Anda di halaman 1dari 33

Laporan Kasus

Hemoroid Grade III

Penyusun:
Melani Sugiarti
11 2014 140
Pembimbing:
dr. Rachmat, Sp.B
dr. Diah Asih. L, Sp.B
dr. Michael, Sp.B
dr. Rino Mardian, Sp.B

Kepaniteraan Klinik Bedah


Periode 27 Juli 2015 3 Oktober 2015
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
RSUD Tarakan
2015

FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA


(UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA)
Jl. Arjuna Utara No.6 Kebon Jeruk - Jakarta Barat
KEPANITERAAN KLINIK
STATUS ILMU BEDAH
Hari / Tanggal Ujian / Presentasi Kasus :
RUMAH SAKIT
: RSUD Tarakan
Nama
: Melani Sugiarti
NIM
: 11-2014-140

Tanda Tangan

.......................

Periode
: 27 Juli 2015 3 Oktober 2015
Pembimbing/Penguji: dr. Rachmat Sp.B, dr. Michael Sp.B, dr. Diah Asih L Sp. B, dr. Rino
Mardian Sp.B
I.

IDENTITAS PASIEN

Nama lengkap : Ny. S (01139569)

Jenis kelamin : Perempuan

Tempat/tanggal lahir: Jakarta, 30-9-1965

Suku Bangsa : Jawa

Status Perkawinan : Menikah

Agama : Islam

Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

Pendidikan : SD

Alamat

Tanggal Masuk RS : 4 Agustus 2015

: Palmerah, Jakarta

II. ANAMNESIS
Diambil dari : Autoanamnesis,

tanggal: 14 Agustus 2015

jam : 16.14 WIB

Keluhan utama :
Lemas sejak 3 hari SMRS
Riwayat Penyakit Sekarang:
Sejak 6 bulan SMRS, os merasa BAB disertai darah. Pasien menyadari saat BAB, menetes
darah berwarna merah segar dan terdapat benjolan yang dapat masuk bila di dorong dengan
jari. BAB berdarah namun tidak berlendir. Pasien kurang mengetahui seberapa banyaknya
darah yang keluar saat BAB. Benjolan dirasakan semakin membesar setiap habis BAB.
Menurut pasien benjolan di anusnya sudah dirasakan 2 tahun yang lalu, namun benjolan
masih dapat masuk sendiri. Pasien hanya pergi ke puskesmas dan pulang setelahnya. Os juga
mengeluh nyeri saat BAB. Nyeri dirasakan terutama saat setelah BAB dan ketika os duduk.
Nyeri dirasakan semakin hari semakin memburuk.

Sejak 3 hari SMRS, os mengeluh badan terasa lemas. Lemas dirasakan meskipun os tidak
melakukan aktifitas. Lemas dirasakan makin hari makin memburuk. Os juga merasa pusing
berputar, pandangan menjadi gelap seketika dan terasa ingin terjatuh bila os bangun untuk
berdiri. Os mengaku tidak merasa sedang menderita batuk, demam, sesak, nyeri perut dan
dada, mual dan muntah.
Os mengaku BAB hanya 2-3 kali dalam seminggu. Os mengaku BAB dengan kotoran yang
sering keras, bentuk kotoran normal, tidak lancar dan sulit untuk keluar hingga harus
mengedan. Riwayat flatus dan BAK tidak ada gangguan. Os memiliki riwayat tidak suka
makan sayur dan buah-buahan, kurang minum air putih, dan suka makan makanan yang
pedas. Riwayat OAT 6 tahun SMRS dan telah dinyatakan sembuh dari kuman TBC. Riwayat
darah tinggi, diabetes mellitus, sakit jantung, alergi obat sebelumnya disangkal. Kebiasaan
merokok, minum kopi, minum-minuman beralkohol, dan obat jangka panjang disangkal.
Riwayat Hidup
Riwayat Kelahiran
Tempat lahir : () Di rumah
(-) Rumah Bersalin
Ditolong oleh : (-) Dokter (-) Bidan
() Dukun

(-) R.S. Bersalin


(-) Lain-lain

Kehidupan Berkeluarga dan Perkawinan


Adakah kesulitan:
Pekerjaan : Keuangan : Keluarga : Lain-lain : Riwayat Imunisasi
(-) Hepatitis (-) BCG
(-) lainnya tidak diketahui

(-) Campak

(-) DPT

(-) Polio

(-) Tetanus

Riwayat makanan
Frekuensi/hari : 2x sehari
Jumlah/hari : porsi sedang
Variasi/hari : bervariasi
Nafsu makan : tidak menurun
Penyakit Dahulu ( Tahun, diisi bila ya ( + ), bila tidak ( - ))
(-) Wasir/hemorroid
(-) Appendisitis
(-) Penyakit jantung bawaan

(-) Batu ginjal / Saluran kemih (-) Tumor


(-) Burut (Hernia)
(-) Penyakit prostat
(-) Typhoid
(-) Diare Kronis
(-) Batu empedu
(-) Diabetes melitus
(-) Tifus abdominalis
(-) Kelainan kongenital
(-) Ulkus Ventrikuli
(-) Colitis
(+) Tuberkulosis
(-) Tetanus
(-) Invaginasi
(-) Hepatitis
(-) Penyakit degeneratif
(-) Fistel
(-) Luka bakar
(-) Struma, tiroid
Lain Lain:
(-) Operasi................................

(-) Perdarahan Otak


(+) Gastritis
(-) Hipertensi
(-) Penyakit pembuluh darah
(-) ISK
(-) Volvulus
(-) Abses Hati
(-) Patah tulang

(-) Kecelakaan

Riwayat Keluarga
Hubungan
Kakek
Nenek
Ayah
Ibu
Saudara
Anak - anak

Umur
(Tahun )
76

Jenis Kelamin
Laki-laki
Perempuan
Laki-laki

Penyebab
Meninggal
Hemoroid, Hipertensi
Keadaan Kesehatan

74

Perempuan

Hipertensi

28

Laki-laki

Adakah kerabat yang menderita :


Penyakit
Alergi
Asma
Tuberkulosis
Artritis
Rematisme
Hipertensi
Jantung
Ginjal
Lambung

Ya

Tidak

Hubungan
Ayah dan Ibu
-

II. ANAMNESIS SISTEM


Catat keluhan tambahan positif disamping judul - judul yang bersangkutan
Harap diisi: Bila ya (+), bila tidak (-)
Kulit
(-) Bisul
(-) Kuku
Kepala

(-) Rambut
(-) Kuning / Ikterus

(-) Keringat malam


(-) Sianosis

(-) Trauma

(-) Sakit Kepala

(-) Nyeri pada sinus

(-) Merah
(-) Sekret

(-) Trauma
(-) Nyeri

(-) Kuning/ikterus
(-) Ketajaman penglihatan

Mata

Telinga
(-) Nyeri
(-) Sekret

(-) Gangguan pendengaran


(-) Tinitus

Hidung
(-) Rhinnorhea
(-) Nyeri
(-) Sekret

(-) Trauma
(-) Epistaksis
(-) Tersumbat
(-) Benda asing/foreign body
(-) Gangguan penciuman

Mulut
(-) Bibir
(-) Gusi

(-) Lidah
(-) Mukosa

Tenggorokan
(-) Nyeri tenggorokan

(-) Perubahan suara

Leher
(-) Benjolan

(-) Nyeri leher

Thorax (Cord dan Pulmo)


(-) Sesak napas
(-) Batuk

(-) Nyeri dada


(-) Mengi

(-) Batuk darah


(-) Berdebar-debar

Abdomen (Lambung/Usus)
(-) Mual
(+) Tinja berdarah (+) Konstipasi
(-) Diare
(-) Benjolan
(-) Nyeri kolik
(-) Nyeri epigastrium (-) Muntah
(-) Tinja berwarna dempul
Saluran kemih/Alat kelamin
(-) Disuria
(-) Hematuria
(-) Hesistancy
(-) Nokturia
(-) Kencing batu
(-) Urgency
Katamenia
(-) Leukore
Haid
Kapan haid terakhir?

