Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN


DENGAN ABORTUS IMMINENS
DI RUANG VK BERSALIN
RSUD. DR. H. MOCH. ANSARI SALEH BANJARMASIN

Tanggal 25 - 6 Agustus 2016

Oleh :
Anna Maulina Kustantie, S.Kep
NIM I4B112031

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
2016
LEMBAR PENGESAHAN

NAMA
NIM
JUDUL LP

: Anna Maulina Kustantie, S.Kep


: I4B112031
: Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Abortus Imminens di
ruang VK Bersalin RSUD. Dr. H. Moch. Ansari Saleh
Banjarmasin

Banjarmasin, Juli 2016

Mengetahui,
Pembimbing Akademik

Fitri Ayatul Azlina, S. Kep., Ns.


NIK. 1990. 2016. 1. 198
A. Pengertian

Pembimbing Lahan

Nurdiana, S. Kep., Ns.


NIP. 19811028 200903 2 005

Abortus atau lebih dikenal dengan istilah keguguran adalah pengeluaran


hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar rahim. Janin belum mampu hidup

di luar rahim, jika beratnya kurang dari 500 g, atau usia kehamilan kurang dari 28
minggu karena pada saat ini proses plasentasi belum selesai. Pada bulan pertama
kehamilan yang mengalami abortus, hampir selalu didahului dengan matinya janin
dalam rahim. Manuaba, 2007:683).
Abortus Imminens ialah terjadinya pendarahan dari uterus pada kehamilan
sebelum 20 minggu dengan atau tanpa kontraksi uterus yang nyata dengan hasil
konsepsi dalam uterus dan tanpa adanya dilatasi servik uteri (Sarwono, 1996, hal.
261). Abortus imminen adalah perdarahan bercak yang menunjukkan ancaman
terhadap kelangsungan sauatu kehamilan. Dalam kondisi seperti ini kehamilan
masih mungkin berlanjut atau dipertahankan. (Syaifudin. Bari Abdul, 2000)
Abortus imminen adalah perdarahan pervaginam pada kehamilan kurang dari 20
minggu, tanpa tanda-tanda dilatasi serviks yang meningkat (Mansjoer, Arif M,
1999). Abortus imminen adalah pengeluaran secret pervaginam yang tampak pada
paruh pertama kehamilan (William Obstetri, 1990).
B. Etiologi
Pada kehamilan muda abortus tidak jarang didahului oleh kematian
mudigah. Sebaliknya, pada kehamilan lebih lanjut biasanya janin dikeluarkan
dalam keadaan masih hidup. Hal-hal yang menyebabkan abortus dapat dibagi
sebagai berikut.
1. Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi
Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi dapat menyebabkan kematian janin atau
cacat. Kelainan berat biasanya menyebabkan kematian mudigah pada hamil
mudah. Faktor-faktor yang menyebabkan kelainan dalam pertumbuhan ialah
sebagai berikut:
a. Kelainan kromosom. Kelainan yang sering ditemukan pada abortus spontan
ialah trisomi, poliploidi dan kemungkinan pula kelainan kromosom seks.
b. Lingkungan kurang sempurna. Bila lingkungan di endometrium di sekitar
tempat implantasi kurang sempurna sehingga pemberian zat-zat makanan
pada hasil konsepsi terganggu.
c. Pengaruh dari luar. Radiasi, virus, obat-obat, dan sebagainya dapat
mempengaruhi baik hasil konsepsi maupun lingkungan hidupnya dalam
uterus. Pengaruh ini umumnya dinamakan pengaruh teratogen.

2. Kelainan pada plasenta


Endarteritis dapat terjadi dalam villi koriales dan menyebabkan oksigenisasi
plasenta terganggu, sehingga menyebabkan gangguan pertumbuhan dan
kematian janin. Keadaan ini bisa terjadi sejak kehamilan muda misalnya karena
hipertensi menahun.
3. Penyakit ibu
Penyakit mendadak, seperti pneumonia, tifus abdominalis, pielonefritis,
malaria, dan lain-lain dapat menyebabkan abortus. Toksin, bakteri, virus, atau
plasmodium dapat melalui plasenta masuk ke janin, sehingga menyebabkan
kematian janin, dan kemudian terjadilah abortus. Anemia berat, keracunan,
laparotomi, peritonitis umum, dan penyakit menahun seperti brusellosis,
mononukleosis infeksiosa, toksoplasmosis juga dapat menyebabkan abortus
walaupun lebih jarang.
4. Kelainan traktus genitalis
Retroversio uteri, mioma uteri, atau kelainan bawaan uterus dapat
menyebabkan abortus. Tetapi, harus diingat bahwa hanya retroversio uteri
gravidi inkarserata atau mioma submukosa yang memegang peranan penting.
Sebab lain abortus dalam trimester ke-2 ialah servik inkompeten yang dapat
disebabkan oleh kelemahan bawaan pada serviks, dilatasi serviks berlebihan,
5.
6.
7.
8.

konisasi, amputasi, atau robekan serviks luas yang tidak dijahit.


