Anda di halaman 1dari 27

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Seperti diketahui bersama dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi

dewasa ini, perkembangan di segala bidang kehidupan yang membawa kesejahteraan


bagi umat manusia, pada kenyataannya juga menimbulkan berbagai akibat yang tidak
diharapkan. Salah satu diantara akibat yang tidak diharapkan tersebut adalah
meningkatnya kuantitas maupun kualitas mengenai cara atau teknik pelaksanaan
tindak pidana, khususnya yang berkaitan dengan upaya pelaku tindak pidana dalam
usaha meniadakan sarana bukti sehingga tidak jarang dijumpai kesulitan bagi para
petugas hukum untuk mengetahui korban dan atau pelakunya. Akhir-akhir ini terlihat
peningkatan kualitas kejahatan dimana pelakunya sering berusaha menyembunyikan
korbannya yang bertujuan untuk menghilangkan jejak serta barang bukti agar pelaku
dan korbannya tidak dikenal lagi, dengan demikian sering korban ditemukan sudah
tinggal tulang belulang.
Beberapa

tahun

terakhir,

pemeriksaan

antropologi

forensik

makin

berkembang seiring dengan pemeriksaan kejahatan yang menjadi lebih kompleks.


Identifikasi dari rangka dan sisa tubuh yang membusuk lainnya penting untuk alasan
hukum maupun alasan kemanusiaan.
Antropologi forensik merupakan aplikasi dari ilmu fisik atau biologi
antropologi dalam proses hukum, meliputi pemeriksaan pada sisa-sisa rangka untuk
membantu menentukan identitas dari jasad. Pemeriksaan ini dapat dilakukan sebagai
langkah pertama untuk menentukan apakah sisa-sisa tersebut berasal dari manusia
dan selanjutnya dapat menentukan jenis kelamin, perkiraan usia, bentuk tubuh, dan
pertalian ras. Pemeriksaan dapat juga memperkirakan waktu kematian, penyebab

kematian dan riwayat penyakit dahulu atau luka yang saat hidup menimbulkan jejas
pada struktur tulang.

BAB II
TINJAUAN KEPUSTAKAAN

2.1

Definisi
Antropologi forensik merupakan bidang ilmu untuk physical anthropologists

yang mengaplikasikan ilmunya dalam bidang biologi, sains dan budaya dalam proses
hukum. Menurut American Board of Forensic Anthropology, antropologi forensik
adalah aplikasi ilmu pengetahuan dari antropologi fisik untuk proses hukum.
Identifikasi dari kerangka atau sediaan laindari sisa-sisa jasad (dugaan manusia) yang
tidak teridentifikasi penting untuk alasan hukum maupun alasan kemanusiaan.
Forensik antropologi mengaplikasikan teknik sains sederhana yang berdasarkan
antropologi fisik untuk mengidentifikasi sisa-sisa jasad manusia dan mengungkap
tindak kejahatan.

2.2

Sejarah Singkat Antropologi Forensik


Sejarah antropologi forensik bermula pada tahun 1890. Pada akhir abad 19

dan awal abad 20 memang banyak ilmu baru di bidang forensik yang bermunculan,
seperti balistik dan entamologi (ilmu tentang serangga) dan termasuk pula
antropologi forensik yang digunakan utnuk memecahkan kasus Adolph Luetgert. Di
dalam pabrik sosis Luetgert, ditemukan potongan tulang dan kebetulan juga istri
Luetgert sudah lama menghilang. Potongan tersebut dcurigai sebagai tulang dari istri
Luetgert dan akhirnya Luetgert ditahan oleh karena hal tersebut. Kemudian, jaksa
memanggil George Amos Dorsey, seorang Antropolog yang senang bertualang dan
juga merupakan seorang ahli tulang. Tugasnya adalah untuk memastikan bahwa
tulang yang ditemukan tersebut merupakan tulang manusia, bukan anjing atau babi
yang memang memiliki bentuk tulang mirip dengan tulang manusia. Pada masa itu

