Anda di halaman 1dari 19

PROGRAM POKJA MDGS

RSUD SYARIFAH AMBAMI RATO EBU BANGKALAN

A. PENDAHULUAN
Seperti kita ketahui bahwa Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian
Neonatal (AKN) di Indonesia masih tertinggi diantara negara ASEAN dan
penurunannya sangat lambat. AKI dari 390/100.000 kelahian hidup (SDKI tahun
1994), menjadi 307/100.000 kelahiran hidup pada tahun 2002-2003. Demikian
pula AKN 28,2/1000 kh 1987-1992 menjadi 21,8/1.000 kelahiran hidup pada
tahun 1992-1997. Seharusnya sesuai Rencana Strategis Depkes Tahun 2005-2009
telah ditetapkan target penurunan angka kematian bayi dari 35 menjadi 26/1.000
kelahiran hidup dan angka kematian bayi dari 307 menjadi 226/100.000 kelahiran
hidup pada tahun 2009.
Jawa Timur merupakan provinsi yang menduduki peringkat kelima setelah
Jawa Barat, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Timur, dan Banten dalam hal jumlah
kematian ibu. Menurut Dinas Kesehatan Jawa Timur pada tahun 2005 jumlah
kematian ibu di Jawa Timur sebesar 446 jiwa, tahun 2006 menurun menjadi 354
jiwa, tetapi pada tahun 2007 hingga tahun 2010 mengalami peningkatan. Pada
tahun 2009, jumlah kematian ibu di Jawa Timur sebesar 90 per 100.000 kelahiran
hidup sedangkan pada tahun 2010 mengalami peningkatan sebesar 101 per
100.000 kelahiran hidup. Jumlah kematian ibu di Jawa Timur menunjukkan angka
yang masih tinggi karena jumlah normal kematian ibu di setiap provinsi
seharusnya sebesar 70 per 100.000 kelahiran hidup.
Disamping itu Index pembangunan Manusia di Indonesia berada pada
urutan ke 107 dibandingkan dengan bangsa lain dan selama 5 tahun terakhir ini
mengalami perbaikan namun sangat lambat.

Pada Konferensi Tingkat Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun


2000 disepakati bahwa terdapat 8 Tujuan Pembangunan Millenium (Millenium
Development Goals) pada tahun 2015. Dua diantara tujuan tersebut mempunyai
sasaran dan indikator yang terkait dengan kesehatan ibu, bayi dan anak yaitu :
1. Mengurangi angka kematian bayi dan balita sebesar dua per tiga dari AKB
pada tahun 1990 menjadi 20 dari 25/1000 kelahiran hidup.
2. Mengurangi angka kematian ibu sebesar tiga per empat dari AKI pada
tahun 1990 dari 307 menjadi 125/100.000 kelahiran hidup.
Meskipun tampaknya target tersebut cukup tinggi, namun tetap dapat
dicapai apabila dilakukan upaya terobosan yang inovatif untuk mengatasi
penyebab utama kematian tersebut yang didukung kebijakan dan sistem yang
efektif dalam mengatasi berbagai kendala yang timbul selama ini.
Kematian bayi baru lahir umumnya dapat dihindari penyebabnya seperti
Berat Badan Lahir Rendah (40,4%), asfiksia (24,6%) dan infeksi (sekitar 10%).
Hal tersebut kemungkinan disebabkan oleh keterlambatan pengambilan
keputusan, merujuk dan mengobati. Sedangkan kematian ibu umumnya
disebabkan perdarahan (25%), infeksi (15%), pre-eklampsia/ eklampsia (15%),
persalinan macet dan abortus, mengingat kematian bayi mempunyai hubungan
erat dengan mutu penanganan ibu, maka proses persalinan dan perawatan bayi
harus dilakukan dalam sistem terpadu di tingkat nasional dan regional.
B. LATAR BELAKANG
Pelayanan obstetri dan neonatal regional merupakan upaya penyediaan
pelayanan bagi ibu dan bayi baru lahir secara terpadu dalam bentuk Pelayanan
Obstetri neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK) di Rumah Sakit dan
Pelayanan Obstetri Neonatal Emergency Dasar (PONED) di tingkat Puskesmas.
Rumah Sakit PONEK 24 Jam merupakan bagian dari sistem rujukan dalam
pelayanan kedaruratan dalam maternal dan neonatal, yang sangat berperan dalam