(-) Perdarahan

(-) Kolik
(-) Retensio urin

(-) Lain lain

(-) Jumlah dan lamanya haid


(-) Nyeri
(-) Gangguan haid

(-) Teratur/tidak:
(-) Gejala klimakterium
(-) Pasca menopause

Saraf dan otot


(-) Riwayat Trauma

(-) Nyeri

Ekstremitas
(-) Bengkak
(-) Nyeri

(-) Deformitas
(-) Sianosis

BERAT BADAN
Berat badan rata-rata (Kg)
Berat badan tertinggi (Kg)
Berat badan sekarang

(-) Bengkak

: 40 kg
: 43 kg
: 38 kg
(-) Tetap

(+) Turun

(-) Naik

III. STATUS GENERALIS


Keadaan umum
: Tampak sakit sedang
Kesadaran
: Compos mentis
Tanda-tanda vital
TD: 110/70mmHg
Kulit
Kepala
Mata
Telinga
Hidung
Tenggorokan
Leher

:
HR: 85x/menit

RR: 22x/menit

S: 37,2C

: warna kulit sawo matang, tidak ditemukan lesi atau luka bekas operasi
: normocephali, rambut hitam, terlihat banyak uban, distribusi merata
: pupil isokor, konjungtiva anemis +/+, sklera ikterik -/-, refleks cahaya +/+
: normotia, MAE lapang, sekret -/-, abses -/: deviasi septum -, deformitas -, sekret -, perdarahan : tonsil T1 T1 tenang, faring tidak hiperemis, uvula ditengah
: KGB leher kelenjar tiroid tidak teraba membesar

Thoraks
Paru-paru
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi
Jantung
Inspeksi
Palpasi

: pergerakan kedua paru simetris pada keadaan statis dan dinamis,


tidak terlihat adanya benjolan/lesi/bekas luka operasi
: vocal fremitus sama pada paru kanan dan kiri, nyeri tekan : sonor di kedua lapang paru
: suara nafas vesikuler, ronkhi-/-, wheezing -/: ictus cordis tidak terlihat
: nyeri tekan -, ictus cordis teraba pada linea midclavicularis sinistra
iga ke 5

Perkusi
Auskultasi
Abdomen
Inspeksi
Palpasi

Perkusi
Auskultasi

: jantung dalam batas normal


: BJ I dan II reguler, gallop -, murmur -

: datar, tidak ada benjolan, tidak tampak bekas luka operasi, distensi
abdomen -, lesi -, darm contour -, darm steifung : supel di seluruh lapang abdomen, nyeri tekan -, defans muscular -,
nyeri lepas Hati : dalam batas normal
Limpa : dalam batas normal
Ginjal : ballotement -/-, bimanual -/-, nyeri ketok CVA -/: timpani
: bising usus +, normoperistaltik, metalik sound -, borborygmus -

Alat Kelamin (atas indikasi)


Pria
Penis
: tak diperiksa
Skrotum
: tak diperiksa
Testis
: tak diperiksa
Wanita
Fluor albus/darah
: tak diperiksa
Colok Dubur(atas indikasi) :
Tonus sfingter ani kuat, mukosa rectum licin, ampula recti lapang teraba feses, teraba massa
pada arah jam 10, 11, 12, 1, 5,8 konsistensi kenyal dengan diameter 1 cm, nyeri tekan -.
Pada sarung tangan ditemukan feses berwarna merah kecoklatan, darah +.
Ekstremitas (lengan & tungkai)
Tonus : normotonus
Massa : Sendi : dalam batas normal
Kekuatan :
5+
5+

Edema :

5+

5+

sensoris :

sianosis :

5+

5+

5+

5+

Refleks
Refleks Tendon
Bisep
Trisep
Patella
Achiles

Kanan

Kiri

Positif
Positif
Positif
Positif

Positif
Positif
Positif
Positif

Kremaster
Kulit
Refleks Patologis

Positif
Positif
Negatif

Positif
Positif
Negatif

IV. STATUS LOKALIS REGIO ANOREKTAL


Inspeksi
Palpasi

: tampak massa pada arah jam 10, 11, 12, 1, 5, 8 diameter 1cm, plexus
hemoroid melebar, warna kemerahan, hematom perianal -, abses : konsistensi teraba kenyal, batas tegas, nyeri tekan -, benjolan dapat dimasukkan
dengan jari.

V. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratorium 4 Agustus 2015, pukul 09:15 di IGD

Darah Rutin:
Hemoglobin

: 6.1

Hematokrit

: 18.3 %

35 - 45

Eritrosit

: 2.63 juta/L

4-5

Leukosit

: 5.420

Trombosit

: 321.000/mm3

150.000 - 450.000

11 - 16.5

Natrium (Na)

: 145 mEq/L

135 - 150

Kalium (K)

: 3.2

3.6 - 5.5

Clorida (Cl)

: 103 mEq/L

94 - 111

: 112

mg/dL

< 140

: 19
:9

U/L
U/L

< 32
< 33

/mm3

4.000 - 10.000

Elektrolit:

Glukosa darah sewaktu

Fungsi Liver
AST (SGOT)
ALT (SGPT)

g/dL

Fungsi Ginjal

mEq/L

Ureum
Kreatinin

: 16 mg/dL
: 0.82 mg/dL

Anuskopi

: skin tag sirkuler, massa kembang kol -

EKG

: Kesan normal

Rontgen thorax

: fibrosis +

15 - 50
0.6 1.3

VI. RINGKASAN (RESUME)


Wanita 50 tahun keluhan lemas sejak 3 hari SMRS. Merasa pusing berputar, pandangan
menjadi gelap dan terasa ingin terjatuh bila akan bangun berdiri. Sejak 6 bulan SMRS, BAB
berdarah yang menetes dan berwarna merah segar dan terdapat benjolan di anus yang dapat
masuk bila di dorong dengan jari. Benjolan semakin besar setiap habis BAB. Benjolan sudah
dirasakan 2 tahun yang lalu, namun masih dapat masuk sendiri. Nyeri saat BAB terutama
setelah BAB dan ketika duduk. BAB 2-3 kali seminggu, sering keras, tidak lancar dan sulit
hingga harus mengedan. Riwayat tidak suka makan sayur dan buah, kurang minum air putih,
dan suka makan pedas. Riwayat OAT 6 tahun SMRS dan telah sembuh.
PF: TSS, CM, S: 37,2C, CA+/+, Rectal touch: Ampula recti lapang teraba feses, teraba
massa pada arah jam 10, 11, 12, 1, 5,8 konsistensi kenyal dengan diameter 1 cm. Pada
sarung tangan: feses berwarna merah kecoklatan, darah +.
Status lokalis:
Inspeksi
: tampak massa pada arah jam 10, 11, 12, 1, 5, 8 diameter 1cm, plexus
hemoroid melebar, warna kemerahan
Palpasi
: konsistensi teraba kenyal, batas tegas, benjolan dapat dimasukkan dengan jari.
Lab: Hb: 6.1 g/dL, Ht: 18.3 %, Eritrosit: 2.63 juta/L, K: 3.2 mEq/L, Anuskop: skin tag
sirkuler, massa kembang kol -, Rontgen thorax: fibrosis +.
VII. DIAGNOSIS KERJA
Diagnosis kerja pra bedah
Anemia ec Hemoroid grade III
Dasar diagnosis kerja
Dipikirkan anemia karena hemoroid karena pada anamnesis didapatkan adanya keluhan
lemas, pusing berputar, pandangan menjadi gelap, terasa ingin terjatuh bila akan bangun
berdiri, BAB dengan darah berwarna merah segar yang menetes pada saat BAB, nyeri saat
setelah BAB dan adanya benjolan yang timbul pada anus. Dipikirkan grade III karena
benjolan pada anus pasien tidak dapat masuk spontan namun masih dapat dimasukkan dengan
jari. Adanya keluhan BAB sering keras, tidak lancar dan sulit, riwayat tidak suka makan

sayur dan buah, kurang minum air putih, dan suka makan pedas mendukung diagnosis
hemoroid. Pada pemeriksaan konjungtiva anemis dan kadar Hb yang rendah mendukung
diagnosis anemia. Pemeriksaan RT teraba massa pada arah jam 10, 11, 12, 1, 5,8 konsistensi
kenyal dengan diameter 1 cm, pada sarung tangan terdapat feses berwarna merah
kecoklatan, darah + dan pemeriksaan anuskopi: skin tag sirkuler mendukung diagnosis
hemoroid.
Diagnosis kerja pasca bedah
Post operasi HAL-RAR
VIII. DIAGNOSIS DIFERENSIAL
1. Karsinoma kolorektal
Dasar diagnosis deferensial
Dipikirkan untuk menjadi diagnosis banding didasarkan pada benjolan yang keluar dari anus.
Karsinoma kolorektal dapat disingkirkan karena pada pemeriksaan rectal touch tidak teraba
massa padat yang berbenjol-benjol serta pada anamnesa tidak ditemukan darah bercampur
dengan kotoran, feses tidak seperti kotoran kambing, tidak terjadi penurunan BB yang
signifikan, tidak ada keluhan nyeri pada perut.
2. Polip Rekti
Dasar diagnosis deferensial
Dipikirkan untuk menjadi diagnosis banding didasarkan pada adanya perdarahan per anus,
gangguan defekasi berupa konstipasi meskipun kebanyakan polip tidak menimbulkan gejala.
Namun yang menyingkirkan diagnosis polip rekti adalah BAB yang tidak disertai lendir, pada
pemeriksaan rectal touch dan anuskopi tidak ditemukan bentuk yang bertangkai yang khas
pada polip.
IX. PENATALAKSANAAN
IVFD Ringer Asering /12jam
Tranfusi PRC 500 cc
Ardium 2x3tablet per oral
Ceftriaxone 1x2gr iv
Plasminex 3x1 ampul iv
Vit K 3x1 ampul iv
Curcuma 2x1 tablet per oral
Sanmol drip 3x1 iv
Sputum BTA 3x
Tindakan:
- HAL-RAR setelah perbaikan Hb
Edukasi :
- Menjelaskan kepada pasien dan keluarganya tentang penyakit
- Menjelaskan kepada pasien dan keluarganya tentang tindakan operasi yang akan
dilakukan