Kelainan endokrin (hyperthiroid, diabetes melitus, kekurangan progesteran)
Trauma
Gangguan nutrisi
Stress psikologis
C. Anatomi dan Fisiologi Reproduksi Wanita
Struktur organ reproduksi wanita meliputi organ reproduksi internal dan

organ reproduksi eksternal. Keduanya saling berhubungan dan tak terpisahkan.


Organ reproduksi internal terdapat di dalam rongga abdomen, meliputi sepasang
ovarium dan saluran reproduksi yang terdiri saluran telur (oviduct/tuba falopii),
rahim (uterus) dan vagina. Organ reproduksi luar meliputi mons veneris, klitoris,
sepasang labium mayora dan sepasang labium minora.

Gambar 1. Organ Interna Wanita


1

Ovarium.
Jumlah sepasang, bentuk oval dengan panjang 3-4 cm, menggantung bertaut
melalui mesentrium ke uterus. Merupakan gonade perempuan yang berfungsi
menghasilkan ovum dan mensekresikan hormon kelamin perempuan yaitu
estrogen dan progesteron. Ovarium terbungkus oleh kapsul pelindung yang
kuat dan banyak mengandung folikel. Seorang perempuan kurang lebih
memiliki 400.000 folikel dari kedua ovariumnya sejak ia masih dalam
kandungan ibunya. Namun hanya beberapa ratus saja yang berkembang dan
melepaskan ovum selama masa reproduksi seorang perempuan, yaitu sejak
menarche (pertama mendapat menstruasi) hingga menophause (berhenti
menstruasi). Pada umumnya hanya sebuah folikel yang matang dan
melepaskan ovum tiap satu siklus menstruasi (kurang lebih 28 hari) dari salah
satu ovarium secara bergantian.
Selama mengalami pematangan, folikel mensekresikan hormone estrogen.
Setelah folikel pecah dan melepaskan ovum, folikel akan berubah menjadi
korpus luteum yang mensekresikan estrogen dan hormon progesteron. Estrogen
yang disekresikan korpus luteum tak sebanyak yang disekresikan oleh folikel.
Jika sel telur tidak dibuahi maka korpus luteum akan lisis dan sebuah folikel
baru akan mengalami pematangan pada siklus berikutnya.

Tuba falopii/oviduct (saluran telur)


Jumlah sepasang, ujungnya mirip corong berjumbai yang disebut infundibulum
berfungsi untuk menangkap ovum yang dilepas dari ovarium. Epithelium
bagian dalam saluran ini bersilia, gerakan silia akan mendorong ovum untuk
bergerak menuju uterus.

Uterus (rahim)
Jumlah satu buah, berotot polos tebal, berbentuk seperti buah pir, bagian bawah
mengecil

disebut

cervix.

Uterus

merupakan

tempat

tumbuh

dan

berkembangnya embrio, dindingnya dapat mengembang selama kehamilan dan


kembali berkerut setelah melahirkan. Dinding sebelah dalam disebut
endometrium, banyak mengasilkan lendir dan pembuluh darah. Endometrium
akan menebal menjelang ovulasi dan meluruh pada saat menstruasi.
4

Vagina
Merupakan akhir dari saluran reproduksi wanita. Suatu selaput berpembuluh
darah yang disebut hymen menutupi sebagian saluran vagina. Membran ini
dapat robek akibat aktivitas fisik yang berat atau saat terjadi hubungan badan.
Vagina berfungsi sebagai alat kopulasi wanita dan juga sebagai saluran
kelahiran. Dindingnya berlipat-lipat, dapat mengembang saat melahirkan bayi.
Pada dinding sebelah dalam vagina bermuara kelenjar bartholin yang
mensekresikan lendir saat terjadi rangsangan seksual.

Mons veneris
Merupakan bagian yang tebal dan banyak mengandung jaringan lemak terletak
pada bagian paling atas dari vulva.

Labium mayora
Jumlah sepasang, merupakan suatu lipatan tebal yang mengelilingi vagina dan
ditumbuhi rambut

Gambar 2. Organ Eksterna Wanita


7

Labium minora
Jumlah sepasang, merupakan suatu lipatan tipis di sebelah dalam labium
mayora, banyak mengandung pembuluh darah dan saraf. Labium minora
menyatu di bagian atas membentuk clitoris. Labium minora mengelilingi
vestibulum, suatu tempat dimana terdapat lubang uretra di bagian atas dan
lubang vagina di bagian bawah.

