Anda di halaman 1dari 47

TUGAS PERANCANGAN

KOPLING

Disusun oleh:
IMAM FITRIADI
NPM:
13.813.0023
Prodi:
Teknik Mesin
Dosen Pembimbing:
Ir.AMRU SIREGAR.MT

UNIVERSITAS MEDAN AREA


MEDAN

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan atas kehadirat allah S.W.T yang maha kuasa,karena
kita masih diberi kesehatan dan umur yang panjang. Serta sholawat dan salam pada
junjungan kita nabi Muhammad S.A.W. yang telah membawa kita ke alam yang
penuh dengan ilmu pengetahuan dengan rahmat dan karunianya maka saya dapat
menyelesaikan tugas perancangan kopling ini.
Dalam menyelesaikan tugas perancangan ini,saya telah berusaha sebisa
mungkin agar mendapat hasil yang baik dengan menggunakan literatur dan
pengetahuan yang saya peroleh selama kuliah.
Pada kesempatan kali ini saya ingin menyampaikan terima kasih kepada bapak
Ir.Amru Siregar.MT selaku dosen pembimbing dan juga kordinator dalam tugas
perancangan kopling ini dan juga bapak Bobby Umroh,ST.MT selaku ketua
program studi teknik mesin di Universitas Medan Area. Dan tak lupa pula saya
ucapkan terima kasih kepada kedua orang tua saya yang telah memberikan
dukungan baik secara moral maupun spiritual. Dan teman-teman di fakultas teknik
mesin Universitas Medan Area yang turut membantu saya menyelesaikan tugas
perancangan kopling ini.
Saya menyadari bahwa penulisan tugas perancangan kopling ini masih banyak
kekurangan dan kesalahan. Mudah-mudahan tugas perancangan kopling ini dapat
bermanfaat bagi saya maupun orang lain orang lain yang ingin mengembangkan
ilmu pengetahuan dan teknologi
Medan, 30 Desember 2015
Penulis

IMAM FITRIADI
NPM: 13.813.0023

LEMBAR PENGESAHAN

Judul

: Tugas Perancangan Ulang Kopling Toyota Rush

Nama

: IMAM FITRIADI

NPM

: 13.813.0023

Fakultas

: Teknik

Program Studi : Teknik Mesin


Jenjang

: S1

Medan, 30 Desember 2015


Menyetujui :
Ketua Prodi Teknik Mesin

Dosen Pembimbing dan Kordinator

BOBBY UMROH,ST.MT

Ir.H.AMRU SIREGAR.MT

Mahasiswa

IMAM FITRIADI
NPM : 13.813.0023

ii

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR................................................................................................................ i
LEMBAR PENGESAHAN ....................................................................................................... ii
DAFTAR ISI ...........................................................................................................................iii
BAB I .................................................................................................................................... 1
PENDAHULUAN ................................................................................................................... 1
1.1

Latar Belakang ..................................................................................................... 1

1.2

Tujuan tugas rancangan ...................................................................................... 1

1.3

Manfaat perancangan ......................................................................................... 1

BAB II ................................................................................................................................... 2
LANDASAN TEORI ................................................................................................................ 2
2.1 Kopling................................................................................................................... 2
2.2. Poros .................................................................................................................... 8
2.3 Seplain ................................................................................................................... 8
2.4 Plat Gesek .............................................................................................................. 9
2.5 Pegas ................................................................................................................... 10
2.6 Paku Keling .......................................................................................................... 11
2.7 Baut ..................................................................................................................... 12
2.8 Bantalan .............................................................................................................. 12
BAB III ................................................................................................................................ 14
KOPLING YANG DIRANCANG ............................................................................................. 14
3.1 Gambar kopling yang dirancang ................................................................ 14
3.2 Cara kerja kopling ..................................................................................... 16
BAB IV ................................................................................................................................ 17
PERHITUNGAN DAN PEMERIKSAAN .................................................................................. 17
4.1 Perancangan .............................................................................................. 17
4.2 Perancangan Poros...................................................................................... 17
4.3 Perancangan Spline ..................................................................................... 19
4.4 Perancangan Plat Gesek .............................................................................. 22
4.5 Perhitungan Temperature ........................................................................... 28
4.6 Perhitungan Pegas....................................................................................... 30
4.7 Perhitungan Bantalan.................................................................................. 36
4.8 Perhitungan Baut ........................................................................................ 38
BAB V ................................................................................................................................. 41
iii

KESIMPULAN ..................................................................................................................... 41
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................................. 42

iv

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Tugas rancangan elemen mesin III merupakan kewajiban yang harus

diselesaikan mahasiswa Prodi Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Medan


Area. Oleh karena itu pada kesempatan in penulis mengambil tugas tersebut, yang
berhubungan dengan kopling kendaraan.

1.2

Tujuan tugas rancangan


Untuk merancang ulang sebuah kopling gesek mobil Toyota Rush dengan

tenaga maksimum 109 Ps pada putaran 6000 Rpm. Perancangan meliputi :


a. Ukuran ukuran utama
b. Bahan dari komponen tersebut
c. Gambar assembling dan gambar detail

1.3

Manfaat perancangan
Manfaat perancangan kopling ini adalah :
a. Untuk memperoleh kopling yang lebih efektif dan tahan lama
b. Untuk menambah wawasan penulis dan pembaca mengenai cara kerja
kopling

BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Kopling
Kopling adalah suatu elemen yang dibutuhkan untuk memindahkan daya dan
putaran dari poros penggerak keporos yang digerakkan.
Secara umum kopling dapat dibagi dua yaitu :
1. Kopling tetap
2. Kopling tidak tetap

