Anda di halaman 1dari 12

AKUNTANSI UNTUK PERUSAHAAN

MANUFAKTUR
Dibuat Untuk Memenuhi Tugas Pengantar Akuntansi

Djodhy Dwie A. H

C1C113084

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
Tahun Ajaran 2013 / 2014

AKUNTANSI UNTUK PERUSAHAAN


MANUFAKTUR
A. PERBEDAAN POKOK AKUNTANSI UNTUK PERUSAHAAN DAGANG DENGAN
AKUNTANSI UNTUK PERUSAHAAN MANUFAKTUR
Penentuan harga pokok barang yang dibeli maupun dijual dalam perusahaan dagang relatif
lebih mudah. Perusahaan manufaktur harus menggabungkan harga bahan yang dipakai,
dengan biaya tenaga kerja dan biaya produksi lain untuk dapat menentukan harga pokok
barang yang siap untuk dijual.
Perbandingan bagian harga pokok penjualan dalam laporan rugi-laba perusahaan dagang
dengan laporan rugi-laba perusahan manufaktur.
Perusahaan Dagang
Harga Pokok Penjualan
Persediaan Awal Barang Dagang
Pembelian Bersih
Barang Tersedia Untuk Dijual
Persediaan Akhir Barang Dagangan
Harga Pokok Penjualan

Rp 14.200,00
34.150,00
Rp 48.350,00
12.100,00
Rp 36.250,00

Perusahaan Manufaktur
Harga Pokok Penjualan
Persediaan Awal Barang Jadi
Harga Pokok Produksi
Barang Tersedia Untuk Dijual
Persediaan Akhir Barang Jadi
Harga Pokok Penjualan

Rp 11.200,00
170.500,00
Rp 181.000,00
10.300,00
Rp 171.400,00

B. ELEMEN-ELEMEN BIAYA PRODUKSI


1. Bahan Langsung
Bahan langsung ialah bahan yang digunakan dan menjadi bagian dari produk jadi.
Sebagai contoh, bahan langsung dalam sebuah pabrik sepatu terdiri dari kulit, kain,
benang, paku, dan lem.
Bahan langsung harus dibedakan dari bahan tak langsung, yang meliputi bahan-bahan
perlengkapan pabrik seperti minyak dan oli mesin, bahan bakar, dan sebagainya.
Barang-barang yang dibeli perusahaan untuk digunakan dalam proses produksi disebut
bahan baku (raw material).
2. Tenaga Kerja Langsung
Tenaga kerja yang terlibat langsung dalam proses mengubah bahan menjadi produk jadi
disebut tenaga kerja langsung. Dalam akuntansi untuk operasi perusahaan manufaktur,
tenaga kerja langsung harus dibedakan dengan tenaga kerja tak langsung. Tenaga kerja tak
langsung digunakan dalam proses produksi tetapi tidak bisa dihubungkan atau diterapkan
pada suatu produk tertentu.
Rekening yang digunakan untuk mencatat biaya tenaga kerja langsung dalam sistem
akuntansi umum disebut tenaga kerja langsung, sedangkan biaya tenaga kerja tak langsung
dicatat dalam satu atau beberapa rekening tenaga kerja tak langsung.
3. Overhead Pabrik
Biaya-biaya produksi lain, selain bahan langsung dan tenaga kerja langsung, disebut
overhead pabrik (biaya produksi tak langsung). Contoh biaya overhead pabrik

Tenaga kerja tak langsung


Bahan tak langsung

CONTOH OVERHEAD PABRIK


Biaya listrik pabrik
Biaya gas pabrik

Bahan pembersih
Bahan pelumas (oli dll)
Reparasi gedung dan peralatan pabrik
Asuransi peralatan pabrik
Pajak bangunan pabrik

Depresiasi mesin dan peralatan


Amortisasi hak paten
Asuransi tenaga kerja
Pajak penghasilan tenaga kerja

C. HARGA POKOK PRODUK BIAYA PERIODE


Dalam perusahaan manufaktur terjadi baik biaya periode maupun harga pokok produk.
Harga pokok produk meliputi semua biaya produksi, yaitu bahan langsung, tenaga kerja
langsung, dan overhead pabrik.
Pengeluaran ini tidak langsung berhubungan dengan proses menghasilkan produk. Oleh
karena itu biaya periode dibebankan sebagai biaya pada periode terjadinya biaya tersebut.
Termasuk dalam biaya periode adalah biaya penjualan dan biaya umum dan administrasi.