Diet tinggi serat


Minum air 2L/hari
Tidak menahan-nahan saat ingin BAB
Hindari mengedan saat BAB

Laporan Pembedahan (Elektif) Tanggal 12 Agustus 2015

Pasien dengan anastesi spinal


Dilakukan HAL arah jam 1 jam 11
Dilakukan RAR pada 3 tempat
Lama pembedahan 1,5 jam

Instruksi Post Operasi


- Tampon pada anus dibuka keesok harinya
- Kompres luka dengan NaCl
- Diet bubur sumsum, tinggi serat
Rencana Pemeriksaan Lanjutan(jika diperlukan)
- Tidak ada
X. PROGNOSIS
Ad vitam
Ad fungsionam
Ad sanationam

: dubia ad bonam
: dubia ad bonam
: dubia ad bonam

XI. FOLLOW UP
Tanggal 5-7 Agustus 2015
S:

Jam 07.00

Os mengeluh terasa sesak, lemas, batuk berdahak warna putih, demam naik turun,
pusing, BAB dan BAB lancar dan sudah tidak berdarah

O:

CM, TSS, TD:100/70mmHg, Nadi 82x/menit, RR 20x/menit, Suhu 37,4C


Konjungtiva anemis +/+, Paru: vesikuler, rh-/-, wh-/Laboratorium 6 Agustus 2015, pukul 09:29 di Ruang Mawar

Darah Rutin:
Hemoglobin

: 8.7

Hematokrit

: 26.4 %

35 - 45

Eritrosit

: 3.43 juta/L

4-5

Leukosit

: 4.562 /mm3

4.000 - 10.000

Trombosit

: 241.600/mm3

150.000 - 450.000

Hitung Jenis:

g/dL

11 - 16.5

Basofil
Eosinofil
Batang
Neutrofil
Limfosit
Monosit
Laju Endap Darah

%
%
%
%
%
%
mm/jam

0-1
1-2
2-6
54 - 62
25 - 33
3-7
0 - 20

Elektrolit:
Natrium (Na)

: 142 mEq/L

135 - 150

Kalium (K)

: 4.1

mEq/L

3.6 - 5.5

Clorida (Cl)

: 109 mEq/L

94 - 111

: 93

mg/dL

< 140

: 20
:7
: 0.40
: 0.09
: 6.08
: 3.29
: 2.79

U/L
U/L
mg/dL
mg/dL
g/dL
g/dL
g/dL

< 32
< 33
< 1.1
< 0.6
6.4 8.3
3.5 5.2
1.5 3.0

: 18 mg/dL
: 0.77 mg/dL

15 50
0.6 1.3

Glukosa darah sewaktu

Fungsi Liver

:0
:1
:0
: 78
: 14
:7
: 81

AST (SGOT)
ALT (SGPT)
Bilirubin Total
Bilirubin Direk
Protein Total
Albumin
Globulin

Fungsi Ginjal
Ureum
Kreatinin

Laboratorium 7 Agustus 2015, pukul 10:42 di Ruang Mawar

BTA 3x:
Dahak A (pertama)
Waktu Dahak

Sewaktu

Hasil

Negatif

Dahak B (kedua)
Waktu Dahak

Pagi

Hasil

Negatif

Dahak C (ketiga)
Waktu Dahak

Sewaktu

Hasil

Negatif

A:

Anemia ec Hemoroid grade III

P:

terapi dilanjutkan

O2 3L/menit
PCT 1x500mg tablet
Vectrin 2x300mg per oral
Karena Hb: 8mg/dL maka dilakukan transfusi PRC 250cc
Tanggal 8-10 Agustus 2015

Jam 07.00

S:

Masih lemas, batuk berdahak, sesak -, pusing +, BAB BAK tidak ada keluhan

O:

CM, TSS, TD: 120/80mmHg, Nadi 84x/menit, RR 20x/menit, Suhu 36C


Konjungtiva anemis -/-, Paru: vesikuler, rh-/-, wh-/Laboratorium 8 Agustus 2015, pukul 09:27 di Ruang Mawar

Darah Rutin:
Hemoglobin

: 11.1 g/dL

11 - 16.5

Hematokrit

: 33.4 %

35 - 45

Eritrosit

: 4.35 juta/L

4-5

Leukosit

: 5.373 /mm3

4.000 - 10.000

Trombosit

: 248.900/mm3

150.000 - 450.000

A:

Hemoroid grade III

P:

terapi dilanjutkan
Pro operasi HAL-RAR, minta tolerasi Paru dan Penyakit Dalam, dan pemeriksaan
BT-CT

Tanggal 11-13 Agustus 2015 Jam 07.00


S:

masih terasa lemas, sesak -, batuk -,

O:

CM, TSS, TD: 130/90mmHg, Nadi 88x/menit, RR 23x/menit, Suhu 36.5C


Konjungtiva anemis -/-, Paru: vesikuler, rh-/-, wh-/Laboratorium 11 Agustus 2015, pukul 09:43 di Ruang Mawar

Hemostasis:
Masa Perdarahan/BT : 2

menit

< 5 menit

Masa Pembekuan/CT : 11

menit

< 15 menit

PT (Protrombin Time): 15.5 detik


INR

: 1.07

PT Control

: 14.4 detik

12 - 19

12.3 18.9

A:

APTT

: 29.9 detik

27 - 43

APTT Control

: 32.0 detik

27 43

Pro operasi dari Paru dan Penyakit Dalam disetujui dengan resiko ringan sedang.
Post operasi HAL-RAR

P:

Pro operasi HAL-RAR, minta toleransi anastesi


Post operasi diberikan:
Anbacim 3x1 gr
Sanmol drip 3x1 gr
Valamin I + Frutrolit I /24 jam
Edukasi untuk mobilisasi aktif dan hanya boleh minum air putih, jika tidak kembung
setelah minum air 3-4jam, os boleh makan

Tanggal 14-16 Agustus 2015 Jam 07.00


S:

lemas -, sesak -, batuk -, BAB darah -, BAK tidak ada keluhan

O:

CM, TSS, 120/80mmHg, Nadi 86x/menit, RR 22x/menit, Suhu 36C


Konjungtiva anemis -/-, Paru: vesikuler, rh-/-, wh-/-

A:

Post operasi HAL-RAR

P:

Bedah boleh rawat jalan


Ardium dilanjutkan.
Kontrol poli bedah setelah 1 minggu

Tinjauan Pustaka
Hemoroid
Pendahuluan
Hemoroid merupakan penyakit daerah anus yang cukup banyak ditemukan pada
praktek dokter sehari-hari. Hemoroid memiliki sinonim piles, ambeien, wasir atau southern
pole disease dalam istilah di masyarakat umum. Keluhan penyakit ini antara lain buang air
besar sakit dan sulit, dubur terasa panas, serta adanya benjolan di dubur, perdarahan melalui
dubur dan lain-lain. Sejak dulu hemoroid hanya diobati oleh dukun-dukun wasir dan dokter
bedah, akan tetapi akhir-akhir ini karena kasusnya makin banyak semua dokter diperbolehkan
menangani hemoroid. Hemoroid memiliki faktor risiko cukup banyak antara lain kurang
mobilisasi, lebih banyak tidur, konstipasi, cara buang air besar yang tidak benar, kurang
minum air, kurang makanan berserat (sayur dan buah), faktor genetika/turunan, kehamilan,
penyakit yang meningkatkan tekanan intraabdomen (tumor abdomen, tumor usus), dan sirosis
hati. Penatalaksanaan hemoroid dibagi atas penatalaksanaan secara medik dan secara bedah
bergantung pada derajatnya.
Anatomi anorektal
Kanalis analis berasal dari proktoderm yang merupakan invaginasi ektoderm,
sedangkan rektum berasal dari entoderm. Karena perbedaan asal anus dan rektum ini,
perdarahan, persyarafan, serta penyaliran vena dan limfnya berbeda juga, demikian pula
epitel yang menutupinya. Rektum dilapisi oleh mukosa glanduler usus sedangkan kanalis
analis oleh anoderm yang merupakan lanjutan epitel berlapis gepeng kulit luar. Tidak ada
yang disebut mukosa anus. Daerah batas rektum dan kanalis analis ditandai dengan
perubahan jenis epitel. Kanalis analis dan kulit luar di sekitarnya kaya akan persarafan
sensoris somatik dan peka terhadap rangsangan nyeri, sedangkan mukosa rektum mempunyai
persarafan otonom dan tidak peka terhadap nyeri. Nyeri bukanlah gejala awal pengidap
karsinoma rektum, sementara fisura anus nyeri sekali. Darah vena diatas garis anorektum
mengalir melalui sistem porta, sedangkan yang berasal dari anus dialirkan ke sistem kava
melalui cabang vena iliaka. Distribusi ini menjadi penting dalam upaya memahami cara
penyebaran keganasan dan infeksi serta terbentuknya hemoroid. Sistem limfe dari rektum
mengalirkan isinya melalui pembuluh limf sepanjang pembuluh hemoroidalis superior ke