Clitoris
Berupa sebuah tonjolan kecil, merupakan bagian yang paling peka terhadap
rangsang karena banyak mengandung saraf (Bobak, 2000).

D. Manifestasi Klinis
Biasanya, tetapi tidak selalu, pertama-tama akan terjadi perdarahan, yang
setelah beberapa jam sampai beberapa hari akan diikuti oleh kram abdomen.

Nyeri pada abortus dapat terletak di sebelah anterior dan berirama seperti nyeri
pada persalinan biasa; serangan nyeri tersebut bisa berupa nyeri pinggang bawah
yang persisten disertai perasan tekanan pada pangggul; atau nyeri tersebut bisa
berupa nyeri tumpul atau rasa pegal di garis tengah pada daerah suprasimpisis
yang disertai dengan nyeri tekan di daerah uterus. Bagaimanapun bentuk nyeri
yang terjadi, kelangsungan kehamilan dengan perdarahan dan rasa nyeri
memperlihatkan prognosis yang jelek. Meskipun demikian, pada sebagian wanita
yang menderita nyeri dan terancam mengalami abortus, perdarahan bisa berhenti,
rasa nyeri menghilang dan kehamilan yang normal terjadi.
Pada mulanya perdarahan hanya sedikit kemudian berulang dan bertambah
banyak. Kadang-kadang perdarahan berulang dapat berlangsung berhari-hari atau
beberapa minggu bahkan berbulan lamanya. Warna darah lebih banyak merah
segar, kecuali telah bercampur dengan darah tua sehingga warnanya kecoklatan.
Tanda-tanda kehamilan muda tetap ada. Rasa nyeri pada suprasimfisis atau
pinggang mulanya belum ada atau ringan saja.
Tanda dan gejala pada abortus Imminen:
1. Terdapat keterlambatan datang bulan
2. Terdapat perdarahan, disertai sakit perut atau mules
3. Pada pemeriksaan dijumpai besarnya rahim sama dengan umur kehamilan dan
terjadi kontraksi otot Rahim
4. Hasil periksa dalam terdapat perdarahan dari kanalis servikalis, dan kanalis
servikalis masih tertutup, dapat dirasakan kontraksi otot Rahim
5. Hasil pemeriksaan tes kehamilan masih positif.
E. Patofisiologi

Pada awal abortus terjadilah perdarahan dalam desidua basalis kemudian


diikuti oleh nekrosis jaringan disekitarnya. Hal tersebut menyebabkan hasil
konsepsi terlepas sebagian atau seluruhnya, sehingga merupakan benda asing
dalam uterus. Keadaan ini menyebabkan uterus berkontraksi untuk mengeluarkan
isinya. Pada kehamilan kurang dari 8 minggu hasil konsepsi itu biasanya
dikeluarkan seluruhnya karena villi koriales belum menembus desidua secara
mendalam. Pada kehamilan antara 8 sampai 14 minggu villi koriales menembus
desidua lebih dalam, sehingga umumnya plasenta tidak dilepaskan sempurna yang

dapat menyebabkan perdarahan. Pada kehamilan 14 minggu ke atas umumnya


yang dikeluarkan setelah ketuban pecah ialah janin, disusul beberapa waktu
kemudian plasenta. Perdarahan tidak banyak jika plasenta segera terlepas dengan
lengkap. Peristiwa abortus ini menyerupai persalinan dalam bentuk miniatur.

F. Klasifikasi
Klasifikasi abortus digolongkan menjadi 2 yaitu:
1. Abortus spontaneous yaitu abortus yang terjadi dengan tidak didahului faktorfaktor mekanis atau medisinalis, tetapi karena faktor alamiah. Aspek klinis
abortus spontaneus meliputi:
Abortus Imminens
Abortus Imminens adalah peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada

a.

kehamilan sebelum 20 minggu, dimana hasil konsepsi masih dalam uterus,


dan tanpa adanya dilatasi serviks. Diagnosis abortus imminens ditentukan
apabila terjadi perdarahan pervaginam pada paruh pertama kehamilan. Yang
pertama kali muncul biasanya adalah perdarahan, dari beberapa jam sampai
beberapa hari kemudian terjadi nyeri kram perut. Nyeri abortus mungkin
terasa di anterior dan jelas bersifat ritmis, nyeri dapat berupa nyeri
punggung bawah yang menetap disertai perasaan tertekan di panggul, atau
rasa tidak nyaman atau nyeri tumpul di garis tengah suprapubis. Kadangb.

kadang terjadi perdarahan ringan selama beberapa minggu.