menurunkan angka kematian ibu dan bayi baru lahir. Kunci keberhasilan PONEK
adalah ketersediaan tenaga kesehatan yang sesuai kompetensi, prasarana, sarana
dan manajemen yang handal.
Untuk mencapai kompetensi dalam bidang tertentu, tenaga kesehatan
memerlukan pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan
dan perubahan perilaku dalam pelayanan kepada pasien.
Pada tahun 2005 telah dilakukan penyusunan buku Pedoman Manajemen
Penyelenggaraan PONEK 24 jam di Rumah Sakit Kabupaten/Kota yang
melibatkan Departemen Kesehatan, Dinas Kesehatan Propinsi dan sektor terkait
lainnya. Telah pula dilakukan bimbingan tekhnis tentang manajemen PONEK 24
jam di RS Kabupaten/Kota pada RSUD di 4 Propinsi (Riau, Sumatra Barat,
Kalimantan

Selatan

dan

Kalimantan

Timur)

untuk

mempersiapkan

penyelenggaraan PONEK 24 jam.


Pada tahun 2006 dilanjutkan dengan penyelenggaraan Lokakarya Upaya
Peningkatan Kesehatan Ibu, Bayi dan Anak melalui Strategi Making Pregnancy
Safer (MPS) yang melibatkan 12 propinsi meliputi 6 propinsi Wilayah Tmur
dengan AKI dan AKB tertinggi (NTB, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah,
Sulawesi Tenggara, Maluku dan papua) dan 6 propinsi yang telah dibina melalui
program bantuan HSP (NAD, Jawa barat, DKI Jakarta, Sumatera Utara, Jawa
Timur).
Pada tahun 2007 telah dilakukan pelatihan keterampilan bagi tim PONEK
dari Rumah Sakit kabupaten/Kota (dokter spesialis anak, dokter spesialis
kebidanan dan kandungan, Bidan dan Perawat) di 6 propinsi di Wilayah Timur
dengan AKI tertinggi (NTB, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Maluku dan
Papua). Dengan melibatkan JNPK-KR, POGI dan IDAI, dalam rangka
mendukung pelaksanaan program PONEK di RSU Kabupaten/Kota yang

merupakan target UKP Departemen Kesehatan RI, yaitu 75% RS Kabupaten dapat
menyelenggarakan PONEK pada tahun 2009.
Diharapkan setelah Pelatihan PONEK tersebut dihasilkan para pelatih
regional yang mampu menjadi pelatih bagi Tim PONEK Rumah Sakit yang belum
dilatih di wilayah masing-masing. Dengan demikian jumlah Tim PONEK Rumah
Sakit yang dilatih dapat cepat bertambah dengan dukungan dana dekonsentrasi
pemerintah daerah untuk akselerasi pencapaian target tahun 2009 tersebut.
Sedangkan di kabupaten Bangkalan pada akhir tahun 2011 terdapat Angka
Kematian Ibu (AKI) sebanyak 12 orang yang di sebabkan oleh (perdarahan 4
orang, pre eklamsi/eklamsi 4 orang, lain-lain 4 orang). Untuk Angka Kematian
Bayi (AKB) pada akhir tahun 2011 sebanyak 20 bayi di sebabkan oleh (asfiksia
26 bayi, BBLR 35 bayi, infeksi 1 bayi, tetanus neonatorum 2 bayi, lain-lain 14
bayi).
Berdasarkan data diatas, maka di harapkan PONEK 24 jam di RSUD
Syarifah Ambami Rato Ebu Bangkalan dapat menurunkan Angka Kematian Ibu
(AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di wilayah kabupaten Bangkalan.

C. VISI DAN MISI


1. VISI
Pada tahun 2015 tercapai tujuan Pembangunan Millenium (Millenium
Development Goals) yaitu:
Mengurangi angka kematian bayi dan balita sebesar dua pertiga dari
AKB pada tahun 1990 menjadi 20 dari 25/1000 kelahiran hidup.
Mengurangi angka kematian ibu sebesar tiga per empat dari AKI pada
tahun 1990 menjadi 125/100.000 kelahiran hidup.
2. MISI
Menyelenggarakan pelayanan obstetric dan neonatal yang bermutu melalui
standarisasi Rumah Sakit PONEK 24 jam, dalam rangka menurunak
Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi di Indonesia.
D. TUJUAN

