Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN
Tumor Laring dibagi menjadi 2 jenis besar yaitu tumor jinak dan tumor ganas.
Tumor jinak jarang ditemukan, sedangkan tumor ganas laring merupakan tumor yang
terbanyak menyerang saluran pernapasan bagian atas. Tumor ganas laring cukup
sering ditemukan di bagian Telinga Hidung Tenggorokan ( THT ). Sebagai gambaran,
diluar negeri tumor ganas laring menempati urutan pertama dalam urutan keganasan
di bidang THT, sedangkan di RSCM menempati urutan ketiga setelah karsinoma
nasofaring, tumor ganas hidung dan sinus paranasal.1
Tumor jinak laring tidak banyak ditemukan, hanya kurang lebih 5% dari
semua jenis tumor laring. Tumor jinak laring dapat berupa Papiloma laring,
Adenoma,

Kondroma,

Mioblastoma

sel

granuler,

Hemangioma,

Lipoma,

neurofibroma. Gejala yang dapat ditimbulkan akibat tumor jinak laring antara lain
suara serak, suara menjadi memberat, sesak napas, aspirasi, sulit menelan, nyeri
telinga dan batuk bercampur darah. Diagnosis tumor jinak laring berdasarkan
visualisasi secara langsung maupun tidak langsung melalui laring serta pemeriksaan
seperti CT-Scan.1,2
Salah satu akibat yang ditimbulkan dari tumor laring adalah terjadinya
sumbatan laring yang dapat berakibat kematian. Untuk itu diperlukan diagnosis dan
penatalaksanaan yang tepat dan sesuai dengan prinsip penanggulangan sumbatan
laring, yaitu menghilangkan penyebab sumbatan dengan cepat atau membuat jalan
napas baru yang dapat menjamin ventilasi.
Pada referat ini akan dibahas mengenai anatomi dan fisiologi laring serta
jenis-jenis tumor jinak yang terdapat pada laring.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Anatomi dan Fisiologi laring
Laring adalah bagian dari saluran pernafasan bagian atas yang merupakan
suatu rangkaian tulang rawan yang berbentuk corong dan terletak setinggi
vertebra cervicalis IV VI, dimana pada anak-anak dan wanita letaknya relatif
lebih tinggi. Laring pada umumnya selalu terbuka, hanya kadang-kadang saja
tertutup bila sedang menelan makanan. 3
Lokasi laring dapat ditentukan dengan inspeksi dan palpasi dimana
didapatkannya kartilago tiroid yang pada pria dewasa lebih menonjol kedepan
dan disebut Prominensia Laring atau disebut juga Adams apple atau jakun.3
Batas-batas laring berupa sebelah kranial terdapat Aditus Laringeus yang
berhubungan dengan Hipofaring, di sebelah kaudal dibentuk oleh sisi inferior
kartilago krikoid dan berhubungan dengan trakea, di sebelah posterior dipisahkan
dari vertebra cervicalis oleh otot-otot prevertebral, dinding dan cavum
laringofaring serta disebelah anterior ditutupi oleh fascia, jaringan lemak, dan
kulit.

Sedangkan

di

sebelah

lateral

ditutupi

oleh

otot-otot

sternokleidomastoideus, infrahyoid dan lobus kelenjar tiroid.3


Laring berbentuk piramida triangular terbalik dengan dinding kartilago
tiroidea di sebelah atas dan kartilago krikoidea di sebelah bawahnya. Os Hyoid
dihubungkan dengan laring oleh membrana tiroidea. Tulang ini merupakan
tempat melekatnya otot-otot dan ligamenta serta akan mengalami osifikasi
sempurna pada usia 2 tahun.3
Secara keseluruhan laring dibentuk oleh sejumlah kartilago, ligamentum dan
otot-otot.3

A.1 Kartilago laring


Kartilago laring terbagi atas 2 (dua) kelompok, yaitu : 3
1. Kelompok kartilago mayor, terdiri dari :
Kartilago Tiroidea, 1 buah
Kartilago Krikoidea, 1 buah
Kartilago Aritenoidea, 2 buah
2. Kartilago minor, terdiri dari :
Kartilago Kornikulata Santorini, 2 buah
Kartilago Kuneiforme Wrisberg, 2 buah
Kartilago Epiglotis, 1 buah

Gambar 1. Tulang dan kartilago laring tampak lateral

Gambar 2. Tulang dan Kartilago Laring tampak Sagital

Gambar 3. Tulang dan Kartilago Laring tampak Posterior

A.2 Otot laring


Otototot laring terbagi dalam 2 (dua) kelompok besar yaitu otot-otot
ekstrinsik dan otot-otot intrinsik yang masing-masing mempunyai fungsi yang
berbeda.

Otot-otot ekstrinsik.

Otot-otot ini menghubungkan laring dengan struktur disekitarnya.