2.1.1

Kopling Tetap

Kopling tetap adalah suatu elemen mesin yang berfungsi sebagai penerus
putaran dan daya dari poros penggerak keporos yang digerakkan secara pasti tanpa
terjadi slip. Dimana sumbu kedua poros tersebut terletak pada satu garis lurus atau
dapat berbeda sedikit dari sumbunya.
Kopling tetap terdiri dari tiga jenis :
1. Kopling kaku
a. Kopling bus
b. Kopling flens kaku
c. Kopling flens tempa
2. Kopling Luwes
a. Kopling flens luwes
b. Kopling karet ban
c. Kopling karet bintang
d. Kopling gigi
e. Kopling rantai
3. Kopling Universal
a. Kopling universal hook
b. Kopling universal kecepatan tetap

2.1.1.1. Kopling Kaku


Kopling kaku dipergunakan apabila kedua poros dihubungkan dengan sumbu
segaris. Kopling ini dipakai pada poros mesin dan transmisi umum dipabrik
pabrik.
a. Kopling Bus
Kopling bus terdiri dari atas sebuah selongsong (bus) dan baut baut yang
dibenamkan. Sering juga dipakai berupa pasak yang dibenamkan pada ujung
ujung poros.

Gambar 2.1 Kopling Bus


b. Kopling flens kaku
Kopling flens kaku terbuat dari besi cor atau baja cor yang dipasang pada
ujung poros dengan diberi pasak serta diikat dengan baut. Kopling jenis ini tidak
mengijinkan sedikitpun ketidakluusan sumbu kedua poros serta tidak dapat
mengurangi tumbukan getaran transmisi.

Gambar 2.2 Kopling flens kaku

c. Kopling flens tempa


Kopling flens tempa masing masing ujung poros terdapat flens yang dilas
atau ditempa dan kedua flens diikat dengan baut baut. Pada kopling ini momen
dipindahkan melalui pergeseran baut dan pergeseran antara kedua flens.

Gambar 2.3 Kopling flens tempa


2.1.1.2. Kopling Luwes
Kopling luwes atau fleksibel ini digunakan apabila kedudukan yang baik
antara kedua ujung poros satu sama lain tidak dapat diharapkan sehingga kedua
ujung poros itu disambungkan sedemikian rupa sehingga dapat bergerak satu sama
lain.
a. Kopling flens luwes
Kopling flens luwe memiliki bentuk yang hampir sama dengan kopling flens
kaku. Yang membedakan adalah bus karet atau kulit yang terdapat pada kopling
flens luwes sehingga lebih fleksibel.

Gambar 2.4 Kopling flens luwes


4

b. Kopling karet ban


Pada kopling ini momen dipindahkan lewat sebuah elemen yang berbentuk
iklan dari karet.

Gambar 2.5 Kopling Karet Ban


c. Kopling karet bintang
Kopling ini terdiri dari dua paruh yang identic dilengkapi dengan pena
penggerak dan lubang dalam jumlah yang sama sama. Keuntungan kopling ini
adalah aman tembusan aliran.

Gambar 2.6 Kopling karet bintang


d. Kopling gigi
Kopling ini terdiri dari sebuah bumbungan yang bagian dalamnya berbentuk
lurus dan tabung yang bagian luarnya juga berbentuk tirus.

Gambar 2.7 Kopling gigi

2.1.1.3. Kopling Universal


Kopling universal dipakai untuk menyambung dua poros yang terletak dalam
sebuah garis lurus atau garis yang sumbunya saling memotong (membentuk sudut).

Gambar 2.8 Kopling Universal

2.1.2. Kopling Tak Tetap


Kopling tak tetap adalah suatu elemen mesin yang menghubungkan poros
yang digerakkan dan poros penggerak, dengan putaran sama dalam meneruskan
daya, serta melepaskan hubungan kedua poros tersebut baik dalam keadaan diam
maupun berputar.
Macam macam kopling tak tetap :
1. Kopling Cakar
Kopling ini meneruskan momen dengan kontak positif (tidak dengan
perantaraan gesekan) hingga tidak dapat slip. Ada dua bentuk kopling cakar, yaitu
kopling cakar persegi dan kopling cakar spiral.

Gambar 2.9 Kopling Cakar

2. Kopling Plat
Kopling plat adalah kopling yang menggunakan satu plat atau lebih yang
dipasang diantara kedua poros serta membuat kontak dengan poros tersebut
sehingga terjadi penerusan daya melalui gesekan sesamanya.

Gambar 2.10 Kopling Plat


3. Kopling Kerucut
Koplin kerucut adalah suatu kopling gesek dengan kontruksi sederhana dan
mempunyai keuntungan dimana dengan gaya aksial yang kecil dapat memindahkan
momen yang besar.

Gambar 2.11 Kopling Kerucut


4. Kopling Friwil
Kopling ini adalah kopling yang dapat lepas dengan sendirinya, bila poros
penggerak berputar lebih lambat atau dalam arah berlawanan dari poros yang
digerakan.

Gambar 2.12 Kopling Friwil

2.2. Poros
Poros merupakan komponen yang berfungsi untuk mentransmisikan daya dan
putaran dalam suatu kontruksi mesin.
Jenis jenis poros berdasarkan pembebanan yaitu :
1. Poros Transmisi
Pada poros ini daya dapat ditransmisikan melalui kopling, sabuk puly, roda
gigi, sporket rantai dan lain lain.
2. Poros Spindel
Poros spindel ini harus mempunyai deformasi yang sangat kecil, bentuk dan
ukurannya kecil dan umumnya relative pendek.
3. Poros Ganda
Jenis poros ini ganda ini hanya dapat berputar dan mendapat beban puntir,
kecuali jika digerakan oleh penggerak yang mengalami beban puntir juga.
2.3 Seplain
Seplain berguna untuk meneruskan momen dan putaran dari elemen mesin
penggerak ke bagian yang digerakan. Pada pemindahan daya spline menjadi pilihan
utama karena dapat meneruskan daya yang besar.
Jenis seplain berdasarkan jenis gerakannya terhadap poros, yaitu :
1. Seplain Fleauble : dimana bagian yang dihubungkan dengan poros dapat
bergeser secara aksial.
2. Seplain Tetap : dimana bagian yang dihubungkan berkunci pada poros.
Jenis spline berdasarkan bentuk yaitu :
1. Seplain Persegi : jenis ini membuat alur dan gigi berbentk persegi. Poros
ini umumnya mempunyai jumlah spline : 4, 6, 10 dan 16 buah spline.
2. Seplain Involut : jenis ini mempunyai gigi (spline) yang berbentuk sudut
sudut tertentu.

