Anda di halaman 1dari 21

PRESENTASI KASUS

TUMOR SEREBRI
Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Mengikuti Ujian
Program Pendidikan Profesi Kedokteran Bagian Saraf
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Disusun oleh :
Siti Novita Kuman
20154012042

Diajukan Kepada :
dr. Kurdi,Sp.S

BAGIAN ILMU SARAF


RSUD KRT SETJONEGORO WONOSOBO
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2016

LEMBAR PENGESAHAN

Tumor Serebri

Telah dipresentasikan pada :

Oleh : Siti Novita Kuman


20154012042

Disetujui oleh,
Dosen Pembimbing Kepaniteraan Klinik
Bagian Ilmu Saraf
RSUD KRT Setjonegoro Wonosobo

(dr. Kurdi Sp.S)

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.


Alhamdulillahirrabbilalamin, segala puji syukur kehadirat Allah SWT atas
rahmat dan karuniaya-Nya penulis dapat menyelesaikan Presentasi Kasus yang
berjudul,

dalam rangka melengkapi persyaratan

mengikuti ujian akhir program pendidikan profesi kedokteran di bagian Ilmu Anestesi
RSUD KRT Setjonegoro Wonosobo.
Penulis Presentasi Kasus ini dapat terwujud atas bantuan berbagai pihak, maka
penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. dr. Kurdi Sp.S selaku dosen pembimbing dan penguji
2. Teman-teman dokter muda
Penulis menyadari bahwa laporan kasus ini masih banyak kekurangan, kritik dan
saran yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan, guna perbaikan laporan
kasus ini di kemudian hari.
Harapan penulis semoga laporan kasus ini dapat bermanfaat dan menambah
pengetahuan serta dapat menjadi arahan dalam mengimplementasikan ilmu Anestesi
di klinik dan masyarakat.

Wonosobo,

2016

Penuli

BAB I
STATUS PASIEN
1.1 Identitas Pasien
Nama
Usia
Jenis Kelamin
Alamat
Suku
No RM
Tanggal Masuk RS

: Tn. NRL
: 24 tahun
: Laki Laki
: Kaliwiro
: Jawa
: 668378
: 27 Juli 2016

1.2 Anamnesis
- Keluhan Utama :
Mual dan Muntah
- Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien dibawah ke IGD RSUD KRT SETJONEGORO oleh keluarganya
dengan keluhan mual dan muntah terus menerus lebih dari 5 kali perhari sejak 2
hari yang lalu. Selain itu pasien juga merasakan nyeri kepala hebat seperti
ditusuk- tusuk sampai tengkuk dan pusing berputar serta penglihatan yang tampak
kabur. Pasien kadang juga merasa telinga kiri berdenging. BAB dan BAK tidak
keluhan dan pasien tidak mengeluhkan demam. Selain itu pada pada bagian
mastoid telinga kiri tampak benjolan sebesar telur puyu yang tampak memerah,
-

panas dan terasa nyeri yang menjalar sampai tengkuk.


Riwayat Penyakit Dahulu :
Dua tahun yang lalu pasien didagnosis tumor otak dan telah dilakukan

terapi operatif sebanyak satu kali.


Riwayat Penyakit Keluarga :
Pada keluarga pasien tidak ada yang mengalami keluhan yang sama,
Riwayat HT dan DM disangkal.

1.3 Anamnesis Sistem


1. Sistem Cerebrospinal

: Pasien dalam kesadaran penuh.

2. Sistem Respirasi

: Tidak ada batuk, tidak sesak, dan tidak nyeri dada.

3. Sistem Kardiovaskular

: Tidak ada nyeri dada dan jantung tidak merasa

berdebar-debar.
4. Sistem Gastrointestinal

: Tidak terdapat nyeri perut, mual (+), muntah (+)

5. Sistem Urogenital

: BAK lancar, tidak ada nyeri saat BAK.

6. Sistem Integumentum

: Tidak ada sianosis, turgor kulit baik.