Kelompok otot ini menggerakkan laring secara keseluruhan.
Terbagi atas :
1. Otot-otot suprahioid yaitu :
-

M. Stilohioideus

M. Milohioideus

M. Geniohioideus

M. Digastrikus

2. Otot-otot infrahioid yaitu :


-

M. Omohioideus

M. Sternohioideus

M. Tirohioideus

The Extrinsic Muscles

Otot-otot intrinsik
Menghubungkan

kartilago

satu

dengan

yang

lainnya.

Berfungsi

menggerakkan struktur yang ada di dalam laring terutama untuk membentuk


suara dan bernafas. Otot-otot pada kelompok ini berpasangan kecuali m.
interaritenoideus yang serabutnya berjalan transversal dan oblik. Fungsi otot
ini dalam proses pembentukkan suara, proses menelan dan berbafas. Bila m.
interaritenoideus berkontraksi, maka otot ini akan bersatu di garis tengah
sehingga menyebabkan adduksi pita suara.
Yang termasuk dalam kelompok otot intrinsik adalah :
1. Otot-otot adduktor :
M. Krikoaritenoid lateral
M. tiroepiglotika

M. Ariepiglotika
M. aritenoid transversum
Berfungsi untuk menutup pita suara.
2. Otot-otot abduktor :

M. Krikoaritenoideus posterior
Berfungsi untuk membuka pita suara.
3. Otot-otot tensor :

Tensor Internus : M. Tiroaritenoideus dan M. Vokalis


Tensor Eksternus : M. Krikotiroideus
Mempunyai fungsi untuk menegangkan pita suara. Pada orang tua, m.
tensor internus kehilangan sebagian tonusnya sehingga pita suara
melengkung ke lateral mengakibatkan suara menjadi lemah dan serak.

Cavum laring dapat dibagi menjadi sebagai berikut :

1. Supraglotis (vestibulum superior),


yaitu ruangan diantara permukaan atas pita suara palsu dan inlet laring
2. Glotis (pars media),
yaitu ruangan yang terletak antara pita suara palsu dengan pita suara sejati
serta membentuk rongga yang disebut ventrikel laring Morgagni.
3. Infraglotis (pars inferior),
yaitu ruangan diantara pita suara sejati dengan tepi bawah kartilago krikoidea.
Beberapa bagian penting dari dalam laring :

Aditus Laringeus

Pintu masuk ke dalam laring yang dibentuk di anterior oleh epiglotis, lateral
oleh plika ariepiglotika, posterior oleh ujung kart
atas m. aritenoideus.

Rima Vestibuli.
Merupakan celah antara pita suara palsu.

ilago kornikulata dan tepi

Rima glottis
Di depan merupakan celah antara pita suara sejati, di belakang antara prosesus
vokalis dan basis kartilago aritenoidea.

Vallecula
Terdapat diantara permukaan anterior epiglotis dengan basis lidah, dibentuk
oleh plika glossoepiglotika medial dan lateral.

Plika Ariepiglotika
Dibentuk oleh tepi atas ligamentum kuadringulare yang berjalan dar
epiglotika ke kartilago aritenoidea dan kartilago kornikulata.

i kartilago

Sinus Pyriformis (Hipofaring)


Terletak antara plika ariepiglotika dan permukaan dalam kartilago tiroidea.

Incisura Interaritenoidea
Suatu lekukan atau takik diantara tuberkulum kornikulatum kanan dan kiri.

Vestibulum Laring

Ruangan yang dibatasi oleh epiglotis, membrana kuadringularis, kartilago


aritenoid,

permukaan

m.interaritenoidea.

atas

proc.

vokalis

kartilago

aritenoidea

dan

Plika Ventrikularis (pita suara palsu)


Yaitu pita suara palsu yang bergerak bersama-sama dengan kartilago
aritenoidea untuk menutup glottis dalam keadaan terpaksa, merupakan dua
lipatan tebal dari selaput lendir dengan jaringan ikat tipis di tengahnya.

Ventrikel Laring Morgagni (sinus laringeus)


Yaitu ruangan antara pita suara palsu dan sejati.

Dekat ujung anterior dari

ventrikel terdapat suatu divertikulum yang meluas ke atas diantara pita suara
palsu dan permukaan dalam kartilago tiroidea, dilapisi epitel berlapis semu
bersilia dengan beberapa kelenjar seromukosa yang fungsinya untuk
3

melicinkan pita suara sejati, disebut appendiks atau sakulus ventrikel laring.

Plika Vokalis (pita suara sejati)


Terdapat di bagian bawah laring. Tiga per lima bagian dibentuk oleh
ligamentum vokalis dan celahnya disebut intermembranous portion, dan dua
per lima belakang dibentuk oleh prosesus vokalis dari kartilago aritenoidea
3

dan disebut intercartilagenous portion.