Gambar 2.13 Spline


2.4 Plat Gesek
Plat gesek adalah suatu plat yang digunakan sebagai medium gesekan antar
plat penekan dan flywheel dalam meneruskan putaran dan daya pada mekanisme
kopling.
Hal hal yang harus diperhatikan dalam perencanaan plat gesek yaitu :
1. Bahan plat gesek harus tahan arus dan terhadap suhu yang tinggi.
2. Kekuatan plat gesek.
3. Koefisien plat gesek.

Gambar 2.14 Plat Gesek

2.5 Pegas
Pegas adalah suatu elemen mesin yang dapat meredam getaran dan tumbukan
dengan memanfaatkan sifat elastisnya.
Jenis jenis pegas yaitu :
1. Pegas tekan
2. Pegas tarik
3. Pegas puntir
4. Pegas daun
5. Pegas poring
6. Pegas batang
7. Pegas spiral
8. Pegas matahari (diafragma)

2.5.1. Pegas Kejut


Pegas kejut berfungsi untuk meredam kejutan dan tumbukan pada waktu
kopling bekerja. Dalam hal ini pegas kejut termasuk jenis pegas tekan.

Gambar 2.15 Pegas Kejut

10

2.5.2. Pegas Matahari (diafragma)


Prinsip kerja pegas ini pada dasarnya berbeda dengan pegas yang biasa
digunakan. Defleksi yang terjadi pada pegas ini diakibatkan oleh gaya yang
diberikan oleh bantalan penekan.

Gambar 2.16 Pegas Matahari

2.6 Paku Keling


Paku keling digunakan untuk penyambungan dua plat atau lebih, yang
banyak digunakan pada kontruksi mesin, misalnya pada ketel uap tangki pipa dan
kontruksi mobil.

Gambar 2.17 Jenis jenis paku keling

11

2.7 Baut
Baut merupakan elemen mesin yang berfungsi sebagai sebagai pengikat
antara dua buah komponen.
Baut dibagi menurut bentuk bentuk kepalanya yaitu :
1. Baut segi enam
2. Baut suket segi enam
3. Baut bentuk kepala persegi
Baut dibagi menurut prinsip kerjanya yaitu :
1. Baut tembus
2. Baut tab
3. Baut tanam

Gambar 2.18 Jenis jenis baut


2.8 Bantalan
Bantalan adalah suatu elemen mesin yang berfungsi sebagai tumpuan untuk
poros berbeban, sehingga putaran atau gerakan bolak baliknya berlangsung secara
halus, aman dan tahan lama.
Jenis bantalan menurut gerakannya, yaitu :
1. Bantalan gelinding, terdiri dari dua jenis yaitu :
a. Bantalan pelum
b. Bantalan rod
2. Bantalan Lumur
Jenis bantalan menurut pembebanannya, yaitu :
1. Bantalan Radial : arah bantalan tegak lurus terhadap sumbu poros.
2. Bantalan Aksial : arah bantalan sejajar terhadap sumbu poros.
3. Bantalan gelinding khusus : arah beban tegak lurus dan sejajar dengan sumbu
poros

12

Gambar 2.19 Jenis jenis Bantalan

13

BAB III
KOPLING YANG DIRANCANG
Kopling tak tetap dirancang supaya dapat mentransmisikan daya atau putaran
dalam keadaan berputar atau tidak berputar. Jenis kopling yang dibahas disini
adalah kopling tak tetap yang menggunakan sebuah plat yang berfungsi sebagai
media gesekan antara flywheel dengan plat penekan.
3.1 Gambar kopling yang dirancang

Gambar 3.1 Kopling yang dirancang

14

Keterangan gambar :
1. Roda gigi flywheel
2. Flywheel
3. Plat gesek
4. Poros penggerak
5. Baut pengikat flywheel dengan poros penggerak
6. Bantalanradial
7. Seplain
8. Naf
9. Plat pembawa plat gesek
10. Paku keling pengikat plat gesek
11. Baut engikat tutup kopling
12. Tutup kopling
13. Plat penekan
14. Plat penahan pegas kejut
15. Pegas kejut
16. Poros yang digerakan
17. Sleeve
18. Bantalan aksial
19. Pegas matahari (diafragma)
20. Paku keling pengikat tutup kopling dengan pegas matahari
21. Paku keling
22. Paku keling pengikat kedua plat penahan pegas kejut

15

3.2 Cara kerja kopling


Cara kerja kopling dapat ditinjau dari dua keadaan yaitu :
1. Kopling dalam keadaan terhubung (pedal kopling tidak ditekan)
Poros penggerak yang berhubungan denag motor meneruskan daya dan
putaran ke flywheel (roda penerus) melalui baut pengikat daya dan putaran ini
diteruskan ke plat gesek yang ditekan oleh plat karena adanya tekanan dari
pegas matahari. Akibat putaran dari plat gesek, poros yang digerakan ikut
berputar dengan perantaraan spline dan naf.