1. UMUM
Mengoptimalkan fungsi PONEK di Rumah Sakit dalam menurunkan
Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB).
2. KHUSUS
a. Adanya kebijakan Rumah Sakit dan dukungan penuh manajemen
dalam pelayanan PONEK
b. Terbentuknya Tim PONEK Rumah Sakit
c. Tercapainya kemampuan teknis Tim PONEK sesuai standar
E. KEGIATAN DAN RINCIAN KEGIATAN
1. Membuat TOR program pelayanan PONEK 24 jam di rumah sakit
2. Membuat kebijakan / SPO yang berkaitan dengan pelayanan PONEK
3. Melaksanakan program PONEK
4. Evaluasi dan monitoring
5. Pelaporan
F. PELAKSANAAN KEGIATAN
1. Tentukan wilayah rujukan
2. Persiapkan sumber daya manusia (dokter, bidan dan perawat) pada
wilayah pelayanan primer ada 4 Puskesmas PONED) dan rumah sakit.
3. Buatkan kebijakan (SK Direktur, Perda) yang mendukung pelayanan
regional dan dana dukungan.
4. Pembentukan organisasi Tim PONEK Rumah Sakit (Dokter SpOG,
Dokter SpA, Dokter Umum UGD, Bidan dan Perawat) melalui SK
Direktur Rumah Sakit
5. Pelatihan bagi SDM agar kompeten sesuai standar prosedur.
6. Meningkatkan fungsi pengawasan oleh Direktur Rumah Sakit dengan
melibatkan Tim

Peristi

untuk melakukan

pengawasan dan evaluasi

kegiatan PONEK
7. Evaluasi kinerja.
G. SASARAN
1. Seluruh pimpinan Rumah Sakit tingkat Kabupaten/ Kota
2. Seluruh Dinas Kesehatan Propinsi dan Kabupaten/ Kota
3. Pengelola program kesehatan ibu dan anak di RSUD Syarifah Ambami
Rato Ebu Bangkalan
H. JADWAL PELAKSANAAN KEGIATAN
Terlampir
I. PELAPORAN DAN EVALUASI
1. Fasilitas fisik

2. Kinerja kelompok kerja di unit gawat darurat, kamar bersalin, kamar


operasi (harus mampu dilakukan operasi dalam waktu kurang dari 30
menit, setelah diputuskan), dan kamar neonatal
3. Case Fatality Rate, angka kematian penyakit yang harus menurun
setiap tahun dengan percepatan 20%.
4. Angka rasio kematian ibu harus (< 200/100.000 kelahiran hidup), rasio
kematian perinatal (< 20/1000 kelahiran hidup) di rumah sakit.
Untuk wilayah kerja kabupaten/kota, target adalah :
a. Angka Kematian Ibu (AKI) < 100/100.000 kelahiran hidup
b. Angka Kematian Neonatal < 18/1000 kelahiran.
Selain itu pencegahan kesakitan/ kematian

ibu harus diupayakan

misalnya dengan perluasan cakupan peserta KB mencapai 75%. Hal ini dapat
dilakukan dengan program PKBRS dan pelatihan petugas.
Audit Kematian ibu dan bayi dilakukan dengan melibatkan :
a. Dinas Kesehatan dan Bappeda
b. Rumah sakit rujukan
c. Staf pendidikan
Audit kesehatan juga ditujukan bagi kasus yang NYARIS MATI, karena
hal itu tak bisa dibiarkan. Ada banyak unsur medik dan non-medik yang dapat
dihindarkan (uang muka rumah sakit, tranportasi, kelambanan

petugas,

insentif, persediaan obat dan lain lain) yang sebenarnya dapat diselesaikan
dengan hati dan nurani.
Kriteria Rumah Sakit PONEK 24 Jam
No Kriteria

Ketersediaan

Kriteria Umum
1

Ada dokter jaga yang terlatih di PONEK untuk


mengatasi kasus emergensi baik secara umum maupun
emergensi obstetrik-neonatal

Dokter, bidan dan perawat telah mengikuti pelatihan


tim PONEK di rumah sakit meliputi resusitasi
neonatus, kegawat-daruratan obstetrik dan neonatus

