Anda di halaman 1dari 28

LaporanPraktikum

Mata Kuliah : Wisata Budaya

8 September 2015

IDENTIFIKASI ASPEK DAN ELEMEN BUDAYA PADA


MASYARAKAT NON PERKOTAAN
( StudiKasus: Masyarakat Non Kota Balikpapan)

DisusunOleh:
Kelompok8 / A2
Shelvy Lositasari
Arditya Rifdi Budiman
Diah Erni Nurfitriani
Rahman

J3B114025
J3B114038
J3B214062
J3B214075

Dosen:
Bedi Mulyana, S.Hut, M.Par, M.oT
Dr. Ir. Tutut Sunarminto, M.Si
Rini Untari, S.Hut, M.Si
Kania Sofiantina Rahayu, S.Ikom, M.Par, MTHM.
AsistenDosen:
Rima Pratiwi Batubara, S.Hut
Alvionta Ritawati, A.Md

PROGRAM KEAHLIAN EKOWISATA


PROGRAM DIPLOMA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2015

Daftar Isi
Daftar Isi

I.PENDAHULUAN

II.TINJAUAN PUSTAKA

A. Identifikasi

B. Budaya

C. Spiritual

D. Masyarakat Non Perkotaan

III. METODE PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat

B. Alat dan Bahan

C. Jenis dan Metode Pengambilan Data

IV.KONDISI UMUM

A. Letak dan Luas Kawasan

B. Objek Wisata

C. Potensi Wisata

V.HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil

9
9

B. Pembahasan

10

VI.KESIMPULAN

24

DAFTAR PUSTAKA

25

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh
sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk
dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat,
bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana
juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak
orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Masyarakat adalah
setiap kelompok manusia yang hidup dan bekerja sama dalam waktu yang relatif
lama dan mampu membuat keteraturan dalam kehidupan bersama dan mereka
menganggap sebagai satu kesatuan sosial.
Tidak berlebihan menyebut Kota Balikpapan sebagai "Kota Minyak". Selain
terdapat banyak Kilang minyak, hari jadi kota ini tanggal 10-February-1897, diambil
dari hari pengeboran minyak pertama (Mathilda) di Kota ini.
Terletak di Pulau Kalimantan, salah satu pulau yang dikenal dunia karena
Hutan-Tropisnya, Menjadikan Kota Balikpapan sebuah Kota minyak dan industri
yang berwawasan lingkungan. Pribadi yang kental ini tercermin dengan tertatanya
Kota Balikpapan sebagai salah satu kota metropolis di Indonesia yang kurang lebih
52% (lima puluh satu persen) dari luas wilayahnya merupakan: wilayah hijau,
konservasi, preservasi dan Hutan-Lindung.
Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW) adalah hutan Primer yang terletak di
sebelah Barat-Laut dari pusat kota. Selain berfungsi sebagai tempat riset tentang
tumbuhan dan hewan pulau Kalimantan, hutan ini juga merupakan salah satu obyek
wisata pendidikan dan obyek wisata minat khusus yang sangat menarik. Selain
HLSW, obyek wisata lain unggulan lain yang terdapat dikota ini adalah : Pantai
berpasir putih Manggar Segara Sari; Hutan Mangrove; dan Kawasan Wisata
Pendidikan Lingkungan Hidup - "enclosure" Beruang madu. Sistem penataan
"enclosure" Beruang madu yang sedemikian ini menjadikan Kota Balikpapan
sebagai: Satu-satunya Kota di Dunia yang memiliki Beruang madu yang hidup di
"eclosure" yang menyerupai habitat aslinya.
B. Tujuan
a. Mengetahui Budaya Masyarakat Non Perkotaan di Balikpapan.

II.

TINJAUAN PUSTAKA

A. Identifikasi
Identifikasi adalah proses pengenalan, menempatkan obyek atau individu dalam
suatu kelas sesuai dengan karakteristik tertentu. ( Menurut JP Chaplin yang
diterjemahkan Kartini Kartono yang dikutip oleh Uttoro 2008 : 8). Menurut
Poerwadarminto (1976: 369) identifikasi adalah penentuan atau penetapan identitas
seseorang atau benda. Menurut ahli psikoanalisis identifikasi adalah suatu proses
yang dilakukan seseorang, secara tidak sadar, seluruhnya atau sebagian, atas dasar
ikatan emosional dengan tokoh tertentu, sehingga ia berperilaku atau membayangkan
dirinya seakan-akan ia adalah tokoh tersebut.
B. Budaya
Budaya dari sudut etimologi, kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta Budhi
atau Buddayah, yang artinya akal budi. Jadi, kebudayaan ialah seluruh budi daya
manusia, baik pikiran, perasaan,maupun ciptaan dalam suatu masa.
Menurut para ahli ilmu sosial, mengartikan konsep kebudayaan itu dalam arti
yang amat luas yaitu seluruh total dari pikiran, karya, dan hasil karya manusia yang
tidak berakar kepada nalurinya, dan yang karena itu hanya bisa dicetuskan ole
manusia sesudah suatu proses belajar.
Budaya bersifat materialistis yang mendefinisikan kebudayaan sebagai sistem
yang merupakan hasil adaptasi pada lingkungan alam atau suatu sistem yang
berfungsi untuk mempertahankan kehidupan masyarakat.
Ada pula budaya yang bersiat idealistis yang memandang semua fenomena
eksternal sebagai manifestasi suatu sistem internal.
Kebudayaan adalah suatu fenomena sosial, dan tidak dapat dilepaskan dari
perilaku dan tindakan warga masyarakat yang mendukung atau menghayatinya.
Antropologi Budaya adalah yang mempelajari
keanekawarnaan tingkah laku dan cara berpikirnya.

manusia

dari

sudut

Budaya adalah suatu proses dialektika yang dinamis. Ia bergerak, berproses lewat
dialog atau konflik atau tawar- menawar antara berbagai teas dan antitesa untuk
kemudian mencapai suatu persesuaian yang disebut sintesa.

Budaya/budaya/ n pikiran; akal budi: hasil --; adat istiadat: menyelidiki bahasa
dan --; sesuatu mengenai kebudayaan yg sudah berkembang (beradab, maju): jiwa yg
--; cak sesuatu yg sudah menjadi kebiasaan yg sudah sukar diubah.

