Anda di halaman 1dari 19

Pengertian Sel

Pengertian sel adalah unit struktural dan fungsional pengusun tubuh


Mahluk Hidup. Mahluk hidup seluler baik yang bersel tunggal (uniseluler)
maupun yang bersel banyak (multiseluler) berdasarkan pada beberapa
sifatnya, antara lain ada tidaknya system endomembran, dikelompokkan dalam
dua tipe sel, yaitu sel prokariotik dan seleukariotik.
Sel Prokariotik
Sel prokariotik merupakan tipe sel yang tidak memiliki sistem
endomembran sehingga sel tipe ini memiliki materi inti yang tidak dibatasi oleh
sistem membran, tidak memiliki organelyang dibatasi oleh sistem membran. Sel
prokariotik terdapat pada bakteri dan ganggang biru.
Sel Eukariotik
Sedangkan sel eukariotik merupakan tipe sel yang memiliki sistem
endomembran. Pada sel eukariotik, inti tampak jelas karena dibatasi oleh sistem
membran. Pada sel ini, sitoplasma memiliki berbagai jenis organel seperti antara
lain: badan Golgi, retikulum endoplasma (RE), kloroplas (kuhusus pada
tumbuhan),

mitokondria,

badan

mikro,

dan

lisosom.

Struktur dan Fungsi Sel Prokariotik


Bakteri merupakan salah satu contoh organisme yang memiliki sel tipe
prokariotik.

Gambar 1. Struktur umum sel prokariotik terdiri dari kapsul, dinding sel
(membran luar dan peptidoglikan merupakan anggota karbohidrat), membran
plasma, sitoplasma yang mengandung ribosom dan nukleoid.

Bagian luar sel bakteri terdiri dari: kapsula, dinding sel, dan membran plasma.
Kapsula yaitu bagian yang paling luar berupa lendir yang berfungsi untuk
melindungi sel. Bahan kimia pembangun kapsula adalah polisakarida. Dinding
sel terdiri dari berbagai bahan seperti karbohidrat, protein, dan beberapa garam
anorganik serta berbagai asam amino.
Fungsi Dinding sel
Fungsi dinding sel yaitu sebagai pelindung, mengatur pertukaran zat dan
reproduksi. Sedangkan membran dalam merupakan bagian penutup yang paling
dalam. Membran plasma bakteri mengadung enzim oksida dan respirasi.
Fungsinya serupa dengan fungsi mitokondria pada sel eukariotik. Pada
beberapa daerah membran plasma membentuk lipatan ke arah dalam disebut
mesosom. Fungsi mesosom yaitu untuk respirasi dan sekresi dan menerima
DNA pada saat konyugasi. Beberapa bakteri memiliki alat gerak berupa flagel.
Beberapa bakteri lainnya mengandung villi yang berfungsi untuk melekatkan
diri. Sitoplasma merupakan bagian dalam sel bakteri. Sitoplasma berbentuk
koloid yang agak padat yang mengandung butiran-butiran protein, glikogen,

lemak dan berbagai jenis bahan lainnya. Pada sitoplasma sel bakteri tidak
ditemukan organel-organel yang memiliki sistem endomembran seperti badan
Golgi, retikulum endoplasma (RE), kloroplas, mitokondria, badan mikro, dan
lisosom. Sedangkan ribosom banyak ditemukan pada sitoplasma bakteri.
bakteri gram positif dan gram negatif

Struktur dinding bakteri Gram positif dan bakteri Gram negatif. Bandingkan
komponen utama dinding sel kedua jenis bakteri, bagaimana letak peptidoglikan
pada kedua bakteri tersebut. Peptidoglikan inilah yang membedakan hasil
pewarnaan Gram yang berbeda pada kedua bakteri tersebut. (Sumber :
Campbell et al., 2000)