Mempunyai Standard Operating Prosedur (SOP)


penerimaan dan penanganan pasien kegawatdaruratan obstetrik dan neonatal

Mempunyai

prosedur

pendelegasian

wewenang

No Kriteria

Ketersediaan

tertentu
5

Mempunyai standar respon time di PONEK 10 menit,


di kamar bersalin kurang dari 30 menit, pelayanan
darah kurang dari 1 jam

Tersedia kamar operasi yang siap (siaga 24 jam) untuk


melakukan operasi bila ada kasus emergensi obstetrik
atau umum

Tersedia kamar bersalin yang mampu menyiapkan


operasi dalam waktu kurang dari 30 menit

Memiliki kru/awak yang siap melakukan operasi atau


melaksanakan tugas sewaktu-waktu meskipun on call

Adanya dukungan semua pihak dalam pelayanan


PONEK, antara lain dokter kebidanan, dokter anak,
dokter/petugas anestesi, dokter penyakit dalam, dokter
spesialis
lain
serta
dokter umum, bidan dan perawat

10

Tersedia pelayanan darah yang siap 24 jam

11

Tersedia pelayanan penunjang lain yang berperan


dalam PONEK, seperti laboratorium dan radiologi
selama 24 jam, recovery room 24 jam, obat dan alat
penunjang yang selalu siap sedia

12

Semua perlengkapan harus bersih, berfungsi baik dan


siap pakai

13

Semua bahan harus berkualitas tinggi dan jumlahnya


cukup untuk memenuhi semua kebutuhan

Kriteria Khusus
1

Sumber Daya Manusia


Memiliki tim PONEK esensial yang terdiri dari:
*

1 dokter spesialis kebidanan dan kandungan

1 dokter spesialis anak

1 dokter di PONEK

3 orang bidan (1 koordinator dan 2 penyelia)

2 orang perawat

Tim PONEK Ideal ditambah


*

1 dokter spesialis anestesi/perawat anestesi

No Kriteria

Ketersediaan

6 bidan pelaksana

10 perawat (tiap shift 2-3 perawat jaga)

1 petugas laboratorium

1 pekarya kesehatan

1 petugas administrasi

Sarana dan Prasarana

Ruang rawat inap yang leluasa dan nyaman

Ruang tindakan gawat darurat dengan instrument


dan bahan yang lengkap

Ruang pulih / observasi pasca tindakan

Protokol pelaksanaan dan uraian tugas pelayanan


termasuk koordinasi internal

PROGRAM PELAYANAN OBSTETRI NEONATAL EMERGENSI KOMPREHENSIF (PONEK)


RSUD SYARIFAH AMBAMI RATO EBU BANGKALAN
TAHUN 2012-2014

No
.

JAN

Penyusunan
program
diajukan ke direktur

Sosialisasi
dan fungsi

Pelaksanaan program

Evaluasi program

Pelaporan program

tugas,

KETERANGA
N

BULAN

URAIAN KEGIATAN
FEB

MAR

AP
R

MEI JUN

JUL

AG
T

SEP

OK
T

NO
V

dan

wewenang

Bangkalan, 31 Januari 2012


Mengetahui

Wadir Pelayanan

Direktur RSUD Syamrabu

RSUD Syamrabu

drg. YUSRO

dr. Handy Rusman

DES

TOR
PONEK RUMAH SAKIT 24 JAM
I. PENDAHULUAN
Seperti kita ketahui bahwa Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Neonatal
(AKN) di Indonesia masih tertinggi diantara negara ASEAN dan penurunannya sangat
lambat. AKI dari 390/100.000 kelahian hidup (SDKI tahun 1994), menjadi 307/100.000
kelahiran hidup pada tahun 2002-2003. Demikian pula AKN 28,2/1000 kh 1987-1992
menjadi 21,8/1.000 kelahiran hidup pada tahun 1992-1997. Seharusnya sesuai Rencana
Strategis Depkes Tahun 2005-2009 telah ditetapkan target penurunan angka kematian bayi
dari 35 menjadi 26/1.000 kelahiran hidup dan angka kematian bayi dari 307 menjadi
226/100.000 kelahiran hidup pada tahun 2009.
Jawa Timur merupakan provinsi yang menduduki peringkat kelima setelah Jawa Barat,
Jawa Tengah, Nusa Tenggara Timur, dan Banten dalam hal jumlah kematian ibu. Menurut
Dinas Kesehatan Jawa Timur pada tahun 2005 jumlah kematian ibu di Jawa Timur sebesar
446 jiwa, tahun 2006 menurun menjadi 354 jiwa, tetapi pada tahun 2007 hingga tahun 2010
mengalami peningkatan. Pada tahun 2009, jumlah kematian ibu di Jawa Timur sebesar 90 per
100.000 kelahiran hidup sedangkan pada tahun 2010 mengalami peningkatan sebesar 101 per
100.000 kelahiran hidup. Jumlah kematian ibu di Jawa Timur menunjukkan angka yang masih
tinggi karena jumlah normal kematian ibu di setiap provinsi seharusnya sebesar 70 per
100.000 kelahiran hidup.
Disamping itu Index pembangunan Manusia di Indonesia berada pada urutan ke 107
dibandingkan dengan bangsa lain dan selama 5 tahun terakhir ini mengalami perbaikan
namun sangat lambat.

