Anda di halaman 1dari 30

MAKALAH KOMUNIKASI KEPERAWATAN

KOMUNIKASI TERAPEUTIK PADA ORANG DEWASA

Disusun oleh :
Destya Eka Purwaningrum
Devi Windhatyara
Didik Kurniawan
Dika Ilham Pratama
Egha Dwi Saputri
Endah Suci Retnosari
Faisal Achmad
Fajar Ari Setyoko

DIII KEPERAWATAN
POLTEKKES BHAKTI MULIA SUKOHARJO
2015/2016

Kata Pengantar

Puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan limpahan


rahmatNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah ini yang berjudul
Komunikasi Terapeutik Pada Orang Dewasa, disusun untuk memenuhi tugas mata
kuliah Komunikasi Keperawatan, jurusan DIII Keperawatan.
Dalam penulisan makalah ini tentunya penulis berterimakasih kepada dosen
pembimbing mata kuliah ini yaitu Ibu Pujiatmi, S.Kep, yang telah membimbing,
memotivasi dan mendampingi kami dalam pembelajaran.
Penulis menyadari bahwa sepenuhnya dalam penulisan makalah ini masih
terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran
yang membangun untuk menyempurnakan makalah ini.
Akhir kata penulis mengucapkan terimakasih dan semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi pembaca.

Sukoharjo , 13 Mei 2016

Penulis

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL .. i
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI .. iii
BAB I PENDAHULUAN
A Latar Belakang 1
B Rumusan Masalah ... 1
C Tujuan . 2
BAB II PEMBAHASAN
A
B
C
D
E
F
G
H

Pengertian Komunikasi Terapeutik .. 3


Tujuan Komunikasi Terapeutik .. 3
Manfaat Komunikasi Terapeutik 3
Syarat Komunikasi ..... 4
Sumber Data ... 4
Bentuk Komunikasi Terapeutik 4
Pengertian Dewasa ..
6
Komunikasi Pada Klien Dewasa ... 8
a. Komunikasi Pada Masa Dewasa Awal .
9
b. Suasana Komunikasi ... 10
c. Model Komunikasi dan Implententasinya Pada Klien Dewasa .. 11
d. Prinsip Dasar Komunikasi Terapeutik 13
e. Keberhasilan Komunikasi 14
f. Faktor Penghambat Proses Terapeutik . 14
g. Teknik-Teknik Komunikasi Terapeutik . 15

BAB III ROLE PLAY


A Gambaran Kasus ... 17
B Strategi Pelaksaan Komunikasi 17
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan .. 26
B. Saran 27
DAFTAR PUSTAKA

BAB 1
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Komunikasi merupakan alat yang efektif untuk mempengaruhi tingkah laku
manusia, sehingga komunikasi dikembangkan dan dipelihara secara terus-menerus.
Komunikasi bertujuan untuk memudahkan, melaksanakan, kegiatan-kegiatan
tertentu dalam rangka mencapai tujuan optimal, baik komunikasi dalam lingkup
pekerjaan maupun hunbungan antar manusia Kemajuan ilmu pengetahuan dan
tehnologi Bidang Kedokteran dan Keperawatan serta perubahan konsep perawatan
dari perawatan orang sakit secara individual kepada perawatan paripurna serta
peralihan dari pendekatan yang berorientasi medis penyakit kemodel penyakit yang
berfokus pada orang yang bersifat pribadi menyebabkan komunikasi menjadi lebih
penting dalam memberikan asuhan keperawatan.
Perawat dituntut untuk menerapkan model komunikasi yang tepat dan
disesuaikan dengan tahap perkembangan pasien. Pada orang dewasa mereka
mempunyai sikap,pengetahuan dan keterampilan yang lama menetap dalam dirinya
sehingga untuk merubah perilakunya sangat sulit. Oleh sebab itu perlu kiranya suatu
model komunikasi yang tepat agar tujuan komunikasi dapat tercapai dengan efektif.
Bertolak dari hal tersebut kami mencoba membuat makalah yang mencoba
menerapkan model konsep komunikasi yang tepat pada dewasa.
B. RUMUSAN MASALAH
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Apa pengertian dari komunikasi terapeutik ?


Apa tujuan komunikasi terapeutik ?
Apa manfaat komunikasi terapeutik ?
Apa saja syarat-syarat komunikasi terapeutik?
Bagaimana sikap dalam komunikasi terapeutik?
Apa saja bentuk komunikasi terapeutik?
Apa pengertian dewasa?
Bagaimana komunkiasi dengan klien dewasa?
Bagaimana suasana yang harus dibangun dalam berkomunikasi pada
klien dewasa?

10. Apa saja model komunikasi yang paling tepat diterapkan pada orang
dewasa?

C. TUJUAN PENULISAN
1. Untuk mengetahui komunikasi terapeutik
2. Untuk mengetahui tujuan komunikasi terapeutik
3. Untuk mengetahui manfaat komunikasi terapeutik
4. Untuk mengetahui syarat-syarat komunikasi terapeutik
5. Untuk mengetahui sikap komunikasi terapeutik
6. Untuk mengetahui bentu komunikasi terapeutik
7. Untuk mengetahui hambatan komunikasi terapeutik
8. Untuk menegetahui pengertian dewasa
9. Untuk mengetahui komunkiasi dengan dewasa
10. Untuk mengetahui suasana komunikasi pada dewasa
11. Untuk mengetahui model komunikasi yang paling tepat diterapkan
pada orang dewasa

BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Pengertian Komunikasi Terapeutik


Terapeutik merupakan kata sifat yang dihubungkan dengan seni dari
penyembuhan ( As Hornby dalam Intan, 2005). Maka di sini dapat diartikan bahwa
terapeutik adalah segala sesuatu yang memfasilitasi proses penyembuhan. Dan
komunikasi terapeutik merupakan komunikasi professional bagi perawat.