7. Sistem Muskuloskeletal

: Tidak ada nyeri dan tidak ada keter batasan gerak.

1.4 Pemeriksaan Fisik


1 Keadaan Umum

: sedang

2 Kesadaran

: Compos Mentis

3 Tanda Vital
a Suhu

: 36.7 oC

b Nadi

: 61 x/menit

c Pernapasan : 24 x/menit
d Tekanan Darah
4

: 120/70 mmHg

Status Generalis
a. Kulit :Warna coklat sawo matang, tidak ikterik, tidak pucat,
tidak ditemukan hipopigmentasi maupun hiperpigmentasi, tidak
tampak ada tanda peradangan.
b. Kepala : Simetris, bentuk normocephal, tidak tampak adanya
peradangan
c. Rambut
: Berwarna hitam, distribusi merata tidak mudah
dicabut.
d. Wajah : Simetris, tidak terdapat adanya tanda peradangan dan
massa.

e. Mata

: Tidak ditemukan konjungtiva anemis, sklera tidak

ikterik, refleks cahaya positif, pupil isokor, visus : OD 1/300 OS


1/300
f. Hidung :

Simetris, tidak ada deviasi septum dan deformitas,

tidak ada discharge dari hidung, napas cuping hidung tidak


ada.
g. Telinga : Simetris, tidak ada deformitas, serumen minimal tidak
keluar discharge, tidak ada krepitasi, dan tidak ada nyeri tekan.
Benjolan

sebesar

telur

puyu

pada

daerah

mastoid

auricula sinistra tampak kemerahan (+), panas (+),


nyeri(+)
h. Mulut : Bibir

tampak

kering,

tidak

sianosis,

tidak

ada

stomatitis, terdapat lidah kotor, tidak ada atrofi papil lidah,


lidah tidak tremor, uvula dan tonsila tidak membesar dan tidak
hiperemis, faring tak tampak hiperemis.
i. Pemeriksaan Leher Simetris, trakhea berada di tengah dan
tidak ada jejas. Tekanan jugular vena tidak meningkat. Terdapat
pembesaran limfonodi di leher kanan dan kiri, serta di bahu
kanan, ukuran sebesar telur puyuh, terasa nyeri jika dipegang.
Tiroid tidak membesar.
j. Pemeriksaan Paru
1 Inspeksi : Simetris kanan dan kiri, tidak ada deformitas,
tidak ada ketinggalan gerak,

tidak ada retraksi dinding

dada, tidak ada jejas.


2 Palpasi : Fokal fremitus seimbang antara paru-paru kanan
dan kiri, tidak ada krepitasi, dan tidak ada nyeri tekan pada
dada.
3 Perkusi : Paru Sn Sonor, Paru Dx Redup
4 Auskultasi
: Suara dasar paru melemah,

terdapat

suara tambahan paru RBK (+) .


k. Pemeriksaan Jantung
1 Inspeksi
: Ictus Cordis tidak terlihat
2 Palpasi
: Ictus Cordis teraba tidak kuat angkat.
3 Perkusi
: Batas Jantung tidak membesar.
4 Auskultasi
: S1>S2, irama reguler normal,
terdapat bising sistolik jantung.
l. Pemeriksaan Abdomen
1) Inspeksi : Datar, dinding perut sejajar dengan dinding dada
2) Auskultasi
: Bising usus normal

3) Perkusi
4) Palpasi

: Timpani
: Supel, tidak terdapat nyeri tekan, hepar dan lien

tidak teraba, tidak ada defence muscular, ginjal kanan kiri


tidak teraba, tidak terdapat nyeri ketok ginjal kanan dan
kiri.
m. Pemeriksaan Ekstremitas
Superior
: Bentuk normal anatomis tidak deformitas. Akral
hangat dan tidak udem. Tak tampak adanya jejas dan tak
tampak adanya tanda peradangan.
Inferior: Bentuk normal anatomis tidak deformitas. Akral hangat
dan tidak udem. Tak tampak adanya jejas dan tak tampak
adanya tanda peradangan.