Struktur dan Fungsi Sel Eukariotik


Sel eukariotik merupakan sel yang memiliki sistem endomembran. Sel
tipe ini secara struktural memiliki sejumlah organel pada sitoplasmanya.
Organel tersebut memiliki fungsi yang sangat khas yang berkaitan satu dengan
yang lainnya dan berperan penting untuk menyokong fungsi sel. Organisme
yang memiliki tipe sel ini antara lain hewan, tumbuhan dan jamur baik
multiseluler maupun yang uniseluler.
Tipe sel eukariotik pada tumbuhan sedikit berbeda dengan pada hewan. Pada sel
hewan, pada bagian luar sel tidak ditemukan adanya dinding sel, sebaliknya
pada tumbuhan dan jamur ditemukan adanya dinding sel. Walaupun demikian

dinding sel tumbuhan dan sel jamur secara kimiawi berbeda penyusunnya. Pada
jamur didominasi oleh chitin sedangkan pada tumbuhan selulosa. Pada
tumbuhan ditemukan adanya organel kloroplas sedangkan pada jamur dan
hewan tidak ditemukan. Selain perbedaan tersebut pada dasarnya baik sel
hewan, tumbuhan, dan jamur memiliki struktur yang serupa.

Gambar 3. Sel hewan, tampak dalam gambar di atas struktur sel hewan yang
memiliki system endomembran sehingga pada sel tipe ini ditemukan berbagai
organel pada sitoplasmanya. Pada gambar tampak organel badan Golgi
(apparatus Golgi), RE (kasar dan halus), mitokondria, dan peroksisom (bagian
dari badan mikro), selain itu tampak adanya ribosom, sentriol, dan sitoskeleton
yang memiliki peran penting di dalam sel.

Gambar 4. Sel tumbuhan, tampak dalam gambar di atas struktur sel tumbuhan
yang memiliki sistem endomembran sehingga pada sel tipe ini ditemukan
berbagai organel pada sitoplasmanya. Pada gambar tampak organel kloroplas,
hanya terdapat pada tumbuhan, selain organel yang serupa ditemukan pada sel
hewan. Selain itu tampak adanya beberapa bagian sel yang hanya dimiliki oleh
tumbuhan seperti : dinding sel dan plasmodesmata.

Membran sel
Membran Sel tersusun oleh lipoprotein. Struktur umumnya dapat dilihat
pada Gambar 5. Membran sel membatasi segala kegiatan yang terjadi di dalam
sel sehingga tidak mudah terganggu oleh pengaruh dari luar

Sitoplasma
Sitoplasma merupakan zat yang terdapat di antara inti sel dan membran
plasma. Organel-organel tersebut memiliki struktur dan fungsi masing-masing
yang khas yang membentuk satu kesatuan untuk mendukung aktivitas sel.
Vakuola pada tumbuhan berfungsi antara lain tempat penyimpanan cadangan
makanan.

Retikulum Endoplasma (RE).


Retikulum

endoplasma

merupakan

membrane

lipoprotein

pada

sitoplasma yang terdapat antara membran inti dan membran sitoplasma. Ada
dua macam RE. RE ganuler (RE kasar) bila pada permukaan membran RE ini
menempel ribosom. RE halus atau non granuler bila pada membran RE tidak
ada ribosom.Fungsi organel ini memproses lebih lanjut protein, lipid atau bahan
lainnya yang akan disekresikan sehingga produk yang dihasilkan sesuai dengan
keperluannya.

Dalam

bentuk

ditransportasi ke badan Golgi.

vesikula

(gelembung)

produk

dari

RE

Gambar 6. Retikulum endoplasma. Tampak hasil gambar mikroskop elektron


pada sisi kiri yang menunjukkan potongan RE dalam dua dimensi. Pada
dasarnya RE merupakan struktur tertutup dari sitoplasma

Badan Golgi
Badan Golgi (bahasa Inggris: golgi apparatus, golgi body, golgi complex atau
dictyosome) adalah organel yang dihubungkan dengan fungsi ekskresi sel, dan
struktur ini dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop cahaya biasa. Organel

ini banyak dijumpai pada organ tubuh yang melaksanakan fungsi ekskresi,
misalnya ginjal.Badan Golgi berfungsi menghasilkan sekret berupa butiran
getah, lisosom primer, menyimpan protein dan enzim yang akan disekresikan.
Pada sel tumbuhan badan Golgi disebut diktiosom. Organel ini menerima
bahan, diolah dan akan disekresikan, dari RE.

Lisosom
Lisosom terdapat pada sel hewan, bentuknya seperti bola dan ukuran
diameternya kurang lebih 500nm. Lisosom mengandung enzim yang berfungsi
untuk mencernakan bahan makanan yang masuk ke dalam sel baik secara
pinositis (makanannya berupa cairan) maupun secara fagositis (makannya
berupa padat).

