Anda di halaman 1dari 54

KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur kami panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat
limpahan Rahmat dan Karunia-nya sehingga kami dapat menyusun makalah ini dengan baik
dan tepat pada waktunya. Dalam makalah ini kami menyajikan tentang alat-alat instrument
seperti FTIR, GC, GC-MS, dan HPLC.
Makalah ini dibuat dari berbaga sumber dan beberapa bantuan dari berbagai pihak
untuk membantu menyelesaikan tantangan dan hambatan selama mengerjakan makalah ini.
Oleh karena itu, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak
yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini.
Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang mendasar pada makalah ini.
Oleh karena itu kami mengundang pembaca untuk memberikan saran serta kritik yang dapat
membangun kami. Kritik konstruktif dari pembaca sangat kami harapkan untuk
penyempurnaan makalah selanjutnya.
Akhir kata kami berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat maupun
inpirasi terhadap pembaca.

Bogor,
July 2016

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR......................................................................................... 1
DAFTAR ISI.................................................................................................... 2
PENDAHULUAN............................................................................................. 4
FTIR (FOURIER TRANSFORM INFRA RED).......................................................5
PENDAHULUAN.......................................................................................... 5
PRINSIP...................................................................................................... 5
Makalah Analisis Instrument PKT-59

INSTRUMENTASI......................................................................................... 7
JENIS SAMPEL........................................................................................... 11
METODE PREPARASI SAMPEL....................................................................11
METODE ANALISIS.................................................................................... 12
METODE PENGOLAHAN DATA HASIL ANALISIS...........................................14
GC (GAS CHROMATOGRAPHY)......................................................................16
PENDAHULUAN........................................................................................ 16
PRINSIP.................................................................................................... 17
INSTRUMENTASI....................................................................................... 18
JENIS SAMPEL........................................................................................... 26
METODE PREPARASI SAMPEL....................................................................27
METODE ANALISIS.................................................................................... 29
METODE PENGOLAHAN DATA HASIL ANALISIS...........................................30
GC-MS......................................................................................................... 32
PENDAHULUAN........................................................................................ 32
PRINSIP.................................................................................................... 32
INSTRUMENTASI....................................................................................... 33
JENIS SAMPEL........................................................................................... 37
METODE PREPARASI SAMPEL....................................................................37
METODE ANALISIS.................................................................................... 38
METODE PENGOLAHAN DATA HASIL ANALISIS...........................................38
HPLC (HIGH PERFORMANCE LIQUID CHROMATOGRAPHY)..............................41
PENDAHULUAN........................................................................................ 41
PRINSIP.................................................................................................... 43
Prinsip dasar HPLC.................................................................................... 43
Prinsip kerja HPLC.................................................................................... 43
INSTRUMENTASI....................................................................................... 44
JENIS SAMPEL........................................................................................... 48
METODE PREPARASI SAMPEL....................................................................48
METODE ANALISIS.................................................................................... 49
METODE PENGOLAHAN DATA HASIL ANALISIS...........................................50
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................ 53

Makalah Analisis Instrument PKT-59

PENDAHULUAN
Kromatografi adalah suatu teknik pemisahan molekul berdasarkan perbedaan pola
pergerakan antara fase gerak dan fase diam untuk memisahkan komponen (berupa molekul)
yang berada pada larutan. Molekul yang terlarut dalam fase gerak, akan melewati kolom yang
merupakan fase diam.Tswett adalah penemu kromatografi pada tahun 1903. Perkembangan
kromatografi antara lain:
a. kromatografi cair-padat (KCP).
b. Kemudian, pada akhir tahun 1930an dan pada awal tahun 1940an, cara ini mulai
berkembang. Dasar kromatografi lapis tipis (KLT) diletakkan oleh Izmailov.
c. Schraiber pada tahun 1938, dan kemudian diperhalus oleh Stahl pada
tahun 1958. Karya Martin dan Synge
yang pada tahun 1041
membuahkan
hadian Nobel, tidak hanya merevolusikan kromatografi cair, tetapi juga secara
umum meletakkan landasan bagi perkembangan kromatografi gas dan kromatografi
kertas.
d. Pada tahun 1952, Martindan James mempublikasikan makalah pertamanya
mengenaim kromatografi gas. Antara tahun 1952 dan akhir tahun 1960 an
kromatografi gas berkembang menjadi alat analisis yang canggih.
e. Hal ini menjadi dasar ditemukannya kromatografi yang canggih yaitu kromatografi
cair kinerja tinggi (High Perfomance Liquid Chromatografi).
Kromatografi dibedakan menjadi 2 jenis yaitu:
Kromatografi cair (Liquid Chromatography) merupakan teknik yang tepat untuk
memisahkan ion atau molekul yang terlarut dalam suatu larutan. Terdapat beberapa jenis
kromatografi cair, diantaranya: reverse phase chromatography, High Performance Liquid
Chromatography (HPLC), size
exclusion
chromatography,
serta supercritical
fluid
chromatography.

Makalah Analisis Instrument PKT-59

Reverse phase chromatography merupakan alat analitikal yang kuat dengan


memadukan sifat hidrofobik serta rendahnya polaritas fase stasioner yang terikat
secara kimia pada padatan inert seperti silika.
High performance liquid chromatography (HPLC) mempunyai prinsip yang mirip
dengan reverse phase. Hanya saja dalam metode ini, digunakan tekanan dan
kecepatan yang tinggi.
Size exclusion chromatography atau yang dikenal juga dengan gel permeation
atau filtration chromatography biasa digunakan untuk memisahkan dan
memurnikan protein.

Kromatografi pertukaran ion (ion-exchange chromatography) biasa digunakan untuk


pemurnian materi biologis, seperti asam amino, peptida, protein.

FTIR (FOURIER TRANSFORM INFRA RED)


PENDAHULUAN
FTIR merupakan singkatan dari Forier Transform Infra Red. Dimana FTIR ini adalah
teknik yang digunakan untuk mendapatkan spektrum inframerah dari absorbansi, emisi,
fotokonduktivitas atau Raman Scattering dari sampel padat, cair, dan gas. Karakterisasi dengan
menggunakan FTIR bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis vibrasi antar atom. FTIR juga
digunakan untuk menganalisa senyawa organik dan anorganik serta analisa kualitatif dan
analisa kuantitatif dengan melihat kekuatan absorpsi senyawa pada panjang gelombang
tertentu (Hindrayawati, 2010; Mujiyanti dkk, 2010).

PRINSIP
Spectroscopy FTIR menggunakan sistem optik dengan laser yang berfungsi sebagai
sumber radiasi yang kemudian diinterferensikan oleh radiasi inframerah agar sinyal radiasi
yang diterima oleh detektor memiliki kualitas yang baik dan bersifat utuh (Giwangkara,2006).
Prinsip kerja FTIR berupa infrared yang melewati celah kesampel, dimana celah tersebut
berfungsi mengontrol jumlah energi ysng disampaikan kepada sampel. Kemudian beberapa
infrared diserap oleh sampel dan yang lainnya ditransmisikan melalui permukaan sampel
sehingga sinar infrared lolos ke detektor dan sinyal yang terukur kemudian dikirim
kekomputer seperti yang ditunjukkan pada Gambar 3 dibawah ini (Thermo, 2001)
Prinsip kerja spektroskopi FTIR adalah adanya interaksi energi dengan materi.Fourier
mengemukakan deret persamaan gelombang elektronik sebagai :
f(t) = a0 + a1 cos w0t + a2 cos 2w0t + + b1 cos w0t + b2 cos 2w0t
dimana :
- a dan b merupakan suatu tetapan
- t adalah waktu
- adalah frekwensi sudut (radian per detik)
( = 2 f dan f adalah frekwensi dalam Hertz)
Atom-atom dalam suatu molekul tidak diam melainkan bervibrasi. Bila radiasi infra
merah yang kisaran energinya sesuai dengan frekuensi vibrasi rentangan (stretching) dan
Makalah Analisis Instrument PKT-59

vibrasi bengkokan (bending) dari ikatan kovalen dalam kebanyakan molekul dilewatkan
dalam suatu cuplikan, maka molektul-molekul akan menyerap energi tersebut dan terjadi
transisi diantara tingkat energi vibrasidasar dan tingkat vibrasi tereksitasi (Hendayana, dkk.,
1994). Namun demikian tidak semua ikatan dalam molekul dapat menyerap energi infra
merah meskipun mempunyai frekuensi radiasi sesuai dengan gerakan ikatan. Hanya ikatan
yang mempunyai momen dipol dapat menyerap radiasi infra merah (Sastrohamidjojo, 1992).
Umumnya daerah radiasi infra merah (IR) terbagi dalam daerah IR dekat (14290-4000 cm -1),
IR jauh (700-200 cm-1) dan IR tengah (4000-666 cm-1). Daerah yang paling banyak digunakan
untuk keperluan penyidikan terbatas pada daerah IR tengah. Hukum Hooke dapat
memperkirakan daerah dimana vibrasi terjadi.

1 K (m1 +m2)
=
2 c
m 1 m2

atau

=4,12

Dimana:

= jumlah gelombang (cm-1)

c = kecepatan cahaya (ms-1)


m1 = massa atom 1 (g)
m1 = massa atom 2 (g)
K = tetapan gaya (dyne cm-1 = g s-2)

m1+ m
m m
= 1 2

Posisi relatif suatu atom dengan atom lainnya dalam suatu molekul selalu berubah-ubah
akibat dari gerakan vibrasi. Untuk molekul dwiatom atau tri-atom, vibrasi berhubungan dengan
energi absorpsi, namun untuk poliatom vibrasi tidak mudah diperkirakan karena banyaknya
pusat vibrasi yang berinteraksi. Adapun cara vibrasi untuk molekul poliatom dapat
dikelompokkan untuk molekul linier dan molekul non linier. Vibrasi fundamental untuk
molekul linier = 3n 5, sedangkan untuk molekul non linier = 3n 6, dengan n = banyaknya
atom.

Makalah Analisis Instrument PKT-59

Analisis menggunakan spektrometer FTIR memiliki beberapa


dibandingkan dengan metode konvensional yaitu:

kelebihan utama

a Dapat digunakan pada semua frekuensi dari sumber cahaya secara simultan, sehingga
analisis dapat dilakukan lebih cepat dari pada menggunakan cara scanning.
b Sensitivitas FTIR adalah 80-200 kali lebih tinggi dari instrumentasi dispersi standar karena
resolusinya lebih tinggi (Razi, 2012). Sensitifitas dari metoda Spektrofotometri FTIR lebih
besar dari pada cara dispersi, sebab radiasi yang masuk ke sistim detektor lebih banyak
karena tanpa harus melalui celah (slitless) (Giwangkara S, 2012).
c Pada FTIR, mekanik optik lebih sederhana dengan sedikit komponen yang bergerak
dibanding spektroskopi infra merah lainnya, dapat mengidentifikasi meterial yang belum
diketahui, serta dapat menentukan kualitas dan jumlah komponen sebuah sampel (Hamdila,
2012).
INSTRUMENTASI

1
2

Keterangan :

1.

Sumber cahaya IR polikromatik

2.

Beam splitter

3.

Cermin tetap (Cermin 1)

4.

Cermin dapat digerakkan naik/turun


(Cermin 2)

5. Sampel
6

6.

Detektor dengan PMT


(Photomultiplier)

Beam Splitter
Beam splitter digunakan untuk memecah dan menyatukan kembali berkas
sinar karena sifatnya dapat meneruskan (transmisi) dan memantulkan (refleksi) sinar
yang mengenainya. Berkas sinar hasil penggambungan dan 2 berkas yang telah

Makalah Analisis Instrument PKT-59

dipecah akan terjadi interferensi dengan menvariasi jarak tempuh berkas dengan
mengubah posisi cermin 2 menjauh dan mendekat.
Cermin Datar
Cermin datar berjumlah 2 buah digunakan untuk memantulkan dari beam
splitter kembali ke beam splitter lagi untuk digabung agar terjadi proses interferensi
gelombang cahaya. Salah satu cermin (cermin 1) dapat digerakkan mendekati atau
menjauhi beam splitter, sedangkan cermin yang lain (cermin 2) dibuat tetap. Ukuran
cermin ini disesuaikan dengan lebar cahaya yang terbentuk yaitu dengan bentuk
lingkaran dengan diameter sekitar 5 cm.

Perancangan Perangkat Elektronika


Rangkaian elektronik terdiri dari beberapa bagian utama, yaitu power supply
sebagai penyedia tegangan pada semua perangkat elektronik, penguat tegangan pada
detektor IR, ADC (Analog to Digital Converter) 0804 untuk mengubah data analog
dari detektor menjadi data digital.
Perancangan sistem peralatan secara keseluruhan pada penelitian ini dapat
digambarkan lagi menurut jenis sinyal yang dihasilkan seperti pada gambar 4.
Keterangan jalur keluaran tiap bagian sistem peralatan yaitu sumber cahaya IR
menghasilkan cahaya polikromatik daerah inframerah, setelah melewati interferometer
diubah menjadi sinyal interferogram, sinyal tersebut diserap sampel, yang diteruskan
mengenai sensor diubah dalam bentuk tegangan yang sebanding dengan pola
interferogram juga, nantinya setelah dilakukan proses di komputer menggunakan
perhitungan FFT akan diperoleh grafik spektrum hubungan antara intensitas serapan
sampel dan panjang gelombang.

Sumber

Interferome

Samp

Detektor
IR

Komput
er FFT

Spektru

Sumber radiasi
Prinsip dari sumber radiasi IR adalah dipancarkannya sinar oleh padatan lembam yang
dipanaskan sampai pijar dengan aliran listrik. Ada 3 macam sumber radiasi yaitu :
-

Globar source : tabung silica carbida dengan ukuran diameter 5mm dan panjang 5cm

Nernst Glower : senyawa-senyawa oksida

Tungsten Filament Lamp : untuk analisis dengan nir-IR

Incandescent Wire : merupakan lilitan kawat nikrom.

Makalah Analisis Instrument PKT-59

Pada sistim optik FTIR digunakan radiasi LASER (Light Amplification by Stimulated
Emmission of Radiation) yang berfungsi sebagai radiasi yang diinterferensikan dengan
radiasi infra merah agar sinyal radiasi infra merah yang diterima oleh detektor secara
utuh dan lebih baik.

Sampel kompartemen.
Cuplikan atau sampel yang dianalisis dapat berupa cairan, padatan atau pun gas.
Karena energi vibrasi tidak terlalu besar sampel dapat diletakan langsung berhadapan
dengan sumber radiasi IR. Karena gelas kuarsa atau mortar yang terbuat dari porselene
dapat memberikan kontaminasi yang menyerap radiasi IR, maka pemakaian alat tersebut
harus dihindari. Preparasi cuplikan harus menggunakan mortar yang terbuat dari batu
agate dan pengempaan dilakukan dengan menggunakan logam monel.

Monokromator
Monokromator merupakan suatu alat yang berfungsi untuk mendispersikan sinar dari
sinar polikromatik menjadi sinar monokromatik. Ada dua macam tipe monokromator
yaitu monokromator prisma dan monokromator gratting (kisi difraksi).

Detektor
Detektor berfungsi mengubah sinyal radiasi IR menjadi sinyal listrik. Selain itu
detektor dapat mendeteksi adanya perubahan panas yang terjadi karena adanya
pergerakan molekul. Detektor spelktrofotometer yang bersifat menggandakan elektron
tidak dapat dipakai pada spektrofotometer IR sebab radiasi IR sanngat lemah dan tidak
dapat melepaskan elektron dari katoda yang ada pada system detektor. Ada tiga tipe
detektor yang dapat digunakan pada spektrofotometer IR, yaitu :

Thermal transducer
Terdiri dari dua logam bercabang dimana suhu tergantung pada potensialnya.
Intrumen yang menggunakan detektor ini harus disimpan pada tempat yang ber-AC
atau bersuhu konstan karena dapat dipengaruhi oleh suhu sehingga dapat terjadi
kesalahan dalam mendeteksi suatu senyawa. Responnya lambat sehingga jarang
digunakan.