1.5 Pemeriksaan Neurologi


Kesadaran : Compos Mentis
Kuantitatif : GCS E4M6V5
Kualitatif : Tingkah laku baik
Orientasi : baik (tempat, waktu, orang, situasi)
Kepala :
- Mata Gangguan penglihatan OD/OS 1/300
- Benjolan sebesar telur puyu pada daerah mastoid auricula sinistra (kemerahan, nyeri,
panas)
Leher : Kaku kuduk (-)
Meningeal Sign : Brudzinki 1 (-), brudzinki II (-), Kernig (-)
Nervus Kranialis
Nervus
I
II

Pemeriksaan
Olfaktorius
Daya Pembau
Optikus
Daya penglihatan
Pengenalan warna
Medan penglihatan
Fundus okuli
Papil

Kanan

Kiri

Normal

Normal

1/300
Normal
Normal
TDP
TDP

1/300
Normal
Normal
TDP
TDP

Retina
Arteri/vena
Occulomotorius
Gerakan bola mata
Pupil
Refleks cahaya
Trochlearis
Gerakan bola mata lateral bawah
Strabismus
Trigeminus
Menggigit
Membuka mulut
Sensibilitas muka
Refleks kornea
Abdusen
Gerakan mata ke lateral
Strabismus
Facialis
Kerutan dahi
Kedipan mata
Sudut mulut
Menutup mata
Meringis
Vestibulocochlearis
Suara berbisik
Detik arloji
Tes rinne
Tes weber
Tes swabach
Glossopharingeus
Arkus faring
Daya kecap 1/3 belakang
Refleks muntah
Sengau
Tersedak
Vagus
Disfagia
Accesorius
Memalingkan muka
Sikap bahu
Mengangkat bahu
Hipoglossus
Sikap Lidah
Tremor lidah

III

IV
V

VI
VII

VIII

IX

X
XI

XII

Kekuatan

5
5

5
5

TDP
TDP

TDP
TDP

Normal
3 mm
Menurun

Normal
3 mm
Menurun

Normal
-

Normal
-

+
+
+
+

+
+
+
+

Normal
-

Normal
-

Normal
Normal
Normal
Normal
Normal

Normal
Normal

Sulit dinilai
Sulit dinilai
TDP
TDP
TDP

Sulit dinilai
Sulit dinilai
TDP
TDP
TDP

TDP
TDP
Normal
-

TDP
TDP
Normal
-

Normal
Normal
Normal

Normal
Normal
Normal

Normal
-

Normal
Normal

Gerakan

N N
N N

Tonus :

N N
N N

Sensibilitas N N
N N
Tonus

eutrofi eutrofi
eutrofi eutrofi

Refleks fisiologis : biceps +/+, triceps +/ +, patella +/+, achilles +/+


Refleks patologis : babinski - /-, chaddock -/-

1.6 Pemeriksaan Penunjang


1.6.1 Laboratorium
Pemeriksaan
HEMATOLOGI
Hemaglobin
Leukosit
Diff Count
Eusinofil
Basofil
Netrofil
Limfosit
Monosit
Hematokrit
Eritrosit
MCV
MCH
MCHC
Trombosit
Kimia Klinik
Trigliserid
Cholesterol Total
SGOT
SGPT

Hasil

Satuan

Nilai Rujukan

14.3
16.4

g/dl
10^3/ul

11.7 15.5
3.6 11.0

0.00
0.10
88.70
6.00
4.80

%
%
%
%
%

2.00 4.00
0 1.00
50.00 70.00
25.00 40.00
2.00 -8.00

43
6.5
66
22
33
397

%
10^6/ul
Fl
pg
g/dl
10^3/ul

35 - 47
3.80 5.20
80 - 100
26 - 34
32 - 36
150 -400

56
146
25.9
53.0

mg/dl
mg/dl
mg/dl
mg/dl

70-140
< 220
0 - 35
0 - 35

1.7 Diagnosis Kerja


Tumor Serebri

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
TUMOR OTAK
2.1

Definisi
Tumor otak atau glioma adalah sekelompok tumor yang timbul

dalam

sistem

saraf

pusat

dan

dapat

dijumpai

beberapa

derajat

diferensiasi glia. (Liau, 2001). Apabila sel-sel tumor berasal dari jaringan
otak itu sendiri, disebut tumor otak primer dan bila berasal dari organorgan lain, disebut tumor otak metastase. (Huff, 2009).
2.2

