Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH DM II

MUSLIM DAN REKAYASA SOSIAL

KAMMI DAERAH (KAMMDA)


KOTA YOGYAKARTA

KATA PENGANTAR
Perubahan sosial merupakan sebuah keharusan yang terjadi.
Sebuah sunnatullah dalam kehidupan. Perubahan sosial bisa terjadi
kapan saja dan kemana saja. Bisa baik bisa buruk, tergantung orangorang menginginkan perubahan sosial itu diarahkan.
Seorang muslim sepatutnya tidak diam dengan fenomena
perubahan sosial yang terjadi tersebut. Tapi sebaliknya, seorang
muslim harus menggerakkan dan mengarahkan perubahan sosial
tersebut ke arah jalan yang benar, jalan yang menauhidkan Allah
SWT. Karena itu merupakan sebuah tuntutan dalam agama.
Dalam makalah ini, penulis mencoba menjelaskan sedikit
tentang hal itu. Dengan pengetahuan yang belum seberapa ini,
Alhamdulillah makalah ini dapat diselesaikan. Mudah-mudahan dapat
menjadi sebuah awalan untuk belajar bagi penulis dan bagi siapapun
juga yang menginginkan perubahan ke arah yang lebih baik Insya
Allah.

Yogyakarta, 22 Juli 2016

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kehidupan manusia selalu bergerak dari satu perubahan ke
perubahan yang lain, selalu berpindah dari keadaan yang satu ke
keadaan yang lain. Karena begitulah sunnatullahnya. Bayi akan
berubah menjadi anak lalu remaja lalu dewasa lalu tua dan
kemudian meninggal. Begitulah semuanya berjalan.
Kehidupan manusia merupakan sebuah siklus yang memutar
dari siklus yang satu ke siklus yang lain. Dalam Al-Quran Allah
SWT menjelaskan tentang kemajuan dan kebangkrutan sebuah
peradaban manusia. Bahwa jatuh bangunnya sebuah peradaban
tertentu merupakan siklus dari sebuah perubahan sosial dalam
skala yang lebih besar. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Araf
ayat 34.1 :
Tiap-tidap umat mempunyai batas waktu, maka apabila
telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya
barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.
Dalam dinamika kehidupan yang terus bergerak terkadang kita
tidak mengetahui atau mengalami kebingungan sebagai seorang
muslim, di manakah seharusnya posisi kita berada. Atau apa yang
seharusnya saya lakukan terhadap perubahan yang terus terjadi.
Apakah seorang muslim hanya diam saja mengikuti kemanapun
1 Maulana Janah, Rekayasa Perubahan Sosial : Studi Konsep, Strategi dan
Praktik (Cirebon : Mitra Pemuda, 2014), cet. ke-1, hlm. 54-55.

arus sosial membawanya. Ataukah seorang muslim seharusnya


menjadi motor penggerak dan pengawal kemana perubahan sosial
itu diarahkan.
Dalam Al-Quran telah disebutkan bahwa kita adalah khalifah
Allah SWT di muka bumi ini. Artinya sebagai wali Allah SWT untuk
mengolah dan memakmurkan bumi-Nya. Kemudian dalam ayat
yang lain dikatakan Allah SWT tidak menciptakan manusia kecuali
untuk beribadah kepada-Nya. Maka dapat kita simpulkan secara
sederhana bahwa kita sebagai seorang muslim harus menjadi
orang-orang yang kemudian mengajak dan mengarahkan sebuah
perubahan agar semua manusia kembali ke tujuan sejatinya
sebagai manusia yaitu beribadah menyembah kepada Allah SWT.
Dan

untuk

mewujudkan

semua

itu

dibutuhkan

sebuah

perencanaan besar.

B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi dari rekayasa sosial?
2. Apa saja model-model dari perubahan sosial?
3. Bagaimana peran seorang muslim dalam perubahan sosial?
C. Tujuan
1. Menjelaskan tentang definisi rekayasa sosial
2. Menjelaskan model-model perubahan sosial
3. Menelaah peran seorang muslim dalam perubahan sosial
BAB II
ISI
A. Definisi Rekayasa Sosial
Perubahan dalam kehidupan sebuah masyarakat adalah sebuah
keniscayaan,
kegagalan

sebab

tanpa

menjalankan

perubahan,
sunnatullah

manusia
kehidupan.