Harga Pokok
Produk

Neraca
Persediaan
(Aktiva)

Laporan Rugi-Laba
Harga Pokok
Penjualan

Biaya
Periode

Biaya
Operasi

D. PERBANDINGAN ALIRAN HARGA POKOK PRODUK UNTUK PERUSAHAAN


DAGANG DAN PERUSAHAAN MANUFAKTUR

Pembelian Bahan Baku


xx
xx

Persedaan Bahan Baku


xx

Kas
xx

Tenaga Kerja Langsung


xx
xx

Ikhtisar HPP
xx
xx

Psdiaan Brng dlm Proses


xx
xx

Utang Dagang
xx

Persediaan Barang Jadi


xx
Overhead Pabrik
xx
xx

Rugi-Laba
xx
xx

xx

E. REKENING REKENING KHUSUS DALAM PERUSAHAAN MANUFAKTUR


Rekening-rekening dalam buku besar sebuah perusahaan manufaktur, biasanya lebih
banyak bila dibandingkan dengan rekening buku besar sebuah perusahaan dagang.
1. Rekening Pembelian Bahan Baku
Apabila perusahaan menggunakan sistem akuntansi umum (sistem persedaan periodik)
untuk kegiatan manufakturnya, maka semua biaya bahan langsung dicatat dengan
mendebet rekening pembelian bahan baku. Apabila perusahaan menggunakan sistem
voucher, maka dalam voucher register bisa disediakan kolom khusus untuk mendebetkan
ke dalam rekening.
2. Rekening Ikhtisar Biaya Produksi
Rekening ini didebet dengan biaya pemakaian bahan baku, biaya tenaga kerja, dan
biaya overhead pabrik. Pada akhir tahun, melalui jurnal penutup, rekening ini dikredit
dengan persediaan akhir bahan baku, persediaan akhir barang dalam proses, dan sisanya

dipindahkan ke rekening Rugi-Laba. Jumlah yang dipindahkan ke rekening Rugi-Laba ini


mencerminkan harga pokok barang yang selesai diproduksi pada periode yang
bersangkutan.
3. Rekening Persediaan Bahan Baku
Apabila perusahaan menggunakan sistem akuntansi umum, maka persediaan bahan
baku yang ada dalam persediaan (yang ada di gudang) harus ditentukan dengan cara
melakukan perhitungan fisik atas persediaan, kemudian melalui jurnal penutup dicatat ke
dalam rekening persedaan bahan baku. Jumlah saldo pada akhir periode yang nampak
dalam rekening ini, akan menjadi saldo awal untuk periode berikutnya.
4. Rekening Persediaan Barang dalam Proses
Barang-barang yang masih dalam keadaan belum selesai dikerjakan yang ada pada
akhir periode disebut persedaan barang dalam proses. Selanjutnya dengan jurnal penutup
jumlah persediaan akhir barang proses tersebut dipindahkan ke rekening persediaan barang
dalam proses.
5. Rekening Persediaan Barang Jadi
Persediaan barang jadi dalam sebuah perusahaan manufaktur hampir sama dengan
persediaan barang dagangan dalam sebuah perusahaan dagang, keduanya merupakan
barang yang sudah siap untuk dijual.
F. LAPORAN RUGI-LABA PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR
Laporan rugi-laba pada perusahaan manufaktur mirip dengan laporan rugi-laba pada
perusahaan dagang. Dalam laporan rugi-laba perusahaan manufaktur, Pembelian diganti
dengan Harga Pokok Produksi, dan Persediaan Barang Dagangan di ganti dengan
Persediaan Barang Jadi.
G. LAPORAN HARGA POKOK PRODUKSI
Laporan harga pokok produksi dirancang untuk memberikan informasi mengenai biaya
bahan langsung, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik.
PT SEMERU
Laporan Rugi-Laba
Untuk Tahun yang Berakhir Tanggal 31 Desember 1992
Pendapatan
Penjualan
Harga Pokok Penjualan
Persediaan Barang Jadi, 31 Des 1991
Harga Pokok Produksi
Barang Tersedia Dijual
Persediaan Barang Jadi, 31 Des 1992
Harga Pokok Penjualan
Laba Kotor Penjualan
Biaya Operasi
Biaya Penjualan
Gaji Pegawai Penjualan
Biaya Advertensi
Upah Bagian Pengangkutan
Biaya Perlengkapan Angkutan
Biaya Asuransi Peralatan Angkutan
Biaya Depresiasi Peralatan Angkutan
Jumlah Biaya Penjualan
Biaya Umum Dan Administrasi :
Gaji Pegawai Kantor
Macam-macam Biaya Umum
Kerugian Piutang

