Anda di halaman 1dari 12

PERANCANGAN PRODUK SOFA KANTOR

DENGAN METODE QUALITY FUNCTION


DEPLOYMENT (QFD) DAN PENERAPAN
WEBSITE CUSTOMER RELATIONSHIP
MANAGEMENT (CRM)
Savira Qarima, Januar Nasution, Inayatulloh
Binus University, Jl. K. H. Syahdan, 021- 5345830, savira.qarima@yahoo.com

ABSTRACT
To develop a product, in this case the office sofa, we need a method so we could knew exactly
about the developing progress. In this study, the author use the method of Quality Function
Deployment (QFD), is a method which includes the need to find out what it takes consumers on
a product, and that needs must be integrated with the product spesifications which is developed.
Several methods that must be done to do that is identifying the needs of consumers by collecting
data using a questionnaire from company website with Customer Relationship Management
(CRM) methods. After found the respondent needs of a product, then it needs to be integrated
product specifications are developed using the product planning matrix (House Of Quality). Its
function, if the product has been produced can be accepted by consumers in the market.
Keywords: Quality Function Deployment, Website, Customer Relationship Management, House
Of Quality.
ABSTRAK
Untuk mengembangkan suatu produk, dalam hal ini sofa kantor, kita memerlukan suatu metode
agar pengembangan dapat diketahui dengan baik, pada penelitian ini, penulis menggunakan
metode Quality Function Deployment (QFD), dimana pengertiannya adalah suatu metode
yange mencakup untuk mengetahui kebutuhan apa yang diperlukan konsumen pada suatu
produk, dan kebutuhan tersebut haruslah diintegrasikan pada spesifikasi-spesifikasi produk
yang dikembangkan. Beberapa metode yang harus dilakukan yakni mengidentifikasi kebutuhan
konsumen dengan mengumpulkan data menggunakan alat kuesioner yang diberikan melalui
website perusahaan dengan metode Customer Relationship Management (CRM). Setelah
didapatkan kebutuhan-kebutuhan responden terhadap suatu produk, maka diintegrasikan
kebutuhan tersebut pada spesifikasi produk yang dikembangkan dengan menggunakan matriks
perencanaan produk (House Of Quality). Fungsinya, apabila produk tersebut telah diproduksi
dapat diterima oleh konsumen di pasaran.
Kata Kunci: Quality Function Deployment, Website. Customer Relationship Management,
House Of Quality.

PENDAHULUAN
Terpuruknya ekonomi Amerika Serikat dan Eropa dalam dua tahun kedepan akan sangat menyulitkan
pelaku industri furnitur di tanah air (IPOSnews, 2012). Menghadapi persaingan yang sangat ketat
sekarang ini mengharuskan setiap produk unggulan mampu bersaing dalam kompetisi dunia indutri dan
harus dapat memuaskan konsumen. Produk yang sukses merupakan produk yang mampu memberi
manfaat sesuai dengan yang dipersepsikan oleh konsumen (Astuti, Ciptomulyono, & Suef, 2004, p. 156).
Dalam hal ini produk furniture harus dapat bersaing dalam hal desain harga dan kualitas. Hal tersebut
menjadikan suatu kesempatan bagi produk Indonesia untuk bangkit dan bersaing secara kualitas dan
desain dengan cara pengumpulan saran konsumen sebagai media interaksi dengan menggunakan peran
Website dengan metode berbasis Customer Relationship Management (CRM). Dalam studi kasus ini akan
dilakukan pendekatan dengan menggunakan salah satu metode perancangan dan pengembangan produk
yaitu metode Quality Function Deployment (QFD). QFD merupakan metode untuk menentukan
bagaimana dan di mana prioritas harus ditetapkan saat proses pengembangan produk diikuti dengan
persyaratan teknis dan karakteristik kualitas tertentu.
Mendapatkan karakteristik sofa kantor yang sesuai kebutuhan dan keinginan konsumen melalui metode
Quality Function Deployment (QFD) merupakan tujuan utama. Dikarenakan banyaknya permintaan untuk
membuat sofa kantor yang lebih baik dari sebelumya, oleh karena itu PT. Cipta Asri membutuhkan desain
yang dipicu oleh kehidupan masyarakat perkantoran di daerah perkotaan yang cenderung menginginkan
sesuatu yang sederhana, awet dan bernilai estetika tinggi yang merupakan akibat dari kesadaran sekaligus
juga tuntutan akan pentingnya suasana lingkungan kerja di kantor yang simple dan nyaman.
Faktor kenyamanan dan kekuatan dalam penggunaan produk tersebut juga merupakan faktor yang sangat
besar pengaruhnya untuk menarik minat konsumen khususnya masyarakat perkantoran di daerah
perkotaan yang cenderung menginginkan sesuatu yang sederhana, awet, bernilai estetika tinggi. PT. Cipta
Asri diajukan untuk melakukan perancangan dan pengembangan produk sofa kantor, dimana pada PT.
Cipta Asri belum terdapat sofa kantor bagi karyawan.
Pokok permasalahan yang akan dibahas adalah perancangan produk sofa kantor yang dapat mewakili dan
memenuhi kebutuhan serta keinginan konsumen yang didapat dari Website perusahaan berbasis CRM
dengan menggunakan metode QFD.
Berikut merupakan poin tujuan dan manfaat dari studi kasus ini:
Tujuan:
Membuat Sistem Customer Relationship Management (CRM) dengan cara pembuatan Website
untuk menampung saran dan masukan dari konsumen serta memudahkan perusahaan dalam
membina hubungan baik kepada konsumen.
Mendapatkan karakteristik sofa kantor yang sesuai kebutuhan dan keinginan konsumen melalui
metode Quality Function Deployment (QFD).
Manfaat:
Membantu konsumen mendapatkan informasi dan mengutarakan pendapat serta saran ke perusahaan
tanpa menunggu waktu desain dan produksi.
Mendapatkan rancangan terbaik sesuai kebutuhan konsumen.
Manfaat bagi penulis adalah lebih memahami pemanfaatan Website berbasis CRM serta metode
Quality Function Deployment (QFD) dalam penerapannya di masyarakat, serta untuk menyelesaikan
tugas akhir ini.