Ribosom
Ribosom merupakan komponen penting di dalam sel. Ukurannya berkisar
20-25 nm. Ribosom tersusun dari RNA dan protein, terdiri dari sub unit besar
dan sub unit kecil. Sub unit besar dan sub unit kecil akan bergabung bila
ribosom

sedang

menjalankan

fungsinya

yaitu

sintesis

protein.

Badan Mikro
Badan mikro dibedakan dua kelas utama, yaitu peroksisom dan
glioksisom. Peroksisom mengandung enzim katalase dan oksidase terdapat pada
hewan dan tumbuhan. Sedangkan glioksisom umum terdapat pada endosperm
biji dan berperan dalam perkecambahan selain mengandung katalase dan
oksidase mengadung sebagian atau seluruh enzim daur glioksilat (proses

pembentukan sumber energi untuk pertumbuhan dari lemak). Secara umum


badan mikro berfungsi di dalam mengoksidasi lemak sebagai sumber energi.
Dinding Sel.
Dinding sel hanya terdapat pada tumbuhan dan jamur. Fungsi dinding sel
yaitu melindungi sitoplasma dan membran sitoplasma. Pada beberapa sel
tumbuhan sel yang satu dengan sel yang lainnya dihubungkan dengan suatu
celah yang disebut plasmodesmata.
Nukleus (Inti Sel)
Nukleus Bagian-bagian inti sel terdiri dari membran inti, nukleoplasma
(kariolimp) dan kromosom, serta nukleolus. Membran inti memisahkan inti sel
dan sitoplasma. Membran inti terdiri atas dua lapisan membran dan pada
daerah-daerah tertentu terdapat pori-pori yang berfungsi sebagai tempat keluar
masuknya bahan kimia.
Sitoskeleton
Sitoskeleton merupakan rangka sel. Sitoskleleton terdiri dari 3 macam
yaitu : mikrotubul, mikrofilamen, dan filamen intermediet. Mikrotubul tersusun
atas dua molekul Protein tubulin yang bergabung membentuk tabung. Fungsi
mirkotubul memberikan ketahanan terhadap tekanan pada sel, perpindahan sel
(pada silia dan flagella), pergerakan kromosom saat pembelahan sel (anafase),
pergerakan organel, membentuk sentriol pada sel hewan. Mikrofilamen
merupakan filament protein kecil yang tersusun atas dua rantai protein aktin
yang terpilin menjadi satu. Mikrofilamen memiliki fungsi memberi tegangan
pada sel, mengubah bentuk sel, kontraksi otot, aliran sitoplasma, perpindahan
sel

(misalnya

psudopodia)

dan

pembelahan

sel.

Mitokondria dan Kloroplas sebagai organel pembangkit energi


Mitokondria
Mitokondria hati umumnya mempunyai lebar kira-kira 0,5 1,0 um dan
panjang kira- kira 3,0 um. Mitokondria dibatasi oleh dua membran yaitu
membran luar dan membran dalam. Struktur morfologi yang paling bervariasi
adalah krista. Dalam satu sel tertentu Krista biasanya seragam dan khas bagi sel
itu. Dalam tipe-tipe sel yang berbeda, bentuk Krista sangat berbeda. Sebagian
besar mitokondria mempunyai krista seperti lamela atau seperti tubul.

Mekanisme transkripsi dan translasi di dalam mitokondria bergantung kepada


genetic inti. Bahan- bahan tertentu seperti rRNA, tRNA dan mRNA tidak
bergantung kepada inti. Tetapi, protein tertentu ditentukan oleh inti seperti
protein ribosom, RNA polimerase, DNA polimerase, tRNA aminoasil sintetase
dan faktor- faktor sintesis protein. Fenomena yang menarik adalah bahwa
mtDNA tidak dapat diekspresi dan direpllikasi tanpa bantuan inti.
Kloroplas
Sel sebagian besar tumbuhan tinggi umumnya mengandung antara 50
200 kloroplas. Kalau dilihat dari samping bentuknya seperti lensa dengan satu
sisi/permukaan cembung dan permukaan lain cekung, datar atau cembung.