Pyroelectric transducer
Berupa kristal cairan dari triglisin sulfat (TGS) dimana temperatur dipengaruhi
oleh polaritas senyawa. Memiliki respon yang cepat dalam menganalisis suatu
senyawa

Photoconducting transducer
Terbuat dari bahan semikonduktor seperti timbal sulfida, eaksa telurida, dan
cadmium telurida, indium antimonida. Harus menggunakan pendingin gas nitrogen
sehingga responnya cepat.

Makalah Analisis Instrument PKT-59

Detektor yang digunakan dalam Spektrofotometer FTIR adalah TGS (Tetra


Glycerine Sulphate) atau MCT (Mercury Cadmium Telluride). Detektor MCT lebih
banyak digunakan karena memiliki beberapa kelebihan dibandingkan detektor TGS,
yaitu memberikan respon yang lebih baik pada frekuensi modulasi tinggi, lebih
sensitif, lebih cepat, tidak dipengaruhi oleh temperatur, sangat selektif terhadap
energi vibrasi yang diterima dari radiasi infra merah

Amplifier / penguat dan read out.


Penguat dalam sistem optik spektrofotometer IR sangat diperlukan karena
sinyal radiasi IR sangat kecil atau lemah. Penguat berhubungan erat dengan derau
instrumen serta celah monokromator, jadi keduanya harus diselaraskan dengan tujuan
mendapatkan resolusi puncak spektrum yang baik dengan derau maksimal. Sedangkan
pencatat atau read out harus mampu mengamati spektrum IR secara keseluruhan pada
setiap frekuensi dengan seimbang. Rentang bilangan gelombang 4000 cm -1 sampai 650
cm-1 dalam keadaan normal harus dapat teramati dalam selang waktu 10 15 menit.
Untuk maksud pengamatan pendahuluan selang waktu tersebut dapat dipersingkat
ataupun diperlambat untuk mendapatkan hasil resolusi puncak spektrum IR yang baik.

Perangkat optik spektroskopi FTIR berupa interferometer pada box posisi terbuka
Sensor IR

Cermin
geser

Sumber

Beam
splitter

Penahan
Cermin
Tetap

Tempat/box

Hasil interferogram menggunakan laser He-Ne. Pola-pola interferensi untuk laju pergeseran
cermin sebesar 24 m/s. (a) kondisi awal, (b) kondisi saat beda lintasan optis sebesar kira-kira
4,0 mm.
Makalah Analisis Instrument PKT-59

Untuk menguji kualitas interferogram yang dihasilkan, sumber IR diganti dengan laser
He-Ne (panjang gelombang 632,8 nm). Semua komponen optik diatur sehingga posisi awal
diperoleh pola interferensi maksimal. Kemudian, cermin geser digerakkan sampai kondisi
akhir berjarak sekitar 4,0 mm dari posisi awal. Gambar di atas menampilkan kondisi awal dan
akhir dari interferogram menggunakan laser He-Ne.
Dari gambar tersebut dapat disimpulkan bahwa kondisi interferogram berhasil dengan
baik, meskipun pola interferensi tidak berupa lingkaran konsentris sempurna. Jarak pergeseran
cermin yang maksimum 4,0 mm menghasilkan resolusi spektrum kira-kira sebesar 2,5 cm -1.
Meskipun resolusi spektrometer FTIR pada umumnya terletak antara 0,01 cm -1 sampai 2 cm-1 .

JENIS SAMPEL
Senyawa organik yang memiliki gugus fungsional yang pokok yaitu C=O, O-H, N-H,
C-O, C=C, CC, CN, dan NO2.

METODE PREPARASI SAMPEL


Sampel yang digunakan dalam analisis menggunakan spektrofotometer IR dapat berupa
sampel cair, gas dan padatan.

Gas
Sampel berbentuk gas dimasukkan ke dalam sel gas, sel ini menghadap
langsung pada berkas sinar. Dalam bentuk yang dimodifikasi, cermin internal yang
digunakan dapat memantulkan berkas sinar berulang kali melalui sampel untuk
menaikkan sensitivitas. Sejumlah kecil senyawa-senyawa organik dapat ditentukan
dalam bentuk gas, bahkan dalam sel-sel yang dipanaskan.
Cairan
Sampel berbentuk cairan ditempatkan pada sel sebagai film yang tipis di
antara dua lapis NaCl yang transparan terhadap inframerah. Karena digunakan NaCl
maka setelah selesai harus segera dibersihkan dengan mencuci menggunakan pelarut-

Makalah Analisis Instrument PKT-59

pelarut seperti toluene, kloroform, dan sebagainya. NaCl harus dijaga tetap kering dan
selalu dipegang pada ujung-ujungnya. Untuk spektra di bawah 250 cm-1, maka
digunakan CsI, untuk sampel yang mengandung air dapat digunakan CaF2. Sampel
cairan dapat juga ditentukan dalam larutan.
Padatan
Wujud sampel padat dapat bermacam-macam di antaranya kristal, amorf,
serbuk, gel dan lain-lain. Padatan juga dapat ditentukan dalam larutan tetapi spektra
larutan mungkin memberikan kenampakan yang berbeda dari spektra bentuk padat,
karena gaya-gaya intermolekul akan berubah. Bermacam metoda telah dikembangkan
untuk penyediaan sampel padat hingga dapat langsung diukur. Ada beberapa cara yang
umum untuk penyiapan sampel bentuk padatan :
o Pelet KBr, dibuat dengan menumbuk sampel (0,12,0%) dengan KBr
kemudian ditekan hingga diperoleh pellet KBr, campuran harus kering dan
akan baik bila penumbukan dilakukan dibawah lampu inframerah untuk
mencegah terjadinya kondensasi uap dari atmosfer yang akan memberikan
serapan lebar pada 3500 cm-1.
o Mull atau pasta, dibuat dengan mencampursampel dengan setetes minyak,
pasta kemudian dilapiskan di antara dua keeping NaCl yang transparan. Bahan
pasta harus transparan terhadap inframerah, tetapi hal ini tidak pernah ada dan
struktur yang dihasilkan selalu menunjukkan serapan yang berasal dari bahan
pasta adalah parafin cair.
o Lapisan tipis padatan, dilapiskan pada keping-keping NaCl dengan cara
meneteskan larutan dalam pelarut yang mudah menguap pada permukaan
kepingan NaCl dan dibiarkan hingga pelarut menguap. Polimer-polimer
berbagai lilin atau bahan-bahan lemak sering memberikan hasil yang baik,
tetapi ada juga yang membentuk kristal yang tajam hingga tidak memberikan
serapan.
o Larutan, sampel dilarutkan dalam pelarut seperti karbon tetraklorida, karbon
disulfide atau kloroform, dan spektrum dari larutan ini dicatat. Larutan
(biasanya 15%) ditempatkan dalam sel larutan yang terdiri dari bahan
transparan. Sel yang kedua berisi pelarut murni yang ditempatkan pada berkas
sinar standari, sehingga serapan dari pelarut dapat dihilangkan dan spektrum
yang dicatat merupakan senyawanya sendiri. Meskipun demikian untuk
meyakinkan bahwa serapan dari pelarut tidak mengganggu spektrum dari
sampel, maka sebaiknya perlu dibuat spektrum dari pelarut yang digunakan
untuk mengetahui serapan-serapan yang diberikan.

METODE ANALISIS
FTIR digunakan untuk melakukan analisa kualitatif yaitu untuk mengetahui ikatan
kimia yang dapat ditentukan dari spektra vibrasi yang dihasilkan oleh suatu senyawa pada
panjang gelombang tertentu. Analisis kualitatif yang dapat dilakukan adalah memperhatikan
ada tidaknya gugus fungsional yang pokok yaitu C=O, O-H, N-H, C-O, C=C, CC, CN, dan
NO2, kemudian menginterpretasikannya dengan menggunakan bagan korelasi dan tabel,
sehingga peak-peak yang ada dapat dianalisis. Selain itu digunakan juga untuk analisa
kuantitatif yaitu melakukan perhitungan tertentu dengan menggunakan intensitas
berdasarkan gugus Fungsi yang dimiliki oleh suatu sampel.
Dalam metode menganalisis suatu spektra yang tak diketahui, perhatian harus dipusatkan
pada penentuan ada atau tidaknya beberapa gugus fungsional utama seperti C=O, O-H, N-NH,
C-O, C=C, , dan NO2. Janganlah membuat analisis yang detail terhadap pita serapan CH dekat
Makalah Analisis Instrument PKT-59

3000 cm-1 (3,33 m). Hampir semua senyawa mempunyai pita serapan pada daerah tersebut.
Tidak perlu risau terhadap adanya suatu lingkungan yang tepat dari gugus fungsional yang
diperoleh. Berikut ini langkah umum untuk memeriksa pita-pita yang penting.
Gugus C=O terdapat pada daerah 1820 1600 cm-1 (5,6 6,1 m). Puncak ini biasanya
yang terkuat dengan lebar mediun dalam spektrum. Serapan tersebut sangat karakteristik.
1

Bila gugus C=O ada, ujilah daftar berikut.


Asam

Apakah

ada

OH?

Serapan melebar didekat 3400-2400 cm-1 (biasanya


tumpang tindih dengan CH).
Amida

Apakah

ada

NH?

Serapan medium didekat 3500 cm-1 (2,85 m) kadangkadang puncak rangkap, dengan perubahan yang sama.
Ester

Apakah

ada

C-OH

atau

C-OR?

Serapan kuat didekat 1300 1000 cm-1 (7,7 10 m)

Anhidrida

Mempunyai dua serapan C=O didekat 1870 dan 1700


cm-1 (5,5 dan 5,7 m)

Aldehida

Apakah

ada

CH

aldehida?

Dua serapan lemah didekat 2850 dan 2750 cm-1 (3,50 m


dan 3,65 m), yaitu disebelah kanan serapan CH.
Keton
2

Bila kelima kemungkinan diatas tidak ada

Bila gugus C=O tidak ada.


Alkohol

Ujilah

untuk

OH

- Serapan melebar didekat 3600 3300 cm-1 (2,6 m 3,0


m).
- Pembuktian selanjutnya yaitu adanya serapan C-O
didekat 1300 1000 cm-1 (7,7 -10 m)
Amida

Ujilah

untuk

NH

Serapan medium didekat 3500 cm-1 (2,85 m).


Ester

Ujilah serapan C-O (serapan OH tidak ada) didekat


1300 1000 cm-1 (7,7 m - 10 m).

Makalah Analisis Instrument PKT-59

Ikatan rangkap dua dan/atau cincin aromatik.


C=C memiliki serapan lemah didekat 1650 cm-1 (6,1 m)
Serapan medium tinggi kuat pada daerah 1650-1450 cm -1 (6,7 m).
Buktikanlah kemungkinan diatas dengan memperhatikan serapan didaerah CH.
Aromatik dan vinil CH terdapat disebelah kiri 3000 cm-1 (3,3 m). Sedangkan CH
alifatik terjadi disebelah kanan daerah tersebut.

Ikatan rangkap tiga


Memiliki serapan medium dan tajam didekat 2250 cm-1 (4,5 m).
memiliki serapan lemah tapi tajam didekat 2150 cm -1 (4,65 m).
Ujilah CH asetilenik didekat 3300 cm-1 (3,30 m).

Gugus Nitro
Dua serapan kuat pada 1600 1500 cm-1 (6,25 6,67) dan 1390 1300 cm-1
(7,2 m - 7,7 m).

Hidrokarbon
Serapan
utama
untuk
CH
didekat
3000
cm-1
(3,3
m).
Spektrumnya sangat sederhana, hanya terdapat serapan lain-lain didekat 1450 cm -1
(6,90 m) dan 1375 cm-1 (7,27 m).
Langkah-langkah pada waktu menginterpretasi data inframerah.
a) Kebanyakan senyawa dapat dicatat pada serapan di atas 1400 cm -1 dan dibawah 900
cm-1. (Daerah finger print, 900-1400 cm-1, mengandung banyak serapan yang tidak
dapat ditelaah).
b) Gugus/kelompok fungsional jauh lebih berguna dari pada pita-pita tunggal. Dengan
perkataan lain, gugus fungsional yang memberikan banyak serapan karakteristik
biasanya dapat diidentifikasi lebih tepat dari pada gugus fungsional yang memberikan
hanya satu serapan karakteristik. Jadi keton (C=O str) lebih sukar/diidentifikasi dari
pada ester (C=O str dan CO str) ester lebih sukar diidentifikasi dari pada amida (C=O
str, N H str, N H def, dan sebagainya).
c) Kerangka karbon harus diperhatikan paling awal : lihat apakah alkana, alkena,
alkuna atau aromatik. (Gunakan CH str, CH def dan berbagai frekuensi rentangan
ikatan karbon-karbon). Kenyataan bahwa spektrum NMR sangat membantu. Lihat
apakah ada C=O str, jika ada ia mungkin berhubungan dengan CH str dalam aldehida,
NH str dalam amida, C-O str dalam ester dan sebagainya. Carilah O-H str atau N-H
str demikian juga C=N str. Dalam senyawa belerang amati adanya S-H str, S=O str,
dan SO2 str; dalam senyawa fosfor lihat adanya PO str.

METODE PENGOLAHAN DATA HASIL ANALISIS


Dari hasil pengujian sampel pada FTIR didapatkan hasil berupa spektra masingmasing sampel. Maka dari data tersebut dapat diketahui gugus fungsi dari senyawa sehingga
dapat ditentukan senyawa yang terdapat pada sampel, seperti contoh
Daerah frekuensi

Jenis ikatan

Makalah Analisis Instrument PKT-59

3600-3000
3600-3300
2400-2000
1700-1500
1300-1000
1000-700
700-500
<500

O-H
N-H
Fenol, ikatan H
C=C stretching
C-O
C-C Vibrasi
C-H bending
Dianggap finger print

Sedangkan data analisa dari garam kompleks adalah sebagai berikut :


Daerah frekuensi
3600-3300
2400-2000
1700-1500
1500-1250
1300-1200
1000-700
700-500
<500

Jenis ikatan
N-H
Fenol, ikatan H
C=C stretching
C-H
C-N
C-C Vibrasi
C-H bending
Dianggap finger print

Dari data tersebut dapat dilihat perbedaan antara sepktra dari garam rangkap dan juga
garam kompleks. Salah satunya adalah gugus O-H yang terdapat pada garam rangkap tetapi
tidak terdapat pada garam kompleks. Selain itu ditemukan serapan C-O pada 1300 1000 cm1. Sedangkan pada garam kompleks, serapan 3600-3000 cm-1 bentuknya tidak lebar
melainkan meruncing yang diperkirakan adalah N-H. Garam kompleks memiliki harga serapan
1402,25 sedangkan pada garam rangkap 1400,32 pada serapan 1500-1250 cm-1. Adanya
beberapa perbedaan serapan antara garam rangkap dan juga garam kompleks dapat disebabkan
oleh adanya perbedaan interaksi yang terjadi antara atom pusat molekul ligan. Berdasarkan
spectra yang diperoleh ada serapan yang kurang sesuai yaitu gugus C-H, karena dalam
senyawa sampel yang digunakan tidak terdapat ikatan C-H. Hal ini mungkin dapat terjadi yang
disebabkan adanya ganguan dari luar ataupun saat pembuatan sampel yang kurang sempurna,
sehingga sampel yang terbentuk telah terkontaminasi yang mengakibatkan adanya pergeseran
spektra.
Hasil analisa FTIR hanya dapat digunakan untuk mengetahui ikatan yang terdapat
dalam suatu senyawa sampel. Hasil ini tidak dapat digunakan untuk menentukan bentuk
struktur dari sampel tersebut. Jadi untuk analisa suatu senyawa perlu didukung dengan analisa
lain seperti H-NMR, C-NMR, dan MS.