Pengertian Sofa
Sofa berasal dari bahasa Arab suffah berarti pelana (dari bantal) yang diletakkan di atas bangku. Sofa
bersinonim dengan kata katil, kursi panjang, atau resbang, didefinisikan sebagai kursi panjang bertangan
dan bersandaran, biasanya berlapis karet dan busa yang dibungkus kain beledu, kadang-kadang dipakai
sebagai tempat tidur (Nur Utami, 2012).

Komponen sofa terdiri dari:


1. Kerangka sofa, kerangka-kerangka ini biasanya memanfaatkan kayu, namun tak jarang juga
produsen-produsen sofa menggunakan besi dan baja untuk memperkuat sofa sekaligus membuatnya
lebih cantik dan terlihat lebih modern (Ahira, 2012).
2. Dudukan / bantalan, berupa busa atau dakron. Busa yang bagus mampu bertahan minimal lima
tahun. Sofa yang nyaman tidak terlalu keras karena kurang baik bagi tulang punggung. Namun, jika
terlalu empuk, membuat kita sempoyongan saat berdiri. Bantalan bisa menyatu atau terpisah dengan
rangka (Nur Utami, 2012).
Upholstery, Kunci keindahan sofa terletak pada penggunaan upholstery atau pelapisnya. Bahan
upholstery sangat beragam baik produk lokal maupun impor. Pilihan yang sangat beragam ini dapat
memberikan banyak alternatif untuk sofa, sehingga sofa dapat disesuaikan dengan dekorasi dan gaya
ruangan. Jenis upholstery bisa dari kain maupun kulit, untuk kulit terdapat jenis kulit asli maupun sintetis
yang sering dikenal sebagai PVC leather atau Oscar (Rasyid, 2012).

Customer Relationship Management (CRM)


Manajemen Hubungan Pelanggan (Customer Relationship Management -CRM), adalah manajemen
hubungan antara perusahaan dengan pelanggan sehingga baik perusahaan maupun pelanggannya akan
menerima nilai maksimum dari hubungan ini. Strategi ini menyadari bahwa membina hubungan jangka
panjang dengan pelanggan adalah suatu strategi yang bagus, karena mempertahankan pelanggan yang
sudah ada biasanya akan lebih murah daripada mendapatkan pelanggan baru, oleh karena itu, perusahaan
melakukan upaya-upaya untuk memahami para pelanggannya sehingga kebutuhan mereka akan dapat
dipenuhi dan mereka akan tetap setia kepada perusahaan. (Schell & McLoud, 2008).