C. Spiritual
Sripitual adaalah yang berhubungan atau bersifat kejiwaan ( rohani , batin).

D. Masyarakat Non Perkotaan


Secara awam masyarakat desa sering diartikan sebagai masyarakat tradisional
dari masyarakat primitif (sederhana).Namunpandangan tersebut sebetulnya kurang
tepat, karena masyarakat desa adalah masyarakat yang tinggal di suatu kawasan,
wilayah, teritorial tertentu yang disebut desa.Sedangkan masyarakat tradisional
adalah masyarakatyang menguasaan ipteknya rendah sehingga hidupnya masih
sederhana dan belum kompleks. Memang tidak dapat dipungkiri masyarakat desa
dinegara sedang berkembang seperti Indonesia, ukurannya terdapat pada masyarakat
desa yaitu bersifat tradisional dan hidupnya masih sederhana, karena desa-desa di
Indonesia pada umumnya jauh dari pengaruh budaya asing/luar yang dapat
mempengaruhi perubahan-perubahan pola hidupnya.
Menurut Koentjaraningrat suatu masyarakat desa menjadi suatu persekutuan
hidup dan kesatuan sosial didasarkan atas dua macam prinsip:

prinsip hubungan kekerabatan (geneologis)

prinsip hubungan tinggal dekat (teritorial)


Prinsip ini tidak lengkap yang mengikat adanya aktifitas tidak disertakan yaitu :

tujuan khusus yang ditentukan faktor ekologis

prinsip yang datang dari atas oleh aturan undang-undang

Adapun ciri-ciri masyarakat desa antara lain :


1.
2.
3.
4.

Anggota komunitas kecil


Hubungan antar individu bersifat kekeluargaan
Sistem kepemimpinan informal
Ketergantungan terhadap alam tinggi
4

Religius magis artinya sangat baik menjaga lingkungan dan menjaga jarak
dengan penciptanya, cara yang ditempuh antara lain melaksanakan ritus pada
masa-masa yang dianggap penting misalnya saat kelahiran, khitanan, kematian
dan syukuran pada masa panen, bersih desa.
6.
Rasa solidaritas dan gotong royong tinggi
7.
Kontrol sosial antara warga kuat
8.
hubungan antara pemimpin dengan warganya bersifat informal
9.
Pembagian kerja tidak tegas, karena belum terjadi spesialisasi pekerjaan
10.
Patuh terhadap nilai-nilai dan norma yang berlaku di desanya (tradisi)
11.
Tingkat mobilitas sosialnya rendah
12.
Penghidupan utama adalah petani.
5.

Perbedaan masyarakat desa dan perkotaan yaitu


1. Dari pekerjaan masyarakat desa lebih menonjol petani, nelayan. Masyarakat
perkotaan beraneka ragam.
2. Dari aspek mobilitas sosial masyarakat desa relatif kecil karena masyarakat
homogen. Masyarakat perkotaan relatif besar karena masyarakat heterogen.
3. Dari aspek solidaritas sosial masyarakat desa memiliki soidaritas sangat tinggi
berbeda dengan masyarakat kota yang masih berorientasi pada kepentingan
tertentu.

III. METODE PRAKTIKUM


A. Waktu dan Tempat
Waktu yang dipakai untuk observasi tentang pengertian Wisata Budaya serta
Wisata Spiritual adalah dimulai pada tanggal 8 September 2015 hingga waktu
pengumpulan pada 15 September 2015.Tempat observasi literatur yang penulis
lakukan antara perpustakaan dan browsing melalui internet berupa E-Book.
B. Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan ketika melakukan studi literatur berupa alat tulis
yang berfungsi untuk mencatat beberapa buku. Penelusuran studi literatur yang
penulis lakuakan selain mengambil pustaka dari buku juga mencari E-Book yang
berkaitan dengan pengertian Budaya serta Spiritual.
C. Jenis dan Metode Pengambilan Data
Jenis metode yang digunakan oleh penulis adalah penelusuran dengan studi
literatur.Studi literatur adalah jenis metode mengutip pengertian dari buku atau
informasi terkait dan disamakan dengan hasil penulis nantinya.penulis menjadikan
studi literatur yang ditemukan sebagai acuan dasar dari opembahasan yang akan
penulis jabarkan.

IV. KONDISI UMUM

A. Letak dan Luas Kawasan


Kota Balikpapan adalah salah satu kota di provinsi Kalimantan Timur,
Indonesia. Kota ini memiliki luas wilayah 503,3 km. Letak astranomis
Balikpapanberada di antara 1,0 LS 1,5 LS dan 116,5 BT 117,5 BT. Batas-batas
wilayah, batas utara yaitu Kabupaten Kutai Kartanegara, batas selatan yaitu Selat
Makssar, batas barat yaitu Kabupaten Penajam Paser Utara, batas timur yaitu Selat
Makassar. Logo dari kota yang sering dijuluki Kota Minyak (Banua Patra) ini
adalah Beruang Madu, binatang khas kota Balikpapan yang sekarang sudah mulai
punah.

Gambar1. Peta Kota Balikpapan

B. Objek Wisata
Taman Agrowisata, diresmikan tanggal 17 Desember 1997 oleh Bapak Tri
Sutrisno, berlokasi di Jl. Soekarno Hatta km 23, dengan luas 100 ha dan memiliki
berbagai koleksi tanaman tropis serta dilengkapi dengan tempat piknik terbuka,
rumah panjang Dayak, tempat berkemah dan pemandangan alami, dilengkapi play
ground, shelter, tempat parkir, mushola dan play group,dapat dikunjungi dengan
angkutan kota trayek nomor 8.
Wana Wisata Km 10 adalah taman arboretum yang dibangun oleh PT.
Inhutani I Unit Balikpapan, dengan berbagai jenis pohon hutan dan buah-buahan
langka, sebagai tempat berkemah dan jogging yang sejuk dan alami, dilengkapi
gedung pertemuan, pusat informasi, gazebo, play ground dan warung kaki lima,
dapat ditempuh dengan angkutan kota trayek nomor 8.
Karang Joang Resort, Golf dan Country Club Balikpapan, yaitu padang
Golf Kariangau terletak di Kelurahan Karang Joang, tidak jauh dari sungai Wain,
terdapat drive rain, hotel berbintang dengan teras dan pembakaran barbeque, club
house dengan kolam renang dan activity room dengan karaoke, meja bilyard, bar dan
ruangan dengan acara khusus serta tersedia menu masakan Tionghoa, Eropa dan
Indonesia, dapat dipesan pada Resort &Golf KarangJoang, Jl. SoekarnoHatta Km 5,5
Balikpapan.
Jembatan Ulin Kariangau merupakan jembatan paling terpanjang dengan
panjang 800m dan lebar 2m, terletak 11km dari pusat kota Balikpapan, terdapat
hutan bakau dengan pemandangan lepas ke teluk Balikpapan dengan aktivitas
nelayan dan kapal - kapal yang melintas dari pelabuhan Somber menuju Pelabuhan
Penajam.
Pantai Manggar Segarasari merupakan tempat rekreasi pantai terletak 22 km
dari pusat Kota Balikpapan tepatnya di kecamatan Balikpapan Timur. Disana
terdapat shelter, banana boat, speed boat, ruang informasi dan warung kaki lima.
Pantai ini dapat dicapai dengan angkutan kota trayek nomor 7.
Hutan Lindung Sungai Wain merupakan hutan lindung dengan luas 10.025 ha
yang dilalui sungai Wain yang panjangnya 18.300 m dengan airnya yang jernih
dengan hutan bakau dan habitat burung, ikan ,kepiting dan orangutan.
C. Potensi Wisata
Wisata Pantai Lamaru Di Kota Balikpapan, Tempat Wisata Terindah
Lamaru merupakan salah satu objek wisata pantai di Kota Balikpapan yang
menyuguhkan suasana liburan yang lebih tenang dan damai. Pemandangan pantai
yang sangat indah terlihat jelas dengan adanya hamparan pasir putih yang terbetang
sangat luas sekitar wisata tersebut, dipadukan dengan adanya air laut yang terlihat
sangat jernih, bersih dan sangat indah, menjadikan kawasan wisata pantai ini terlihat
sangat cantik mempesona.Pantai lamaru yang belum terjamah oleh banyak tangan
manusia ini, membuat liburan di pantai tersebut seakan-akan seperti berlibur ke
pantai milik pribadi, sebab pantai lamaru sangat jarang di datangi wisatawan.
Lokasi Pantai Lamaru terletak di Desa Teritip yang berjarak sekitar 24 Km
kesebelah timur dari Kota Balikpapan.Objek wisata Pantai Lamaru yang