mengalami
Dengan

perubahan, manusia sedang belajar menggerakkan diri agar tidak


terjebak dalam kehidupan statis. Perubahan juga mengajarkan
sebuah filosofi kehidupan, kadang manusia berada pada lapisan
elite, kadang pula manusia harus berada di struktural terbawah.
Ketika itu terjadi, perubahan sesungguhnya sedang memainkan
peranan dan menguji ketangguhan mentalitas para pelaku yang
berproses menjalani perubahan.2
Adanya berbagai perubahan sosial sesungguhnya tidak terlepas
proses rekayasa sosial yang disebabkan dua problem sosial yakni
bertaraf individu dan bertaraf sosial. Dalam konteks individu,
problem dimunculkan dari individual qualities (kualitas individu).
Seorang yang ditolak lingkungan karena sifatnya yang introvert
(menutup diri) akan berujung pada kemalasan dan lemahnya
pandangan dirinya dalam kehidupan bermasyarakat. Sedangkan
konteks sosial berasal dari faktor dan lingkungan sosial.Philip
Kotler menyebutkan problem sosial adalah kondisi tertentu dalam
masyarakat yang dianggap tidak enak atau menganggu sebagian
anggota masyarakat dan dapat dikurangi atau dihilangkan melalui
upaya bersama (kolektif).3
Dalam pandangan Philip Kotler terdapat empat unsur dalam
melakukan rekayasa sosial yakni tujuan sosial dimana pelaku
perubahan dipercaya dapat memberikan jawaban pada problem
sosial, pelaku perubahan yaitu organisasi yang memiliki misi
memajukan sebab sosial, sasaran perubahan yang meliputi
2 Inggar Saputra, Rekayasa Sosial : Proses Pemikiran Strategis KAMMI
mengubah Indonesia, diakses dari
https://www.scribd.com/doc/137882898/MAKALAH-REKAYASA-SOSIAL-doc,
pada 21 Juli 2016 pukul 14.04
3 Inggar Saputra, Rekayasa Sosial : Proses Pemikiran Strategis KAMMI
mengubah Indonesia loc. cit.

individu, kelompok ataupun lembaga yang ditunjuk sebagai


sasaran

upaya

perubahan,

media

menyampaikan

pengaruh

sehingga keinginan pelaku perubahan dapat mencapai sasaran


perubahan dan strategi yang merupakan teknik aktor rekayasa
sosial untuk menimbulkan dampak pada sasaran perubahan.4
Jadi rekayasa sosial dapat dimaknai sebagai campur tangan
gerakan ilmiah dari visi ideal tertentu yang ditujukan untuk
mempengaruhi perubahan sosial. Rekayasa sosial merupakan
sebuah jalan mencapai sebuah perubahan sosial secara terencana.
Gerakan ilmiah yang dimaksudkan adalah sebuah gagasan atas
perubahan tingkat/taraf kehidupan masyarakat demi tercapainya
kesejahteraan dan kemandirian.5
Dr Jalaluddin Rahmat dalam bukunya rekayasa sosial reformasi,
revolusi atau manusia besar menyatakan bahwa rekayasa sosial
merupakan campur tangan atau seni memanipulasi sebuah
gerakan ilmiah dari visi ideal tertentu yang ditujukan untuk
mempengaruhi perubahan sosial, bisa berupa kebaikan maupun
keburukan dan juga bisa berupa kejujuran, bisa pula berupa
kebohongan.6

B. Model-model Perubahan Sosial


4 Inggar Saputra, Rekayasa Sosial : Proses Pemikiran Strategis KAMMI
mengubah Indonesia loc. cit.
5 Inggar Saputra, Rekayasa Sosial : Proses Pemikiran Strategis KAMMI
mengubah Indonesia loc. cit.
6 Anonim, Rekayasa Sosial dan Relasi Individu dengan Masyarakat,
diakses dari
https://khairuddintapaktuan.wordpress.com/2013/02/18/rekayasa-sosialdan-relasi-individu-dengan-masyarakat/, pada 21 Juli 2015 pukul 14.22

Secara umum, perubahan sosial dilakukan dengan banyak cara,


di antaranya : model reformasi dan model revolusi. Model revolusi
merupakan model yang penuh resiko karena biasanya dilakukan
dengan tindak kekerasan, sehingga model ini perlu direnungkan
dan disesuaikan dengan nilai-nilai agama dan sosial, apakah
bertentangan atau tidak. Sementara model reformasi cenderung
lambat, biasanya hanya sebatas memformat ulang atas perubahan
yang ingin dilakukan.7
Pertama, Model Reformasi
Dalam kamus sosiologi, reformasi memiliki arti sebagai upaya
penataan kembali secara bertahap atau tidak secara mendasar
yang berbeda dengan revolusi. Atau reformasi adalah suatu
gerakan memformat ulang, menata ulang atau menata kembali
hal-hal yang menyimpang atau dikembalikan pada format atau
bentuk semula sesuai cita-cita rakyat. Dalam konteks politik,
reformasi juga dapat diartikan sebagai upaya penyusunan kembali
atau upaya penataan kembali sistem dan kebijakan politik yang
dinilai tidak sesuai dengan kehidupan demokrasi dan nilai-nilai
keadilan sehingga terwujud suatu sistem politik, kehidupan politik
dan masyarakat yang baik sesuai dengan cita-cita bersama.8
Reformasi

merupakan

cara

melakukan

perubahan

secara

bertahap dan menyeluruh. Perubahan dilakukan untuk membenahi


unsur-unsur sistem sosial yang ada dimasyarakat dan negara.
Perubahan melalui reformasi cenderung lambat akan tetapi tidak
menimbulkan kekerasan dikalangan elite maupun kalangan bawah
seperti revolusi.
7 Maulana Janah, Rekayasa Perubahan Sosial : Studi Konsep, Strategi dan
Praktik, op. cit., hlm. 98
8 Ibid., hlm. 99