Pada Konferensi Tingkat Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 2000


disepakati bahwa terdapat 8 Tujuan Pembangunan Millenium (Millenium Development Goals)
pada tahun 2015. Dua diantara tujuan tersebut mempunyai sasaran dan indikator yang terkait
dengan kesehatan ibu, bayi dan anak yaitu :
3. Mengurangi angka kematian bayi dan balita sebesar dua per tiga dari AKB pada tahun
1990 menjadi 20 dari 25/1000 kelahiran hidup.
4. Mengurangi angka kematian ibu sebesar tiga per empat dari AKI pada tahun 1990 dari
307 menjadi 125/100.000 kelahiran hidup.
Meskipun tampaknya target tersebut cukup tinggi, namun tetap dapat dicapai apabila
dilakukan upaya terobosan yang inovatif untuk mengatasi penyebab utama kematian tersebut
yang didukung kebijakan dan sistem yang efektif dalam mengatasi berbagai kendala yang
timbul selama ini.
Kematian bayi baru lahir umumnya dapat dihindari penyebabnya seperti Berat Badan
Lahir Rendah (40,4%), asfiksia (24,6%) dan infeksi (sekitar 10%). Hal tersebut kemungkinan
disebabkan oleh keterlambatan pengambilan keputusan, merujuk dan mengobati. Sedangkan
kematian ibu umumnya disebabkan perdarahan (25%), infeksi (15%), pre-eklampsia/
eklampsia (15%), persalinan macet dan abortus, mengingat kematian bayi mempunyai
hubungan erat dengan mutu penanganan ibu, maka proses persalinan dan perawatan bayi
harus dilakukan dalam sistem terpadu di tingkat nasional dan regional.

II.

LATAR BELAKANG
Angka kematian ibu (AKI) atau maternal mortality rate (MMR) disamping merupakan

indikator tingkat kesehatan wanita,juga menggambarkan tingkat akses,integritas dan


efektifitas sektor kesehatan.AKI sering dipergunakan sebagai indikator tingkat kesejahteraan
dari suatu negara.

Departemen kesehatan mentargetkan penurunan AKI dari 450/100.000 KLH tahun


1995 menjadi 225/100.000 KLH tahun 2000 dan menjadi 125/100.000 KLH pada tahun 2012.
Persalinan dengan tenaga terlatih meningkat dri 25% pada tahun 1992 menjadi 67%
pada tahun 1999, tetapi belum mencapai 90% sesuai dengan target internasional.
Keterbatasan akses pada pertolongan persalinan oleh tenaga terampil dan sistim
rujukan yang tidak memadai mengakibatkan hampir 50% wanita melahirkan tanpa
pertolongan non kesehatan dan 70% tidak mendapatkan pertolongan pasca persalinan dalam
waktu 6 minggu setelah persalinan. Oleh karena itu dengan adanya program PONEK ini
diharapkan angka kematian ibu dan anak mencapai target yang diharapkan, dengan adanya
fasilitas yang memadai.
III. TUJUAN
a. Umum
Meningkatkan mutu pelayanan PONEK di Rumah Sakit.
b. Khusus
Adanya kebijakan Rumah Sakit dan dukungan penuh manajemen dalam
pelayanan PONEK
Terbentuknya Tim PONEK Rumah Sakit
Tercapainya kemampuan teknis Tim PONEK sesuai standar
Adanya koordinasi dan sinkronisasi antara pengelola dan penanggung jawab
program pada tingkat kabupaten / kota, propinsi, dan pusat dalam manajemen
program PONEK
IV. KEGIATAN DAN RINCIAN KEGIATAN
1. Pembuatan TOR dan SPO serta kebijakan sebagai dasar kerja yang disetujui oleh
direktur rumah sakit
2. Mensosialisasikan TOR dan SPO yang telah disetujui kepada setiap unit sehingga
terjadi keseragaman dalam pelayanan asuhan medis terhadap pasien
3. Koordinasi atau pertemuan PONEK 4 bulan sekali (Refreshing kasus oleh Sp. A dan
Sp.OG)