Etiologi dan Faktor Rasiko


Sebenarnya, penyebab tumor otak masih belum diketahui tetapi

masih ada faktor-faktor yang perlu ditinjau yaitu:


-

Herediter
Sindrom

herediter

seperti

von

Recklinghausens

Disease,

tuberous sclerosis, retinoblastoma, multiple endocrine neoplasma


bisa meningkatkan resiko tumor otak. Gen yang terlibat bisa
dibahagikan pada dua kelas iaitu tumor suppressor genes dan
oncogens. Selain itu, sindroma seperti Turcot dapat menimbulkan
kecenderungan genetik untuk glioma tetapi hanya 2%. ( Mehta,
-

2011)
Radiasi
Radiasi jenis ionizing radiation bisa menyebabkan tumor otak
jenis neuroepithelial tumors, meningiomas dan nerve sheath
tumors. Selain itu, paparan

terhadap sinar X

juga

dapat

meningkatkan risiko tumor otak.( Keating, 2001)


Substansi-substansi Karsinogenik
Penyelidikan tentang substansi karsinogen sudah lama dan luas
dilakukan.

Kini

telah

diakui

bahwa

ada

substansi

yang

karsinogenik seperti nitrosamides dan nitrosoureas yang bisa


menyebabkan tumor system saraf pusat ( Petrovich, et al.,
2003., Mardjono, 2000)
- Virus
Infeksi virus juga dipercayai bisa menyebabkan tumor otak.
-

Contohnya, virus Epseien-barr. (Kauffman, 2007)


Gaya Hidup

penelitian telah menunjukkan bahwa makanan seperti makanan


yangdiawetkan, daging asap atau acar tampaknya berkorelasi
dengan peningkatan risiko tumor otak. Di samping itu, risiko
tumor otak menurun ketika individu makan lebih banyak buah
dan sayuran. (Stark-Vance, et al., 2011)
2.3

Epidemiologi

Berdasarkan data-data dari Central Brain Tumor Registry of the United


State (CBTRUS) dari tahun 2004-2005 dijumpai 23.62 per 100,000 orangtahun ( umur 20+). Kadar mortilitas di Amerika Utara, Western Europe dan
Australia dijumpai 4-7 per 100,000 orang per tahun pada pria dan 3-5 per
100,000 orang per tahun pada wanita. Selain itu telah dilaporkan bahawa
meningioma merupakan jenis tumor yang paling sering dijumpai yaitu
33.4% diikuti dengan glioblastoma yaitu 17.6% ( Quan, 2010).
2.4

Klasifikasi

Pembagian tumor otak menurut WHO berdasarkan klasifikasi histogenetik:


Tabel: 2.1. Klasifikasi Histogenik
1. Tumor-tumor jaringan
Neuroepithelial:
A. Astrocytic tumor, terdiri dari;
Pilocytic astrocytoma (grade I)
Diffuse astrocytoma (grade II)
Anaplastic astrocytoma (grade
III)
Glioblastoma multiforme
(grade IV)
B. Oligo dendrodial tumor, terdiri
dari;
Oligodendroglioma (grade II)
Anaplastic oligoastrocytoma
(gradeIII)
C. Mixed gliomas terdiri dari;
Oligoastrocytoma (grade II)
Anaplastic oligoastrocytoma
(gradeIII)
2. Tumor-tumor Ependymal
3. Tumor-tumor Choroid plexus
4. Tumor-tumor Pineal parenchymal

