Anda di halaman 1dari 17

Makalah Kebutuhan Gizi dan Nutrisi Pada Usia Lanjut

Disusun Oleh :
Kelompok
TINGKAT 1, D IV KEPERAWATAN
1.
2.
3.
4.
5.

Ni Putu Amelia Rosalita Dewi


Putu Epriliani
Ni Komang Ayu Risna Muliantini
Luh Agustina Rahayu
I Gusti Ayu Indah Juliari

( P07120214003)
(P07120214010)
(P07120214011)
(P07120214030)
(P07120214031)

POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR


TAHUN AKADEMIK 2014/2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena
atas rahmat dan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan makalah yang

berjudul

Kebutuhan

Gizi dan Nutrisi pada

Usia

Lanjut

dapat

diselesaikan tepat pada waktunya. Dalam penyelesaian makalah ini ada


beberapa kesulitan yang penulis temukan. Hal ini disebabkan terbatasnya
kemampuan dan pengalaman penulis, yang menyangkut masalah saluran
pencernaan manusia. Untuk itu , pada kesempatan yang berbahagia ini
perkenankan penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak yang telah
membantu dalam menyelesaikan makalah ini.
Semoga Tuhan Yang Maha Esa melimpahkan anugrah-Nya kepada
pihak yang telah membantu penyelesaian makalah ini dan semoga makalah
ini dapat berguna untuk memberikan kontribusi dalam mata kuliah anatomi
fisiologi. Di samping itu penulis menyadari makalah ini jauh dari sempurna,
untuk itu kritik dan saran yang bersifat konstruktif dari semua pihak sangat
penulis harapkan demi kesempurnaannya.

Denpasar, 29 September 2014

Penulis,

DAFTAR ISI
Halaman Judul
Kata Pengantar

Daftar Isi

ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

1.2 Rumusan Masalah

1.3 Tujuan

1.4 Manfaat

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Tujuan Pemberian Nutrisi untuk Lanjut

2.2 Faktor-Faktor yang Berpengaruh Terhadap Keadaan Nutrisi


pada Usia Lanjut

2.3 Kebutuhan Nutrisi dan Energi pada Usia Lanjut

2.3.1 Perhitungan Berat Badan Ideal pada Usia Lanjut

11

2.3.2 Perhitungan Kebutuhan Energi untuk Usia Lanjut

12

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan

14

3.2 Saran

14

Daftar Pustaka
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Lanjut usia (lansia) merupakan proses alamiah yang pasti akan dialami oleh
semua orang yang dikaruniai usia panjang. Di dalam proses anatomis,
proses menjadi tua terlihat sebagai kemunduran di dalam sel. Proses ini

berlangsung secara alamiah, terus-menerus dan berkesinambungan yang


selanjutnya akan menyebabkan perubahan anatomi, fisiologi, dan biokimia
pada jaringan tubuh secara keseluruhan (Depkes RI, 2003).
Seseorang dikatakan lansia jika usianya lebih dari 60 tahun. Lansia dimulai
setelah pensiun, biasanya antara 65-75 tahun (Potter 7 Perry, 2005). Menurut
WHO lansia dikelompokan menjadi 4 kelompok, yaitu usia pertengahan
(middle age), usia 45-59 thaun, lansia (elderly), usia 60-74 tahun, lansia tua
(old) usia 75-90 tahun dan usia sangat tua diatas 90 than (Fatmah, 2010).
Sedangkan di Indonesia pasal 1 UU RI No. 13 Tahun 1998 tentang
Kesejahteraan Lanjut Usia dikatakan bahwa usia lanjut adalah seseorang
yang telah mencapai usia lebih dari 60 tahun keatas.
Lansia banyak mengalami perubahan seiring bertambahnya usia, baik
perubahan struktur dan fungsi tubuh, kemampuan kognitif maupun
perubahan status mental. Perubahan struktur dan fungsi tubuh pada lansia
terjadi hampir di semua system tubuh, seperti sistem saraf, pernafasan,
endokrin, kardiovaskular dan kemampuan musculoskeletal. Salah satu
perubahan struktur dan fungsi terjadi pada sistem gastrointestinal. Herry
(2008) dalam penelitiannya menjelaskan bahwa perubahan pada sistem
gastrointestinal dapat menyebabkan penurunan efektifitas utiliasi zat-zat gizi
dan nutrisi sehingga dapat menyebabkan permasalahan gizi dan nutrisi yang
khas pada lansia.
Dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi pada tubuh tentunya terdapat
banyak faktor-faktor yang berpengaruh terhadap keadaan nutrisi pada usia
lanjut. Kita sebagai generasi muda penerus bangsa hendaknya mengetahui
sejak dini faktor-faktor tersebut agar dapat dihindari serta sangat penting
untuk mensosialisasikannya kepada seluruh lapisan masyarakat agar dapat
mencegah terjadinya gizi buruk yang marak terjadi dikalangan masyarakat
kita. Selain itu untuk memenuhi ketubuhan gizi dalam tubuh, khususnya pada