4. Kesiapan sarana rumah sakit meliputi ruang kebidanan dengan fasilitas gawat darurat
untuk memberikan pelayanan terhadap kasus kegawatdaruratan obstetri dan neonatal,
neonatal risiko tinggi, pelayanan transfusi darah, tindakan operasi seksio sesaria
5. Rumah sakit PONEK menerima rujukan dari puskesmas PONED apabila terdapat
kasus kegawatdaruratan obstetri dan neonatal yang memerlukan penanganan seksio
sesarea dan pemberian transfusi darah.
V. CARA PELAKSANAAN KEGIATAN
1. Memberikan asuhan kebidanan PONEK 24 jam di rumah sakit dan koordinasi antara
tenaga medis.
2. Setiap tindakan medis atau persetujuan keluarga/pasien dalam melakukan tindakan
medis dicatat secara lengkap dan seragam pada kolom yang disediakan di dalam rekam
medis. Bila pasien dan keluarga menolak tindakan medis maka wajib mengisi form
penolakan.
3. Mensosialisasi program pelayanan pasien (SPO, TOR, kebijakan) oleh direktur kepada
tiap kepala unit kerja.
4. Mengkoordinasi pertemuan PONEK 4 bulan sekali (Refreshing kasus oleh Sp. A dan
Sp.OG)
5. Meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan bayi termasuk kepedulian terhadap
ibu dan bayi.

VI. SASARAN (KEBIJAKAN)


1.
2.
3.
4.
5.
6.

Pasien dan keluarga pasien


Dokter (umum dan spesialis)
Perawat
Bidan
Tenaga kesehatan lain (RM, laborat, radiologi, gizi, psikologi)
Tenaga non medis (administrasi, rekam medis)

Pihak rumah sakit menargetkan 75% pelaksanaan dan kontinuitas pelayanan PONEK
berjalan baik, Tahun 2015 diharapkan lebih dari 75% program PONEK dapat terlaksana
dengan baik.

VII. JADWAL PELAKSANAAN KEGIATAN


Dilaksanakan tahun 2012-2015
1. Sosialisasi TOR dan SPO yang telah disetujui kepada setiap unit sehingga terjadi
keseragaman dalam pelayanan asuhan medis terhadap pasien
2. Koordinasi atau pertemuan PONEK 4 bulan sekali (Refreshing kasus oleh Sp. A dan
Sp.OG)
3. Pembuatan TOR dan SPO serta kebijakan sebagai dasar kerja yang disetujui oleh
direktur rumah sakit
4. Kesiapan sarana rumah sakit meliputi ruang kebidanan dengan fasilitas gawat darurat
untuk memberikan pelayanan terhadap kasus kegawatdaruratan obstetri dan neonatal,
neonatal risiko tinggi, pelayanan transfusi darah, tindakan operasi seksio sesaria
VIII. PELAPORAN
Berupa Protap/SPO, TOR, kebijakan, notulen rapat (intern dan ekstern)
IX. EVALUASI
Dengan adanya PONEK 24 jam di rumah sakit, terdapat penurunan Angka Kematian Ibu dan
Bayi sebanyak 30%
Bangkalan,
DIREKTUR
RSUD SYAMRABU BANGKALAN

drg. YUSRO
Pembina Tk. I
NIP. 19610226 198911 2 001

LAPORAN KEGIATAN PELAKSANAAN


PONEK 24 JAM
DI RSUD SYARIFAH AMBAMI RATO EBU BANGKALAN

A. EVALUASI
Pelaksanaan kegiatan
Hari/Tanggal

: Selasa, 7 Agustus 2012

Pukul

: 08.00 s/d 12.00 WIB

Tempat

: Ruang pertemuan RSUD Syarifah Ambami Rato Ebu Bangkalan

Acara

: Laporan kegiatan pelaksanaan PONEK 24 jam

Jumlah peserta

: 30 orang

Nara sumber

:2

B. EVALUASI PROSES
Kegiatan berjalan dengan lancar sesuai rencana dengan metode ceramah, diskusi tanya
jawab dan praktek
C. EVALUASI OUT PUT
Semua peserta mengikuti kegiatan sampai selesai
Peningkatan pengetahuan dan ketrampilan petugas tentang pelayanan PONEK di
Rumah Sakit Syarifah Ambami Rato Ebu Bangkalan

