Anda di halaman 1dari 3

BAB III

ANALISA KASUS

Pasien atas nama Tn.T, 75 tahun, dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Jitra - Bengkulu karena
batuk berdahak bercampur darah 2 hari SMRS. Batuk berdahak bercampur darah kurang lebih
150cc per 24 jam. Pasien juga mengeluhkan sesak nafas yang makin memberat 7 hari SMRS,
serta batuk berdahak 2 minggu SMRS.
Pasien memiliki riwayat merokok, sakit tuberkulosis paru ( pada tahun 2013 ) yang sudah
mendapatkan pengobatan selama 6 bulan dan dinyatakan sembuh.
Pasien pernah mengalami keluhan serupa pada bulan desember 2015.
Pemeriksaan fisik bermakna:
Keadaan umum
Kesadaran

: Tampak sakit sedang


: compos mentis

Tanda-tanda vital

Tekanan Darah

: 130/80 mmHg

Nadi

: 92 kali/menit, teratur, kuat, penuh

Suhu

: 38C

Laju pernapasan

: 28 kali/menit

Pemeriksaan thoraks

: terdapat ronki basah halus pada lapang paru kanan bagian


terutama bagian medial dan basal

Rontgen thoraks Desember 2015

13 | P a g e

Rontgen Thorax 22 Februari 2016

Keluhan utama pasien adalah batuk darah. Keluhan tersebut pernah dialami pasien sebelumnya
pada bulan desember 2015, kurang lebih 3 bulan SMRS. Pasien memiliki riwayat penyakit
tuberkulosis pada tahun 2013 dan sudah mendapatkan pengobatan dengan OAT yang adekuat
serta sudah dinyatakan sembuh.
Pada pasien tersebut didapatkan gejala klasik tuberkulosis paru berupa penurunan berat badan,
batuk lama dan keringat pada malam hari. Pada kunjungan pertama di bulan Desember 2015,
didapatkan hasil BTA (-), begitu pula pada kunjungan di bulan Februari 2015. Pada foto rontgen
thorax tertanggal Desember 2015, terdapat gambaran kavitas dan infiltrat luas pada lapang paru
kanan. Pada rontgen thorax tertanggal Februari 2016, gambaran kavitas menetap, sedangkan
infiltrat berkurang, dan terdapat garis fibrotik.
Dari keterangan dan pemeriksaan yang telah dilakukan, dapat diambil beberapa poin sebagai
berikut :

Pasien laki-laki, 75 tahun


Memiliki riwayat merokok selama 55 tahun
Memiliki riwayat sakit tuberkulosis pada tahun 2013 dan sudah mendapatkan terapi OAT
yang adekuat
Keluhan batuk darah pertama kali pada Desember 2015 dan berulang pada Februari 2016
Hasil tes BTA pada kedua kunjungan tersebut adalah negatif
Secara klinis didapatkan gejala klasik tuberkulosis
Pada gambaran radiologi menunjukan gambaran sugestif peradangan pada paru paru

Dari beberapa poin yang telah disebutkan, ada pertanyaan yang penulis dapat sampaikan, yaitu :

Selain memberikan penanganan awal (menjaga patensi jalan nafas, menghentikan


perdarahan), terapi definitif apa yang dapat diberikan pada pasien tersebut mengingat
gambaran klinis dan radiologi yang telah dilakukan?
Apakah pemberian antitusif memiliki manfaat pada pasien tersebut?

Menurut beberapa literatur yang telah dikumpulkan penulis, penanganan pada pasien tersebut
meliputi penanganan awal dan terapi definitif. Penanganan awal pada pasien meliputi :

Menjaga patensi jalan nafas pasien


Menghentikan perdarahan dengan obat antifibrinolitik seperti asam traneksamat dan
suplementasi vitamin K
Pemberian suplementasi oksigen menggunakan nasal canule atau masker oksigen

14 | P a g e

Terapi definitif dapat ditentukan setelah mengetahui apa yang mendasari keluhan pasien. Pada
pasien ini telah dilakukan pemeriksaan untuk menyingkirkan kemungkinan kemungkinan yang
ada seperti penyakit kardiovaskular, gangguan hepar, dan hematologis. Berdasarkan literatur
yang didapatkan penulis, terdapat beberapa terapi definitif yang memungkinkan pada pasien
diatas, antara lain sebagai berikut :

Trial pemberian obat tuberkulosis yang diberikan selama fase intensif 2 bulan (2RHZE).
Lalu pada akhir bulan ke dua dilakukan rontgen thoraks untuk melihat respons terapi.
Apabila berespons baik maka pemberian OAT dilanjutkan.
Pemberian antibiotik non OAT seperti golongan cephalosporin yang memiliki spectrum
luas. Respons terapi dapat dinilai dari klinis pasien dan juga rontgen thoraks.

Pemberian terapi definitif tersebut didasarkan pada keputusan klinis dari dokter yang menangani.
Perhitungan dari keuntungan dan kerugian yang didapatkan pasien juga merupakan salah satu hal
yang harus dipertimbangkan, terlebih dalam memberikan terapi OAT yang komponen obatnya
bersifat toksik untuk hepar.
Mengenai pemberian antitusif, beberapa literatur mengatakan bahwa pemberian antitusif boleh
diberikan pada kasus hemoptoe yang ringan atau hanya berupa bercak saja. Beberapa penulis
mengatakan bahwa pemberian antitusif pada kasus hemoptoe massif (>300 cc /24 jam)
dikhawatirkan dapat memicu aspirasi, terutama pemberian antitusif yang kuat seperti kodein.

15 | P a g e