Anda di halaman 1dari 7

RENIUM-186 CTMP SEBAGAI PENGHILANG RASA NYERI

TULANG YANG DISEBABKAN OLEH METASTASIS KANKER


Ita Asfuriyah (4301413051)
Pendidikan Kimia 2013
Universitas Negeri Semarang
Abstrak
Kanker merupakan salah satu penyakit yang tidak menular dan merupakan pembunuh
nomor dua setelah penyakit kardiovaskular. Metastasis kanker merupakan suatu
proses penyebaran sel kanker ke bagian lain dari tubuh, salah satunya adalah tulang.
Senyawa kompleks Renium fosfonat dapat digunakan sebagai penghilang rasa nyeri
pada metastasis kanker. Senyawa fosfonat yang terdapat di dalam CTMP akan
bereaksi dengan molekul hidroksi apatit yang terdapat di dalam tulang. Radioaktif
Renium-186 yang berada di dalam kompleks Re-CTMP akan memancarkan radiasi
dan merusak sel-sel di sekitarnya, termasuk sel-sel kanker, sehingga menyebabkan
sakit yang diderita oleh pasien kanker metastasis tulang akan berkurang.
Kata kunci : Renium-CTMP; metastasis; kanker; tulang
Abstract

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Senyawa kompleks merupakan senyawa yang tersusun dari suatu ion logam
pusat dengan satu atau lebih ligan yang menyumbangkan pasangan elektron
bebasnya kepada ion logam pusat. Senyawa kompleks memiliki peranan penting
dalam kehidupan seharihari. Aplikasi senyawa ini meliputi bidang kesehatan, farmasi,
industri, dan lingkungan, pertanian dan bidang lainnya. Banyak contoh aplikasi
senyawa kompleks ini yang telah diterapkan dalam kehidupan sehari- hari yang
pemanfaatannya sangat berguna bagi kelangsungan hidup manusia, hewan dan
tanaman.
Senyawa kompleks terbentuk akibat terjadinya ikatan kovalen koordinasi antara
suatu atom atau ion logam dengan suatu ligan (ion atau molekul netral). Logam yang
dapat membentuk kompleks biasanya merupakan logam transisi, alkali, atau alkali
tanah. Studi pembentukan kompleks menjadi hal yang menarik untuk dipelajari karena

kompleks yang terbentuk dimungkinkan memberi banyak manfaat, misalnya untuk


ekstraksi, pengolahan air, proses penyepuhan, metalurgi, terapi kanker, dan
sebagainya.
Kanker merupakan salah satu penyakit yang tidak menular dan merupakan
pembunuh nomor dua setelah penyakit kardiovaskular. World Health Organization
(WHO) dan Bank Dunia pada tahun 2005 memperkirakan setiap tahun, 12 juta orang di
seluruh dunia menderita kanker dan 7,6 juta di antaranya meninggal dunia. Jika tidak
dikendalikan, diperkirakan 26 juta orang akan menderita kanker dan 17 juta meninggal
karena kanker pada tahun 2030.
Metastasis kanker merupakan suatu proses penyebaran sel kanker ke bagian
lain dari tubuh, salah satunya adalah tulang. Umumnya, cara penyebaran sel kanker
adalah melalui kelenjar getah bening atau melalui pembuluh darah. Beberapa program
pengendalian penyakit kanker yang dilakukan di Indonesia meliputi pencegahan primer
yang dilakukan melalui pengendalian faktor risiko dan peningkatan komunikasi,
informasi dan edukasi. Pencegahan sekunder dilakukan melalui deteksi dini dan
tatalaksana yang dilakukan di Puskesmas dan rujukan ke rumah sakit. Pencegahan
tersier dilakukan melaui perawatan paliatif dan rehabilitatif di unit-unit pelayanan
kesehatan yang menangani kanker dan pembentukan survivor kanker di masyarakat.
Tujuan
Artikel mengenai senyawa kompleks ini untuk mengetahui aplikasi dari
senyawa kompleks terutama Renium186-CTMP untuk terapi paliatif kanker metastasis.
Manfaat
Manfaat yang didapat dalam artikel ini adalah kita mengetahui kegunaan
senyawa kompleks renium, mengetahui mengenai terapi paliatif kanker metastasis,
dan juga mengenai secara jelas senyawa kompleks tersebut.
ISI
Metastasis tulang terjadi pada 65-85% pasien-pasien dengan kanker payudara
prostat. Metastasis kanker merupakan suatu proses penyebaran sel kanker ke bagian
lain dari tubuh, salah satunya adalah tulang. Umumnya penyebaran sel kanker adalah
melalui kelenjar getah bening atau melaui pembuluh darah (Sriyani, 2013). Metastasis
tulang terjadi karena penyebaran hematogen. Sistem vena pada pleksus paravertebral