Quality Function Deployment (QFD)


Quality Function Deployment (QFD) adalah pendekatan sistematis untuk merancang produk berdasarkan
kebutuhan dan keinginan customer (M.Z & Nurcahyo, 2010, p. 81).
Berikut ini akan dikemukakan beberapa definisi Quality Function Deployment menurut para pakar:
QFD adalah metode terstruktur yang digunakan dalam proses perancangan dan pengembangan
produk untuk menetapkan spesifikasi kebutuhan dan keinginan konsumen, serta mengevaluasi
secara sistematis kapabilitas produk dan jasa dalam memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen
(Louis, 1995, p. 11).
QFD adalah metode untuk menerjemahkan keinginan dan kebutuhan konsumen kedalam suatu
rancangan produk yang memiliki persyaratan teknis dan karakteristik kualitas tertentu (Akao, 1988,
p. 3).

Penerapan Customer Relationship Management (CRM) pada Website


Salah satu penerapan CRM yang termasuk dalam kategori operasional CRM adalah dalam bentuk
aplikasi web. Melalui web, suatu perusahaan dapat memberikan pelayanan kepada pelanggan.
Beberapa contoh pelayanan yang diberikan melalui web, diantaranya (Stojkovic & Djurici, 2011):
Menyediakan pencarian produk. Pelanggan sering kali mengalami kesulitan dalam mencari produk
yang mereka inginkan, karena itu diperlukan fasilitas search.
Menyediakan produk atau pelayanan gratis, sesuatu yang dapat menarik pelanggan untuk
mengunjungi web adalah tersedianya produk atau pelayanan gratis.
Menyediakan pelayanan atau informasi tentang penggunaan produk.
Menyediakan pemesanan on line.
Menyediakan fasilitas informasi status pemesanan.
Jenis CRM (Khalid, Mohd, & Ibrahim, 2011):
Strategic, inti dari strategi binis yang bertujuan untuk mengutamakan
dan mempertahankan pelanggan yang menguntungkan.
Operational, berfokus pada otomatisasi pada pelanggan untuk
menghadapi proses seperti penjualan, pemasaran dan layanan pelanggan.
Analytical, berfokus pada intelligent mining pada data pelanggan yang
terkait untuk tujuan strategis ataupun taktis.
Colaborative, menerapkan teknologi untuk melintasi batas organisasi
dengan tujuan tuntuk mengoptimalkan nilai perusahaan, partner dan pelanggan.

Penerapan Quality Function Deployment (QFD)


Tujuan utama QFD adalah menerjemahkan kriteria subjektif (konsumen) tentang kualitas menjadi sesuatu
yang lebih objektif, jadi QFD adalah proses perencanaan bukan alat untuk pemecahan masalah atau
analisis. Langkah pembuatan QFD dapat dikategorikan menjadi 4 tahap, yaitu (M.Z & Nurcahyo, 2010,
pp. 81-83):

Gambar 1 Tahapan House Of Quality


1. Perencanaan Produk.
Tahap ini terdiri dari keinginan pelanggan (customer requirements) dan technical responses atau
technical requirements yang didapat dari saran konsumen yang direkapitulasi pada e-Commerce.
2. Perencanaan Desain.
Tahap ini terdiri dari technical requirements dan parts characteristics. Berkaitan dengan perancangan
fungsi produk dalam hal ini berhubungan dengan ergonomi yang merupakan bidang keilmuan dalam
merancang pekerjaan, peralatan, dan mencakup pula lingkungan tempat bekerja yang nyaman bagi para
pekerja (Sulianta, 2010, p. 2).
3. Perencanaan Proses (Process Planning).
Tahap ini terdiri dari part characteristics dan process characteristics. Merupakan proses aplikasi dan
evaluasi saran konsumen dan disesuaikan dengan sudut pandang ergonomi.
4. Perencanaan Produksi (Production Planning).
Tahap ini terdiri dari process characteristics dan production requirements. Dimana rancangan produk
telah memiliki keterangan rancangan berupa gambar maupun karakteristik teknis mengenai produk sofa
kantor dengan standar baru sesuai kebutuhan dan keinginan konsumen.

House Of Quality (HOQ)


Tahap pertama QFD umumnya dikenal sebagai house of quality (HOQ), merupakan kepentingan
mendasar dan strategis dalam sistem QFD, pada fase ini kebutuhan pelanggan akan produk yang telah
diidentifikasi dan selanjutnya, memprioritaskan penggabungan untuk produksi perusahaan, diubah
menjadi langkah-langkah yang tepat untuk memenuhi kebutuhan. Dengan kata lain HOQ menggabungkan
antara voice of the customer dengan voice of the technician, dengan ini proses dan rencana produksi
dapat dibentuk pada tahap sistem QFD lainnya (Chan & Ming-Lu, 2004).