menawarkan wisata yang lebih menenangkan ini memiliki keindahan alam yang
sangat memukau, sebab pantai ini di kelilingi oleh pepohonan cemara yang mana hal
ini akan menjadi pemandangan yang sangat indah, dan hal ini juga sangat baik
sebagai tempat yang memberikan rasa relaks yang begitu nyaman dengan adanya
suguhan dari panorama pantai yang indah.

V.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil
Kebudayaan sebagai sesuatu yang merupakan hasil cipta, rasa dan karsa manusia,
berbagi aspek kebudayaan yaitu ide, perasaan dan tindakan. Adapun elemen budaya
menurut C Kluckhohn (1953) dalam Soekanto (2005) membagi tujuh elemen budaya
sebagai cultural universal, bahasa, sistem mata pencaharian, sisttem kepercayaan,
sistem teknologi, sistem organisasi, sistem pengetahuan dan kesenian.Tabel 1
Tabe1. Aspek dan Elemen Masyarakat Perkotaan Balikpapan
N
o

Aspek dan Elemen Budaya

Jenis Kebudayaan
Material

Deskripsi

Immateria
l

Aspek Budaya
a.

Ide dan Gagasan

Peluncuran program Gema


Lautan Jilbab

b.

Perasaan

Upacara Adat Belian


Besiaper dan Upacara
Adat Pernikahan Suku
Banjar

c.

Tindakan/Perbuatan

Pakaian Adat Suku Dayak


dan Senjata tajam Mandau

Elemen
a.

Bahasa

Kalimantan Selatan,
bahasa Banjar yang
merupakan bahasa
sastra lisan terbagi
menjadi dua dialek
besar yaitu Banjar
Kuala dan Banjar
Hulu.

b.

Sistem Mata
Pencaharian

c.

Sistem Kepercayaan

d.

Sistem Tekonologi

Mata pencarian masyarakat


Desa Balikpapan adalah
sektor perkebunan kelapa
sawit

Kepercayaan yang dianut


oleh masyarakat sekitar
Balikpapan non perkotaan
adalah kaharingan atau
kepercayaan yang masih
dianut dari suku asli suku
Dayak.
Teknologi yang dimiliki
oleh masyarakat non
perkotaan Balikpapan tidak
secangih di perkotaan.
Masih digunakannya alatalat tradisional.

e.

Sistem Organisasi
Sosial

Komando Pengawal Pusaka


Adat Dayak Borneo
(KOPPAD Borneo) adalah
sebuah Oragnisasi
Kemsyarakatan (ORMAS)
kedaerahan yang berbasis
Adat

f.

Sistem Pengetahuan

Pengetahauan masyakarat
non perkotaan seperti suku
dayak yaitu dengan
pengetahuan tentang gejala
alam.

g.

Kesenian

Kesenian pada
masyarakat non
perkotaan Balikpapan
Tari Gantar, Tari
Kancet Papatai / Tari
Perang, Tari Kancet
Ledo / Tari Gong, Tari
Kancet Lasan, Tari
Leleng, Tari Hudoq,
Tari Pecuk Kina. Alat
musik dari suku dayak
yaitu alat Musik
Sampek, dan adapula
senjata kebudayaan
dayak yaitu Mandau

10

B. Pembahasan
Dari tabel yang telah dilampirkan, didapatkan hasil identifikasi
mengenai aspek dan elemen budaya masyarakat non perkotaan di Balikpapan.
Penjelasan mengenai aspek budaya meliputi ide/gagasan, perasaan dan
tindakan/perbuatan. Sementara itu, pada elemen budaya meliputi bahasa,
sistem mata pencaharian, sistem kepercayaan, sistem teknologi, sistem
organisasi sosial, sistem pengetahuan dan kesenian. Penjelasan mengenai
aspek dan elemen budaya masyarakat perkotaan antara lain sebagai berikut:
Aspek budaya yang terdapat di masyarakat non-perkotaan Kota
Balikpapan terdiri dari ide atau gagasan, aktivitas manusia dan benda hasil karya
manusia.
a. Ide / Gagasan (Diah Erni Nurfitriani, J3B214062)
Memandang agama sebagai sumber moral dan etik, sumber inspirasi dan
sumber motivasi dalam setiap aspek kehidupan kemasyarakatan, pemerintahan dan
pembangunan daerah. Peluncuran program Gema Lautan Jilbab oleh Ridwan Suwidi
dimaksudkan untuk mengantisipasi meluasnya budaya materialistik, hedonistik dan
sentralistik ke tengah-tengah kehidupan masyarakat Kabupaten Paser.Inti dari
Pencanangan Gema Lautan Jilbab merupakan upaya Ridwan Suwidi menegakkan
akhlak dan menciptakan masyarakat Paser yang agamais. Mengingat mewujudkan
Kabupaten Paser yang agamais merupakan salah satu visi Ridwan Suwidi, di mana
maksud dari Kabupaten Paser yang agamais adalah terwujudnya masyarakat Paser
yang religius, yakni masyarakat yang menghayati dan mengamalkan nilai-nilai luhur
agama yang dianutnya. Masyarakat yang menjadikan nilai-nilai luhur agama, bukan
saja sebagai landasan moral dan etika hidup, melainkan juga menjadikannya sebagai
pedoman dan pendorong di dalam mencapai prestasi-prestasi hidupnya, sehingga
kemajuan yang dicapai tidak sekadar berada pada tataran kebendaan belaka,
melainkan juga mencapai nilai-nilai kehidupan hakiki yang kekal.
Dalam menggalakkan program Gema Lautan Jilbab ini, Ridwan Suwidi terjun
langsung ke tengah-tengah masyarakat untuk mensosialisasikan pentingnya
mengenakan jilbab atau hijab. Turunnya Bupati Paser ini disertai dengan pembagian
jilbab secara gratis kepada sekolah-sekolah yang dikunjunginya tidak ketinggalan
kaum hawa yang ada di Kabupaten Paser. Program ini dimulai dari lingkungan
sekolah dan lingkungan pemerintah Kabupaten Paser. Hal ini dilakukan guna
memancing minat ibu-ibu dan remaja putri yang ada di Kabupaten Paser untuk
mengenakan jiblab.
Pencanangan mengenakan hijab ini sifatnya hanya sebatas anjuran dan tidak
ada unsur paksaan. Dengan mengenakan hijab, Ridwan Suwidi berharap mampu
meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah S.W.T. (Gambar 1)