Batson merupakan jalan utama penyebaran sel-sel tumor ke tulang. Oleh karena
tulang tidak memiliki saluran limfe. Selain itu,dinding arteri tidak memungkinkan di
penetrasi tumor, kecuali terjadi infeksi lebih dulu. Tumor-tumor ganas kepala dan leher,
payudara, ginjal dan kelenjar adrenal kiri memiliki hubungan dengan sistem vena
vertebrata sehingga metastasis tulang dari tumor-tumor ini dapat terjadi sepanjang
vena ini tanpa melalui sistem porta, paru atau vena cava.
Diagnosis metastasis tulang dapat secara klinis, laboratorium maupun radio
imaging. Diagnosis pasti tentu saja secara histopatologis tetapi jarang dilakukan,
hanya pada lesi metastasis di tulang yang lesi primernya tidak diketahui hal ini perlu
dilakukan. Menurut NCCN 2006, bila terdapat kelainan radiografi pada tulang yang
tanpa nyeri pada pasien < 40 tahun, maka pasien harus dirujuk ke dokter onkologi
orthopedik untuk dibiopsi. Pada pasien usia >40 tahun harus di work up, karena ada
kemungkinan suatu metastase tulang; bone scan, thorax photo CT scan abdomen
pelvis, PSA dan mammografi harus dikerjakan.
Terapi radiasi dengan renium-186 fosfat pada metastasis tulang bersifat paliatif
dan vital untuk pasien-pasien kanker dengan nyeri tulang. Tergantung dari asal tumor
primernya, lebih dari tiga perempat jumlah pasien nyerinya bisa hilang dengan radiasi.
Derajat hilangnya nyeri tidak tergantung dari tumor primer atau histologinya, tetapi
lama hilangnya nyeri lebih lambat pada tumor yang poliferasinya lambat seperti bulubuli, ginjal, thyroid, dan prostat.
Dewasa ini telah banyak digunakan radiofarmaka untuk penyidik tulang, seperti
metilen difosfonat (MDP), hidroksi etilen difosfonat (HEDP), dan hidroksi metilen
difosfonat (HMDP) yang ditandai dengan radionuklida Renium-186. Menurut Murphy
yang dikutip Misyetti, struktur dan sifat kimia gugus P-C-P dari senyawa difosfonat
tidak mudah terurai secara in vivo dan tidak mudah terhidrolisis, sehingga senyawa
fosfonat dipilih sebagai senyawa penyidik kanker tulang. Selain itu senyawa ini dapat
terakumulasi di tulang berdasarkan ikatan antara gugus fosfonat dengan ion kalsium
yang terdapat pada kristal hidroksiapatit. Seperti kita ketahui, tulang terdiri dari kalsium
mineral (hidroksiapatit), fosfor, natrium, dan magnesium.
Senyawa kompleks renium-186 fosfonat, dewasa ini telah luas digunakan
sebagai penghilang rasa nyeri tulang yang disebabkan oleh kanker metastasis.
Penggunaan radiofarmaka ini sebagai pengganti penggunaan analgesik, hormon,
kemoterapi, dan narkotik yang diketahui memberikan efek samping yang tidak