Rp 310.000,00
Rp

11.200,00
170.500,00
Rp 181.700,00
10.300,00
171.400,00
Rp 138.600,00
Rp 18.000,00
5.500,00
12.000,00
250,00
300,00
2.100,00
Rp 38.150,00
Rp 15.700,00
200,00
1.550,00

Biaya Perlengkapan Kantor


Biaya Depresiasi Peralatan Kantor
Biaya Bunga
Jumlah Biaya Administrasi Dan Umum
Jumlah Biaya Operasi
Laba Bersih Sebelum Pajak
Pajak Penghasilan
Laba Bersih

100,00
200,00
4.000,00
Rp 21.750,00
59.900,00
Rp 78.700,00
32.600,00
Rp 46.100,00

Hubungan daftar biaya overhead, laporan harga pokok produksi, dan laporan rugi-laba.
Daftar
Biaya-biaya Overhead Pabrik
Tenaga Kerja Tak Langsung
x.xxx
Sewa Gedung Pabrik
x.xxx
Lain-lain
x.xxx
Jumlah
Rp30.000

Laporan Harga Pokok Produksi


Bahan Langsung
xx.xxx
Tenaga Kerja Langsung
xx.xxx
Overhead Pabrik
30.000
Jumlah
xx.xxx
Barang dalam Proses (awal)
x.xxx
Barang dalam Proses (akhir)
(x.xxx)
Harga Pokok Produksi
Rp170.500

Laporan Rugi-Laba
Penjualan
Persediaan Jadi (awal)
Harga pokok Produksi
Persediaan Barang Jadi (akhir)
Harga Pokok Penjualan
Laba Kotor
Biaya-biaya Operasi
Laba Bersih

xx.xxx
xx.xxx
170.500
(xx.xxx)
Rp x.xxx
Rp x.xxx
(x.xxx)
Rp46.100

Laporan Harga Pokok Produksi


PT SEMERU
Laporan Harga Pokok Produksi
Untuk Tahun yang Berakhir Tanggal 31 Desember 1992
Bahan Langsung :
Persediaan bahan baku, 31 Des 1991
Pembelian bahan baku
Biaya angkut pembelian
Pembelian bersih
Bahan baku tersedia digunakan
Persediaan bahan baku, 31 Des 1992
Biaya pemakaian bahan baku
Tenaga kerja langsung
Biaya overhead pabrik :
Tenaga kerja tak langsung
Pengawasan
Listrik dan air
Reparasi dan pemiliharaan mesin
Pajak bumi dan bangunan pabrik
Pemakaian perlengkapan pabrik
Asuransi pabrik
Penghapusan peralatan kerja
Depresiasi mesin dan peralatan
Depresiasi gedung pabrik
Amortisasi hak paten
Jumlah biaya overhead pabrik
Jumlah biaya produksi
Tambah: Barang dalam proses, 31 Des 1991
Jumlah barang dalam proses selama tahun ini
Kurangi: Barang dalam proses, 31 Des 1992
Harga pokok produksi