11

Gambar 2. Program Gema Lautan Jilbab

b. Aktivitas Manusia (Diah Erni Nurfitriani, J3B214062)


1. Upacara Adat Belian Besiaper
Upacara Adat Belian Besiaper atau yang biasa disebut dengan Nondoi ini
merupakan adat kebudayaan asli Paser yang di dalamnya terdapat pagelaran
seni budaya daerah dan upacara bersih-bersih kampung atau wilayah.
Upacara nondoi ini bertujuan untuk mengusir roh-roh jahat, sehingga upacara
ini dilakukan selama tujuh hari. Dalam acara pembukaan itu akan
diisi dengan tarian kolosal dan parade budaya yang melibatkan sanggar tari,
peguyuban dan pelajar se-Kabupaten PPU. Tarian kolosal pada acara
pembukaan melibatkan 167 penari. Saat ini sudah 98 persen, tinggal
memadukan gerak lantai dan musik, sedangkan keikutsertaan sanggar tari dan
peguyuban parade budaya mungkin akan bertambah. Acara ritual inilah suku
Paser akan mengadakan upacara adat seperti ritual Patur Patuk Somong,
Belian Pengobatan selama tiga hari, Nyambi dan Tari Arang Juwata, Nyudok
atau melarutkan Jangkit dan Nembot Ruo. (Gambar 2)

Gambar 3. Upacara Adat Belian Besiaper

2. Upacara Adat Pernikahan Suku Banjar

12

Berikut adalah langkah-langkah adat pernikahan suku banjar yang ada di


Balikpapan,
Basasuluh yaitu seorang laki-laki yang akan dikawinkan biasanya tidak langsung
dikawinkan, tetapi dicarikan calon gadis yang sesuai dengan sang anak maupun
pihak keluarga. Hal ini dilakukan tentu sudah ada pertimbangan-pertimbangan,
atau yang sering dikatakan orang dinilai bibit-bebet-bobotnya terlebih dahulu.
Batatakun atau melamar yaitu kegiatan yang dilakukan setelah diyakini bahwa
tidak ada yang meminang gadis yang telah dipilih maka dikirimlah utusan dari
pihak lelaki untuk melamar, utusan ini harus pandai bersilat lidah sehingga
lamaran yang diajukan dapat diterima oleh pihak si gadis
Bapapayuan atau Bapatut Jujuran yaitu membicarakan tentang masalah kawin.
Pihak lelaki kembali mengirimkan utusan, tugas utusan ini adalah berusaha agar
masalah kawin yang diminta keluarga si gadis tidak melebihi kesanggupan pihak
lelaki.
Maatar Jujuran atau Maatar Patalian yaitu kegiatan mengantar masalah kawin
kepada pihak si gadis yang maksudnya sebagai tanda pengikat. Juga sebagai
pertanda bahwa perkawinan akan dilaksanakan oleh kedua belah pihak
Bakakawinan atau Pelaksanaan Upacara Perkawinan. Sebelum hari pernikahan
atau perkawinan, mempelai wanita mengadakan persiapan, antara lain:
a. Bapingit dan Bakasa yaitu bagi calon mempelai wanita yang akan memasuki
ambang pernikahan dan perkawinan, dia tidak bisa lagi bebas seperti biasanya,
hal ini dimaksudkan untuk menjaga dari hal-hal yang tidak diinginkan (Bapingit).
b. Batimung yaitu perawatan untuk mencegah keluarnya keringat berlebih saat
pernikahan. Setelah Batimung badan calon pengantin menjadi harum karena
mendapat pengaruh dari uap jerangan Batimung tadi.
c. Badudus atau Bapapai yaitu upacara yang dilaksanakan sebagai proses peralihan
antar masa remaja dengan masa dewasa dan juga merupakan sebagai penghalat
atau penangkal dari perbuatan-perbuatan jahat. Upacara ini dilakukan pada waktu
sore atau malam hari. Upacara ini dilaksanakan tiga atau dua hari sebelum
upacara perkawinan.
d. Perkawinan (Pelaksanaan Perkawinan) yaitu penobatan calon pengantin untuk
memasuki gerbang perkawinan. Pemilihan hari dan tanggal perkawinan
disesuaikan dengan bulan Arab atau bulan Hijriah yang baik. Biasanya
pelaksanaan upacara perkawinan tidak melewati bulan purnama.
Kegiatan pada upacara perkawinan ini antara lain:
1). Badua Salamat Pengantin yaitu hal ini ditujukan untuk keselamatan pengantin
dan seluruh keluarga yang melaksanakan upacara perkawinan itu. Dalam hal ini
pembacaan doa-doa dipimpin oleh Penghulu atau Ulama terkemuka di kampung
tersebut. Selesai prosesi tersebut para undangan dipersilahkan menikmati
hidangan yang telah disediakan.
2). Bahias atau Merias Pengantin yaitu sekitar jam 10 pagi, tukang rias sudah datang
ke rumah mempelai wanita untuk merias. Kegiatan ini meliputi tata rias muka,
rambut dan pakian, serta kelengkapan lainnya seperti Palimbayan dan lainnya.
Bagi pengantin pria, bahias ini dilakukan setelah sholat Zuhur.
3). Maarak Pengantin yaitu pihak pengantin sudah siap berpakaian, maka segera
dikirim utusan kepada pihak pria bahwa mempelai wanita sudah menunggu
kedatangan mempelai pria. Maka kemudian diadakanlah upacara Maarak
13