Abortus insipiens
Abortus Insipiens adalah peristiwa perdarahan uterus pada kehamilan
sebelum 20 minggu dengan adanya dilatasi serviks uteri yang meningkat
tetapi hasil konsepsi masih dalam uterus. Dalam hal ini rasa mules menjadi

lebih sering dan kual perdarahan bertambah.


c. Abortus inkompletus
Pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu
dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus. Apabila plasenta (seluruhnya
atau sebagian) tertahan di uterus, cepat atau lambat akan terjadi perdarahan
yang merupakan tanda utama abortus inkompletus. Pada abortus yang lebih
lanjut, perdarahan kadang-kadang sedemikian masif sehingga menyebabkan
hipovolemia berat.

d. Abortus kompletus
Pada abortus kompletus semua hasil konsepsi sudah dikeluarkan. Pada
penderita ditemukan perdarahan sedikit, ostium uteri telah menutup, dan
uterus sudah banyak mengecil. Diagnosis dapat dipermudah apabila hasil
konsepsi dapat diperiksa dan dapat dinyatakan bahwa semuanya sudah
keluar dengan lengkap.
e. Abortus Servikalis
Pada abortus servikalis keluarnya hasil konsepsi dari uterus dihalangi oleh
ostium uteri eksternum yang tidak membuka, sehingga semuanya terkumpul
dalam kanalis servikalis dan serviks uteri menjadi besar, kurang lebih
bundar, dengan dinding menipis. Pada pemeriksaan ditemukan serviks
membesar dan di atas ostium uteri eksternum teraba jaringan. Terapi terdiri
atas dilatasi serviks dengan busi Hegar dan kerokan untuk mengeluarkan
hasil konsepsi dari kanalis servikalis.
f. Missed Abortion
Missed abortion adalah kematian janin berusia sebelum 20 minggu, tetapi
janin yang telah mati itu tidak dikeluarkan selama 8 minggu atau lebih.
Etiologi missed abortion tidak diketahui, tetapi diduga pengaruh hormone
progesterone. Pemakaian Hormone progesterone pada abortus imminens
mungkin juga dapat menyebabkan missed abortion.
g. Abortus Habitualis
Abortus habitualis adalah abortus spontan yang terjadi 3 kali atau lebih
berturut turut. Pada umumnya penderita tidak sukar menjadi hamil, tetapi
kehamilannya berakhir sebelum 28 minggu
2. Abortus provokatus (abortus yang sengaja dibuat) yaitu menghentikan
kehamilan sebelum janin dapat hidup di luar tubuh ibu. Pada umumnya
dianggap bayi belum dapat hidup diluar kandungan apabila kehamilan belum
mencapai umur 28 minggu, atau berat badanbayi belum 1000 gram, walaupun
terdapat kasus bahwa bayi dibawah 1000 gram dapat terus hidup. Abortus ini
terbagi menjadi dua yaitu :
a. Abortus medisinalis (abortus therepeutika)

adalah abortus karena tindakan kita sendiri, dengan alasan bila kehamilan
dilanjutkan, dapat membahayakan jiwa ibu ( berdasarkan indikasi medis).
Biasanya perlu mendapat persetujuan dua sampai tiga tim dokter ahli
b. Abortus kriminalis
adalah abortus yang terjadi oleh karena tindakan tindakan yang tidak legal
atau tidak berdasarkan indikasi medis.
G. Komplikasi
1. Perdarahan
Perdarahan dapat diatasi dengan pengosongan uterus dari sisa-sisa hasil
konsepsi dan jika perlu pemberian tranfusidarah .Kematian karena perdarahan
dapat terjadi apabila pertolongan tedak segera diberikan pada waktunya.
2. Perforasi
Perforasi uterus pada kerokan dapat terjadi terutama pada uterus dalam posisi
hiperetrofleksi. Jika terjadi peristiwa ini penderita perlu diamat-amati dengan
teliti. Jika ada tanda bahaya, perlu segera dilakukan laparatomie, dan
tergantung dari luas dan bentuk perforasi, penjahitan luka perforasi atau perlu
histerektomie. Perforasi uterus pada abortus yang dikerjakan oleh orang awam
menimbulkan persoalan gawat karena perlukaan uterus biasanya luas;mungkin
pula terjadi perlukaan pada kandung kencing atau usus. Dengan adanya dugaan
atau kepastian terjadinya perforasi, laparatomie harus segera dilakukan untuk
menentukan luasnya cedera, untuk selanjutnya mengambil tindakan-tindakan
seperlunya guna mengatasi komplikasi.
3. Infeksi
Abortus Infeksiosus ialah abortus yang disertai infeksi pada genetalia.
Diagnosis ditentukan dengan adanya abortus yang disertai gejala dan tanda
infeksi alat genital, seperti panas, takikardia, perdarahan pervaginam yang
berbau, uterus yang membesar, lembek, serta nyeri tekan, dan leukositosis.
4. Syok
Syok pada abortus bisa terjadi karena perdarahan (syok hemoragik), dan karena
infeksi berat (syok Endoseptik).
H. Pemeriksaan Diagnostic
1. Pemeriksaan penunjang