2. Kopling dalam keadaan tidak terhubung ( pedal kopling ditekan )


Bantalan pembebas menekan pegas matahari sehingga daya yang dikerjakan
pada plat penekan menjadi berlawanan arah. Hal ini menyebabkan plat
penekan tertarik kearah luar sehingga plat gesek berada dalam bebas diantara
plat penekan dan flywheel. Pada saat ini tidak terjadi transmisi daya dan
putaran.

16

BAB IV
PERHITUNGAN DAN PEMERIKSAAN

4.1 Perancangan
Pada laporan Tugas Rancangan ini penulis merancang/merencanakan kembali
sebuah kopling gesek dari kendaraan roda empat jenis MPV merk TOYOTA RUSH
dengan data spesifik sebagai berikut :

Daya (P)

Putaran (n) = 6000 Rpm

= 109 Ps

Dimana 1 Ps = 0,735 Kw sehingga 109 Ps = 0,735 x 109 Ps


= 80,115 Kw

4.2 Perancangan Poros


Poros adalah suatu manajemen pada mesin yang dimaksudkan untuk dapat
mentransmisikan daya, maka dari itulah perhitungan poros pada perencanaan ulang
ini sangatlah penting, karena daya yang akan dipindahkan/ditransmisikan adalah
berupa putaran, maka poros ini mengalami puntiran atau momen torsi/momen
puntir.
Dimana hal ini akan direncanakan dan dirancang kembali sebuah poros
mampu mentransmisikan daya (P) sebesar 80,115 KW pada putaran 6000 rpm.
Selanjutnya untuk daya rencana (Pd) dari rumus :
Pd = fc . P (KU)
dimana :

Fc

= Faktor koreksi, yaitu daya normal 1,0 1,5


= 1,2 (diambil)

Maka :

Pd

= 1,2 . 80,115
= 96,138 KW

Dengan demikian selanjutnya akan dicari perhitungan :


17

Momen Puntir

= T (kg . m)
Pd
, dimana n = Putaran
n

= 14.4 x 105 .

= 14.4 x 105 x 96,138/4200 = 32961,6 kg.m

Selanjutnya bahan poros yang direncanakan yaitu bahan yang terbuat dari
baja batang yang ditarik dingin dan difinis, baja karbon konstruksi mesin (disebut
bahan S-C) yang dihasilkan dari ingot yang di Kil (baja yang dideoksidasikan
dengan ferrosilikon dan di cor).
Dan untuk poros akan digunakan bahan S 35 C-D yang mempunyai
kekuatan tarik 53 kg/mm2 maka :

Untuk tegangan geser izin (9)

B
SF1 x SF 2

dimana :

= Kekuatan tarik

SF1

= Faktor keamanan, pengaruh massa dan baja paduan = 6,0

SF2

= Faktor keamanan, pengaruh bentuk poros (1,3 3,0)


= 2.0 (diambil)

53 kg / mm 2
SF1 x SF 2 6,0 2,0

= 4,42 kg/mm2

Untuk diameter poros :

5,1

Dari rumus, ds = Kt. Cb.T

dimana :

1/ 3

.(1.6)

ds

= diameter poros (mm)

Kt

= faktor koreksi tumbukan


= 1,0 (diambil)

Cb

= pemakaian beban lentur masa mendatang


= 1,2 (diambil)

5,1

maka : ds = Kt. Cb.T


a

1/ 3

18

5,1

1,0 1,2 32961,6


=
4,42

1/ 3

= 76,99 mm

Dan sesuai dari tabel diameter poros, diambil ds = 71 mm

Untuk tegangan geser (9) yang terjadi :

terjadi =

5,1.T
(kg / mm) 2
3
(ds)

terjadi =

5,1 x32961,6

(71) 3

terjadi = 2,2 kg/mm2


Sesuai syarat dari keamanan poros adalah > terjadi
Dimana

: = 4,42 dan terjadi = 2,2

Maka

: 4,42 > 2,2

Dan dalam hal ini bahan poros yang dibuat dari S 35 C-D dengan diameter 30 mm,
cukup aman digunakan.

4.3 Perancangan Spline


Spline adalah suatu elemen mesin yang fungsinya serupa dengan pasak dan
gerigi, yang dipakai untuk menetapkan bagian-bagian mesin seperti roda gigi,
sproket, puli, kopling dan lain-lain pada poros Momen diteruskan dari poros ke naf
atau naf ke poros.
Pada spline dan gerigi yang mempunyai gigi luar para poros dan gigi dalam
dengan jumlah gigi yang sama pada naf dan saling terkait yang satu dengan yang
lain. Hanya pada spline mempunyai gigi yang besar-besar dengan jarak bagi yang
sama pula, serta dapat digeser secara maksimal pada waktu meneruskan daya.
Dalam perencanaan ini akan dirancang ulang spline dengan jumlah gigi
sebanyak 8 (delapan) buah.

Dan untuk perhitungan perencanaan spline ini perlu diketahui hal-hal


berikut :
N

= Jumlah alur yang direncanakan, dalam hal ini ada 8 buah.


19

= Jarak alur
= (0,156 . ds)

= Tinggi alur
= (0,095 . ds)

= Lebar spline
= (ds / 4)

Dimana ds = diameter poros, diperoleh 71 mm, maka :

Untuk jarak alur (W)


W = 0,156 . ds
= 0,156 . 71 mm
= 11 mm

Untuk tinggi alur (h)


h

= 0,095 . ds
= 0,095 . 71 mm
= 6,75 mm

Untuk panjang spline (L), dengan 1 diambil 1,8


L = 1,5 . ds
= 1,5 . 71 mm
= 106,5 mm

Untuk lebar spline (b)


b

= ds / 4
=

71
mm
4

= 17,75 mm

Untuk diameter dalam (dl)


d1 = 0,81 . ds
= 0,81 . 71 mm
= 57,51 mm

20

Untuk perencanaan spline ini diketahui diameter poros sama dengan diameter luar
spline. Maka, gaya radial pada spline :
P = Mtd/rm (kg)

dimana :
P

= Gaya radial spline

Mtd

= Momen torsi design (T)

rm

= Jari-jari rata-rata antara poros dengan spline

Untuk mencari rm, dihitung dengan rumus :


rm

= ds +

d1
(mm)
4

= 71 + (24,3 / 4)
= 71 + 6,075
= 76,075 mm

Gaya radial spline (P)


