Anda di halaman 1dari 9

MAKALAH ANALISA JURNAL

PENYAKIT HISPRUNG PADA BAYI PREMATUR :


IMPLIKASI UNTUK DIAGNOSIS DAN OUTCOME
Untuk memenuhi tugas mata kuliah
FUNDAMENTAL OF PATHOPHYSIOLOGY DIGESTIVE
Yang dibina oleh Ns. Rinik Eko Kapti, S.Kep, M.Kep

Oleh:
Kelompok 3
Awalyn Putri Nizaul Chosna

(125070218113012)

Diah Puspita A

(125070218113052)

Keyfin Aliffah R.K

(125070218113044)

Resti Riandani

(125070218113010)

Umi Nur Afifah

(125070218113006)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2015
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang atas


rahmat-Nya maka kami dapat menyelesaikan makalah sharing jurnal
yang berjudul Penyakit Hisprung pada Bayi Prematur: Implikasi untuk
Diagnosis dan Outcome tepat pada waktunya.
Dalam

Penulisan

makalah

ini

kami

merasa

masih

banyak

kekurangan-kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi,


mengingat akan kemampuan yang kami miliki. Untuk itu kritik dan
saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan
pembuatan makalah ini.
Dalam penyusunan makalah ini kami menyampaikan ucapan
terima

kasih

kepada

pihak-pihak

yang

membantu

dalam

menyelesaikan makalah ini.


Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca, oleh karena itu
kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun penulis
harapkan demi mencapai kesempurnaan makalah berikutnya.
Sekian penulis sampaikan terimakasih kepada semua pihak yang
telah membantu. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha
kita. Amin.

Kediri, 08 Juni 2015

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman sampul................................................................................................
1
Kata pengantar...................................................................................................
2
Daftar isi.............................................................................................................
3
Pembahasan...................................................................................
4
1.1Judul.......................................................................................................
4
1.2Topik.......................................................................................................
11
1.3Pengarang..............................................................................................
13
1.4Latar Belakang.......................................................................................
18
1.5Metode...................................................................................................
18
1.6Hasil Penelitian.......................................................................................
18
1.7Diskusi....................................................................................................
18
1.8Aplikasi di Indonesia...............................................................................
18
1.9Kesimpulan.............................................................................................
18
Lampiran Jurnal..................................................................................................
3

PEMBAHASAN

I.

II.
III.
IV.

Judul
Penyakit Hisprung pada Bayi Prematur: Implikasi untuk
Diagnosis dan Outcome.
Topik
Implikasi untuk diagnosis dan outcome pasien hisprung.
Pengarang
Katherine J. Baxter, B.S., Amina M. Bhatia, M.D.
Latar Belakang
Penyakit hisprung (HD) adalah suatu kelainan dengan
tiadanya sel ganglion bawaan dalam usus distal yang meluas
dan

memanjang

hisprung

ini

sampai

biasanya

dengan

muncul

usus

sebagai

besar.

Penyakit

obstruksi

usus

neonatal. Obstruksi usus menjadi penyebab utamanya HD.


Hd juga pernah terjadi pada bayi yang premature. Diagnosis
atau penanganan yang lama melampaui waktu 1 minggu
setelah kelahiran akan mengakibatkan secara signifikan
meningkatkan resiko tinggi komplikasi pada pasien. Pasien
neonatal berada pada resiko tertinggi dan akan berkembang
pada sepsis dan akan mengancam jiwa. Diagnose atau
penanganan

yang

lama

juga

akan

pengobatan dan jika dilakukan tindakan

mempengaruhi
pembedahan.

Pasien ini lebih mungkin untuk diperlukan ostomy. Peneliti


berhipotesa bahwa HD lebih sering terjadi pada bayi yang

premature dari pada dengan bayi yang cukup bulan. Dan


penanganan yang lama akan mengakibatkan peningkatan
V.

morbiditas dan menejemen pemebedahan.


Metode
Metode penelitian dalam jurnal ini di simpulkan dalam
sebuah grafik retrospektif pada sebuah data HD pada Januari
2002 sampai dengan Januari 2012 di Rumah sakit Egleston.
Data tersebut di tinjau berdasarkan dari data demografi,
kelahiran, perawatan bedah dan kehamilan. Dari data
tersebut di dapatkan manifestasi yang sering di alami oleh
masyarakat yang mederita hisprug yaitu diare atau sembelit,
distensi

VI.

abdomen.

Penatalaksanaan

operasi

di

lakukan

setelah 24 jam di diagnosa.