Makalah Analisis Instrument PKT-59

GC (GAS CHROMATOGRAPHY)
PENDAHULUAN
Berbagai teknik pemisahan campuran zat cair yang banyak digunakan diantaranya,
destilasi ( fraksionasi, destilasi uap) dan ekstraksi. Kromatografi merupakan teknik pemisahan
yang lebih baik dan lebih cepat dari kedua teknik tersebut di atas, teknik ini telah dikenal sejak
abad ke-19.
Dasar pemisahan pada kromatografi adalah pendistribusian sampel di antara dua fase,
yaitu fase diam dan fase gerak. Berdasarkan pemakaian fase gerak, kromatografi dapat dibagi
menjadi : Kromatografi Cair da Kromatografi Gas.
Kromatografi gas adalah teknik pemisahan yang didasarkan atas sampel di antara
suatu fase gerak yang bisa berupa gas dan fase diam yang juga bisa berupa caira ataupun suatu
padatan. Sedangkan kromatografi cair merupakan teknik pemisahan yang didasarkan atas
sampel di antara suatu fase gerak berupa cairan dan fase diam yang juga didasarkan atas
sampel di antara suatu fase gerak yang bisa berupa gas dan fase diam yang juga bisa berupa
caira ataupun suatu padatan. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan polaritas dar fase diam dan
fase gerak.
Banyaknya macam-macam kromatografi yang salah satunya adalah kromatografi gas,
yang merupakan metode kromatografi pertama yang dikembangkan pada zaman instrumen dan
elektronika. Kromatografi gas dapat dipakai untuk setiap campuran dimana semua
komponennya mempunyai tekanan uap yang berarti, suhu tekanan uap yang dipakai untuk
proses pemisahan. Tekanan uap memungkinkan komponen menguap dan bergerak bersamasama dengan fase gerak berupa gas.
Kromatografi gas metode yang tepat dan cepat untuk memisahkan camputan yang
sangat rumit. Waktu yang dibutuhkan beragam, mulai dari beberapa detik untuk campuran
sederhana sampai berjam-jam untuk campuran yang mengandung 500-1000 komponen.
Metode ini sangat baik untuk analisis senyawa organik yang mudah menguap seperti
Makalah Analisis Instrument PKT-59

hidrokarbon dan eter. Efisiensi pemisahan ditentukan dengan besarnya interaksi antara sampel
dan cairan, dengan menggunakan fasecair standar yang diketahui efektif untuk berbagai
senyawa.
Kromatografi gas (GC) adalah jenis umum dari kromatografi yang digunakan
dalam kimia
analitikuntuk memisahkan dan
menganalisis
senyawa
yang
dapat menguap tanpa dekomposisi. GC dapat digunakan untuk pengujian kemurnian zat
tertentu, atau memisahkan komponen yang berbeda dari campuran (jumlah relatif komponen
tersebut juga dapat ditentukan). GC dapat digunakan dalam mengidentifikasi suatu senyawa.
Kromatografi gas, berdasarkan fasa gerak dan fasa diamnya merupakan kromatografi
gas-cair. Dimana fasa geraknya berupa gas yang bersifat inert, sedangkan fasa diamnya berupa
cairan yang inert pula, dapat berupa polimer ataupun larutan. Adapun gambaran umum dari
GC adalah sebagai berikut :

Pengertian kromatografi menyangkut metode pemisahan yang didasarkan atas


distribusi deferensial diantara dua fasa mengacu pada beberapa sifat komponen sampel, yaitu :
Melarut dalam cairan
Melekat pada permukaan padatan halus
Bereaksi secara kimia
Sifat-sifat tersebutlah yang dimanfaatkan dalam metode kromatografi ini, yaitu
perbedaan migrasi komponen-komponen di dalam sampel.
Pada prinsipnya pemisahan dalam GC adalah disisebabkan oleh perbedaan dalam
kemampuan distribusi analit diantara fase gerak dan fase diam di dalam kolom pada kecepatan
dan waktu yang berbeda.
Kromatografi gas terdiri dari 2 yaitu kromatografi gas cairan dengan mekanisme
pemisahan partisi, yaitu:
1. Kromatografi gascair (KGC),
Fase diamnya berupa cairan yang diikatkan pada suatu pendukung sehingga solut akan
terlarut dalam fase diam. Partisi komponen cuplikan didasarkan atas kelarutan uap komponen
bersangkutan pada zat cair (fasa diam).
2. Kromatografi gas-padat (KGP)
Fase diamnya berupa padatan dan kadang-kadang berupa polimerik. Pada
kromatografi gas-padat, partisi komponen cuplikan didasarkan atas fenomena adsorpsi pada
permukaan zat padat (fasa diam). Namun KGP jarang digunakan sehingga pada umumnya
yang disebut dengan GC saat ini adalah KGC.
PRINSIP
Kromatografi gas mempunyai prinsip yang sama dengan kromatografi lainnya, tapi
memiliki beberapa perbedaan misalnya proses pemisahan campuran dilakukan antara
stasionary fase cair dan gas fase gerak dan pada oven temperur gas dapat dikontrol sedangkan
pada kromatografi kolom hanya pada tahap fase cair dan temperatur tidak dimiliki.
Makalah Analisis Instrument PKT-59

Kromatografi gas merupakan teknik pemisahan yang mana solut-solut yang mudah
menguap (dan stabil terhadap panas) bermigrasi melalui kolom yang mengandung fase diam
dengan suatu kecepatan yang tergantung pada rasio distribusinya. Pemisahan pada
kromatografi gas didasarkan pada titik didih suatu senyawa dikurangi dengan semua interaksi
yang mungkin terjadi antara solute dengan fase diam. Selain itu juga penyebaran cuplikan
diantara dua fase. Salah satu fase ialah fase diam yang permukaannya nisbi luas dan fase yang
lain yaitu gas yang mengelusi fase diam. Fase gerak yang berupa gas akan mengelusi solute
dari ujung kolom lalu menghantarkannya ke detector. Prinsip utama pemisahan dalam
kromatografi gas adalah berdasarkan perbedaan laju migrasi masing-masing komponen
dalam melalui kolom. Komponen-komponen yang terelusi dikenali (analisa kualitatif) dari
nilai waktu retensinya (Tr).
Gas pembawa (biasanya digunakan Helium, Argon atau Nitrogen) dengan tekanan
tertentu dialirkan secara konstan melalui kolom yang berisi fase diam. Selanjutnya sampel di
injeksikan kedalam injektor (Injection Port) yang suhunya dapat diatur. Komponen-komponen
dalam sampel akan segera menjadi uap dan akan dibawa oleh aliran gas pembawa menuju
kolom. Komponen- komponen akan teradopsi oleh fase diam pada kolom kemudian akan
merambat dengan kecepatan berbeda sesuai dengan nilai Kd masing- masing komponen
sehingga terjadi pemisahan.
Komponen yang terpisah menuju detektor dan akan terbakar menghasilkan sinyal
listrik yang besarnya proporsional dengan komponen tersebut. Sinyal lau diperkuat oleh
amplifier dan selanjutnya oleh pencatat (recorder) dituliskan sebagai kromatogram berupa
puncak. Puncak konsentrasi yang diperoleh menggambarkan arus detektor terhadap waktu.
Secara sederhana prinsip kromatografi gas adalah udara dilewatkan melalui nyala
hydrogen (hydrogen flame) selanjutnya uap organik tersebut akan terionisasi dan menginduksi
terjadinya aliran listrik pada detektor, kuantitas aliran listrik sebanding dengan ion.
INSTRUMENTASI
Sistem peralatan dari kromatografi gas terdiri dari 6 bagian utama diantaranya:
1

Tabung gas pembawa

Pengontrolan aliran dan regulator tekanan

Injection port (tempat injeksi cuplikan)

Kolom

Detektor

Rekorder (pencatat)

Makalah Analisis Instrument PKT-59

Cara pemisahan dari sistem ini sangat sederhana sekali, cuplikan yang akan dipisahkan
diinjeksikan kedalam injektor, aliran gas pembawa yang inert akan membawa uap cuplikan
kedalam kolom. Kolom akan memisahkan komponen-komponen cuplikan tersebut.
Komponen-komponen yang telah terpisah tadi dapat dideteksi oleh detektor sehingga
memberikan sinyal yang kemudian dicatat pada rekorder dan berupa puncak-puncak
(kromatogram).
1

Gas Pembawa

Gas pembawa ditempatkan dalam tabung bertekanan tinggi. Biasanya tekanan dari
silinder sebesar 150 atm. Tetapi tekanan ini sangat besar untuk digunakan secara Iansung.
Untuk memperkecil tekanan tersebut agar memenuhi kondisi pemisahan maka digunakan
drager yang dapat mengurangi tekanan dan mengalirkan gas dengan laju tetap. Aliran gas akan
mengelusi komponen-komponen dengan waktu yang karaterisitik terhadap komponen tersebut
(waktu retensi). Karena kecepatan gas tetap maka komponen juga mempunyai volume yang
karateristik untuk gas pembawa (volume retensi).
Adapun persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi oleh gas pembawa adalah :
1

Inert, agar tidak terjadi interaksi dengan pelarut.

Murni, mudah didapat dan murah harganya.

Dapat mengurangi difusi dari gas

Cocok untuk detektor yang digunakan.

Gas-gas yang sering dipakai adalah : helium, argon, nitrogen, karbon dioksida dan
hidrogen.Gas helium dan argon sangat baik, tidak mudah terbakar, tetapi sangat mahal. H2
mudah terbakar, sehingga harus berhati-hati dalam pemakaiannya. Kadang-kadang digunakan
juga CO2.
Pemilihan gas pengangkut atau pembawa ditentukan oleh detektor yang digunakan.
Tabung gas pembawa dilengkapi dengan pengatur tekanan keluaran dan pengukur tekanan.
Sebelum masuk ke kromatografi, (harusnya) ada pengukur kecepatan aliran gas serta sistem
penapis molekuler untuk memisahkan air dan pengotor gas lainnya. Pada dasarnya kecepatan
alir gas diatur melalui pengatur tekanan dua tingkat yaitu pengatur kasar (coarse) pada tabung
gas dan pengatur halus (fine) pada kromatograf. Tekanan gas masuk ke kromatograf (yaitu
tekanan dari tabung gas) diatur pada 10 s.d 50 psi (di atas tekanan ruangan) untuk
memungkinkan aliran gas 25 s.d 150 mL/menit pada kolom terpaket dan 1 s.d 25 mL/menit
untuk kolom kapiler.
Makalah Analisis Instrument PKT-59

Laju alir gas pembawa mempengaruhi resolusi. Laju alir yang minimum diperlukan untuk
resolusi maksimum. Namun, perlu diketahui bahwa pada laju alir yang sangat lambat
resolusinya secara dramatis menurun oleh karena faktor-faktor: packing tidak teratur, ukuran
partikel, diameter kolom, dan lain-lain.
Laju alir harus dikontrol dengan tepat. Tekanan dari silinder gas bertekanan pada gas
pembawa harus cukup untuk mendorong gas melewati kolom packing. Flow controller atau
needle valve harus ada pada sistem GC dan sering disatukan dalam bagian depan instrumen.
Laju alir harus dapat diatur secara hati-hati sehingga dapat diketahui berapa laju alir
optimumnya dan harus dapat disamakan dalam percobaan berikutnya. Berbagai flow meter
tersedia, dan kadang-kadang oleh pabrik pembuat instrumen disatukan di dalam instrumen
sehingga laju alir terpantau secara kontinyu dan dapat diatur lagi (bila perlu) dengan memutar
needle valve. Bila tidak ada flow meter maka flow meter gelembung sabun sering digunakan,
flow meter gelembung sabun tersusun dari pipet ukur (measuring pipet), tabung gelas (glass
tubing), dan pipet bulb. Dengan perangkat flow meter gelembung sabun, stop watch digunakan
untuk mengukur waktu pada gelembung yang bergerak di antara dua tanda garis, misalnya 02
ml. Dengan demikian laju alir gas pembawa (ml/menit) dapat dihitung.
2

Tempat Injeksi
Dalam pemisahan dengan GLC cuplikan harus dalam bentuk fase uap. Gas dan uap
dapatdimasukkan secara langsung. Tetapi kebanyakan senyawa organik berbentuk cairan dan
padatan. Hingga dengan demikian senyawa yang berbentuk cairan dan padatan pertama-tama
harus diuapkan. Ini membutuhkan pemanasan sebelum masuk dalam kolom. Panas itu terdapat
pada tempat injeksi seperti pada gambar 9. bagan injektor.
Tempat injeksi dari alat GLC selalu dipanaskan. Dalam kebanyakan alat, suhu dari tempat
injeksi dapat diatur. Aturan pertama untuk pengaturan suhu ini adalah bahwa suhu tempat
injeksi sekitar 50C lebih tinggi dari titik didih campuran dari cuplikan yang mempunyai titik
didih yang paling tinggi. Bila kita tidak mengetahui titik didih komponen dari cuplikan maka
kita harus mencoba-coba. Sebagai tindak lanjut suhu dari tempat injeksi dinaikkan. Jika
puncak-puncak yang diperoleh lebih baik, ini berarti bahwa suhu percobaan pertama terlalu
rendah. Namun demikian suhu tempat injeksi tidak boleh terlalu tinggi, sebab kemungkinan
akan terjadi perubahan karena panas atau penguraian dari senyawa yang akan dianalisa.

Cuplikan dimasukkan ke dalam kolom dengan cara menginjeksikan melalui tempat


injeksi.Hal ini dapat dilakukan dengan pertolongan jarum injeksi yang sering disebut "a gas
tight syringe".

Makalah Analisis Instrument PKT-59

Perlu diperhatikan bahwa kita tidak boleh menginjeksikan cuplikan terlalu banyak, karena
GC sangat sensitif. Biasanya jumlah cuplikan yang diinjeksikan pada waktu kita mengadakan
analisa 0,5 -50 ml gas dan 0,2 - 20 ml untuk cairan.
Ketepatan volum injeksi menjadi sangat penting untuk analisa kuantitatif di mana jumlah
analit yang diukur oleh detektor tergantung pada konsentrasi analit dalam cuplikan. Apabila
prosedur dikehendaki hanya untuk identifikasi (analisis kualitatif), maka ketepatan volum
injeksi menjadi kurang penting.
Untuk mengisi alat injeksi dapat dipakai teknik sebagai berikut:
- Alat injeksi dibersihkan.
- Alat injeksi dikuras dengan menghisap cuplikan beberapa kali (dan mengeluarkan isinya di
luar tempat cuplikan).
- Jumlah cuplikan yang diperlukan dihisap. Cara untuk mengeluarkan gelembung-gelembung
udara yang masih tertinggal pada tabung injeksi adalah dengan jalan menekan torak injeksi
secepatnya beberapa kali dan ujung jarum harus selalu berada di dalam cairan.
- Udara 1/10 dari volum maksimum dihisap lagi.
- Jarum bagian luar dibersihkan dengan kain yang tidak mudah lepas serat- seratnya.
- Cuplikan diinjeksikan dengan menusukkan jarum menembus septum, dan menekan
penghisap sampai ujungnya dengan gerakan yang cepat dan tidak terputus-putus, kemudian
tarik jarum keluar dari septum.
- Torak injeksi ditarik kembali sedikit dan lihat berapa banyak cairan yang masih tertinggal.
- Diameter kolom yang digunakan tetap diperhatikan dalam melakukan pemisahan agar sesuai
dengan batasan volum penyuntikan. Tabel berikut memperlihatkan hal itu.
Tabel : Batasan Volum Penyuntikan
Volum Injeksi
Diameter Kolom

Maksimum

in. (packed column)

100 l

1/8 in. (packed column)

20 l

Kapiler (open tubular)

0,1 l

Makalah Analisis Instrument PKT-59

Kolom
Kolom merupakan jantung dari kromatografi gas. Bentuk dari kolom dapat lurus,
bengkok, misal berbentuk V atau W, dan kumparan/spiral. Biasanya bentuk dari kolom adalah
kumparan. Kolom ini dapat terbuat dari :
a

Tembaga (murah dan mudah diperoleh)

Plastik (teflon), dipakai pada suhu yang tidak terlalu tinggi.

