Presiden No. 118/2000 yang telah mengeluarkan bisnis ritel dari negative list bagi
Penanaman Modal Asing (PMA), maka sejak itu ritel modern mulai marak masuk ke
Indonesia. Masuknya ritel modern dalam bisnis ini, menunjukkan bisnis ini sangat
menguntungkan.
Dalam sepuluh tahun terakhir bisnis ritel modern dengan format hypermarket, supermarket
dan minimarket menjamur, menyusul maraknya pembangunan mall atau pusat perbelanjaan
di kota-kota besar. Ritel besar seperti hypermarket dan department store menjadi anchor
tenant yang dapat menarik minat pengunjung. Bahkan kini bisnis ritel modern mulai
merambah ke kota-kota kabupaten terutama jenis supermarket dan minimarket. Saat ini bisnis
ritel tumbuh pesat di pinggiran kota, mengingat lokasi permukiman banyak di daerah
tersebut.
Peluang bisnis ritel modern sangat menjanjikan meskipun sebenarnya bisnis adalah usaha
dengan tingkat keuntungan yang tidak terlalu tinggi. Tetapi bisnis ritel modern memiliki
tingkat likuditas yang tinggi karena penjualan ke konsumen dilakukan secara tunai, sementara
pembayaran ke pemasok dapat dilakukan secara bertahap.
Dengan membaiknya perekonomian Indonesia, makin membaik pula tingkat daya beli dan
konsumsi masyarakat Indonesia. Hal ini juga akan mengubah gaya hidup masyarakat.
Masyarakat menginginkan tempat belanja yang nyaman, aman, bersih, produk yang
berkualitas serta kelengkapan produk yang disediakan. Semua itu didapatkan di ritel modern.
Faktor penunjang berkembangnya bisnis ritel modern ini karena masyarakat semakin mudah
untuk membeli kebutuhan pokok sehari-hari karena lokasi toko yang sangat mudah
dijangkau. Teknologi yang dipakai dalam operasional bisnis ritel mulai memakai sistem
informasi manajemen yang terkini seperti sistem penjualan, sistem stock barang, sistem
expired barang dan sistem pemasaran melalui on line (internet) sehingga dapat memberikan
informasi yang jelas kepada para konsumen. Masyarakat pun akan condong berpindah pilihan
belanjanya di ritel modern dibanding ritel tradisional yang masih belum mengalami
perubahan.

Berangkat dari persaingan bisnis ritel modern yang akan semakin ketat para pengusaha harus
mempunyai konsep yang sangat kuat, yang jelas, dan konsisten.Bekal pemahaman terhadap
konsep-konsep pengelolaan bisnis ritel modern juga sangat penting untuk dipahami,
mengingat kegagalan dalam pengelolaan akan menumbulkan resiko kerugian yang cukup
besar. Pertama, Positioning atau gambaran produk harus bisa ditangkap dengan jelas oleh
benak konsumen. Kedua, pelaku usaha harus berbisnis dengan passion.
Mengelola bisnisritel modern jugamembutuhkan kesiapan pengelola dalam arti Sumber Daya
Manusia (SDM) yang memiliki pengetahuan, ketrampilan (baik soft maupun hard skill)
dalam hal manajerial ritel modern dan sekaligus kepekaan dalam melihat peluang agar dapat
memiliki kompetensi untuk bertahan dalam ini. Untuk itu, dipandang penting untuk
mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan di bidang manajemen ritel yang akan
menambah kesiapan pengelola ritel tmodern pada umumnya dalam mengimplementasikan
semua pengetahuan dan konsep manajemen ritel modern secara terintegrasi.

aktor pendukung dan penghambat kegiatan usaha ternyata ini perlu anda ketahui!!
Hallo sobat marketer.. pada kesempatan ini faktor pendukung dan penghambat kegiatan usaha
akan menjadi pembahasan yang merinci. pada umumnya sangat banyak faktor yang
mempengaruhi kegiatan usaha ini oleh karena itu mari kita ulas:
Faktor pendukung keberhasilan usaha.
~ faktor manusia: kebahagiaan dan keberhasilan usaha merupakan cita-cita setiap manusia,
manusia adalah orang-orang yang terlibat dalam usaha, oleh karena itu berhasil atau tidaknya
usaha tergantung manusianya.
~ faktor keuangan: faktor ini merupakan penunjang dalam keberhasilan usaha/bisnis,
keuangan digunakan sebagai operasional perusahaan, baik produksi, biaya-biaya, membeli
bahan baku, promosi , pemasaran, penjualan. faktor ini menjaga kestabilan usaha.
~ faktor permodalan: perusahaan yang ingin maju dan ingin mempertahankan kelangsungan
hidupnya harus dapat menggali sumber permodalan perusahaan. modal perusahaan pada
umumnya terdiri dari:
Menurut sumber a) modal sendiri: modal yang berasal dari perusahaan, termasuk pemilik
perusahaan.
baca juga:

Sektor industri barang dan jasa: pengertian, klasifikasi, jenis dan


kawasan.

b) modal asing: modal yang berasal dari luar perusahaan seperti kreditor/bank.
Menurut lama penggunaannya:
a) modal pasif jangka pendek: modal luar perusahaan yang harus dilunasi dalam jangka
waktu dibawah 1 tahun.
b) modal pasif jangka panjang: modal luar perusahaan yang harus dilunasi dalam jangka
waktu lebih 1 tahun.
~ Faktor organisasi.
organisasi merupakan wadah kegiatan yang ada dan perlu ada agar tercapai tujuan yang
diharapkan. dalam organisasi perlu adanya wewenang dan tanggung jawab agar tindakan dan
keputusan dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. dengan adanya organisasi dapat:
mempertegas hubungan para anggota, menciptakan hubungan baik antara anggota,
mengetahui akan tugas yang dijalankan para anggota, mengetahui kepada siapa
anggota/karyawan harus bertanggung jawab.
~ faktor perencanaan
fungsi perencanaan untu merumuskan tujuan akhir, perencanaan yang baik adalah yang jelas,
ringkas dan tegas serta mudah untuk dilaksanakan. perencanaan perusahaan merupakan alat
pengawasan dan pengendalian dalam kegiatan usaha. sejak perusahaan didirikan, pengelolah
usaha mulai merencanakan:
produk apa yang akan dibuat/dijual, berapa jumlah dana yang diperlukan, berapa jumlah
produk yang akan diproduksi, karyawan yang diperlukan, kemana produk akan
dilempar/dipasarkan?
~ faktor mengatur bisnis.
manajemen yang baik selalu berhubungan dengan pelaksanaan perencanaan
pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan dan pengendalian, perusahaan yang sudah lama
berdiri pada umumnya dapat menghindari hal yang merugikan.

~ pajak dan asuransi.


perusahaan yang teratur membayar pajak berarti membantu program pemerintah dan
sekaligus perusahaan itu dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya dan perusahaan
yang baik selalu mengansuransikan perusahaannya serta karyawannya. pihak asuransi akan
mengganti resiko kerugian yang diderita perusahaan jika terjadi musibah sesuai polis yang
dibuatnya.
~ faktor fasilitas pemerintah.
fasilitas yang diberi pemerintah untuk mempermudah didalam mengurus dan memperoleh
segala izin usaha yang diperlukan. jaka perusahaan yang bersangkutan menunjang:
pemasukan pajak, pembangunan daerah, sosial budaya, didalam mengentas kemiskinan,
didalam ketenaga kerjaan, pembangunan pendidikan dll.

1.