Temukan artikel biologi STRUKTUR DAN FUNGSI SEL


PROKARIOTIK DAN EUKARIOTIK ini dengan kata kunci: fungsi sel,
pengertian sel, struktur sel, struktur dan fungsi sel, sel prokariotik, sel
tumbuhan dan fungsinya, sel eukariotik eukariotik, prokariotik, sel prokariotik
dan eukariotik.

STRUKTUR DAN FUNGSI ORGANEL SEL


STRUKTUR DAN FUNGSI ORGANEL SEL
Sel ialah bangunan bermembran yang merupakan unit terkecil penyusun tubuh
hewan. Bagian sel yang terbesar ialah sitoplasma atau cairan sel. Sitoplasma
diselubungi oleh selaput tipis yang disebut dengan membrane sitoplasma. Sel
sendiri adalah kesatuan structural dan fungsional makhluk hidup di mana
keberadaannya sangat berpengaruh terhadap kepribadian dan tingkah laku dari
masing-masing - makhluk hidup. Dalam sitoplasma terdapat berbagai organel
sel seperti retikulm endoplasma (RE), aparatus golgi, lisosom, mitokondria,
membran inti, dan sentriol.
a. Mitokondria
Mitokondria merupakan organel yang memiliki dua unit membran, yaitu
membran luar dan membran dalam. Antara kedua unit membran tersebut
terdapat ruang antar membran dan di sebelah dalam membran terdapat matriks.

Berfungsi sebagai tempat respirasi dalam sel, mitokondria memiliki struktur


berupa lapisan berdinding rangkap dimana dibagian dalamnya terdapat lipatanlipatan yang disebut krista. Krista ini berfungsi untuk memperluas bidang
permukaan sehingga proses respirasi lebih efektif. Jumlah mitokondria pada
setiap sel akan berbeda-beda tergantung lingkungannya. Dari hasil proses
respirasi ini sehingga di dalam mitokondria dihasilkan ATP (Adenosin Tri
Phospat).

b. Badan Golgi/Aparatus Golgi/Golgi Kompleks


Struktur berupa kantung pipih bertumpuk yang tersusun dari ukuran besar
hingga kecil dan terikat membran. Struktur ini menyebar dalam sitoplasma.
Berfungsi untuk mengeluarkan zat-zat sisa proses metabolisme atau sebagai alat
ekskresi (pengeluaran zat metabolisme). Metabolisme: segala bentuk reaksi
kimia yang terjadi di dalam tubuh. Metabolisme dibagi dua, yaitu reaksi
pembentukan, dan reaksi penguraian. Pada tumbuhan badan golgi sering disebut
diktosom.
Badan golgi berfungsi untuk:
- Mengangkut dan mengubah materi-materi zat kimia yang terdapat di
dalamnya. Pada tanaman dapat menghasilkan sekret (zat yang dihasilkan oleh
kelenjar) sehingga pada tanaman tertentu dapat berupa zat lilin atau zat lender.
- Sekresi protein, karbohidrat, glikoprotein dan lemak. Sekresi ialah proses
pengeluaran zat oleh kelenjar dimana zat tersebut diperlukan organ-organ yang
lain.
- Membentuk enzim-enzim pencernaan.
- Mensintesis polisakarida untuk pembentukan bahan dinding sel pada
tumbuhan.

c. Retikulum Endoplasma (RE)


Retikulum endoplasma merupakan saluran-saluran halus yang berlekuk-lekuk
berfungsi sebagai saluran penghubung antara nukleus dengan sitoplasma.
Retikulum endoplasma dibagi menjadi dua macam, yaitu:
- RE berganular (RE kasar) yaitu RE dimana bagian permukaan luarnya terdapat
bintik-bintik atau granula-granula. Granula ini adalah ribosom. RE kasar
berfungsi untuk transportasi protein yang dihasilkan oleh ribosom

- RE tidak berganula (RE halus), yaitu RE yang bagian permukaannya halus


atau tidak memiliki granula-granula. RE halus berfungsi untuk transportasi zat
lemak dan steroid (hormon).