A.3 persarafan Laring


Laring dipersarafi oleh cabang N. Vagus yaitu Nn. Laringeus Superior dan
Nn. Laringeus Inferior (Nn. Laringeus Rekuren) kiri dan kanan.5

Nn. Laringeus Superior.3

Meninggalkan N. vagus tepat di bawah ganglion nodosum,


melengkung ke depan dan medial di bawah A. karotis interna dan eksterna
yang kemudian akan bercabang dua, yaitu :
-

Cabang Interna ; bersifat sensoris, mempersarafi vallecula, epiglotis,


sinus pyriformis dan mukosa bagian dalam laring di atas pita suara

sejati.
Cabang Eksterna ; bersifat motoris, mempersarafi m. Krikotiroid dan m.
Konstriktor inferior.

N. Laringeus Inferior (N. Laringeus Rekuren).5


Berjalan dalam lekukan diantara trakea dan esofagus, mencapai laring tepat
di belakang artikulasio krikotiroidea. N. laringeus yang kiri mempunyai
perjalanan yang panjang dan dekat dengan Aorta sehingga mudah terganggu.
Merupakan cabang N. vagus setinggi bagian proksimal A. subklavia dan
berjalan membelok ke atas sepanjang lekukan antara trakea dan esofagus,
selanjutnya akan mencapai laring tepat di belakang artikulasio krikotiroidea
dan memberikan persarafan :
Sensoris, mempersarafi daerah sub glotis dan bagian atas trakea
Motoris, mempersarafi semua otot laring kecuali M. Krikotiroidea

A.4 Vaskularisasi Laring


Laring mendapat perdarahan dari cabang A. Tiroidea Superior dan Inferior
sebagai A. Laringeus Superior dan Inferior.

Arteri Laringeus Superior


Berjalan bersama ramus interna N. Laringeus Superior menembus membrana
tirohioid menuju ke bawah diantara dinding lateral dan dasar sinus pyriformis.
3

Arteri Laringeus Inferior


Berjalan bersama N. Laringeus Inferior masuk ke dalam laring melalui area
Killian Jamieson yaitu celah yang berada di bawah M. Konstriktor Faringeus
Inferior di dalam laring beranastomose dengan A. Laringeus Superior dan
memperdarahi otot-otot dan mukosa laring.3
Darah vena dialirkan melalui V. Laringeus Superior dan Inferior ke V. Tiroidea

Superior dan Inferior yang kemudian akan bermuara ke V. Jugularis Interna.3


Laring mempunyai 3 (tiga) sistem penyaluran limfe, yaitu :

Daerah bagian atas pita suara sejati, pembuluh limfe berkumpul membentuk saluran
yang menembus membrana tiroidea menuju kelenjar limfe cervical superior profunda.
Limfe ini juga menuju ke superior dan middle jugular node.
Daerah bagian bawah pita suara sejati bergabung dengan sistem limfe trakea, middle
jugular node, dan inferior jugular node.
Bagian anterior laring berhubungan dengan kedua sistem tersebut dan sistem limfe
esofagus. Sistem limfe ini penting sehubungan dengan metastase karsinoma laring
dan menentukan terapinya.

Laring mempunyai 3 (tiga) fungsi dasar yaitu fonasi, respirasi dan proteksi disamping
beberapa fungsi lainnya seperti terlihat pada uraian berikut :
1. Fungsi Fonasi.

Pembentukan suara merupakan fungsi laring yang paling kompleks. Suara dibentuk
karena adanya aliran udara respirasi yang konstan dan adanya interaksi antara udara
dan pita suara. Nada suara dari laring diperkuat oleh adanya tekanan udara pernafasan
subglotik dan vibrasi laring serta adanya ruangan resonansi seperti rongga mulut,
udara dalam paru-paru, trakea, faring, dan hidung. Nada dasar yang dihasilkan dapat
dimodifikasi dengan berbagai cara. Otot intrinsik laring berperan penting dalam
penyesuaian tinggi nada dengan mengubah bentuk dan massa ujung-ujung bebas dan
tegangan pita suara sejati.
2. Fungsi Proteksi.

Benda asing tidak dapat masuk ke dalam laring dengan adanya reflek otot-otot yang
bersifat adduksi, sehingga rima glotis tertutup. Pada waktu menelan, pernafasan

berhenti sejenak akibat adanya rangsangan terhadap reseptor yang ada pada epiglotis,
plika ariepiglotika, plika ventrikularis dan daerah interaritenoid melalui serabut
afferen N. Laringeus Superior. Sebagai jawabannya, sfingter dan epiglotis menutup.
Gerakan laring ke atas dan ke depan menyebabkan celah proksimal laring tertutup
oleh dasar lidah. Struktur ini mengalihkan makanan ke lateral menjauhi aditus dan
masuk ke sinus piriformis lalu ke introitus esofagus.
3. Fungsi Respirasi.

