Anda di halaman 1dari 10

ISSN: 2089-9084

ISM, VOL. 4 NO.1, SEPTEMBER-DESEMBER, HAL 32-41

PREVALENSI DAN DISTRIBUSI OSTEOARTRITIS LUTUT BERDASARKAN KARAKTERISTIK SOSIO-DEMOGRAFI


DAN FAKTOR RISIKO DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SUSUT I, KECAMATAN SUSUT, KABUPATEN BANGLI
PADA TAHUN 2014
Wan Amin Hasiibi Bin Wan Ali1
1
Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana
(aminhasiibi@yahoo.com)
ABSTRAK
Terjadinya proses penuaan akan meningkatkan jumlah angka kesakitan akibat penyakit degeneratif dan
disabilitas yang ditimbulkan. Di Poliklinik Reumatologi RSUP Sanglah Denpasar periode 2001-2002, OA
merupakan kasus tertinggi (37%) dengan proporsi Osteoartritis (OA) lutut 97%. Di Puskesmas Susut I,
Kecamatan Susut, Kabupaten Bangli, OA yang tergolong ke dalam kelompok penyakit rematik menempati
urutan kedua di daftar penyakit Puskesmas Susut I tahun 2013.
Metode rancangan dalam penelitian ini adalah cross sectional deskriptif. Sampel penelitian merupakan
penduduk usia 50 tahun ke atas dengan besar sampel yang digunakan adalah 78 orang dengan teknik
multistage random sampling di Banjar Susut Kaja, Desa Susut, Kecamatan Susut, Kabupaten Bangli pada bulan
April 2014.
Hasil dan simpulan penelitian ini adalah prevalensi OA lutut pada usia > 50 tahun di Desa Susut bulan
April 2014 adalah sebesar 62.8%. Berdasarkan karakteristik sosio-demografi, kejadian OA lutut lebih banyak
dialami oleh kelompok usia 50-70 tahun (61.2%), berjenis kelamin perempuan (57.1%), dan memiliki pekerjaan
fisik (petani, peternak, buruh dan ABRI) (65.3%). Sedangkan berdasarkan faktor risiko, kejadian OA lutut lebih
banyak terjadi pada responden dengan IMT kurus-normal (59.2%), riwayat beban kerja sedang-berat (71.4%)
dengan faktor biomekanika antara lain responden dengan riwayat membawa beban saat bekerja (71.4%)
dimana perkiraan berat beban < 25 kg (79.6%), frekuensi bekerja dengan beban sebanyak 4 kali/minggu
(53.1%) dan memiliki durasi kerja 17 tahun (91.8%), serta menempuh jalan naik, turun, bertangga saat
bekerja (77.6%). Kejadian OA lutut lebih banyak terjadi pada responden tanpa riwayat cedera lutut (87.8%).
Kata Kunci : Prevalensi, faktor risiko, osteoartritis lutut, usia lanjut

PREVALENCE AND DISTRIBUTION OF KNEE OSTEOARTHRITIS ACCORDING TO SOCIO-DEMOGRAPHY


CHARACTERISTIC AND RISK FACTOR IN SUSUT I PRIMARY HEALTH CARE TERRITORY, SUSUT, BANGLI IN 2014
ABSTRACT
An aging process will increase human morbidity caused by degenerative diseases and disability. Based
on data in Policlinic of Rheumatology Sanglah Hospital in 2001-2002, Osteoarthritis was the highest case (37%)
with proportion of Knee Osteoarthritis was 97%. In Susut I Primary Health Care, which is located in Bangli,
Rheumatic placed the second rank from the list of top 10 diseases in 2013.
This research used cross sectional descriptive method. Sample were elderly who are more than 50
years old and total of sample was 78 which are taken by multistage random sampling method from Banjar
Susut Kaja, Susut Village, Susut Subdisctric, Bangli Regency, April 2014.