Baja (stainless steel), (mahal)

Alumunium

Gelas

Panjang kolom dapat dari 1 m sampai 3 m. Diameter kolom mempunyai berbagai


ukuran, biasanya pengukuran berdasarkan diameter dalam dari kolom gelas yaitu antara 0,3
mm hingga 5 min. Kebanyakan kolom yang digunakan berupa stainles steel dengan diameter
luar (OD) dari I/S atau 1/4 inch (0,3 atau 0,6 cm). Pada GSC kolom diisi dengan penyerap
(adsorbent), sedangkan pada GLC kolom diisi dengan "solid support" (padatan pendukung)
yang diikat oleh fase diam.
Instrumen GC didisain supaya kolom dapat diganti secara mudah dengan melepaskan
fitting di dalam oven. Fitting ini tidak hanya memudahkan penggantian fasa diam yang
berbeda, tetapi juga mengijinkan operator mengganti kolom yang lebih panjang yang berisi
fasa diam yang sama. Ide penggantian kolom yang lebih panjang adalah memberikan
kesempatan kontak lebih lama antara campuran komponen dengan fasa diam yang pada
gilirannya memperbaiki pemisahan.
Interaksi campuran komponen dengan cairan fasa diam memainkan peran kunci dalam
proses pemisahan sehingga sifat-sifat fasa diam menjadi penting. Berbagai jenis kolom
biasanya menyebutkan nama komersialnya, komposisi, dan klasifikasi senyawa untuk
penggunaannya (kaitannya dengan polaritas).
Ada 2 jenis kolom yang digunakan dalam kromatografi gas secara umum, yaitu kolom
jejal (packed columns) dan kolom tubuler terbuka (open tubular columns). Kolom jejal
(packed columns) adalah kolom metal atau gelas yang diisi bahan pengepak terdiri dari
penunjang padatan yang dilapisi fase cair yang tidak menguap (untuk kromatografi gaspadatan). Kolom tubuler terbuka sangat berbeda dengan kolom jejal, yaitu gas yang mengalir
sepanjang kolom tidak mengalami hambatan, karena kolomnya merupakan tabung tanpa bahan
pengisi.
Kolom jejal umumnya mempunyai panjang yang berkisar antara 0,7 sampai 2 meter,
sedangkan kolom tubuler terbuka dapat mempunyai panjang dari 30 sampai 300 meter. Kolom
yang panjang ini biasanya dibuat dalam bentuk melilit bergulung seperti spiral. Kemampuan
memisahkan komponen per meter kolom pada kolom tubuler terbuka tidak jauh berbeda
dengan pemisahan pada kolom jejal. Meskipun demikian, penggunaan kolom yang sangat
panjang bersama-sama dengan waktu analisis yang relatif cepat merupakan alat penolong yang
berharga bagi para ahli kimia untuk dapat memisahkan komponen-komponen yang
perbedaannya kecil didalam sifat-sifat fisiknya.

Makalah Analisis Instrument PKT-59

Ada 2 jenis kolom tubuler terbuka, yaitu WCOT (Wall Coated Open Tubular Columns)
dan SCOT (Support Coated Open Tubular Columns).

Detektor
Detektor berfungsi sebagai pendeteksi komponen-komponen yang telah dipisahkan dari

kolom secara terus-menerus, cepat, akurat, dan dapat melakukan pada suhu yang lebih tinggi.
Detektor harus dapat dipercaya dan mudah digunakan. Fungsi umumnya mengubah sifat-sifat
molekul dari senyawa organik menjadi arus listrik kemudian arus listrik tersebut diteruskan ke
rekorder untuk menghasilkan kromatogram. Detektor yang diinginkan adalah detektor yang
mempunyai sensitifitas yang tinggi, noisenya rendah, responnya linear, dapat memberikan
respon dengan setiap senyawa, tidak sensitif terhadap perubahan temperatur dan kecepatan
aliran dan juga tidak mahal harganya.
Detektor dalam GC digunakan untuk memunculkan sinyal listrik hasil elusi gas pembawa
dari kolom. Berbagai jenis detektor dibuat untuk melakukan deteksi. Tidak hanya berupa
variasi disain, tapi juga variasi sensitivitas dan selektivitas. Sensitivitas mengacu pada
kuantitas terkecil komponen campuran di mana sensitivitas menghasilkan sinyal yang masih
teramati. Sementara, selektivitas mengacu pada jenis senyawa di mana sinyalnya dapat
dimunculkan.

Makalah Analisis Instrument PKT-59

Detektor yang umum digunakan:

Detektor hantaran panas (Thermal Conductivity Detector/TCD)

Prinsip kerja TCD :


Berdasarkan perbedaan daya hantar panas, relatif terhadap gas pembawa. Filament
dipanaskan, dimana suhu filament tergantung pada konduktivitas panas gas di sekelilingnya.
Konduktivitas panas efluen kolom lebih rendah (karena adanya sampel). Adanya sampel
melewati kolom menyebabkan jembatan Wheatstone tak seimbang sehingga terjadi signal.
TCD berdasar atas prinsip, suatu benda yang panas akan kehilangan panasnya pada suatu
kecepatan yang tergantung kepada komposisi gas di sekitarnya. Jadi, kecepatan hilangnya
panas itu dapat digunakan sebagai ukuran tentang komposisi gas. Gas pembawa yang
mengandung sample atau analit masuk ke dalam kolom, maka konduktivitas gas akan turun
dan suhu filamen akan meningkat serta resistansi. Lewatnya sampel melalui kolom
menyebabkan Jembatan Wheatstone yang tak seimbang sehingga terjadi signal yang terbaca
pada detektor.

Detektor ionisasi nyala (Flame Ionization Detector_ FID)


Prinsip kerja detector FID :
Senyawa yang terbawa fasa gerak diionisasi dengan nyala (H2 + O2 / udara). Perubahan
arus akibat ionisasi diukur sebagai respon analit. Tidak senstif terhadap karbon yang
teroksidasi penuh. FID merupakan detektor yang paling luas penggunaannya, bahkan dianggap
sebagai detektor yang universal untuk analisis obat dalam cairan biologis menggunakan GLC.
Pada detector ini, komponen-komponen sampel yang keluar dari kolom dibakar dalam nyala
(campuran gas hidrogen dan udara atau oksigen). Sejumlah besar ion yang terbentuk dalam
nyala masuk ke dalam celah elektrode dan menurunkan tegangan listrik dari celah elektrode
mula-mula. Penurunan tegangan ini yang kemudian dicatat sebagai sinyal oleh rekorder.
Intensitas sinyal ini berbanding lurus dengan konsentrasi solute dalam gas pembawa.

Detektor penangkap elektron (Electron Capture Detector _ECD)

Makalah Analisis Instrument PKT-59

Prinsip kerja detector ECD :


Mekanisme deteksi melibatkan emisi partikel radioaktif () dari 63Ni. Partikel
menghasilkan elektron termal dari gas pembawa. Berdasarkan penangkapan elektron termal
oleh molekul sampel. Pada ECD terdapat pemancar radioaktif , seperti 3H atau 63Ni yang
akan mengionisasi gas pembawa. Aliran elektron sebagai hasil ionisasi gas pembawa (nitrogen
atau argon/methan) dalam ECD memberikan sinyal yang berupa baseline suatu kromatogram.
Bila kemudian suatu senyawa masuk ke dalam detektor, sebagian dari elektron tersebut akan
ditangkap oleh senyawa sebelum mereka mencapai plat detektor. Ini mengakibatkan aliran arus
listrik dalam detektor berkurang, yang oleh rekorder akan dicatat sebagai suatu peak.

Detektor fotometrik nyala (Falame Photomertic Detector _FPD)

Detektor nyala alkali

Detektor spektroskopi massa

Detektor yang peka terhadap senyawa organik yang mengandung fosfor adalah FID, ECD,
dan FPD. Detektor penangkap elektron (Electron Capture Detector ECD). Pada penetapan
ini, digunakan detektor penangkap elektron. Detektor ini merupakan modifikasi dari FID yaitu
pada bagian tabung ionisasi. Dasar dari ECD ialah terjadinya absorbsi e- oleh senyawa yang
mempunyai afinitas terhadap e- bebas (senyawa-senyawa elektronegatif). Dalam detektor gas
terionisasi oleh partikel yang dihasilkan dari 3H atau 63Ni. Detektor ini mengukur kehilangan
sinyal ketika analit terelusi dari kolom kromatografi. Detektor ini peka terhadap senyawa
halogen, karbonil terkoyugasi, nitril, nitro, dan organo logam, namun tidak peka terhadap
hidrokarbon, ketone, dan alkohol.
Tabel : Beberapa jenis detektor GC
Detectable compounds

Minimum detectable

(Selektivitas)

amount (Sensitivitas)

Jenis Detector

Thermal

Conductivity

All compounds other than the

10 ppm

Detector (TCD)

carrier gas

(10 ng)

Flame Ionization Detector

Organic compounds

Ppm

(FID)

(0.1 ng)

Electron Capture Detector

Organic halogen compounds

Ppb

(ECD)

Organic metal compounds

(0.1 pg)

Organic nitrogen compounds

1ppb (1 pg)

Flame

Thermionic

Makalah Analisis Instrument PKT-59

Detector (FTD)

Organic

phosphorous

0.1 ppb (0.1 pg)

organic sulfur

10 ppb

compounds

Flame

Photometric

Detector (FPD)

Inorganic,
compounds

(10 pg)

Inorganic,

organic

phosphorous compounds

Surface
Detector (SID)

Ionization

Level 3 amine compounds

ppb (0.1 pg)

Polycyclic aromatics

1 ppb (1 pg)

Recorder (pencatat)
Recorder berfungsi sebagai pengubah sinyal dari detektor yang diperkuat melalui
elektrometer menjadi bentuk kromatogram. Dari kromatogram yang diperoleh dapat dilakukan
analisis kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif dengan cara membandingkan waktu retensi
sampel dengan standar. Analisis kuantitatif dengan menghitung luas area data. Sebuah rekorder
bekerja dengan menggerakkan kertas dengan kecepatan tertentu. di atas kertas tersebut
dipasangkan pena yang digerakkan oleh sinyal keluaran detektor sehingga posisinya akan
berubah-ubah sesuai dengan dinamika keluaran penguat sinyal detektor. Hasil rekorder adalah
sebuah kromatogram berbentuk pik-pik dengan pola yang sesuai dengan kondisi sampel dan
jenis detektor yang digunakan.
Rekorder biasanya dihubungkan dengan sebuah elektrometer yang dihubungkan dengan
sirkuit pengintregrasi yang bekerja dengan menghitung jumlah muatan atau jumlah energi
listrik yang dihasilkan oleh detektor. Elektrometer akan melengkapi pik-pik kromatogram
dengan data luas pik atau tinggi pik lengkap dengan biasnya.
Sistem data merupakan pengembangan lebih lanjut dari rekorder dan elektrometer dengan
melanjutkan sinyal dari rekorder dan elektrometer ke sebuah unit pengolah pusat
(CPU,Cent
ral
Procesing
Unit).

Makalah Analisis Instrument PKT-59

JENIS SAMPEL
Gas-liquid chromatography (GLC), atau sering disebut Gas Chromatography (GC) saja,
merupakan tipe umum kromatografi yang digunakan dalam kimia organik untuk memisahkan dan
menganalisa komponen yang bisa diuapkan (vaporised) tanpa terdekomposisi. GC dapat digunakan
untuk menentukan bahan non-halal dalam pangan serta untuk menganalisa toksik (zat racun) yang
dianggap sebagai bahan bukan-Toyyib.
Agar bisa sesuai untuk analisa GC, sebuah komponen harus cukup volatil dan stabil terhadap
panas. Jika semua atau sebagian molekul komponen berada pada fase gas pada 400-450 oC atau di
bawahnya, dan semuanya tidak terurai pada suhu tersebut, GC mungkin bisa dipakai untuk
menganalisa. Derivatisasi lipid dan asam lemak menjadi FAME, atau derivatisasi protein dengan
hidrolisis asam yang diikuti dengan esterifikasi (N-propyl esters) atau derivatisasi karbohidrat dengan
silytasi (silytation) untuk menghasilkan sampel volatil yang cocok untuk analisa GC.
GC biasa digunakan untuk menganalisa komposisi asam lemak. Lemak babi (lard) berbeda
dengan lemak sapi di dalam asam-asam lemak C20:0, C16:1, C18:3, dan C20:1, dan dengan ayam di
dalam asam-asam lemak C12:0, C18:3, C20:0, dan C20:1. Lemak babi dan ayam berbeda nyata dalam
hal komposisi disaturated dan triunsaturated triacylglycerols (TAGs). GC juga pernah digunakan
untuk melihat kontaminasi minyak sawit dengan enzymatically-randomized lard (ERLD).
METODE PREPARASI SAMPEL
DERIVATISASI
Derivatisasi merupakan proses kimiawi untuk mengubah suatu senyawa menjadi senyawa lain
yang mempunyai sifat-sifat yang sesuai untuk dilakukan analisis menggunakan kromatografi gas
(menjadi lebih mudah menguap). Alasan dilakukannya derivatisasi:

Senyawa-senyawa tersebut tidak memungkinkan dilakukan analisis dengan GC terkait dengan


volatilitas dan stabilitasnya.

Untuk meningkatkan batas deteksi dan bentuk kromatogram. Beberapa senyawa tidak
menghasilkan bentuk kromatogram yang bagus (misal puncak kromatogram saling tumpang
tindih) atau sampel yang dituju tidak terdeteksi, karenanya diperlukan derivatisasi sebelum
dilakukan analisis dengan GC.

Meningkatkan volatilitas, misal senyawa gula. Tujuan utama derivatisasi adalah untuk
meningkatkan volatilitas senyawa-senyawa yang tidak mudah menguap (non-volatil).
Senyawa-senyawa dengan berat molekul rendah biasanya tidak mudah menguap karena
adanya gaya tarik-menarik inter molekuler antara gugus-gusug polar karenanya jika gugusgugus polar ini ditutup dengan cara derivatisasi akan mampu meningkatkan volatilitas
senyawa tersebut secara dramatis.

Meningkatkan deteksi, misal untuk kolesterol dan senyawa-senyawa steroid.

Meningkatkan stabilitas. Beberapa senyawa volatil mengalami dekomposisi parsial karena


panas sehingga diperlukan derivatisasi untuk meningkatkan stabilitasnya.

Meningkatkan batas deteksi pada penggunaan detektor tangkap elektron (ECD).

Inilah contoh derivatisasi yang digunakan untuk memperbaiki bentuk puncak pseudoefedrin:
Caranya:
Sirup dekongestan dibasakan dengan amonia dan diekstraksi ke dalam etil asetat sehingga akan
menjamin bahwa semua komponen yang terekstraksi berada dalam bentuk basa bebasnya daripada
bentuk garamnya. Bentuk basa inilah yang bertanggungjawab pada bagusnya bentuk puncak

kromatografi. Garam-garam atau basa-basa akan terurai karena adanya panas pada lubang suntik GC,
sehingga dengan adanya proses ini akan dapat menyebabkan terjadinya peruraian.