Kelebihan usaha ritel, antara lain :

a. Modal yang digunakan cukup kecil, namun keuntungan yang diperoleh cukup
besar.
b. Umumnya lokasi usaha ritel strategis. Mereka mendekatkan tempat usahanya
dengan tempat berkumpulnya konsumen, seperti di dekat pemukiman penduduk,
terminal bus, atau kantor-kantor.
c. Hubungan antara peritel dengan pelanggan cukup dekat, karena adanya
komunikasi dua arah antara pelanggan dengan peritel.
2. Kekurangan usaha ritel, anatara lain :
a. Keahlian dalam mengelola toko ritel bersekala kecil kurang diperhitungkan oleh
peritel. Usaha ritel berskala kecil terkadang dianggap hanyalah sebagai pendapatan
tambahan sebagai pengisi waktu luang, sehingga peritel kurang memperhatikan
aspek pengelolan usahanya.
b. Administrasi (pembukuan) kurang atau bahkan tidak diperhatikan atau bahkan
tidak diperhatikan oleh peritel, sehingga terkadang uang/modalnya habis tidak
terlacak.
c. Promosi usaha tidak dapat dilakukan dengan maksimal, sehingga ada usaha ritel
yang tidak diketahui olah calon pembei/pelanggan.
Mempelajari kekurangan ritel apasih yang perlu dilengkapi dari kekurangan ritel
diatas? yap, perlunya pengelolaan yang lebih detail dan perhitungan yang teliti.

Pencatatan setiap pembelian atau penjualanpun harus dilakukan dengan benar, jika
kamu bukan termasuk orang yang rapih mungkin kamu perlu menggunakan aplikasi
untuk melakukannya. Dijaman modern banyak pengusaha sudah tak mau lagi ribet
dan lebih mempercayakannya semua pada system dan mereka tinggal melakukan
pengontrolan. ada beberapa aplikasi ritel dan kamu bisa liat Promosi ada hal wajib
yang harus dilakukan pengusaha agar dapat memperkenalkan barang yang
dijualnya. Selain tempat menjadi hal utama promosi pun demikian. Sebenernya
hidup dijaman sekarang kita sudah

-kebijakan bisnis ritel

Abstrak
Industri ritel atau yang disebut juga bisnis eceran merupakan bisnis
yang tidak lesu ditengah-tengah
krisis yang sedang melanda bangsa ini. Padahal di sisi lain, terlihat
macetnya kinerja sebagian besar
industri-industri yang sebelum krisis menjadi penggerak
perekonomian negara, Hal ini diakibatkan
karena industri ritel bersentuhan langsung dengan kebutuhan
pokok masyarakat sehari-hari dimana
proses perputaran barang dan uang di dalamnya sangat cepat.
p
Laju pertumbuhan industri ritel pada saat ini sangat pesat. Hal ini
dapat dilihat dari tumbuhnya
pusat-pusat Perbelanjaan Modern baru baik oleh investor asing
maupun lokal. Begitu juga ekspansi
yang dilakukan oleh pengusaha lama didalam memperluas jaringan
usaha mereka dengan
menambah gerai-gerai baru. Laju pertumbuhan yang pesat bahkan
pasar modern bukan tidak
memiliki dampak negartif, hal ini terlihat dari: keterdesakan pasar
tradisional dan usaha kecil dan
juga persaingan yang tidak sehat sesama peritel modern.
j
Untuk itu penulis mencoba menganalisis didalam tesis ini seluruh
kebijakan yang telah dikeluarkan
Pemerintah di Industri ritel yang bertujuan untuk:
1.
Memberikan gambaran tentang industri ritel di DKI Jakarta
mengenai jumlah perusahaan
berdasarkan skala usaha, sebaran geografis usaha,
2.

Mengevaluasi kebijakan industri ritel di DKI Jakarta dengan


peraturan yang di keluarkan
oleh BKPM, Depperindag, Pemda DKI Jakarta,
3.
Memberikan gambaran peta persaingan industri ritel di DKI Jakarta,
4.
Memberikan sumbangan untuk penyempurnaan kebijakan
persaingan industri ritel di
Indonesia.
I
Dalam menganalisis permasalahan yang ada penulis menggunakan
metode analisis:
1.
Analisis deskriptif dengan menggunakan dasar-dasar hukum
kompetisi dihubungkan dengan
teori organisasi industri khususnya dalam bidang kebijakan
persaingan,
2.
Melakukan Depth Interview terhadap institusi pemerintah yaitu
Depperindag, Pamda DKI
Jakarta, Pelaku usaha ritel yang diwakili Aprindo (Asosiasi
Pengusaha Ritel Indonesia) dan
KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha) mengenai
permasalahan yang ada di industri
ritel dan solusi yang diberikan.
r
Dan hasil analisis yang dilakukan, di peroleh hasil sebagai berikut:
1.
Kebijakan Entry barrier (melarang peritel asing memasuki industri
ritel Indonesia) yang di
tetapkan pemerintah terakhir melalui Keputusan Presiden
(Keppres) RI No. 51 tahun 1995,
terbukti tidak efektif menggusur keberadaan peritel asing di
Indonesia Hal tersebut terlihat
dari keberadaan peritel asing setelah kebijakan entry barrier
dikeluarkan pemerintah. Tidak
efektifnya kebijakan tersebut diakibatkan tidak komprehensifnya
aturan yang ada, sehingga
peritel asing memanfaatkan jalur kerjasama yaitu system waralaba
dalam mempertahankan

eksisitensi usahanya dan hal tersebut juga dimanfaatkan peritel


asing baru yang ingin masuk
ke Indonesia.
2.
Konsep aturan mengenai lokas yang sangat tidak jelas seperti
aturan yang tertuang di dalam
SK Gubernur DKI Jakarta No 50 tahun 1999, merupakan akar
permasalahan terbesar dalam
menimbulkan kekacauan di industri ritel dan berdampak pada
terjepitnya keberadaan pasar
tradisional atas keberadaan pasar modern Hal tersebut terlihat dari
pertumbuhan pasar
modern yang pesat yang ditunjukkan dari jumlah pesat
perbelanjaan modern dari tahun 1993
sampai tahun 2000, masing-masing kenaikan 100 % pada daerah
Jakarta Pusat, 223% pada
daerah Jakarta Utara, 100% pada daerah Jakarta Barat, 183 %
pada daerah Jakarta Selatan
dan 125 % pada daerah Jakarta Timur. Pada peritel modern sangat
terlihat laju pertumbuhan
yang pesat dimana ditunjukkan dari peningkatan jumlah gerai tiga
peritel pagan atas yaitu
Matahari, Hero dan Ramayana dari tahun 1997-2000 masih
mendominasi yaitu 28 gerai, 31
gerai dan 46 gerai. Hal itu juga diperkuat dari total penjualan
mereka tahun 2001 masingmasing sebesar Rp 3,532 trilyun, Rp 1,4 trilyun dan Rp 1,622
trilyun. Pada pasar tradisional
terjadi penurunan dari tahun 1993 sampai tahun 2000, yaitu
sebesar 11,6 % pada daerah
Jakarta Pusat, 4 % pada daerah Jakarta Utara, 3,5 % pada daerah
Jakarta Barat, 6,6 % pada
daerah Jakarta Selatan dan 13,2 % pada daerah Jakarta Timur,
3.
Tidak jelasnya pengembangan kedepan dari system perkulakan
dan juga didukung oleh
kebijakan-kebijakan pemerintah lainnya yang tidak tepat,
menyebabkan pengusaha yang
terjun dalam system perkulakan tidak mengindahkan aturan bagi
perkulakan yang di