32
http://intisarisainsmedis.weebly.com/

ISSN: 2089-9084

ISM, VOL. 4 NO.1, SEPTEMBER-DESEMBER, HAL 32-41

The prevalence of Knee Osteoarthritis in elderly who are more than 50 years old in Susut Village in April
2014 was 62,8%. According to socio-demography characteristic , knee osteoarthritis occured more in
respondents who are 50-70 years old (61.2%), women (57.1%), and had physical job (farmer, cattleman, labor
and army) (65.3%). While, according to risk factors, knee osteoarthritis occured more in respondents who had
underweight-normal body mass index (59.2%), with history of workload due to medium-hard (71.4%), with
biomechanics factors where respondents who bring goods while worked (71.4%), and the weight of goods
estimated more than 25 kg (79.6%), work frequencies with goods more than 4 times a week (53.1%),
respondents who had work duration more than 17 years (91.8%), and respondents who had up and down
pathway and also using stairs (77.6%). Knee osteoarthritis occured more in respondents without history of
knee trauma (87.8%).
Keywords: Prevalence, risk factor, knee osteoarthritis, elderly
PENDAHULUAN
Seiring dengan pembangunan nasional yang
berkembang pesat terutama di bidang kesehatan,
kualitas kesehatan penduduk juga meningkat dan
berdampak pada tingginya Usia Harapan Hidup (UHH)
manusia.Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia
termasuk Negara berstruktur tua dimana hal ini dapat
dilihat dari jumlah penduduk lansia pada tahun 2008,
2009 dan 2012 telah mencapai di atas 7% dari
keseluruhan penduduk. Secara global diprediksi populasi
lansia di Indonesia akan terus mengalami peningkatan.1
Meskipun bukan suatu penyakit, namun bersamaan
dengan proses penuaan dan tingginya UHH maka akan
meningkatkan jumlah angka kesakitan akibat penyakit
degeneratif dan disabilitas yang diakibatkan.
Osteoartritis (OA) merupakan penyakit sendi
degeneratif yang ditandai oleh kehilangan tulang rawan
sendi secara perlahan, berkombinasi dengan penebalan
tulang subkondral dan terbentuk osteofit pada tepi
sendi, serta peradangan nonspesifik sinovium yang
ringan.2,3OA biasa mengenai sendi yang menopang berat
badan seperti lutut, panggul, tulang belakang dan kaki.
OA berperan penting sebagai penyebab utama nyeri dan
disabilitas pada lansia.4
Berdasarkan hasil penelitian Zeng QY et al,
prevalensi OA di Indonesia mencapai 23,6 sampai 31,3%
dan diperkirakan 1-2 juta lansia menderita cacat akibat
OA.3,5Sedangkan berdasarkan penelitian Arissa MI tahun
2008-2009, angka kejadian tertinggi OA ditemukan pada
usia >55 tahun (59,17%) dari keseluruhan kasus OA di
RSU Dokter Soedarso Pontianak.6 Disamping itu, usia di
atas 50 tahun merupakan salah satu kriteria klinis dalam
mendiagnosis OA berdasarkan kriteria American College

of Rheumatology (ACR) tahun 1986. Di Poliklinik


Reumatologi RSUP Sanglah Denpasar periode 20012002, OA merupakan kasus tertinggi (37%) dari semua
kasus rematik dimana dari keseluruhan penderita OA
tersebut proporsi dari OA lutut adalah sebesar 97%.5
Data penderita OA lutut di Puskesmas Susut I,
Kecamatan Susut, Kabupaten Bangli sendiri belum
diketahui dengan pasti. Berdasarkan rekapitulasi data
masing-masing puskesmas pembantu disebutkan bahwa
rematik merupakan penyakit di urutan kedua yaitu
sebanyak 1.486 kasus (16%) dari 10 besar penyakit di
wilayah kerja Puskesmas Susut I. Data ini belum
merepresentasikan jumlah seluruh penderita karena
data tersebut hanya diperoleh dari penderita yang
datang ke puskesmas untuk mencari pengobatan
dengan keluhan nyeri sendi.7
Penyebab primer dari OA masih belum dapat
diketahui secara pasti namun terdapat beberapa faktor
risiko yang berperan yaitu: usia, jenis kelamin, genetik,
kegemukan dan penyakit metabolik, cedera sendi,
pekerjaan dan olahraga, kelainan pertumbuhan serta
faktor-faktor lainnya. Faktor-faktor tersebut dapat
dikelompokkan
menjadi
faktor-faktor
yang
mempengaruhi predisposisi generalisata dan faktorfaktor yang menyebabkan beban biomekanik tak normal
pada sendi-sendi tertentu.2
Di wilayah kerja Puskesmas Susut I yang
merupakan wilayah dataran tinggi, sebagian besar
penderita nyeri sendi yang datang ke adalah penduduk
lansia dengan mata pencaharian sebagai petani. 7Kondisi
geografis yang merupakan dataran tinggi disertai dengan
pekerjaan dengan beban kerja yang berat dapat menjadi
suatu faktor predisposisi terjadinya OA lutut.4

33
http://intisarisainsmedis.weebly.com/

ISSN: 2089-9084

ISM, VOL. 4 NO.1, SEPTEMBER-DESEMBER, HAL 32-41

Berdasarkan uraian di atas perlu dilakukan


suatu penelitian mengenai prevalensi dan distribusi OA
lutut berdasarkan faktor risiko di wilayah kerja
Puskesmas Susut I, Kecamatan Susut, Kabupaten Bangli
pada kelompok usia di atas 50 tahun sehingga dapat
diperoleh gambaran mengenai OA lutut pada lansia di
wilayah kerja Puskesmas Susut I sebagai langkah
pertama dalam penentuan usaha promotif dan preventif
dalam menghadapi permasalahan lansia khususnya
mengenai penyakit OA lutut.
METODE PENELITIAN
Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di wilayah kerja
Puskesmas Susut I, Kecamatan Susut, Kabupaten Bangli
pada bulan April 2014.
Rancangan Penelitian
Penelitian ini
menggunakan rancangan
penelitian cross sectional deskriptif yaitu dilakukan satu
kali pengumpulan data untuk memperoleh gambaran
berbagai faktor yang terkait dengan osteoartritis (OA)
lutut di wilayah kerja Puskesmas Susut I.
Populasi Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh
penduduk berusia di atas 50 tahun yang berlokasi di
wilayah kerja Puskesmas Susut I, Kecamatan Susut,
Kabupaten Bangli. Terdapat 5 desa yang termasuk ke
dalam wilayah kerja Puskesmas Susut I yaitu Desa Tiga,
Desa Penglumbaran, Desa Susut, Desa Selat dan Desa
Demulih. Jumlah penduduk berusia di atas 50 tahun di
seluruh wilayah kerja Puskesmas Susut I ini adalah
sebanyak 3.120 orang.
Kriteria Inklusi dan Eksklusi
Kriteria Inklusi sampel adalah seluruh penduduk
di wilayah kerja Puskesmas Susut I yang berusia 50
tahun ke ataspada bulan April 2014 yang berdomisili di
wilayah Puskesmas Susut I, Kecamatan Susut, Kabupaten
Bangli yang bersedia mengikuti penelitian dengan
memberikan persetujuan secara lisan.Kriteria eksklusi
yaitu tidak mampu diwawancarai disebabkan kondisi
medis umum yang tidak memungkinkan.
Sampel Penelitian
Dari hasil perhitungan maka diperoleh besar
sampel minimal sebesar 78. Teknik pengambilan sampel
yaitu dengan Sampel dipilih dengan metode multistage
random samplingdengan pertimbangan cakupan wilayah
kerja Puskesmas Susut I yang luas, jumlah penduduk