Jika ekstrak pada sirup dekongestan di lakukan kromatografi gas secara langsung maka
kromatogram yang dihasilkan seperti gambar dibawah. Basa bebas triprolidin dan dekstrometorfan
menunjukkan bentuk puncak yang bagus, akan tetapi pesudoefedrin yang merupakan basa yang lebih
kuat karena adanya gugus hidroksil dan gugus amin memberikan bentuk puncak yang kurang bagus.
Hal ini dapat diatasi dengan menutup gugus polar (gugus hidroksi dan amin) pada pseudoefedrin
dengan cara mereaksikannya menggunakan trifluoroasetat anhidrida (TFA). Perlakuan dengan TFA ini
tidak menghasilkan senyawa derivatif terhadap senyawa-senyawa basa tersier dalam ekstrak (sirup
dekongestan) ini. Reagen TFA ini sangat bermanfaat karena reagen ini sangat reaktif dan bertitik didih
rendah (400C) sehingga kelebihan reagen TFA ini mudah dihilangkan dengan cara evaporasi sebelum
dilakukan
kromatografi
gas.
Berikut ini merupakan kromatogram sebelum dilakukan derivatisasi :

Sementara ini merupakan kromatogram sesudah dilakukan derivatisasi :

METODE ANALISIS
Bila volum atau konsentrasi dari masing-masing komponen yang terpisah sudah tertentu, hal itu
disebut penentuan volumetrik (volumetric determination). GC didasarkan pada prinsip bahwa
komponen target yang terdeteksi adalah murni karena sudah dipisahkan dari komponen-komponen
lain dalam cuplikan. Bila pemisahan ini betul-betul sempurna, volumnya (konsentrasinya) dapat
ditentukan dengan tingkat keakuratan yang sangat tinggi.
Berikut 4 pokok metoda analisis (penentuan volumetrik) yang digunakan dalam GC:
1

Metoda persentase luas permukaan (surface area percentage method)

Metoda pengaturan persentase luas permukaan (adjusted surface area percentage method)

Metoda kurva kalibrasi absolut (absolute calibration curve method)

Metoda internal standard (internal standard method)

Keuntungan dan kekurangan masing-masing metoda di atas dan pemilihan metodanya


menjadi penting dalam mempertimbangkan analisis yang ingin dihasilkan.

Kelebihan
1

Waktu analisis yang singkat dan ketajaman pemisahan yang tinggi.

Dapat menggunakan kolom lebih panjang untuk menghasilkan efisiensi pemisahan yang
tinggi.

Gas mempunyai vikositas yang rendah .

Kesetimbangan partisi antara gas dan cairan berlangsung cepat sehingga analisis relatif cepat
dan sensitifitasnya tinggi.

Pemakaian fase cair memungkinkan kita memilih dari sejumlah fase diam yang sangat
beragam yang akan memisahkan hampir segala macam campuran.

Kekurangan
1

Teknik Kromatografi gas terbatas untuk zat yang mudah menguap.

Kromatografi gas tidak mudah dipakai untuk memisahkan campuran dalam jumlah besar.
Pemisahan pada tingkat [mg] mudah dilakukan, pemisahan pada tingkat [gram] mungkin
dilakukan, tetapi pemisahan dalam tingkat [pon] atau [ton] sukar dilakukan kecuali jika ada
metode lain.

Fase gas dibandingkan sebagian besar fase cair tidak bersifat reaktif terhadap fase diam dan
zat terlarut.

METODE PENGOLAHAN DATA HASIL ANALISIS


Analisis kuantitatif
Dengan asumsi bahwa luas puncak berbanding lurus dengan kadar senyawa pada kondisi
elusi yang sama, maka kadar sample dapat dihitung sama dengan luas puncak sample dibagi luas
puncak senyawa pembanding kali kadar senyawa pembanding. Cara demikian tentunya menanggung
banyak ralat, oleh karena itu akan lebih baik bila dibuat kurva baku luas puncak versus kadar senyawa
pembanding. Kemudian dibuat persamaan garis lurus dan dibuat kurva regresinya. Namun untuk
memperkecil kesalahan pengukuran volume sample yang diinjeksikan maka untuk analisis kuantitatif
dikenal penggunaan standar eksternal , standar internal dan metode penambahan. Selain untuk
keperluan identifikasi kromatografi gas juga digunakan untuk melihat kemurnian suatu bahan. Bila
sample selalu memberikan puncak tunggal pada kondisi yang berbeda (kolom, fase gerak, dll) maka
bahan tersebut adalah murni. Standar eksternal Yang dimaksud dengan standar eksternal adalah
menambahkan senyawa yang sifat fisikanya mirip dengan senyawa yang dianalisis (molekul yang
dianalisis), senyawa ini harus netral, tidak bereaksi dengan molekul sample, mempunyai IR yang
tidak jauh berbeda dengan tR sample. Standar eksternal ini ditambahkan dengan jumlah terukur pada
pembuatan kurva baku dan juga pada sample (untuk kontrol volume sample yang diinjeksikan).
Selanjutnya dibuat kurva luas puncak senyawa pembanding dibagi luas puncak standar eksternal
versus kadar senyawa pembanding. Maka kadar sample dapat dihitung dengan memplotkan luas

puncak sample dibagi luas standar internal pada ordinat dan bila ditarik garis sejajar absis memotong
garis regresi, selanjutnya ditarik garis sejajar ordinat maka akan memotong absis, pada titik potong
dengan absis inilah diketahui kadar sample.

Standar internal Syarat sebagai standar internal sama dengan syarat senyawa untuk dapat
dipakai sebagai standar eksternal. Cara kerja penetapan kadar menggunakan Standar internal adalah
sebagai berikut: Misalnya menambahkan standar internal (A) sebanyak 0,3786 gram kepada sample
(C) berat 0,5291 gram, campuran ini dilarutkan dalam pelarut yang sesuai hingga volume tertentu.
Kemudian 1 |il diinjeksikan dan dicatat luas puncak A dan C. Pada prinsipnya pada penetapan ini
adalah membandingkan dua senyawa berbeda. Satu diantaranya adalah diketahui beratnya. Respon
detektor akan berbeda untuk senyawa berbeda, jelasnya a gram senyawa A dan a gram senyawa B
tidak memberikan luas puncak yang sama. Oleh karena itu perlu adanya faktor koreksi. Perhitungan
faktor koreksi dapat dilihat pada Tabel berikut.
Senyawa

Berat

0,3786

Perbandinga
n Berat C/A

Luas Puncak

Berat C =

Perbandingan
Luas

1,345

0,962

4231
1,398

Perbandinga
n Luas
Puncak C/A

0,5291

Luas Puncak C x Berat A


Luas Puncak A x Faktor Koreksi

5671

5671 x 0,3786
4231 x 0,962

= 0,5275

Kadar C = 0,5275/0,5291 x 100% = 99,69 %


Metoda Penambahan (Addition method)
Metoda penambahan adalah menambahkan senyawa murni yang dianalisis itu sendiri dengan
jumlah terukur ke dalam sample. Supaya lebih jelas diambil contoh kongkrit pada penetapan metil
salisilat dalam minyak gosok. Diperlukan isopropanol digunakan sebagai pelarut. Langkah-langkah
adalah sebagai berikut:
1 Kedalam 3 (tiga) labu takar 10,0 ml dimasukkan masing-masing 5,0 ml minyak gosok (sample).
2

Ke dalam 2 (Dua) labu takar yang berisi sample ditambahkan metil salisilat murni (standar)
masing-masing 0,3 ml dan 0,6 ml.

Ke tiga labu ( berisi: sample, sample + 0,3ml metilsalisilat murni dan sample + 0,6 ml
metilsalisilat murni) diencerkan dengan isopropanol hingga tanda.

Dari ke tiga labu takar ini diinjeksikan masing-masing 11.

Selanjutnya dihitung kadar metil salisilat dalam sample dengan rumus dibawah ini. Dua kali
pengukuran, kadar dihitung rata-rata.

Cx =

hx .Cs
hx+ shx

Keterangan :
Cx = kadar (%vol sample)
Cs = % volume standar yang ditambahkan
hx = luas puncak sample
hx+s = luas puncak (sample + standar yang ditambahkan.

GC-MS
PENDAHULUAN
Gas Chromatography dan Gas Chromatography-Mass Spectrofotometric adalah dua alat yang
memliki detector yang berbeda, meskipun namanya berawalan Gas Chromatography. Detektor
yang berfungsi untuk mengubah sinyal-sinyal radiasi menjadi energy listrik yang kemudian dapat
dibaca oleh alat.
Untuk GC, menggunakan detektor Thermal Conductivity Detector (TCD) , TCD bekerja
dengan cara membandingkan konduktivitas panas dua aliran gas gas pembawa murni (rujukan) dan
sampel. Perubahan suhu pada kabel yang dipanaskan oleh listrik di dalam detektor dipengaruhi oleh
konduktivitas panas gas yang mengalir di sekelilingnya. Perubahan dalam konduktivitas panas ini
dideteksi sebagai perubahan resistansi listrik dan diukur. Yang hasil datanya berupa data kuantitatif.
Dan juga ada yang menggunakan detektor Flame Ionization Detector FID. FID biasanya
menggunakan api Hidrogen/Udara yang dilewati sampel untuk mengoksidasi molekul organik dan
menghasilkan partikel bermuatan listrik (ion). Ion dikumpulkan dan menghasilkan sinyal listrik yang
kemudian diukur. Yang hasilnya berupa data yang kuantitatif.
Sedangkan untuk alat GC-MS, menggunakan detektor berupa MS atau berkepanjangan Mass
Spectrometry. GC MS yang bekerja dengan menggabungkan 2 metode dari 2 alat. Yaitu, GC yang
secara umumnya berfungsi untuk memisahkan suatu senyawa dengan bantuan gas nitrogen, hidrogen,
dll. Sedangkan GC-MS kerjanya sama dengan GC, tetapi alat tersebut dilengkapi dengan pencacah
fragmen sehingga kita dapat mengetahui pemecahan ion fragmen senyawa dan dapat mengetahui
Berat Molekul senyawa yang di analisis. Misalnya H2O yang memiliki Berat Molekul = 18.Maka hasil
datanya adalah data kualitatif.

PRINSIP
GC-MS terdiri dari dua bagian yaitu gas chromatography (GC) dan mass spectrometry (MS)
yang masing-masing mempunyai fungsi berbeda. GC berfungsi untuk memisahkan senyawa-senyawa
dalam sampel. Pemisahan terjadi pada bagian kolom. Prinsip pemisahan berdasarkan perbedaan
tingkat volatilitas dari senyawa dan juga berdasarkan interaksi dengan fase diam (stationary phase).
Pada kolom diberlakukan gradien suhu danholding untuk mengoptimalkan proses pemisahan senyawa
tersebut.
Senyawa-senyawa yang sudah terpisah pada kolom GC, akan memasuki MS. MS terdiri dari
tiga bagian yaitu sumber ion, mass analyzer dan detektor. Senyawa yang masuk ke MS akan
mengalami ionisasi dan fragmentasi menjadi ion-ion fragmen. Ionisasi terjadi karena adanya elektron
yang berasal dari sumber ion.
Ion-ion fragmen akan memasuki mass analyzer dan akan dipisahkan berdasarkan nilai m/znya. Ion fragmen yang mempunyai nilai m/z kecil akan memasuki detektor lebih cepat dibandingkan
ion fragmen yang mempunyai nilai m/z besar. Output dari detektor berupa diagram hubungan antara
nilai m/z dengan intensitas relatif ion-ion fragmen dari suatu senyawa. Setiap senyawa mempunyai
pola m/z yang berbeda-beda, sehingga kita dapat mengidentifikasi suatu senyawa dengan
membandingkan dengan pola spektra yang ada pada library.
INSTRUMENTASI
1.
Gas Pengangkut
Gas pengangkut/ pemasok gas (carrier gas) ditempatkan dalam silinder bertekanan tinggi.
Biasanya tekanan dari silinder sebesar 150 atm. Tetapi tekanan ini sangat besar untuk digunakan
secara Iansung. Gas pengangkut harus memenuhi persyaratan :
a. Harus inert, tidak bereaksi dengan cuplikan, cuplikan-pelarut, dan material dalam
kolom.
b. Murni dan mudah diperoleh, serta murah.
c. Sesuai/cocok untuk detektor.
d. Harus mengurangi difusi gas.
Gas-gas yang sering dipakai adalah : helium, argon, nitrogen, karbon dioksida dan hidrogen.
Gas helium dan argon sangat baik, tidak mudah terbakar, tetapi sangat mahal. H 2 mudah terbakar,
sehingga harus berhati-hati dalam pemakaiannya. Kadang-kadang digunakan juga CO 2.
Pemilihan gas pengangkut atau pembawa ditentukan oleh ditektor yang digunakan. Tabung
gas pembawa dilengkapi dengan pengatur tekanan keluaran dan pengukur tekanan. Sebelum masuk ke
kromatografi, ada pengukur kecepatan aliran gas serta sistem penapis molekuler untuk memisahkan
air dan pengotor gas lainnya. Pada dasarnya kecepatan alir gas diatur melalui pengatur tekanan dua
tingkat yaitu pengatur kasar (coarse) pada tabung gas dan pengatur halus (fine) pada kromatografi.
Tekanan gas masuk ke kromatograf (yaitu tekanan dari tabung gas) diatur pada 10-50 psi (di atas
tekanan ruangan) untuk memungkinkan aliran gas 25-150 mL/menit pada kolom terpaket dan 1-25
mL/menit untuk kolom kapiler.
2.

Tempat injeksi ( injection port)

Dalam kromatografi gas cuplikan harus dalam bentuk fase uap. Gas dan uap dapat
dimasukkan secara langsung. Tetapi kebanyakan senyawa organik berbentuk cairan dan padatan.
Hingga dengan demikian senyawa yang berbentuk cairan dan padatan pertama-tama harus diuapkan.
Ini membutuhkan pemanasan sebelum masuk dalam kolom.
Tempat injeksi dari alat GLC/KGC selalu dipanaskan. Dalam kebanyakan alat, suhu dari
tempat injeksi dapat diatur. Aturan pertama untuk pengaturan suhu ini adalah batiwa suhu tempat
injeksi sekitar 50C lebih tinggi dari titik didih campuran dari cuplikan yang mempunyai titik didih
yang paling tinggi. Bila kita tidak mengetahui titik didih komponen dari cuplikan maka kita harus
mencoba-coba. Sebagai tindak lanjut suhu dari tempat injeksi dinaikkan. Jika puncak-puncak yang
diperoleh lebih baik, ini berarti bahwa suhu percobaan pertama terlalu rendah. Namun demikian suhu
tempat injeksi tidak boleh terlalu tinggi, sebab kemungkinan akan terjadi perubahan karena panas atau
penguraian dari senyawa yang akan dianalisa.
Cuplikan dimasukkan ke dalam kolom dengan cara menginjeksikan melalui tempat injeksi.
Hal ini dapat dilakukan dengan pertolongan jarum injeksi yang sering disebut "a gas tight syringe".
Perlu diperhatikan bahwa kita tidak boleh menginjeksikan cuplikan terlalu banyak, karena GC
sangat sensitif. Biasanya jumlah cuplikan yang diinjeksikan pada waktu kita mengadakan analisa 0,5
-50 ml untuk gas dan 0,2 - 20 ml untuk cairan seperti pada gambar di bawah.

3.

Kolom
Coulom, ada dua jenis kolom yang digunakan dalam GC. Yang pertama adalahkolom kemas,
yaitu berupa tabung yang terbuat dari gelas atau steinstless berisi suatu padatan inert yang dikemas
secara rapi. Kolom ini memiliki ukuran panjang 1,5-10 m dan diameter 2,2-4 nm.
Yang kedua adalah kolom kapiler, yang biasanya terbuat dari silica dengan lapisan
poliamida. Kolom jenis ini biasanya memiliki ukuran panjang 20-26 m dengan diameter yang sangant
kecil.

4.