tetapkan seperti pada SK Gubernur NO. 50 tahun 1999. Sistem


penjualan langsung ke
konsumen dan juga dalam bentuk satuan, merupakan desakan atas
kehadiran peritel asing
seperti Carrefour yang berlokasi di jantung kota. Begitu juga
diversifikasi usaha dengan
menekuni usaha minimarket, merupakan strategi menjaga
eksistensi usahanya dan peritel
lainnya yang sudah terlebih dahulu ada. Hal itu juga disebabkan
akibat tidak adanya aturan
yang mengatur hal tesebut yang di tetapkan oleh pemerintah.
4.
Baik pengusaha maupun Pemerintah DKl Jakarta melihat
panjangnya proses dalam
memperoleh ijin usaha pasar modern sangat tidak efisien.
Panjangnya "birokrasi" tersebut,
akan berpotensi inembuat pendatang baru (new entry) untuk
berpikir panjang untuk masuk,
karena biaya awal (Sunk cost) yang dikeluarkan sangat mahal dan
ditambah dengan proses
waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh ijin sangat lama. Bagi
pemain lama (Incumbent),
akan berpikir ulang untuk ekspansi dengan membuka gerai baru.
5.
Aturan jam buka dan tutup yang ditetapkan pemerintah bagi pasar
modern tidak masalah
bila adanya aturan yang komprehensif dalam industri ritel. Adanya
perkulakan yang
membuka lebih awal dari waktu yang ditetapkan, diakibatkan oleh
aturan yang ada
khususnya dalam lokasi memicu persaingan yang tidak sehat
seperti hal tersebut.
Pengurangan jam buka bagi pasar modern akan sangat berdampak
besar baik bagi peritel
sendiri dan juga akan mcnyehabkan terjadinya rasionalisasi
karyawan yang sangat besar.
Begitu juga dengan penurun penerimaan pemerintah dar
2.

Tujuan kebijakan Bisnis


1. 1.

Melindugi usaha kecil dan menengah

Kebijakan bisnis di buat untuk melindungi usaha kecil dan menengah


1. 2.

Melindungi lingkungan hidup sekitarnya

Melakukan bisnis atau usaha di Negara Kita ini memilik aturan, dan itu diharuskan.
1. 3.

Melindungi konsumen

Bisnis yang baik adalah usaha bisnis yang mementingkan pelayanan kepada konsumen.
1. 4.

Pendapatan Pemerintah

Bisnis yang beroperasi memiliki kewajiban untuk membayar pajak kepada pemerintah. Inilah
yang sering Kita sebut dengan devisa
Izin pendirian usaha, dokumen yang harus dipenuhi dan lembaga penerbitnya, antara lain:
1. Izin Prinsip diterbitkan BKPM
2. Akta Pendirian Usaha diterbitkan Notaris
3. Nama Terdaftar Perusahaan diterbitkan Kementerian Hukum dan Ham
4. NPWP Perusahaan dan NPWP penanggungjawab perusahaan diterbitkan Dirjen Pajak
5. Tanda Daftar Perusahaan diterbitkan oleh Dinas Perdagangan Pemerintah Daerah
6. Nomor Induk Kepabeaan diterbitkan oleh Dirjen Bea Cukai
7. Masterlist/Pembebasan Bea Masuk diterbitkan oleh BKPM
8. Angka Pengenal Importir Umum/Produsen ditebitkan BKPM
9. Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM) diterbitkan oleh BKPM
10. Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) diterbitkan oleh Kementerian Perdagangan
Izin operasional perusahaan, dokumen yang harus dipenuhi dan lembaga penerbitnya, antara
lain:
1. Izin Lokasi atau domisili diterbitkan oleh Kelurahan dan Kecamatan
2. Izin Undang Undang Gangguan (UUG) Gedung atau Kantor diterbitkan oleh Dinas
Tata Kota
3. Izin ketenagakerjaan diterbitkan Kementerian Tenaga Kerja yang terdiri dari:
a. Wajib Lapor Perusahaan
b. Rencana penggunaan tenaga kerja asing (RPTKA)

c. Izin mempekerjakan tenaga asing (IMTA)


d. Kartu izin tinggal tetap (Kitas) untuk tenaga kerja asing
4. Surat Keterangan Susunan Keluarga Penduduk Sementara (SKSPS) untuk tenaga
kerja asing yang membawa keluarga, diterbitkan oleh Dinas Kependudukan
5. Surat Keterangan Tempat Tinggal (SKTT) untuk tenaga kerja asing yang tinggal
selama masa kerja, diterbitkan oleh Kelurahan
Izin perluasan usaha
Dokumen yang harus dipenuhi sama dengan persyaratan yang diperlukan untuk pendirian
Usaha. Namun ada izin tambahan yang perlu dipenuhi antara lain:
1. Izin Analisis Dampak Lingkungan (Amdal) diterbitkan oleh Dinas Tata Kota
2. Izin Mendirikan Bangunan, untuk perluasan bangunan yang akan dilakukan,
diterbitkan oleh Dinas Tata Kota
"Ini cuma izin normatif yang paling sering kita tangani. Tapi masih bisa bertambah lebih
banyak lagi. Berkurang nggak mungkin, tapi pasti bertambah karena di daerah biasanya ada
saja izin-izin yang aneh-aneh dikeluarikan Pemdanya masing-masing," kata sumber tersebut
saat berbincang Kamis (4/12/2014). Bisnis biro jasa juga merambah ke sektor perizinan
usaha. Para agen ini juga melayani perizinan yang diterbitkan di Badan Koordinasi
Penanaman Modal (BKPM) dan instansi lain seperti kementerian dan pemda.
Seorang agen penyedia jasa pengurusan izin usaha yang ditemui di Kantor BKPM
menuturkan, waktu pengurusan yang lebih singkat menjadi jualan utama dalam bisnis jasa
mengurus izin usaha. Hal ini menjadi 'solusi' bagi para calon investor yang tak mau repotrepot.
"Misalnya kalau paket PMA (Penanaman Modal Asing), standar kami 10-20 hari. Itu
pengurusan izin pendaftaran-pendaftaran modal di BKPM, Akta Pendirian Perusahaan dari
Notaris, Domisili Perusahaan dari Pemda, NPWP perusahaan dari kantor pajak sampai
pengesahan nama dan bentuk usaha dari Kemkumham. Kalau urus sendiri, bisa 10 bulanan.
Ini sudah terbukti," ungkap agen tersebut yang dirahasiakan namanya, Rabu (4/12/2014).
Ia mengaku yang membuat waktu mengurus izin di agen jasa pengurus izin lebih cepat
daripada mengurus sendiri karena, para agen sudah punya jaringan orang dalam di BKPM.
"Sebenarnya sih proses standar. Cuma karena kita kenal, kita bisa minta proses
diprioritaskan. Selain itu kita juga biasanya bisa kerjakan dari kantor langsung karena sudah
kenal kita bisa komunikasi dengan fax atau email dengan petugas-petugas di masing-masing
instansi," jelasnya.
Selain jaringan yang sudah dimiliki, agen dari biro jasa ini juga bisa bergerak cepat karena
mendapat prioritas dari banyaknya pihak yang diurus perizinannya. "Kita juga kan yang
diurus beberapa orang, jadi sekaligus. Nah, karena sekaligus itu makanya yang kasih