a. Tes kehamilan positif jika janin masih hidup dan negatif bila janin sudah
mati
b. pemeriksaan Dopler atau USG untuk menentukan apakah janin masih hidup
c. pemeriksaan fibrinogen dalam darah pada missed abortion
2. Data laboratorium
a. Tes urine
b. hemoglobin dan hematocrit : hemoglobin terjadi Penurunan (< 10 mg%) dan
hematokrit terjadi Penurunan (< 35 mg%)
c. menghitung trombosit
d. kultur darah dan urine
I. Penatalaksanaan
Penanganan abortus imminens terdiri atas:
1. Istirahat-baring. Tidur berbaring merupakan unsur penting dalam pengobatan,
karena cara ini menyebabkan bertambahnya aliran darah ke uterus dan
berkurangnya rangsang mekanik.
2. Tentang pemberian hormon progesteron pada abortus imminens belum ada
persesuaian faham. Sebagian besar ahli tidak menyetujuinya, dan mereka yang
menyetujui menyatakan bahwa harus ditentukan dahulu adanya kekurangan
hormon progesteron. Apabila dipikirkan bahwa sebagian besar abortus
didahului oleh kematian sel hasil konsepsi dan kematian ini dapat disebabkan
oleh banyak faktor, maka pemberian hormon progesteron memang tidak
banyak manfaatnya.
3. Pemeriksaan USG penting dilakukan untuk menentukan apakah janin masih
hidup.
4. Berikan obat penenang, biasanya fenobarbital 3 x 30 mg. Berikan preparat
hematinik misalnya sulfas ferosus 600 / 1.000 mg
5. Diet tinggi protein dan tambahan vitamin C
6. Bersihkan vulva minimal dua kali sehari dengan cairan antiseptik untuk
mencegah infeksi terutama saat masih mengeluarkan cairan coklat
7. Bila perdarahan
a. Berhenti: lakukan asuhan antenatal terjadwal dan penilaian ulang

bila

terjadi perdarahan lagi.


b. Berlangsung lama: nilai kembali kondisi janin. Konfirmasikan kemungkinan
adanya penyebab lain (hamil ektopik atau mola).

J. Pathway

Infeksi akut

Gangguan
endokrin

Trauma

Gangguan
Gizi/Anemia

Gangguan faal
organ

Abortus (mati janin


<20 minggu)

Abortus
Infeksiosa

Abortus Spontan

Retensi Janin
(missed abortion)

Abortus
Imminens

Perdarahan, bercak ada


ancaman kehamilan
Perdarahan

Shock

Kekurangan
volume cairan

Risiko infeksi

Abortus Resiko
tinggi

Nyeri abdomen

Kurang
pengetahuan

Nyeri akut

ansietas

K. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
Data yang perlu dikaji oleh perawat adalah :
a. Data dasar yang meliputi :
- Aspek biologi
- Aspek psikologis
- Aspek sosial kultural
- Aspek spritual
b. Data fokus yaitu : data yang sesuai dengan kondisi pasien saat ini yang
meliputi :
- Riwayat kehamilan
- Riwayat sebelumnya, penggunaan kontrasepsi dan jenisnya, riwayat
kehamilan sebelumnya, lahir hidup atau lahir mati, riwayat haid yang
meliputi siklus haid, lama haid dan akhir hair
- Pengkajian fisik meliputi :
Usia kehamilan saat ini, adanya tanda tanda awal kehamilan
Perhatian pendarahan yang terjadi
Adanya infeksi
Rasa nyeri pada saat terjadi pendarahan
Ada riwayat masalah pengobatan
Aktivitas yang dilakukan selama kehamilan
- Masalah psikologis
- Adanya dukungan dari keluarga
- Pemeriksaan LAB : pemeriksaan test kehamilan, Hb, Ht Leukosit.
- Pemeriksaan USG untuk mengetahui pertubuhan janin
- Monitor denyut jantung janin dan tinggi fundus uteri.
2. Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul
a.
Nyeri akut berhubungan dengan adanya kontraksi uterus dalam kehamilan
b.
c.
d.
e.

muda
Kekurangan volume cairan berhubungan dengan adanya pendarahan
Ansietas berhubungan dengan kemungkinan akan kehilangan janin
Risiko Infeksi f.r perdarahan, dan kondisi vulva lembab
Defisiensi pengetahuan sebab sebab terjadinya keguguran berhubungan
dengan kurang informasi.