Detektor
Detektor berfungsi sebagai pendeteksi komponen-komponen yang telah dipisahkan dari
kolom secara terus-menerus, cepat, akurat, dan dapat melakukan pada suhu yang lebih tinggi. Fungsi
umumnya mengubah sifat-sifat molekul dari senyawa organik menjadi arus listrik kemudian arus
listrik tersebut diteruskan ke rekorder untuk menghasilkan kromatogram. Detektor yang umum
digunakan:
a.
Detektor hantaran panas (Thermal Conductivity Detector_ TCD)
b.
Detektor ionisasi nyala (Flame Ionization Detector_ FID)
c.
Detektor penangkap elektron (Electron Capture Detector _ECD)
d.
Detektor fotometrik nyala (Falame Photomertic Detector _FPD)
e.
Detektor nyala alkali
f.
Detektor spektroskopi massa
Detector, yang paling umum digunakan dalam GC adalah detector ionisasi nyala (FID) dan
detector kondutivitas termal (TCD). Kedunya peka terhadap berbagai komponen dan dapat berfungsi
pada berbagai konsentrasi. Sementara TCD pada dasarnya universal dan dapat digunakan untuk
mendeteksi setiap komponen selain gas pembawa (selama konduktivitas mereka berbeda dari gas
pembawa, suhu detektor),dalam jumlah besar sensitif terutama untuk hidrokarbon. Sedangkan FID
tidak dapat mendeteksi air. TCD adalah detector non-destruktif, sedangkan FID adalah detector
destruktif. Biasanya detector ini akan dihubungkan dengan Spektrokopi Masa, sehingga akan menjadi
rangkaian alat GC-MS. Adapun salah satu bentuk dari FID adalah sebagai berikut :

5.

Oven kolom
Kolom terletak didalam sebuah oven dalam instrumen. Suhu oven harus diatur dan sedikit
dibawah titik didih sampel. Jika suhu diset terlalu tinggi, cairan fase diam bisa teruapkan, juga sedikit
sampel akan larut pada suhu tinggi dan bisa mengalir terlalu cepat dalam kolom sehingga menjadi
terpisah
.
6.

Recorder
Rekorder berfungsi sebagai pengubah sinyal dari detektor yang diperkuat melalui
elektrometer menjadi bentuk kromatogram. Dari kromatogram yang diperoleh dapat dilakukan
analisis kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif dengan cara membandingkan waktu retensi
sampel dengan standar. Analisis kuantitatif dengan menghitung luas area maupun tinggi dari
kromatogram. Sinyal analitik yang dihasilkan detektor disambungkan oleh rangkaian elektronik
agar bisa diolah oleh rekorder atau sistem data.
Sebuah rekorder bekerja dengan menggerakkan kertas dengan kecepatan tertentu. di atas
kertas tersebut dipasangkan pena yang digerakkan oleh sinyal keluaran detektor sehingga posisinya
akan berubah-ubah sesuai dengan dinamika keluaran penguat sinyal detektor. Hasil rekorder adalah
sebuah kromatogram berbentuk pik-pik dengan pola yang sesuai dengan kondisi sampel dan jenis
detektor yang digunakan.
Ada beberapa detektor yang dapat digunakan dalam kromatografi gas. Detektor yang berbeda
akan memberikan berbagai jenis selektivitas. Detektor non selektif merespon senyawa kecuali gas
pembawa, Detektor selektif meresponi berbagai senyawa dengan sifat fisik atau kimia umum dan
detektor khusus menanggapi suatu senyawa kimia tunggal. Detektor juga dapat dikelompokkan ke
dalam concentration dependant detectors and mass flow dependant detectors.
Sinyal dari concentration dependant detectors terkait dengan konsentrasi zat terlarut dalam
detektor, dan biasanya Pengenceran sampel akan menurunkan respon detektor. Mass flow dependant
detectors biasanya menghancurkan sampel, dan sinyal tersebut tergantung dengan laju di mana
molekul-molekul zat terlarut menuju ke detektor.

Instrumentasi Spektrofotometer Massa


Sistem instrumen spektrometer massa terbagi menjadi 5 bagian yaitu :
1.

Sistem penanganan cuplikan

Ini meliputi alat untuk memasukan cuplikan, mikromanometer untuk menentukan jumlah
cuplikan yang masuk, alat (lubang molekul) pengukur cuplikan yang masuk ruang pengionan serta
sistem pemompaan. Pemasukan gas biasanya mudah, pemindahan dari dari tabung ke alat meter lalu
ke ruang pengionan. Cairan dimasukan dengan menyentuh pipet mikro ke piringan gelas sintered
atau lubang tertentu terbuat dari air raksa atau galium atau dengan suntikan jarum hipodermis. Tabung
berisi cupikan dipompa dengan es kering (dry ice), lalu dihangatkan untuk menguapkan cuplikan ke
sistem masukan (inlet). Sistem masukan yang dipanaskan dipakai untuk cairan secara langsung ke
ruang pengionan mengurangi batasa yang disebabkan oleh keatsirian dan kemantapan termal.
Teknik pemasukan langsung ini mengurangi derajat keatsirian yang diperluakn untuk analisis.
Karena pengionan berlangsung dalam keadaan uap, memang masih diperlukan sedikit derajat
keatsirian dan kemantapan termal tertentu. Pola pemecahan molekul terulang dapat dicapai bagi
berbagai senyawa berbobot molekul tinggi seperti terpenoid, steroid, polisakarida, peptida, dan
alkaloid. Bahkan dengan teknik-teknik khusus ini, senyawa harus mantap pada suhu tatkala tekanan
uapnya pada sekitar harga 10-7 hingga 10-6 Torr. Untuk cairan dan padatan berkisar dari harga berapa
miligram hingga kurang daripada saru mikrogram, tergantung pada cara pemasukan serta detektornya.
2.

Ruang pengionan dan pemercepat

Aliran gas dari lubang molekul masuk ke dalam ruang pengionan (berkerja pada tekanan 10-6
hingga 10-5 Torr) dan disini ditembaki pada arah tegak lurus oleh berkas elektron dari suatu filamen
panas. Ion-ion positif yang terbentuk karena antaraksi berkas elektron itu terdorong lewat lubang (slit)
pemercepat oleh suatu medan elektrostatik lemah antara penolak (repeller) dan lubang pemercepat
pertama tadi. Kemudian suatu medan elektrostatik kuat antara lubang pemercepat pertama dan kedua
tadi makin mempercepat laju layangan ion-ion tersebut. Diantara lubang-lubang mempercepat tadi
juga dialakukan pumpun tambahan.
Untuk memperoleh spektrum, medan magnet pada tabung penganalisis atau tegangan
pemercepat antara lubang pertama dan kedua diubah-ubah. Dengan demikian ion-ion secara berurutan
dipumpun ke lubang pengumpul sebagai fungsi massa. Pada kebanyakan radas, sapuan dari massa 12
sampai massa 500 dapat dialkukan hanya dalam waktu 1 hingga 4 menit. Meskipun demikian, laju
sapuan sampai beberapa detik saja digunakan untuk memperoleh spektra fraksi-fraksi kromatografi
gas.
3.

Tabung penganalisis dan mengnet


Tabung logam yang dihampakan (10-7 hingga 10-8 Torr) berbentuk lengkung tempat
melayangnya berkas ion dari sumber ion ke pengumpul. Kutub-kutub magnet dipasang tegak lurus
bidang. Yang terpenting disini adalah terdapatnya medan magnet yang amat pengganda elektron.
4.

Pengumpul ion dan penguat

Pengumpul ion terdiri atas satu atau lebih lubang pengumpul (kolimasi) serta satu atau lebih
lubang pengumpul (kolimasi) serta suatu silinder Faraday, berkas ion menumbuk pengumpul dalam
arah tegak lurus, kemudian isyarat diperkuat oleh suatu pengganda elektron.
5.

Pencatat
Pencatat yang digunakan secara luas memakai lima buah galvanometer terpisah yang
mencatat serentak. Penentuan massa dari puncak-puncak catatan spektrum dapat menimbulkan
masalah pada ujung massa yang tertingi sapuannya. Yang biasa dilakukan ialah memulai seimakan
dari ujung massa yang rendah sapuannya, yang dapat ditepatkan letaknya secara teliti, lalu
menghitung puncak-puncak hingga puncak terakhir yang tercatat.
Hal ini acap kali dapat dilakukan dilakukan karena galvanometer yang paling peka akan
mencatat sedikit arus ion pada tiap satuan massa. Kadang-kadang puncak-puncak pada ujung setinggi
spektrum tampak melebar hingga tidak terbedakan dengan latar belakang, jika hal ini terjadi, senyawa
baku perlu ditambah ke dalam cuplikan. Beberapa radas dilengkapi dengan penanda massa otomatik
tetapi sering kurang terpercaya justru di daerah ujung tinggi spektrum yang sangat penting dan
diperlukan. Pen digit yang mencantumkan bilangan massa serta sekuat- kuat puncak nisbi di layar
merupakan peralatan tambahan yang amat berfaedah. Meskipun demikian dapat terjadi penyimpangan
yang menyebabkan berkurang dan berlebihnya satuan massa penuh dalam suatu sapuan hali ini tentu
mencek pendigit terhadap letak simpangan galvanometer
JENIS SAMPEL
Secara umum, penggunaan metode GCMS hanya terbatas untuk senyawa dengan tekanan uap
berkisar10 10 torr. Kebanyakan senyawa dengan tekanan lebih rendah hanya dapat dianalisis jika
senyawa tersebut merupakan senyawa turunan (contoh , trimetilsili eter). Penentuan penentuan gugus
fungsional pada cincin aromatic masih sulit. Untuk senyawa isomer tidak dapat dibedakan oleh
spketometer (sebagai contoh : naftalena vs azulena), tapi dapat dipisahkan dengan kromatograpi.
METODE PREPARASI SAMPEL
Keadaan sampel harus dalam keadaan larutan untuk diijeksikan ke dalam kromatografi.
Pelarut harus bersifat volatile dan organic (sebagai contoh heksana atau dikllorometana). Jumlah
sampel bergantung pada metode ionisasi yang dilakukan, biasanya yang sering digunakan untuk
analisis sensivitas adalah sebesar 1 100 pg per komponen.

METODE ANALISIS
GCMS digunakan untuk identifikasi kualitatif dan pengukuran kuantitatif dari komponen
individual dalam senyawa campuran kompleks. Terdapat perbedaan strategi analisis data untuk
aplikasi keduanya.
METODE PENGOLAHAN DATA HASIL ANALISIS
Derivatisasi dan Analisis Asam Amino dengan GC-MS
(Katherine K. Stenerson, Reporter US Volume 25,3)

Biasanya, kromatografi cair kinerja tinggi (HPLC) digunakan untuk analisis asam amino.
Namun, GC juga dapat digunakan, dan dalam beberapa kasus ketersediaan instrumentasi atau operasi
biaya dapat membuat pilihan yang lebih baik. Sifat polar asam amino memerlukan derivatisasi
sebelum analisis GC. Tujuan dari derivatisasi adalah untuk membuat suatu analit lebih tidak stabil,
kurang reaktif, dan dengan demikian meningkatkan perilaku kromatografi nya. Dalam kasus asam
amino, derivatisasi menggantikan hidrogen aktif di OH, NH2, dan kelompok-kelompok fungsional
polar SH dengan bagian nonpolar.
Sililasi adalah teknik derivatisasi yang sangat umum, dan berguna untuk berbagai senyawa.
Kerugian utama dari metode ini adalah kepekaan terhadap kelembaban. Kehadiran hasil kelembaban
dalam hasil reaksi yang buruk dan ketidakstabilan analit diderivatisasi. Untuk studi ini, kami
mengevaluasi penggunaan sililasi reagen N-tert-butyldimethylsilyl- N-methyltrifluoroacetamide
(MTBSTFA) untuk derivatisasi asam amino. MTBSTFA, membentuk tert-butyl dimethylsilyl
(TBDMS) derivatif ketika direaksikan dengan kelompok fungsional polar yang mengandung hidrogen
aktif:

Gambar 1. Struktur MTBSTFA


MTBSTFA derivatif yang lebih stabil dan kurang kelembaban sensitif daripada yang dibentuk
dengan menggunakan reagen berat molekul rendah seperti N, O-bis (trimetilsilil) trifluoroasetamida
(BSTFA) (1).

Eksperimental

Sebuah alikuot 50 uL larutan yang mengandung campuran asam L-amino pada 91 ug / mL di 0,1
N HCl dikeringkan, dan 100 uL rapi MTBSTFA, diikuti oleh 100 uL asetonitril, ditambahkan.
Campuran dipanaskan pada 100 C selama 4 jam. Sampel kemudian dinetralkan dengan natrium
bikarbonat dan sasaran analisis GC-MS pada nomor pembayar 20 m x 0,18 mm x 0,18 m SLB
-5ms kolom kapiler.

Hasil

Sebuah kromatogram derivatif TBDMS dari asam amino disajikan pada Gambar 2. Data spektral
diperoleh dari puncak membantu dalam identifikasi turunan asam amino. Penggantian dari hidrogen
aktif dengan kelompok TBDMS menambah 114 dengan berat molekul. Elektron dampak spektrum (2)
dari derivatif ini mengandung fragmen khas sesuai dengan berat molekul yang kurang CH3 derivatif
(M-15), C4H9 (M-57), C4H9 + CO (M-85), dan CO-O-TBDMS (M-159). Gambar 3 menunjukkan
contoh pola fragmentasi ini dalam spektrum TBDMS-valin.

Gambar 2. GC-MS Analisis Derivatif Asam Amino pada SLB-5ms (28564-U)

Gambar 3. Mass Spectrum dari TBDMS Derivatif dari valine (MW dari turunan = 345)
Pada kondisi reaksi yang digunakan, sebagian besar asam amino menghasilkan satu turunan,
dengan hidrogen aktif di hidroksil, amina, dan kelompok tiol (dalam kasus sistein) digantikan oleh
TBDMS. Beberapa asam amino yang dihasilkan beberapa derivatif, khususnya asparagin, glutamin,
dan triptofan. Dalam kasus asam amino, modifikasi dalam kondisi reaksi, seperti, menurunkan suhu
atau mengubah waktu reaksi, dapat mencegah hal ini (3) terjadi. Misalnya, meningkatkan waktu
reaksi dari 2 sampai 4 jam mengakibatkan respon peningkatan bentuk sepenuhnya diderivatisasi
triptofan.
Sementara TBDMS derivatif yang lebih stabil dari turunan TMS tradisional, berat molekul
yang lebih tinggi mengakibatkan waktu elusi lagi selama analisis GC. Untuk menyeimbangkan ini,
pemisahan dilakukan pada, kolom kapiler yang sempit bore singkat. Suhu mulai tidak lebih tinggi dari
100 C diperlukan untuk menjaga resolusi glisin puncak turunan dari pelarut. Sebuah jalan cepat
untuk 360 C setelah elusi turunan sistin dilakukan untuk memastikan kolom bersih untuk analisis
selanjutnya.

Kesimpulan

Studi ini menunjukkan bahwa dengan penggunaan yang tepat dari reagen derivatisasi seperti
MTBSTFA, asam amino dapat dianalisis dengan GC-MS. Kondisi reaksi mungkin harus "tweak"
untuk menghasilkan respon maksimum turunan dari bunga. Derivatif menghasilkan fragmen
karakteristik, yang memungkinkan untuk memudahkan identifikasi oleh MS. Untuk mengurangi
waktu analisis GC keseluruhan derivatif ini, pendek, sempit kolom bore seperti nomor pembayar 20 m
x 0,18 mm x 0,18 m SLB-5ms dianjurkan

HPLC (HIGH PERFORMANCE LIQUID CHROMATOGRAPHY)


PENDAHULUAN
HPLC (High Performance Liquid Chromatography) atau biasa juga disebut dengan
Kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT) dikembangkan pada akhir tahun 1960-an dan awal tahun
1970-an. Saat ini, HPLC merupakan teknik pemisahan yang diterima secara luas untuk analisis bahan
obat, baik dalam bulk atau dalam sediaan farmasetik, analisis dan pemurnian senyawa tertentu dalam
suatu sampel dalam sebidang, antara lain : farmasi, lingkungan, bioteknologi, polimer dan industriindustri makanan. Beberapa perkembangan KCKT terbaru antra lain : miniaturisasi`sistem KCKT,
penggunaan KCKT untuk analisis asam-asam nukleat, analisis protein, analisis karbohidrat dan
analisisi senyawa-senyawa kiral.