lansia yang banyak dan homogen serta terbatasnya dana


penelitian.
Sampel adalah kelompok penduduk yang
usianya lebih dari 50 tahun yang kemudian ditetapkan
sebagai responden dalam memperoleh informasi
mengenai hal-hal terkait variabel penelitian.
Variabel Penelitian
Variabel dalam penelitian ini adalah:Kejadian
OA pada lansia, karakteristik sosio-demografi (umur,
jenis Kelamin, pekerjaan), Faktor risiko ( Indeks Masa
Tubuh, Riwayat Beban Kerja, Faktor Biomekanik).
Analisa Data
Analisa data dilakukan secara deskriptif dengan
melihat distribusi jawaban responden terhadap masingmasing pertanyaan. Kemudian disajikan dalam bentuk
naratif atau tabel (persentase).
HASIL
Karakteristik Responden
Dari 78 responden yang berpartisipasi dalam
penelitian ini, diperoleh karakteristik sosio-demografi
responden yang meliputi umur, jenis kelamin dan jenis
pekerjaan seperti yang terlihat pada tabel 1.
Berdasarkan tabel 1, kelompok usia terbanyak
responden adalah kelompok usia 60 69 tahun. Ratarata usia responden secara keseluruhan adalah 67.40
1.165 tahun (median 66.50 tahun) dengan usia minimal
adalah 52 tahun dan usia maksimal 91 tahun. Proporsi
responden berjenis kelamin laki-laki hampir sebanding
dengan perempuan (masing-masing 47.4% dan 52.6%).
Sebagian besar responden bekerja sebagai petani dan
peternak (34.6%) serta buruh (20.5%).
Prevalensi Osteoartritis (OA) Lutut
Point Prevalensi OA lutut pada penelitian ini
ditentukan melalui krineria klinis ACR tahun 1986 seperti
yang dapat dilihat pada tabel 2.
Dari tabel 2, didapatkan bahwa point prevalensi
OA lutut pada penduduk usia di atas 50 tahun di Desa
Susut Kecamatan Susut Kabupaten Bangli pada bulan
April 2014 sebesar 62.8%.
Faktor Risiko OA Lutut
Berdasarkan tabel 3, proporsi responden
memiliki Indeks Masa Tubuh (IMT) kurus normal lebih
banyak daripada responden yang memiliki IMT berisiko
OA lutut (masing-masing 57.7% dan 42.3%). Sebagian
besar responden (66.7%) memiliki riwayat beban kerja
sedang-berat.

34
http://intisarisainsmedis.weebly.com/

ISSN: 2089-9084

ISM, VOL. 4 NO.1, SEPTEMBER-DESEMBER, HAL 32-41

Tabel 1. Karakteristik Sosio-demografi


VARIABEL
Usia

KATEGORI
50 59
60 69
70 79
80 89
90

F
22
27
17
11
1
78

%
28.2
34.6
21.8
14.1
1.3
100

Laki-laki
Perempuan

37
41
78
27
16
15
10
6
4
78

47.4
52.6
100
34.6
20.5
19.2
12.8
7.7
5.1
100

Total
Jenis Kelamin
Total
Pekerjaan

Petani dan Peternak


Buruh
PNS
IRT
Wiraswasta
ABRI

Total

Sebagian besar responden membawa beban


saat bekerja (65.4%) dengan perkiraan beban terbanyak
< 25kg (83.3%). Frekuensi bekerja dengan beban dalam
seminggu terbanyak adalah < 4x/minggu (58.4%) dengan
durasi kerja dalam tahun terbanyak 17 tahun (89.7%).
Sebagian besar kondisi geografis yang ditempuh
responden adalah naik-turun dan tangga (71.8%). Dan
sebagian besar responden tidak pernah mengalami
cedera lutut sebelumnya (89.7%).
Distribusi OA Lutut Berdasarkan Karakteristik Sosiodemografi
Dari tabel 4 dapat dilihat bahwa kejadian OA
lutut lebih banyak dialami oleh kelompok usia 50-70
tahun (61.2%), pada perempuan (57.1%) dan pada
pekerja fisik (petani, buruh, ABRI dan peternak) (65.3%).
Dari tabel 5 dapat dilihat bahwa 70.4%
responden berusia > 70 tahun menderita OA lutut.