arah kelenjar limf paraaorta melalui kelenjar limf iliaka interna, sedangkan limf yang berasal
dari kanalis analis mengalir ke arah kelenjar inguinal.1
Kanalis analis berukuran panjang kurang lebih 3 sentimeter. Sumbunya mengarah ke
ventrokranial yaitu ke arah umbilicus dan membentuk sudut yang nyata ke dorsal dengan
rektum dalam keadaan istirahat. Pada saat defekasi sudut ini menjadi lebih besar. Batas atas
kanalis anus disebut garis anorektum, garis mukokutan, linea pektinata, atau linea dentate. Di
daerah ini, terdapat kripta anus dan muara kelenjar anus antara kolumna rektum. Infeksi yang
terjadi di sini dapat menimbulkan abses anorektum yang dapat membentuk fistel. Lekukan
antar sfingter sirkuler dapat diraba di dalam kanalis analis sewaktu melakukan colok dubur,
dan menunjukkan batas antara sfingter intern dan sfingter ekstern (garis Hilton).1
Cincin sfingter anus melingkari kanalis analis dan terdiri dari sfingter intern dan
sfingtern ekstern. Sisi posterior dan lateral cincin ini terbentuk dari fusi sfingter intern, otot
longitudinal, bagian tengah otot levator (puborektalis), dan komponen otot sfingter eksternus.
Otot sfingter internus terdiri atas serabut otot polos, sedangkan otot sfingter eksternus terdiri
atas serabut otot lurik.1

Gambar 1. Anatomi anorektum.1

Sistem arteri
Arteri hemoroidalis superior merupakan kelanjutan langsung arteri mesenterika
inferior. Arteri ini membagi diri menjadi dua cabang utama, kiri dan kanan. Cabang yang
kanan bercabang lagi. Letak ketiga cabang terakhir ini mungkin dapat menjelaskan letak
hemoroid dalam yang khas yaitu dua buah di setiap perempat sebelah kanan dan sebuah di
perempat lateral kiri. Arteri hemoidalis medialis merupakan percabangan anterior arteri iliaka
interna, sedangkan arteri hemoroidalis inferior merupakan cabang arteri pudenda interna.
Anastomosis antara arkade pembuluh inferior dan superior menjadi sirkulasi kolateral yang
mempunyai makna penting pada tindak bedah atau sumbatan aterosklerotik di daerah
percabangan aorta dan arteri iliaka. Anastomosis tersebut ke pembuluh kolateral hemoroid
inferior dapat menjamin pendarahan di kedua ekstremitas bawah. Pendarahan di pleksus
hemoroidalis merupakan kolateral luas dan kaya sekali darah sehingga perdarahan dari
hemoroid intern menghasilkan darah segar yang berwarna merah dan bukan darah vena
warna kebiruan.1
Sistem vena
Vena hemoroidalis superior berasal dari pleksus hemoroidalis internus dan berjalan ke
arah kranial ke dalam vena mesenterika inferior dan seterusnya melalui vena lienalis ke vena
porta. Vena ini tidak berkatup sehingga tekanan rongga perut menentukan tekanan di
dalamnya. Karsinoma rektum dapat menyebar sebagai embolus septik dapat menyebabkan
pileflebilitis. Vena hemoroidalis inferior mengalirkan darah ke dalam vena pudenda interna
dan ke dalam vena iliaka interna dan sistem kava. Pembesaran vena hemoroidalis dapat
menimbulkan keluhan hemoroid.1
Penyaliran limf
Pembuluh limf dari kanalis membentuk pleksus halus yang menyalirkan isinya
menuju ke kelenjar limf inguinal. Selanjutnya, cairan limf terus mengalir sampai ke kelenjar
limf iliaka. Infeksi dan tumor ganas di daerah anus dapat mengakibatkan limfadenopati
inguinal. Pembuluh limf dari rektum di atas garis anorektum berjalan seiring dengan vena
hemoroidalis superior dan melanjut ke kelenjar limf mesenterika inferior dan aorta. Operasi
radikal untuk eradikasi karsinoma rektum dan anus didasarkan pada anatomi saluran limf ini.1

Gambar 2. Perdarahan dan penyaliran limf rektum.1


Persarafan
Persarafan rektum terdiri atas sistem simpatik dan sistem parasimpatik. Serabut
simpatik berasal dari pleksus mesenterikus inferior dan dari sistem parasakral yang terbentuk
dari ganglion simpatis lumbal ruas kedua, ketiga, dan keempat. Unsur simpatis pleksus ini
menuju ke arah struktur genital dan serabut otot polos yang mengendalikan emisi air mani
dan ejakulasi. Persarafan parasimpatik (nervi erigentes) berasal dari saraf sacral kedua,
ketiga, dan keempat. Serabut saraf ini menuju ke jaringan erektil penis dan klitoris serta
mengendalikan ereksi dengan cara mengatur aliran darah ke dalam jaringan ini. Oleh karena
itu, cedera saraf yang terjadi pada waktu operasi radikal panggul seperti ekstirpasi radikal
rektum atau uterus, dapat menyebabkan gangguan fungsi vesika urinaria dan gangguan fungsi
seksual. Muskulus puborektal mempertahankan sudut anorektum; otot ini mempertajam sudut
tersebut bila meregang dan meluruskan usus bila mengendur.1

Gambar 3. Sudut anorektum.1


Kontinensia
Kontinensia anus bergantung pada konsistensi feses, tekanan di dalam anus, tekanan
di dalam rektum dan sudut anorektal. Makin encer feses, makin sukar untuk menahannya di
dalam usus. Tekanan pada suasana istirahat di dalam anus berkisar antara 25-100mmHg dan
di dalam rektum antara 5-20mmHg. Jika sudut antara rektum dan anus lebih dari 80 derajat,
feses sukar dipertahankan.1
Defekasi
Pada suasana normal, rektum kosong. Pemindahan feses dari kolon sigmoid ke dalam
rektum kadang-kadang dicetuskan oleh makan, terutama pada bayi. Isi sigmoid yang masuk
ke dalam rektum akan dirasakan oleh rektum sehingga menimbulkan keinginan untuk
defekasi. Rektum mempunyai kemampuan khas untuk mengenal dan memisahkan bahan
padat, cair dan gas. Sikap badan sewaktu defekasi, yaitu sikap duduk atau jongkok,
memegang peranan yang berarti. Defekasi terjadi akibat refleks peristalsis rektum, dibantu
oleh mengedan dan relaksasi sfingter anus eksterna.1
Syarat untuk defekasi normal ialah persarafan sensibel untuk sensasi isi rektum dan
persarafan sfingter anus untuk kontraksi dan relaksasi yang utuh, peristalsis kolon dan rektum
tidak terganggu, dan struktur anatomi organ panggul yang utuh.1