1. Tumor-tumor jaringan
Neuroepithelial:
A. Astrocytic tumor, terdiri dari;
Pilocytic astrocytoma (grade I)
Diffuse astrocytoma (grade II)
Anaplastic astrocytoma (grade
III)
Glioblastoma multiforme
(grade IV)
B. Oligo dendrodial tumor, terdiri
dari;
Oligodendroglioma (grade II)
Anaplastic oligoastrocytoma
(gradeIII)
C. Mixed gliomas terdiri dari;
Oligoastrocytoma (grade II)
Anaplastic oligoastrocytoma
(gradeIII)
2. Tumor-tumor Ependymal
3. Tumor-tumor Choroid plexus
4. Tumor-tumor Pineal parenchymal

Yang berikut merupakan ,klasifikasi tumor otak yang penting dari segi
klinis:
Tabel: 2.2. Klasifikasi Tumor Otak Dari Segi Klinis
Primary brain tumor:
Histologically benign or malformative
Mengioma
Pituitary adenoma
Acustic neuroma
Craniopharyngima
Pilocytic astrocytoma
Hemangioblastoma
Histologically malignant
Glioma
Anaplastic Astrocytoma
Glioblastoma multiforme
Ependymoma
Medulloblastoma
Oligodendroglioma
Pineal cell tumor
Choroid plexus carcinoma
Primitive neuroectodermal tumors
Metastatic brain tumors:
Single or multiple metastases
Meningeal Carcinomatosis

2.5

Gejala spesifik tumor otak yang berhubungan dengan lokasi


Secara umum pasien tumor otak bisa memiliki gejala seperti

perubahan perilaku contohnya, pasien mungkin mudah lelah atau kurang


konsentrasi. Selain itu, gejala hipertensi intracranial seperti sakit kepala,
mual, vertigo. Serangan epilepsi juga sering dijumpai pada pasien tumor
otak. (Rohkamm, 2004)
-

Lobus frontal

Menimbulkan gejala perubahan kepribadian seperti depresi.


Menimbulkan masalah psychiatric.

Bila jaras motorik ditekan oleh tumor hemiparese kontra lateral, kejang
fokal dapat timbul. Gejala kejang biasanya ditemukan pada stadium lanjut
Bila menekan permukaan media dapat menyebabkan inkontinentia.
Pada lobus dominan menimbulkan gejala afasia.
-

Lobus temporal

Dapat menimbulkan gejala hemianopsia.


Gejala neuropsychiatric seperti amnesia, hypergraphia dan Dj vu juga
dapat timbul.
Lesi pada lopus yang dominan bisa menyebabkan aphasia.
-

Lobus parietalis

Akan menimbulkan gangguan sensori dan motor yang kontralateral.


Gejala homonymous hemianopia juga bisa timbul.
Bila ada lesi pada lobus yang dominant gejala disfasia.
Lesi yang tidak dominan bisa menimbulkan geographic agnosia dan
dressing apraxia.
-

Lobus oksipital

Menimbulkan homonymous hemianopia yang kontralateral


Gangguan penglihatan yang berkembang menjadi object agnosia.
. Tumor di cerebello pontin angle
Tersering berasal dari N VIII yaitu acustic neurinoma.
Dapat dibedakan karena gejala awalnya berupa gangguan fungsi
pendengaran.
-

Glioma batang otak

Biasanya menimbulkan neuropati cranial dengan gejala-gejala seperti


diplopia, facial weakness dan dysarthria.
-

Tumor di cerebelum

Didapati gangguan berjalan dan gejala tekanan intrakranial yang tinggi


seperti mual, muntah dan nyeri kepala. Hal ini juga disebabkan oleh odem
yang terbentuk.
Nyeri kepala khas didaerah oksipital yang menjalar ke leher dan spasme
dari otot-otot servikal (Schiff, 2008., Youmans,1990).
2.6

Pemeriksaan

Pemeriksaan

neuroradiologis

yang

dilakukan

bertujuan

untuk

mengidentifikasi ada tidaknya kelainan intra kranial, adalah dengan:


1.