usia lanjut sangat penting untuk mengetahui tata cara proses perhitungan
berat badan ideal dan proses perhitungan kebutuhan energi untuk usia lanjut.
Dengan tercukupinya kebutuhan akan gizi makanan, tentunya kita
akan memiliki status gizi yang lebih baik, kebutuhan energi akan tercukupi
maka dari itulah makalah ini dapat membantu kita mengerti dalam
mempelajari nutrisi pada usia lanjut serta tata cara menghitung berat badan
ideal dan proses perhitungan energi untuk usia lebih lanjut.

1.1

Rumusan Masalah
1. Apakah tujuan pemberian nutrisi untuk usia lanjut?
2. Apa saja faktor-faktor yang berpengaruh terhadap keadaan nutrisi
pada usia lanjut?
3. Bagaimana kebutuhan energi dan zat nutrisi pada usia lanjut?

4. Bagaimana proses perhitungan berat badan ideal?


5. Bagaimana proses perhitungan kebutuhan energi untuk usia lanjut?

1.2

Tujuan
Mahasiswa mampu memahami nutrisi pada usia lanjut serta dapat
menentukan proses perhitungan berat badan ideal dan kebutuhan energi
untuk usia lanjut.

1.3

Manfaat

1. Mampu menjelaskan tujuan pemberian nutrisi untuk usia lanjut


2. Mampu menyebutkan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap keadaan
nutrisi pada usia lanjut
3. Mampu menjelaskan kebutuhan energi dan zat nutrisi pada usia lanjut
4. Mampu memahami proses perhitungan berat badan ideal pada usia lanjut
5. Mampu memahami proses perhitungan kebutuhan energi untuk usia
lanjut.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Tujuan Pemberian Nutrisi untuk Lanjut

a. Terpenuhinya kebutuhan jasmani, rohani, sosial dan psikologis


lanjut usia secara memadai serta teratasinya masalah-masalah
akibat usia lanjut serta terpeliharanya hubungan yang harmonis
antara lanjut usia dengan keluarga.
b. Terlindunginya lanjut usia dari perlakuan yang salah, karena
dengan diberi kebutuhan nutrisi yang tepat berarti lansia itu sudah
mendapat haknya untuk mendapatkan kebutuhan nutrisi sebagai
manusia.
c. Terlaksananya kegiatan-kegiatan yang bermakna bagi lanjut usia.
Mereka dapat melaksanakan kegiatan yang berarti walaupun
usianya telah lanjut karena telah mendapatkan kebutuhan nutrisi
yang terjamin sesuai angka kecukupan gizi, maka energi dalam
tubuhnya mendukung guna melaksanakan kegiatan bermakna.
d. Melembaganya nilai-nilai penghormatan terhadap lanjut usia.
Pemberian nutrisi yang tepat pada lansia berarti seseorang itu
masih peduli dan hormat terhadap orang tua walaupun usianya
sudah lanjut , kebutuhan nutrisinya masih diperhatikan dengan baik
agar hidup orang tua itu tetap sehat. Dalam hal ini nilai
penghormatan dan kepedulian yang menjadi dasarnya.
e. Mempertahakan kesehatan yang baik supaya dapat hidup lebih
mandiri.