P = Mtd/rm
= 12170 / 76,075
= 159,98 kg

Tegangan geser yang terjadi (g)


g =

P
(kg/mm2)
F

dimana :

. (ds2 d2)
4

F=
g =

P
F

159,8
/ 4.(71) 2 (24,3) 2

12170
12170
12170

3,48 Kg /
3,14 / 4.(5041 590,49) 0,785 (4450,51) 3493,65

mm2

21

Dikarenakan bahan spline sama dengan poros, maka tegangan geser izinnya adalah
:
=

53
= 4,42 kg/mm2
6,0 . 2,0

Dari perhitungan diatas diperoleh terjadi dari spline = 3,21 kg/mm2 dan
spline = 4,42 kg/mm2.
Sesuai syarat keamanannya, > terjadi
Maka : 4,42 > 3,48
Jadi bahan dan konstruksi perencanaan spline ini aman untuk dipakai.

4.4 Perancangan Plat Gesek


Plat gesek adalah suatu elemen mesin yang berfungsi sebagai media penerus
daya daari putaran penggerak kepada yang akan digerakkan. Ini terjadi karena
adanya gaya gesekan antara plaat gesek ashes dengan plat gesek baja, dan gaya
yang terjadi akibat tekanan dari pegas. Maka dari rumus momen torsi yang terjadi
pada plat gesek adalah :
Mtd =

2 .P.b.F .rm 2

....kg / cm2

Dimana :
P

= Tekanan bidang gesek


= diambil = / 3,5

= lebar bidang gesek

rm

= Jari-jari bidang gesek

= koefisien gesek (0,1 0,2)


= diambil = 0,2

= jumlah pasangan permukaan gesek = 1 buah

= Faktor over load (1,2 1,5)


= 1,3 (diambil)

dan

b
rm

= (0,2 0,5)

Mtd

= 12170 kg . mm

= diambil (0,5) 0,5 rm


b

= 0,5 rm

22

Maka Mtd

2 .P.b.F .rm 2 .Z

12170 =

2.3,14 . 3,5 . 0,5 rm . 0,2 . rm 2 .1


1,3

12170 =

2,198 3
rm
1,3

12170 = 1,69 rm3


rm =

12170
1,69

rm = 10,86 cm 108,6 mm

Dan lebar bidang gesek (b) :


b = 0,5 rm
= 0,5 . 108,6
= 54,3 mm
- Jari-jari dalam bidang gesek (r1)

= rm +

b
2

= 108,6 +

543
2

= 380,1 mm
- Diameter dalam bidang gesek (d1)

= 2 . r1
= 2 . 380,1 mm
= 760,2 mm

- Jari-jari luar bidang gesek (r2)

= r1 + b
= 380,1 + 54,3
= 434,4 mm

- Diameter luar bidang gesek (d2)

= 2 . r2
= 2 . 434,4 mm
= 868,8 mm

Akibat dari aksi plat gesek tersebut, timbullah gaya atau beban yang menimbulkan
tekanan (gaya F). Dari rumus, F =

(d 22 d12 ) Pa

23

Dimana : pa = Tekanan rata-rata pada bidang gesek 0,007 0,07, karena bahan
yang diambil asbes (ditenun).
= 0,07 (diambil)
Maka :

F=
=

(d 22 d12 ) Pa

((868,8)2 (760,2)2 ). 0,07 F = 9737,879 kg


4

Momen percepatan mesinnya (Mpm)


Dari rumus,
2 . AP
W .t

Mpm =
Dimana : AP

= Kerja Kopling
=

N . t . 75
(kg cm) N = Daya rencana (80,115 KW)
2

t = Waktu Penyambungan Kopling


= 2 detik
80,115. 2 .75
2

AP

AP

= 6008,625 kg cm

= Kecepatan Sudut

= 628 rad / s

2 . n
(2 . 3,14) . 6000 rm
(rad / s)
60
60

Jadi, Mpm

2 . AP
W .t

2 5622,75 11245,2

8,95 kg . cm / rad
628 2
1256

Momen puntir (Mt) yang terjadi pada plat gesek :


Mt = 71620 .
= 71620 .

9,8
6000

dimana

= 9,8
n = 6000 rpm

= 116,9 kg cm
24

Sehingga didapatlah momen gesek total (Mgt) yang terjadi :


Mgt

= Mt + MPm
= 116,9 + 8,95
= 125,85 kg . cm
= 1,25 kg . m

Untuk perhitungan daya gesek


Daya gesek disini adalah merupakan kegiatan akibat kecepatan plat gesek

yang belum sempurna.


Dengan rumus :
Ng =

Mgt .W . t . Z
2 . 75 . 3600

Dimana :
Ng

= Daya gesek (HP)

Mgt

= Momen gesek total


= 1,23 kg.m

= Kecepatan sudut = 659,4 rad/s

= Waktu yang dibutuhkan untuk penyambungan kopling = 2 detik

= Kerja kopling / jam (5-30)


= 30 kali per jam (3600 detik) = 30 diambil

Maka :
Ng =

Mgt .. t . Z
2 . 75 . 3600

Ng =

1,25.628.2.30
2 . 75 . 3600

Ng = 0,087 HP

Untuk Perhitungan Umum Plat Gesek


Umur plat gesek ini sangat tergantung pada jenis bahan geseknya, tekanan

konstant, kecepatan keliling (kopling), temperatur dan lain-lain.