Rontgen foto (X-ray) kepala; lebih banyak sebagai screening test,


jika

ada

tanda-tanda

peninggian

tekanan

intra

kranial,

akan

memperkuat indikasi perlunya dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.


2. Angiografi; suatu pemeriksaan dengan menyuntikkan bahan kontras
ke dalam pembuluh darah leher agar dapat melihat gambaran
3.

peredaran darah (vaskularisasi) otak


Computerized Tomography (CT-Scan kepala) dapat memberikan
informasi tentang lokasi tumor tetapi MRI telah menjadi pilihan untuk
kebanyakan karena gambaran jaringan lunak yang lebih jelas

(Schober, 2010)
4. Magnetic Resonance Imaging (MRI), bisa membuat diagosa yang
lebih dini dan akurat serta lebih defititif. Gambar otak tersebut
dihasilkan ketika medan magnet berinteraksi dengan jaringan pasien
itu ( Satyanegara, 2010., Freedman, 2009).
2.7 Terapi
- Gulcocorticoid biasanya diberikan untuk memberringankan gejala
-

edema.
Terapi radiasi jenis Whole Brain Radiation Therapi merupakan terapi
yang utama untuk tumor otak yang malignant. Cara diberikan
dengan 30- 37.5 Gy dalam 10-15 fraction. Selain itu, stereotaxic
radiosurgery

biasanya

digunakan

pada

pasien

dengan

kadar

meatastasis yang lebih kurang. Terapi ini hanya memperlambatkan


-

kambuhnya tumor otak dantidak memperpanjangkan survival.


Pembedahan juga merupakan pilihan terapi yang hanya dilakukan
pada tumor yang jinak. Pembedahan lebih sukar dilakukan pada
tumor otak yang ganas karena adanya metastase ke organ yang lain.
Terapi radiasi juga diberikan selepas pembedahan untuk hasil yang

lebih baik.
Kemoterapi merupakan terapi yang diberikan pada tumor otak jenis
metastase dan pada tumor opak yang tidak dapat disembuhkan
dangan

pembedahan.

Pada

tumor-tumor

tertentu

seperti

meduloblastoma dan astrositoma stadium tinggi yang meluas ke


batang otak, kemoterapi dapatmembantu sebagai terapi paliatif.

2.8

Prognosa
Prognosa penderita tumor otak didapati bahawa tanpa terapi

radiasi, harapan hidup rata-rata pasien dengan metastase otak adalah 1


bulan. Selain itu, Resectability Tumor, lokasi tumor, usia pasien, dan
histologi tumor adalah penentu utama kelangsungan hidup. Pasien
dengan kejang sekunder ke tumor otak umumnya mengalami kerusakan
neurologis yang jelas selama kursus 6 bulan. Kebanyakan pasien dengan
metastase otak mati dari perkembangan keganasanutama mereka bukan
dari kerusakan otak (Huff, 2009)

BAB III
PEMBAHASAN
PENATALAKSANAAN EDEMA SEREBRI PADA TUMOR OTAK

Pada kejadian tumor otak dapat menyebabkan edema serebi yang


disebabkan oleh kompresi massa pada otak sehingga menyebabkan

gangguan regulasi cairan dalam menyebabkan edema


Penatalaksanaan edema serebri pada tumor otak antara lain :

serebri.

1. Posisi Pasien Dengan Peningkatan Tekanan Intrakranial


Elevasi kepala yang dapat mengontrol TIK, yaitu menaikkan kepala
dari tempat tidur sekitar 15 30 derajat. Tujuan untuk menurunkan TIK,
jika elevasi lebih tinggi dari 30 maka tekanan perfusi otak akan turun.
Gambar dibawah ini menunjukkan hubunan antara posisi kepala,
penurunan TIK dan tekanan perfusi otak.
Kontra Indikasi dan Perhatian
-