Tabel 2. Prevalensi OA Lutut


VARIABEL
Osteoartritis Lutut
Total

KATEGORI
Ya
Tidak

Dilihat dari jenis kelamin dan pekerjaan, sebesar 68.3%


responden perempuan dan 68.1% pekerja fisik
menderita OA lutut.
Distribusi OA Lutut Berdasarkan Faktor Risiko
Berdasarkan tabel 6, proporsi kejadian OA pada
responden dengan IMT kurus-normal sedikit lebih
banyak (59.2%) daripada responden yang kelebihan
berat badan-kegemukan. Sebagian besar kejadian OA
lutut dialami oleh responden yang riwayat beban
kerjanya sedang-berat (71.4%) dengan perkiraan berat
beban < 25 kg (79.6%) dan frekuensi kerja dengan beban
dalam minggu 4x/minggu. Sebagian besar kejadian OA
lutut dialami responden dengan durasi kerja 17 tahun
(91.8%) dengan kondisi geografis yang naik-turun dan
tangga (77.6%). Dan sebagian besar kejadian OA dialami
oleh responden yang tidak pernah mengalami cedera
lutut sebelumnya (87.8%).

F
49
29

%
62.8
37.2

78

100

35
http://intisarisainsmedis.weebly.com/

ISSN: 2089-9084

ISM, VOL. 4 NO.1, SEPTEMBER-DESEMBER, HAL 32-41

Tabel 3. Faktor Risiko OA Lutut


VARIABEL
Indeks Masa Tubuh

KATEGORI
Kurus Normal
Kelebihan Berat Badan
Kegemukan

Total
Riwayat Beban Kerja

Beban Kerja Ringan


Beban Kerja Sedang
Berat

Total
Faktor Biomekanika
Riwayat Membawa Beban
Total
Perkiraan Berat Beban

< 25kg
25 kg

Total
Frekuensi Kerja dengan
Beban dalam Minggu
Durasi Kerja dalam Tahun
Total
Kondisi
Bekerja

Geografi

Saat

Total
Riwayat Cedera Lutut

Ya
Tidak

<4
4
< 17
17
Naik-Turun dan Tangga
Datar

Ya
Tidak

Total

F
45
33

%
57.7
42.3

78
26
52

100
33.3
66.7

78

100

51
27
78
65
13
78
44
34
78
8
70
78
56

65.4
34.6
100
83.3
16.7
100
58.4
43.6
100
10.3
89.7
100
71.8

22
78
8
70
78

28.2
100
10.3
89.7
100

Tabel 4. Distribusi OA Lutut Berdasarkan Karakteristik Sosio-demografi


Osteoartritis Lutut
Karakteristik Sosio-demografi
Ya
%
Usia
50 70
30
61.2
>70
19
38.8
Total
49
100
Jenis Kelamin
Total
Pekerjaan

Total

Laki-laki
Perempuan
Pekerja Fisik
Pekerja Non Fisik

Tidak
21
8
29

%
72.4
27.6
100

Total

51
27
78

65.4
34.6
100

21
28
49
32
17

42.9
57.1
100
65.3
34.7

16
13
29
15
14

55.2
44.8
100
51.7
48.3

37
41
78
47
31

47.4
52.6
100
60.3
39.7

49

100

29

100

78

100

36
http://intisarisainsmedis.weebly.com/

ISSN: 2089-9084

ISM, VOL. 4 NO.1, SEPTEMBER-DESEMBER, HAL 32-41

Tabel 5. Kecenderungan Kejadian OA Lutut Berdasarkan Karakteristik Sosio-demografi


Osteoartritis Lutut
Karakteristik Sosio-demografi
Ya
%
Tidak
%
Usia
50 70
30
58.8
21
41.2
>70
19
70.4
8
29.6
Jenis Kelamin
Laki-laki
21
56.8
16
43.2
Perempuan
28
68.3
13
31.7
Pekerjaan
Pekerja Fisik
32
68.1
15
31.9
Pekerja Non Fisik
17
54.8
14
45.2

Total

51
27
37
41
47
31

100
100
100
100
100
100

Tabel 6. Distribusi OA Lutut Berdasarkan Faktor Risiko


Osteoartritis Lutut
Ya
%
Tidak
29
59.2
16
20
40.8
13

%
55.2
44.8

49
14

100
28.6

29
12

35

71.4

49
Ya
Tidak
< 25kg
25 kg

Faktor Risiko Osteoartritis


IMT

Kurus - Normal
Kelebihan
Berat
Badan - Kegemukan

Total
Riwayat Beban Kerja

Beban Kerja Ringan


Beban Kerja Sedang
Berat

Total
Faktor Biomekanika
Riwayat Membawa Beban

Perkiraan Berat Beban


Total
Frekuensi Kerja dengan
Beban dalam Minggu
Total
Durasi Kerja dalam Tahun
Total
Kondisi
Bekerja