Dengan

diberikan

asupan

nutrisi

yang

seimbang,

kesehatan sel, jaringan dan organ-organ pada lansia akan tetap


terjaga sehingga lansia masih mampu mempergunakan organorganya dengan baik untuk melaksanakan aktivitas maupun
mobilitas yang ia inginkan.
f. Mencengah timbulnya penyakit degeneratif yang cenderung
berjangkit pada manula. Pemberian nutrisi yang tepat akan
mencengah serangan penyakit degeneratif karena di dalam
makanan sudah terkandung antioksidan, mineral, zat makanan
penting dan vitamin untuk memelihara kesehatan dari organ-organ
agar tidak menimbulkan penyakit.

g. Untuk mencapai status gizi yang maksimal, nutrisi yang tepat


diberikan pada lansia akan memaksimalkan status gizinya
walaupun sudah tua, namun status gizinya tidak kurang ataupun
tidak berlebihan yang kadang berujung pada timbulnya penyakit
yang berakibat fatal, karena selalu diperhatikan kebutuhan
nutrisinya .
2.2 Faktor-Faktor yang Berpengaruh terhadap Keadaan Nutrisi pada
Usia Lanjut
1. Berkurangnya kemampuan mencerna makanan akibat kerusakan gigi,
atau ompong.
Kehilangan gigi penyebab utama adanya Periodontal disease yang
biasa terjadi setelah umur 30 tahun, penyebab lain meliputi kesehatan
gigi yang buruk dan gizi yang buruk.
2. Berkurangnya indera pengecapan mengakibatkan penurunan terhadap
cita rasa manis, asin, asam, dan pahit.
Indera pengecap menurun disebabkan adanya iritasi kronis dari
selaput lendir, atropi indera pengecap ( 80 %), hilangnya sensitivitas
dari syaraf pengecap di lidah terutama rasa manis dan asin, hilangnya
sensitivitas dari syaraf pengecap tentang rasa asin, asam, dan pahit.
3. Esophagus/kerongkongan mengalami pelebaran.
Esophagus mengalami penurunan motilitas, sedikit dilatasi atau
pelebaran seiring penuaan. Sfingter esophagus bagian bawah
(kardiak) kehilangan tonus. Refleks muntah pada lansia akan
melemah, kombinasi dari faktor-faktor ini meningkatkan resiko
terjadinya aspirasi pada lansia.
4. Rasa lapar menurun, asam lambung menurun
Terjadi atrofi mukosa. Atrofi dari sel kelenjar, sel parietal dan sel chief
akan menyebabkan sekresi asam lambung, pepsin dan faktor intrinsik
berkurang. Ukuran lambung pada lansia menjadi lebih kecil, sehingga
daya tampung makanan menjadi berkurang. Proses perubahan protein
menjadi peptone terganggu. Karena sekresi asam lambung berkurang
rangsang lapar juga berkurang . Kesulitan dalam mencerna makanan