Namun, tidak semua perubahan yang moderat dapat disebut


sebagai

reformasi.

perubahan

Dengan

adalah

demikian

kekuasaan

menurut

berbagai

Hirschman,

kelompok-kelompok

istimewa dikekang sementara posisi ekonomi dan status sosial


kelompok yang kurang beruntung diperbaharui. Ia mengandung
arti perubahan yang mengarah pada persamaan politik, sosial dan
ekonomi yang lebih merata termasuk perluasan peran serta politik
dalam masyarakat dan negara. Perubahan moderat dalam arah
yang bertentangan lebih tepat disebut sebagai konsolidasi
ketimbang reformasi.9
Para aktor peubahan sosial harus benar-benar memahami dan
mendalami

perubahan

melalui

jalan

reformasi

ini.

Karena

perubahan melalui reformasi menuntut orang-orang yang mampu


merancang

secara

komprehensif

tentang

apa

yang

harus

diperbaiki. Kemudian tidak berhenti disitu, para aktor reformasi


juga harus menyiapkan SDM yang mapu berperan dan mengisi
sistem yang telah diperbaiki agar dapat melakukan perubahan
sosial selanjutnya.

10

Reformasi akan gagal jika sebatas euforia

perubahan tanpa ada upaya dan usaha untuk memasukkan agen


pembaharu ke dalam realitas-realitas sistem yang ada.
Kedua, Model Revolusi
Perubahan adalah sesuatu yang inheren dalam struktur tatanan
sosial masyarakat, sehingga perlu adanya proses yang bisa
mempercepat terjadinya perubahan. Dalam konteks ini perlu
adanya model pendekatan perubahan yang mendasar, yang bisa
jadi, itu sebuah revolusi. Soerjono Soekanto (1985) menjelaskan
9 Ibid., hlm. 100
10 Ibid., hlm. 103

bahwa proses perubahan harusnya berlangsung secara cepat yang


sampai pada dasar-dasar suatu masyarakat.11
Revolusi itu sendiri bermula pada

abad ke-14 di Italia.

Perubahan sosial dalam bentuk dan model revolusi ini memiliki


dampak

dahsyat

terhadap

masyarakat

bahkan

cenderung

menimbulkan kekerasan. Revolusi dapat diartikan sebagai bentuk


perubahan melalui ledakan mobilisasi massa yangsangat masif.
Revolusi merupakan sebuah perubahan yang dilakukan secara
cepat, mendasar dan menggunakan kekerasan dengan cara
mengubah tata nilai, sistem atau kekuasaan dalam kehidupan
ketatanegaraan.

Revolusi

melibatkan

mobilisasi

massa

dan

perjuangan ideologi.12

C. Peran Seorang Muslim dalam Perubahan Sosial


Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan
pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka degan
cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih
mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih
mengetahui siapa yang mendapat petunjuk. (an-Nahl: 125)
....Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang
yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati
untuk kebenaran, dan saling menasihati untuk kesabaran.
(al-Asr :2-3)
....Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu
kaum sebelum mereka mengbah keadaan diri mereka sendiri. Dan
11 Ibid., hlm. 106
12 Ibid., hlm. 107

apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka


tak ada yang dapat menolaknya, dan tidak ada pelindung bagi
mereka selain Dia. (ar-Rad : 11)
Tiga ayat di atas setidaknya telah mewakili judul pokok bahasan
akhir pada makalah ini. Ayat yang pertama merupakan salah satu
ayat yang memerintahkan seorang muslim untuk berdakwah.
Dakwah

secara

bahasa

berarti

ajakan

dan

menurut

istilah

didefinisikan dengan mengajak manusia ke jalan Allah untuk


mengeluarkan mereka dari kegelapan kekufuran kepada cahaya
Islam, dan dari kezaliman kepada keadilan 13. Dalam ayat ini
secara tidak langsung juga dapat dipahami bahwa perubahan
sosial yang di aktori oleh seorang muslim sudah harusnya
diarahkan untuk mengajak manusia ke jalan kepada Allah SWT.
Kemudian ayat yang kedua yaitu Q.S. al-Asr : 2-3, merupakan
penguatan kepada seorang muslim untuk berdakwah. Bagi siapa
yang tidak berdakwah maka ia berada dalam sebuah kerugian
yang besar (baca : model manusia muslim abad 21). Bahkan Imam
Syafii