Kromatografi cair kinerja tinggi (HPLC, High Performance Liquid Chromatography)


merupakan suatu tekhnis analisis obat yang paling cepat berkembang. Cara ini ideal untuk analisis
beragam obat dalam sediaan dan cairan biologi, karena sederhana dan kepekaannya tinggi.
KCKT paling sering digunakan untuk menetapkan kadar senyawa-senyawa tertentu seperti
asam-asam amino, asam-asam nukleat, dan protein-protein dalam cairan fisiologis; menentukan kadar
senyawa-senyawa aktif obat, produk hasil samping proses sintetis, atau produk-produk degradasi
dalam sediaan farmasi; memonitor sampel-sampel yang berasal dari lingkungan ; memurnikan
senyawa-senyawa dalam suatu campuran ; memisahkan polimer dan menentukan distribusi berat
molekulnya dalam suatu campuran; kontrol kualitas dan mengikuti jalannya reaksi sintetis.
Keterbatasan metode KCKT adalah untuk identifikasi senyawa, kecuali jika KCKT
dihubungkan dengan spektrometer massa (MS). Keterbatasan lainnya adalah jika sampelnya sangat
kompleks, maka resolusi yang baik sulit diperoleh.
Jenis-jenis HPLC
Pemisahan dengan HPLC dapat dilakukan dengan fase normal (jika fase diamnya lebih polar
dibanding dengan fase geraknya) atau fase terbalik (jika fase diamnya kurang non polar dibanding
dengan fase geraknya). Berdasarkan pada kedua pemisahan ini, sering kali HPLC dikelompokkan
menjadi HPLC fase normal dan HPLC fase terbalik. Selain klasifikasi di atas, HPLC juga dapat
dikelompokkan berdasarkan pada sifat fase diam dan atau berdasarkan pada mekanisme sorpsi solut,
dengan jenis-jenis HPLC sebagai berikut:
a.

Kromatografi Adsorbsi
Prinsip kromatografi adsorpsi telah diketahui sebagaimana dalam kromatografi kolom
dan kromatografi lapis tipis. Pemisahan kromatografi adsorbsi biasanya menggunakan
fase normal dengan menggunakan fase diam silika gel dan alumina, meskipun demikian
sekitar 90% kromatografi ini memakai silika sebagai fase diamnya. Pada silika dan
alumina terdapat gugus hidroksi yang akan berinteraksi dengan solut. Gugus silanol pada
silika mempunyai reaktifitas yang berbeda, karenanya solut dapat terikat secara kuat
sehingga dapat menyebabkan puncak yang berekor.
b. Kromatografi fase terikat
Kebanyakan fase diam kromatografi ini adalah silika yang dimodifikasi secara
kimiawi atau fase terikat. Sejauh ini yang digunakan untuk memodifikasi silika adalah
hidrokarbon-hidrokarbon non-polar seperti dengan oktadesilsilan atau oktasilana.
Sebagai fase gerak adalah campuran metanol atau asetonitril dengan air atau dengan
larutan bufer. Untuk solut yang bersifat asam lemah atau basa lemah, peranan pH sangat
krusial karena kalau pH fase gerak tidak diatur maka solut akan mengalami ionisasi atau
protonasi. Terbentuknya spesies yang terionisasi ini menyebabkan ikatannya dengan fase
diam menjadi lebih lemah dibanding jika solut dalam bentuk spesies yang tidak
terionisasi karenanya spesies yang mengalami ionisasi akan terelusi lebih cepat.
c. Kromatografi penukar ion
KCKT penukar ion menggunakan fase diam yang dapat menukar kation atau anion
dengan suatu fase gerak. Ada banyak penukar ion yang beredar di pasaran, meskipun

demikian yang paling luas penggunaannya adalah polistiren resin. Kebanyakan


pemisahan kromatografi ion dilakukan dengan menggunakan media air karena sifat
ionisasinya. Dalam beberapa hal digunakan pelarut campuran misalnya air-alkohol dan
juga pelarut organik. Kromatografi penukar ion dengan fase gerak air, retensi puncak
dipengaruhi oleh kadar garam total atau kekuatan ionik serta oleh pH fase gerak.
Kenaikan kadar garam dalam fase gerak menurunkan retensi solut. Hal ini disebabkan
oleh penurunan kemampuan ion sampel bersaing dengan ion fase gerak untuk gugus
penukar ion pada resin.
d. Kromatografi Pasangan ion
Kromatografi pasangan ion juga dapat digunakan untuk pemisahan sampel-sampel
ionik dan mengatasi masalah-masalah yang melekat pada metode penukaran ion. Sampel
ionik ditutup dengan ion yang mempunyai muatan yang berlawanan.
e. Kromatografi Eksklusi Ukuran
Kromatografi ini disebut juga dengan kromatografi permiasi gel dan dapat digunakan
untuk memisahkan atau menganalisis senyawa dengan berat molekul > 2000 dalton. Fase
diam yang digunakan dapat berupa silika atau polimer yang bersifat porus sehingga solut
dapat melewati porus (lewat diantara partikel), atau berdifusi lewat fase diam. Molekul
solut yang mempunyai BM yang jauh lebih besar, akan terelusi terlebih dahulu, kemudian
molekul-molekul yang ukuran medium, dan terakhir adalah molekul yang jauh lebih
kecil. Hal ini disebabkan solut dengan BM yang besar tidak melewati porus, akan tetapi
lewat diantara partikel fase diam. Dengan demikian, dalam pemisahan dengan eksklusi
ukuran ini tidak terjadi interaksi kimia antara solut dan fase diam seperti tipe
kromatografi yang lain.

f.

Kromatografi Afinitas
Dalam kasus ini, pemisahan terjadi karena interaksi-interaksi biokimiawi yang sangat
spesifik. Fase diam mengandung gugus-gugus molekul yang hanya dapat menyerap
sampel jika ada kondisi-kondisi yang terkait dengan muatan dan sterik tertentu pada
sampel yang sesuai (sebagaimana dalam interaksi antara antigen dan antibodi).
Kromatografi jenis ini dapat digunakan untuk mengisolasi protein (enzim) dari campuran
yang sangat kompleks.

PRINSIP
Prinsip dasar HPLC
Prinsip dasar dari HPLC adalah pemisahan analit-analit berdasarkan kepolarannya. Adapun
prinsip kerja dari alat HPLC adalah ketika suatu sampel yang akan diuji diinjeksikan ke dalam kolom
maka sampel tersebut kemudian akan terurai dan terpisah menjadi senyawa-senyawa kimia ( analit )
sesuai dengan perbedaan afinitasnya. Hasil pemisahan tersebut kemudian akan dideteksi oleh detector
(spektrofotometer UV, fluorometer atau indeks bias) pada panjang gelombang tertentu, hasil yang
muncul dari detektor tersebut selanjutnya dicatat oleh recorder yang biasanya dapat ditampilkan
menggunakan integrator atau menggunakan personal computer (PC) yang terhubung online dengan
alat HPLC tersebut.

Prinsip kerja HPLC


Pada prinsipnya kerja HPLC adalah sama yaitu pemisahan analit-analit berdasarkan kepolarannya,
alatnya terdiri dari kolom (sebagai fasa diam) dan larutan tertentu sebagai fasa geraknya. Yang paling
membedakan HPLC dengan kromatografi lainnya adalah pada HPLC digunakan tekanan tinggi untuk
mendorong fasa gerak. Campuran analit akan terpisah berdasarkan kepolarannya dan kecepatannya
untuk sampai kedektetor (waktu retensinya) akan berbeda, hal ini akan teramati pada spectrum yang
puncak-puncaknya terpisah. Ukuran skala polaritas : golongan fluorocarbon < golongan hidrokarbon
< senyawa terhalogenasi < golongan eter < golongan ester < golongan keton < golongan alcohol <
golongan asam.
a. Injeksi sampel
Injeksi sample seluruhnya dilakukan secara otomatis sehingga tidak bisa mengetahui yang terjadi
pada keadaan tingkat dasar. Karena proses ini meliputi tekanan, tidak sama halnya dengan
kromatografi gas.
b. Waktu retensi
Waktu yang dibutuhkan oleh senyawa untuk bergerak melalui kolom menuju detektor disebut
sebagai waktu retensi.Waktu retensi diukur berdasarkan waktu dimana sampel diinjeksikan sampai
sampel menunjukkan ketinggian puncak yang maksimum dari senyawa itu. Senyawa-senyawa yang
berbeda memiliki waktu retensi yang berbeda pula. Untuk beberapa senyawa, waktu retensi akan
sangat bervariasi dan bergantung pada:
Tekanan yang digunakan (karena itu akan berpengaruh pada laju alir dari pelarut).
Kondisi dari fase diam (tidak hanya terbuat dari material apa, tetapi juga pada ukuran partikel).
Komposisi yang tepat dari pelarut.
Temperatur pada kolom.
c. Detector
Ada beberapa cara untuk mendeteksi substansi yang telah melewati kolom. Metode umum yang
mudah dipakai untuk menjelaskan yaitu penggunaan serapan ultra-violet.Banyak senyawa-senyawa
organik menyerap sinar UV dari beberapa panjang gelombang.
Jumlah cahaya yang diserap akan bergantung pada jumlah senyawa tertentu yang melewati
melalui berkas pada waktu itu.

d. Interpretasi output dari detector


Output akan direkam sebagai rangkaian puncak-puncak, dimana masing-masing puncak mewakili
satu senyawa dalam campuran yang melalui detektor dan menerap sinar UV. Sepanjang anda
mengontrol kondisi kolom,dapat menggunakan waktu retensi untuk membantu mengidentifikasi
senyawa yang diperoleh.

.
Area yang berada dibawah puncak sebanding dengan jumlah X yang melalui detektor, dan
area ini dapat dihitung secara otomatis melalui layar komputer.Area dihitung sebagai bagian yang
berwarna hijau dalam gambar (sangat sederhana).

INSTRUMENTASI
Instrumentasi HPLC terdiri dari fase gerak, pompa, injektor, kolom, detektor dan pengolah data.

Terdapat 5 komponen dasar HPLC yaitu:


1.1. Wadah Fase gerak dan Fase gerak

Wadah fase gerak harus bersih dan lembam (inert). Wadah pelarut kosong ataupun labu
laboratorium dapat digunakan sebagai wadah fase gerak. Wadah ini biasanya dapat menampung fase
gerak antara 1 sampai 2 liter pelarut. Fase gerak atau eluen biasanya terdiri atas campuran pelarut
yang dapat bercampur yang secara keseluruhan berperan dalam daya elusi dan resolusi. Daya elusi
dan resolusi ini ditentukan oleh polaritas keseluruhan pelarut, polaritas fase diam, dan sifat
komponen-komponen sampel. Untuk fase normal (fase diam lebih polar daripada fase gerak),
kemampuan elusi meningkat dengan meningkatnya polaritas pelarut. Sementara untuk fase terbalik
(fase diam kurang polar daripada fase gerak), kemampuan elusi menurun dengan meningkatnya
polaritas pelarut.
Fase gerak sebelum digunakan harus disaring terlebih dahulu untuk menghindari partikel-partikel
kecil ini. Selain itu, adanya gas dalam fase gerak juga harus dihilangkan, sebab adanya gas akan
berkumpul dengan komponen lain terutama di pompa dan detektor sehingga akan mengacaukan
analisis. Elusi dapat dilakukan dengan cara isokratik (komposisi fase gerak tetap selama elusi) atau
dengan cara bergradien (komposisi fase gerak berubah-ubah selama elusi) yang analog dengan
pemrograman suhu pada kromatografi gas. Elusi bergradien digunakan untuk meningkatkan resolusi
campuran yang kompleks terutama jika sampel mempunyai kisaran polaritas yang luas.
Fase erak yang paling sering digunakan untuk pemisahan dengan fase terbalik adalah campuran
larutan bufer dengan metanol atau campuran air dengan asetonitril. Untuk pemisahan dengan fase
normal, fase gerak yang paling sering digunakan adalah campuran pelarut-pelarut hidrokarbon dengan
pelarut yang terklorisasi atau menggunakan pelarut-pelarut jenis alkohol. Pemisahan dengan fase
normal ini kurang umum dibanding dengan fase terbalik
Fase gerak (eluen) berupa zat cair. Fase gerak selain sebagai pembawa senyawa campuran menuju
detektor, fase gerak juga dapat berinteraksi dengan solut-solut. Beberapa persyaratan HPLC antara
lain :

Harus bertindak sebagai pelarut yang baik untuk sampel yang akan dianalisis
Zat cair harus murni dan jernih untuk menghindari kotoran yang dapat mengganggu
interpretasi kromatogram dan menghindarkan penyumbatan kolom
Mudah diperoleh, murah, tidak mudah terbakar dan tidak beracun
Memiliki viskositas rendah
Sesuai dengan detektor yang digunakan
Pompa dianalogikan sebagai jantung, berfungsi mengalirkan fase gerak cair melalui
kolom.

1.2. Pompa
Pompa yang cocok digunakan untuk HPLC adalah pompa yang mempunyai syarat sebagaimana
syarat wadah pelarut yakni: pompa harus inert terhadap fase gerak. Bahan yang umum dipakai untuk
pompa adalah gelas, baja tahan karat, Teflon, dan batu nilam. Pompa yang digunakan sebaiknya
mampu memberikan tekanan sampai 5000 psi dan mampu mengalirkan fase gerak dengan kecepatan
alir 3 mL/menit. Untuk tujuan preparatif, pompa yang digunakan harus mampu mengalirkan fase
gerak dengan kecepatan 20 mL/menit. Tujuan penggunaan pompa atau sistem penghantaran fase
gerak adalah untuk menjamin proses penghantaran fase gerak berlangsung secara tepat, reprodusibel,
konstan, dan bebas dari gangguan. Ada 2 jenis pompa dalam HPLC yaitu: pompa dengan tekanan

konstan, dan pompa dengan aliran fase gerak yang konstan. Tipe pompa dengan aliran fase gerak yang
konstan sejauh ini lebih umum dibandingkan dengan tipe pompa dengan tekanan konstan.
1.3. Tempat penyuntikan sampel
Sampel-sampel cair dan larutan disuntikkan secara langsung ke dalam fase gerak yang mengalir
di bawah tekanan menuju kolom menggunakan alat penyuntik yang terbuat dari tembaga tahan karat
dan katup teflon yang dilengkapi dengan keluk sampel (sample loop) internal atau eksternal.