B. Tujuan Komunikasi Terapeutik


Dengan memiliki keterampilan berkomunikasi terapeutik, perawat akan
lebih mudah menjalin hubungan saling percaya dengan klien,memberikan kepuasan
profesional dalam pelayanan keperawatan dan akan meningkatkan profesi.
Tujuan komunikasi terapeutik (Purwanto, 1994) adalah :
1.

Membantu pasien untuk memperjelas dan mengurangi beban perasaan

dan fikiran serta dapat mengambil tindakan untuk mengubah situasi yang
ada bila pasien percaya pada hal yang diperlukan.
2. Mengurangi keraguan, membantu dalam hal mengambil tindakan yang
efektif dan mempertahankan kekuatan egonya.
3. Memengaruhi orang lain, lingkungan fisik, dan dirinya sendiri.

C. Manfaat Komunikasi Terapeutik


Manfaat komunikasi terapeutik ( Christina, dkk, 2003) adalah :
1. Mendorong dan menganjurkan kerja sama antara perawat dengan pasien
melalui hubungan perawat-klien.

2. Mengidentifikasi, mengungkapkan perasaan, dan mengkaji masalah serta


mengevaluasi tindakan yang dilakukan oleh perawat.
D. Syarat-syarat Komunikasi
Terapeutik Stuart dan Sundeen (dalam Christina, dkk 2003) mengatakan ada
dua persyaratan dasar untuk komunikasi terapeutik efektif :
1. Semua komunikasi harus ditujukan untuk menjaga harga diri pemberi
maupun peneriman pesan.
2. Komunikasi yang diciptakan saling pengertian harus dilakukan terlebih
dahulu sebelum memberikan sarana, informasi maupun masukan.
E. Sikap Komunikasi Terapeutik
1. Berhadapan. Artinya dari posisi ini adalah saya siap untuk Anda.
2. Mempertahankan kontak mata.
3. Membungkuk kearah klien. Posisi ini menunjukan kearah untuk
mengatakan atau mendengar sesuatu.
4. Mempertahankan sikap terbuka tidak melihat kaki atau tangan. Hal ini
menunjukan keterbukaan untuk berkomunikasi.
5. Tetap rileks. Tetap dapat mengontrol keseimbangan antara ketegangan dan
rileksasi dalam memberi respon kepada klien.

F. Bentuk Komunikasi
Bentuk komunikasi terdiri dari komunikasi verbal dan non verbal (Potter dan
Perry dalam Christina, dkk.,2003) :
1. Komunikasi verbal
Komunikasi

verbal

mempunyai

karakteristik

jelas

dan

ringkas.

Pembendaharaan kata mudah dimengerti, mempunyai arti denotatif dan konotatif,

intonasi mempengaruhi isi pesan, kecepatan bicara yang memiliki tempo dan jeda
yang tepat.
a. Jelas dan ringkas komunikasi berlangsung efektif, sederhana, pendek dan
langsung. Makin sedikit kata-kata yang digunakan, makin kecil terjadi
kerancuan. Ulang bagian yang penting dari pesan yang disampaikan.
Penerima pesan perlu mengetahui apa, mengapa, bagaimana, kapan, siapa,
dan dimana. Ringkas dengan menggunakan kata-kata yang mengekspresikan
ide secara sederhana.
b. Pembendaharaan kata penggunaan kata-kata yang mudah dimengerti oleh
pasien. Komunikasi tidak akan berhasil jika pengirim pesan tidak mampu
menerjemahkan kata dan ucapan.
c. Arti denotatif dan konotatif perawat harus mampu memilih kata-kata
yang tidak banyak disalah tafsirkan, terutama sangat penting ketika
menjelaskan tujuan terapi, terapi dan kondisi klien. Arti denotatif
memberikan pengertian yang sama terhadap kata yang digunakan,
sedangkan ati konotatif merupakan perasaan, pikiran, atau ide yang terdapat
dalam suatu kata.
d. Intonasi nada suara pembicaraan mempunyai dampak yang besar terhadap
arti pesan yang dikirimkan karena emosi seseorang dapat secara langsung
mempengaruhi nada suaranya.
2.

Komunikasi non Verbal


Komunikasi non verbal berdampak yang lebih besar dari pada komunikasi

verbal. Stuart dan Sundeen dalam suryani, (2006) meengatakan bahwa sekitar 7 %
pemahaman dapat ditimbulkan karena kata-kata, sekitar 30% karena bahasa
paralinguistik dan 55% karena bahasa tubuh. Komunikasi non verbal dapat
disampaikan melalui beberapa cara yaitu :
a. Penampilan fisik
Penampilan fisik perawat mempengaruhi persepsi klien terhadap
pelayanan keperawatanyang diterima. Adapun contohnya adalah cara
berpakaian, dan berhias menunjukan kepribadiannya.
5