mengatakan

bahwa

seandainya

Allah

SWT

tidak

menurunkan surat-surat lain, surat ini sudah cukup menjadi


petunjuk bagi kehidupan manusia14.
Setelah itu ayat yang ketiga Q.S. ar-Rad : 11, ayat ini
menjelaskan bahwa Allah SWT tidak akan merubah keadaan suatu
umat sebelum mereka memperbaiki diri mereka sendiri. Artinya
kita dituntut untuk melakukan sebuah perubahan, sehingga Allah
SWT akan mengubah keadaan kita. Disini seorang muslim tidak
13 Amang Syafrudin, Muslim Visioner : Hidup dengan Al-Fatihah (Jakarta :
Gema Insani, 2009), cet. ke-1, hlm. 77
14 Anis Matta, Model Manusia Muslim Abad XXI (Bandung : Progressio,
2007), cet. ke-2, hlm. 3

seharusnya diam menjadi penonton terhadap perubahan sosial


yang terjadi disekitarnya. Akan tetapi harus menjadi penggerak
perubahan sosial tersebut, sehingga perubahan terjadi dapat
diarahkan ke jalan Allah SWT.
Seorang muslim yang telah sudah beriman dan beramal saleh,
berarti telah saleh secara pribadi. Islam tidak menginginkan orang
itu

menyimpan

mendistribusikan

kesalehannya
kesalehan

itu

sendiri,
kepada

tetapi
orang

sebaliknya,
lain.

Proses

mendistribusikan kesalehan kepada orang laain itu juga berarti


proses menjadi saleh secara sosial.15
Jadi, seorang muslim harus mengarahkan perubahan sosial di
masyarakat sekitarnya untuk menjadikan masyarakat sebagai
masyarakat yang saleh, atau dalam bahasa Anis Matta disebutkan
dengan saleh secara sosial.

BAB III
KESIMPULAN
A. Rekayasa

sosial

dapat

dimaknai

sebagai

campur

tangan

gerakan ilmiah dari visi ideal tertentu yang ditujukan untuk


mempengaruhi perubahan sosial. Rekayasa sosial merupakan
sebuah

jalan

mencapai

sebuah

perubahan

sosial

secara

terencana. Gerakan ilmiah yang dimaksudkan adalah sebuah


gagasan atas perubahan tingkat/taraf kehidupan masyarakat
demi tercapainya kesejahteraan dan kemandirian.
B. Model melakukan perubahan sosial ada beberapa macam.
Dalam makalah ini dibahas dua model yaitu reformasi dan
revolusi. Reformasi ialah proses penataan kembali sistem yang
sudah ada. Sedangkan revolusi merupakan sebuah perubahan
15 Ibid., hlm. 7

yang dilakukan secara cepat, mendasar dan menggunakan


kekerasan dengan cara mengubah tata nilai, sistem atau
kekuasaan dalam kehidupan ketatanegaraan.
C. Peran seorang muslim dalam perubahan sosial ialah sebagai
penggerak dan pengarah kemana perubahan sosial akan
dijalankan. Yakni mengembalikan manusia ke jalan Allah SWT
atau dalam bahasa lainny Dakwah. Karena jika seorang
muslim tidak menjadi penggerak dan pengarah, maka bisa jadi
perubahan yang terjadi akan di aktori oleh orang lain yang
belum tentu arahnya ke jalan Allah SWT. Bahkan malah boleh
jadi bertentangan.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim,

2012,

Makalah

DM

II

Rekayasa

Sosial

http://muslimkad.blogspot.co.id/2012/12/makalah-dm-ii-dauroh-marhalahrekayasa.html
Anonim, 2013, Rekayasa Sosial dan Relasi Individu dengan Masyarakat,
https://khairuddintapaktuan.wordpress.com/2013/02/18/rekayasa-sosial-dan-relasiindividu-dengan-masyarakat/,

http://kbbi.web.id/
Inggar Saputra, 2013, Rekayasa Sosial : Proses Pemikiran Strategis
KAMMI

mengubah

Indonesia,

https://www.scribd.com/doc/137882898/MAKALAH-REKAYASA-SOSIAL-doc,

Janah, Maulana. 2014. Rekayasa Perubahan Sosial : Studi Konsep,


Strategi dan Praktik. Cirebon : Mitra Pemuda

Matta, Anis. 2007. Model Manusia Muslim Abad XXI. Bandung :


Progressio
Syafrudin, Amang. 2009. Muslim Visioner : Hidup dengan Al-Fatihah.
Jakarta : Gema Insani