d. Sentrosom (Sentriol)
Struktur berbentuk bintang yang berfungsi dalam pembelahan sel (Mitosis
maupun Meiosis). Sentrosom bertindak sebagai benda kutub dalam mitosis dan
meiosis. Struktur ini hanya dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop
elektron.
MEKANISME TRANSPOR ZAT MELALUI MEMBRAN
Sel merupakan penyusun jaringan tumbuhan dan hewan. Hewan selalu
melakukan atau mengalami pertukaran zat dengan lingkungannya. Hewan
bersel satu, contohnya amoeba menyelenggarakan proses pertukaran zat,
menyerap makanan, dan mengeluarkan zat-zat sisa melalui seluruh permukaan
tubunya. Segala aktivitas terjadi dalam sel, sehingga fungsi jaringan pun dapat
dilakukan dengan baik. Tentunya di sini ada hubungan antara sel satu dengan
yang lain, terutama dalam hal transpor zat-zat untuk proses metabolisme. Zatzat tersebut keluar masuk sel dengan melewati membran sel. Cara zat melewati
membran sel melalui beberapa mekanisme berikut.
1. Transpor Pasif
Transpor pasif merupakan perpindahan zat yang tidak memerlukan energi.
Perpindahan zat ini terjadi karena perbedaan konsentrasi antara zat atau larutan.
Transpor pasif melalui peristiwa difusi, osmosis, dan difusi terbantu.

a. Difusi
Proses ini merupakan perpindahan molekul larutan berkonsentrasi tinggi
menuju larutan berkonsentrasi rendah tanpa melalui selaput membran. Ini
menunjukkan proses terjadinya difusi. Pada permulaan percobaan semula
molekul glukosa ada di bagian A. Setelah beberapa saat, proses difusi
menyebabkan konsentrasi glukosa di A turun dan di B naik dengan kecepatan
yang sama. Setelah 3 jam, konsentrasi pada kedua ruang tersebut sama dan
keseimbangan akan tercapai. Difusi pada membran sel (selaput plasma) dapat

terlihat pada Gambar 1.15!

Proses difusi sering terjadi pada tubuh kita. Tanpa kita sadari, tubuh kita selalu
melakukan proses ini, yaitu pada saat kita menghirup udara. Ketika menghirup
udara, di dalam tubuh akan terjadi pertukaran gas antarsel melalui proses difusi.
Contoh lain proses difusi adalah saat kita membuat minuman sirup. Sirup yang
kita larutkan dengan air akan bergerak dari larutan yang konsentrasinya tinggi
ke larutan yang konsentrasinya rendah. Pada masing-masing zat, kecepatan
difusi berbeda-beda. Untuk contoh kasus yang dijelaskan, yaitu antara sirup dan
gas, maka kecepatan difusi sirup lebih besar pada gas.
b. Osmosis
Untuk memahami tentang osmosis, perhatikan Gambar 1.16 menunjukkan
proses osmosis. Air akan berpindah dari A menuju B melalui membran semi
permeabel sehingga diperoleh hasil larutan isotonis, yaitu konsentrasi air sama
untuk dua larutan antara A dan B, walaupun hasil akhirnya nanti volume antara
A dan B berbeda. Setelah terjadi osmosis, maka gambar prosesnya menjadi
seperti berikut.

Dari ilustrasi itu dapat disimpulkan bahwa osmosis adalah proses perpindahan
air dari zat yang berkonsentrasi rendah (hipotonis) ke larutan yang
berkonsentrasi tinggi (hipertonis) melalui membran semipermeabel, sehingga
didapatkan larutan yang berkonsentrasi seimbang (isotonis). Peristiwa osmosis
dapat kita temukan dalam kehidupan sehari-hari antara lain pada penyerapan air
melalui bulu-bulu akar, dan mengerutnya sel darah merah yang dimasukkan ke
dalam larutan hipertonis.
c. Difusi Terbantu
Proses difusi terbantu difasilitasi oleh suatu protein. Difusi terbantu sangat
tergantung pada suatu mekanisme transpor dari membran sel. Difusi terbantu
dapat ditemui pada kehidupan sehari-hari, misalnya pada bakteri Escherichia
coli yang diletakkan pada media laktosa. Membran sel bakteri tersebut bersifat
impermeabel sehingga tidak dapat dilalui oleh laktosa. Setelah beberapa menit
kemudian bakteri akan membentuk enzim dari dalam sel yang disebut
permease, yang merupakan suatu protein sel. Enzim permease inilah yang akan