Geografi

Total
Riwayat Cedera Lutut
Total

Saat

<4
4

< 17
17
Naik-Turun
Tangga
Datar
Ya
Tidak

dan

Total

45
33

57.7
42.3

100
41.4

78
26

100
33.3

17

58.6

52

66.7

100

29

100

78

100

35
14

71.4
28.6

16
13

55.2
44.8

51
27

65.4
34.6

39
10
49
23
26

79.6
20.4
100
46.9
53.1

26
3
29
21
8

89.7
10.3
100
72.4
27.6

65
13
78
44
34

83.3
16.7
100
56.4
43.6

49
4
45
49
38

100
8.2
91.8
100
77.6

29
4
25
29
18

100
13.8
86.2
100
62.1

78
8
70
78
56

100
10.3
89.7
100
71.8

11
49
6
43
49

22.4
100
12.2
87.8
100

11
29
2
27
29

37.9
100
6.9
93.1
100

22
78
8
70
78

28.2
100
10.3
89.7
100

37
http://intisarisainsmedis.weebly.com/

ISSN: 2089-9084

ISM, VOL. 4 NO.1, SEPTEMBER-DESEMBER, HAL 32-41

Tabel 7. Kecenderungan Kejadian OA Lutut Berdasarkan Faktor Risiko


Osteoartritis Lutut
Faktor Risiko Osteoartritis
Ya
%
Tidak
IMT
Kurus - Normal
29
64.4
16
Kelebihan
Berat 20
60.6
13
Badan - Kegemukan
Riwayat Beban Kerja

Faktor Biomekanika
Riwayat Membawa Beban
Perkiraan Berat Beban
Frekuensi Kerja dengan
Beban dalam Minggu
Durasi Kerja dalam Tahun
Kondisi
Bekerja

Geografi

Riwayat Cedera Lutut

Saat

%
35.6
39.4

Total

45
33

100
100

Beban Kerja Ringan


Beban Kerja Sedang
Berat

14

53.8

12

46.2

26

100

35

67.3

17

32.7

52

100

Ya
Tidak
< 25kg
25 kg
<4
4

35
14
39
10
23
26

68.6
51.9
60.0
76.9
52.3
76.5

16
13
26
3
21
8

31.4
48.1
40.0
23.1
47.7
26.9

51
27
65
13
44
34

100
100
100
100
100
100

< 17
17
Naik-Turun
Tangga
Datar
Ya
Tidak

4
45
38

50.0
64.3
67.9

4
25
18

50.0
35.7
32.1

8
70
56

100
100
100

11
6
43

50.0
75
61.4

11
2
27

50.0
25
38.6

22
8
70

100
100
100

dan

Berdasarkan tabel 7, 64.4% responden dengan


IMT kurus-normal menderita OA lutut. Angka ini sedikit
lebih banyak dari proporsi responden dengan IMT
kelebihan berat badan-kegemukan yang menderita OA
lutut (60.6%). Dilihat dari riwayat beban kerja, 67.3%
responden dengan beban kerja sedang-berat menderita
OA lutut.
Berdasarkan faktor biomekanika, 68.6%
responden dengan riwayat membawa beban saat
bekerja, 76.9% responden yang membawa beban 25
kg, 76.5% responden yang bekerja dengan beban 4x
dalam seminggu dan 64.3% responden yang bekerja 17
tahun menderita OA lutut. Berdasarkan kondisi geografis
saat bekerja, 67.9% responden yang kondisi geografis
kerjanya naik-turun dan tangga menderita OA lutut.
Sebanyak 75% responden yang pernah mengalami
cedera lutut menderita OA lutut.

PEMBAHASAN
Prevalensi Osteoartritis (OA) Lutut
Dari penelitian ini ditemukan responden yang
memiliki OA lutut di Desa Susut Kecamatan Susut
Kabupaten Bangli pada penduduk usia 50 tahun ke atas
adalah 49 orang (62.8%). Angka ini sedikit lebih tinggi
dari prevalensi OA pada kelompok usia di atas 60 tahun
di Desa Serampingan, Tabanan tahun 2012 pada
penelitian Dwipayana G A et al yaitu sebesar 57%. 3
Distribusi OA Lutut Berdasarkan Usia
OA merupakan penyakit degeneratif sendi yang
sangat erat kaitannya dengan usia. Prevalensi OA cukup
tinggi di kalangan lansia dimana salah satu dari kriteria
diagnosis klinis American College of Reumatology (ACR)
1986 adalah usia di atas 50 tahun.Pada usia lanjut,
terjadi perubahan kolagen dan penurunan sintesis
proteoglikan yang menyebabkan tulang dan sendi lebih