Pada waktu inspirasi diafragma bergerak ke bawah untuk memperbesar rongga dada
dan M. Krikoaritenoideus Posterior terangsang sehingga kontraksinya menyebabkan
rima glotis terbuka. Proses ini dipengaruhi oleh tekanan parsial CO2 dan O2 arteri
serta pH darah. Bila pO2 tinggi akan menghambat pembukaan rimaglotis, sedangkan
bila pCO2 tinggi akan merangsang pembukaan rima glotis. Hiperkapnia dan obstruksi
laring mengakibatkan pembukaan laring secara reflektoris, sedangkan peningkatan
pO2 arterial dan hiperventilasi akan menghambat pembukaan laring. Tekanan parsial
CO2 darah dan pH darah berperan dalam mengontrol posisi pita suara.7
B. Tumor Jinak Laring
Tumor jinak laring tidak banyak ditemukan, hanya kurang lebih 5% dari
semua jenis tumor laring. Tumor jinak laring dapat berupa :1
Papiloma laring
Adenoma
Kondroma
Mioblastoma sel granuler
Hemangioma
Lipoma
Neurofibroma

B.1 Anamnesis
Keluhan yang paling umum dikeluhkan dari pasien penderita tumor jinak
laring adalah keluhan disfonia atau adanya gangguan suara. Keluhan gangguan
suara dapat berupa suara parau yaitu terdengar suara terdengar kasar (roughness)
dengan nada lebih rendah dari biasanya, suara lemah (hipofonia), hilang suara
(afonia), suara terdiri dari beberapa nada (diplofonia), nyeri saat bersuara
(odinofonia) atau ketidakmampuan mencapai nada tertentu. Selain itu keluhan
lain juga dirasakan seperti suara serak, terasa adanya sesuatu di tenggorokan,
dyspnea, suara napas stridor, disfagia, dan bisa sampai menyebabkan obstruksi
jalan napas.2
B.2 Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik awal pada kasus yang diduga tumor jinak laring dapat
dilakukan dengan laringoskopi indirek. Lokasi tersering dari tumor pada laring
berada di supraglotis diikuti glottis dan subglotis. Informasi yang didapat dari
laringoskopi indirek belum dapat menyimpulkan suatu diagnosis tumor laring
sehingga diperlukan pemeriksaan penunjang.11
B.3 Diagnosis
1. Papiloma laring
Papiloma adalah tumor jinak epitel yang disebabkan oleh infeksi Human
Papilloma Virus (HPV). Papiloma adalah neoplasma jinak yang paling umum
yang mempengaruhi laring dan saluran pernapasan bagian atas. Degenerasi
ganas untuk karsinoma sel skuamosa dapat terjadi, tapi sangat jarang.
Prevalensi keseluruhan berkisar dari 2 per 100.000 orang dewasa menjadi 4,5
per 100.000 anak. Dengan demikian, lebih dari 10.000 orang Amerika
menderita papiloma pernapasan.8
Tumor ini dapat digolongkan dalam 2 jenis :
a. Papiloma laring juvenile, ditemukan pada anak, biasanya berbentuk
multiple dan mengalami regresi pada waktu dewasa. Tumor ini dapat

tumbuh pada pita suara bagian anterior atau daerah subglotik. Dapat pula
tumbuh di plika ventrikularis atau aritenoid. Secara makroskopik
bentuknya seperti buah murbei, berwarna putih kelabu dan kadang
kadang kemerahan, jaringan tumor ini sangat rapuh dan kalau dipotong
tidak menyebabkan perdarahan. Sifat yang menonjol dari tumor ini ialah
sering tumbuh lagi setelah diangkat, sehingga operasi pengangkatan harus
dilakukan berulang ulang.1
b. Pada orang dewasa biasanya berbentuk tunggal, tidak akan mengalami
resolusi dan merupakan prekanker.9
Papiloma merupakan neoplasma bukan reaksi dari stimulus inflamasi
kronik. Agen penyebab dari papiloma adalah human papilloma virus (HPV)
terutama HPV 6 dan HPV 11. Transformasi papilloma ke bentuk malignansi
sangat jarang ditemukan pada bentuk juvenile tetapi lebih sering ditemukan
pada orang dewasa.11

Tanda dan gejala utama dari papiloma laring adalah suara parau. Kadang
kadang terdapat pula batuk. Apabila papiloma telah menutup rima glottis
maka timbul sesak napas dengan stridor.1

Tampakkan endoskopik khas dari papiloma laring adalah bahwa


adanya tonjolan lembut, berwarna kemerahan - merah muda, lesi seperti
buah raspberry meliputi area besar glotis dan supraglottis. Umumnya, lesi
pertama kali muncul pada pita suara.9
Meskipun papilomas merupakan tumor yang jinak, pertumbuhan
yang cepat mereka dapat menyebabkan obstruksi jalan napas yang dapat
menyebabkan sesak napas jika tidak diobati. Tindakan trakeostomi
mungkin diperlukan dalam beberapa kasus, tetapi dihindari mengingat
biaya yang mahal. Papiloma dapat mempengaruhi pita suara dan/atau
epiglotis, dan kadang-kadang dapat menyebar distal untuk melibatkan
trakea atau bronkus. Pengobatan biasanya terdiri dari melakukan
laringoskopi secara berkala dengan operasi pengangkatan menggunakan
karbon dioksida laser (CO2). Karena hidup virus dalam jaringan muncul
normal di sekitarnya papiloma, kekambuhan mungkin terjadi, sehingga
pengangkatan berulang dengan endoskopi sering diperlukan. Beberapa