Activity Diagram
Activity Diagram adalah sebuah proses urutan transaksi bisnis yang dilakukan oleh perusahaan. Alur kerja
pada activity diagram yang rumit, mempunyai urutan proses yang banyak sedangkan berbeda dengan
alur kerja yang sederhana mempunyai urutan proses yang sedikit. Keunggulan diagram ini adalah dapat
menggambarkan proses dari alur kerja dengan sangat baik sehingga akan menjadikan sebuah kekuatan
mekanisme komunikasi antara aktifitas dan aktor. Swimlane adalah aktor yang melakukan aktifitas.
(Satzinger, Jackson, & Burd, 2010, p. 141).

Use Case Diagram


Use case adalah aktifitas yang dilakukan oleh sistem. Use case diagram adalah pendokumentasian yang
terdapat dalam use case, dimana Use case diagram ini adalah sebuah model grafik informasi tentang
aktor dan use cases. Dalam hal analisis, seorang pengembang sistem tersebut harus dapat melihat
keseluruhan sistem, sehingga dapat mengidentifikasi secara menyeluruh. (Satzinger, Jackson, & Burd,
2010, p. 244).

Use Case Description


Use case dan event table adalah gambaran semua use cases pada sebuah sistem. Lalu informasi yang
terdapat pada use case akan di rinci dalam Use case description. Use case description adalah penjelasan
yang lebih rinci dari masing-masing use case. (Satzinger, Jackson, & Burd, 2010, p. 171).

Domain Class Diagram


Domain class diagram adalah untuk memperlihatkan kelas-kelas dari objek sebuah sistem yang dimana di
dalam kelas-kelas tersebut terdapat entitas. Gambar domain class diagram, terbagi menjadi dua bagian
yaitu bagian atas merupakan nama kelas dan bagian bawah merupakan nama dari atribut kelasnya.
(Satzinger, Jackson, & Burd, 2010, p. 187).

System Sequence Diagram (SSD)


SSD adalah sebuah tipe dari diagram interaksi. SSD memperlihatkan sebuah interaksi antara aktor dengan
sistem. Di dalam use case aktor diartikan sebagai pengguna sistem, di dalam SSD aktor dijelaskan tentang
bagaimana aktor tersebut berinteraksi dengan sistem dengan cara memasukkan data dan mendapatkan
data sebagai output dari reaksi sistem terhadap input data. (Satzinger, Jackson, & Burd, 2010, pp. 252253).

Completed Three-Layer Sequence Diagram


Di dalam diagram ini menampilkan kelas dengan tiga lapisan. Lapisan pertama merupakan view layer
classes dimana objek tampilan menu dan form yang dimaksud. Kedua, merupakan business layer classes
dengan controller objek dan kelas. Lapisan ketiga, merupakan data access layer class yang berisi objek
database class. (Satzinger, Jackson, & Burd, 2010, p. 435).

METODE PENELITIAN
Berikut adalah diagram alir yang digunakan pada studi kasus ini:

Gambar 2 Metode Penelitian

Tahapan yang dilakukan penulis dalam melakukan penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Observasi Lapangan
Melakukan tinjauan langsung dan melihat permasalahan yang ada pada PT. Cipta Asri. Tahapan ini
berguna bagi penulis dalam hal penentuan masalah yang akan diambil dalam proses perancangan yang
akan dikerjakan. Ada banyak masalah yang ditemukan dalam tahapan observasi ini, diantaranya adalah
tidak tersedianya sofa kantor yang ergonomis bagi karyawan pada PT.Cipta Asri dan banyaknya
permintaan konsumen akan desain sofa yang ergonomis. Dari masalah tersebut penulis mengembangkan
studi kasus perancangan sofa kantor dengan bantuan website perusahaan yang berbasis CRM.
2. Perumusan Masalah
Setelah proses observasi dilakukan, maka tahapan selanjutnya adalah mengidentifikasi masalah yang ada
di PT. Cipta Asri. Perancangan sofa kantor yang ergonomis adalah masalah utama dalam studi kasus ini.
Tujuan utama dalam studi kasus ini adalah didapatkannya rancangan sofa kantor yang ergonomis melalui
metode QFD untuk karyawan serta konsumen yang sudah memberikan sarannya secara langsung di dalam
kolom pada website yang telah disediakan.
3. Studi Literatur
Pada tahap ini penulis mencari jurnal dan buku yang terkait guna penunjang kebutuhan untuk tahapan
selanjutnya yaitu pengumpulan data. Pencarian berfokus pada jurnal dan buku yang membahas secara
lengkap mengenai metode dari Quality Function Deployment (QFD) dan penggunaan website dalam
perusahaan guna memuaskan konsumen.
4. Pengumpulan Data
Pengumpulan data berfokus pada saran-saran dari konsumen yang diambil melalui kuesioner yang
terdapat pada website perusahaan dan kemudian dikumpulkan. Pada tahapan ini data-data yang telah ada
kemudian diolah menjadi informasi yang akan dikembangkan dalam studi kasus ini. Bila data telah
cukup, maka proses perancangan dapat dilanjutkan ke tahapan berikutnya. Data yang cukup mempunyai
kriteria sebagai berikut :
a) Kecukupan saran, saran-saran yang diperoleh dari kuesioner yang terdapat pada website
perusahaan.
b) Reabilitas saran, reabilitas menunjukkan konsistensi suatu alat pengukur dalam studi kasus ini
adalah kuesioner yang terdapat pada website perusahaan yang memiliki tingkat keandalan
tinggi dalam mengukur objek yang diteliti.
c) Validitas saran, suatu derajat ketepatan alat ukur mengenai isi atau arti sebenarnya yang diukur
pada studi kasus ini dalam hal kuesioner yang terdapat pada website perusahaan tersebut valid
bila dapat menunjukan keinginan dari konsumen mengenai sofa kantor. Bila data yang
diperoleh belum cukup dan akurat, dapat melakukan kembali tahapan pengumpulan data.
5. Pengolahan Data
Sesuai dengan tujuan pengolahan data yaitu mengetahui perancangan desain sofa kantor yang ergonomis
berdasarkan saran konsumen, setelah dilakukannya beberapa pengujian kriteria. Data-data tersebut
kemudian diolah menjadi informasi yang dapat berguna untuk menunjang tahapan selanjutnya yang akan
dikerjakan.
6. Pembahasan dan Analisis
Usai melakukan pengolahan data, dilakukan pembahasan yang lebih mendalam terhadap hasil yang
diperoleh dengan menggunakan metode Quality Function Deployment (QFD). Proses analisis juga
dilakukan terhadap hasil dari desain sofa kantor yang sesuai keinginan. Pembahasan serta analisis secara
mendalam akan dilakukan guna menjawab semua perumusan masalah yang telah dirumuskan sebelumnya
dan menjadi fokus utama dari proses perancangan.
7. Kesimpulan dan Saran
Dari analisis data yang diperoleh tahapan akhir dari proses penelitian akan dibuat desain sofa kantor
berdasarkan keinginan konsumen. Selain itu, saran yang berguna akan diberikan untuk proses perbaikan
yang mungkin dibutuhkan oleh PT. Cipta Asri di waktu mendatang.

HASIL DAN BAHASAN


Pengumpulan Data
Pada pengumpulan data ini dilakukan dibuatlah kuesioner penelitian. Kuesioner penelitian sendiri
merupakan instrumen utama untuk menggali serta mencari atribut-atribut apa saja yang menurut
responden penting dan diharapkan dari suatu sofa kantor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
tingkat kepentingan masing-masing atribut.

Penyebaran Kuesioner Penelitian


Penyebaran kuesioner penelitian dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling / judgement
sampling merupakan teknik sampling yang satuan samplingnya dipilih berdasarkan pertimbangan
tertentu, dengan tujuan untuk memperoleh satuan sampling yang memiliki karakteristik atau kriteria yang
dikehendaki dalam pengambilan sample. Dalam hal ini, kuesioner disebarkan pada PT.Abacus dan
PT.Garuda Indonesia, untuk mengetahui bagaimana desain sofa kantor dan desain website yang
diharapkan oleh responden itu sendiri. Dimana pengambilan data kuesioner dilakukan pada tanggal 20-25
juni 2013.