Hindari posisi tengkurap dan trendelenburg. Beberapa kontrovesi


yaitu posisi pasien adalah datar, jika posisi datar di anjurkan,
mungkin sebagai indikasi adalah monitoring TIK. Tipe monitoring TIK
yang tersedia adalah screws, cannuls, fiberoptic probes.
Elevasi bed bagian kepala digunakan untuk menurunkan TIK.
Beberapa alasan bahwa elevasi kepala akan menurunkan TIK, tetapi
berpengaruh juga terhadap penurunan CPP. Alas an lain bahwa posisi
horizontal akan meningkatkan CPP. Maka posisi yang disarankan
adalah elevasi kepala antara 15 30, yang mana penurunan ICP
tanpa menurunkan CPP. Aliran darah otak tergantung CPP, dimana
CPP adalah perbedaan antara mean arterial pressure ( MAP) dan ICP.
CPP = MAP ICP. MAP = ( 2 diastolik + sistolik ) : 3. CPP, 70 100
mmHg untuk orang dewasa, > 60 mmHg pada anak diatas 1 tahun,
> 50 mmHg untuk infant 0-12 bulan.
Kepala pasien harus dalam posisi netral tanpa rotasi ke kiri atau
kanan, flexion atau extension dari leher.
Elevasi bed bagian kepala diatas 40 derajat akan berkontribusi
terhadap postural hipotensi dan penurunan perfusi otak.
Meminimalisasi stimulus yang berbahaya, berikan penjelasan
sebelum menyentuh atau melakukan prosedur.
Rencanakan
aktivitas
keperawatan.
Jarak
antara
Aktivitas
keperawatan paling sedikit 15 menit .

2. Analgesik, Sedasi, dan Zat Paralitik. Nyeri, kecemasan, dan agitasi


meningkatkan kebutuhan metabolisme otak, aliran darah otak, dan
tekanan intrakranial. Oleh karena itu, analgesik dan sedasi yang tepat
diperlukan untuk pasien edema otak. Pasien yang menggunakan
ventilator atau ETT harus diberi sedasi supaya tidak memperberat TIK.

Obat sedasi yang sering digunakan untuk pasien


diantaranya adalah opiat, benzodiazepin, dan propofol.

neurologi

3. Ventilasi dan Oksigenasi. Keadaan hipoksia dan hiperkapnia harus


dihindari karena merupakan vasodilator serebral poten yang
menyebabkan penambahan volume darah otak sehingga terjadi
peningkatan TIK, terutama pada pasienm dengan pernicabilitas kapilcr
yang abnormal. Intubasi dan ventilasi mekanik diindikasikan jika
ventilasi atau oksigenasi pada pasien edema otak buruk.

4. Penatalaksanaan Cairan. Osmolalitas serum yang rendah dapat


menyebabkan edema sitotoksik sehingga harus dihindari. Keadaan ini
dapat dicegah dengan pembatasan ketat pemberian cairan hipotonik
(balans 200 ml).

5. Penatalaksanaan Tekanan Darah. Tekanan darah yang ideal dipengaruhi


oleh penyebab edema otak. Pada pasien stroke dan trauma, tekanan
darah harus dipelihara dengan cara menghindari kenaikan tekanan darah
tiba-tiba dan hipertensi yang sangat tinggi untuk menjaga perfusi tetap
adekuat. Tekanan perfusi serebral harus tetap terjaga di atas 60-70 mmHg
pascatrauma otak.

6. Pencegahan Kejang, Demam, dan Hiperglikemi. Kejang, de-mam, dan


hiperglikemi merupakan faktor-faktor yang dapat memperberat sehingga
harus dicegah atau diterapi dengan baik bila sudah terjadi. Penggunaan
antikonvulsan profilaktik seringkali diterapkan dalam praktek klinis. Suhu
tubuh dan kadar glukosa darah kapiler harus tetap diukur.