perizinan itu mau buat ngerjain punya kita duluan. Jadi lebih cepat dari pada yang urus
perseorangan," tutur agen tersebut.
Ia mengatakan, bisnis seperti ini tak hanya dilakoni perusahaan tempatnya bekerja saja. Paket
pengurusan izin pun berbeda-beda antara satu biro jasa dengan biro jasa lainnya, begitu pula
dengan tarif yang dikenakan. Tarif yang berlaku untuk satu paket bisa mencapai Rp 60
juta. "Prinsipnya ada uang ada barang. Kalau mau lebih cepat tentu bisa dikonsultasikan,"
pungkasnya.
Mengurus perizinan di Indonesia memang bukan barang murah karena ada saja biaya-biaya
yang harus dikeluarkan. Selain proses penerbitan izin yang berbelit, biaya yang dikeluarkan
pun tidak sedikit. Seorang yang sedang mengurus izin di Badan Koordinasi Penanaman
Modal (BKPM) yang namanya dirahasiakan, menyampaikan pengalamannya , kamarin
(3/12/2014). Ia menuturkan harus merogoh uang, termasuk hanya untuk urusan mengecek
nama perusahaan di Kementerian Hukum dan Ham.
"Kan kalau mau mendirikan usaha pertama harus cek, nama perusahaan kita sudah ada yang
pakai sebelumnya nggak. Kalau sudah ada berarti kita harus cari nama lain. Sekali nge-cek
biayanya Rp 500.000," tutur wanita tersebut, Rabu (3/12/2014). Ia menceritakan, harus
mengeluarkan dana untuk mengurus akta pendirian perusahaan. "Itu biayanya yang paling
besar, sekitar Rp 7 juta. Urusnya ke notaris," katanya.
Wanita ini merinci sejumlah pengeluaran untuk memperoleh dokumen-dokumen yang
diperlukan untuk pendirian usaha. Setelah dokumen-dokumen pendukung lengkap, maka bisa
diajukan ke BKPM, seperti mengurus izin prinsip. Izin-izin tersebut diantaranya adalah Izin
Lokasi atau Izin Domisili yang dikeluarkan Pemerintah Daerah setempat dengan biaya Rp 2,5
juta sampai Rp 5 juta tergantung lokasi. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) perusahaan di
kantor pajak dengan biaya Rp 1 juta.
Selain itu, tanda daftar perusahaan yang dikeluarkan oleh Dinas Perdagangan Daerah dengan
biaya Rp 2,5 juta sampai Rp 5 juta tergantung lokasi Belum lagi izin Surat Pernyataan
Kesanggupan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup (SPPL) yang dikeluarkan oleh
Kementerian Lingkungan Hidup sekitar Rp 10 juta. Ia juga menyebutkan biaya pengurusan
Nomor Identitas Kepabeanan (NIK) yang dikeluarkan Dirjen Bea Cukai memerlukan biaya
pengurusan sebesar Rp 15 juta.
"Itu belum semua sepertinya, karena ini saya masih ada yang harus diurus-urus lagi. Duit
terus," keluhnya. Dari berbagai perizinan yang dikeluarkan BKPM, ada beberapa syarat
dokumen/izin yang masih harus dikeluarkan oleh instansi lain. Sehingga konsep Pelayanan
Terpadu Satu Pintu (PTSP) saat ini masih belum 'murni', targetnya pada Februari 2015 sistem
PTSP tunggal mulai diterapkan, karena kementerian dan lembaga sudah mendelegasikan
wewenangnya ke BKPM.
Bisnis biro jasa tak hanya berlaku untuk mengurus SIM/STNK hingga menyediakan

pembantu rumah tangga (PRT). Demikian juga berlaku untuk para investor atau masyarakat
yang mau akan mengurus izin investasi di Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).
Mereka menjanjikan pengurusan izin lebih cepat daripada mengurus sendiri.
Investor bisa menggunakan jasa agen pengurusan izin dengan membayar imbalan sejumlah
uang yang tak sedikit. Berdasarkan penelurusan, saat menyambangi kantor BKPM, Rabu
(3/12/2014), sempat menemui seorang agen yang bekerja pada biro jasa mengurus izin usaha.
Agen yang tak mau disebutkan namanya ini menawarkan jasa pengurusan izin lengkap untuk
keperluan pendirian usaha, mulai dari perencanaan hingga keluarnya izin usaha tetap (IUT)
dengan biaya jasa bisa mencapai Rp 60 juta/paket.
"Kita bantu dari mulai pesan nama perusahaan di Kemenkumham, izin prinsip di BKPM,
NIK Bea Cukai sampai jadi Izin Usaha Tetap (IUT). Namanya paket Perizinan Usaha PMA
(penanaman modal asing), biayanya Rp 60 jutaan. Itu izin-izin saja, kalau nanti ada urus
pembebasan lahan untuk pabrik atau gudang, itu di luar paket," ujar agen tersebut.
Ia memberikan estimasi waktu proses perizinan yang lebih mudah dan lebih sederhana tanpa
perlu repot menyambangi kantor-kantor instansi terkait di luar pelayanan BKPM. Faktanya
saat ini, untuk mendapatkan dokumen persyaratan perizinan di BKPM sebagian harus datangdatang ke instansi lain seperti kementerian maupun lembaga.
"Sebenarnya sih proses standar. Cuma karena kita kenal, kita bisa minta proses diprioritaskan.
Selain itu kita juga biasanya bisa kerjakan dari kantor langsung karena sudah kenal kita bisa
komunikasi dengan fax atau email dengan petugas-petugas di masing-masing instansi," jelas
agen tersebut.
Selain jaringan yang sudah dimiliki, agen dari biro jasa ini juga bisa bergerak cepat karena
mendapat prioritas, karena banyak pihak yang diurus perizinannya oleh agen tersebut. Pihak
biro jasa ini menolak bila mereka disebut sebagai calo alias perantara. Para pengunjung yang
datang ke BKPM yang mengurus perizinan, tidak akan menyadari keberadaan mereka karena
operasi mereka tak secara terbuka menawarkan jasanya di depan umum.
Para agen yang dijumpai tak langsung menyodorkan harga untuk setiap jasa yang mereka
tawarkan seperti umumnya yang dilakukan seorang calo di berbagai tempat seperti stasiun,
terminal dan lainnya. "Kami ini bekerja di perusahaan legal. Memang perusahaan kami biro
jasa yang menawarkan jasa pengurusan izin. Kalau calo kan orang lontang-lantung yang cari
celah saja. Masa kita disamakan dengan calo, nggak dong," tegasnya.
Menurutnya para agen biasanya lebih banyak bekerja di kantornya masing-masing. "Kita ke
sini bisanya cuma berkenalan, eksekusinya tetap di kantor kami setelah berkonsultasi. Klienklien yang sudah kenal pun biasanya langsung ke kantor, nggak ke sini (kantor BKPM),"
pungkas agen tersebut

Indonesia merupakan sebuah negara dengan pangsa pasar yang begitu besar.
Penduduknya yang mencapai ratusan juta jiwa, ditambah dengan budaya
konsumennya yang relatif konsumtif membuat Indonesia juga banyak dilirik oleh
para pebisnis asing, termasuk di bidang bisnis ritel.
Tentu saja para pebisnis asing yang masuk ke Indonesia ini memiliki modal dan
konsep bisnis yang relatif lebih besar ketimbang para pebisnis lokal yang bergerak di
bidang yang sama. Para peritel asing umumnya membuka toko ritel modern,
sedangkan para peritel lokal umumnya masih menggunakan toko ritel tradisional.
Perusahaan ritel asing yang telah masuk ke Indonesia ini misalnya Carrefour,
Hypermart, Lotte Mart, dan Giant. Banyaknya peritel asing dari luar negeri yang
datang ke Indonesia ini membuat pra peritel lokal kesulitan untuk bersaing.
Karenanya, untuk melindungi pengusaha ritel lokal atau dalam negeri, pemerintah
memberlakukan beberapa peraturan guna mengontrol iklim persaingan usaha antara
toko ritel modern dan tradisional.
Kebijakan pemerintah ini dilakukan melalui Peraturan Pemerintah No 112 Tahun
2007 mengenai Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan
dan Toko Moden. Di dalam undang undang ini, pemerintah menetapkan zona atau
luas wilayah usaha pasar tradisional (kios, toko, los) dan toko modern.

Menurut PP No. 112 Tahun 2007, batasan luas lantai penjualan toko modern adalah
seperti berikut :

1.
2.
3.
4.
5.