diinginkan. Sintesis senyawa bertanda 186Re-Siklotetraaminotetrametilen fosfonat


(186Re-CTMP) dilakukan dengan metode sintesis kimia secara langsung.
Radiofarmaka yang digunakan dimaksudkan sebagai terapi alternatif untuk
mengatasi rasa nyeri yang hebat pada tulang. Seringkali senyawa yang digunakan
untuk terapi analog dengan senyawa yang digunakan untuk diagnosis, hanya saja
radionuklida yang digunakan berbeda. Untuk tujan diagnosis digunakan radionuklida
pemancar , sedangkan untuk tujuan terapi digunakan radionuklida pemancar .
Radiofarmaka tertentu diberikan secara oral ataupun injeksi, dapat terakumulasi pada
tulang, sehingga dapat memberikan radiasi yang sistematik dengan pemanfaatan
radioisotop pemancar. Radionuklida yang biasa digunakan untuk diagnosis adalah
teknesium-99m (99mTc) yang merupakan pemancar , sedangkan untuk terapi
diantaranya adalah renium-186/188 (186/188Re), karena radionuklida ini merupakan
pemancar . Energi yang dipancarkan oleh isotop tersebut dapat menghalangi
pertumbuhan sel-sel kanker, bahkan akan merusak sel-sel kanker tersebut sekaligus
mengurangi rasa sakit yang dirasakan oleh penderita.
186Re memiliki energi (E) maksimum 1,07 MeV (92%), E 137 KeV (9%) dan
waktu paro 89,3 jam. Radionuklida ini digunakan untuk terapi paliatif kanker tulang
metastase dalam bentuk kompleks dengan senyawa fosfonat. Senyawa fosfonat yang
digunakan dalam penelitian ini adalah Siklotetraamintetrametilen fosfonat (CTMP).
Senyawa ini telah berhasil di sintesis di laboratorium sintesis senyawa bertanda
PTNBR.
Renium merupakan unsur transisi yang berada dapat berada pada beberapa
tingkat oksidasi antara -1 sampai dengan +7, sehingga memungkinkan untuk
membentuk kompleks dengan geometri dan bilangan koordinasi yang berbeda yaitu (I),
(III), (IV), (V) dan (VII). 186Re sebagai radioaktif perunut (radiotracer), hanya tersedia
dalam tingkat oksidasi (VII), yaitu 186ReO4 yang tidak reaktif untuk berikatan dengan
ligan. Oleh karena itu untuk membentuk suatu kompleks maka bilangan oksidasi
186Re harus diturunkan dengan menggunakan reduktor. Reduktor yang biasa
digunakan adalah SnCl2, HCl dan asam askorbat. Menurut Misyetti (2011), bentuk
kompleks khelat CTMP dengan 99mTc/186Re dapat dilihat pada Gambar 1 dan
gambar 2. Penelitian mengenai kompleks Tc-CTMP memperlihatkan bahwa kompleks
99mTc-CTMP memiliki muatan negatif. Kemungkinan yang sama akan terjadi juga
untuk kompleks 186Re-CTMP. Re pada tingkat oksidasi +5 akan bereaksi dengan
CTMP.

CH2
OH
H2C
P
HO
CH2
N
H2C
O

HO
CH2

P
CH2

N
CH2
H2C

OH

OH

N
CH2

H2C
HO

CH2
N
CH2
OH
CH2
P
HO
O
CH2

Gambar 1. Struktur asam 1,4,8,11-tetraaza siklotetradesil-1,4,8,11-tetrametilen

CH2

HO
O
OH
H
C
P
CH
2
P
2
CH2 OH
HO
CH2
+
+ O
N
N
CH2
H2C
5Re
H2C
CH2
+
+
N
N O
HO
CH2
CH2
OH
H2C
P
CH2
P
O
HO
O
OH
CH
O

Gambar 2. Senyawa Re-CTMP

Senyawa kompleks renium-186 CTMP merupakan reaksi antara CTMP dengan ReO4dengan reduktor Sn2+. Renium sebagai atom pusat memiliki bilangan oksidasi 5+,
dengan ligan ion CTMP.
Pada penggunaannya sebagai radiofarmaka, sediaan akan diberikan melalui
injeksi, oleh karena itu perlu diperhatikan juga syarat-syarat yang diperlukan untuk
sediaan injeksi. Menurut Pharmaceutical Codex, salah satu syarat sediaan injeksi
adalah pH sediaan antara 4-10,5. Sediaan 186Re-CTMP yang diperoleh berada pada
pH 2, oleh karena itu stabilitas sediaan setelah kompleks 186Re-CTMP terbentuk dikaji
dengan pengaturan pH setelah penandaan agar menghindari terjadinya kemolisis pada
darah yang menyebabkan rasa sakit pada saat penyuntikan (biasa terjadi pada
sediaan dengan pH rendah), atau kerusakan jaringan untuk sediaan dengan pH tinggi.

