Anda di halaman 1dari 4

KARSINOMA SEL BASAL BERPIGMEN: LAPORAN KASUS LANGKA

Abstrak
Karsinoma sel basal adalah kanker kulit yang paling umum, disebabkan oleh paparan
berlebihan sinar ultraviolet. Penyakit ini juga dikenal sebagai ulkus roden atau
epitelioma sel basal. Mekanisme utama yang diusulkan menjadi penyebab karsinoma sel
basal adalah kontak lama dengan sinar ultraviolet intensitas tinggi, yang menyebabkan
kerusakan DNA. Karsinoma sel basal berpigmen adalah varian karsinoma sel basal yang
sangat jarang ditemukan. Biasanya, karsinoma sel basal perpigmen memiliki gambaran
massa nodular berpigmen pada area hidung atau pipi. Diagnosis banding dari massa ini
adalah melanoma maligna dan keratosis seboroik. Penatalaksanaan pilihan untuk
kondisi ini adalah eksisi bedah dengan margin 2 mm.
Kata kunci
Karsinoma Sel Basal, Karsinoma Sel Basal Berpigmen, Radiasi Ultraviolet
1. Pendahuluan
Karsinoma sel basal (basal cell carcinomaBCC) adalah kanker kulit yang paling
umum dijumpai di negara barat pada ras kulit putih. Australia memiliki insiden kanker
kulit tertinggi di dunia dikarenakan penipisan ozon dan lingkungan dengan paparan
sinar matahari berlebihan [1]. Jacob Arthur pada 1827 menciptakan istilah ulkus
roden untuk penyakit ini [2]. Terkadang, penyakit ini juga disebut dengan epitelioma
sel basal [3]. BCC muncul dari lapisan stratum basalis. Penyebab paling umum penyakit
ini adalah paparan kronis radiasi ultraviolet. Penyakit ini merupakan tumor ganas yang
tumbuh lambat, bersifat lokal agresif, namun jarang bermetastasis [4]. Sekitar 80% BCC
dijumpai pada kulit kepala dan leher. Di antara seluruh varian BCC, persentase
karsinoma sel basal berpigmen (pigmented basal cell carcinomaPBCC) adalah sekitar
6% dengan gambaran histopatologi yang mirip dengan BCC nodular dengan
peningkatan melanisasi. Sekitar 80% dari seluruh karsinoma sel basal di Cina adalah
karsinoma sel basal berpigmen, sementara subtipe ini jarang dtemukan pada ras kulit
putih [5]. PBCC merupakan varian yang relatif jarang, maka penulis melaporkan kasus
ini.

2. Laporan Kasus
Seorang pasien wanita berusia 60 tahun memeriksakan diri ke klinik rawat jalan
THT dengan keluhan massa kehitaman pada sisi kiri hidung. Pasien menyadari
pembengkakan satu tahun sebelumnya, yang awalnya berukuran kecil, namun secara
bertahap membesar dalam satu tahun terakhir sampai ukuran saat ini. Keluhan ini
terkadang disertai dengan rasa gatal. Tidak ada riwayat nyeri. Baru-baru ini terdapat
ulkus di atas pembengkakan dengan sekret serosa yang menetap setelah pemberian
krim topikal yang diresepkan oleh dokter. Terdapat riwayat paparan sinar matahari
terus-menerus, dikarenakan pasien bekerja di lapangan.
Pemeriksaan klinis menunjukkan lesi tunggal, kehitaman, meninggi, yang berlokasi
di atas ala nasi dan meluas ke plika nasolabialis kiri, dengan ukuran 1,5 1,5 cm
dengan batas tegas dan permukaan menonjol (Gambar 1 dan Gambar 2). Tidak ada
bukti lesi satelit. Massa memiliki konsistensi keras dan area sekitarnya bebas
indurasi. Tidak terdapat pembesaran kelenjar getah bening yang teraba. Secara
klinis, diagnosis banding gambaran ini adalah melanoma maligna dan karsinoma sel
basal.
Setelah pemeriksaan lengkap, pasien direncanakan untuk menjalani biopsi eksisi
dengan anestesi umum. Eksisi tumor dilakukan dengan margin 2 mm dengan
penampang diseksi superfisial terhadap kartilago lateral bawah, dengan demikian
akan mempertahankan integritas struktural dan fungsional ala nasi. Defek ditutup
dengan flap lokal yang didapat dari eksisi burrow triangel. Pasca operatif, pasien
mengalami parestesia transien dan ketegangan di lokasi operasi yang membaik
dalam 6 minggu. Selanjutnya, luka sembuh dengan baik dengan luaran estetika yang
dapat diterima (Gambar 3).
Spesimen histopatologi menunjukkan temuan karsinoma sel basal berpigmen dan
pinggir spesimen bebas dari tumor.
3. Pembahasan