Pengantin. Pada waktu maarak pengantin biasanya diiringi dengan kesenian


Sinoman Hadrah atau Kuda Gepang.
4). Batatai atau Basanding yaitu kedatangan pengantin pria disambut dengan
Salawat Nabi dan ketika Salawat itu dikumandangkan pengantin wanita keluar
dari dinding kurung untuk menyambut pengantin pria. Di muka pintu, pengantin
pria disambut oleh pengantin wanita, untuk beberapa saat mereka bersanding di
muka pintu, kemudian mereka di bawa ke Balai Warti untuk bersanding secara
resmi.
5). Bajajagaan Pengantin yaitu pada malam hari pertama sampai ketiga sejak hari
perkawinan, biasanya diadakan acara Bajajagaan atau menjagai pengantin, yang
isinya dengan pertunjukan kesenian, seperti Bahadrah atau Barudat (Rudat
Hadrah), Bawayang Kulit (Wayang Kulit), Bawayang Gong (Wayang Orang),
Mamanda dan sebagainya.
6). Sujud yaitu tiga hari sesudah upacara perkawinan, kedua mempelai kemuadian di
bawa ke rumah orang tua pengantin pria untuk sujud kepada orang tua pengantin
pria. Malam harinya juga diadakan acara menjagai pengantin dengan maksud
untuk menghibur kedua mempelai yang sedang berkasih mesra itu. Keesokan
harinya mereka dibawa lagi ke rumah mempelai wanita untuk selanjutnya tinggal
di tempat mempelai wanita bersama orang tua mempelai wanita untuk mengatur
kehidupan berumah tangga. Apabila telah mampu untuk mencari nafkah sendiri
barulah berpisah dalam artian berpisah dalam hal makan saja, namun tetap
tinggal bersama orang tua mempelai wanita. (Gambar 3)

Gambar 4. Upacara Adat Pernikahan Suku Banjar

c. Benda Hasil Karya Manusia (Diah Erni Nurfitriani, J3B214062)


1. Pakaian Adat Suku Dayak Kenyah
Suku Dayak Kenyah Kalimantan Timur memiliki busana tradisional yang
disebut sapei sapaq untuk kaum laki-laki dan ta'a untuk kaum perempuan, pakaian
taa terdiri dari semacam ikat kepala yang disebut daa yang dibuat dari pandan.
Umumnya yang menggunakan daa ini adalah para orang tua. Baju atasannya disebut
dengan nama sapei inoq serta bawahan dari busana tersebut berupa rok yang dikenal
dengan nama taa. Busana sapei sapaq untuk laki-laki tidak jauh berbeda coraknya
dengan busana taa, perbedaannya hanya pada pakaian atas saja yang dibuat
berbentuk rompi ditambah dengan paduan busana bawahan berupa cawat yang diberi
nama abet kaboq. Abet kaboq yaitu semacam celana pendek ketat, sedangkan untuk
aksesoris pakaian ditambahkan dengan mandau yang diikat di pinggang. Corak dari
14

busana ini beragam ada yang bergambar burung enggang, harimau ataupun tumbuhtumbuhan dimana jika dipakaian adat itu ada gambar enggang atau harimau berarti
yang memakainya keturunan bangsawan. Kalau hanya motif tumbuhan saja berarti
derajat sosialnya adalah orang biasa saja. (Gambar 4)

Gambar 5. Pakaian Adat Suku Dayak Kenyah

a. Bahasa ( Rahman J3B214075)

Bahasa Banjar dapat diidentifikasi adanya variasi-variasi dalam pengucapan


ataupun perbedaan perbedaan kosa kata satu kelompok dengan kelompok suku
Banjar lainnya, dan perbedaan itu dapat disebut dialek dari bahasa Banjar yang bisa
dibedakan antara dua dialek besar yaitu;

Bahasa Banjar Hulu Sungai/Bahasa Banjar Hulu

Bahasa Banjar Kuala

Dialek Banjar Kuala umumnya dipakai oleh penduduk asli sekitar kota
Banjarmasin, Martapura dan Pelaihari. Sedangkan dialek Banjar Hulu adalah bahasa
Banjar yang dipakai penduduk daerah Hulu Sungai umumnya yaitu
daerah Kabupaten Tapin, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai
Utara (dan Balangan) serta Tabalong. Pemakai dialek Banjar Hulu ini jauh lebih luas
dan masih menunjukkan beberapa variasi subdialek lagi yang oleh Den Hamer
disebut dengan istilah dialek local yaitu seperti Amuntai, Alabiu, Kalua,
Kandangan,
Tanjung
dan bahkan Den Hamercenderung berpendapat
bahwa bahasa yang
dipakai
oleh orang
Bukit
yaitu
penduduk
pedalaman pegunungan Meratus merupakan salah satu sub dialek Banjar Hulu pula
dan mungkin sub dialek baik Banjar Kuala maupun Banjar Hulu itu masih banyak
lagi, kalau melihat banyaknya variasi pemakaian bahasa Banjar yang masih
memerlukan penelitian yang lebih cermat dari para ahli dialek trografi sehingga
15