38
http://intisarisainsmedis.weebly.com/

ISSN: 2089-9084

ISM, VOL. 4 NO.1, SEPTEMBER-DESEMBER, HAL 32-41

rentan terhadap tekanan dan kekurangan elastisitas


sendi. Sampel yang digunakan pada penelitian ini
diambil dari kelompok usia di atas 50 tahun yang
memang sudah memiliki faktor risiko untuk menderita
OA dimana menurut konsep teori prevalensi dan
beratnya OA semakin meningkat dengan bertambahnya
usia seseorang.
Dari hasil penelitian, kelompok usia terbanyak
yang mengalami OA adalah kelompok usia 50-70 tahun
(61.2%). Hal ini sejalan dengan penelitian Arissa MI et al
di RSU dr. Soedarso Pontianak tahun 2012 dimana
proporsi kasus OA terbanyak dialami kelompok usia 5572 tahun. Berdasarkan hasil penelitian di Desa
Serampingan, Tabanan tahun 2012 prevalensi OA paling
banyak didapatkan pada kelompok usia 60-70 tahun
(63.1%). Dilihat dari kecenderungan kejadian OA,
sebanyak 70.4% responden yang berusia di atas 70
tahun menderita OA lutut. Angka ini lebih banyak jika
dibandingkan jumlah penderita OA lutut pada kelompok
usia 50 70 tahun (58.8%). Berdasarkan hasil di atas,
terlihat adanya kecenderungan peningkatan prevalensi
OA seiring dengan bertambahnya usia responden.2,3,6
Desa Susut merupakan wilayah cakupan dari
Puskesmas Susut I dimana terdapat program kesehatan
usila (usia lanjut) sebagai salah satu program
pengembangan yang masih berjalan kurang efektif.
Melihat tingginya angka prevalensi OA lutut di Desa
Susut pada kelompok usia lanjut maka perlu diadakan
suatu intervensi terhadap kelompok ini dalam rangka
menghentikan progresivitas penyakit OA lutut yang
dapat berdampak pada disabilitas lansia.
Distribusi OA Lutut Berdasarkan Jenis Kelamin
Pada penelitian ini didapatkan kejadian OA
lebih banyak pada perempuan (57.1%) daripada laki-laki
(42.9%) dimana kejadian OA lutut pada perempuan
adalah sebanyak 68.3%. Angka ini lebih banyak daripada
kejadian OA lutut pada laki-laki (56.8%). Dari angka
tersebut dapat dilihat bahwa kejadian OA cenderung
dialami oleh perempuan. Hal ini sejalan dengan konsep
teori yang menyatakan bahwa secara keseluruhan pada
usia di atas 50 tahun, frekuensi OA lebih banyak terjadi
pada wanita (setelah menopause) yang menunjukkan
faktor hormonal yang turut berperan pada kejadian OA.
Hasil tersebutjuga sejalan dengan penelitian di RSU dr.
Soedarso Pontianak dimana proporsi kasus OA
terbanyak terjadi pada wanita (68.67%) dan penelitian

Maharani E P dimana jenis kelamin perempuan


dinyatakan sebagai salah satu faktor risiko terjadinya OA
di (p = 0,043 ; OR = 2,14).3,6,10
Melihat tingginya kejadian OA pada wanita
maka perlu dilakukan suatu penyuluhan kepada
kelompok wanita di Desa Susut misalnya melalui
program KIA KB/ penyuluhan terhadap ibu-ibu PKK
mengenai bahaya OA terhadap perempuan pasca
menopause dan faktor risiko lainnya.
Distribusi OA Lutut Berdasarkan Jenis Pekerjaan
Berdasarkan jenis pekerjaan, OA lutut paling
banyak terjadi pada pekerja fisik (petani, buruh, ABRI
dan peternak) (65.3%) dimana sebanyak 68.1% pekerja
fisik (petani, peternak, buruh dan ABRI) menderita OA
lutut. Hasil ini juga sejalan dengan penelitian Dwipayana
G A, angka kejadian OA di kalangan petani adalah
sebesar 57%.3Dapat dilakukan suatu edukasi kepada
kelompok pekerja fisik bagaimana mengurangi beban
kerja dan aktivitas apa saja yang dapat berisiko
terjadinya OA serta kegiatan pencegahan yang dapat
dilakukan.
Distribusi OA Lutut Berdasarkan Indeks Masa Tubuh
(IMT)
Obesitas merupakan salah satu faktor risiko
yang berperan sebagai faktor risiko OA lutut. Pada
keadaan normal, gaya berat badan akan melalui medial
sendi lutut dan akan diimbangi oleh otot-otot paha
bagian lateral sehingga resultannya akan jatuh pada
bagian sentral sendi lutut. Sedangkan pada keadaan
obesitas resultan tersebut akan bergeser ke medial
sehingga beban yang diterima sendi lutut akan tidak
seimbang karena bergesernya titik tumpu badan dan
menyebabkan terkikisnya tulang rawan.8
Hasil penelitian ini bertolak belakang dengan
konsep teori dimana proporsi responden dengan OA
lutut sebagian besar terjadi pada responden dengan IMT
kurus normal (59.2%) dimana sebanyak 64.4%
responden dengan IMT kurus-normal menderita OA
lutut. Angka ini sedikit lebih besar daripada proporsi
responden dengan IMT kelebihan berat badankegemukan yang menderita OA lutut (60.6%). Beberapa
penelitian mengungkapkan hasil yang berbeda-beda,
pada penelitian yang dilakukan di Desa Serampingan,
Tabanan sebanyak 100% sampel penelitian yang
mengalami OA memiliki IMT kurus normal. Namun