pH optimum pembentukan kompleks khelat 186Re-CTMP terjadi pada pH 2. Renium186 memiliki potensial reduksi yang lebih rendah dibandingkan teknesium-99m,
sehingga lebih sukar tereduksi pada kondisi yang sama. Oleh karena itu dibutuhkan
reduktor yang memiliki kekuatan reduksi lebih kuat. SnCl2 akan bekerja optimal
sebagai reduktor pada pH yang lebih rendah (suasana asam) membentuk ion Sn(II)
yang dapat mereduksi 186Re(VII) menjadi 186Re(IV) untuk selanjutnya bereaksi
dengan CTMP membentuk 186Re-CTMP. Hal inilah yang menyebabkan pembentukan
kompleks 186Re-CTMP akan lebih mudah terjadi pada pH asam (pH 2) dengan
kemurnian radiokimia yang lebih baik dibandingkan pH yang lebih tinggi. Larutan
radiofarmaka disyaratkan mempunyai pH antara 5,5 7,5 untuk menghindari terjadinya
hemolisa darah pada saat disuntikkan pada pasien. Selain itu, pH yang dipilih untuk
suatu radiofarmaka harus disesuaikan dengan stabilitas radiofarmaka tersebut.
Pengukuran pH dilakukan menggunakan kertas pH universal, selain praktis,
penggunaan metode ini hanya membutuhkan jumlah sampel yang sedikit.
Faktor lain dari pembentukan kompleks khelat 186Re-CTMP adalah jumlah
SnCl2 sebagai reduktor. Reaksi yang terjadi menganalogikan reaksi reduksi yang
terjadi pada 99mTc dimana Sn(II) akan mereduksi 186Re(VII) menjadi 186Re(IV)
dengan reaksi sebagai berikut :
3Sn2+ 3Sn4+ + 6e2186ReO4- + 16H+ + 6e- 2186Re4+ + 8H2O
2186ReO4-+16H++3Sn2+ 2186Re4++3Sn4++8H2O
Jumlah Sn(II) yang terlibat di dalam reaksi harus optimal agar hasil pembentukan
kompleks 186Re-CTMP tidak dipengaruhi oleh pengotor 186ReO4- dan 186ReO2.
Semakin sedikit jumlah Sn yang digunakan, maka kemungkinan pengotor 186ReO4yang belum tereduksi dan masih terdapat didalam sediaan juga semakin banyak,
sebaliknya, semakin banyak jumlah Sn (II) yang digunakan maka semakin banyak pula
186ReO2 yang terbentuk karena adanya kelebihan reduktor Sn(II) yang akan
menjadikan 186Re tidak dapat bereaksi dengan CTMP, melainkan membentuk koloidal
186ReO2 atau bentuk 186Re tereduksi lainnya.
Hasil stabilitas sediaan pada beberapa kondisi pH dapat dilihat pada gambar 3.
Dari hasil tersebut dapat terlihat bahwa pada pH 2 dan 4, sediaan masih dapat
bertahan dengan kemurnian radiokimia >90% hingga 4 jam, sedangkan pada pH 7,
sediaan hanya bertahan selama 1 jam. Berdasarkan hasil tersebut, pada aplikasinya
sediaan dapat digunakan pada pH 4 agar proses pemberian sediaan melalui jalur
injeksi tidak menimbulkan rasa sakit pada penderita dan dapat bertahan selama 4 jam.

Gambar 3. Pengaruh pH terhadap stabilitas

PENUTUP
Simpulan dan Saran
Senyawa kompleks rhenium186-CTMP dapat digunakan sebagai penghilang
rasa nyeri tulang pada metastasis kanker. Senyawa kompleks tersebut dapat
digunakan pada pH 4 agar proses pemberian sediaan melalui jalur injeksi tidak
menimbulkan rasa sakit pada penderita dan dapat bertahan selama 4 jam. Dengan
adanya artikel ini, diharapkan dapat menambah pengetahuan mengenai senyawa
kompleks dan juga terapi paliatif metastasis kanker.

DAFTAR PUSTAKA
Misyetti, Daruwati, I., Penandaan CTMP dengan Teknesium-99m untuk radiofarmaka
penyidik kanker tulang, J. Sains dan Teknologi Nuklir IX (1) (2007) 79-88.
Djuita, Fielda. Radiasi pada Metastasis Tulang. Indonesian Journal of Cancer 4 (2007)
135-139.
Sriyani, Eka Maula. Penandaan 1,4,8,11-TETRAAZASIKOTETRADESIL-1,4,8,11TETRAMETILEN FOSFONAT (CTMP) DENGAN RENIUM-186. Prosiding Seminar
Nasional Sains dan Teknologi Nuklir. (2013) 147-159.