Data Kuesioner Penelitian


Kuesioner penelitian yang akan disebarkan terbagi menjadi 6 bagian, yakni:
1. Screening Responden.
Bagian ini merupakan penentuan apakah calon responden memiliki kriteria yang sesuai dengan kriteria
sampel penelitian yang telah ditetapkan oleh peneliti. Kriteria sampel yang dimaksud dalam penelitian ini
adalah sebagai berikkut: (1) responden yang mempunyai keprofesionalan sebagai pekerja pada
perusahaan; (2) responden yang sebelumnya telah menggunakan sofa kantor pada PT. Cipta Asri.
2. Data Responden.
Pada bagian data responden ini mempunyai pertanyaan-pertanyaan yang bersifat umum, seperti jenis
kelamin, umur, serta daerah kantor tempat bekerja.
3. Desain Sofa Kantor.
Pada bagian ini berisi pertanyaan-pertanyaan mengenai keinginan desain sofa kantor secara terperinci
yang diinginkan responden atau konsumen yang mengarah pada perancangan desain sofa kantor yang
akan dibuat.
4. Aksesoris Keinginan Konsumen.
Pada bagian ini lebih diarahkan pada perancangan sofa kantor yang menggunakan aksesoris yang
diinginkan responden atau konsumen, yang memasukkan beberapa pertanyaan tambahan mengenai atribut
sofa kantor sebagai bahan pertimbangan dalam perancangan sofa kantor.
5. Desain Website Untuk Konsumen.
Bagian ini merupakan bagian terpenting dalam penyusunan website kantor. Karena diberikan beberapa
pertanyaan terperinci baik dalam hal desain maupun konten untuk pembuatan website tersebut.
6. Tingkat Kepentingan
Pada bagian tingkat kepentingan ini berisi pertanyaan-pertanyaan mengenai tingkat kepentingan
responden atau konsumen dalam hal pemilihan sofa kantor.
Dari 60 kuesioner yang disebarkan tersebut, terdapat 3 kuesioner yang tidak kembali. Dimana terdapat 7
kuesioner yang tidak bisa atau tidak dapat diolah dikarenakan responden mengisi pilihan stop pengisian
dan tidak terisi dengan lengkap.

Identifikasi Kebutuhan Konsumen


Dari hasil kuesioner penelitian telah didapat tingkat kepentingan (importance) untuk masing-masing
atribut. Dalam tahap identifikasi kebutuhan responden, dilakukan pemilihan atribut-atribut berdasarkan
dengan mempertimbangkan tingkat kepentingan yang diberikan responden.

Menentukan Spesifikasi Target


Proses selanjutnya setelah melakukan identifikasi kebutuhan adalah melakukan spesifikasi target sebelum
konsep produk dikembangkan. Pada spesifikasi target ini diperlukan tiga hal yang harus dilakukan dalam
tahapan menentukan spersifikasi target, ketiga hal tersebut adalah, diawali dengan mempersiapkan daftar
metrik dan membuat matriks hubungan antara atribut-atribut produk sofa kantor dengan metrik.

Metrik yang baik adalah yang merefleksikan secara langsung nilai produk yang memuaskan
kebutuhan pelanggan, hubungan antara kebutuhan dan metrik merupakan inti dari proses penetapan
spesifikasi sehingga dapat diasumsikan sebagai menerjemahkan kebutuhan pelanggan menjadi
sekumpulan nilai spesifikasi yang tepat dan terukur. Kebutuhan pelanggan dikombinasikan dengan
tingkat kepentingan menunjukkan pentingnya kepuasan terhadap pelanggan. Data tersebut diambil dari
hasil wawancara mendalam dengan sofa maker dan bagian produksi, dimana pada PT. Cipta Asri
memiliki sofa maker yang berjumlah empat orang yang telah berpengalaman dan menggeluti bidangnya
dimulai pada tahun 1998 dan berperan serta dalam pengembangan CV. Cipta Asri menjadi PT. Cipta
Asri. Bagian produksi merupakan team yang berjumlah tiga orang yang khusus memproduksi desain
mebel kantor dan rumah tangga sejak tahun 2005 dimana PT.Cipta Asri membuat pembagian pada team
produksi konstruksi, maintenance dan desain.

Penentuan Tingkat Kepentingan


Untuk menentukan tingkat kepentingan ini, penulis mencari nilai rata-rata untuk masing-masing variabel
dari data kuesioner yang telah dikumpulkan.
Tabel 1 Nilai rata-rata
Item Statistics
Mean
Std. Deviation
Kenyamanan
4.48
.580
Bentuk/Model
4.50
.614
Teknologi
2.10
1.074
Harga
2.88
.895

N
50
50
50
50

Dari hasil kuesioner penelitian tingkat kepentingan serta hasil tabel item statistics, hubungan karakteristik
kebutuhan konsumen dengan karakteristik teknis didapatkan dengan dilakukannya penilaian dengan
menggunakan aturan HOQ sebagai berikut:
Angka 9 : hubungan sangat kuat.
Angka 3 : hubungan sedang.
Angka 1 : hubungan lemah.
(kosong) : tidak ada hubungan sama sekali.
Tabel 2 Hubungan Karakteristik Kebutuhan Konsumen Dengan Karakteristik Teknis

Hubungan Antara Karakteristik Teknis (Technical Corelation)


Matriks ini digunakan untuk membantu tim QFD dalam menentukan desain yang mengalami bottleneck
dan menentukan kunci komunikasi di antara para perancang sofa. Simbol korelasi yang digunakan
dalamtahap ini adalah sebagai berikut:

Gambar 3 Hubungan Antara Karakteristik Teknis

X : hubungan lemah antara karakteristik teknis.