7. Mengukur GCS secara rutin


8. Terapi osmotik
Terapi osmotik menggunakan manitol dan salin hipertonik.
Manitol
Efek Ostnotik
Efek Hemodinamik

Efek Oxygen Free Radical Scavenging


Dosis awal manitol 20% 1-1,5 g/kgBB IV bolus, diikuti dengan 0,250,5 g/kgBB IV bolus tiap 4-6 jam. Efek mak-simum terjadi setelah 20 menit
pemberian dan durasi kerjanya 4 jam.Pernberian manitol ini harus disertai
pemantauan kadar osmolalitas serum. Osmolalitas darah yang terlalu
tinggi akan meningkatkan risiko gagal ginjal (terutama pada pasien yang
sebelumnya sudah mengalami vollyrfg depletion). Kadar osmolalitas
serum tidak boleh lebih dan 320 mOsmol/L.

Salin Hipertonik
Cairan salin hipertonik (NaC1 3%) juga dapat digunakan sebagai
alternatif pengganti manitol dalam terapi edema otak. Mekanisme
kerjanya kurang lebih sama dengan manitol, yaitu dehidrasi osmotik.
Steroid
Glukokortikoid efektif untuk mengatasi edema vasogenik yang
menyertai tumor, peradangan, dan kelainan lain yang berhubungan
dengan peningkatan permeabilitas sawar darah-otak, termasuk akibat
manipulasi pembedahan. Namun, steroid tidak berguna untuk mengatasi
edema sitotoksik dan berakibat buruk pada pasien iskemi otak.
Deksametason paling disukai karena aktivitas mineralokorti-koidnya
yang sangat rendah. Dosis awal adalah 10 mg IV atau per oral, dilanjutkan
dengan 4 mg setiap 6 jam. Dosis ini ekuivalen dengan 20 kali lipat
produksi kortisol normal yang fisiologis. Responsnya seringkali muncul
dengan cepat namun pada beberapa jenis tumor hasilnya kurang
responsif. Dosis yang lebih tinggi, hingga 90 mg/hari, dapat diberikan
pada kasus yang refrakter. Setelah penggunaan selama berapa hari, dosis
steroid harus diturunkan secara bertahap (tape* off) untuk menghindari
komplikasi serius yang mungkin timbul, yaitu edema rekuren dan supresi
kelenjar adrenal.
Deksametason kini direkomendasikan untuk anak > 2 bulan
penderita meningitis bakterialis. Dosis yang dianjurkan adalah 0,15 mg/kg
IV setiap 6 jam pada 4 hari pertama pengobatan disertai dengan terapi
antibiotik. Dosis pertama harus diberikan sebelum atau bersamaan
dengan terapi antibiotik (lihat bab meningitis bakterialis).

Hiperventilasi
Sasaran pCO, yang diharapkan adalah 30-35 mmHg agar
menimbulkan vasokonstriksi serebral sehingga menurunkan volume darah
serebral.
Barbiturat
Barbiturat dapat menurunkan tekanan intrakranial secara efektif
pada pasien cedera kepala berat dengan hemodinamik yang stabil. Terapi
ini biasanya digunakan pada kasus yang refrakter terhadap pengobatan
lain maupun penanganan TIK dengan pembedahan.
Furosemid
Terkadang dikombinasikan dengan manitol. Terapi kombinasi ini
telah terbukti berhasil pada beberapa penelitian. Furosemid dapat
meningkatkan efek manitol, namun harus diberikan dalam dosis tinggi,
sehingga risiko terjadinya kontraksi volume melampaui manfaat yang
diharapkan. Peranan asetasolamid, penghambat karbonik anhidrase yang
mengurangi produksi CSS, terbatas pada pasien high-altitude illness dan
hipertensi intrakranial benigna.
Induksi hipotermi telah digunakan sebagai intervensi neuroproteksi pada
pasien. dengan lesi serebral akut.
DAFTAR PUSTAKA

Price & Wilson. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 6
Volume 2. EGC : Jakarta
Japardi, Iskandar. 2002. Gambaran CT Scan Pada Tumor Otak Benigna. Fakultas
Kedokteran Bagian Bedah Universitas Sumatra Utara, viewed 27 April 2011, www.usu.com
Eka.J.Wahjoepramono.2006.Tumor otak. Fakultas Kedokteran Universitas Harapan
Kita. Jaringan Cetak Terpadu : Jakarta