b. Sikap Tubuh dan Cara Berjalan Perawat dapat menyimpulkan informasi


yang bermanfaat dengan mengamati sikap tubuh dan langkah klien.langkah
dapat dipengaruhi olehfaktor fisik, seperti rasa sakit, obat dan fraktur
c. Ekpresi wajah
Hasil penelitian menunjukan enam keadaan emosi utama yang
tampak melalui ekspresi wajah, terkejut, takut,marah, jijik bahagia dan
sedih. Ekspresi wajah sering digunakan sebagai dasar peenting dalam
menentukan pendapat interpersonal.
d. Sentuhan kasih sayang, dukungan emosional, dan perhatian diberikan
melalui sentuhan. Sentuhan merupakan bagian penting dalam hubungan
perawat-klien, namun harus memperhatikan norma sosial.
G. Pengertian Dewasa
Istilah Adult berasal dari kata latin yang berarti telah tumbuh menjadi dewasa.
Terdapat berbedaan budaya tentang penentuan usia dewasa. Ada yang menganggap 21
tahun namun secara hukum orang telah dapat bertanggung jawab akan perbuatannya
di usia 18 tahun. Sehingga usia ini orang dianggap telah syah menjadi dewasa di mata
hukum. Masa dewasa dini dimulai usia 18 sampai 40 tahunan, saat perubahan fisik
dan psikologis menyertai berkurangnya kemampuan reproduktif (Elizabeth B.
Hurlock).
Usia dewasa dibagi menjadi 3 tahap yaitu:
1. Dewasa Dini (18 tahun-40 tahun)
Pada peroide dewasa awal penampilan dan kesehatan fisik mencapai
puncaknya dan periode yang sama penurun penampilan, kekuatan, dan kesehatan fisik
pun mulai menurun. Penampilan, kekuatan dan kesehatan fisik dicapai pada periode
permulaan dewasa awal dan menurun pada akhir dewasa awal dan puncak efesiensi
fisik biasanya dicapai pada usia pertengahan 20-an dan sudah mana menjadi
penurunan lambat laun hingga awal usia 40-an. Ke khasan tingkah laku kognitif orang
dewasa yang matang perkembangan kognitif nya lebih sistematis dalam memecahkan
masalah.

2. Dewasa Madya (40 tahun 60 tahun)


Pada usia setengah baya kemampuan kognitf yang menurun adalah
kemampuan mengingat berakhir mekanisme yang memerlukan kecepatan dan
keakuratan input melalui panca indra agar dapat mengamati gerak perbedaan,
perbandingan dan mengelompokan atau penakategorian. Tentu saja tidak semua orang
dewasa pertengahan makin meningkat kemampuan kognitif pemecahan masalah.
Kondisi yang merumitkan penyesuaian diri tehadap perubahan pola keluarga
pada usia madya adalah merubahan fisik. Hilangnya peran sebagai orang tua,
kurangnya persiapan perasaan kegagalan merasa tidak berguna lagi, kekecewaan
terhadap perkawinan dan merawat anggota keluarga berusia lanjut.
3. Dewasa akhir (60-meninggal)
Perunahan fisik bukan lagi pertumbuhan tetapi pergantian dan perbaikan selsel tubuh.Pertumbuhan dan reproduksi sel-sel menurun , oleh kareana itu peristiwa
penurunan pertumbuhan dan reproduksi sel-sel menyebabkan terjadi banyak
kegagalan pergantian sel-sel yang rusak.Lamanya pertumbuhan apabila lansia
menderita sakit.Orang yang sudah tua menjadi pelupa reaksi terhadap ransangan yang
semakin lamban.
Tugas Perkembangan Awal Masa Dewasa (20-40)
1.

Mulai Bekerja

2.

Memilih pasangan

3.

Belajar hidup dengan pasangan

4.

Mulai membina keluarga

5.

Mengasuh anak

6.

Mengelola rumah tangga

7.

Mengambil tanggung jawab sebagai warga negara

8.

Mencari kelompok sosial yang menyenangkan

Dewasa Pertengahan
1.

Masa dewasa pertengahan dimulai pada umur 40 tahun sampai 60 tahun, yakni

saat baik menurunnya kemampuan fisik dan psikologis yang jelas nampak pada
setiap orang.
2.

Masa Usia Pertengahan

3.

Mencapai tanggung jawab sosial dan dewasa sebagai warga Negara

4.

Membantu anak-anak remaja belajar untuk menjadi orang dewasa yang

bertanggung jawab dan bahagia


5.

Mengembangkan kegiatan waktu senggang untuk orang dewasa

6.

Menghubungkan diri sendiri dengan pasangan hidup sebagai suatu individu

7.

Menerima dan menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan fisiologis

yang terjadi pada tahap ini.


8.

Mencapai dan mempertahankan prestasi yang memuaskan dalam karir

pekerjaan.
9.

Menyesuaikan diri dengan orang tua yang semakin tua.

H. Komunikasi Pada Klien Dewasa


Menurut Erikson 1985,pada orang dewasa terjadi tahap hidup intimasi VS
isolasi, dimana pada tahap ini orang dewasa mampu belajar membagi perasaan cinta
kasih,minat,masalah dengan orang lain. Orang dewasa sudah mempunyai sikapsikap tertentu,pengetahuan tertentu, bahkan tidak jarang sikap itu sudah sangat lama
menetap pada dirinya, sehingga tidak mudah untuk merubahnya. Juga pengetahuan
yang selama ini dianggapnya benar dan bermanfaat belum tentu mudah digantikan
dengan pengetahuan baru jika kebetulan tidak sejalan dengan yang lama. Tegasnya
orang dewasa bukan seperti gelas kosong yang dapat diisikan sesuatu.