Terdapat banyak jenis BCC, yaitu BCC nodular, PBCC, BCC kistik, BCC
superfisial, BCC mikronodular, morfeaformis, dan BCC infiltratif, dimana BCC

nodular adalah varian yang paling umum. Dalam sebuah penelitian dari 1.039 kasus
BCC, Sexton et al. [6] mengamati 218 kasus BCC nodular (21%); 181 kasus BCC
superfisial (17%); 151 kasus BCC mikronodular (15%); 77 kasus BCC infiltratif
(7%); dan 11 kasus morfea (1%). Usia paling umum munculnya BCC adalah dekade
keempat dan kelima kehidupan dengan dominasi laki-laki (laki-laki:perempuan 3:2)
[7]. Lokasi umum terjadinya BCC adalah pada sepertiga tengah wajah. Lokasi
dimana BCC sangat jarang terjadi adalah pada areola puting susu, yang dilaporkan
oleh Han Jin Jung et al. [8], di subungual dilaporkan oleh Ryuhei-Okuyama et al.
[9], dan pada kelopak mata dilaporkan oleh Lily Koo Lin et al. [10]. Bart RS et al.
[11] juga melaporkan bahwa karsinoma sel basal berpigmen lebih umum dijumpai
pada individu bermata gelap dan sangat jarang pada individu bermata biru.
Meskipun metastasis sangat jarang terjadi, metastasis dilaporkan tinggi pada kasus
PBCC kompleks di areola puting susu karena peningkatan limfangiogenesis [8].
Secara histopatologis, diamati sel yang tersusun dalam sarang dan klaster dengan sel
palisade di perifer dan dengan susunan acak di tengah. Sel menunjukkan inti bulat
hiperkromatik dengan sitoplasma sedikit atau tidak ada (Gambar 4). Pigmen
melanin diamati tersebar di dalam sarang dan pada stroma yang menginfiltrasi
(Gambar 5). Pasien pada kasus ini adalah perempuan 60 tahun yang datang dengan
massa di atas ala nasi kiri yang merupakan lokasi umum terjadinya BCC. Diagnosis
banding massa tersebut adalah melanoma maligna, karsinoma sel basal, dan
keratosis seboroik yang dapat dibedakan dan dikonfirmasi oleh sitologi. Sitologi
melanoma menunjukkan sel tunggal yang tersebar dengan kelompok jaringan
longgar kohesif, dengan ukuran, bentuk dan jumlah inti yang bervariasi. Nukleus
eksentrik dengan hiperkromatisme, seringkali nukleolus makro dan mitosis atipikal
dapat diamati. Melanoma maligna dapat dibedakan menggunakan imunohistokimia
canggih dengan menggunakan marker imunologi HMB-45 dan S-100 [12]. Secara
histopatologi, keratosis seboroik menunjukkan lembaran sel skuamosa dengan
skuama anukleata dan sel basaloid. Tidak ada pola palisade dan matriks membran
basalis [12]. Terapi pilihan pada PBCC adalah eksisi bedah. Untuk BCC yang lebih
luas dengan pola pertumbuhan yang lebih agresif, Mohs Micrographic Surgery
(MMS) dianjurkan [13]. Injeksi intralesi menggunakan interferon alpha merupakan
pilihan alternatif [13]. terapi fotodinamik (photodynamic therapyPDT) digunakan

untuk penatalaksanaan karsinoma sel basal, yang digunakan dengan pemberian


fotosensitizer ke daerah target. Methylaminolevulinate telah disetujui oleh Uni
Eropa sebagai fotosensitizer sejak 2001.
4. Kesimpulan

PBCC adalah varian yang sangat jangan ditemui dalam praktik klinis dan umumnya
ditatalaksana sebagai nevus jinak oleh kebanyakan dokter umum. Oleh karena itu,
kecurigaan klinis diperlukan saat melakukan tatalaksana lesi berpigmen yang
meninggi pada kepala dan leher. Penulis merekomendasikan lesi kulit berpigmen di
daerah kepala dan leher dengan gambaran yang mencurigakan, seperti permukaan
tidak rata atau perdarahan harus selalu dieksisi dengan margin bedah adekuat.