Rp

8.000,00

Rp 85.000,00
1.500,00
86.500,00
Rp 94.500,00
9.000,00
Rp

85.500,00
60.000,00

Rp 9.000,00
6.000,00
2.500,00
2.500,00
1.900,00
600,00
1.100,00
200,00
3.500,00
1.800,00
800,00
30.000,00
Rp 175.500,00
2.500,00
Rp 178.000,00
7.500,00
Rp 170.500,00

H. NERACA LAJUR PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR


Neraca lajur dibuat perusahaan dengan tujuan:
1. Untuk melihat pengaruh penyesuaian atas rekening-rekening sebelum membuat
penyesuaian dalam jurnal dan membukukannya ke dalam rekening yang bersangkutan.
2. Memisah-misahkan rekening-rekening (setelah disesuaikan) berdasarkan laporan yang
akan menjadi tempat pelaporan masing-masing rekening.
3. Menghitung dan menguji ketelitian perhitungan laba bersih.
PT SEMERU
Neraca Lajur
31 Desember 1992
Nama Rekening
Kas
Piutang dagang
Cadangan kerugian piutang
Persd bahan baku
Persd barang dlm proses
Persd kantor
Perlengkapan kantor
Perlengkapan angkutan
Perlengkapan pabrik
Asuransi dibayar di muka
Peralatan kerja
Peralatan angkutan
Akm. depr. prltn. angkutan
Peralatan kantor
Akm. depr. prlt. kantor
Mesin
Akm. depr. mesin
Gedung pabrik
Akm. depr. gedung pabrik
Tanah
Paten
Utang dagang
Utang wesel jangka panjang
Modal saham
Laba ditahan
Penjualan
Pembelian bahan baku
Biaya angkut pembelian
Tenaga kerja langsung
Tenaga kerja tak langsung
Pengawasan
Listrik dan air
Rprsi & pmlharaan mesin
PBB pabrik
Gaji pegawai penjualan
Biaya advertensi
Upah bagian pengangkutan
Gaji pegawai kantor
Mcam-mcam biaya umum
Biaya telepon
Kerugian piutang
Biaya prlngkpn kantor
Biaya prlngkpn pngkutan
Biaya prlngkpn pabrik
Asuransi pabrik
Asuransi prltan angkutan
Penghapusan prltn kerja
Depr. prltn. angkutan
Depr. prltn. kantor
Depr. mesin
Depr. gedung pabrik
Amortisasi paten
Utang gaji
Utang biaya telepon
Pajak penghasilan
Utang pajak penghasilan

Neraca Saldo
Debet
11.000
31.000
8.000
2.500
11.200
150
300
750
1.700
1.300
9.000
1.700
72.000
90.000
9.500
12.000
85.100
1.500
59.600
8.940
6.000
2.600
2.500
1.900
18.000
5.500
11.920
15.700
200
2.000
484.560

Kredit
300
1.900
200
3.000
1.500
14.000
50.000
100.000
3.600
310.000
484.560

Penyesuaian
Debet
(l) 400
(l) 60
(l) 80
(m) 2.000

(a) 1.550
(b) 100
(c) 250
(d) 600
(e) 1.100
(e) 300
(f) 200
(g) 2.100
(h) 200
(i) 3.500
(j) 1.800
(k) 800

Kredit
(a) 1.550
(b) 100
(c) 250
(d) 500
(e) 1.400
(f) 200
(g) 2.100
(h) 200
(i) 3.500
(j) 1.800
(k) 800
(d) 100
(l) 540
(m) 2.000

(n) 32.600

47.640

(n) 32.600

47.640

Laporan Harga
Pokok Produksi
Debet
Kredit
8.000
9.000
2.500
7.500
85.000
1.500
60.000
9.000
6.000
2.600
1.900
1.900
600
1.100
200
3.500
1.800
800
187.000