Pemeriksaan proktologi
Hampir semua gangguan atau penyakit pada anorektum dapat dibuat diagnosisnya
berdasarkan riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik termasuk inspeksi dan palpasi daerah
perianus serta pemeriksaan rectal secara digital, pemeriksaan anoskopi, dan pemeriksaan
proktosigmoidoskopi.1
Definisi
Hemoroid terjadi akibat pembendungan struktur vaskular normal selama mengedan.
Hemoroid interna adalah vena dengan mukosa di atas linea dentata. Berlokasi di anterolateral
dan posterolateral kanan, dan lateral kiri. Dapat prolaps atau berdarah. Tidak menyebabkan
nyeri (kecuali bila prolaps disertai nekrosis). Gejalanya adalah perdarahan, rasa penuh,
sekret, gatal. Hemoroid eksterna adalah kompleks vascular di bawah anoderma. Dapat
memperlihatkan tonjolan kulit. Dapat mengalami thrombosis dengan nyeri hebat. Kadangkadang terkikis melalui kulit.2
Hemoroid adalah jaringan normal yang terdapat pada semua orang, yang terdiri atas
pleksus arteri-vena, berfungsi sebagai katup di dalam saluran anus untuk membantu sistem
sfingter anus, mencegah inkontinensia flatus dan cairan. Apabila hemoroid ini menyebabkan
keluhan atau penyulit, baru dilakukan tindakan. Hemoroid dibedakan antara interna dan
eksterna. Hemoroid interna adalah pleksus vena hemoroidalis superior di atas garis
mukokutan dan ditutupi oleh mukosa. Hemoroid interna ini merupakan bantalan vaskular di
dalam jarigan submukosa pada rektum sebelah bawah. Hemoroid sering dijumpai pada tiga
posisi primer, yaitu kanan-depan, kanan-belakang, dan kiri-lateral. Hemoroid yang lebih kecil
terdapat di antara ketiga letak primer tersebut.1
Hemoroid eksterna yang merupakan pelebaran dan penonjolan pleksus hemoroid
inferior terdapat di sebelah distal garis mukokutan di dalam jaringan di bawah epitel anus.
Kedua pleksus hemoroid, internus dan eksternus, saling berhubungan secara longgar dan
merupakan awal dari aliran vena yang kembali bermula dari rektum sebelah bawah dan anus.
Pleksus hemoroid internus mengalirkan darah ke vena hemoroidalis superior dan selanjutnya
ke vena porta. Pleksus hemoroid eksternus mengalirkan darah ke peredaran sistemik melalui
daerah perineum dan lipat paha ke vena iliaka.1

Klasifikasi
Hemoroid interna dikelompokkan dalam empat derajat. Pada derajat pertama,
hemoroid menyebabkan perdarahan merah segar tanpa nyeri pada waktu defekasi. Pada
stadium awal seperti ini tidak terdapat prolaps, dan pada pemeriksaan anoskopi terlihat
hemoroid yang membesar menonjol ke dalam lumen. Hemoroid interna derajat kedua
menonjol melalui kanalis analis pada saat mengedan ringan tetapi dapat masuk kembali
secara spontan. Pada derajat ketiga, hemoroid menonjol saat mengedan dan harus didorong
kembali sesudah defekasi dengan bantuan dorongan jari. Hemoroid interna derajat keempat
merupakan hemoroid yang menonjol ke luar dan tidak dapat didorong masuk. Terjadi prolaps
hemoroid yang permanen, rentan dan cenderung untuk mengalami trombosis dan infark.1
Secara anoskopi hemoroid dapat dibagi atas hemoroid eksterna (diluar/dibawah linea
dentata) dan hemoroid interna (didalam/di atas linea dentata). Untuk melihat risiko
perdarahan hemoroid dapat dideteksi oleh adanya stigmata perdarahan berupa bekuan darah
yang masih menempel, erosi, kemerahan di atas hemoroid. Secara anoskopik hemoroid
interna juga dapat dibagi atas 4 derajat hemoroid.3

Gambar 4. Derajat hemoroid interna.1


Etiologi
Penyebab hemoroid dapat juga meliputi: duduk lama, mengejan pada saat defekasi,
konstipasi, makanan rendah serat, kehamilan, obesitas.4 Peningkatan tekanan vena akibat
mengedan (diet rendah serat) atau perubahan hemodinamik (misalnya selama hamil)

menyebabkan dilatasi kronis dari pleksus vena submukosa. Ditemukan pada posisi jam 3, 7,
dan 11 pada lubang anus.5
Epidemiologi
Hemoroid dapat terjadi pada laki-laki maupun wanita. Insidensi hemoroid umumnya
paling tinggi pada usia antara 20 dan 50 tahun.4
Patogenesis
Hemoroid timbul karena dilatasi, pembengkakan atau inflamasi vena hemoroidalis
yang disebabkan oleh faktor-faktor risiko/pencetus. Faktor risiko hemoroid antara lain faktor
mengedan pada buang air besar yang sulit, pola buang air besar yang salah (lebih banyak
memakai jamban duduk, terlalu lama duduk di jamban sambil membaca, merokok),
peningkatan tekanan intra-abdomen karena tumor (tumor usus, tumor abdomen), kehamilan
(disebabkan tekanan janin pada abdomen dan perubahan (hormonal), usia tua, konstipasi
kronik, diare kronik atau diare akut yang berlebihan, hubungan seks peranal, kurang minum
air, kurang makan makanan berserat (sayur dan buah), kurang olahraga/imobilisasi.3
Manifestasi klinis
Pasien sering mengeluh menderita hemoroid atau wasir tanpa ada hubungannya
dengan gejala rektum atau anus yang khusus. Nyeri yang hebat jarang sekali ada
hubungannya dengan hemoroid interna dan hanya timbul pada hemoroid eksterna yang
mengalami thrombosis. Perdarahan umumnya merupakan tanda pertama hemoroid interna
akibat trauma oleh feses yang keras. Darah yang keluar berwarna merah segar dan tidak
bercampur dengan feses, dapat hanya berupa garis pada feses atau kertas pembersih sampai
pada perdarahan yang terlihat menetes atau mewarnai air toilet menjadi merah. Walaupun
berasal dari vena, darah yang keluar berwarna merah segar karena kaya akan zat asam.
Perdarahan luas dan intensif di pleksus hemoroidalis menyebabkan darah di vena tetap
merupakan darah arteri. Derajat satu (1): hanya perdarahan/gatal. Derajat dua (2): prolaps
saat defekasi. Derajat tiga (3): prolaps terus-menerus.1,5
Kadang, perdarahan hemoroid yang berulang dapat menyebabkan anemia berat.
Hemoroid yang membesar secara perlahan akhirnya dapat menonjol ke luar dan
menyebabkan prolaps. Pada tahap awal, penonjolan ini hanya terjadi sewaktu defekasi dan

disusul oleh reduksi spontan sesudah selesai defekasi. Pada stadium lebih lanjut, hemoroid
interna ini perlu didorong kembali setelah defekasi agar masuk ke dalam anus. Akhirnya,
hemoroid dapat berlanjut menjadi bentuk yang mengalami prolaps menetap dan tidak dapat
didorong masuk lagi. Keluarnya mukus dan terdapatnya feses pada pakaian dalam merupakan
ciri hemoroid yang mengalami prolaps menetap. Iritasi kulit perianal dapat menimbulkan rasa
gatal yang dikenal sebagai pruritus anus, dan ini disebabkan oleh kelembapan yang terus
menerus dan rangsangan mukus. Rasa gatal pada anus akibat hygiene anus yang buruk. Nyeri
hanya timbul apabila terdapat thrombosis yang luas dengan udem dan radang.1
Diagnosis hemoroid
Diagnosis hemoroid ditegakkan berdasarkan anamnesis keluhan klinis dari hemoroid
berdasarkan klasifikasi hemoroid (derajat 1 sampai dengan derajat 4) dan pemeriksaan
anoskopi/kolonoskopi. Karena hemoroid dapat disebabkan adanya tumor di dalam abdomen
atau usus proksimal, agar lebih teliti sebaiknya selain memastikan diagnosis hemoroid,
dipastikan juga apakah di usus halus atau di kolon ada kelainan misal tumor atau kolitis.
Untuk memastikan kelainan di usus halus diperlukan pemeriksaan rontgen usus halus atau
enteroskopi. Sedangkan untuk memastikan kelainan di kolon diperlukan pemeriksaan rontgen
Barium enema atau kolonoskopi total.3
Anamnesis hemoroid. Tanyakan tentang adanya perubahan pada kebiasaan defekasi,
masalah diare, atau konstipasi. Apakah ada darah dalam feses, atau feses berwarna gelap?
Apakah nyeri saat defekasi, ada perdarahan, atau nyeri tekan rektal?6
Pemeriksaan hemoroid. Sebelum memulai RT, dilakukan inspeksi pada daerah
perianal dan sakrokoksigeal. Dapat dijumpai lesi anal dan perianal, seperti prolaps hemoroid,
yang biasanya dijumpai pada arah pukul 4,7,11 dan berwarna livid; prolaps rektum, dengan
lipatan mukosa melingkar konsentris dan berwarna merah; fisura ani, yang berupa lesi di
anal-kanal yang nyeri bila ditekan, biasanya dijumpai arah pukul 6 dan disertai dengan skintag, serta kondiloma akuminata atau kondiloma lata. Selanjutnya RT dimulai dengan
memasukkan jari telunjuk bersarung tangan yang telah dilumuri pelumas dengan lembut
melalui anus. Pada lelaki dapat digunakan titik acuan berupa kelenjar prostat di sebelah
ventral, sedangkan pada perempuan titik acuan adalah serviks uteri yang juga terdapat di
ventral pada tempat yang kira-kira sama.1