bahasa Banjar itu dengan segala sub dialeknya bisa dipetakan secara cermat dan
tepat. Berdasarkan pengamatan yang ada, pemakaian antara dialek besar Banjar
Kuala dengan Banjar Hulu dapat dilihat paling tidak dari dua hal yaitu:
1. Adanya perbedaan pada kosa kata tertentu;
2. Perbedaan pada bunyi ucapan terhadap fonem tertentu. Ada pula pada
perbedaan lagu dante kanan meskipun yang terakhir ini bersifat tidak
membedakan (non distinctive).
Bahasa Banjar Hulu merupakan dialek asli yang dipakai di wilayah Banua
Enam yang merupakan bekas Afdelling Kandangan dan AfdeelingAmoentai (suatu
pembagian wilayah pada zaman pendudukan Belanda) yang meliputi kabupaten
Tapin, Hulu
Sungai
Selatan, Hulu
Sungai
Tengah, Hulu
Sungai
Utara, Balangan dan Tabalong pada pembagian adiministrasi saat ini.
Puak-puak suku Banjar Hulu Sungai dengan dialek dialeknya masing-masing
relatif bersesuaian dengan pembagian administrative pada zaman kerajaan
Banjar dan Hindia Belanda yaitu menurut Lalawangan atau distrik (Kawedanan)
pada masa itu, yang pada zaman sekarang sudah berbeda. Puak-puak suku Banjar di
daerah Hulu Sungai tersebut misalnya :
1) Orang Kelua dari bekas Distrik Kelua di hilir Daerah Aliran Sungai Tabalong,
Kabupaten Tabalong.
2) Orang Tanjung dari bekas Distrik Tabalong di hulu Daerah Aliran Sungai
Tabalong, KabupatenTabalong
3) Orang Lampihong/Orang Balangandaribekas DistrikBalangan (Paringin) di
Daerah Aliran Sungai Balangan, KabupatenBalangan
4) Orang Amuntaidaribekas DistrikAmuntai di Hulu Sungai Utara
5) Orang Alabiodaribekas DistrikAlabio di Hulu Sungai Utara
6) Orang Alai daribekas DistrikBatang Alai di Daerah Aliran Sungai Batang
Alai, Hulu Sungai Tengah
7) Orang PantaiHambawang/Labuan Amasdaribekas Distrik Labuan Amas di
Daerah Aliran Sungai Labuan Amas, Hulu Sungai Tengah
8) Orang Negara daribekas Distrik Negara di tepi Sungai Negara, Hulu Sungai
Selatan.
9) Orang Kandangandaribekas DistrikAmandit di
Amandit, Hulu Sungai Selatan

Daerah

Aliran Sungai

10) Orang Margasaridaribekas DistrikMargasari di KabupatenTapin

16

11)Orang Rantaudaribekas DistrikBenuaEmpat di


Tapin, KabupatenTapin

b.

Daerah

Aliran Sungai

Sistem Mata Pencaharian (Rahman J3B214075)

Mata pencarian masyarakat Desa Balikpapan adalah sektor perkebunan kelapa


sawit dikarenakan masih banyaknya lahan kosong yang bisa ditanami kelapa sawit
oleh masyrakat Desa Di Balikpapan karena di Balikpapan kelapa sawit harga yang
sangat tinggi maka masyrakat Desa Di balikpapan menmanfaatkanlah kosong untuk
menaman kelapa sawit dikarenakan permintan yang sangat tinggi dan dikarenakan
juga harga dari kelapa sawit itu pun tinggi
Menurut Arman (1994), orang Dayak kalau mau berladang mereka pergi ke
hutan, dan terlebih dahulu menebang pohon-pohon besar dan kecil di hutan, kalau
mereka mengusahakan tanaman perkebunan mereka cenderung memilih tanaman
yang menyerupai hutan, seperti karet (Havea brasiliensis Sp),rotan(Calamus caesius
Spp), dan tengkawang (shorea Sp). Kecenderungan seperti itu bukan suatu kebetulan
tetapi merupakan refleksi dari hubungan akrab yang telah berlangsung selama
berabad-abad dengan hutan dan segala isinya.
c. Sistem Kepercayaan (Arditya Rifdi Budiman, J3B114038)
Balikpapan adalah kota besar di provinsi Kalimantan Timur yang tergabung dari
berbagai suku, namun suku yang asli dari kota Balikpapan adalah suku Dayak Paser.
Suku Dayak Paser biasanya tinggal di pinggir- pinggir perkotaan. Perbatasan antara
kabupaten Paser dan sekitarnya menjadi tempat yang ditinggali oleh mereka.
Masyarakat Dayak terbagi menjadi beberapa suku, yaitu Ngaju, Ot, Danum, dan
Maanyan di Kalimantan Tengah hingga Timur. Kepercayaan yang dianut meliputi:
Kaharingan (pribumi). Kata Kaharingan diambil dari Danum Kaharingan yang
berarti air kehidupan. Masyarakat Dayak percaya pada roh-roh Sangiang nayu-nayu
(roh baik), dan Taloh, kambe (roh jahat). Masyarakat Balikpapan yang menganut
kepercayaan kaharingan juga ada, namun tidak tinggal di tengah kota.
Adapun beberapa upacara adat dalam masyarakat Dayak meliputi upacara
pembakaran mayat, upacara menyambut kelahiran anak, dan upacara penguburan
mayat.Upacara pembakaran mayat disebut tiwah dan abu sisa pembakaran diletakkan
di sebuah bangunan yang disebut tambak.
Balikpapan juga masih banyak yang melakukan ritual- ritual untuk menolak bala,
perkawinan dll. Masyarakat dipinggir Balikpapan masih banyak juga yang memiliki
benda- benda ritual untuk kelancaran beberapa ritual yang diadakan. Berikut adalah
benda- benda ritual yang dimiliki oleh suku yang ada di sekitar masyarakat
Balikpapan:

17

Mandau Batu yang bajanya bisa lemas dan layaknya samurai bisa
dibengkokkan;

Kalung Manik-manik bernuansakan magis;

Piring antik basah (anti kebakaran);

Guci-guci keramat

Mandau terbang : parang beneran yg diterbangkan ribuan jin/roh-roh untuk


membunuh musuh

versi melayu (islam) : dengan menggunakan tangan yang di ibaratkan tangan


maka sejauh mata memandang musuh- musuh bisa ditebas( hanya di dalam
tubuhnya ) ada beberapa masyarakat islam melayu di kalimantan mempunyai
ilmu ini.

Mandau batu merupakan bahan mandaunya berasal dari besi yang terkandung di
dalam batu kali, di Kalimantan Tengah sendiri ada dua aliran sungai yang menjadi
asal batu tersebut yang biasanya di sebut Sanaman Mantikei ( asal dari sungai
Mantikei berada di Kabupaten Katingan ) dan Sanaman Montalat ( asal dari sungai
Montalat berada di Kabupaten Barito Utara ) ciri besi ini berbentuk cair ( semacam
otak dari batu )
d. Sistem Teknologi (Arditya Rifdi Budiman, J3B114038)
Teknologi yang dimiliki oleh sekitar masyarakat Kota Balikpapan sudah
termasuk modern, yaitu sudah terdapat transportasi berupa mobil dan motor,
namun tidak terlalu banyak. Terdapat pula penggunaan teknologi untuk bahan
tambang yang masih menggunakan teknologi sederhana, seperti cangkul,
golok dll. Teknologi untuk alat perkebunan yang dapat digunakan untuk
sbebagai macam kegiatan juga masih digunakan. Terdapat rumah adat,
senjata khas, dan kerajinan tangan.
Rumah panjang yang merupakan rangkaian tempat tinggal yang bersambung
telah dikenal semua suku Dayak, terkecuali suku Dayak Punan yang hidup
mengembara, pada mulanya berdiam dalam kebersamaan hidup secara komunal di
rumah panjang, yang lazim disebut Laou, Lamin, Betang, dan Lewu Hante. Persepsi
suku Dayak tentang rumah panjang tercakup dalam minimal empat aspek penting
dari rumah panjang itu sendiri yaitu aspek penghunian, aspek hukum dan peradilan,
aspek ekonomi, dan aspek perlindungan dan keamanan. Tidak berlebihan bila rumah
panjang bagi suku Dayak merupakan centre for Dayak creation, art and inspiration.
Lebih dari itu, rumah panjang merupakan wujud konkrit dari solidaritas sosial
budaya suku Dayak di masa lampau, bahkan menurut Layang dan Kanyan (1994)
bahwa rumah panjang merupakan pusat kebudayaan Dayak, karena hampir seluruh
kegiatan mereka berlangsung di sana. Rumah Panjang adalah hasil karya asli dari
masyarakat suku Dayak.