16.500
170.500

187.000

187.000

Harga pokok produksi


Laba Bersih

Laporan Rugi-Laba

Neraca

Debet

Kredit

11.200
18.000
5.500
12.000
15.700
200
4.000

10.300
310.000
-

Debet
11.000
31.000
9.000
7.500
10.300
50
50
250
300
1.100
9.000
1.700
72.000
90.000
9.500
11.200
-

Kredit

4.000
400
6.500
3.300
14.000
50.000
100.000
3.600
-

1.550
100
250
300
2.100
200
32.600
-

540
2.000
32.600

320.300

264.950

218.850
46.100

1.850
-

170.500
274.200
46.100

320.300

320.300

264.950

264.950

1. Perbedaan Neraca Lajur Pada Perusahaan Manufaktur Dan Perusahaan Dagang


Dalam perusahaan manufaktur diperlukan laporan tambahan yang disebut laporan harga
pokok produksi. Penambahan kolom tersebut dalam neraca lajur dimaksudkan agar
penyusunan laporan harga pokok produksi dapat dilakukan dengan mudah, seperti halnya
laporan rugi-laba dan neraca.
2. Penyusunan Neraca Lajur Pada Perusahaan Manufaktur Dan Perusahaan Dagang
Penyusunan neraca lajur pada perusahaan manufaktur dimulai dengan memasukkan
saldo-saldo rekening yang belum disesuaikan ke dalam kolom Neraca Saldo.
Selanjutnya dimasukkan juga penyesuaian yang diperlukan pada kolom Penyesuaian.
Informasi untuk penyesuaian pada PT Semeru :
a. Kerugian piutang ditaksi 0.5% dari penjualan, atau Rp 1.550,00
b. Pemakaian perlengkpan kantor Rp 100,00
c. Pemakaian perlengkapan pengangkutan Rp 250,00
d. Pemakaian perlengkapan pabrik Rp 500,00. Disamping itu dipakai pula bahan baku
seharga Rp 100,00 sebagai perlengkapan pabrik.
e. Biaya asuransi pabrik periode ini Rp 1.100,00 dan biaya asuransi peralatan angkutan
Rp 300,00
f. Peralatan kerja yang masih ada berjumlah Rp 1.100,00. Pemakaian peralatan kerja
pada PT Semeru diperlakukan seperti halnya pemakaian perlengkapan pabrik.
g. Depresiasi peralatan angkutan Rp 2.100,00
h. Depresiasi peralatan kantor Rp 200,00
i. Depresiasi mesin pabrik Rp 350,00
j. Depresiasi gedung pabrik Rp 1.800,00
k. Amortisasi paten per tahun adalah 1/17 dari harga perolehan hak paten atau Rp
800,00
l. Pada akhir tahun, upah yang masih harus dibayar terdiri dari: tenaga kerja langsung
Rp 400,00; tenaga kerja tak langsung Rp 60,00; dan upah pegawai pengangkutan Rp
80,00. Karyawan lainnya dibayar secara bulanan pada tiap akhir bulan.
m. Masih harus dibayar bunga atas utang wesel Rp 2.000,00
n. Pajak penghasilan berjumlah Rp 32.600,00
Memasukkan saldo setelah disesuaikan ke dalam kolom laporan yang sesuai di neraca
saldo. Lalu memasukkan jumlah persediaan akhir. Setelah persediaan akhir dimasukkan ke
dalam neraca lajur, maka tahap selajutnya adalah menjumlah kolom-kolom laporan harga