anak mungkin memerlukan eksisi 1 sampai 2 kali sebulan (biasanya


dilakukan sebagai pasien rawat jalan). Papiloma mungkin bisa terjadi
regresi spontan pada masa pubertas, meskipun banyak anak-anak
memerlukan pengobatan seumur hidup.8
Tidak dianjurkan untuk memberikan radioterapi, oleh karena
papiloma dapat berubah menjadi ganas.1
Karena sifat agresif penyakit pada individu tertentu, terapi ajuvan
telah dicari untuk pengobatan papiloma rekurensi. Pilihan seperti radiasi,
vaksinasi, terapi photodynamic, dan berbagai agen kemoterapi telah dicoba.
Sejak diperkenalkannya terapi laser di - kantor dengan PDL, terapi ajuvan
belum diperlukan untuk pengobatan papiloma. Pilihan seperti radiasi,
vaksinasi, terapi photodynamic, dan berbagai agen kemoterapi telah dicoba.8
Interferon secara alami diproduksi zat dalam tubuh yang
digunakan untuk melawan infeksi dan tumor. versi sintetis juga tersedia.
Meskipun beberapa peneliti telah melaporkan keberhasilan dengan
penggunaan interferon untuk pengobatan RRP agresif, efek samping yang
sering seperti kelelahan, pusing, malaise, nyeri tubuh, sakit kepala dan
demam, serta kecenderungan untuk papiloma untuk kambuh setelah
interferon yang memiliki dihentikan, telah dicegah yang digunakan tersebar
luas.8
Indole-3-carbinol, turunan alami dari sayuran (kol dan brokoli),
telah ditunjukkan untuk mengubah pola pertumbuhan RRP. Tampaknya
menjadi aman dan ditoleransi dengan baik dan dapat membuktikan menjadi
terapi tambahan yang layak untuk RRP agresif pada pasien tertentu.8
Metotreksat milik kelas dari agen kemoterapi yang disebut
antimetabolites. Ini blok obat enzim (dihydrofolate reduktase) yang
dibutuhkan oleh sel-sel tumor untuk hidup. Sejak pertumbuhan sel-sel tubuh
yang normal juga akan terpengaruh, efek samping juga dapat terjadi
(masalah darah, hati, atau ginjal, diare, kehilangan rambut, orang lain).

Beberapa peneliti telah melaporkan manfaat klinis dengan penggunaan


adjunctive metotreksat pada pasien tertentu dengan RRP agresif. Penelitian
tambahan diperlukan, namun, untuk selanjutnya menentukan keberhasilan
terapinya.8
Sidofovir simerupakan obat antivirus yang digunakan untuk
mengobati infeksi virus. Penggunaan terbaru dari obat ini dalam mengobati
RRP telah menunjukkan beberapa janji. Untuk mengobati RRP, sidofovir
telah disuntikkan langsung ke papilloma (lokal) pada saat endoskopi. Tidak
ada dilaporkan efek samping yang serius untuk pengetahuan kita dan
beberapa pasien telah mengalami regresi papilloma lengkap setelah
beberapa suntikan.8
2. Hemangioma Laring
Tumor ini lebih sering ditemukan pada anak-anak dibandingkan
dengan orang dewasa. Hemangioma sering ditemukan kuadran posterior
lateral kiri dari subglottis (meskipun

bisa muncul dimanapun di daerah

laring), plika vokalis.11


Kejadian hemangioma laring pada orang dewasa tidak diketahui
karena kelangkaan laporan kasus; Sebaliknya kejadian pada bayi 4-5%.
Patogenesis
vaskulogenik

adalah
positif

berhubungan

dengan

dan

yang

negatif

ketidakseimbangan
berpuncak

pada

faktor

proliferasi

haemangioma. Umumnya, hemangioma mengalami ekspansi (fase proliferasi)


pada 5 bulan pertama kehidupan, ini diikuti dengan regresi (fase involusi) dari
lesion. Bila lesi gagal berinvolusi, akan menghasilkan hemangioma persisten
dan membentuk platform untuk proliferasi tanpa hambatan.12
Kebanyakan gejala umum termasuk disfagia, disfonia dan sesak napas.
Dapat juga terjadi stridor bifasik, memburuk ketika anak menangis
(hemangioma menjadi penuh dengan darah), juga terjadi perdarahan pada
laring.11