Batasan luas minimarket : kurang dari 400 m2


Batasan luas supermarket : 400 m2 s.d. 5.000 m2
Batasan luas hypermarket : di atas 5.000 m2
Batasan luas department store : di atas 400 m2
Batasan luas perkulakan, di atas 5.000 m2
Selain harus mengacu pada aturan luas, lokasi toko modern juga harus mengacu
pada rencana tata ruang wilayah kota atau kabupaten dan rencana detail tata ruang
kabupatten atau kota termasuk peraturan zonasinya.
Kelemahan dari tambang bawah tanah ialah sebagai berikut :
1. Pada tambang bawah tanah perlu adanya penerangan.
2. Semakin dalam penggalian maka resiko ambrukan semakin besar
3. Produksi relatif lebih kecil dibandingkan tambang terbuka.
4. Problem ventilasi, bahan peledak harus yang permissible explossive, debu, gas-gas
beracun.
5. Masalah safety dan kecelakaan kerja menjadi kendala
6. Mining recovery umumnya lebih kecil
7. Losses dan dilusi umumnya lebih susah dikontrol

Mar
30

Strategi Bisnis Ritel

Pengertian Bisnis Ritel


Eceran atau disebut pula ritel (bahasa Inggris: retail) adalah salah satu cara pemasaran produk
meliputi semua aktivitas yang melibatkan penjualan barang secara langsung ke konsumen
akhir untuk penggunaan pribadi dan bukan bisnis. Organisasi ataupun seseorang yang
menjalankan bisnis ini disebut pula sebagai pengecer. Pada prakteknya pengecer melakukan
pembelian barang ataupun produk dalam jumlah besar dari produsen, ataupun pengimport
baik secara langsung ataupun melalui grosir, untuk kemudian dijual kembali dalam jumlah
kecil.

Manajemen Strategi Untuk Bisnis Ritel

Industri Bisnis ritel terus berubah seiring dengan perubahan teknologi, perkembangan dunia
usaha serta kebutuhan konsumen. Bisnis ritel adalah keseluruhan aktivitas Bisnis yang terkait
dengan penjualan dan pemberian layanan kepada konsumen untuk pengunaan yang sifatnya
individu sebagai pribadi maupun keluarga. Agar berhasil dalam pasar Bisnis ritelyang
kompetitif, pelaku Bisnis ritel harus dapat menawarkan produk yang tepat, dengan harga,
waktu & tempat yang tepat pula. Oleh karena itu, pemahaman terhadap pelaku Bisnis ritel
terhadap karakteristik target pasar atau konsumen yang akan dilayani merupakan hal yang
sangat penting.
Dalam operasionalnya pelaku Bisnis ritel menjalankan beberapa fungsi antara lain membantu
konsumen dalam menyediakan berbagai produk & jasa. Menjalankan fungsi memecah
maupun menambah nilai produk, secara keseluruhan pengelola Bisnis ritel membutuhkan
implementasi fungsi - fungsi manajemen secara terintegrasi baik fungsi keuangan,
pemasaran, sumberdaya manusia, maupun operasional. Sehinga pelaku Bisnis ritel dapat
memahami secara penuh tentang lingkup Bisnis ritel nya, cara strategi pengembangannya dan
Memanajemen bisnis ritel nya.

Manajemen strategi untuk Binis Ritel merupakan pernyataan yang menjelaskan hal - hal :

1. Sasaran Pasar ( Target Market ), yaitu segmen - segmen pasar yang direncanakan untuk
dilayani terkait dengan aktifitas memfokuskan sumber daya yang harus disiapkan oleh Bisnis
ritel .

2. Format yang direncanakan akan digunakan utnuk memenuhi kebutuhan target pasar.
Format Bisnis ritel adalah gabungan ritel didasarkan pada sifat atau ciri barang dan jasa yang

ditawarkan, kebijakan penentuan harga, pemasangan iklan dan program promosi, design took,
dan lokasi khusus.

3. Dasar perencanaan Bisnis ritel untuk memperoleh keunggulan bersaing yang dapat
dipertahankan atau keuntungan dari persaingan yang dapat dipertahankan dalam jangka
panjang.

Dengan demikian tiap Strategi akan meliputi :

1. Pemilihan segmen target pasar & penentuan format Bisnis ritel


2. Pengembangan keunggulan bersaing yang memungkinkan Bisnis ritel untuk mengurangi
tingkat kompetensi yang dihadapi
Konsep Bisnis ritel adalah orientasi manajemen yang memfokuskan Bisnis ritel dalam
menentukan kebutuhan target pasar serta memenuhi kebutuhannya dengan lebih efektif &
efisien. Bisnis ritel yang berhasil harus memenuhi kebutuhan pelanggan pada segmen pasar
yang dilayani secara lebih baik daripada yang dilakukan oleh pesaing. Tugas Utama dalam
mengembangkan Bisnis ritel adalah menetapkan sasaran pasar, Proses ini diawali dengan
menetapkan segmentasi pasar.

Hal - hal penting yang harus diperhatikan dalam Bisnis ritel untuk mengembangkan
keunggulan bersaing :

1. Loyalitas Konsumen
Loyalitas konsumen berarti kesetiaan konsumen untuk berbelanja di lokasi Bisnis ritel
tertentu. Mempunyai konsumen yang loyal adalah metode yang penting dalam
mempertahankan keuntungan dari para pesaing, jika memiliki konsumen yang loyal brarti
konsumen memiliki keengganan untuk menjadi pelanggan pada Bisnis ritel - Bisnis ritel
pesaing

2. Program Loyalitas
Program loyalitas adalah bagian dari keseluruhan manajemen hubungan antar konsumen,
Program ini sudah umum dijalankan dalam Bisnis ritel, program loyalitas bekerja sama
dengan manajemen hubungan pelanggan / Customer Relationship Marketing ( CRM ) .
Anggota - anggota program loyalitas diketahui saat mereka membeli, karena mereka

menggunakan beberapa tipe kartu loyalitas, informasi pembelian disimpan dalam database
yang besar, dari dari database dapat diketahui jenis - jenis barang apa yang dibelioleh
konsumen, dengan mengunakan cara ini pelaku Bisnis ritel dapat menyesuaikan berbagai
penawaran untuk memenuhi kebutuhan konsumen yang loyal dengan baik. Beberapa pelaku
Bisnis ritel yang telah mengunakan program ini seperti : Alfa dengan AFC ( Alfa Family Club
), Carrefour dengan Kartu Belanja ( KB ) Carrefour, Maatahari dengan MMC (Matahari Club
Card ), dan masih banyak contoh lainnya.

3. Lokasi
Lokasi adalah factor utama dalam pemilihan took Konsumen, Ini juga keunggulan bersaing
yang tidak mudah ditiru. Contohnya Starbucks , mereka menciptakan keberadaan pasar yang
sulit untuk disaingi, Carrefour, mereka selalu menentukan lokasi yang selalu strategis.
Pemilihan lokasi yang tepat mempunyai keuntungan yaitu :

Merupakan komitmen sumber daya jangka panjang yang dapat mengurangi fleksibilitas masa
depan Bisnis ritel itu sendiri.

Lokasi akan mempengaruhi pertumbuhan Bisnis ritel dimasa yang akan datang, area yang
dipilih haruslah mampu untuk tumbuh dari segi ekonomi sehingga dapat mempertahankan
kelangsungan toko saat awal ataupun masa yang akan datang.
Penentuan lokasi dapat dimulai dengan memilih komunitas, keputusan ini sangat
bergantung pada potensi pertumbuhan ekonomi dan stablitas maupun persaingan serta iklim
politik . selain itu juga geografis sangat menentukan .

Manajemen Sumber Daya Manusia

Bisnis ritel adalah Bisnis tenaga kerja intensif, para pegawai memiliki peranan penting
dalam memberikan layanan pada konsumen dan membangun loyalitas konsumen.