Oleh karena itu dikatakan bahwa kepada orang dewasa tidak dapat diajarkan
sesuatu untuk merubah tingkah lakunya dengan cepat. Orang dewasa belajar kalau
ia sendiri dengan belajar, terdorong akan tidak puas lagi dengan perilakunya yang
sekarang, maka menginginkan suatu perilaku lain dimasa mendatang, lalu
mengambil

langkah

untuk

mencapai

perilaku

baru

itu.

Dari segi psikologis, orang dewasa dalam situasi komunikasi mempunyai sikapsikap tertentu yaitu :
1.

Komunikasi adalah sutu pengetahuan yang diinginkan oleh orang

dewasa itu sendiri, maka orang dewasa tidak diajari tetapi dimotivasikan
untuk mencari pengetahuan yang lebih muktahir.
2.

Komunikasi adalah suatu proses emosional dan intelektual sekaligus,

manusia punya perasaan dan pikiran.


3.

Komunikasi adalah hasil kerjasama antara manusia yang saling

member dan menerima,akan belajar banyak,karena pertukaran pengalaman,


saling mengungkapkan reaksi dan tanggapannya mengenai suatu masalah. :

a. Komunikasi pada masa dewasa awal


Komunikasi pada dewasa awal mengalami puncaknya pada kematangan
fisik, mental dan kemampuan social mencapai optimal. Peran dan tanggung jawab
serta tuntutan sosial telah membentuk orang dewasa melakukan komunikasi dengan
orang lain, baik pada setting professional ketika mereka bekerja atau pada saat
mereka berada di lingkungan keluarga dan masyarakat umum.
Teknik komunikasi yang dikembangkan pada masa dewasa telah mencapai
tahap optimal, baik dalam bentuk verbal maupun nonverbal. Kemampuan untuk
mengembangkan komunikasi (sebagai media transfer informasi). Dalam menguasai
pesan yang diterima, individu dewasa tidak hanya melihat isi pesan, tetapi juga
mempersiapkan pesan tersebut dengan lebih baik serta menciptakan hubungan antar
pesan yang di terima dengan konteks atau situasi pesan tersebut disampaikan. Pesan
yang diterima individu dewasa kadang kala di persepsikan bukan hanya dari konteks
isi pesan, tetapi lebih kompleks lagi disesuaikan dengan situasi dan keadaan yang
9

menyertai. Contoh: sayang dari sepenggal kata tersebut ketika di ungkapkan


dengan nada datar, akan memberi kesan yang menyesalkan. Kesan ini semakin kuat
bila penyampai pesan menunjukkan rasa penyesalan dari gerakan bibir, raur wajah,
kepala menunduk. Namun, bila ungkapan tersebut di ucapkan dengan menggunakan
bahasa yang halus dan mendesah serta menyampaikan pesan dengan menunjukkan
ekspresi mata bersinar, wajah cerah atau normal, persepsi individu dewasa tersebut
adalah bahwa makna kata sayang tersebut adalah perasaan suka atau cinta.
Kemampuan untuk menilai respon verbal dan nonverbal yang disampaikan
lingkungan memberi keuntungan karena pesan yang kompleks dapat disampaikan
secara sederhana. Namun, kadang kala kemampuan kompleks untuk menangkap
pesan ini menimbulkan kerugian pada manusia karena kesalahan dalam menerima
pesan menjadi lebih besar, akibat pengguna persepsi dan lingkungan yang lebih
kompleks. Contoh : seseorang yang meludah didepan atau didekat orang seseorang
kadang kala di persepsikan sebagai rasa tidak suka atau benci terhadap orang
tersebut, atau orang yang meludah tersebut tidak bermaksud sebagaimana
dipersepsikan orang lain. Situasi diatas selanjutnya menimbulkan konflik antar
individu atau kelompok.

b. Suasana Komunikasi
Agar komunikasi dengan klien dewasa efektif perlu memperhatikan
terciptanya suasana komunikasi yang mendukung tercapainya tujuan komunikasi
seperti saling menghormati, percaya dan terbuka.
1. Suasana saling menghormati
Untuk dapat berkomunikasi secara efektif dengan klien dewasa, lawan
komunikasi (perawat/tenaga kesehatan) harus dapat menghormati pendapat
pribadinya. Klien dewasa akan merasa lebih senang apabila ia diperbolehkan untuk
menyampaikan pemikiran atau pendapat, ide, dan sistem nilai yang dianutnya.
Apabila hal-hal tersebut diabaikan akan menjadi kendala bagi keberlangsungan
komunikasi.
2. Suasana Saling Menghargai
10

Segala pendapat, perasaan, pikiran, gagasan, system nilai yang dianut perlu
dihargai. Meremehkan dan menyampingkan harga diri mereka akan dapat menjadi
kendala dalam jalannya komunikasi.
3. Suasana saling percaya
Komunikasi dengan klien dewasa perlu memperhati- kan rasa saling percaya
akan kebenaran informasi yang dikomunikasikan. Apabila hal ini dapat diwujudkan
maka tujuan komunikasi akan lebih mudah tercapai.
4. Suasana saling terbuka
Keterbukaan untuk menerima hasil komunikasi dua arah, antara perawat
atau tenaga kesehatan dan klien dewasa akan memudahkan tercapainya tujuan
komunikasi.
Klien dewasa yang menjalani perawatan di rumah sakit dapat merasa tidak
berdaya, dan tidak aman ketika berada di hadapan pribadi-pribadi yang mengatur
sikap dan perilakunya. Status kemandirian mereka berubah menjadi bergantung
pada aturan dan ketetapan pihak lain. Hal ini dapat menjadi suasanya yang
dirasanya sebagai ancaman. Akumulasi perasaan ini dapat terungkap dalam bentuk
sikap emosional dan agresif.