Endoskopi hampir selalu digunakan untuk mendiagnosis hemangioma


laring. Pemeriksaan lain seperti Magnetic Resonance Imaging (MRI) dengan
kontras dan angiografi biasanya digunakan untuk tumor yang besar dan untuk
pasien dengan gejala pernapasan. Biopsy tidak disarankan karena dapat
beresiko memperparah perdarahan.13
Tatalaksana berupa eksisi jaringan tumor, menggunakan bedah laring
mikroskopik dengan CO2 atau Laser YAG. Faringotomi lateral juga dapat
dilakukan sebagai terapi pada hemangioma.12

3. Kondroma Laring
Kondroma merupakan lesi yang pertumbuhannya lambat (Slow
growing lession) yang tersusun atas kartilago hialin. Lebih sering ditemukan
pada wanita dibandingkan dengan pria dengan dengan rasio 1 : 4. Tidak ada
penyebab definitif dari kondroma laring, umumnya diakibatkan osifikasi
kartilago laring yang ireguler. Faktor penyebab lain yaitu radioterapi. Pada
umumnya, kondroma laring muncul pada internal posterior kartilago krikoid
(kartilago hyaline), juga muncul dari kartilago thyroid, kartilago arytenoids,
kartilago epiglottic (katilago elastic).11,14
Gejala klinis yang sering ditemukan adalah suara serak yang
diakibatkan kekakuan dari pita suara, dyspnea untuk letak lesi di subglotik,
disfagia untuk lesi pada posterior cricoid, dan sensasi globus. Pada

pemeriksaan dengan laringoskopi tampak massa yang halus, lunak,terfiksasi,


dan biasanya tertutup oleh mukosa yang normal. Pemeriksaan penunjang pada
kondroma laring dapat dilakukan dengan biopsy dan pada pemeriksaan CT
scan leher ditemukan adanya kalsifikasi.11
Terapi pada kondroma yaitu tindakan eksisi komplit pada tumor
dengan endoskopi. Jika pengangkatan tumor memerlukan reseksi sebagian
dari cricoids ring, meninggalkan laring tidk stabil dan rawan kolaps, maka
total laringektomi biasanya dilakukan.15

4. Mioblastoma sel granular


Mioblastoma sel granuler atau Granular Cell Tumor (GCT) merupaka
tumor jinak, tumbuh perlahan yang berasal dari sel Schwann. Dapat tumbuh
pada beberapa bagian tubuh dan 50% kasus terjadi di area kepala dan leher.
Pada laring kasus GCT sangat langka dan dilaporkan hanya 3% dari 10%
kasus yang ada. GCT laring

merupakan tumor yang berukuran kecil,

berbentuk bulat, berbatas tegas yang dilapisi submukosa berwarna abu- abu
atau kuning, mendatar dan memiliki mukosa yang normal. Trauma laring
dihubungkan dengan etiologi dari GCT, apapun itu dalam bentuk trauma fisik
ataupun trauma kimia.16

Secara klinis, pita suara sejati adalah lokasi yang paling umum untuk
laring mioblastoma sel granuler, tetapi keterlibatan aritenoid, anterior
komisura, pita suara palsu, subglottis juga pernah dilaporkan. Gejala laring
tergantung pada ukuran dan tempat lesi, dan yang paling sering dysphonia
atau suara serak yang kronis gejala langka termasuk stridor, hemoptisis,
disfagia, otalgia, tetapi tumor ini juga mungkin asimtomatik dan ditemukan
hanya selama pemeriksaan fisik rutin.17
Prosedur pengangkatan mioblastoma sel granular laring bergantung
pada lokasi dan luasnya lesi. Eksisi local dengan laringoskop atau endoskopi
dilakukan pada tumor dengan ukuran kecil, sedangkan laryngofissure,
laringektomi parsial dan irradiasi dilakukan pada tumor dengan ukuran besar.
Eksisi local dapat memberikan hasil yang baik dalam pemeliharaan struktur
normal, tetapi masih memungkinkan terjadinya rekurensi. Mungkin dapat
muncul lesi baru.17

5. Lipoma laring
Lipoma merupakan tumor jaringan mesenkimal yang sangat jarang
terjadi dalam bidang THT seperti laring. Presentasi kejadian lipoma laring

hanya 0,6% dari semua tumor jinak pada bidang THT. Penyebab dari lipoma
laring belum diketahui. Beberapa peneliti berpendapat bahwa lipoma dapat
muncul dari embriogenetik sel lipoblast atau metaplasia dari sel otot dan
pendapat lain yaitu lipoma mungkin terjadi diakibatkan factor endockrin,
trauma, infeksi atau kondisi iritasi kronik. Pada pemeriksaan fisik, tumor
tampak seperti massa pedunculata, seperti kista dengan permukaan yang halus
dan berlobulus, berkapsul, dan terbungkus mukosa normal berwarna merah
muda kekuningan..18
Gejala dari lipoma laring berupa disfagia, disfonia, obstruksi jalan
napas akut, suara serak, dan sensasi adanya sesuatu di dalam tenggorokan.
Beberapa pasien hanya mengeluhkan suara serak dan dyspnea.19
Penggunaan endoskopi pada lipoma laring bervariasi dari masa
submukosa sampai polipoid intraluminal. Diagnosis menjadi lebih mudah
dengan pencitraan. Pada CT scan, lipoma memiliki tampakan lesi homogen
dengan densitas lebih rendah dari air. Akurasi CT scan 75-90%. MRI lebih
baik digunakan dari CT scan karena dianggap lebih baik dalam pemeriksaan
jaringan lunak.18
Tumor dengan ukuran kecil dapat dihilangkan melalui laringoskop
direk dengan bantuan mikroskop sedangkan untuk tumor yang lebih besar,
memerlukan tindakan eksternal (lateral faringotomi, laringofissura, sub-hyoid
faringotomi). Perlu diketahui, eksisi harus dilakukan tanpa meninggalkan sisa
jaringan tumor untuk menghindari terjadinya rekurensi.19