adalah akibat dari atrofi mukosa lambung dan penurunan motalitas


lambung. Atrofi mukosa lambung merupakan akibat dari penurunan
sekresi asam hidrogen-klorik (hipoklorhidria), dengan pengurangan
absorpsi zat besi, kalsium, dan vitamin B 12. Motilitas gaster biasanya
menurun, dan melambatnya gerakan dari sebagian makanan yang
dicerna keluar dari lambung dan terus melalui usus halus dan usus
besar .
5. Gerakan usus atau gerak peristaltic lemah dan biasanya menimbulkan
konstipasi
Pada lansia terjadi perubahan dalam usus besar termasuk penurunan
sekresi mukus, elastisitas dinding rektum, peristaltic kolon yang
melemah gagal mengosongkan rektum yang dapat menyebabkan
konstipasi. Pada usus besar kelokan-kelokan pembuluh darah
meningkat sehingga motilitas kolon menjadi berkurang. Keadaan ini
akan menyebabkan absorpsi air dan elektrolik meningkat (pada kolon
sudah tidak terjadi absorpsi makanan), feses menjadi lebih keras,
sehingga keluhan sulit buang air besar merupakan keluhan yang
sering didapat pada lansia. Proses defekasi yang seharusnya dibantu
oleh kontraksi dinding abdomen juga seringkali tidak efektif karena
dinding abdomen sudah melemah .
6. Penyerapan makanan di usus menurun.
Mukosa usus halus juga mengalami atrofi, sehingga luas permukaan
berkurang, sehingga jumlah vili berkurang dan sel epithelial berkurang.
Di daerah duodenum enzim yang dihasilkan oleh pankreas dan
empedu juga menurun, sehingga metabolisme karbohidrat, protein,
vitamin B12 dan lemak menjadi tidak sebaik sewaktu muda.
2.3. Kebutuhan energi dan zat nutrisi pada lansia
Kebutuhan energi dan zat nutrisi pada lanjut usia dipengaruhi oleh
konsumsi pangan yang kurang seimbang. Karena kebutuhan gizi pada usia

lanjut belum terpenuhi sehingga menyebabkan sebagaian besar lanjut usia


mengalami masalah pada kebutuhan gizinya. Masalah gizi yang dihadapi
lansia berkaitan erat dengan menurunnya aktivitas biologis tubuhnya.
Konsumsi pangan yang kurang seimbang akan memperburuk kondisi lansia
yang secara alami memang sudah menurun. Pemenuhan kebutuhan energy
dan nutrisi pada lansia dapat terpenuhi melalui mengonsumsi makanan yang
seimbang, yaitu makanan yang mengandung kalori, protein, lemak,
karbohidrat, vitamin dan mineral serta air.
1. Kalori
Kebutuhan kalori untuk lansia laki-laki sebanyak 1960 kal, sedangkan
untuk lansia wanita 1700 kal. Bila jumlah kalori yang dikonsumsi
berlebihan, maka sebagian energi akan disimpan berupa lemak,
sehingga akan timbul obesitas. Sebaliknya, bila terlalu sedikit, maka
cadangan energi tubuh akan digunakan, sehingga tubuh akan menjadi
kurus.
2. Protein
Biasanya pada usia lanjut terjadi penurnan masa otot, tetapi ternyata
kebutuhan tubuhnya akan protein tidak berkurang, bahkan harus lebih
tinggi dari orang dewasa, karena pada lansia efisiensi penggunaan
protein oleh tubuh telah berkurang yang disebabkan pencernaan dan
penyerapannya kurang efisien. Berdasarkan beberapa penelitian,
untuk lansia sebaiknya konsumsi proteinnya ditingkatkan sebesar 1214% dari porsi untuk orang dewasa. Sumber protein yang baik
diantaranya adalah pangan hewani dan kacang-kacangan.
3. Lemak

Konsumsi lemak yang dianjurkan adalah 30% atau kurang dari total
kalori yang dibutuhkan. Konsumsi lemak total yang terlalu tinggi dapat
menimbulkan penyakit atherosclerosis atau penyumbatan pembuluh
darah ke jantung. Dianjurkan pula 20% dari konsumsi lemak tersebut
adalah asam lemak tidak jenuh. Minyak nabati merupakan sumber
asam lemak tidak jenuh yang baik, sedangkan lemak hewan banyak
mengandung asam lemak jenuh.
4. Karbohidrat dan Serat Makanan
Salah satu masalah yang banyak diderita para lansia adalah sembelit
atau konstipasi dan terbentuknya benjolan-benjolan pada usus. Serat
makanan telah terbukti dapat menyembuhkan kesulitan tersebut.
Sumber serat yang baik bagi lansia adalah sayuran, buah-buahan
segar dan biji-bijian utuh. Manula tidak dianjurkan mengkonsumsi
suplemen serat, karena dikuatirkan konsumsi seratnya terlalu banyak,
yang dapat menyebabkan mineral dan zat gizi lain terserap oleh serat
sehingga tidak dapat diserap tubuh. Lansia dianjurkan untuk
mengurangi konsumsi gula-gula sederhana dan menggantinya dengan
karbohidrat kompleks, yang berasal dari kacang-kacangan dan bijibijian yang berfungsi sebagai sumber energi dan sumber serat.
5. Vitamin dan Mineral
Hasil penelitian menyimpulkan bahwa umumnya lansia kurang
mengkonsumsi vitamin A, B1, B2, B6, niasin, asam folat, vitamin C, D,
dan E umumnya kekurangan ini terutama disebabkan dibatasinya
konsumsi