c. Model Komunikasi dan Implententasinya pada Klien Dewasa


Untuk dapat berkomunikasi secara efektif dengan klien dewasa dapat
diterapkan beberapa model konsep komunikasi sebagai berikut:
1. Model Shanon & Weaver
Model Shanon & Weaver memperhatikan problem pada penyampaian pesan
informasi berdasarkan tingkat kecermatan. Model ini mengilustrasikan sumber
dalam bentuk sandi. Diasumsikan bahwa sumber informasi menyampaikan
sinyalyang sesuai dengan saluran informasi yang digunakan. Gangguan yang timbul
dapat mengganggu kecermatan pesan yang disampaikan. Model ini dapat diterapkan
pada konsep komunikasi antarpribadi. Faktor yang menguntungkan dari
implementasi model ini ialah pesan yang disampaikan dapat diterima langsung oleh
11

pihak penerima. Meskipun demikian, pada model ini pun ter dapat kelemahan yang
berupa hubungan antara sumber dan penerima pesan tidak kasat mata. Karena itu
klien dewasa lebih memilih komunikasi secara langsung karena penerapan
komunikasi

melalui

perantara

dapat

mengurangi

kejelasan

pesan

yang

dikomunikasikan.
2. Model Komunikasi Leary
Model komunikasi Leary menekankan pengaruh hubungan interaksi di
antara dua pihak yang berkomunikasi. Model ini mengamati perilaku klien yang
dipengaruhi oleh lingkungan di sekitarnya. Model komunikasi Leary diterapkan
dalam bidang kesehatan berdasarkan keseimbangan informasi yang terjadi
dalamkomunikasi antara profesional dan klien. Dalam pesan komunikasi pada
model ini ada dua dimensi yang perlu diperhatikan dalam penerapannya, yakni
dimensi: penentu vs ditentukan, dan suka vs tidak suka.
Dalam jangka waktu tertentu pasien diposisikan sebagai penerima pesan
yang ditentukan dan harus

dipatuhi di bawah dominasi profesional kesehatan.

Dalam komunikasi seharusnya terdapat keseimbangan kepercayaan di antara


pengirim danpenerima pesan.
Apabila model komunikasi ini diterapkan pada klien dewasa hanya dapat
dilakukan pada kondisi darurat untuk menyelamatkan hidup klien karena dalam
kondisi

darurat

klien

harus

mentaati

pesan

yang

disampaikan

oleh

perawat/profesional kesehatan. Tetapi pada klien/pasien dalam kondisi kronik model


komunikasi ini tidak tepat untuk diterapkan karena klien dewasa mempunyai
komitmen berdasarkan sikap dan pengetahuannya yang tidak mudah dipengaruhi
oleh perawat.
Pada kasus ini lebih tepat apabila diterapkan dimensi suka (hue) dalam kadar
tertentu, sebatas untuk sarana penyampaian pesan profesional. Model ini ditekankan
pada pentingnya hubungan dalam membantu klien pada pelayanan kesehatan secara
langsung.

12

3. Model Interaksi King


Model interaksi King menekankan arti proses komunikasi antara perawat
dan

klien

dengan

mengutamakan

penerapan

system

perspektif

untuk

mengilustrasikan profesionalisme perawat dalam memberikan bantuan kepada klien.


Model inimenekankan arti penting interaksi berkesinambungan di antara
perawat dan klien dalam pengambilan keputusan mengenai kondisi klien
berdasarkan persepsi mereka terhadap situasi.
Interaksi merupakan proses dinamis yang melibatkan hubungan timbal balik
antara persepsi, keputusan, dan tindakan perawat-klien. Umpan balik pada model ini
nienunjuknya arti penting hubungan antara perawat dan klien.
Komunikasi berdasarkan model interaksi King lebih sesuai diterapkan pada
klien dewasa karena model ini mempertimbangkan faktor intrinsik-ekstrinsik klien
dewasa yang bertujuan untuk menjalin transaksi. Umpan balik yang terjadi
bermanfaat untuk mengetahui hasil informasi yang disampaikan diterima dengan
baik oleh klien.

d. Prinsip dasar komunikasi terapeutik


a. Hubungan perawat dengan kliein adalah hubungan terapeutik yang saling
menguntungkan.
b. Prinsip yang sama dengan komunikasi interpersonal devito yaitu keterbukaan,
empati, sifat mendukung, sikap positif dan kesetaraan.
c.

Kualitas hubungan perawat dan klien ditentukan oleh bagaimana perawat

mendefinisikan dirinya sebagai manusia


d. Perawat menggunakan dirinya dengan teknik pendekatan yang khusus untuk
memberi pengertian dan merubah prilaku klien.
e.

Perawat harus menghargai keunikan klien.

f.

Komunikasi yang dilakukan harus dapat menjaga harga diri.