3. Intervensi Keperawatan
b.

c.

Diagnosa

d.

Intervensi

e.

Rasional

Keperawata
n dan
f.

g.

Tujuan
Nyeri akut
berhubungan
dengan

1. Lakukan

Pain Management
pengkajian

komprehensif

adanya
kontraksi

h.

m.

nyeri

termasuk

q.

diharapkan
nyeri

akan

mempengaruhi

nyeri

seperti

nt

lokasi,

dan faktor presipitasi,.


uterus dalam 2. Kaji
kontraksi
uterus
dan
kehamilan
ketidaknyamanan (awitan, frekuensi,
muda
durasi, intensitas, dan gambaran
Setelah
ketidaknyamanan)
dilakukan
3. Observasi reaksi nonverbal dari reaksi
tindakan
ketidaknyamanan
4.
Kontrol
lingkungan
yang
dapat
keperawatan
selama 2 jam

Manageme

secara

karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas

suhu

ruangan, pencahayaan, dan kebisingan


5. Kurangi faktor presipitasi nyeri

Pain

1. Untuk

memberikan

tindakan

keperawatan

yang sesuai
r.
s.
t.
2. Untuk

mengetahui

kemajuan persalinan dan


ketidaknyamanan yang

i.

berkurang
NOC:

1. Pain level
2. Pain control
3. Comfort level
j.

1. Mampu mengontrol nyeri


2. Menyatakan rasa nyaman
3. Mengungkapkan

tepat

k.
l.

Analgesic administration

dosis dan frekuensi


o.
2. Kolaborasi dengan dokter pemberian

obat analgesik pada klien


tehnik 3. Monitor tanda-tanda vital sebelum dan
untuk

mempertahankan kontrol
nyeri.

n.

1. Cek instruksi dokter tentang jenis obat,

Hasil:

yang

keluhan dan tindakan penanganan nyeri

dirasakan ibu
u.

yang tidak berhasil

Kriteria

penurunan nyeri
4. Menggunakan

6. Kolaborasikan dengan dokter jika ada

sesudah diberikan analgesik


p.

v.
3. Respon dari nyeri yang
dirasakan ibu.
w.
4. Dapat
mengurangi
faktor

yang

memperparah

tingkat

nyeri
x.
y.
z.
aa.
5. Membantu mengurangi
nyeri
ab.
6. Untuk

diberikan

tindakan

selanjutnya

dalam mengatasi nyeri


yang

tidak

berhasil

tersebut
ac.
ad.
ae.
Analgesic
administration
1. Verifikasi

dalam

pemberian

obat,

menghindari kesalahan
dalam pemberian obat
af.
2. Menurunkan
tingkat
nyeri

dengan

teknik

farmakologi
ag.

Penurunan
sirkulasi
darah dapat
terjadi
peningkata
n
kehilangan

cairan
mengakibat
kan
hipotensi
dan
takikardi
ah.

ai.

2.

Kekurangan
volume
cairan
berhubungan

membrane

dengan

tekanan

adanya
aj.

pendarahan
NOC: Fluid
Balance,
Hydration,

ak.

am.
NIC :
an.
Fluid Management
1. Monitor vital sign
2. Monitor status hydrasi (kelembaban

Intake
Setelah
dilakukan
tindakan

mukosa,
darah

nadi

adekuat,

ortostatik),

jika

diperlukan
3. Monitor masukan makanan/ cairan dan
hitung intake kalori harian
4. Kolaborasi pemberian cairan IV
5. Dorong masukan oral
6. Berikan penggantian nasogastric sesuai
output
7. Atur kemungkinan transfusi
8. Persiapan untuk transfuse
ao.
ap.

as.
at.
1.

mengetahui keadaan
umum pasien
mengetahui

2.

perkembangan rehidrasi
au.
av.
aw.
ax.
3.

rehidrasi

optimal

evaluasi intervensi
ay.
4.

mengurangi risiko
kekurangan voume

selama 1x24

aq.

jam, masalah
teratasi

Hypovolemia
Management

1.
2.
dengan
3.
kriteria hasil: 4.
5.
Mempertahankan
urin 6.
output dalam batas normal 7.