Sistem Distribusi & Informasi

SemuaBisnis ritel berusaha untuk mengelola usaha secara efisien, mereka terus memenuhi
kebutuhan konsumen, dan pada saat yang sama member konsumen barang-barang dengan
harga lebih baik dari pada pesaingnya atau memutuskan utnuk mengunakan kesempatan guna
menarik perhatian konsumen dari para pesaing denganmenawarkan jasa, barang, dan
penyajian visual yang lebih baik.

Barang - barang yang Unik

Mengembangkan merek-merek berlabel ( juga disebut merek-merek toko ) yang merupakan


produk - produk yang dikembangkan dan dipasarkan oleh pelaku Bisnis ritel dan hanya
tersedia dari tempat Bisnis ritel tersebut.

Layanan Konsumen

Dibutuhkan waktu dan usaha untuk membangun sebuah tradisi dan reputasi untuk layanan
konsumen, karena layanan konsumen yang bagus merupakan asset strategis yang sangat
berharga.

Manajemen Bisnis Ritel


I.

Pengertian Manajemen, Ritel, dan Manajemen Ritel


a. Pengertian Manajemen
Menurut teori ada beberapa definisi dari manajemen, sebagai contohnya kami ambil
dua definisi yaitu yang pertama adalah menurut Alex. S. Nitisemito (1992:9) manajemen
adalah ilmu dan seni untuk mencapai suatu tujuan melalui kegiatan orang lain. Sedangkan
Menurut Malatu S.P. Hasibuan (1995:9) manajemen merupakan ilmu dan seni yang mengatur
proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber daya lainnya secara efektif dan
efisien untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
Sehingga dari dua definisi diatas bisa diambil suatu kesimpulan bahwa manajemen
merupakan suatu ilmu atau seni yang merupakan proses perencanaan atau pengorganisasian

yang mengatur proses pemanfaatan sumber daya yang ada secara efektif dan efisien untuk
mencapai tujuan tertentu.
b. Pengertian Ritel
Berikut ini adalah definisi dari ritel menurut Berman dan Evans (2001:3) retail
consists of the business activities involved in selling goods and services to consumers for
their personal, family, or household use yang bisa diartikan bahwa ritel merupakan kegiatan
bisnis yang terlibat dalam penjualan barang maupun jasa kepada konsumen untuk kebutuhan
pribadi, kebutuhan keluarga, atau kebutuhan rumah tangga. Sedangkan Menurut Kamus, ritel
adalah penjualan barang atau jasa kepada khalayak (Manser, 1995).
Jadi bisnis ritel adalah kegiatan penjualan barang dan jasa antara pedagang dan
konsumen dimana didalamnya terdapat akttivitas-aktivitas yang saling mendukung dan
mempengaruhi.
c.

Pengertian Manajemen Ritel


Setelah mengetahui definisi dari manajemen dan retail maka bisa disimpulkan bahwa
manajemen retail adalah pengaturan keseluruhan faktor-faktor yang berpengaruh dalam
perdagangan retail, yaitu perdagangan langsung barang dan jasa kepada konsumen. Faktorfaktor yang berpengaruh dalam bisnis retail adalah place, price, product, dan promotion yang
dikenal sebagai 4P.

II.

Pengelompokan Bisnis Ritel


Ada beberapa klasifikasi bisnis ritel (blog murtiningsih) :
a. Kepemilikan ( Owner ):

Single-Store Retailer (tipe yang paling banyak jumlahnya dengan ukuran toko umumnya
dibawah 100 m)

Rantai Toko Retail (toko retail dengan banyak cabang dan dimiliki oleh institusi perseroan)

Toko Waralaba (toko yang dibangun berdasarkan kontrak kerja sama waralaba antara
terwaralaba dengan pewaralaba)

b. Merchandise Category:

Specialty Store/ Toko Khas (Menjual satu jenis kategori barang yang relative sedikit/ sempit)

Grocery Store/ Toko Serba Ada (menjual barang groceries (sehari-hari))

Departement Store (menjual sebagian besar bukan kebutuhan pokok, fashionable, bermerek,
dengan 80% pola konyinyasi)

Hyperstore(menjual barang dalam rentang kategori barang yang sangat luas)

c.

Luas Sales Area :

Small Store/kiosk (kios kecil yang umumnya merupakan toko retail tradisional,
dioperasikan sebagai usaha kecil dengan sales kurang dari 100 m)

Minimarket (dioperasikan dengan luasan sales area antara 100-1000 m)

Supermarket (dioperasikan dengan luasan sales area antara 1000-5000 m)

Hypermarket (dioperasikan dengan luasan sales area antara lebih dari 5000 m)

d. Non-Store Retailer Non-Store Retailer :

Multi-Level-Marketing (MLM) : Model penjualan barang secara langsung dengan


system komisi penjualan berperingkat berdasarkan status keanggotaan dalam distribution
lines

Mail & Phone Order Retailer ( Toko pesan antar ) : perusahaan yang melakukan
penjualan berdasarkan pesanan melalui surat atau telepon

Internet/ Online Store (e-Commerce) : Toko Retail di dunia maya yang mngadopsikan
internet ke dalam bentuk online retailing
Seperti kita lihat dari klasifikasi diatas bahwa sekarang ini ada banyak sekali
usaha dalam bisnis ritel yang memudahkan para konsumen dalam memenuhi
kebutuhannya. Dari skala kecil sampai skala besar demi menjangkau semua pasar. Dalam
hal ini para pebisnis ritel harus mempunyai manajemen yang baik jika ingin bisa terus
bertahan dalam

ENDIRIKAN BISNIS RITEL


Memutuskan untuk memulai bisnis ritel menjadi pilihan yang sangat tepat dalam kondisi saat
sekarang. Dewasa ini banyak masyarakat yang mengadopsi gaya hidup yang modern dan
mengutamakan kenyamanan dan kemudahan dalam memenuhi kebutuhan harianya. Semakin
dekatnya toko ritel dengan kawasan pemukiman penduduk serta dengan iming-iming harga
murah, pilihan barang yang bervariasi, hal ini jelas memberikan solusi bagi masyarakat yang
kian sibuk, suami istri bekerja, yang tidak ada waktu lagi untuk berbelanja di pasar tradisional
yang jauh dari rumah, becek serta jam buka yang pendek. Sementara itu kebutuhan akan 9
bahan pokok, perawatan tubuh, perlengkapan rumah tangga, perlengkapan bayi sampai
makanan ringan kian hari makin meningkat.