O : hubungan kuat antara karakteristik teknis.

House Of Quality (HOQ)


Dari hasil diatas maka didapatkan hasil HOQ pada gambar berikut ini:

Gambar 4 House of Quality (HOQ)


Berdasarkan penggambaran HOQ diatas maka didapatkan dua atribut yang memiliki nilai row weight
terbesar dari keempat atribut kebutuhan konsumen, yakni:
1. Bentuk/Model.
2. Kenyamanan.
Kedua atribut tersebut akan dijadikan dasar sebagai pengembangan produk yang akan dilakukan. Dimana
kedua atribut tersebut didapatkan dari hasil pendataan dengan kuesioner yang telah dilakukan. Dengan
kata lain, kedua atribut tersebut merupakan suara dari konsumen pengguna sofa kantor. Dengan melihat
kedua atribut diatas, maka dapat diketahui karakteristik-karakteristik teknis yang mempengaruhi kedua
atribut tersebut, yakni:
1. Rangka sofa.
2. Pegas sofa.
3. Kaki sofa.
4. Jenis busa dudukan sofa.
5. Sandaran.
6. Kapasitas sofa.
7. Jenis sofa.
8. Upholstery.
9. Warna.
Dari kesembilan karakteristik teknis yang sudah ditentukan tersebut, sebenarnya dapat digeneralisasikan
ataupun direpresentasikan dengan hal-hal tertentu, yakni:
1. Desain dan dimensi sofa kantor.
(Hal ini merepresentasikan atas karakteristik teknis, kapasitas sofa, jenis sofa, upholstery dan warna).
2. Material sofa kantor.
(Hal ini merepresentasikan atas karakteristik rangka sofa, pegas sofa, kaki sofa, jenis busa dudukan sofa
dan sandaran).

Desain Sofa Kantor


Generalisasi dan representasi tersebut dilakukan untuk mempermudah perancangan pengembangan
produk yang akan didesain. Akan tetapi pengelompokkan difokuskan pada karakteristik teknis desain
model sofa kantor, karena karakteristik teknis ini mempunyai nilai bobot yang paling paling tinggi

dibandingkan bobot karakteristik yang lain. Oleh karena karakteristik teknis yang paling diutamakan
adalah kenyamanan dan desain, maka kita memerlukan atribut-atribut untuk desain model dan
kenyamanan yang diperlukan untuk mengembangkan sofa kantor ini.
Dari hasil yang telah didapatkan, dibuatlah rancangan sofa kantor PT. Cipta Asri seperti dibawah ini.

Gambar 5 Hasil Desain Sofa Kantor

Perancangan Desain Website


Activity Diagram
Activity Diagram merupakan aliran proses pengisian kuesioner yang ada dalam Website. Dimana proses
ini dibuat dengan diagram yang menunjukkan langkah-langkah dalam aliran kerja dan siapa yang
bertanggung jawab dalam menyelesaikan masing-masing aktivitas dan objek yang digunakan dalam aliran
kerja tersebut. Hasil dari Activity Diagram untuk sistem informasi yang telah dibuat adalah sebagai
berikut:

Gambar 6 Activity Diagram kuesioner

10

Use Case Diagram


Use Case Diagram dibuat untuk mengidentifikasikan user yang menggunakan kuesioner dalam Website
PT. Cipta Asri. Berikut ini merupakan use case untuk sistem informasi dalam pengisian kuesioner pada
Website yang telah dibuat adalah sebagai berikut:

Gambar 7 Use Case Diagram

Domain Class Diagram


Domain class diagram dibuat untuk memperlihatkan kelas-kelas dari objek sebuah sistem. Dan domain
class terbagi menjadi dua bagian yaitu bagian atas merupakan nama kelas dan bagian bawah merupakan
nama dari atribut kelasnya.