Maka dari itulah sukar untuk menentukan umur plat gesek secara teliti. Dan
berdasarkan tafsiran kasar untuk umur plat gesek, dapat menggunakan rumus
sebagai berikut :

25

Nml =

L3
E .W

Dimana :
L

= Volume keausan yang diizinkan 63,5 cm3

= Laju keausan permukaan bidang gesek (6-12) x 10-7 cm3 / kg cm.

= 8 x 10-7 cm3 / kg cm (diambil)


=

2 .T . P
12

2 .12170.80,115
12

T =Momen Torsi Rencana =12170 kg

. cm
P = Daya Rencana = 80,115 KW

= 141650 kg . cm / hubungan
Maka diperoleh :

Nml =

L3
E .W

Nml =

(63,5) 3
152064,15.8 x 10 7

Nml = 1024191,5 (hb)

Seumpamanya kopling dianggap rata-rata 10 jam/kali, diambil frekuensi


penghubung Fr = 6,0 /menit, dengan 300 hari hitungan untuk tiap tahun.

Jadi umum kopling dalam jumlah tahun :


Nmd =

Nml
6 . 60 .10 .300

Nmd =

1024191,5
0,94 (tahun)
1080000

Jadi umur plat gesek diperkirakan 1 tahun dengan pemakaian kopling ratarata 10 jam per hari.

Tebal Plat Gesek :


Dengan rumus :
26

Ng . L
Ag . Ak

a=

Dimana

:L

= Lama pemakaian plat gesek, (direncanakan 21600 Jam)

Ag = Luas bidang yang bergesek pada kopling


=

(d 22 d12 )

= 0,785 [(868,8)2 (760,2) 2]


= 138873,879 mm2
Ag

= 13,88 cm2

Ak

= Faktor kopling yang menyatakan rusak


(5-8) HP/cm, jam
= 6 (diambil)

Ng

= Daya gesek
= 0,087HP

Maka :

Ng . L
Ag . Ak

0,087 . 21600
13,88 . 6

= 0,22 cm = 2,2 mm

Jadi tebal plat = 2,2 mm

Besar daya maksimum (Pmax) :


P maksimum dengan tebal 3,2 mm, adalah :
Pmax =

Mtd .n
71620

= 6000 rpm

Mtd = 17045 kg, mm

Pmax =

12170 .6000
71620

= 1019,54 dk (HP)

Besar daya mekanis (Pm)


Dengan rumus :
27

P max . Z .t / 2 N (3600 Z .t )
3600

Pm =

Dimana : z = 30 kali (kerja kopling / jam)


t = 2 menit
n = 109 PS
Maka :

1019,54.2. 30 .(
Pm =

2
) 62,475 3600 (30 . 2)
2
3600

Pm = 78,42 HP

Jadi besar daya mekanis pada kopling dengan tebal plat 3 mm = 115,33 HP
Dengan efisiensi daya yang terjadi ( )

Pm Ng
x100%
Pm

78,42 0,087
x100%
78,42

= 0,87 x 100%
= 87 %

4.5 Perhitungan Temperature


Kerja penghubung pada plat gesek menimbulkan panas, dan panas ini harus
diperhitungkan pengaruhnya terhadap kekuatan plat gesek serta bahan yang
digunakan. Adapun persamaannya dalam perhitungan panas ini adalah :
Ng =

Ag . t .
632 / n

dimana : Ng

= Gaya gesek yang diperoleh = 0,090 Dk

Ag

= Luas bidang gesek = 219749,76 mm2

At

= Beda temperature

= Faktor perpindahan panas yang tergantung pada kecepatan rata-

rata
Dan besar kecepatan rata-rata :
28

Vr = W . rm (

m
)
s

Dimana : Vr = Kecepatan rata-rata kopling


W = Kecepatan sudut
= 659,4 rad/s
rm = Jari-jari rata-rata
= 36,075 mm
= 0,036 m
Maka diperoleh :
Vr = W . rm

= 659,4 x 0,036
= 23,73 m/s

Berikut ini adalah tabel hubungan antara Vr dan


Vr (m/s)

(K.Kal / m 0C)

4,5

24

10

46

15

57

20

62

25

72

35

90

40

102

45

114

50

135

60

155

Dari tabel diatas diperoleh :


= 155 +

(53,16 60) . (155 135)


60 50

= 155 +

( 6,84) . (20)
10

= 155 + (-13,68)
= 141,32 kkal / m3 0C
Dengan demikian T dapat diketahui, dari rumus daya gesek (Ng) :
29

Ng =

Ag . t .
632 / n

t =

219749,76 x 0,090
0,07 x 141,32 x6300

19777
62322,12

t = 0,32 0C
Maka, dengan temperatur kamar (Tk) adalah 30 0C, didapat temperatur kerja
kopling yang terjadi :
Tw

= t + Tk
= 0,32 + 30

= 30,32 0C

Temperatur kerja itu untuk asbes adalah 150 0C 250 0C, tapi untuk
keseluruhan kopling pada umumnya dijaga agar suhunya tidak lebih tinggi dari 80
0

C. Dan dari kerja diatas :


Tw < T

Dengan Tw = 30,32, dan T = 80 0C, maka 30,32 0C < 80 0C. Dalam hal ini kerja kopling
aman pada temperatur yang terjadi.

4.6 Perhitungan Pegas


Dalam perencanaan ini pegas yang dipakai adalah jenis pegas penekan.
Fungsi dari pegas jenis ini adalah sebagai media penekan untuk melepaskan plaat
gesek dengan menggunakan mediator atau alat bantu lain, sehingga kecuali keposisi
semula (berhubungan kembali).
Penggunaan pegas ini juga sebagai pengatur gaya supaya normal dan merata
pada plat pembaut sehingga gaya yang diterima plat gesek juga merata. Untuk
jelasnya dalam mencari perhitungannya, berikut adalah sekilas sketsa ukuran utama
pegas.