Bangkalan, 7 Agustus 2012


Ketua Panitia

Hj. Nurhidayah, AMK, SE


NIP.

TOR
PELAYANAN TB DOTS
TAHUN 2012
I. PENDAHULUAN
Tuberculosis dikenal dengan penyakit TBC, yaitu salah satu penyakit infeksi yang
bersifat persisten dan menahun dan merupakan zoomosis di Indonesia. Penyakit ini dikatakan
sebagai penyakit menahun (kronik), sehingga gejala klinisnya baru muncul jika sudah parah,
tetapi adakalanya penyakit ini berjalan akut dan progresif, terutama pada hewan muda.

TBC adalah penyakit yang menyebabkan kematian terbesar kedua di Indonesia. Gejala
yang di timbulkan antara lain gangguan pernafasan seperti sesak nafas, batuk sampai
berdarah, badan tampak kurus kering dan lemah. Penularan penyakit ini sangat cepat karena
ditularkan melalui saluran pernafasan.
Diperkirakan setiap tahun 450.000 kasus baru TBC dimana sekitar 1/3 penderita terdapat
disekitar puskesmas, 1/3 ditemukan di pelayanan rumah sakit/klinik pemerintah dan swasta,
praktek swasta dan sisanya belum terjangkau unit pelayanan kesehatan. Sedangkan kematian
karena TBC diperkirakan 175.000 per tahun. Penyakit TBC menyerang sebagian besar
kelompok usia kerja produktif, penderita TBC kebanyakan dari kelompok sosio ekonomi
rendah.
II. LATAR BELAKANG
Kementerian Kesehatan dalam menjalankan tugasnya memiliki visi-misi, kebijakan,
program dan target nasional pembangunan kesehatan di Indonesia yang telah dituangkan
dalam Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014. Disamping target lingkup
nasional, Indonesia juga memiliki komitmen global bidang kesehatan yang salah satunya
adalah Target Pembangunan Milenium (MDGs) tahun 2015.
Tujuan MDGs sangat identik dengan pembangunan kesehatan karena sebagian besar
merupakan capaian dibidang kesehatan diantaranya gizi, kesehatan ibu dan anak, penyakit
menular dan kesehatan lingkungan.
Pada tahun 2010, Pengendalian Tuberkulosis (TB) di Indonesia telah menunjukkan
kemajuan bermakna, yaitu dengan turunnya peringkat Indonesia dari negara ke-3 di dunia
penyumbang kasus TB terbanyak menjadi peringkat ke-5. Berdasarkan Global Report TB
tahun 2010, Prevalensi TB di Indonesia adalah 285 per 100.000 penduduk, sedangkan angka
kematian TB telah turun menjadi 27 per 100.000 penduduk. Artinya, target MDGs untuk

angka prevalensi TB diharapkan akan tercapai pada 2015, sedangkan target angka kematian
TB sudah tercapai.
Meskipun demikian, masih ada beberapa tantangan yang harus dihadapi. Tantangan
tersebut adalah kesenjangan antara estimasi jumlah kasus TB yang ditemukan dengan seluruh
jumlah kasus TB yang dilaporkan. Hal lain adalah menghentikan pertambahan kasus TB yang
kebal terhadap pengobatan atau Multiple Drug Resistance, menjangkau masyarakat yang tak
terjangkau pengobatan TB seperti masyarakat miskin dan masyarakat di daerah terpencil/
tertinggal, serta memberikan perhatian khusus pada kasus TB anak.
III.

TUJUAN
a. Umum
Tersedianya tenaga pelaksana program TB yang kompeten dan memadai pada semua
tingkatan sehingga mampu menunjang tercapainya tujuan program TB nasional.
b. Khusus
Terselenggaranya pelayanan rumah sakit yang bermutu tentang TB .
Tersedianya SDM yang profesional dan berkualitas.
Tersedianya sarana, prasarana, dan peralatan medis yang memadai.
Terciptanya lingkungan kerja yang aman dan sehat untuk pegawai, pasien, dan
pengunjung rumah sakit.