18

Gambar 6. Rumah Panjang

Senjata khas yang di miliki suku Dayak di Kalimantan yang tidak di miliki oleh
suku lainnya adalah mandau dan sumpit. Senjata khas yang disebut mandau terbuat
dari lempengan besi yang ditempa berbetuk pipih panjang seperti parang berujung
runcing menyerupai paruh burung yang bagian atasnya berlekuk datar
Kerajinan tradisional dari orang Dayak berupa anyam-anyaman yang terbuat dari
bahan baku rotan, terdapat di semua suku Dayak dengan pelbagai versi. Hal yang
tampak khas terdapat dalam dua bentuk yaitu anyam tikar dengan aneka macam
motif hias dan sejenis keranjang bertali yang lazim disebut anjat, kiang, berangka
dan sebagainya.
e. Sistem Organisasi Sosial (Shelvy Lositasari, J3B114025)
Organisasi sosial adalah perkumpulan sosial yang dibentuk oleh masyarakat,
baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum, yang berfungsi
sebagai sarana partisipasi masyarakat dalam pembangunan bangsa dan
negara.Masyarakat non perkotaan Balikpapan memiliki organisasi sosial yaitu
Komando Pengawal Pusaka Adat Dayak Borneo (KOPPAD Borneo) adalah sebuah
Organisasi Kemasyarakatan (ORMAS) kedaerahan yang berbasis Adat yang
didirikan pada tanggal 1 Januari 2009 di Balikpapan, Kalimantan Timur. Tujuan
utama Organisasi ini didirikan adalah dalam rangka memperjuangkan harkat dan
martabat Masyarakat Adat Dayak di Bumi Borneo, berupaya menggali menjaga
mengawal dan melestarikan nila-nilai adat istiadat, seni budaya dayak sebagai
warisan yang tak ternilai harganya yang merupakan Pusaka Dayak.
Visi dari organisasi sosial ini yaitu Mewujudukan generasi yang berkualitas,
tangguh, berintegritas dan unggul segala bidang, dan siap menjadi pemimpin masa
depan. Dengan misinya yaitu menggali,mengembangkan dan melestarikan nilainilai Adat Istiadat dan Seni Budaya Dayak yang merupakan Pusaka Dayak,
menunjang program Pemerintah Pusat maupun Daerah dalam bidang pengembangan
Pariwisata.
.

19

Gambar 7 Pengukuhan Personalia Pengurus KOPPAD Borneo

f. Sistem Pengetahuan (Shelvy Lositasari, J3B114025)


Sistem pengetahuan ini berkaitan dengan kehidupan masyarakat sehari-hari,
contohnya saja seperti pengetahuan alam dimana masyarakat dapat mengetahui
tanda-tanda alam dari gejala-gejala alam tersebut. Sistem pengetahuan pada
masyarakat non perkotaan di Balikpapan yaitu pengetahuan mengenai gejala-gejala
alam. Suku dayak tepatnya memperoleh padi dan ladang yang banyak sehingga
melahirkan sistem pengetahuan yang berpengaruh terhadap perladangan. Menurut
Mudiyono (1995) pengetahuan tentang gejala alam berkaitan dengan perladangan
pada orang Dayak di Kalimantan adalah pengetahuan tentang bintang tujuh. Apabila
bintang tujuh telah timbul maka pada malam hari udara akan menjadi amat dingin
hingga pagi hari adalah suatu pertanda bahwa tujuh di Timur, sedangkan bintang satu
lebih rendah dari bintang tujuh menandakan bahwa orang sudah boleh menanam
padi. Apabila di langit tampak garis seperti tembok dan awan menyerupai sisik ikan,
maka orang mengetahui bahwa musim kemarau telah tiba. Sebaliknya jika langit
tampak merah pada pagi hari dan awan menggumpal seperti gunung adalah pertanda
bahwa hari atau musim penghujan segera tiba.
g. Kesenian (Shelvy Lositasari, J3B114025)
Kesenian adalah bagian dari budaya dan merupakan sarana yang digunakan
untuk mengekspresikan rasa keindahan dari dalam jiwa manusia. Dari segi ragam
kesenian terbagi seni musik, seni rupa, seni tari. Kesenian yang terdapat pada
masyarakat non perkotaan Balikpapan ini yaitu dari seni tari seperti Tari Gantar, Tari
Kancet Papatai / Tari Perang, Tari Kancet Ledo / Tari Gong, Tari Kancet Lasan, Tari
Leleng, Tari Hudoq, Tari Pecuk Kina. Alat musik dari suku dayak yaitu alat Musik
Sampek, dan adapula senjata kebudayaan dayak yaitu Mandau.

20

1. Tari Gantar
Tari Gantar adalah salah satu tarian tradisional Kalimantan yang
menggambarkan gerakan orang sedang menanam padi. Tongkat menggambarkan
kayu penumbuk, sedangkan bambu serta biji-bijian di dalamnya menggambarkan
benih padi dan wadahnya.

Gambar 8 Tari Gantar Suku Dayak


2. Tari Kancet Papatai / Tari Perang
Tari Kancet Papatai / Tari Perang menceritakan tentang perang. Dayak Kenyah
berperang melawan musuhnya.Gerakan tarian ini sangat lincah, gesit, dan penuh
semangat. Tari Kancet Papatai penari menggunakan pakaian tradisional suku Dayak
Kenyah dilengkapi dengan peralatan perang seperti Mandau, perisai dan baju perang.
Tari ini diiringi dengan lagu Sak Paku dan hanya menggunakan alat musik Sampe.