1.4. Kolom dan Fase diam


Ada 2 jenis kolom pada HPLC yaitu kolom konvensional dan kolom mikrobor. Kolom merupakan
bagian HPLC yang mana terdapat fase diam untuk berlangsungnya proses pemisahan solut/analit.
Kolom mikrobor mempunyai 3 keuntungan yang utama dibanding dengan kolom konvensional,
yakni:
Konsumsi fase gerak kolom mikrobor hanya 80% atau lebih kecil dibanding dengan kolom
konvensional karena pada kolom mikrobor kecepatan alir fase gerak lebih lambat (10 -100
l/menit).
Adanya aliran fase gerak yang lebih lambat membuat kolom mikrobor lebih ideal jika digabung
dengan spektrometer massa.
Sensitivitas kolom mikrobor ditingkatkan karena solut lebih pekat, karenanya jenis kolom ini
sangat bermanfaat jika jumlah sampel terbatas misal sampel klinis.
Kebanyakan fase diam pada HPLC berupa silika yang dimodifikasi secara kimiawi, silika yang
tidak dimodifikasi, atau polimer-polimer stiren dan divinil benzen. Permukaan silika adalah polar dan
sedikit asam karena adanya residu gugus silanol (Si-OH). Silika dapat dimodifikasi secara kimiawi
dengan menggunakan reagen-reagen seperti klorosilan. Reagen-reagen ini akan bereaksi dengan
gugus silanol dan menggantinya dengan gugus-gugus fungsional yang lain. Oktadesil silika (ODS
atau C18) merupakan fase diam yang paling banyak digunakan karena mampu memisahkan senyawasenyawa dengan kepolaran yang rendah, sedang, maupun tinggi. Oktil atau rantai alkil yang lebih
pendek lagi lebih sesuai untuk solut yang polar. Silika-silika aminopropil dan sianopropil (nitril) lebih
cocok sebagai pengganti silika yang tidak dimodifikasi. Silika yang tidak dimodifikasi akan
memberikan waktu retensi yang bervariasi disebabkan karena adanya kandungan air yang digunakan.
1.5. Detektor HPLC

Detektor pada HPLC dikelompokkan menjadi 2 golongan yaitu: detektor universal (yang mampu
mendeteksi zat secara umum, tidak bersifat spesifik, dan tidak bersifat selektif) seperti detektor indeks
bias dan detektor spektrometri massa; dan golongan detektor yang spesifik yang hanya akan
mendeteksi analit secara spesifik dan selektif, seperti detektor UV-Vis, detektor fluoresensi, dan
elektrokimia.
Idealnya, suatu detektor harus mempunyai karakteristik sebagai berikut:
Mempunyai respon terhadap solut yang cepat dan reprodusibel.
Mempunyai sensitifitas yang tinggi, yakni mampu mendeteksi solut pada kadar yang sangat kecil.
Stabil dalam pengopersiannya.
Mempunyai sel volume yang kecil sehingga mampu meminimalkan pelebaran pita.
Signal yang dihasilkan berbanding lurus dengan konsentrasi solut pada kisaran yang luas (kisaran
dinamis linier).
Tidak peka terhadap perubahan suhu dan kecepatan alir fase gerak.

Beberapa detektor yang paling sering digunakan pada HPLC dengan karakteristik detektor
seperti berikut :

Detektor

Sensitifitas
(g/ml)

Kisaran
linier

Karakteristik

Absorbansi Uv-vis
Fotometer filter
Spektrofotometer
spektrometerphoto-diode array

5 x 10-10
5 x 10-10
> 2 x 10-10

104
105
105

Fluoresensi

10-12

104

Indeks bias

5 x 10-7

104

Sensitivitas bagus, paling sering


digunakan, selektif terhadap
gugus-gugus
dan
strukturstruktur yang tidak jenuh.
Sensitifitas
sangat
bagus,
selektif, Tidak peka terhadap
perubahan suhu dan kecepatan
alir fase gerak.
Hampir bersifat universal akan
tetapi sensitivitasnya sedang.
Sangat sensitif terhadap suhu,
dan tidak dapat digunakan pada
elusi bergradien

Elektrokimia
Konduktimetri

10-8

104

Peka terhadap perubahan suhu

Amperometri

10-12

105

dan kecepatan alir fase gerak,


tidak dapat digunakan pada elusi
bergradien. Hanya mendeteksi
solut-solut ionik. Sensitifitas
sangat bagus, selektif tetapi
timbul masalah dengan adanya
kontaminasi elektroda.

JENIS SAMPEL
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

HPLC dengan prinsip kromatografi banyak digunakan pada industry farmasi dan pestisida.
Zat- zat dengan kepolaran berbeda yaitu antara sedikit polar sampai polar dapat dipisahkan
dengan HPLC berdasarkan partisi cair-cair.
Asam-asam nukleat dapat dipisahkan dengan kolom penukar ion yang dikombinasikan
dengan kolom butiran berlapis zat berpori.
Morfin, heroin dan semacamnya telah dapat dipisahkan dengan rezin Zipax-SAX.
Dapat memisahkan vitamin- vitamin yang larut dalam air.
Digunakan untuk menentukan berat molekul polimer dan masalah-masalah biokimia.
Dapat digunakan untuk memurnikan dan mengidentifikasi suatu senyawa.

METODE PREPARASI SAMPEL


Sampel harus dalam bentuk larutan. Untuk skala analisis sampel dalam L, konsentrasi
sampel yang diinjeksikan tidak boleh terlalu pekat karena dapat menyumbat kolom. Konsentrasi
maksimal adalah sekitar 40 ppm.
METODE ANALISIS
Metode HPLC dapat digunakan untuk analisa kuantitatif dan sekaliguskualitatif. Untuk analisa
kualitatif dengan membandingkan kromatogram sampel dengan kromatogram baku pembanding
berdasarkan waktu retensinya.
Sedangkan untuk analisa kuatitatif dapat digunakan dengan persamaan :
Cx = Ax / Ap X Cp
Keterangan :
A = Peak area = Luas puncak
C= Konsentrasi
X = sampel
P = pembanding
Atau jika ingin mendapatkan data yang lebih valid dapat pula ditentukan dengan menggunakan
kurva kalibrasi larutan standar.

Prosedur Kerja

1. Pembuatan pelarut dan fasa gerak

Metanol disaring dengan PTFE dan air disaring dengan selulosa nitrat. Lalu dicampur masing-masing
dengan perbandingan 75:25 dengan volume total sebanyak 500 mL.

2. Pembuatan larutan induk parasetamol


Sebanyak 6,25 mg parasetamol ditimbang dengan neraca analitik dalam botol timbang. Parasetamol
tersebut dilarutkan dengan sedikit pelarut, dipindahkan ke dalam labu ukur 25 mL. Setelah itu,
dihomogenkan dan ditambahkan pelarut sampai tanda batas.
3. Pembuatan larutan standar parasetamol
Larutan induk parasetamol masing-masing dipipet sebanyak 1 mL, 2 mL, 3 mL, 4 mL dan 5 mL yang
masing-masing dimasukkan ke dalam labu ukur 10 mL. Setelah itu ditambahkan pelarut masingmasing sebanyak 5 mL dan dihomogenkan. Kemudian ditambah lagi pelarut sampai tanda
batas.Selanjutnya disaring dengan PTFE dan disimpan dalam botol vial lalu didegassing.
4. Pembuatan larutan sampel parasetamol
Sebanyak 6 tablet obat sampel masing-masing ditimbang beratnya dan dihitung berat rata-ratanya.
Tablet obat tersebut digerus dalam mortar hingga halus dan ditimbang serbuknya sebanyak 27 mg
dengan neraca analitik dalam botol timbang. Kemudian dilarutkan dengan sedikit pelarut dan
dipindahkan ke dalam labu ukur 25 mL, sampel dihomogenkan dalam ultrasonic vibrator.Setelah itu
ditambahkan pelarut hingga tanda batas.
Larutan sampel tersebut kemudian disaring dan ditampung dalam labuerlenmeyer. Kemudian dipipet
sebanyak 1 mL dan disimpan dalam labu ukur 10 mL yang diencerkan dengan pelarut sampai tanda
batas. Larutan sampel teresbut disaring kembali menggunakan membran PTFE dan filtratnya
didegassing selama 5 menit. Setelah itu, sampel siap untuk diinjeksikan.
5. Prosedur HPLC
Alat dan eluen yang akan digunakan dikondisikan sehingga setimbang +/- 30 menit. Kelima standar
parasetamol diinjeksikan, diikuti dengan sampel yang diinjeksikan sebanyak 2 kali pengulangan.
Rata-rata area sampel dihitung dan kadar parasetamol dalam sampel ditentukan dengan metode kurva
kalibrasi.
METODE PENGOLAHAN DATA HASIL ANALISIS
Pada percobaan penentuan kadar parasetamol dalam sampel obat menggunakan kromatografi
cairan kinerja tinggi (HPLC) ini menggunakan fasa gerak metanol dan air dengan komposisi 75:25.
Fasa gerak dalam HPLC ini selain berfungsi sebagai pelarut, juga bersifat interaktif sehingga bisa
berinteraksi dengan komponen-komponen cuplikan. Fasa gerak dalam hal ini bertindak sebagai
pelarut sangat mempengaruhi waktu retensi, sehingga pelarut yang digunakan harus benar-benar
jernih dan murni. Oleh sebab itu, metanol dan air terlebih dahulu disaring.
Dalam pembuatan larutan induk parasetamol, pembuatannya harus dilakukan dalam satu kali
pengerjaan, artinya untuk membuat larutan standar parasetamol dan untuk keperluan pengenceran
sampel harus menggunakan larutan induk parasetamol yang sama. Hal tersebut dilakukan untuk
menjaga agar peak yang ditunjukkan kromatogram sampel memungkinkan masih berada dalam
rentang konsentrasi larutan standar yang dibuat.

Selain itu, baik dalam pembuatan larutan induk parasetamol, larutan standar parasetamol maupun
sampel harus dihomogenkan, supaya larutan benar-benar bercampur sempurna (merata). Larutan
standar dan sampel juga harus didegassing untuk menghilangkan gas-gas yang kemungkinan ada
dalam larutan tersebut. Hal itu dilakukan karena gas dapat mengganggu baseline pada kromatogram,
sehingga peak yang dihasilkan tidak sesuai.
Akibat perbedaan interaksi antara solut dengan fasa gerak dan fasa diam yang terjadi mulai dari
kolom sampai terdeteksi oleh detektor, maka hasil yang diperoleh adalah dalam bentuk kromatogram
yang diperlihatkan oleh rekorder. Deret larutan standar yang dibuat mulai dari konsentrasi 25, 50, 75,
100 dan 125 ppm

Berikut tabel data deret larutan standar yang diperoleh:


Konsentrasi
(ppm)

Luas Area

Waktu
retensi

25

2488335

1,51

50

4126411

1,50

75

6744285

1,51

100

8901360

1,51

125

10667748

1,51

Analisis terhadap cuplikan atau sampel obat dilakukan setelah semua deret larutan standar
telah dianalisis. Sampel diinjeksikan sebanyak 2 kali injeksi untuk memperoleh luas area rata-rata
yang nantinya akan digunakan untuk menghitung kadar parasetamol yang terdapat dalam sampel obat
tersebut.
Berikut tabel data sampel yang diperoleh:
Data Sampel
Penginjeksian 1

Waktu Retensi (min)

Area

Peak 1

1,51

7762424

Peak 2

2,31

13143

0,06

7100

Penginjeksian 2
Peak 1

Peak 2

0,26

57665

Peak 3

1,51

7777816

Peak 4

2,30

6844

Kromatogram sampel yang diperoleh dari masing-masing penginjeksian menunjukkan adanya


2 peak dan 4 peak. Hal tersebut dikarenakan kandungan dalam sampel obat tidak hanya mengandung
parasetamol saja, tetapi juga mengandung bahan lain seperti propanezon, deklorfenilamina maleat dan
kafein, sehingga peak lainnya yang ditunjukkan dalam kromatogram adalah bahan lain yang
terkandung dalam sampel obat tersebut. Peak yang dianggap sebagai peak parasetamol adalah peak
yang pertama (penginjeksian pertama) dan peak yang ketiga (penginjeksian kedua) karena dilihat dari
waktu retensi yang sama atau hampir sama dengan waktu retensi deret larutan standar.
Untuk menentukan kadar parasetamol yang terkandung dalam sampel obat tersebut, maka
dibuat terlebih dahulu kurva kalibrasi dari data deret larutan standar.
Dari kurva kalibrasi tersebut, diperoleh persamaan garis y = 84535x + 24549, sehingga setelah
dilakukan perhitungan menggunakan persamaan garis, maka kadar parasetamol dalam sampel adalah
84,837% dalam 27 mg sampel obat.
Kesimpulan :
Berdasarkan percobaan, diperoleh kadar parasetamol dalam 27 mg sampel obat sebesar 84,837%

DAFTAR PUSTAKA
http://nakhdiahsaisal.blogspot.co.id/2011/12/kromatografi-cair-kinerja-tinggi-hplc.html
http://www.omjarjit.xyz/2013/11/prinsip-dasar-dan-prinsip-kerja-hplc.html
https://arycho.wordpress.com/2012/04/08/53/
http://pustaka.unpad.ac.id/wp-content/uploads/2009/12/diktat_pelatihan_hplc_2007.pdf
http://noviechemist.blogspot.co.id/2013/01/laporan-praktikum-hplc.html
http://dhiajenglarasati.blogspot.co.id/2012/12/perbedaan-gc-dan-gc-ms.html
https://www.scribd.com/doc/211146191/Laporan-GCMS
http://fuadrofiqi.blogspot.co.id/2012/02/definisi-instrumentasi-prinsip-kerja.html
http://sonyaljazary.blogspot.co.id/2013/02/kromatografi-gas-spektrometer-massa-gc.html
Giwangkara S, EG. 2007. Spektroskopi Infra Merah
http://www.chem-is-try.org/
Giwangkara S, EG., 2006, Aplikasi Logika Syaraf Fuzzy Pada Analisis Sidik Jari Minyak Bumi
Menggunakan Spetrofotometer Infra Merah Transformasi Fourier (FT-IR), Sekolah Tinggi Energi
dan Mineral, Cepu Jawa Tengah
Hendayana, S, Kadarohman, A, Sumarna, AA, and Supriatna A. 1994.Kimia Analitik Instrument.IKIP
Semarang Press. Semarang.

Silverstein. 2002. Identification of Organic Compund, 3rd Edition. John Wiley & Sons Ltd. New
York.
http://www.id.wikipedia.org/
http://yayanakhyar.wordpress.com/spektroskopi-inframerah-dekat/
http://pikanurropiah88.mhs.unimus.ac.id/files/2012/07/kromatografi-gas1.pdf
http://eskrimsandwich.blogspot.com/2013/05/gas-kromatografi.html
http://www.sodiycxacun.web.id/2010/01/kromatografi-gas.html
http://yi2ncokiyute.blogspot.com/2010/12/kromatografi-gas.html
http://apryshinsetsuboy.blogspot.com/2010/12/kromatografi-gas-dan-aplikasinya-pada.html
http://ariffadholi.blogspot.com/2009/10/oleh-najiullah-2007-kromatografi-gas-i.html
http://sanagory.blogspot.com/2012/02/sejarah-kromatografi.html
http://kuliahitukeren.blogspot.com/2011/01/sejarah-penemuan-dan-perkembangan-alat.html
http://helnidanainggolan.blogspot.com/2012/12/v-behaviorurldefaultvmlo.html
http://www.sodiycxacun.web.id/2010/01/kromatografi-gas.html
http://asisulkimia.blogspot.com/p/kromatografi-gasasisul.html
https://www.academia.edu/4968980/KROMATOGRAFI_GAS_GAS_CHROMATOGRAPH Y_GC_
http://bisontampan.blogspot.com/2013/04/gas-kromatografi.html
http://rachmakimhunter.blogspot.com/p/kimia-analitik.html http://www.batan.go.id/ptbn/php/pdfpublikasi/Urania-Old-PDF/urania_23_24_pdf/1_PENGENALAN%20ALAT%20BAMBANG
%20W.pdf
http://echechemis308.blogspot.com/2012/02/makalah-analisis-instrumen.html
http://wocono.files.wordpress.com/2013/03/gc.jpg
http://1.bp.blogspot.com/_jKTWR6_fBgg/TRR0FrmsULI/AAAAAAAAABE/uQpeWNGQu
3w/s1600/kolom+packing.jpg http://www.chem-is-try.org/wp-content/uploads/2010/09/gambar18.4.jpg http://laskarvck.wordpress.com/kromatografi-gas/
http://www.scribd.com/doc/125576169/Kromatografi-Dan-Aplikasinya-Pada-Bidang- Lain#download
http://rachmakimhunter.blogspot.com/p/kimia-analitik.html
http://www.fbi.gov/hq/lab/fsc/backissu/april2001/mmiller.html http://mdn.mainichimsn.co.jp/national/news/20070109p2a00m0na026000c.html
http://www.tosohbioscience.com/biohome.html
http://www.metrohm-peak.com/ http://www1.dionex.com/en-us/index.html

http://www.krict.re.kr/english/e_equip/e_equ_a00.php