membuatkan jalan bagi laktosa sehingga laktosa ini dapat masuk melalui
membran sel.
2. Transpor Aktif
Transpor aktif merupakan transpor partikel-partikel melalui membran
semipermeabel yang bergerak melawan gradien konsentrasi yang memerlukan
energi dalam bentuk ATP. Transpor aktif berjalan dari larutan yang memiliki
konsentrasi rendah ke larutan yang memiliki konsentrasi tinggi, sehingga dapat
tercapai keseimbangan di dalam sel. Adanya muatan listrik di dalam dan luar sel
dapat mempengaruhi proses ini, misalnya ion K+, Na+dan Cl+. Peristiwa
transpor aktif dapat Anda lihat pada peristiwa masuknya glukosa ke dalam sel
melewati membran plasma dengan menggunakan energi yang berasal dari ATP.
Contoh lain terjadi pada darah di dalam tubuh kita, yaitu pengangkutan ion
kalium (K) dan natrium (Na) yang terjadi antara sel darah merah dan cairan
ekstrasel (plasma darah). Kadar ion kalium pada sitoplasma sel darah merah tiga
puluh kali lebih besar daripada cairan plasma darah. Tetapi kadar ion natrium
plasma darah sebelas kali lebih besar daripada di dalam sel darah merah.
Adanya pengangkutan ion bertujuan agar dapat tercapai keseimbangan kadar
ion di dalam sel. Mekanisme transpor ion ini dapat terlihat pada Gambar 1.17
berikut.

Peristiwa transpor aktif dibedakan menjadi dua, yaitu endositosis dan


eksositosis.
a. Endositosis
Endositosis merupakan peristiwa pembentukan kantong membran sel.
Endositosis terjadi karena ada transfer larutan atau partikel ke dalam sel.
Peristiwa endositosis dibedakan menjadi dua, yaitu sebagai berikut.
1) Pinositosis
Pinositosis merupakan peristiwa masuknya sejumlah kecil medium kultur
dengan membentuk lekukan-lekukan membran sel. Peristiwa ini dapat terjadi
bila konsentrasi protein dan ion tertentu pada medium sekeliling sel sesuai
dengan konsentrasi di dalam sel. Proses pinositosis dapat diamati dengan
mikroskop elektron. Sel-sel yang melakukan proses pinositosis ini antara lain
sel darah putih, epitel usus, makrofag hati, dan lain-lain. Tahapan proses

pinotosis adalah sebagai berikut.


Keterangan gambar:
1. Molekul-molekul medium kultur mendekati membran sitoplasma.
2. Molekul-molekul mulai melekat (menempel) pada plasma, hal ini terjadi
karena adanya konsentrasi yang sesuai antara protein dan ion tertentu pada
medium sekeliling sel dengan di dalam sel.
3. Mulai terbentuk invaginasi pada membran sitoplasma.
4. Invaginasi semakin ke dalam sitoplasma.
5. Terbentuk kantong dalam sitoplasma dan saluran pinositik.
6. Kantong mulai lepas dari membran plasma dan membentuk
gelembunggelembung kantong.
7. Gelembung-gelembung kantong mulai mempersiapkan diri untuk melakukan
fragmentasi. Gelembung pecah menjadi gelembung yang lebih kecil.
2) Fagositosis
Fagositosis merupakan peristiwa yang sama seperti pada pinositosis tetapi
terjadi pada benda padat yang ukurannya lebih besar. Fagositosis dapat diamati
dengan mikroskop misalnya yang terjadi pada Amoeba.Keterangan gambar:
1. Sebuah sel Amoeba mendekati sel Paramaecium.
2. Amoeba membentuk kaki semu (pseudopodia) dan semakin mendekati
Paramaecium.
3. Amoeba mengurung sel Paramaecium dengan kaki semu dan
memasukkannya ke dalam vakuola makanan.
4. Lisosom pada Amoeba mulai bergabung (fusi) dengan vakuola makanan
untuk mengeluarkan enzim pencernaan.
b. Eksositosis
Eksositosis adalah proses keluarnya suatu zat ke luar sel. Proses ini dapat Anda
lihat pada proses kimia yang terjadi dalam tubuh kita, misalnya proses
pengeluaran hormon tertentu. Semua proses sekresi dalam tubuh merupakan
proses eksositosis. Sel-sel yang mengeluarkan protein akan berkumpul di dalam
badan golgi. Kantong yang berisi protein akan bergerak ke arah permukaan sel
untuk mengosongkan isinya.
Tahap-tahap fagositosis dapat terlihat pada Gambar 1.19!