pokok produksi. Selisih kolom debet dan kolom kredit laporan harga pokok produksi
merupakan jumlah harga pokok produksi pada periode yang bersangkutan.
I. PENYUSUNAN LAPORAN KEUANGAN
Setelah neraca lajur selesai, langkah berikutnya adalah menyusun laporan keuangan yang
datanya telah terseda dalam neraca lajur. Laporan harga pokok produksi disusun dengan
mengutip data yang tercantum pada kolom harga pokok produksi. Demikian pula laporan ruglaba dan neraca disusun dengan mengutip data dari dua pasang kolom terakhir di neraca lajur.
J. JURNAL PENYESUAIAN
Dalam kasus PT Semeru di atas, selain dari perlengkapan pabrik tersebut digunakan pula
sejumlah bahan baku yang berfungsi sebagai perlengkapan pabrik. Dalam informasi (d)
tersebut diterangkan bahwa pemakaian perlengkapan pabrik selama periode tersebut adalah
Rp500,00, selain itu digunakan pula bahan baku seharga Rp100,00 yang berfungsi sebagai
perlengkapan pabrik. Oleh karena itu jurnal penyesuaian yang harus dibuat untuk mencatat
pemakaian perlengkapan pabrik adalah sebagai berikut:
Des. 31

Biaya Perlengkapan Pabrik


Perlengkapan Pabrik
Pembelian Bahan Baku
(untuk mencatat pemakaian perlengkapan pabrik)

600,00
500,00
100,00

Setelah rekening pembelian bahan baku dikredit Rp100,00, maka sisanya sebesar
Rp85.000,00 akan merupakan pemakaian bahan baku dalam periode tersebut, dan dilaporkan
dalam laporan harga pokok produksi.
K. JURNAL PENUTUP
Rekening-rekening yang digunakan untuk menghitung harga pokok produksi pada suatu
periode akuntansi, harus ditutup pada akhir periode.
Des. 31

Des. 31

Ikhtisar Biaya Produksi


Persediaan Bahan Baku
Pers. Barang dalam Proses
Pembelian Bahan Baku
Pembelian Bahan Baku
Tenaga Kerja Langsung
Tenaga Kerja Tak Langsung
Pengawasan
Perlengkapan Pabrik
Reparasi & Pemeliharaan Mesin
Pajak Bumi dan Bangunan Pabrik
Biaya Perlengkapan Pabrik
Asuransi Pabrik
Penghapusan Peralatan Kerja
Depresiasi Mesin
Depresiasi Gedung
Amortisasi Paten
(untuk mencatat rekening-rekening biaya produksi yang
bersaldo debet)
Persediaan Bahan Baku

187.000,00
8.000,00
2.500,00
85.000,00
1.500,00
60.000,00
9.000,00
6.000,00
2.600,00
2.600,00
1.900,00
600,00
1.100,00
200,00
3.500,00
1.800,00
800,00

9.000,00

Persediaan Barang Dalam Proses


Ikhtisar Biaya Produksi
(untuk mencatat persediaan akhir bahan baku dan persediaan
akhir barang dalam proses dan mengurangkannya dari rekening
ikhtisar biaya produksi)

7.500,00
16.500

Pengaruh dari kedua ayat jurnal di atas ialah bahwa rekening ikhtisar biaya produksi
akhirnya akan menunjukan saldo debet sebesar Rp170.500,00.
Saldo Rp170.500,00 dalam rekening ikhtisar biaya produksi ditutup ke rekening RugiLaba bersama-sama dengan penutupan rekening-rekening non biaya produksi seperti nampak
pada kolom debet Rugi-Laba di neraca lajur. Ayat jurnal penutup yang diperlukan adalah
sebagai berikut:
Des. 31

Rugi Laba
Persediaan Barang Jadi
Gaji Pegawai Penjualan
Biaya Advertensi
Upah Pegawai Pengangkutan
Gaji Pegawai Kantor
Maacam-macam Biaya Umum
Biaya Bunga
Kerugian Piutang
Biaya Perlengkapan Kantor
Biaya Perlengkapan Pengankutan
Biaya Asuransi Peralatan Angkutan
Biaya Depresiasi Peralatan Angkutan
Biaya Depresiasi Peralatan Kantor
Pajak Penghasilan
Ikhtisar Biaya Produksi