makanan,

khususnya

buah-buahan

dan

sayuran.

Kekurangan mineral yang paling banyak diderita lansia adalah kurang


mineral kalsium yang menyebabkan kerapuhan tulang dan kekurangan
zat besi menyebabkan anemia. Kebutuhan vitamin dan mineral bagi

lansia menjadi penting untuk membantu metabolisme zat-zat gizi yang


lain. Sayuran dan buah hendaknya dikonsumsi secara teratur sebagai
sumber vitamin, mineral dan serat.
6. Air
Cairan dalam bentuk air dalam minuman dan makanan sangat
diperlukan tubuh untuk mengganti yang hilang, membantu pencernaan
makanan dan membersihkan ginjal. Pada lansia dianjurkan minum
lebih dari 6-8 gelas per hari.
Susunan makanan sehari-hari untuk manula hendaknya tidak terlalu
banyak menyimpang dari kebiasaan makanan, serta disesuaikan dengan
keadaan psikologisnya. Pola makan disesuaikan dengan kecukupan gizi
yang dianjurkan dan menu makanannya disesuaikan dengan ketersediaan
dan kebiasaan makan tiap lanjut usia. Menu makanan manula dalam sehari
dapat disusun berdasarkan konsep 4 sehat 5 sempuna atau Konsep gizi
seimbang, sebagai contoh
Kelompok makanan pokok (utama) : nasi (1 porsi= 200 gram)
Kelompok lauk pauk : daging (1 potong= 50 gram), tahu (1 potong = 25 gr)
Kelompok sayuran : bayam (1 mangkok = 1001 gr)
Kelompok buah-buahan : pepaya (1 potong = 100 gr) dan susu (1 gelas =
100 gr)
Pola susunan makanan untuk manula dalam sehari
Komposisi
Energi (kal)
Protein (gr)
Vitamin A (RE)

Laki-laki
1960
50
600

Perempuan
1700
44
700

Thiamin (mg)
Riboflavin (mg)
Niasin (mg)
Vitamin B12
(mg)
Asam folat
(mcg)
Vitamin C (mg)
Kalsium (mg)
Fosfor (mg)
Besi (mg)
Seng (mg)
Iodium (mcg)

0,8
1,0
8,6

0,7
0,9
7,5

170

150

40
500
500
13
15
150

30
500
450
16
15
150

Menu untuk manula dalam sehari


WAKTU
Pagi
Selingan
Siang

Selingan
Malam

MENU
Roti-telur-susu
Papais
Nasi
Semur
Pepes tahu
Sayur bayam
Pisang
Kolak pisang
Mie baso
Pepaya

PORSI
1 tangkep 1 gelas
2 bungkus
1 piring
1 potong
1 bungkus
1 mangkok
1 buah
1 mangkok
1 mangkok
1 buah