39
http://intisarisainsmedis.weebly.com/

ISSN: 2089-9084

ISM, VOL. 4 NO.1, SEPTEMBER-DESEMBER, HAL 32-41

penelitian Wahyuningsih NAS di Kecamatan Jebres,


Surakarta menyatakan bahwa lansia dengan IMT
kelebihan berat badan memiliki risiko terjadinya OA 4,9
kali lebih besar daripada lansia dengan IMT
normal.3,8Sedangkan penelitian Koentjoro SL di Rumah
Sakit Dr. Kariadi Semarang menyatakan tidak ada
hubungan yang bermakna antara IMT dengan derajat OA
lutut.9
Obesitas merupakan faktor risiko OA Lutut
namun bukan satu-satunya faktor yang berpengaruh.
Berdasarkan profil Puskesmas Susut I, pola konsumsi
penduduk di Desa Susut atau kecenderungan untuk
mengkonsumsi makanan biasanya akan dipengaruhi
oleh tingkat pendapatan, selera dan lingkungan. Tingkat
pendapatan penduduk di wilayah kerja Puskesmas Susut
I yang mayoritas penduduknya adalah petani memiliki
penghasilan yang tidak tetap dan tidak dapat ditentukan
sehingga hal ini mempengaruhi pola konsumsi mereka
sehari-hari. Obesitas dan kelainan metabolik bukan
merupakan tren penyakit di daerah ini karena
karakteristik penduduknya sehingga mungkin obesitas
bukan menjadi faktor risiko utama OA lutut di daerah
ini.7
Distribusi OA Lutut Berdasarkan Riwayat Beban Kerja
Berdasarkan riwayat beban kerja, mayoritas
penderita OA terjadi pada responden dengan riwayat
beban kerja sedang berat (71.4%) dimana sebesar
67.3% responden dengan beban kerja sedang berat
menderita OA lutut. Hasil ini sejalan dengan hasil
penelitian di Desa Serampingan, Tabanan dimana 98.2%
penderita OA merupakan responden yang riwayat
pekerjaan dan kesehariannya dengan beban pekerjaan
yang berat.
Pada penelitian Toivanen juga didapatkan
hubungan antara meningkatnya beban kerja seseorang
dengan risiko terjadinya OA dimana seseorang dengan
beban kerja berat mengalami peningkatan risiko
terjadinya OA hampir sebesar 7 kali. Dinyatakan pula
bahwa beban pekerjaan yang ringan tidak signifikan
pengaruhnya terhadap terjadinya OA.3,4 Berdasarkan
hasil di atas, edukasi serta intervensi yang dilakukan
perlu menyasar kelompok penduduk yang terutama
memiliki beban pekerjaan yang berat seperti pekerja
fisik.
Distribusi OA Lutut Berdasarkan Faktor Biomekanik
Berdasarkan faktor biomekanika, distribusi
kejadian OA lutut sebagian besar terjadi pada responden

yang memiliki riwayat membawa beban saat bekerja


(71.4%) dengan perkiraan beban terbanyak < 25 kg
(79.6%), frekuensi kerja dengan beban terbanyak adalah
4x seminggu (53.1%) dengan durasi kerja terbanyak
adalah 17 tahun (91.8%) dan kondisi geografis saat
bekerja terbanyak adalah naik turun dan bertangga
(77.6%).
Dilihat dari kecenderungan kejadian OA lutut
menurut faktor risiko, 68.6% responden dengan riwayat
membawa beban saat bekerja, 76.9% responden yang
membawa beban 25 kg, 76.5% responden yang
bekerja dengan beban 4x dalam seminggu dan 64.3%
responden yang bekerja 17 tahun menderita OA lutut.
Sedangkan berdasarkan kondisi geografis saat bekerja,
67.9% responden yang kondisi geografis kerjanya naikturun dan tangga menderita OA.
Penelitian yang dilakukan oleh Hadi S dkk di
Bandungan menyatakan bahwa faktor risiko mekanik
yang berpengaruh pada kejadian OA adalah membawa
beban berat saat bekerja. Berat beban yang dapat
menimbulkan OA lutut adalah beban lebih dari 50 lbs
atau sekitar 25 kg (1 lbs = 453,592 gram) dengan masa
kerja 17,14 tahun atau lebih serta frekuensi kerja
dengan beban adalah 4 kali seminggu. Kondisi geografi
yang berbukit pada daerah kerja dengan mengangkat
beban juga merupakan faktor risiko yang mempunyai
pengaruh besar.11 Namun penelitian yang dilakukan oleh
Virgiyanti A. di Semarang menyimpulkan bahwa tidak
terdapat perbedaan yang signifikan pada kelompok OA
lutut dan kelompok non OA lutut terkait faktor risiko
beban biomekanik.Hal ini mungkin diakibatkan oleh
karena dalam kesehariannya, beban yang diangkat (kg)
antara kelompok OA dan kelompok non OA relatif sama
dan diduga terdapat bias recall dimana responden tidak
memberikan data yang sebenarnya.3,11
Berdasarkan riwayat cedera lutut, sebagian
besar kejadian OA dialami oleh responden yang tidak
pernah mengalami cedera lutut sebelumnya (87.8%).
Namun sebesar 75% responden yang pernah mengalami
cedera lutu menderita OA. Penelitian di Universitas
IOWA menyatakan bahwa 13.9% dari mereka yang
pernah mengalami trauma lutut termasuk trauma pada
meniskus, ligamentum, ataupun tulang pada dewasa
muda berkembang menjadi OA lutut dan mereka yang
tidak pernah mengalami trauma lutut hanya 6% yang
menderita OA lutut.