30

Keterangan Gambar :
Lmax = Panjang pegas awal, tanpa adanya gaya (F = 0)
Lmin = Panjang pegas akhir, setelah mengalami lendutan akibat gaya maksimal
yang diterima pegas.
D

= Diameter pegas

= Diameter kawat

= Kisar atau jarak antar kauat

= Kisar putar

Beban maksimum (Wt) yang diterima pegas

Wt = Pa . Ag
Dimana :
Pa = Ng = daya gesek (tekanan rata-rata pada bidang gesek)
= 0,090 HP (didapat dari plat gesek).
Ag = luas plat gesek
= 2197,4976 mm2

Wt = Pa . Ag
= 0,090 x 2197,49
= 197,77 kg

Taksiran awal

31

Indeks pegas :

C=

D
= 4-10
d

= 5 (diambil)

Maka faktor tegangan Wahl (K) = 1,32

Tegangan geser yang terjadi :


=k

8.D.W
.d 3

= 1,32

8.50.197,77
.10 3

= 33,23 kg/mm2

Bahan yang dipilih


Tabel Baja Pegas JIS G 4801

Lambang

Perlakuan panas (oC)

Batas

Kekuatan

Kekerasan

Celup

mulur

tarik

(Hb)

(kg/mm2)

(kg/mm2)

Temper

dingin
SUP 4

830-860

450-500

90

65

352-415

SUP 5

Pendinginan 480-530

90

65

363-429

SUP 6

minyak

490-540

110

115

363-429

SUP 7

460-510

110

125

363-429

SUP 10

470-540

110

125

363-429

SUP 11

460-510

110

125

363-429

32

Bahan

Lambang

Modulus geser
G (kg/mm2)

Baja pegas

SUP

8 X 103

Kawat baja keras

SW

8 X 103

Kawat piano

SWP

8 X 103

----

8 X 103

Kawat kuningan

SUS

7,5 X 103

Kawat perak nikel

BsW

4 X 103

Kawat ditemper dengan


minyak

NSWS

4 X 103

Bahan yang dipilih baja pegas SUP 4 dengan a = 65 kg/mm2


Dari tabel modulus geser (G) = 8 X 103
Maka tegangan geser rencana (d )
d = a X G
= 65 X 8.103
= 52 kg/mm2

Tegangan geser rencana < tegangan geser izin


d < a
52 kg/mm2 < 65 kg/mm2

Maka pegas aman untuk digunakan

Jumlah lilitan yang bekerja (n)

8 . n . D 3 .Wt
20 =
d 4 .G
20 =

8n.50 3.197,77
10 4.8000

20 = 8n . 0,30
8n = 6,6
n = 8,3 = 8 lilitan

Jumlah lilitaan efantip (N)

N=n+2
33

= 10 buah

Lendutan (defleksi) yang terjadi () :

= 20 X

8
8,3

= 19,2

Untuk panjang pegas maksimum :


Lmax = (n . d) + [(N 1) k]

Dimana :
n = jumlah lilitan efektip
d = diameter kawat
N = jumlah total lilitan
k = jarak / kisar lilitan =
k = Wt /
= 197,77 / 19,2
= 10,30 mm
Maka :
Lmax = (8.5) + [(10-1) .10,30 ]
= 132,7 mm

Panjang pegas setelah menerima gaya F :


L

= {Lmax }
= 132,7 19,2
= 113,5 mm

Untuk panjang pegas minimum (Lmin) :

Lmin = L total
Dimana : total = - S1
S1

= Kelonggaran plat gesek dengan plat penekan


= 2 mm (direncanakan)

Maka S total

= 24,25 + 2
= 26,25 mm

Jadi : Lmin

= 113,5 26,25
= 87,25 mm
34

Beban awal terpasang (Wo)


Wo = (Hf - Hg) . 10,3
= (70-66) . 10,3
= 41 kg

Lendutan efektif (h)


h=4
h = 19,2 4
h = 15,2 mm
maka tinggi pada lendutan max (Hi)
Hi = Hs h
= 66 15,2
= 50,8 mm

Tinggi mampat (Hc)


Hc = d (n + 1,5)
= 5 (8 +1,5)
= 47,5 mm

Maka :
tinggi pada lendutan max > tinggi mampat
Hi > Hc
50,8 mm > 47,5 mm (baik)
Diameter standar dari kawat baja keras dan kawat musik
0,08

0,50

2,90

* 6,50

0,09

0,55

3,20

* 7,00

0,10

0,60

3,50

* 8,00

0,12

0,65

4,00

* 9,00

0,14

0,70

4,50

* 10,00

0,16

0,80

5,00

0,18

0,90

5,50

0,20

1,00

6,00

0,23

1,20

0,26

1,40

0,29

1,60
35

0,32

1,80

0,35

2,00

0,40

2,30

0,45

2,60

4.7 Perhitungan Bantalan


Dalam rancangan ini akan digunakan adalah jenis bantalan gelinding,
adapun bantalan ini berguna untuk menumpu poros berbeban sehingga putaran
dapat berlangsung secara halus, aman dan awet. Dimana bantalan gelinding yang
akan digunakan berupa bantalan radial alur dalam yang menggunakan bola baja
sebagai media gelindingnya. Cincin dan elemen gelinding pada bantalan dibuat dari
baja bantalan kurom karbon tinggi.
Bantalan ini menerima gaya radial (Pr), sebesar gaya untuk melepas
hubungan antara plat gesek dengan gaya penekan (P2) yaitu :
Pr = F
Pr = 526,18 kg
Gaya ekuivalensi yang bekerja pada bantalaan (Po) :
Po = X . U . P (Y Pr) . tg
Dimana :
X = Faktor kecepatan
= 0,43 (diambil)
P = Gaya aksial = 0 kg
V = Faktor kecepatan keliling
= 1,2 (diambil)
= Sudut tekan pada bantalan = 200

Maka :
Pr = Gaya radial
Y = Faktor aksial
= 1,0 (diambil)

Maka :
36

Po = Y . Pr . tg
= 1,0 . 526,18 . tg 200
= 191,51 kg

Kapasitas beban dinamis (C) dengan bantalan L (ranting Jife) Hubungan rating
life dengan umur permukaan pada bantalan.