Monitor intake dan output cairan


Pelihara IV line
Monitor adanya kelebihan cairan
Monitor BB
Monitor tingkat HB dan hemtokrit
Pasang urin kateter jika diperlukan
Kolaborasikan pemberian diuretic sesuai

sesuai dengan usia, dan

interuksi

BB,
TD, nadi, suhu tubuh

dalam batas normal


Tidak ada tanda dehidrasi
Elastisitas turgor kulit
baik. Membrane mukosa
lembab, tidak ada rasa
haus tambahan.
al.

cairan semakin
bertambah
mengurangi risiko

5.

kekurangan voume
cairan semakin
bertambah
mengurangi risiko

6.

kekurangan voume
cairan semakin

ar.

bertambah
mengurangi risiko

7.

kekurangan voume
cairan semakin
bertambah
mengurangi risiko

8.

kekurangan voume
cairan semakin
bertambah
az.
ba.

1. mengetahui
perkembangan rehidrasi
2. mencegah infeksi dan
mempertahankan input
cairan yang adekuat
3. mencegah
masuknya
cairan berlebihan
4. mengetahui BB

dan

membandingkan

BB

pasien

dan

sebelum

sesudah

diberikan

intervensi
5. memonitor

status

kebutuhan cairan pasien


6. mengetahui
jumlah
output cairan
7. membantu
mempermudah
cairan,

output
menjaga

keseimbangan cairan
bb.

3.

bc.

Ansietas

bi.
bj.

berhubungan
9.

dengan
kemungkina
n

akan

kehilangan

NIC:
Anxiety Reduction

bn.
bo.

Kaji, sifat, sumber dan manifestasi 1. mengidentifikasi

kecemasan.
10. Berikan

perhatian pada bagian


informasi

tentang

penyimpangan genetic khusus, resiko


yang dalam reproduksi dan ketersediaan

janin
bd. NOC:
be. Anxiety self-

tindakan/pilihan diagnosa
11. Kembangkan sikap berbagi rasa

control,

secara terus menerus.


12. Berikan bimbingan antisipasi dalam

anxiety
level,
bf.

coping.
Setelah
dilakukan
tindakan
keperawatan
selama
(1x30 menit)
Ansietas

hal perubahan fisik/psikologis.


bk.
bl.
bm.

khusus dan menentukan


arah dan kemungkinan
pilihan/ intervensi.
2. dapat
menghilangkan
ansietas

berkenaan

dengan

ketidaktahuan

dan membantu keluarga


mengenai

stress,

membuat keputusan, dan


beradaptasi

secara

positif terhadap pilihan.


3. kesempatan bagi klien
untuk

mencari

pemecahan situasi.
4. dapat
menghilangkan
kecemasan/ depresi pada

klien teratasi
dengan
kriteria
hasil :
1. Klien

mampu

mengidentifikasi dan
mengungkapkan
gejala cemas
2. Mengidentifikasi,
mengungkapkan dan
menunjukkan tekhnik
untuk

mengontrol

cemas
3. Vital sign

dalam

batas normal
4. Postur

tubuh,

ekspresi

wajah,

bahasa

tubuh

tingkat
menunjukkan

dan

aktivitas

pasangan.

berkurangnya
kecemasan

4.

bg.
bh.
bp.

Risiko
Infeksi

bw.

perdarahan,
dan kondisi
vulva
lembab
bq. NOC:
1. Imune Status
2. Knowledge: Infection
Control
3. Risk Control
br.

bt. NIC:

f.r

Setelah

1. Perubahan yang terjadi

1. Kaji kondisi keluaran/dischart yang


keluar ; jumlah, warna, dan bau
2. Terangkan pada klien pentingnya
perawatan

vulva

selama

4. Amati luka dari tanda infeksi (flebitis)


5. Anjurkan pada ps untuk melaporkan
dan mengenali tanda-tanda infeksi
6. Anjurkan pada suami untuk
melakukan

tindakan

se;ama masa perdarahan

selama 4 jam

bu.

hubungan

saat

dischart

Adanya

keluar.

warna

yang

lebih gelap disertai bau


tidak

perdarahan
3. Lakukan perawatan vulva

dilakukan
keperawatan

masa

pada dishart dikaji setiap

enak

mungkin

merupakan tanda infeksi


2. Infeksi dapat timbul
akibat

kurangnya

kebersihan genital yang

tidak

lebih luar
senggama 3. Inkubasi kuman

pada

area genital yang relatif


cepat

dapat

menyebabkan infeksi.
4. Daerah ini merupakan

diharapkan

port de entry kuman


bv. Infection Control

diharapkan
tidak terjadi
infeksi
bs.