Gambar 8 Domain Class Diagram

SIMPULAN DAN SARAN


SIMPULAN

11

1. Berdasarkan metodologi QFD yang mengacu pada persyaratan konsumen PT. Cipta Asri yang telah
membeli sofa kantor telah dihasilkan suatu desain baru (beserta spesifikasinya) produk sofa kantor
yang bertujuan untuk dipasarkan kepada konsumen. Desain yang telah dikembangkan diharapkan
mampu memenuhi keinginan dan kebutuhan konsumen terutama keinginan dengan bobot atau nilai
kepentingan yang tinggi, dimana segmen dari produk sofa kantor yang telah dikembangkan tersebut
terfokus pada produk perkantoran di perkotaan. Variable desain yang difokuskan dalam
pengembangan sofa kantor adalah kenyamanan dan desain bentuk atau model. Yang dimana kedua
variabel desain tersebut diterjemahkan kedalam bahasa teknis (karakteristik teknis) yaitu rangka
sofa, pegas sofa, kaki sofa, jenis busa dudukan sofa, sandaran, kapasitas sofa, jenis sofa, upholstry
dan warna
2. Berdasarkan metodologi CRM dibuatlah website perusahaan yang dimana dapat diharapkan dapat
membantu untuk pembelian produk sofa kantor serta mampu menampung saran dan masukan dari
konsumen sehingga hubungan perusahaan dengan konsumen terjalin dengan baik. Selain itu
konsumen dapat melihat informasi produk perusahaan tanpa harus menunggu waktu desain atau
produksi.

SARAN
1. Untuk pengembangan selanjutnya disarankan memasukkan unsur teknologi sebagai feature
tambahan dalam desain sofa kantor ini.
2. Untuk pengembangan selanjutnya ketika produk ini sudah dapat dipasarkan maka dapat dilakukan
proses pengembangan produk sofa kantor sampai dengan House of Quality level 4, yakni matriks
perencanaan produksi (Production Deployment).
Untuk pengembangan website selanjutnya dapat lebih lengkap dalam hal foto-foto produk, harga, form
saran dan mendapatkan feedback langsung dari perusahaan.

REFERENSI
Ahira, A. (2012). Sofa. Retrieved from Anneahira.com: http://www.anneahira.com/sofa.htm
Akao, Y. (1988). Quality Function Deployment Integrating Customer Requirements Into Product Design.
Japan: Hinshitsutenkai Katsuyo No Jissai.
Chan, L.-K., & Ming-Lu, W. (2004). A Systematic approach to qualify function deployment with a full
illustrative example. Science Direct , 119.
Heskett, J. (2005). Design is a problem, not a solution. Better by Design , 3.
Khalid, R., Mohd, H., & Ibrahim, H. (2011). Customer Relationship Management (CRM) Processes from
Theory to Practice: The Pre-implementation Plan of CRM System. International Journal of eEducation, e-Business, e-Management and e-Learning , 23.
Louis, C. (1995). Quality Function Deployment. USA: Addison-Wesley.
M.Z, Y., & Nurcahyo, R. (2010). TQM Manajemen Kualitas Total dalam Perspektif Teknik Industri.
Jakarta: Indeks.
Nur Utami, A. (2012, November 22). Sofa, Komponen, Bentuk dan Tips Memilihnya. Retrieved from
Propertytoday.co.id: http://propertytoday.co.id/sofa-komponen-bentuk-dan-tipsmemilihnya.html
Pusat Bahasa. (2008). Kamus Bahasa Indonesia (3 ed.). Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
Rasyid, M. (2012, Desember 26). Komponen Sofa. Retrieved from Drsofa.com:
http://sofa.co.id/artikel/komponen-sofa
Satzinger, J. W., Jackson, R. B., & Burd, S. D. (2010). Systems Analysis and Design in Changing World,
Third Edition. United States of America: Thomson Learning, Inc.
Schell, G. P., & McLoud, J. R. (2008). Sistem Informasi Manajemen (Vol. 10). Jakarta: Salemba Empat.
Stojkovic, D., & Djurici, R. (2011). CUSTOMER RELATIONSHIP MANAGEMENT CONCEPT IN
THE . I International Symposium Engineering Management And Competitiveness 2011
(EMC2011) , 380.
Sulianta, F. (2010). IT Ergonomics. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.
Ulrich, K. T. (2011). Design Is Everything? Product development & Management Association , 394.

RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Jakarta, Indonesia pada tanggal 05 Maret 1990. Tahun 2008 Penulis lulus dari SMA
Negeri 78 Jakarta dan pada tahun 2013 penulis meraih gelar ST. dan S.Kom di Binus University.

12