6. Adenoma Laring
Adenoma merupakan tumor yang berasal dari glandula saliva. Lesi ini
jarang ditemukan pada laring. Ketika terdapat adenoma pada laring, tempat
paling sering ditemukan yaitu pada epiglottis (beberapa artikel menyebutkan
subglotis).20
Gejala yang dapat muncul pada pasien dengan adenoma laring
termasuk dispnea, disfonia, suara serak dan disfagia. Distress pernapasan
mungkin belum terlihat pada awal munculnya tumor, namun selanjutnya dapat
muncul seirirng bertambahnya ukuran tumor.20
Pemeriksaan laringoskop direk dilakukan

untuk

menentukan

diagnosis. Pemeriksaan histopatologi dianggap perlu untuk mendiagnosis


sebelum dilakukan eksisi bedah. Terdapat resiko rekurensi atau penyebaran
dari adenoma pada laring dan menjadi pertimbangan dalam melakukan biopsy
insisi maupun eksisi. Dengan penelitian yang dilakukan bertahun tahun
didapat kesimpulan bahwa pilihan pengobatan adalah dengan eksisi tumor.20
Eksisi yang dilakukan pada adenoma laring termasuk faringotomi,
laringofisur dan penggunaan laser. Epiglotektomi melalui faringotomi lateral
dilaporkan pada kasus epiglotic mixed tumor. Terapi radiasi dapat
dipertimbangkan pada kasus tumor laring seperti adenoma. Dapat dilakukan

jika ada kontraindikasi pembedahan yang disebabkan kondisi umum pasien.


Tidak ada laporan yang menyatakan bahwa terapi radiasi menyebabkan
rekurensi.20

7. Neurofibroma laring
Neurofibroma merupakan tumor penyebab obstruksi saluran napas bagian atas
yang jarang ditemukan. Lebih banyak ditemukan pada pasien anak anak.
Tumor ini berasal dari proliferasi menyimpang sel Schwann, fibroblast dan sel
perineural dan juga memiliki hubungan dengan neurofibromatosis -1 (NF-1)
dan Neurofibromatosis-2 (NF-2).21
Tanda dan gejala dari neurofibroma laring bergantung pada lokasi dan ukuran
tumor. Biasanya pasien mengeluhkan benjolan di tenggorokan, disfagia,
perubahan suara, stridor dan dyspnea. Pada umumnya tumor jenis ini tumbuh
di region supraglotis dengan mayoritas melibatkan arytenoids dan aryepiglotic
fold diikuti pita suara palsu karena pada area ini kaya akan plexus saraf
terminal. Pemeriksaan menggunakan laringoskop menunjukkan massa pada
submukosa, halus, kaya akan vaskularisasi, paling umum di daerah
supraglotis.21,22
Terapi pilihan untuk neurofibroma laring adalah dengan operasi pengangkatan
tumor. Eksisi tumor menggunakan laringoskop atau melalui eksternal dapat
dilakukan. Faringotomi lateral atau tyrotomi lateral bisa dilakukan untuk

membuat akses ke lesi tumor. Kadang kadang diperlukan tindakan


trakeostomi untuk menjaga jalan napas ketika prosedur tersebut dilakukan.22

Gambar
B.4 Komplikasi
Komplikasi dapat timbul dari penyakit dan tindakan pembedahan seperti
stenosis posterior glottis, stenosis anterior glottis, stenosis subglotis ataupun
stenosis trakea. Komplikasi intraoperatif termasuk pneumotoraks. Dilaporkan
juga bahwa kasus pada anak dapat membuat perubahan suara yang permanen.7
B.5 Prognosis
Setelah diagnosis tumor dibuat, prognosis menjadi lebih bervariasi. Harus
dilakukan pengawasan untuk menentukan agresivitas. Beberapa ahli bedah
menindaklanjuti pasien di klinik, menilai kebutuhan untuk prosedur pembedahan
berikutnya berdasarkan gejala pasien seperti obstruksi saluran napas dan pada
apa yang diamati melalui laringoskop.7

DAFTAR PUSTAKA

1. Soepardi, Efiaty Arsyad, and Nurbaiti Iskandar, 2014, "Buku Ajar Ilmu
Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok Kepala Leher." Jakarta: Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia
2. Sasaki

CT.