274.200,00
11.200,00
18.000,00
5.500,00
12.000,00
15.700,00
200,00
4.000,00
1.550,00
100,00
250,00
300,00
2.100,00
200,00
32.600,00
170.500,00

Jurnal penutup lain yang diperlukan adalah untuk menutup rekening-rekening yang masih
tertinggal d kolom Rugi-Laba
Des. 31

31

Persediaan Barang Jadi


Penjualan
Rugi-Laba
(untuk menutup rekening penjualan dan untuk mencatat
persediaan akhir barang jadi)
Rugi-Laba
Laba Ditahan
(untuk menutup rekening Rugi-Laba)

10.300,00
310.000,00
320.300,00

46.100,00
46.100,00

L. MASALAH PENILAIAN PERSEDIAAN PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR


1. Penaksiran Biaya Bahan Langsung Dalam persediaan Akhir
Penaksiran biaya bahan baku langsung yang terdapat dalam barang dalam proses dan
barang jadi biasanya tidak begitu sulit. Setelah jumlah unit barang dalam proses dihitung,
maka bagan produksi biasanya dapat memperkirakan berapa banyak bahan langsung yang
terkandung dalam tiap-tiap barang dalam proses, dan selanjutnya dapat ditentukan berapa
harga bahan langsung yang terkandung dalam persediaan barang dalam proses.
2. Penaksiran Biaya Tenaga Kerja Langsung Dalam Persediaan Akhir

Proses penaksiran biaya tenaga kerja langsung dalam persediaan akhir barang dalam
proses dan persedaan barang jadi pada dasarnya sama dengan penaksiran bahan baku.
3. Penaksiran Biaya Overhead Pabrik Dalam Persediaan Akhir
Overhead pabrik terdiri dari berbagai biaya yang tidak bisa secara langsung
dihubungkan dengan suatu produk atau sekelompok produk. Oleh karena itu, penaksiran
biaya overhead pabrik dalam persediaan akhir merupakan masalah yang sulit.
4. Penaksiran Harga Pokok Persediaan Akhir Pada PT Semeru
Dalam contoh PT Semeru, total biaya tenaga kerja langsung adalah Rp60.000,00 dan
total biaya overhead pabrik adalah Rp30.000,00. Dengan kata lain, selama tahun 1992
perusahaan telah mengeluarkan untuk semua hasil produksinya sebesar Rp2,00 biaya
tenaga kerja langsung untuk setiap Rp1,00 biaya overhead. Dpat juga dikatakan bahwa
biaya overhead adalah 50% dari biaya tenaga kerja langsung.
Biaya overhead, Rp30.000,00
x 100% = 50%
Biaya tenaga kerja langsung, Rp60.000,00
Nilai persediaan akhir barang dalam proses adalah Rp7.500,00 dan persediaan akhir
barang jadi adalah Rp10.300,00. Berdasarkan hasil perhitungan fisik yang dilakukan pada
tanggal 31 Desember 1992, jumlah unit barang dalam proses adalah 1.000 unit dan barang
jadi berjumlah 800 unit. Nilai persediaan akhir di atas diperoleh dengan perhitungan
sebagai berikut:

Bahan langsung
Tenaga Kerja Langsung
Overhead Pabrik 50%
dari tenaga kerja
langsung

Barang dalam Proses


HP Per Unit
Jumlah Unit
Total HP
Rp 3,75
1.000
Rp 3.750
2,50
1.000
2.500

1,25

1.000

1.250
Rp 7.500

HP Per Unit
Rp 5,00
5,25

Barang Jadi
Jumlah Unit
800
800

2,625

800

Total HP
Rp 4.000
4.200

2.100
Rp 10.300

Keterangan: HP = Harga Pokok

M. CONTOH PENYUSUNAN LAPORAN KEUANGAN DALAM PERUSAHAAN


MANUFAKTUR
Pembukuan PT Singgalang per 31 Desember 1992
Biaya Advertensi
Amortisasi Hak Paten
Kerugian Piutang
Depresiasi Mesin Pabrik
Depresiasi Gedung Pabrik
Depresiasi Peralatan Kantor
Tenaga Kerja Langsung
Asuransi Pabrik
Perlengkapan Pabrik
Reparasi dan Pemeliharaan Mesin
Pengawasan Produksi