Hasil Penelitian
Menurut review indentifikasi grafik dari 132 subjek
yang terdiagnosis penyakit hipsrung dari tahun 2002 sampai
2012. Keseluruhan data adalah 81 persen laki-laki (4,28: 1
rasio) dan usia rata-rata saat diagnosis adalah 0,49 bulan.
Tanda-tanda yang paling umum dari presentasi HD adalah
distensi abdomen (91,5%) dan emesis (56,6%). Bagian
mekonium didokumentasikan di 47,7 persen dari pasien.
Sebuah riwayat keluarga HD dilaporkan di 5,6 persen dari
kasus. Enema barium positif untuk zona transisi di 62,9
persen dari pasien. Associated anomali kongenital utama
yang ditemukan di 24,4 persen dari pasien. The terkait
anomali kongenital utama yang paling umum adalah trisomi
21 dalam delapan (6,1%) pasien dan kongenital sindrom
hipoventilasi

pusat (CCHS) dalam

lima

(3,8%) pasien.

Anomali perut lainnya yang ditemukan dalam enam pasien


dan termasuk malrotasi, atresia duodenum, atresia ileum,
stenosis pilorus, dan gastroschisis. Situs yang paling umum
dari aganglionosis adalah kolon sigmoid (31,8%). operasi
tarik primer dilakukan pada 70,5 persen pasien, dan teknik
Soave digunakan di 77,3 persen dari pasien. Sebuah striktur
pascaoperasi terjadi di tiga (2,3%) pasien dan anastomosis
kebocoran terjadi di dua (1,5%) pasien.

Data demografi dan presentasi menunjukkan bayi


premature lebih rendah 1 -minute (6.36 vs 7.60, = 0,014)
dan 4 menit (7,50 vs 8,65, <0,01) skor Apgar dan lebih
mungkin untuk diintubasi sebagai neonatus (50,0 vs 7,6%,
<0,0001). Bayi prematur didiagnosis secara signifikan di
kemudian hari daripada bayi cukup bulan dengan usia
median di diagnosis 2,9 bulan dibandingkan dengan 0,3
bulan pada bayi jangka ( <0,01) dan, sama, lebih mungkin
didiagnosis setelah 30 hari hidup ( 66,7 vs 37,1%, <0,01).
Bayi

prematur

lebih

mungkin

untuk

memiliki

anomali

kongenital utama (45,8 vs 20,0%, <0,01). Sehubungan


dengan dua paling umum, bayi prematur lebih mungkin
untuk memiliki trisomi 21 (16,7 vs 3,8%, = 0,039) orCCHS
(12,5 vs 1,9%, = 0,044). Ada kecenderungan yang tidak
signifikan

ke

arah

yang

lebih

generasi-op

muncul

di

prematur dibandingkan bayi cukup bulan (20,0 vs 9,5%, =


0,128) dan ujian positif barium enema kurang i - negara
(50,0 vs 66,7%, = 0,104). Ada juga kecenderungan lebih
sering Total aganglionosis usus pada bayi prematur (16,7 vs
VII.

5,7%, = 0,0891).
Diskusi
Megakolon kongenital

atau

hirsprung

dissease

merupakan salah satu penyebab yang paling umum dari


terjadinya obstruksi usus distal pada neonatus. Adanya
kondisi usus yang immature, menyebabkan bayi yang
premature menjadi rentan terhadap adanya penyakit ini
(HD).

Pada

bayi

yang

premature,

perbedaan

adanya

obstruksi usus tidak hanya mencakup dismotilitas usus


fungsional, akan tetapi juga termasuk proses penyakit
mekanik

seperti

obstruksi

meconium

prematuritas

(syndrome plug meconium) dan perforasi usus spontan.


Dalam penelitian ini, peneliti menemukan bahwa penyakit
HD

kemungkinan

lebih

umum

pada

bayi

premature

dibandingkan bayi yang cukup bulan. Peneliti menemukan

bahwa terdapat 19% dari kelompok bayi premature yang


usianya kurang dari 37 minggu masa kehamilan.
Peneliti menyebutkan bahwa dalam penelitian ini bayi
premature

mempunyai

skor

apgar

yang

rendah.

Kompleksitas keseluruhan kondisi bayi yang premature dan


intensitas perawatanya dapat berkontribusi pada terjadinya
keterlambatan dalam diagnosis HD.
Sindrom down (DS) atau trisomy juga mempunyai
hubungan dengan penyakit HD, dan pada kenyataan yang
ada, kejadian dari DS pada pasien dengan HD kemungkinan
besar dapat meningkat. Prevalensi yang disebutkan oleh
peneliti dalam penelitian ini secara keseluruhan dari kejadian
DS

adalah

sebesar

6,2%

yang

sedikit

lebih

rendah

kejadiannya dari laporan sebelumnya yang ada yaitu sekitar


8 13%, akan tetapi 16 18 terjadi pada bayi yang
premature yang secara signifikan lebih tinggi pada 16,7%.
Tren terbaru yang ada dalam pengobtan HD, yaitu
dengan menggunakan cara penarikan melalui dominasi
soave tekhnik endorectal. 23 konsisten dengan pengalaman
lembaga dan setuju dengan adanya serangkaian kasus HD. 1
18 alasan untuk tindakan operasi primer lebih sedikit pada
bayi premature dengan HD telah jelas. Ada kemungkinan
bahwa adanya perbedaan strategi tindakan berhubungan
dengan diagnosis yang tertunda, peningkatan komorbiditas,
aganglionosis pada pasien premature. Penelitian selanjutnya
yang dapat dilakukan diperlukan untuk menguji apakah
dengan

adanya

peningkatan

diagnosis

morbiditas

atau

dini

akan

jika

dilihat

memperbaiki
dari

adanya

prematuritas dan komplikasi yang terkait.