C
L=

Po

Dimana : a = Konstanta bantalan radial


= 3 (direncanakan)

Dengan :

= perbandingan beban dinamis dengan beban total


Po
a

60 . n . Lh
C

=
10 6
Po

Dimana : Lh = umur permukaan bantalan


= 25000 jam (direncanakan)
n = 6300 rpm
Po = 191,51 kg

Sehingga kapasitas beban dinamis :


C = Po

60 . n . Lh
10 6

C = 191,51

C = 191,51

60 . 56300 . 25000
10 6

9450

C = 191,51. (21,14)
C = 4048,88 kg
Setelah (C), didapat maka ukuran-ukuran bantalan dapat dicari pada tabel
(lihat pada Buku Sularso, halaman 143)
Dengan C = 4048,88 kg yang mendekati adalah C = 4150 kg

37

Maka dari tabel dilihat :


d = diameter dalam

= 45 mm

D = diameter lua = 100 mm

B = lebar bantalan = 25 mm

r = radius sudut = 2,5 mm

4.8 Perhitungan Baut


Dalam hal ini baut berfungsi sebagai penahan/pengikat antara pegas dan
rumah bantalan, jadi baut yang direncanakan hanya menerima gaya yang besarnya
sama dengan gaya yang ditimbulkan oleh masing-masing pegas.
Banyaknya baut pengikat pada rancangan ini ada 4 (empat) buah, maka gaya
yang diterima oleh rumah bantalan adalah 4 kali gaya yang ditimbulkan baut yaitu
:
Po = 4 F1

Dimana :
Po = gaya yang ditimbulkan total baut
F1 = gaya pada masing-masing baut
= gaya maksimum pada masing-masing pegas
= 131,54 kg
Maka : Po = 4 . 131,54
= 526,16 kg
Dengan baut yang direncanakan dibuat dari bahan baja S 30 C dengan faktor
keamanan (5+) = ID, dan kekuatan tarik = 4800 kg. Maka tegangan tarik (Vt) izin

4800
10

= 480 kg/mm2
Karena tegangan geser yang terjadi < tegangan geser izin adalah :
Maka :
g = 0,8 .
g = 0,8 . 480
g = 384 kg / mm2 = 38400 kg /cm2

38

Karena tegangan geser yang terjadi < tegangan geser izin


Maka :
> terjadi

F1
A

Dimana : g =

P1 = gaya pada masing-masing pegas / baut = 21,15 kg


A = Luas penampung baut

4 do 2

do = diameter baut
Maka : g >

F1
A

38,4 >

131,54
/ 4 do 2

Distribusikan :
do =

131,54
3,14 . 38,4

do =

131,54
120,576

do = 1,09
do = 1,04 cm = 10,4 mm

Maka untuk menghitung diameter baut standard dipakai :


10,4 11 mm (diambil)
Jadi do = 11 mm atau ukuran M 11 (untuk ulir baut)
Dari tebal baut :
-

PITCH (P)

= 1,5 mm

Diameter Luar (d)

= 11mm

Diameter Efektif (d2)

= 10,026 mm

Diameter Dalam (d1)

= 9,376 mm
39

Selanjutnya untuk pemeriksaan terakhir pada baut akan dicari tegangan tarik
yang timbul pada setiap batang baut dengan rumus :
=

F1
A

Dengan :
F1 = 131,54 kg
A=

. (0,5)2
4

3,14
. 0,25
4

= 0,785 . 0,25
= 0,19625 cm2
Maka :
t =
=

F1
A
131,54
670 kg / cm 2
0,19625

= 283 kg/cm2
Dengan demikian batang baut dalam keadaan aman untuk digunakan karena
g > terjadi
38400 kg/cm2 > 670 kg/cm2

40

BAB V
KESIMPULAN
Dalam perencanaan kopling ini diambil kesimpulan dari ukuran-ukuran
benda kerja :
Hasil-hasil perancangan dan perhitungan :
a. Diameter poros

= 71 mm

b. Diameter spline (diameter dalam )

= 57,51 mm

Lebar spline

= 17,71 mm

Panjang spline

= 106,5 mm

Gaya radial spline

= 159.98 kg

Tinggi alur spline

= 6,75 mm

Jarak alur spline

= 11 mm

c. Tebal plat gesek

= 22,5 mm

Jari-jari bidang gesek

= 108,6 mm

Jari-jari luar

= 434,4 mm

Jari-jari dalam

= 38,01 mm

d. Temperature kerja

= 30,32 0C

e. Diameter pegas

= 50 mm

Diameter kawat pegas

= 5 mm

Jarak lilitan

= 10,30 mm

Jumlah lilitan

= 10 lilitan

Panjang pegas

= 132,7 mm

Gaya kerja pada pegas

= 41 kg

f. Diameter luar bantalan

= 100 mm

Diameter dalam bantalan

= 45 mm

Lebar bantalan

= 25 mm

Radius sudut

= 2,5 mm

41

DAFTAR PUSTAKA
1. Sularso dan Kiyokatsu Suga, 1994 , Dasar Perencanaan dan Pemilihan Elemen
Mesin, Jakarta : Pradnya Paramita

42