Dilakukan penilaian terhadap tonus sfingter ani, ampula rektum apakah menganga
seperti pada peritonitis atau kolaps, mukosa dinding rektum dinilai melingkar memutar jari
telunjuk menurut arah jarum jam dan kemudian berlawanan dengan jarum jam. Hemoroid
interna tidak dapat diraba karena tekanan vena tidak cukup tinggi. Polip teraba sebagai benda
licin yang lunak dan mungkin bertangkai. Karsinoma dalam rektum teraba keras, berbenjol
dan tidak teratur, biasanya dengan kawah sentral akibat ulserasi.1

Gambar 5. Colok dubur.1


Apabila hemoroid mengalami prolaps, lapisan epitel penutup bagian yang menonjol
ke luar ini mengeluarkan mukus yang dapat dilihat apabila penderita diminta mengedan. Pada
pemeriksaan colok dubur, hemoroid interna tidak dapat diraba sebab tekanan vena di
dalamnya tidak cukup tinggi dan biasanya tidak nyeri. Colok dubur diperlukan untuk
menyingkirkan kemungkinan karsinoma rektum.1
Penilaian dengan anoskop diperlukan untuk melihat hemoroid interna yang tidak
menonjol ke luar. Anoskop dimasukkan dan diputar untuk mengamati keempat kuadran.
Hemoroid interna terlihat sebagai struktur vaskular yang menonjol ke dalam lumen. Apabila
penderita diminta mengedan sedikit, ukuran hemoroid akan membesar dan penonjolan atau
prolaps akan lebih nyata.1

Proktosigmoidoskopi perlu dikerjakan untuk memastikan bahwa keluhan bukan


disebabkan oleh proses radang atau proses keganasan di tingkat yang lebih tinggi, karena
hemoroid merupakan keadaan fisiologik saja atau tanda yang menyertai. Feses harus
diperiksa terhadap adanya darah samar.1
Diagnosis banding
Perdarahan rektum yang merupakan manifestasi utama hemoroid interna juga terjadi
pada karsinoma kolorektum, penyakit divertikel, polip, kolitis ulserosa, dan penyakit lain
yang tidak begitu sering terdapat di kolorektum. Pemeriksaan sigmoidoskopi harus dilakukan.
Foto barium kolon dan kolonoskopi perlu dipilih secara selektif bergantung pada keluhan dan
gejala penderita.1
Prolaps rektum harus juga dibedakan dari prolaps mukosa akibat hemoroid interna.
Kondiloma perianal dan tumor anorektum lainnya biasanya tidak sulit dibedakan dari
hemoroid yang mengalami prolaps. Lipatan kulit luar yang lunak akibat trombosis hemoroid
eksterna sebelumnya juga mudah dikenali. Adanya lipatan kulit sentinel pada garis tengah
dorsal, yang disebut umbai kulit, dapat menunjukkan adanya fisura anus.1
Hemoroid eksterna yang mengalami trombosis
Keadaan ini bukan hemoroid dalam arti yang sebenarnya, tetapi merupakan
thrombosis vena hemoroid eksterna yang terletak subkutan di daerah kanalis analis.
Trombosis dapat terjadi karena tekanan tinggi di vena tersebut misalnya ketika mengangkat
barang berat, batuk, bersin, mengedan atau partus. Vena lebar yang menonjol itu dapat terjepit
sehingga kemudian terjadi trombosis. Kelainan yang nyeri sekali ini dapat terjadi pada semua
usia dan tidak ada hubungan dengan ada / tidaknya hemoroid interna. Kadang terdapat lebih
dari satu trombus.1
Keadaan ini ditandai dengan adanya benjolan di bawah kulit kanalis analis yang nyeri
sekali, tegang, dan berwarna kebiruan, berukuran mulai dari beberapa millimeter sampai 1-2
cm diameternya. Benjolan itu dapat unilobular, dan dapat pula multilokuler atau beberapa
benjolan. Ruptur dapat terjadi pada dinding vena, meskipun biasanya tidak lengkap sehingga
masih terdapat lapisan tipis adventisia menutupi darah yang membeku.1

Pada awal timbulnya, trombosis terasa sangat nyeri, kemudian nyeri berkurang dalam
waktu dua sampai tiga hari bersamaan dengan berkurangnya udem akut. Ruptur spontan
dapat terjadi diikuti dengan perdarahan. Resolusi spontan dapat pula terjadi tanpa terapi
setelah dua sampai empat hari.1
Terapi. Keluhan dapat dikurangi dengan rendam duduk menggunakan larutan hangat,
salep analgesik untuk mengurangi nyeri atau gesekan pada waktu berjalan, dan sedasi.
Istirahat di tempat tidur dapat membantu mempercepat berkurangnya pembengkakan.1
Pasien yang datang sebelum 48jam dapat segera ditolong dan menunjukkan hasil yang
baik. Terapi dilakukan dengan cara mengeluarkan trombus atau melakukan eksisi lengkap
secara hemoroidektomi menggunakan anastesi lokal. Bila trombus sudah dikeluarkan, kulit
dieksisi berbentuk elips untuk mencegah bertautnya tepi kulit dan terbentuknya trombus
kembali di bawahnya. Nyeri segera hilang pada saat tindakan, dan luka akan sembuh dalam
waktu singkat sebab luka berada di daerah yang kaya akan darah. Trombus yang sudah
terorganisasi tidak dapat dikeluarkan; dalam hal ini, terapi konservatif merupakan pilihan.
Usaha reposisi hemoroid eksterna yang mengalami thrombus tidak boleh dilakukan karena
kelainan ini terjadi pada struktur luas anus yang tidak dapat direposisi.1
Penatalaksanaan
Tata

laksana

hemoroid

dapat

dibedakan

menjadi

non-bedah

dan

bedah

(hemoroidektomi). Selain itu, pilihan tata laksana bergantung pada derajat hemoroid.
Kebanyakan pasien dengan hemoroid derajat 1 dan 2 dapat diobati dengan tindakan lokal dan
modifikasi diet. Pada sebagian derajat dua, derajat 3 dan 4 pasien perlu dirujuk ke dokter
spesialis bedah untuk dilakukan hemoroidektomi.7
Derajat 1: modifikasi diet, medikamentosa;
Derajat 2: rubber band ligation, koagulasi, ligasi arteri hemoroidalis-repair rektoanal,
modifikasi diet, medikamentosa;
Derajat 3: hemoroidektomi,

ligasi

arteri

hemoroidalis-repair

rektoanal,

hemoroidopexy dengan stapler, rubber band ligation, modifikasi diet;


Derajat 4: hemoroidektomi (cito untuk kasus thrombosis), hemoroidopexy dengan
stapler, modifikasi diet.
Penatalaksanaan medis hemoroid ditujukan untuk hemoroid interna derajat I sampai
III atau semua derajat hemoroid yang ada kontraindikasi operasi atau pasien menolak operasi.