Prevalensi kejadian bayi premature dalam serangkaian
kasus

HD

yang

dibandingkan
kontribusi

dari

ditemukan

dengan

oleh

laporan

beberapa

faktor

peneliti

cukup

sebelumnya.
terhadap

tinggi
Adanya

prevalensi

premature yang lebih tinggi adalah peningkatan kejadian


prematuritas dari waktu ke waktu, status rujukan, dan
keintesifan perawatan neonatal. Peneliti mengatakan bahwa

menarik untuk mencatat adanya perkiraan terbaru dari


tingkat kelahiran premature di AS yaitu 12,3% dari semua
kelahiran dan jika dibandingkan dengan tingkat pasien
dengan riwayat HD dalam penelitian ini yaitu sebesar 19%,
strategi ini menunjukkan bahwa kejadian HD berhubungan
dengan

prematuritas.

Penelitian

lebih

lanjut

sangat

diperlukan untuk mengetahui atau menyelidiki kejadian HD


pada bayi yang premature, akan tetapi penelitian ini
menunjukkan bahwa kejadian itu pasti akan lebih tinggi
daripada yang diperkirakan sebelumnya dan disebutkan
bahwa terdapat implikasi yang penting dari diagnosis
VIII.

tertunda pada pasien yang kompleks.


Aplikasi di Indonesia
Penyakit hisprung atau megakolon

aganglionik

bawaan disebabkan oleh kelainan inervasi usus, di mulai dari


sfingter ani interna dan meluas ke proximal, melibatkan
panjang

usus

yang

bervariasi.

Penyakit

Hirschsprung

biasanya muncul sebagai obstruksi usus neonatal dengan


delayed passage of meconium (DPM), distensi abdomen, dan
emesis empedu. Diagnosis penyakit Hirschsprung harus
dapat

ditegakkan

sedini

mungkin

mengingat

berbagai

komplikasi yang dapat terjadi dan sangat membahayakan


jiwa pasien seperti terjadinya enterokolitis, perforasi usus
serta sepsis yang dapat menyebabkan kematian. Penyakit
hisprung telah umumnya dianggap wajar terjadi pada bayi
prematur. Selain itu, tanda-tanda obstruksi usus dan / atau
kolitis

disebabkan

oleh

penyakit

hisprung

sulit

untuk

membedakan dengan necrotizing enterocolitis (NEC), antara


penyebab lainnya. Oleh karena itu, diagnosis HD mungkin
lebih sulit pada bayi prematur, yang mengarah ke menunda
atau kesalahan diagnosis obstruksi neonatal.
Jika penetapan diagnosis penyakit hisprung tertunda
melampaui 1 minggu setelah kelahiran secara signifikan
meningkatkan risiko komplikasi serius pada pasien. Pasien
mungkin

memiliki

resiko

yang

lebih

tinggi

dari

Hirschsprungs-associated enterocolitis (HAEC), yang dapat


berkembang menjadi sepsis dan menjadi mengancam jiwa.
Jika

diagnosis

tertunda

juga

dapat

mempengaruhi

pengobatan bedah pada pasien hisprung. Tren terbaru dalam


pengobatan

penyakit

hisprung,

termasuk

lebih

sering

menggunakan primer pull-through dan teknik endorektal


soave.

Sedangkan

di

Indonesia

sendiri

juga

telah

menggunakan teknik primer pull-through dan teknik soave.


Namun, baru-baru ini telah ditemukan tehnik operasi baru
yaitu (PSNRHD) Posterior Sagittal Neurektomi Repair for
Hirschsprung Desease yang telah dilakukan di Rumah Sakit
Dr.Sardjito

Yogyakarta

sejak

tahun

2005

oleh

Rohadi,

sedangkan prosedur yang lain meliputi: prosedur Duhamel,


prosedur Soave modifikasi, prosedur transanal dan prosedur
miomektomi rektal. Posterior Sagittal Neurektomi Repair for
Hirschsprung Desease, dilakukan dengan irisan intergluteal
untuk mencapai derah rektum, satu tahap tanpa kolostomi
dan tanpa dilakukan proses pull through atau tarik terobos
endorektal (Rochadi, 2007).
IX.

Kesimpulan
Peneliti menemukan buksi baru terkait dengan HD
yang relatis sering dikaitkan dengan prematuritas dan pasien
premature dengan HD memiliki kejadian kematian yang
signifikan dalam bentuk penanganan yang lama. Terkait
komordibitas terkait terjadi pada bayi premature dengan HD.
HD

harus

dipertimbang

lebih

lanjut

pada

bayi

yang

premature yang mengalami obstruksi neonatal terutama


juga yang terkait dengan anomaly.