13

e. Keberhasilan komunikasi
Komunukasi yang dapat mempengaruhi keberhasilan suatu peristiwa
komunikasi tersebut yaitu komunikator, pesan dan komunikan. Untuk mencapai
komunikasi terapeutik dalam hubungan perawat dan klien, kredibilitas perawat
sebagai komunikatorakan menentukan keberhasilan hubungan yang terapeutik.
Karakteristik keberhasilan komunikasi yaitu :
1. Memiliki kesadaran yang tinggi
2. Mampu melaksanakan klarifikasi nilai
3. Mampumengeksplorasikan perasaan
4. Mampu untuk menjadi model peran
5. Motifasi altruistik
6. Rasa tanggung jawab dan etik.

Elemen pesan yang dapat menentukan keberhasilan komunikasi, juga harus


memenuhi syarat sebagai berikut :
1. Pesan yang harus direncanakan
2. Pesan menggunakan bahasa yang dapat dimengerti oleh kedua pihak
3. Pesan harus menarik minat dan kebutuhan pribadi penerima
4. Pesan harus berisi hal-hal yang dapat dipahami
5. Pesan yang disampaikan tidak samar-samar

f. Faktor yang menghambat dalam proses terapeutik


1. Kemampuan pemahaman yang berbeda
2. Pengamatan atau penafsiran yang berbeda karena pengalaman masa lalu

14

3. Komunikasi satu arah


4. Kepentingan yang berbeda
5. Memberikan jaminan yang tidak mungkin
6. Memberi tahu apa yang harus dilakukan kepada penderita
7. Membicarakan hal-hal yang bersifat pribadi
8. Menurut bukti, tantangan serta penjelasan dari pasien mengenai tindakan
9. Menghentikan atau mengalihkan pembicaraan
10. Memberikan kritik mengenai perasaan penderita
11. Terlalu banyak bicara
12. Memperlihatkan sifat jemu, bosan, dan pesimis.

g. Teknik-teknik Komunikasi Terapeutik


1. Mendengarkan dengan penuh perhatian
2. Menunjukkan penarimaan
3. Menanyakan pertanyaan yang berkaitan
4. Pertanyaan terbuka
5. Mengulang ucapan klien
6. Mengklarifikasikan
7. Memfokuskan
8. Menyatakan hasil observasi
9. Menawarkan informasi
10. Diam atau memelihara ketenangan
11. Meringkas
15

12. Memberikan penghargaan


13. Menawarkan diri
14. Mengajukan untuk meneruskan pembicaraan
15. Menempatkan kejadian secara berurutan
16. Memberikan nasehat
17. Memberikan kesempatan
18. Refleksi
19. Assertive
20. Humor

16

BAB III
ROLE PLAY

A.

GAMBARAN KASUS
Resiko kesehatan pada masa dewasa awal berasal dari komunitas, gaya
hidup, dan riwayat keluarga. Semua kebiasaan gaya hidup yang mempengaruhi
respons terhadap stresdapat menyebabkan resiko untuk mendapatkan penyakit.
Merokok merupakan factor resiko untuk penyakit paru-paru, jantung, dan pembuluh
darah pada perokok aktif dan pasif.
Yang dapat mengakibatkan pada kerusakan atau kangker paru-paru,
emfisemadan bronchitis kronik.
Penyalahgunaan obat, baik secara langsung atau tidak langsung, dapat
menyebabkan moralitas pada individu dewasa awal.Dapat mengakibatkan
keracunan, trauma, bahkan himgga kematian, atau masalah lalu lintas.

B.

STRATEGI PELAKSANAAN KOMUNIKASI

1.

Prainteraksi
Prainteraksi merupakan masa persiapan sebelum berhubungan dan
berkomunikasi dengan klien. Anda perlu mengevaluasi diri tentang kemampuan
yang anda miliki. Jika saudara telah siap, maka anda perlu membuat rencana
interaksi dengan klien.
1)

Evaluasi diri
Coba pertanyaan berikut:
Apa pengetahuan yang saya miliki tentang keperawatan jiwa?
Apa yang akan saya ucapkan saat bertemu dengan klien?
Bagaimana respon selanjutnya jika klien diam, menolak,marah atau
inkoheren?
Adakah pengalaman interaksi dengan klien yang negatif/buruk/tidak
menyenangkan?

17

Jika ada lakukan dengan koreksi dengan cara membaca cara-cara


berhubungan dengan klien. Konsultasi dengan pembimbing klinik, diskusi
dengan teman sekelompok.
Bagaimana tingkat kecemasan saya? Jika cemas ringan, lakukan interaksi.
2)

3)

Jika cemas sedang, usahakan sampai anda dapat mengatasi kecemasan.


Penetapan tahapan hubungan/interaksi
Berikut perlu di tetapkan tahapan hubungan anda berikutnya:
Apakah pertemuan/kontak pertama?
Apakah pertemuan lanjutan?
Apa
tujuan
pertemuan?
Mengkaji/observasi/pemantauan/tindakan
keperawatan terminasi?
Apa tindakan yang saya lakukan?
Bagaimana cara melakukannya?
Rencana interaksi
Siapakan secara tertulis rencana percakapan yang akan anda lakukan pada
saat berhubungan dengan berkomunikasi bersama klien.
Teknik komunikasi apa yang anda akan terapkan,kaitkan dengan tujuan anda
melakukan hubungan dengan klien. Hal ini berhubungan dengan tahapan
hubungan yang akan dilakukan.
Teknik observasi apa yang perlu saudara lakukan selama berhubungan
dengan klien.