Kriteria
Hasil

1. Tidak ditemukan tandatanda adanya infeksi.


2. Jumlah Leukosit dalam
batas normal

1. monitor tanda dan gejala infeksi


2. Pantau hasil laboratorium
3. Amati faktor-faktor yang
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Penanda proses infeksi


bx.
bisa 5. Mencegah infeksi
by.

meningkatkan infeksi
6. Pengertian pada keluarga
monitor Vital Sign
sangat penting artinya
Kontrol infeksi
untuk
kebaikan
ibu;
Ajarkan tehnik mencuci tangan
Ajarkan tanda-tanda infeksi
senggama dalam kondisi
Batasi pengunjung
perdarahan
dapat
Cuci tangan sebelum dan sesudah

merawat ps
10. Tingkatkan masukan gizi yang cukup
11. Anjurkan istirahat cukup
12. Pastikan penanganan aseptic daerah
IV
13. Berikan PEN-KES tentang risk infeksi

memperburuk

kondisi

system reproduksi ibu dan


sekaligus
resiko

meningkatkan
infeksi

pasangan.

bz.
ca.
cb.

pada

1. Proteksi diri dari infeksi


cc.
2. Mengetahui
laboratorium
imunitas

hasil
status
terhadap

kemungkinan infeksi
cd.
3. Mencegah
infeksi
sekunder
ce.
4. Mengetahui
umum pasien
cf.
5. Meningkatkan
tahan tubuh
cg.
6. Mencegah

keadaan

daya

terjadinya

perpindahan infeksi
ch.
ci.
7. membantu
proteksi

infeksi
cj.
8. Mencegah

terjadinya

infeksi
ck.
9. Mencegah

terjadinya

infeksi
cl.
cm.
10. Meningkatkan
nutrisi

asupan

pasien

meningkatkan

agar
status

imunisasi
11. Meningkatkan relaksasi
12. Mencegah
terjadinya
infeksi melalui IV
13. Meningkatkan
pengetahuan

pasien

terhadap risiko infeksi


4.

cn.

Defisiensi

1. Untuk

pengetahuan
sebab

cq. NIC: teaching disease


process

pengetahuan

mengetahui
pasien

tentang penyakitnya

sebab
terjadinya
keguguran
berhubungan

1. Kaji tingkat pengetahuan pasien


2. Agar pasien mengetahui
2. Jelaskan pada pasien tentang penyebab
sebab adanya gangguan
dari gangguan kehamilan, misalnya
dari kehamilan
adanya penyakit ibu, kelainan traktur 3. Untuk
mengetahui
genitalis, trauma, gizi
3. Anjurkan
untuk

dengan
kurang

kehamilan secara teratur

informasi.
co.

Setelah

di

berikan
asuhan
keperawatan
selama

11

jam
diharapkan
terjadi
peningkatan
pengetahuan
pasien
keluarga

dan

cr.

perkembangan
memeriksakan

kehamilan pasien
cs.

dengan
kriteria
hasil :
cp.

Knowledge :
disease
process,
health
behavior

1. Pasien/Keluarga
dapat

menyebutkan

penyebab abortus
2. Pasien/keluarga dapat
menyebutkan
kembali tanda gejala
abortus
3. Pasien/keluarga dapat
menyebutkan
kembali

efek

samping abortus
4. Pasien/keluarga dapat
menyebutkan
kembali penanganan
terhadap

efek

samping yang timbul


akibat abortus

ct.

DAFTAR PUSTAKA
cu.
1. Corwin, EJ. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC.
2. Herdman, T.H. 2015. Nanda International Inc. Diagnosis Keperawatan:
definisi & Klasifikasi 2015-2017. Edisi 10. Jakarta: EGC.
3. Jhonson, Marion dkk. 2008. Nursing Outcomes Classification (NOC). St.
Louise, Misouri: Mosby, Inc.
4. McCloskey, Joanne C, 2008. Nursing Intervention Classification (NIC). St.
Louise, Misouri: Mosby, Inc.
5. Carpenito, Lynda, (2001), Buku Saku Diagnosa Keperawatan, Penerbit
Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
6. Affandi B, Adriaansz G, Gunardi ER, Koesno H. Buku panduan praktis
kontrasepsi pelayanan kontrasepsi. Edisi 3. Jakarta: PT Bina Pustaka
7. Sarwono Prawirohardjo; 2011. American Diabetes Association. Standards
of medical care in diabetes. Diabetes Care 2011: 34(1); S11-61.
8. American Heart Association. Part 5: Adult Basic Life Support: 2010
American

Heart

Association

Guidelines

for

Cardiopulmonary

Resuscitation and Emergency Cardiovascular Care Science. Circulation


2010;122:S685-S705.
9. American Heart Association. Part 12: Cardiac Arrest in Special Situations:
2010 American Heart Association Guidelines for Cardiopulmonary
Resuscitation and Emergency Cardiovascular Care Science. Circulation
2010;122:S829-S861.
cv.
cw.
cx.

cy.