Gambar 9 Tari Kancet Papatai


3. Tari Kancet Ledo / Tari Gong
Tari Kancet Ledo atau disebut juga Tari Gongadalah tariyang mengekspresikan
tentang kelembutan seorang wanita dengan menari di atas Gong dengan gerakan
yang lemah lembut dan penuh keseimbangan.Tari ini mengungkapkan kecantikan,
kepandaian dan lemah lembut gerakan tari.Tari Gong ditarikan di atas sebuah Gong,
diiringi dengan alat musik Sapeq ( alat musik yang dipetik seperti kecapi).

21

Gambar 10 Tari Kancet Ledo


4. Tari Kancet Lasan
Tari Kancet Lasan menggambarkan kehidupan sehari-hari burung Enggang,
burung yang dimuliakan oleh suku Dayak Kenyah karena dianggap sebagai tanda
keagungan dan kepahlawanan. Tari Kancet Lasan merupakan tarian tunggal wanita
suku Dayak Kenyah yang sama gerak dan posisinya seperti Tari Kancet Ledo, namun
si penari tidak mempergunakan gong dan bulu-bulu burung Enggang dan juga penari
banyak mempergunakan posisi merendah dan berjongkok atau duduk dengan lutut
menyentuh lantai. Tarian ini lebih ditekankan pada gerak-gerak burung Enggang
ketika terbang melayang dan hinggap bertengger di dahan pohon.

Gambar 11 Kancet Lasan


5. Tari Leleng
Tarian ini menceritakan seorang gadis bernama Utan Along yang akan
dikawinkan secara paksa oleh orangtuanya dengan pemuda yang tak dicintainya.
Utan Along akhirnya melarikan diri kedalam hutan.Tarian gadis suku Dayak Kenyah
ini ditarikan dengan diiringi nyanyian lagu Leleng.

Gambar 12 Tari Leleng

22

6. Tari Hudoq
HUDOQ adalah tarian topeng yang bagi suku / etnis Bahau di percaya sebagai
tarian kedatangan para dewa utusan Sang Pencipta ke dalam dunia , untuk
menjaga dan melindungi kehidupan dan tanaman padi yang baru di tanam. Karena
kuatir manusia bisa ketulahan / sakit / mati, bila melihat / memandang langsung
wajah para dewa, maka NALING LEDAANG pemimpin para dewa, mengajak
teman temannya membuat topeng dari pohon kayu Jelutung / Jabon /Kitaaq, dan
membuat pakaian dari daun pisang uraan Untuk menutupi seluruh tubuh mereka .
Tarian hudoq yang asesorisnya terbuat dari macam macam tanaman bunga atau
daun pakis, pada puncak acara ditutup dengan membuang dan mencuci wajah dari
arang dengan tujuan kembali pada kehidupan.

Gambar 13 Tari Hudoq


7. Tari Pecuk Kina
Tarian ini menggambarkan perpindahan suku Dayak Kenyah yang berpindah
dari daerah Apo Kayan (Kab.Bulungan) ke daerah Long Segar (Kab.Kutai Barat)
yang memakan waktu bertahun-tahun.

Gambar 14 Tari Pecuk Kina


8. Alat Musik Sampek
Sampek adalah alat musik tradisional Suku Dayak. Alat musik ini terbuat dari
berbagai jenis kayu. Alat musik ini dimanikan dengan cara dipetik. Namun,yang
paling sering dijadikan bahan adalah kayu arrow,kayu kapur dan kayu ulin dan dibuat
secara tradisional. Proses pembuatan bisa memakan waktu berminggu minggu.

23

Dibuat dengan 3 senar,4 senar dan 6 senar. Biasanya sampek akan diukir sesuai
dengan keinginan pembuatnya, dan setiap ukiran memiliki arti.

Gambar 15 Sampek

9. Mandau

Mandau adalah senjata tajam sejenis parang berasal dari kebudayaan Dayak di
Kalimantan. Mandau termasuk salah satu senjata tradisional Indonesia. Berbeda
dengan arang,mandau memiliki ukiran-ukiran di bagian bilahnya yang tidak tajam.
Sering juga dijumpai tambahan lubang-lubang di bilahnya yang ditutup dengan
kuningan atau tembaga dengan maksud memperindah bilah mandau. Mandau berasal
dari asal kata MAn-Da-U adalah nama seseorang yang datang ke pulau kalimantan
yaitu dari suku kuno china Namman atau Barbar Selatan. Man Da U adalah nama
seseorang yang pertama membuat bentuk senjata pedang yang menyerupai bentuk
bilah pedang/parang mandau saat ini.

Gambar 16 Mandau

24

VI.

KESIMPULAN

Dapat diketahui bahwa masyarakat Non Perkotan di Balikpapan masih


banyak menganut tradisi nenek moyang. Banyak pula yang mulai merubah tradisi
asli suku Dayak, seperti cara berpakaian, berbahasa sehari- hari, dll. Masyarakat non
perkotaan di Balikpapan masih banyak yang menggunakan teknologi yang ada di
kota namun tidak mendominasi dan lebih banyak yang menggunakan teknologi
sederhana. Inti kesimpulan bahwa masih banyaknya tradisi yang masih terjaga di
daerah sekitar Balikpapan.

25

26

DAFTAR PUSTAKA
Sumakno, Aji. 2008. Seni Budaya Rupa. Jakarta: PT Galaxy Puspa Mega.
Koentjaraningrat.1974. Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta. PT
Gramedia.
Tommy Christomy, Untung Yuwono. Semiotika Budaya. Depok. Pusat Penelitian
Kemasyarakatan dan Budaya Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat
Universitas Indonesia.
A. Gede, Wiranata B.2002. Antropologi Budaya. Jakarta. PT Citra Aditya Bakti.
Wahyu. 2005.Perubahan Sosial dan Pembangunan.Jakarta. Hecca Publihing.
---.2015. Web Content Kamus Besar bahasa Indonesia
https://kbbi.web.id/spiritual
[Senin, 7 September 2015 20.30]
---.2015. Web Content Kamus Besar bahasa Indonesia
(link): http://kbbi.web.id/budaya
---.2015. Web Content Masyarakat non perkotaan
https://nido05.wordpress.com/masyarakat-pedesaan-dan-masyarakat-perkotaan/
[Minggu, 11 September 2015 22.35]
---.2015. Web Content Organisasi sosial suku dayak
http://koppadborneo.org/
[Jumat, 11 September 2015 08.00]
---.2015. Web Content Tari tradisional suku dayak
http://www.tradisikita.my.id/2015/01/14-tari-tradisional-dari-kalimantan.html
[Jumat, 11 September 2015 08.30]

27