2. Fase perkenalan atau Orientasi


1) Fase perkenalan
Perkenalan merupakan kegiatan yang pertama kita lakukan pertama kali bertemu
dengan klien. Hal yang perlu dilakukan adalah :
a. Memberi salam
Assalammualaikum, selamat pagi, selamat siang, selamat sore, malam atau
sesuai dengan latar belakang social budaya yang disertai dengan mengulurkankan
tangan untuk berjabat tangan.

b. Memperkenalkan diri perawat


Nama saya suster Santi, saya senang dipanggil suster Santi!
18

c. Mengenalkannama klien
Nama Bapak atau Ibu, saudara atau saudari atau senang dipanggil apa?
d. Menyepakati Pertemuan
Bunyi kesepakatan tentang pertemuan terkait dengan kebersediaan klien
untuk bercakap-cakap (tempat bercakap-cakap dan lama percakapan).
Contoh komunikasi :
bagaimana kalau kita bercakap-cakap.
Ayo kita bercakap-cakap!
Dimana kita duduk? (sebutkan)
Ayo kita duduk disana. (sebutkan)
Jika di klinik/rumah sakit langsung katakan silahkan duduk!.
Jika dikamar klien, saudara langsung duduk disamping klien.
e. Menghadapi kontrak
Pada pertemuan awal saudara perlu melengkapi penjelasan identitas saudara
sehingga saat interaksi klien percaya pada saudara.
Contoh komunikasi :
Saya perawat yang bekerja di .., saya yang akan merawat Angel
selama 3 hari. (contoh bila nama kesenangan nya Angel).
Dimulai saat ini sampai dengan .., saya dating jam 07.00 dan
pulang jam 14.00.

Klien menyepakati tujuan interaksi :


Saya akan membantu Angel untuk menyelesaikan masalah yang
dihadapi.

19

Kita bersama-sama menyelesaikan masalah yang dihadapi Angel.


f. Memulai percakapan awal
Pada awalnya focus percakapan adalah pengkajian keluhan utama atau
alas an masuk rumah sakit. Kemudian dilanjutkan dengan hal-hal yang terkait
dengan keluhan utama. Jika mungkin melengkapi format pengkajian proses
Keperawatan.
Contoh komunikasi untuk mengkaji keluhan utama.
Untuk melengkapi identitas saudara :
Apa yang terjadi dirumah sampai Angel dibawa kemari?
Apa yang Angel rasakan sampai datang kemari?
Apa yang Angel susahkan saat ini?
Apa masalah yang Angel rasakan saat ini?
Jika klien menjawab, lanjutkan eksplorasi sesuai dengan format
pengkajian terutama hal-hal terkait dengan keluhan utama.
Jika klien tidak menjawab :
Saya tidak dapat membantu jika Angel tidak mau menceritakan hal
yang Angel hadapi.Tampaknya Angel belum mau cerita, kita duduk saja
bersama.(10 menit).
g. Menyepakati Masalah klien
Setelah pengkajian, jika mungkin pada akhir wawancara sepakati
masalah atau kebutuhan klien.
Contoh komunikasi:
Dari percakapan kita tadi tampaknya Yanti.(sesuai dengan kesimpulan
masalah /kebutuhan yang dimiliki klien). Gunakan bahasa yang yang dimengerti
klien, misalnya:

20

tampaknya Yanti tidak nafsu makan karena nyeri pada ulu hati (untuk masalah
Gastritis).
Tampaknya Yanti kelihatan sesak napas (untuk masalah Asma).
h. Menghindari perkenalan
1. Fese Orientasi
Fese Orientasi dilaksakan pada awal setiap pertemuan kedua

dan

seterusnya. Tujuan fase orientasi adalah memvalidasi kekurangan data,rencana yang


telah dibuat dengan keadaan klien saat ini. Umumnya dikaitkan dengan hal yang
telah dilakukan bersama klien.

Memberi Salam/Fase Perkenalan


Memvalidasi Keadaan Klien
bagai mana keadaan Yanti hari ini?
cobayanti ceritakan prasaan hari ini!
adakah hal yang terjadi,selama kita tidak bertemu? Coba ceritakan!

Mengingat Kontrak
Setiap berinteraksi dengan klien dikaitkan dengan kontrak pada pertemuan

sebelumnya.
Yanti masih ingatkah jam brapa kita bertemu?
sesuai dengan janji kita yang lalu akan bertemu pada jam (sesuai
perjanjian).
Yanti masih ingatkah apa topic pembicaraan kita.
sesuai dengan perjanjian yang lalu saya akan memberikan suntikan lagi.
sesuai dengan perjanjian kita tadi,sekarangyanti akan saya bantu latihan
secara efektif.

21

2. Fase Kerja
Fase kerja merupakan inti hubungan keperawatan klien yang terkait erat
dengan pelaksaan rencana tindakan perwatan yang akan yang dilaksanakan sesui
dengan tujuan yang akan dicapai.
Tujuan tindakan keperawatan yaitu :
a) Meningkatkan pengertian dan pengenalan klien akan dirinya, prilaku,prasaan, dan
pikirannya,
Tujuan ini sering disebut juga tujuan kognitif.
Contoh:
apa yang menyebabkan yanti cemas?
apa tanda atau gejala yang yanti rasakan saat cemas?
kapan saja yanti merasakan cemas?
Apa yang yanti rasakan saat merasa cemas?
b) Mengembangkan,mempertahankan dan meningkatkan kemampuan klien secara
mandiri menyelesaikan masalah yang dihadapi. Tujuan ini sering disebut juga tujuan
afektif dan psikomotor.
Contoh:1
Apa yangyanti lakukan saat cemas?
apa yang yanti lakukan saat jantung berdebar-debar?
apakah dengan masalah itu masalah yanti bias selesai?
apa kira-kira cara lain yang lebih baik?
Bagaimana kalau kita bicarakan beberapa cara baru?
c) Melaksanakan terrapin atau tekhnikal keperawatan.
Contoh:

22

Bagaimana rasa nyeri yanti?


saya bantu untuk mencoba cara mengurangi rasa nyeri.
Pertama: Yanti dapat mengalihkan pikiran pada pengalaman yang
menyenangkan, atau membaca, atau mendengar music, atau bercakapcakap.
Kedua: Latihan napas dalam-dalam. (beri contoh)
Ketiga: mengusap daerah tertentu. (beri contoh)
Mari kita coba.(Bantu klien melakukannya,beri pujian jika dapat
melakukan)
Bagaimana perasaan ibu?
Nah, ibu dapat mencobanya pada saat nyeri, namun jika tidak berhasil
panggil perawat.
d) Melaksanakan pendidikan kesehatan
Contoh:
Sesuai dengan anji kita tadi pagi,saya akan memberi penjelasan tentang
cara merawat tali pusat banyi baru lahir.
Jelaskan tentang merawat tali pusat banyi baru lahir (jelaskan dengan alat
bantu [lembar balik atau leaflet atau booklet]).
Ada pertanyaan Bu? Ada yang kurang jelas?
Ibu dan keluarga boleh mencoba melakukannya di rumah, terimakasih.
e) Melaksanakan kolaborasi
Contoh:
Bu,sekarang sudah pukul 12.00,saatnya ibu mendapat suntikan.
Ibu,miring ke sebelah kiri.

23

Sedikit sakit Bu (katakan ada saat akan menyuntik),tarik napas dalam


Bu,ya,sudah.
Bagaimana Bu?
f) Melaksanakan observasi dan monitoring
Bu,sesuai keadaan suhu Ibu yang tinggi maka setiap dua jam saya
mengukur suhu, nadi, dan pernapasan Ibu.
Sekarang saya akan ukur suhu Ibu diketiak.Kemudian perawat meletakan
thermometer di ketiak klien, dan katakan pada klien:
dijepit ya Bu!
Saya ambil ya Bu, sekarag Ibu istirahat lagi, nanti dua jam lagi saya
dating.
4. Fase Terminasi
1) Terminasi Sementara
Yaitu merupakan akhir dari setiap pertemuan perawat dank lien. Terminasi
terbagi menjadi dua, yaitu:
a) Evaluasi Hasil
coba yang disebutkan hal-hal yang sudah kita bicarakan.
apa saja yang telah Yantim dapat dari percakapan tadi?
b) Tindak Lanjut
bagaimana kalau Yanti lakukan nanti diruangan?
yang mana yang ingin Yanti coba?
c) Kontrak yang akan datang
Waktu :
Kapan kita ketemu lagi?

24

bagai mana kalau nanti jam.kita bertemu lagi?


kita akan bertemu lagi besok pagi.
Topic :
apa saja yang akan kita bicarakan hari ini,nanti atau besok.
2) Terminasi akhir
Terminasi akhir terjadi jika klien akan pulang darirumah sakit atau saudara
selesai praktek dirumah sakit.
a) Evaluasi Hasil
coba sebutkan kemampuan yang didapat setelah dirawat disini?
apa saja yang telah diketahui selama dirawat disini?
b) Tindak lanjut
Apa rencana kegiatan yantidirumah?
Apa gejala dan tanda yang perlu diperhatikan dirumah?
c) Kontrak yang akan datang

25

BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Konsep komunikasi terapeutik sangat perlu dilakukan karena sangat
membantu sekali dalam penyembuhan pasien, terutama pada dewasa awal yang
sering mengalami berbagai masalah dalam kehidupannya,
Agar seseorang berguna dalam kehidupannya, maka dari itu merawat diri
sendiri lebih baik dibandingkan menyusahkan orang lain.
Peran perawat juga sangat penting dalam komunikasi karena perawat
sebagai pemberi asuhan jadi yang banyak berperan dalam komunikasi terpeutik
terdapat pada bagianperawat juga.

B. SARAN
1. Mahasiswa mampu menerapkan teraupetik dalam pembelajaran serta praktik
keperawatan
2. mahasiswa dapat mendeskripsikan apa yang di maksud dengan teraupetik
3. pemahaman mahasiswa sangat di perlukan dalam teraupetik.

26

DAFTAR PUSTAKA

1. Damalyanti, S.kep, Ns., Mukhrifah.2008. Komunikasi Terapeutik dalam


Keperawatan. PT Reflika Aditama : Bandung
2. Mahmud

mahfudz, peran

komunikasi

terapeutik,edisi pertama2009,

Ganbika, Yogyakarta
3. Ns. NunungNurhasanah, S. kep, ilmu komunikasi dalam konteks
keperawatan, cetakan pertama 2010, Cv. Trans info media, Jakarta Timur
4. Poatricia A. Poter, anne G. Perry, fundamental of nursing, edisi 7 buku 1,
salemba medika, Jakarta
5. http://hayatiumar.blogspot.co.id/2013/09/makalah-komunikasi-teraeiutikpada.html
6. dokumen.tips/documents/komunikasi-terapeutik-dengan-klien-dewasa.html

27

Anda mungkin juga menyukai