Pedoman tata laksana gizi usia lanjut untuk tenaga kesehatan. 2003.
Direktorat gizi masyarakat DJBKM. Depkes RI.
2.3.1 Perhitungan BB Ideal pada Lansia

a. Penimbangan BB dilakukan secara teratur minimal 1 minggu sekali,


waspadai peningkatan BB atau penurunan BB lebih dari 0.5
Kg/minggu. Peningkatan BB lebih dari 0.5 Kg dalam 1 minggu beresiko
terhadap kelebihan berat badan dan penurunan berat badan lebih dari
0.5 Kg /minggu menunjukkan kekurangan berat badan.
b. Menghitung berat badan ideal pada lanjut usia :
Rumus : Berat badan ideal = 0.9 x (TB dalam cm 100)
Catatan untuk wanita dengan TB kurang dari 150 cm dan pria dengan TB
kurang dari 160 cm, digunakan rumus :
Berat badan ideal = TB dalam cm 100
Jika BB lebih dari ideal artinya gizi berlebih
Jika BB kurang dari ideal artinya gizi kurang
2.3.2 Perhitungan Kebutuhan Energi untuk Lansia
Menurut Widya Karya Pangan Gizi tahun 1998, secara umum kecukupan gizi
yang dianjurkan untuk usia lanjut (> 60 tahun) pada laki-laki adalah 2200
kalori dan pada wanita adalah 1850 kalori. Kebutuhan energi pada usia lanjut
menurun sehubungan dengan penurunan metabolisme basal (sel-sel banyak
yang inaktif dan kegiatan fisik yang cenderung menurun). Kebutuhan kalori
akan menurun sekitar 5% pada usia 40-49 tahun dan 10% pada usia 50-69
tahun.Untuk perhitungan kebutuhan energi setiap usia lanjut dapat digunakan
rumus yang dianjurkan oleh FAO/WHO/UNU (1985) yang telah disesuaikan,
yaitu :
Laki-laki

: 13,5 x BB) + 487 kkal

Wanita
BB

: (10,5 x BB) + 596 kkal


= Berat Badan (dapat digunakan BB sekarang atau BB ideal / normal,

sesuai dengan tujuan).


Gol. Umur

BB

BB Ind

Energi

Protein

65
65

62
62

2200
1900

50
50

55

54

1900

44

55

54

1700

44

FAO

Laki-laki
51 65 th
> 65 th
wanita
50 64 th
> 65 th

AKG digunakan hanya untuk manusia sehat menurut IMT. Setelah status
gizinya diketahui, kemudian dikonversikan dengan tabel diatas.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Berdasarkan paparan di atas dapat mengambil kesimpulan sebagai
berikut :
Usia lanjut adalah seseorang yang telah mencapai usia lebih dari 60
tahun keatas.

Kebutuhan energi dan zat nutrisi pada lanjut usia

dipengaruhi oleh konsumsi pangan yang kurang seimbang. Pemenuhan


kebutuhan energi dan nutrisi
mengonsumsi

makanan

yang

pada lansia dapat terpenuhi melalui


seimbang,

yaitu

makanan

yang

mengandung kalori, protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral serta


air.
3.2. Saran
Sebagai mahasiswa diharapkan mampu memahami hal-hal apa saja
yang berpengaruh terhadap pemenuhan gizi dan nutrisi pada usia lanjut.
Setelah

memahaminya

diharapkan

agar

mahasiswa

mampu

mensosialisasikan pentingnya pemenuhan kebutuhan nutrisi dan gizi


pada masyarakat usia lanjut sehingga dapat mengurangi angka gizi
buruk yang marak terjadi di kehidupan sekarang.

DAFTAR PUSTAKA
Academia.(2009). Kebutuhan Nutrisi pada Lansia. Diperoleh 27 September
2014, dari
https://www.academia.edu/6390298/I.KEBUTUHAN_NUTRISI_PADA_LANSI
A
Lentera Impian. (2010, 27 Februari). Gizi Pada Lansia. Diperoleh 27
September 2014, dari http://lenteraimpian.wordpress.com/2010/02/27/gizipada-lansia/
Mulyani,Sri.(2013).Gizi. Diperoleh 27 September 2014, dari
http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/133/jtptunimus-gdl-srimulyani-6619-3babii.pdf
Posyandu Wijayakusuma. (2011, 5 April). Kebutuhan Gizi Lanjut Usia.
Diperoleh 27 September 2014, dari

http://posyanduwijayakusuma.wordpress.com/2011/04/05/kebutuhan-gizilanjut-usia/