Dimasa mendatang jumlah konsumen dalam katagori usia 11 sampai 50 tahun adalah
konsumen potensial, terus tumbuh dan bertambah, Dengan demikian keuntungan berlipat dan
bisnis yang terus tumbuh bukan hanya impian semata namun sudah menjadi kenyataan.
Selain faktor keuntungan fakta membuktikan bahwa bisnis retail tumbuh dengan pesat
sepanjang jaman, itu terbukti pada saat semua sector bisnis terpuruk karena krisis ekonomi th
1998, bisnis ritail tidak berdapak bahkan semakin berkembang.
Disamping itu, bisnis ini merupakan mata pencaharian yang paling banyak ditemui dalam
kehidupan sehari-hari, umur bisnis ritel atau berdagang juga paling panjang di banding sektor
lain, Orang berdagang sudah ada sejak jaman dahulu sebelum modernisasi membuka peluang
kesempatan kerja. Berdagang sudah menjadi mata pencaharian umum sebelum pabrik2 mulai
dibuka dan merekrut ribuan tenaga kerja.
Sejak zaman nenek moyang kita, penjual beras, sayur dan buah2an sudah meramaikan pasar
tradisional kita semua orang bisa dengan mudah menjalankan bisnis ini. Seiring dengan
pekembangan jaman, saat ini bisnis retail sudah mulai dikelola dengan system yang modern
dan canggih, dari yang menjanjikan harga murah hingga yang memberikan atmosfir yang
berbeda di tokonya. Tak heran persaingan bisnis ritel semakin hari semain memanas. Toko
kelontong memang masih bertebaran di sudut perkampungan tetapi konsep bisnis retail
modern lebih menjanjikan.
Namun masih banyak orang yang belum paham betul untuk mengelola bisnis ritel mereka
secara modern, Saya akan mambantu anda mengupas habis tentang tata cara bagaimana
mengelola bisnis ritel secara modern, sehingga pembaca akan mudah mengaplikasikannya di
dalam bisnis ritelnya.
Ada 5 (lima) elememen penting yang belum di pahami oleh orang yang akan membuka bisnis
ritel atau minimarket, Menapa 5 elemen ini penting?, karena jika Anda tidak betul-betul
memahaminya, ini akan berdampak pada merosotnya bisnis ritel Anda yang berujung pada
penutupan bisnis tersebut, 5 elemen tersebut adalah :
1. Location, Bagaimana Anda memilijh lokasi yang cocok untuk bisnis Anda.
2. Design Store, Bagaimana Anda men design store agar lebih hidup.
3. Marketing/Promotion, Bagaimana memilih product, menetapkan harga dan membuat
promosi yang tidak ada habisnya.
4. SOP (Standard Operating Procedure), Bagaimana Anda membuat SOP sederhana akan
tetapi efektif di jalankan.
5. IT (Information Technology), Bagaimana Anda memilih Software terbaik yang cocok
untuk bisnis Anda.
Kali ini saya akan membahas mengenai Lokasi.
Sering kali jika kita menanyakan kepada orang atau bahkan orang yang sudah berpengalaman
di dalam bisnis mereka, Dimana lokasi yang bagus untuk buka usaha ?, Mereka selalu akan
mengatakan ya di tempat yang strategis, nah masalahnya tempat strategis itu yang seperti
apa?, kita sudah tahu jawabannya pasti mereka akan mengatakan tempat yang Rame.
Saya akan rubah kata strategis dan rame tersebut menjadi cocok.
Karena menurut saya semua tempat strategis dan semua tempat rame, masalahnya yang
strategis dan rame belum tentu cocok dengan bisnis Anda.
Pada saat Anda akan menentukan dimana lokasi yang cocok untuk bisnis anda, ada 2 (dua)
tahap yang harus Anda lakukan :
1. Melakukan Pemetaan.
Tujuannya adalah :
A. Mengetahui tempat dimana banyak aktifitas orang
B. Mengetahui dimana Area perdagangan.
Untuk mengetahui A & B Anda bisa siapkan peta dan tandailah di peta tersebut dengan warna

yang berbeda, setalah Anda tahu dimana aktifitas banyak orang dan Area perdagangan. baru
kemudian anda menentukan dimana lokasi yang akan anda pilih untuk membuka bisnis Anda,
berikutnya adalah melihat siapa competitor yang paling dekat dengan lokasi calon tempat
usaha Anda, tentukan apakah bisnis Anda value sama atau di atas competitor, jika Anda ingin
diatasnya Anda harus dapat membuat beberapa kelebihannya, misalkan Design toko lebih
bagus, kalau competitor tokonya tidak pakai AC toko Anda harus di pasang AC dsb, berapa
banyak competior disana? Kalau sudah lebih ada 4 pemain disana sebaiknya anda lupakan
lokasi tersebut. Karena sebagus apapun toko anda market share nya akan terbagi.
Setelah Anda yakin bahwa lokasi tersebut sudah sesuai, baru Anda melakukan tahap kedua
yaitu melakukan survey kualitas lokasi tersebut dan buat catatan untuk membuat kesimpulan
sebelum Anda memutuskan untuk mengambil lokasi tersebut.
2. Survey Kualitas Lokasi
Tahap yang kedua ini Anda harus benar-benar turun ke lokasi dan melihat langsung lokasi
yang sudah Anda pilih, beberapa hal yang paling penting dalam pemilihan lokasi :
1. Pastikan dilokasi tersebut banyak perusahaan atau Perdagangan, dimana orang melakukan
aktifitas lebih 12 jam perhari.
2. Profil konsumen dilokasi tersebut sama dengan profil konsumen yang akan Anda bidik,
karena seramai apapun lokasi tersebut jika konsumennya adalah bukan target market Anda,
berarti lokasi tersebut tidak cocok untuk bisnis Anda.
3. Jalan masuk ke Lokasi tersebut harus cukup lebar sehingga orang yang mengendarai mobil
akan dapat leluasa keluar masuk, artinya tidak ada sesuatu apapun yang menghalangi keluar
masuk seperti tiang listrik pohon atau apapun.
4. Lokasi sungguh-sungguh terlihat dari jarak 100 m dari arah sebelah kanan dan sebelah kiri
5. Sebaiknya lokasi berada di jalan utama, yang dimaksudkan jalan utama disini adalah jalan
yang biasanya dipakai orang untuk pergi atau keluar dari area satu ke area lain, bentuk
jalannya mendatar tidak berada pas Tanjakan atau turunan, dan kecepatan kendaraan antara
40 60 km/jam.
Selamat memilih lokasi untuk bisnis ritel Anda, kesempatan berikutnya saya akan membahas
mengenai Design Store.jang .
-display barang dagangan
Menata barang dagangan (Display) harus dilengkapi dengan informasi keadaan toko
dan barang yang dijualnya, hal ini dimaksudkan agar calon pembeli lebih mengenal barang
dan semakin besar peminat untuk mengadakan transaksi. Semakin banyak barang yang
ditampilkan ,semakin mudah pula calon pembeli menentukan pilihannya, oleh karena itu
display harus disajikan berdasarkan sudut pandang pembeli. Selain menata barang dagangan,
yang perlu diperhatikan juga adalah penataan ruangan toko (lay out) sebagai sarana strategis
yang dapat dimanfaatkan dengan efektif untuk ditata apik sehingga memberikan ruang gerak
yang bebas bagi calon pembeli, dengan ruang gerak yang bebas, calon pembeli merasakan
kenikmatan dalam berbelanja,disisi lain toko juga harus memberikan kemudahan calon
pembeli untuk memilih barang barang yang dibutuhkannya,maka letakkanlah barang dengan
posisi mudah dilihat dan dijangkau.
Ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan para peritel dalam melakukan
display, yang seharusnya mengacu pada logika konsumen. Logika konsumen dapat
dikatakan sebagai segala sesuatu yang meliputi cara berpikir, kebiasaan atau kecenderungan
psikologis konsumen yang mempengaruhi perilaku mereka saat berbelanja dan berada di
dalam toko. Sebagai contoh, kebanyakan konsumen yang hal pengaturan display secara
keseluruhan, misal, dalam mensiasati display produk-produk impulse agar lebih efektif.