Sedangkan penatalaksanaan bedah ditujukan untuk hemoroid interna derajat IV dan eksterna,
atau semua derajat hemoroid yang tidak respon terhadap pengobatan medis.3
Kebanyakan pasien hemoroid derajat pertama dan kedua dapat ditolong dengan
tindakan lokal yang sederhana disertai nasehat tentang makan. Makanan sebaiknya terdiri
atas makanan berserat tinggi, yang membuat gumpalan isi usus besar dan lunak, sehingga
mempermudah defekasi dan mengurangi keharusan mengedan secara berlebihan.1
Penatalaksanaan medis non farmakologis berupa perbaikan pola hidup, perbaikan pola
makan dan minum, perbaiki pola/cara defekasi. Memperbaiki defekasi merupakan
pengobatan yang selalu harus ada dalam setiap bentuk dan derajat hemoroid. Perbaikan
defekasi disebut bowel management program (BMP) yang terdiri dari diet, cairan, serat
tambahan, pelicin feses, dan perubahan perilaku buang air. Untuk memperbaiki defekasi
dianjurkan menggunakan posisi jongkok (squatting) sewaktu defekasi. Pada posisi jongkok
ternyata sudut anorektal pada orang menjadi lurus ke bawah sehingga hanya diperlukan usaha
yang lebih ringan untuk mendorong tinja ke bawah atau ke luar rektum. Mengedan dan
konstipasi akan meningkatkan tekanan vena hemoroid, dan akan memperparah timbulnya
hemoroid, dengan posisi jongkok ini tidak diperlukan mengedan lebih banyak. Bersamaan
dengan program BMP di atas, biasanya juga dilakukan kebersihan lokal dengan cara
merendam anus dalam air selama 10-15 menit, 2-4 kali sehari. Dengan perendaman ini maka
eksudat yang lengket atau sisa tinja yang lengket dapat dibersihkan. Eksudat atau sisa tinja
yang lengket dapat menimbulkan iritasi dan rasa gatal bila dibiarkan.3
Pasien diusahakan tidak banyak duduk atau tidur, banyak bergerak, dan banyak jalan.
Dengan banyak bergerak pola defekasi menjadi membaik. Pasien diharuskan banyak minum
30-40 ml/kgBB/hari untuk melembekkan tinja. Pasien harus banyak makan serat antara lain
buah-buahan, sayur-sayuran, cereal dan suplementasi serat komersial bila kurang serat dalam
makanannya.3
Obat-obatan farmakologis hemoroid dapat dibagi atas empat, yaitu memperbaiki
defekasi, meredakan keluhan subjektif, menghentikan perdarahan, dan menekan atau
mencegah timbulnya keluhan dan gejala.3
1. Obat yang memperbaiki defekasi.
Ada dua obat yang diikutkan dalam BMP yaitu suplemen serat (fiber supplement) dan
pelincir atau pelicin tinja (stool softener). Suplemen serat komersial yang banyak

dipakai antara lain psyllium atau isphagula Husk yang berasal dari kulit biji Plantago
ovata yang dikeringkan dan digiling menjadi bubuk. Dalam saluran cerna bubuk ini
agak menyerap air dan bersifat sebagai bulk laxative, yang bekerja membesarkan
volume tinja dan meningkatkan peristaltis. Efek samping antara lain kentut, kembung,
dan konstipasi, alergi, sakit perut, dan lain-lain. Untuk mencegah konstipasi atau
obstruksi saluran cerna dianjurkan minum air yang banyak.
Obat kedua yaitu obat laksan atau pencahar antara lain natrium dioktil sulfosuksinat.
Natrium dioktil sulfosuksinat bekerja sebagai anionic surfactant, merangsang sekresi
mukosa usus halus dan meningkatkan penetrasi cairan ke dalam tinja. Dosis
300mg/hari.
2. Obat simptomatik.
Bertujuan menghilangkan atau mengurangi keluhan rasa gatal, nyeri atau karena
kerusakan kulit di daerah anus. Obat pengurang keluhan seringkali dicampur pelumas
(lubricant), vasokonstriktor, dan antiseptik lemah. Untuk menghilangkan nyeri,
tersedia sediaan yang mengandung anastesi lokal. Bukti yang meyakinkan akan
anastesi lokal belum ada. Pemberian anastesi lokal tersebut dilakukan sesingkat
mungkin untuk menghindarkan sensitisasi atau iritasi kulit anus. Sediaan penenang
keluhan yang ada di pasar dalam bentuk ointment atau suppositoria. Bila perlu dapat
digunakan sediaan yang mengandung kortikosteroid untuk mengurangi radang daerah
hemoroid atau anus. Sediaan berbentuk suppositoria digunakan untuk hemoroid
interna, sedangkan sediaan ointment/krem digunakan untuk hemoroid eksterna.
3. Obat menghentikan perdarahan.
Perdarahan menandakan adanya luka pada dinding anus atau pecahnya vena hemoroid
yang dindingnya tipis. Pemberian serat komersial misal psyllium pada penelitian
Perez-Miranda dkk (1996) setelah 2 minggu pemberian ternyata dapat mengurangi
perdarahan hemoroid yang terjadi dibandingkan placebo. Szent-Gyorgy memberikan
citrus bioflavanoids yang berasal dari jeruk lemon dan paprika pada pasien hemoroid
berdarah, ternyata dapat memperbaiki permeabilitas dinding pembuluh darah
Bioflavanoids yang berasal dari jeruk lemon antara lain diosmin, heperidin, rutin,
naringin, tangeritin, diosmetin, neohesperidin, quercetin. Yang digunakan untuk
pengobatan hemoroid yaitu campuran diosmin (90%) dan hesperidin (10%), dalam
bentuk micronized.
4. Obat penyembuh dan pencegah serangan hemoroid.
Caspite (1994) melakukan uji klinik pada 100 pasien hemoroid akut yang
membandingkan diosminthesperidin dan placebo, dengan rancangan tersamar ganda
dan teracak. Diosminthesperidin dan placebo diberikan tiga kali 2 tablet selama 4 hari,

lalu 2 kali 2 tablet selama 3 hari. Perbaikan menyeluruh keluhan dan gejala terjadi
pada kedua kelompok pengobatan. Tetapi perbaikan lebih nyata pada kelompok
Diosminthesperidin. Diosminthesperidin memberi perbaikan yang nyata terhadap
gejala inflamasi, kongesti,edema, dan prolaps.
Disimpulkan pada penelitian ini bahwa pengobatan dengan ardium 500 menghasilkan
penyembuhan keluhan dan gejala yang lebih cepat pada hemoroid akut bila dibandingkan
placebo.3
Terapi hemoroid interna yang simptomatik harus ditetapkan secara perorangan.
Hemoroid merupakan suatu hal yang normal sehingga tujuan terapi bukan untuk
menghilangkan pleksus hemoroidal tetapi untuk menghilangkan keluhan. Hemoroid interna
biasanya diterapi dengan diet berserat, pelunak tinja. Hemoroid interna yang prolaps mungkin
dapat diligasi dengan pita elastik. Jaringan mati dalam waktu 7-10 hari. Harus dihindari
dalam pasien dengan gangguan imun. Metode lain: fotokoagulasi, sklerosis, bedah krio,
koagulasi. Eksisi operasi untuk prolaps yang besar, sulit direduksi, atau hemoroid inkaserata.
Eksisi sirkumferensial dapat menimbulkan stenosis anus. Hemoroid eksterna dieksisi di
klinik jika thrombosis, untuk menghilangkan rasa nyeri.1,2,5
Antibiotik apabila ada infeksi, salep rektal/suppositoria untuk anastesi dan pelembab
kulit (sediaan supositoria/krim yang mengandung fluocortolone pivalate dan lidokain), dan
pelancar defekasi (cairan parafin, yal, magnesium sulfat). Pemakaian krim dilakukan dengan
cara dioleskan pada hemoroid dan kemudian dicoba untuk dikembalikan ke dalam anus.
Supositoria dan salep anus diketahui tidak mempunyai efek yang bermakna kecuali efek
anestetik dan astringen.1,7
Hemoroid interna yang mengalami prolaps karena udem umumnya dapat dimasukkan
kembali secara perlahan disusul dengan istirahat baring dan kompres lokal untuk mengurangi
pembengkakan. Rendam duduk dengan cairan hangat juga dapat meringankan nyeri. Apabila
ada penyakit radang usus besar yang mendasarinya, misalnya penyakit Crohn, terapi medic
harus diberikan apabila hemoroid menjadi simptomatik.1
Skleroterapi adalah penyuntikan larutan kimia yang merangsang, misalnya 5% fenol
dalam minyak nabati. Penyuntikkan diberikan ke submukosa di dalam jaringan areolar yang
longgar di bawah hemoroid interna dengan tujuan menimbulkan peradangan steril yang
kemudian menjadi fibrotik dan meninggalkan parut. Penyuntikan dilakukan di sebelah atas

dari garis mukokutan dengan jarum yang panjang melalui anuskop. Penyuntikan yang
dilakukan pada tempat yang tepat tidak akan menimbulkan nyeri. Penyulit penyuntikan antara
lain infeksi, misalnya prostatitis akut (jika penyuntikan dilakukan melalui prostat) dan reaksi
hipersensitivitas terhadap obat yang disuntikkan.1
Terapi suntikan bahan sklerotik bersama dengan nasehat tentang makanan merupakan
terapi yang efektif untuk hemoroid interna derajat I dan II.1
Ligasi dengan gelang karet. Hemoroid yang besar atau mengalami prolaps dapat
ditangani dengan ligasi gelang karet menurut Barron. Dengan bantuan anuskop, mukosa
diatas hemoroid yang menonjol dijepit dan ditarik atau diisap ke dalam tabung ligator khusus.
Gelang karet didorong dari ligator dan ditempatkan secara rapat di sekeliling mukosa pleksus
hemoroidalis tersebut. Nekrosis karena iskemia terjadi dalam beberapa hari. Mukosa bersama
karet akan lepas sendiri. Fibrosis dan parut akan terjadi pada pangkal hemoroid tersebut. Pada
satu kali terapi hanya di ikat satu kompleks hemoroid, sedangkan ligasi berikutnya dilakukan
dalam jarak waktu dua sampai empat minggu.1
Penyulit utama ligasi ialah timbulnya nyeri karena mengenai garis mukokutan. Untuk
menghindari ini, gelang ditempatkan cukup jauh dari garis mukokutan. Nyeri hebat dapat
pula disebabkan oleh infeksi. Perdarahan dapat terjadi sewaktu hemoroid mengalami
nekrosis, biasanya setelah tujuh sampai sepuluh hari.1