IV.

KEGIATAN DAN RINCIAN KEGIATAN


1. Pembuatan TOR dan SPO serta kebijakan sebagai dasar kerja yang disetujui oleh
direktur rumah sakit
2. Sosialisasi TOR dan SPO tentang TB DOTS yang telah disetujui kepada setiap unit
sehingga terjadi keseragaman dalam pelayanan asuhan medis terhadap pasien.
3. Setiap asuhan pasien baik asuhan medis, asuhan keperawatan, asuhan tenaga
kesehatan lain atau tindakan penunjang yang dilakukan terhadap pasien harus dicatat
dalam rekam medis oleh pemberi pelayanan
4. DPJP merencanakan asuhan medis kepada pasien serta mereview dan mencatat
kemajuan pasien, juga direvisi sesuai kebutuhan
5. Hasil asuhan, pengobatan dan dampak yang tidak diharapkan harus diinformasikan
kepada pasien dan keluarga

V. CARA PELAKSANAAN KEGIATAN


1. Membuat TOR dan SPO serta kebijakan sebagai dasar kerja yang disetujui oleh
direktur rumah sakit
2. Mensosialisasikan program pelayanan TB DOTS kepada semua unit kerja yang terkait
sesuai dengan TOR , SPO dan kebijakan dalam memberikan penyuluhan dan
pendidikan kesehatan tentang TB DOTS terhadap pasien dan keluarga.
3. Setiap tindakan medis dicatat secara lengkap dan seragam pada kolom yang
disediakan didalam rekam medis. Bila pasien dan keluarga menolak tindakan medis
maka wajib mengisi form penolakan
4. Asuhan medis dilakukan oleh DPJP (Dokter Penanggung Jawab Pelayanan), asuhan
keperawatan dilakukan oleh perawat, dan pemberi pelayanan kesehatan lain dalam
waktu 24 jam
5. Memberikan informasi mengenai hasil asuhan, pengobatan dan dampak yang tidak
VI.

diharapkan pasien dan keluarga.


SASARAN ATAU KEBIJAKAN
1. Pasien dan keluarga pasien
2. Dokter (Umum dan Spesialis)
3. Perawat
4. Bidan
5. Tenaga kesehatan lain (Laborat, Radiologi, Gizi, Psikologi)
6. Tenanga Non Medis (Administrasi, RM)
Pihak rumah sakit menargetkan 75% pelaksanaan pelayanan pasien program TB

DOTS berjalan baik. Tahun 2015 diharapkan lebih dari 80% pelayanan program TB DOTS
dapat terlaksana dengan baik.
VII.

JADWAL PELAKSANAAN KEGIATAN

Dilaksanakan tahun 2012-2015


1. Pembuatan TOR dan SPO oleh semua unit terkait dan disetujui oleh direktur rumah
sakit sebagai dasar kerja yang diajukan sebelum penetapan TOR dan SPO
2. Mensosialisasikan program TB DOTS dengan cara pemberian penyuluhan dan
pendidikan kesehatan tiap
3. Rekam medis diisi oleh pemberi pelayanan setiap melakukan tindakan medis terhadap
pasien

4. Asuhan medis dilakukan oleh DPJP (Dokter Penanggung Jawab Pelayanan), asuhan
keperawatan dilakukan oleh perawat, dan pemberi pelayanan kesehatan lain dalam
waktu 24 jam
5. Pelaporan atau evaluasi dilakukan tiap 3 atau 6 bulan sekali

VIII. PELAPORAN
Berupa SPO, TOR dan kebijakan, hasil observasi dalam 1 bulan, rekam medis pasien,
form persetujuan dan form penolakan tindakan medis.
IX.

EVALUASI
Dari program kerja yang disusun mayoritas banyak yang terealisasi. Saat ini terdapat

peningkatan penjaringan sebanyak 12 % dalam pelayanan TB DOTS dan masih perlu adanya
koordinasi dari masing-masing unit terkait

Bangkalan,
DIREKTUR
RSUD SYAMRABU BANGKALAN

drg. YUSRO
pembina Tk.I
NIP. 19610226 198911 2 001