Rp 85.000,00
16.000,00
28.000,00
78.000,00
133.000,00
37.000,00
250.000,00
62.000,00
115.000,00
31.000,00
74.000,00

Biaya Perlengkapan Pabrik


Pajak Bumi dan Bangunan Pabrik
Persediaan Barang Jadi, 31 Des 1992
Persediaan Barang Jadi, 31 Des 1991
Persediaan Barang dalam Proses, 31 Des 1992
Persediaan Barang dalam Proses, 31 Des 1991
Pajak Penghasilan
Tenaga Kerja tak Langsung
Biaya Asuransi
Biaya Bunga
Persediaan Bahan Baku, 31 Des 1992
Persediaan Bahan Baku, 31 Des 1991
Pembelian Bahan Baku
Gaji Pegawai
Penjualan

21.000,00
14.000,00
12.500,00
15.000,00
9.000,00
8.000,00
53.400,00
26.000,00
55.000,00
25.000,00
78.000,00
60.000,00
313.000,00
150.000,00
1.630.000,00

Laporan-laporan yang disusun oleh PT Singgalan berdasarkan data di atas adalah sebagai
berikut:
PT SINGGALANG
Daftar Biaya Overhead Pabrik
Untuk Tahun yang Berakhir 31 Des 1992
Amortisasi Hak Paten
Depresiasi Mesin Pabrik
Depresiasi Gedung Pabrik
Asuransi Pabrik
Listrik dan Air
Reparasi dan Pemeliharaan Mesin
Pengawasan Produksi
Pemakaian Perlengkapan Pabrik
Pajak Bumi Dan Bangunan Pabrik
Tenaga Kerja tak Langsung
Jumlah Biaya Overhead Pabrik

Rp

16.000,00
78.000,00
133.000,00
62.000,00
115.000,00
31.000,00
74.000,00
21.000,00
14.000,00
26.000,00
Rp 570.000,00

PT SINGGALAN
Laporan Harga Pokok Produksi
Untuk Tahun yang Berakhir 31 Des 1992
Bahan Langsung:
Pers. Bahan Baku, 31 Des 1991
Pembelian Bahan Baku
Bahan Baku Tersedia Digunakan
Pers. Bahan Baku, 31 Des 1992
Pemakaian Bahan Langsung
Tenaga Kerja Langsung
Biaya Overhead Pabrik
Jumlah Biaya Produksi
Barang Dalam Proses, 31 Des 1991
Jumlah Barang Dalam Proses
Harga Pokok Produksi

Rp

60.000,00
313.000,00
373.000,00
78.000,00
Rp

295.000,00
250.000,00
570.000,00
Rp 1.115.000,00
8.000,00
Rp 1.123.000,00
Rp 1.114.000,00
PT SINGGALANG

Laporan Rugi-Laba
Untuk Tahun yang Berakhir 31 Des 1992
Penjualan
Harga Pokok Penjualan:
Pers. Barang Jadi, 31 Des 91
Harga Pokok Produksi
Tersedia Dijual
Pers. Barang Jadi, 31 Des 92
Harga Pokok Penjualan
Laba Kotor
Biaya Operasi:
Biaya Advertensi
Kerugian Piutang
Depresiasi Peralatan Kantor
Biaya Asuransi
Biaya Bunga
Biaya Gaji
Jumlah Biaya Operasi
Laba Sebelum Pajak
Pajak Penghasilan
Laba Bersih

Rp 1.630.000,00
Rp

15.000,00
1.114.000,00
Rp 1.129.000,00
12.500,00
Rp
Rp

1.116.500,00
513.500

85.000,00
28.000,00
37.000,00
55.000,00
25.000,00
150.000,00
Rp
Rp

380.000,00
133.500,00
43.400,00
80.100,00