Overview

of

Laryngeal

Tumors.

Diakses

dari

http://www.merckmanuals.com/professional/ear,-nose,-and-throat-disorders/
laryngeal-disorders/benign-laryngeal-tumors. Pada tanggal 28 Juni 2016
3. Graney, D. and Flint, P. Anatomy. In : Cummings C.W. Otolaryngology - Head
and Neck Surgery. Second edition. St Louis : Mosby,
4. Lee, K.J. Cancer of the Larynx. In; Essential Otolaryngology Head and Neck
Surgery . Eight edition. Connecticut. McGraw-Hill, 2003
5. Woodson, G.E. Upper airway anatomy and function. In : Byron J. Bailey. Head
and Neck Surgery-Otolaryngology. Third edition. Volume 1. Philadelphia :
Lippincot Williams and Wilkins, 2001: 479-486.
6. Brown Scott : Orolaryngology. 6th ed. Vol. 1. Butterworth, Butterworth & Co
Ltd.
7. Eloise

Harman,

2015,

Respiratory

papillomatosis,

diakses

dari

http://emedicine.medscape.com/article/302648-overview. pada tanggal 28 Juni


2016
8. Peter belafsky, 2014, Laryngeal Papilloma, The Center for Voice and
Swallowing. Diakses dari http://www.ucdvoice.org/laryngeal-papilloma-2/ pada
tanggal 10 Juli 2016
9. Probst R, Grevers G, and Iro H. Basic Otorhinoloaryngology: A Step-By-Step
Learning Guide. New York: Georg thieme Verlag, 2006.
10. Marc Remacle, Surgery of Larynx and Trachea, Springer Heidelberg Dordrecht
London New York, 2010
11. R. Pasha, Otolaryngology Head and Neck Surgery, University of Michigan :
United States, 2001
12. Shabbir Akhtar, Adult Laryngeal Haemangioma; a Rare Entity, Department of
Surgery Section of Otolaryngology, Head and Neck Surgery, The Aga Khan
University : Pakistan. 2012

13. Regina

Helena,

Laryngeal

Haemangioma,

Brazilian

journal

of

Otorhinolaryngology, Medical School of Botucatu:Brazil. 2006


14. Ebru Tastekin, Laryngeal Chondroma: A Rare Diagnosis In This Localization,
Department of Pathology, Trakya University Medical Faculty, 22030 Edirne,
Turkey. 2011
15. Damiani, Chondroma of the Larynx. Surgical Technique, Archive of
16.

Otolaryngology, Chicago. 1981


Jun-Hee Park, Granular Cell

Tumor

on

Larynx,

Department

of

Otorhinolaryngology-Head and Neck Surgery, Chosun University College of


17.

Medicine, Gwangju, Korea. 2010


Ilseon Hwang, Granular Cell Tumors of Larynx, Departments of Pathology and
Otorhinolaryngology, University of Ulsan College of Medicine, Asan Medical

Center, Seoul, Korea. 2007


18. M.De Vincentiis, Lipoma of the Larynx : a case report, Department of
Otolaryngology, Audiology and Phonation, Sapienza University, Rome, Italy.
2010
19. Leandro Ricardo, Laryngeal Lipoma : A Case Report, Otorhinolaryngology and
Head & Neck Surgery Department.So Paulo / SP Brazil. 2007
20. Seyyed Jafar, Pleomorphic Adenoma of the Larynx : A Case Report, Department
of Otolaryngology, Mazandaran University Of Medical Sciences, Sari: Iran.2016
21. Steven B, Pediatric Laryngeal Neurofibroma: Case Report and Review of the
Literature, Department of Otolaryngology Head and Neck Surgery, University
of Michigan Medical School:Ann Arbor. 2014
22. Yi Wei Chen, A Solitary Laryngeal Neurofibroma in A Pediatric Patient,
Department of Otolaryngology, Chang Gung Memorial Hospital:Taipei.2004
ALGORITMA DIAGNOSIS

Anamnesis dan Gejala :


suara parau
disfonia
disfagia
bunyi napas stridor
dyspnea

Komplikasi
Pemeriksaan
penunjang:
stenosis
posterior
glottis
Pemeriksaan
fisik :
Prognosis

Endoskopi
Laring
Menggunakan
stenosis anterior
glottis
laringoskop
Baik jika
dilakukanindirect
dengan
penanganan
CT-Scan
stenosis
subglotis
Tatalaksana
terlihat
massa
pada
laring
tepat sehingga
menghindari
berubahnya
MRI
selstenosis
trakea
KondromaPapiloma
laring Laring
Mioblastoma
Hemangioma
Lipoma Laring Adenoma
Neurofibroma
Laring
Eksisi
tumor
ke arahtumor
keganasan

Histopatologi

pneumotoraks
granuler
Laring