Gambar 6. Terapi non konservatif hemoroid.1


Bedah beku. Hemoroid dapat pula dibekukan dengan pendinginan pada suhu yang
rendah sekali. Bedah beku atau bedah krio ini tidak dipakai secara luas oleh karena mukosa
yang nekrotik sukar ditentukan luasnya. Bedah krio ini lebih cocok untuk terapi paliatif
karsinoma rektum yang inoperabel.1

Hemoroidektomi. Terapi bedah dipilih untuk penderita yang mengalami keluhan


menahun dan pada penderita hemoroid derajat III atau IV. Terapi bedah juga dapat dilakukan
pada penderita dengan perdarahan berulang dan anemia yang tidak sembuh dengan cara
terapi lainnya yang lebih sederhana. Penderita hemoroid derajat IV yang mengalami
trombosis dan kesakitan hebat dapat ditolong segera dengan hemoroidektomi. Prinsip yang
harus diperhatikan pada hemoroidektomi adalalah eksisi hanya dilakukan pada jaringan yang
benar-benar berlebihan. Eksisi sehemat mungkin dilakukan pada anoderm dan kulit yang
normal dengan tidak mengganggu sfingter anus.1
Hemoroidektomi dilakukan apabila terapi konservatif tidak berhasil, pada hemoroid
dengan prolaps tanpa reduksi spontan (derajat 3 dan 4), hemoroid dengan strangulasi,
ulserasi, fisura, fistula, atau pada hemoroid eksterna dengan keluhan. Prinsip utama
hemoroidektomi adalah eksisi hanya pada jaringan yang menonjol dan eksisi konservatif kulit
serta anodermal normal. Hemoroidektomi terdiri dari prosedur terbuka dan tertutup. Pada
hemoroidektomi terbuka (Parks or Ferguson hemorroidectomy) dilakukan reseksi jaringan
hemoroid dan penutupan luka dengan jahitan benang yang dapat diserap. Sedangkan pada
hemoroidektomi tertutup (Milligan and Morgan hemorroidectomy) dilakukan teknik yang
sama, hanya saja luka dibiarkan terbuka dan diharapkan terjadi penyembuhan sekunder.
Selain kedua teknik tersebut, terdapat berbagai teknik lain yang dapat digunakan.7
Teknik operasi Whitehead dilakukan dengan eksisi sirkumferensial bantalan hemoroid
di sebelah proksimal linea dentata. Kemudian, mukosa rektal dijahit hingga linea dentata.
Dengan teknik ini terdapat resiko terjadinya ektropion.7
Teknik operasi Langenbeck dilakukan dengan menjepit vena hemoroidales interna
secara radier dengan klem. Jahitan jelujur dilakukan di bawah klem dengan chromic gut
no.22, eksisi jaringan di atas klem sebelum akhirnya klem dilepas dan jepitan jelujur di
bawah klem diikat. Teknik ini lazim dipakai karena mudah dan tidak mengandung risiko
timbulnya paru sirkuler.7
Teknologi baru dengan menggunakan Doppler untuk mendeteksi pembuluh darah atau
arteri yang terdapat pada submukosa dan dilakukan ligasi dengan jahitan. Teknik ini dikenal
dengan Hemorrhoidal Artery Ligation (HAL). Dapat pula dikombinasikan dengan teknik
Recto Anal Repair (RAR).7

Teknik longo dilakukan untuk tata laksana prolaps sirkumferensial dengan perdarahan
atau dikenal dengan stapled hemorrhoidopexy. Dengan teknik ini dilakukan eksisi
sirkumferensial mukosa dan submukosa kanalis anal bawah dan atas serta reanastomosis
dengan alat stapling sirkular. Dengan teknik ini, rasa nyeri pascabedah dapat dikurangi.7
Hemoroidopeksi dengan stapler. Karena bantalan hemoroid merupakan jaringan
normal yang berfungsi sebagai katup untuk mencegah inkontinensia flatus dan cairan, pada
hemoroid derajat III dan IV tidak usah dilakukan hemoroidektomi, tetapi cukup menarik
mukosa dan jaringan submukosa rektum distal ke atas (arah aboral) dengan menggunakan
sejenis stapler, sehingga hemoroid akan kembali ke posisi semula yang normal. Operasi
hemoroid jenis ini dinamakan hemoroidopeksi dengan stapler, dan nyeri pascabedah pada
tindakan ini sangat minimal.1
Tindak bedah lain. Dilatasi anus yang dilakukan dalam anestesi dimaksudkan untuk
memutus jaringan ikat yang diduga menyebabkan obstruksi jalan ke luar anus atau spasme
yang merupakan faktor penting dalam pembentukan hemoroid. Metode dilatasi menurut Lord
ini kadang disertai dengan penyulit inkontinensia sehingga tidak dianjurkan.1
Dengan terapi yang sesuai, semua hemoroid simtomatis dapat dibuat menjadi
asimptomatis. Pendekatan konservatif hendaknya diusahakan terlebih dahulu pada semua
kasus. Hemoroidektomi pada umumnya memberikan hasil yang baik. Sesudah terapi
penderita harus diajari untuk menghindari obstipasi dengan makan makanan berserat agar
dapat mencegah timbulnya kembali gejala hemoroid. Penderita penyakit Crohn harus
ditangani hati-hati secara konservatif.1
Edukasi
Menjaga higienitas, menghindari pengejanan berlebihan saat defekasi, atau aktivitas
berat. Modifikasi diet dengan makanan berserat, banyak minum, dan mengurangi daging.7

Komplikasi
Sekali-sekali hemoroid interna yang mengalami prolaps akan menjadi ireponibel
sehingga tak dapat terpulihkan oleh karena kongesti yang mengakibatkan udem dan
trombosis. Keadaan yang agak jarang ini dapat berlanjut menjadi thrombosis melingkar pada

hemoroid interna dan hemoroid eksterna secara bersamaan. Keadaan ini menyebabkan nyeri
hebat dan dapat berlanjut, menyebabkan nekrosis mukosa dan kulit yang menutupinya.
Emboli septik tidak dapat melalui sistem portal dan dapat menyebabkan abses hati. Anemia
dapat terjadi karena perdarahan ringan yang lama. Hemoroid dapat membentuk pintasan
portal sistemik pada hipertensi portal, dan apabila hemoroid semacam ini mengalami
perdarahan, darah yang keluar dapat sangat banyak.1
Pencegahan
Yang paling baik dalam mencegah hemoroid yaitu mempertahankan tinja tetap lunak
sehingga mudah keluar, di mana hal ini menurunkan tekanan dan pengedanan dan
mengosongkan usus sesegera mungkin setelah perasaan mau ke belakang timbul. Latihan
olahraga seperti berjalan, dan peningkatan konsumsi serat diet juga membantu mengurangi
konstipasi dan mengedan.3
Prognosis
Keluhan pasien hemoroid dapat dihilangkan dengan terapi yang tepat.7
Daftar pustaka
1. Sjamsuhidajat R. Buku ajar ilmu bedah sjamsuhidajat-de jong. Edisi ke 3. Jakarta:
EGC. 2010.h.781-92.
2. Shires S, Spencer. Intisari prinsip-prinsip ilmu bedah. Edisi ke 6. Jakarta: EGC.
2000.h.424-5.
3. Simadibrata MK. Hemoroid. Dalam: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata
MK, Setiati S. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Jilid I. Edisi ke 5. Jakarta: Interna
Publishing. 2009.h.587-90.
4. Kowalak, Welsh, Mayer. Buku ajar patofisiologi. Jakarta: EGC. 2011.h.361-2.
5. Grace PA, Borley NR. At a glance ilmu bedah. Edisi ke 3. Jakarta: Erlangga.
2007.h.114-5.
6. Bickley LS. Buku saku pemeriksaan fisik & riwayat kesehatan bates. Edisi ke 5.
Jakarta: EGC. 2008.h.209.
7. Tanto C, Liwang F, Hanifati S, Pradipta EA. Kapita selekta kedokteran. Edisi ke 4.
Jakarta: EGC. 2011.h.217-8.