Pengaturan display yang logis menuju pada keinginan pembeli untuk mengambil barang
dengan mempertimbangkan :
Produk yang tepat ( cocok )
Tempat yang benar
Saat yang pas
Susunan yang memikat
Harga yang menarik.
Syarat Display Yang Baik
Disamping mengacu pada logika konsumen dalam menjalan kanaktivitas display, para
peritel juga harus memperhatikan aspek-aspek penting lainnya yang merupakan syarat dalam
mewujudkan display yang baik, yaitu;
a. Display harus bersih dan rapi. Kerapian dan kebersihan barabg maupun tempat pajang
sangat penting untuk menarik minatt pembeli supaya bersedia untuk melihat dari dekat
produk yang ditawarkan.
b. Display harus mampu membuat barang-barang yang di pajang menjadi mudah dilihat,
mudah dicari dan mudah dijangkau. Ketiga hal ini merupakan syarat mutlak yang harus
mampu diwujudkan oleh aktivitas display. Jika tidak, display yang menarik dan
seatraktif apapun akan menjadi sia sia.
c. Display harus memperhatikan aspek keamanan,baik keamanan bagi pengelola toko dari
potensi-potensi kehilangan, maupun keamanan bagi pengunjung (konsumen) yang berada
di dalam toko,berkaitan dengan aspek keamanan ini, para peritel biasanya tidak akan
menempatkan barang-barang yang mudah pecah di sembarang rak. barang-barang yang
mahal, terutama yang fisik ukurannya kecil biasanya di pajang di etalase. barangbarang kemasan kaleng yang cukup berat juga biasanya ditempatkan pada shelve paling
bawah untuk menghindari resiko timbulnya cidera bagi pengunjung (terutama anak-anak)
jika barang tersebut terjatuh.
d. Display yang dilakukan oleh peritel harus informative dan komunikatif, para peritel dapat
memanfaatkan alat alat bantu seperti shelf talker, standing poster, signage dan jenis-jenis
point of purchase (POP) materials yang lain.
e. Display harus terlihat menarik dan member kesan yang berbeda pada pengunjung toko.
Menarik mencangkup perpaduan warna, bentuk kemasan, kegunaan barang, serta adanya
tema atau tujuan yang pada akhirnya bermuara pada suasa belanja pengunjung.
SOP ( Standart Operating Procedure) Penataan Produk Dari Suatu Perusahaan
SOP penataan produk adalah langkah-langkah yang harus ditempuh pada penataan
produk yang dijadikan acuan (standart) dalam penataan untuk menarik perhatian
konsumen untuk keputusan membeli. Perlengkapan-perlengkapan yang dibutuhkan untuk
menata produk antara lain :
a. Labelling, dilakukan untuk membantu memperlancar operasional dalam memproduksi
suatu barang. Ketentuan label memuat informasi tentang : tanggal receiving, kode barang
,kode supplier, bar code, harga jual (tidak selalu ada), memeriksa kesesuaian antara brand
(merk) ,article (type),size(ukuran)
b. Penggunaan ruangan
Kategori produk : terdiri atas berbagai macam penggolongan produk .
Ukuran kemasan : dalam pen-display-an harus memperhatikan factor keamanan apabila
produk itu riskan atau mudah bocor.

Hal-hal yang harus dilakukan dan dijalankan dalam penataan produk :


Produk ditempatkan dalam kategorinya
Facing /jumlah tier produk sesuai dengan market share
Pengaturan secara horizontal atau vertical untuk masing-masing jenis brand.
Pengaturan produk sesuai dengan arah lalu lintas pengunjung .
Rotasi produk FIFO (First In First Out) artinya dalam persediaan barang produk yang
pertama masuk ,barang itulah yang pertama dikeluarkan ,perhatikan expire date-nya.
Ada lima cara pen-Display-an sebagai contoh pedoman penataan produk, antara lain:
Letakkan barang sesuai ukuran besar atau berkesan berat di bawah dan barang ukuran
kecil berkesan lebih ringan di atas.
Usahakan untuk memperoleh tinggi barang yang sama
Facing suatu produk menghadap ke depan
Usahakan tinggi tiap jalur sama (top sky line)
Gunakan eye technique cathing dan colour breaking , yang mempunyai tujuan
memajangkan barang agar ada perhatian dari konsumen .
Pen-display-an yang baik ,teliti, dan teratur, akan memberikan lima kemudahan yang baik
bagi konsumen maupun pihak perusahaan yaitu:

Mudah dimengerti

Mudah dilihat

Mudah memilih

Mudah diambil dan diletakkan kembali dan

Mudah dirapikan
Selain itu display juga memiliki beberpa manfaat yaitu:

Meningkatkan penjualan

Meningkatkan store image

Meminimum out of stock( barang yang kosong),

Mengidentifikasi laku tidaknya suatu produk.

Untukmelindungiusahakecildanmenengahyangmemangsebagianbesardariusahayang
adadiIndonesiaadalahusahatersebut.
1. Untukmelindungilingkunganhidupdisekitarperusahaanbisnisdaribahayalimbah.
2. Melindungikonsumendaripelayanandanhasilprodukyangkurangbaik
3. Menambah pendapatan pemerintah (devisa) berupa pembayaran pajak dari
perusahaan.

Konsep:
KONSEP PELAYANAN PENJUALAN
1. Pengertian Pelayanan Penjualan
Philip Kotler (2002: 508) mengatakan Layanan purna jual adalah layanan yang diberikan
perusahaan kepada seorang konsumen setelah terjadinya transaksi penjualan. Sedangkan
menurut
Hindle dan Thomas dalam Fandy Tjiptono (2008) Layanan purna jual adalah suatu layanan
yang
disediakan oleh produsen kepada konsumen setelah konsumen tersebut membeli produk dari
perusahaan tersebut. Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa layanan purna
jual
adalah suatu kegiatan yang dilaksanakan setelah penyerahan produk kepada konsumen atas
pembeliannya, yang berlaku selama konsumen ada ikatan layanan atau hubungan dalam
berbagai
kegiatan layanan.
2. Unsur Pelayanan Penjualan
a. Penampilan.
b. Tepat waktu & janji.
c. Kesediaan melayani.
d. Pengetahuan dan keahlian.
e. Kesopanan & ramah tamah.
f. Kejujuran dan kepercayaan.
g. Kepastian hukum.
h. Keterbukaan.
i. Efisien.
j. Biaya.
k. Tidak rasial.
l. Kesederhanaan.
3. Prinsip Prinsip Pelayanan Penjualan
1. Attitude
Dalam menjalankan konsep pelayanan prima kepada para pelanggan, sikap atau attitude
merupakan poin yang utama. Sikap yang ramah dan sabar dalam melakukan pelayanan
kepada
konsumen, baik itu pelanggan kelas atas maupun pelanggan kecil harus diterapkan dengan
seimbang. Untuk menciptakan kesan attitude yang baik di mata konsumen, maka para
pegawai
yang berinteraksi langsung dengan konsumen wajib menggunakan bahasa sopan, cekatan
dalam
menangani keluhan, dan menjadikan pelanggan sebagai seorang raja.
2.Attention
Attention atau perhatian adalah tindakan untuk memperhatikan keinginan pelanggan serta

fokus dalam menciptakan kepuasan konsumen. Atensi tersebut dapat diwujudkan dengan
berbagai cara, misalnya mencermati karakter konsumen yang datang, memahami kepentingan
dan
kebutuhan pelanggan, serta mampu memberikan nasihat kepada pelanggan jika diperlukan.
3. Action
Setelah Anda memulai pelayanan ke konsumen dengan attitude yang bagus, dan kemudian
memperhatikan segala hal yang menjadi keinginan konsumen (attention), maka langkah
berikutnya adalah segera melakukan tindakan (action) guna mewujudkan apa yang
diharapkan
oleh konsumen. Action yang dilakukan hendaknya memenuhi prinsip cepat, tepat, hemat dan
selamat. Misalnya dalam usaha jasa reparasi komputer, pelanggan yang datang tentu berharap
agar komputer yang ingin diperbaiki bisa segera cepat selesai dengan diagnosa masalah yang
tepat, biaya yang hemat serta direparasi dengan selamat.
4.Anticipation
Sebagai back up terakhir dari usaha melakukan pelayanan prima kepada para konsumen
adalah menyiapkan solusi dari segala kemungkinan yang terjadi dalam bisnis anda. Hal
tersebut
dikenal dengan istilah antisipasi bisnis. Antisipasi yang perlu dipersiapkan dalam pelayanan
prima tentu yang menyangkut dengan kepentingan konsumen. Misalnya dalam jasa laundry
pakaian, pelanggan akan diberikan uang pengganti atau pakaian sejenis ketika hasil cucian
terjadi
kecacatan atau robek. Untuk itulah diperlukan antisipasi yang berupa dana antisipasi atau
lainnya
demi menjamin kepuasan dan loyalitas para pelanggan