40
http://intisarisainsmedis.weebly.com/

ISSN: 2089-9084

ISM, VOL. 4 NO.1, SEPTEMBER-DESEMBER, HAL 32-41

KESIMPULAN DAN SARAN


Dari hasil penelitian dan pembahasan, dapat
disimpulkan hal-hal sebagai berikut:
1. Prevalensi Osteoartritis (OA) lutut pada kelompok
usia lebih dari 50 tahun di wilayah kerja Puskesmas
Susut I, Kecamatan Susut, Kabupaten Bangli pada
bulan April 2014 adalah sebesar 62.8%.
2. Berdasarkan karakteristik sosio-demografi, kejadian
OA lutut lebih banyak dialami oleh kelompok usia
50-70 tahun (61.2%), berjenis kelamin perempuan
(57.1%), dan memiliki pekerjaan fisik (petani,
peternak, buruh dan ABRI) (65.3%).
3. Dilihat dari faktor risiko, kejadian OA lutut lebih
banyak terjadi pada responden dengan IMT kurusnormal (59.2%), riwayat beban kerja sedang-berat
(71.4%) dengan faktor biomekanika antara lain
responden dengan riwayat membawa beban saat
bekerja (71.4%) dimana perkiraan berat beban < 25
kg (79.6%), frekuensi bekerja dengan beban
sebanyak 4 kali/minggu (53.1%) dan memiliki
durasi kerja 17 tahun (91.8%), serta menempuh
jalan naik, turun, bertangga saat bekerja (77.6%).
Kejadian OA lutut cenderung lebih banyak terjadi
pada responden tanpa riwayat cedera lutut (87.8%).
Berdasarkan simpulan tersebut, dapat dirumuskan saran
sebagai berikut :
1. Perlu dilakukan penelitian yang lebih mendalam
untuk mencari hubungan dari faktor risiko terhadap
kejadian OA lutut di wilayah kerja Puskesmas Susut I
dan dengan teknik penegakan diagnosis yang
disertai dengan pemeriksaan penunjang.
2. Perlu diadakan tindak lanjut oleh pihak Puskesmas
Susut I berupa mengefektifkan program kesehatan
usila dalam menurunkan morbiditas dan
menghindari disabilitas akibat OA lutut misalnya
berupa senam lansia secara rutin setiap minggunya,
Sserta perlu diadakan penyuluhan oleh tim promosi
kesehatan mengenai OA lutut dan bagaimana cara
pencegahannya kepada masyarakat yang at risk OA
lutut misalnya masyarakat usia produktif.
DAFTAR PUSTAKA
1. Kementrian Kesehatan RI. Gambaran Kesehatan
Lanjut Usia di Indonesia. Jakarta: Kementrian
Kesehatan RI ; 2013. Hal. 2 (Buletin Jendela Data
dan Informasi Kesehatan)

2.

Soeroso J, Isbagio H, Kalim H, Broto R, Pramidiyo R.


Osteoartritis. Dalam : Sudoyo AW, Setiyohadi B,
Alwi I, Simadibrata M, Setiati S, editor. Buku Ajar
Ilmu Penyakit Dalam. Edisi V. Jakarta: Interna
Publishing; 2009. Hal. 2538-42
3. Dwipayana GA, Sawenda K, Krishnan D. Prevalensi
dan
Distribusi
Osteoartritis
Berdasarkan
Karakteristik, Indeks Masa Tubuh, Riwayat Beban
Pekerjaan, dan Faktor Biomekanik pada Penduduk
Usia Lanjut di Desa Serampingan, Kecamatan
Selemadeg Kabupaten Tabanan. Denpasar: Fakultas
Kedokteran Universitas Udayana; 2012
4. Toivanen AT, Heliovaara M, Impivaara O, Arokoski
JPA, Knekt P, Lauren H, dkk. Obesity, physically
demanding work and traumatic knee injury are
major risk factors for knee osteoarthritis-a
population-based study with a follow-up of 22
years. Rheumatology 2009; 49
5. Andriyasa K, Putra TR. Korelasi Antara Derajat
Beratnya Osteoarthritis Lutut dan Cartilage
Oligomeric Matrix Protein Serum. Jurnal Penyakit
Dalam 2012; 13 (1)
6. Arissa MI. Pola Distribusi Kasus Osteoartritis di RSU
Dokter Soedarso Pontianak Periode 1 Januari 200831 Desember 2009. Pontianak: Fakultas Kedokteran
Universitas Tanjungpura; 2012
7. Puskesmas Susut I. Profil UPT. Puskesmas Susut I
Tahun 2013. Bangli: Puskesmas Susut I; 2013
8. Wahyuningsih NAS. Hubungan Obesitas dengan
Osteoartritis Lutut pada Lansia di Kelurahan
Puncangsawit Kecamatan Jebres Surakarta.
Surakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas
Maret; 2009
9. Koentjoro SL. Hubungan Antara Indeks Masa Tubuh
(IMT) dengan Derajat Osteoartritis Lutut Menurut
Kellgren dan Lawrence. Semarang: Fakultas
Kedokteran Universitas Diponegoro; 2010
10. Maharani PE. Faktor-Faktor Risiko Oasteoartritis
Lutut. Semarang: Program Studi Magister
Epidemiologi Program Pascasarjana Universitas
Diponegoro; 2007
11. Virgiyanti A. Beban Biomekanik sebagai Faktor
Risiko Terjadinya Osteoartritis Lutut. Semarang:
Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro; 2006

41
http://intisarisainsmedis.weebly.com/