belum ada peralatan yang canggih dan ilmu yang cukup sehingga Dorsey harus
menentukan jenis tulang itu secara manual.Dan untuk pertama kalinya antropologi
forensik digunakan untuk menyeret seseorang ke penjara.
Sejarah dari antropologi forensik dapat ditinjau kembali ke seorang anatomis
yang berkonsultasi mengenai masalah forensik, karena pengetahuannya mengenai
variasi manusia dan anatomi manusia. Pada 1849, Dr. George Parkman terbunuh di
Universitas Harvard, Boston. Parkman dimutilasi, sebagian tubuhnya diletakkan di
laboratorium anatomi, sebgian terbakar dan sebagian lagi disimpan di septic tank di
toilet Universitas tersebut. Lalu Profesor yang akrab dengan anatomi rangka, Oliver
W. Holmes dan Jeffries Wyman, berkonsultasi untuk melakukan identifikasi dengan
patahan tulang tersebut. Selanjutnya kasus serupa terjadi 50 tahun kemudian di
Chicago, yaitu di dalam pabrik sosis Luetgert, ditemukan potongan tulang dan
kebetulan juga istri Luetgert sudah lama menghilang. Potongan tersebut dcurigai
sebagai tulang dari istri Luetgert dan akhirnya Luetgert ditahan oleh karena hal
tersebut. Kemudian, jaksa memanggil George Amos Dorsey, seorang Antropolog
yang senang bertualang dan juga merupakan seorang ahli tulang. Tugasnya adalah
untuk memastikan bahwa tulang yang ditemukan tersebut merupakan tulang manusia,
bukan anjing atau babi yang memang memiliki bentuk tulang mirip dengan tulang
manusia. Pada masa itu belum ada peralatan yang canggih dan ilmu yang cukup
sehingga Dorsey harus menentukan jenis tulang itu secara manual.Dan untuk pertama
kalinya antropologi forensik digunakan untuk menyeret seseorang ke penjara.
Momentum akademik dari pengembangan forensik antropologi dimulai
dengan aktifitas dari tokoh kunci yakni seorang antropologi fisik Amerika, Ales
Hrdlicka (1869-1943), Wilton Krogman dan T.D Stewart (1901-1997). Ales
Hrdlicka, bekerja menjadi seorang kepala Museum Antropologi Fisik di Smithsonian
Institution, Washington D.C. Lalu Ales Hrdlicka menyatakan dia pernah menerima
ajaran hukum medis dari sekolahnya dulu dan ternyata berkaitan. Di Paris 1896,
ketika dia berkunjung ke Laboratorium Kriminal Alphonse Bertillon, dia

menggunakan pengetahuannya mengenai antropometri untuk melakukan pengamatan


dalam mengidentifikasi manusia. Kebanyakan dari fokus Hrdlicka adalah mengenai
kemungkinan biologis

dari perilaku menyimpang, termasuk

kegilaan dan

kriminalitas. Hrdlicka mengakui dia melakukan investigasi mengenai masalah yang


serupa dengan menggunakan teknik antropometri tapi juga dengan autopsi. Maka
dalam buku karangannya edisi tahun 1920 adalah buku mengenai Antropometri yang
di dalamnya terdapat teknik dalam mengestimasi tubuh individu dari kerangkanya.
Di tahun 1939, tahun yang sama dengan terbitnya buku terbaru dari Hrdlicka
yakni Practical Anthropometry yang dipersembahkan untuk panduan menganalisis
kerangka dalam kasus forensik, Wilton Krogman menerbitkan A Guide to The
Identification of Human Skeletal Material dalam buletin FBI.
Lalu seperti halnya Hrdlicka, Stewart (1901-1997) telah dilatih dalam hal
medis (gelar M.D dari John Hopkins tahun 1931). Walaupun Krogman adalah
seorang PhD tetapi ia yang memprakarsai pemisahan kegiatan dalam antropologi
forensik dari patologi forensik dalam bidang medis. Dengan perkembangan
antropologi fisik sebagai disiplin ilmu yang berbeda, maka forensik antropologi
Amerika secara bertahap bergeser meluas dari forensik medis dan juga patologi
forensik, untuk diterapkan ke dalam ilmu biologi yakni kerangka manusia dalam
antropologi fisik.
Di Amerika Utara, antropologi forensik berangsur-angsur memiliki
pendidikan menuju pasca sarjana biologi dalam pelatihan tulang di lembaga-lembaga
yang terkait. William M. Bass III, seorang pemimpin di Universitas Kansas dan
Universitas Tennesse juga tertarik pada ilmu kerangka manusia yang mana termasuk
juga dalam konteks ilmu arkeologi. Lalu beliau bersama dengan Ellis R. Kerley,
Thomas McKern dan juga Richard Jantz melakukan banyak pelatihan kepada para
antropolog forensik Amerika Utara sekarang ini. Di tahun 1972, 14 antropolog
forensik berhasil membentuk satu departemen dari antropologi fisik ke dalam
akademi di Amerika dalam hal ilmu forensik. Dan waktu itu antropologi forensik
terlibat dengan organisasi yang menjadi satu dengan departemen umum dari patologi

dan biologi. Lalu gelar diploma diberikan kepada mereka yang berpengalaman
dalam kasus forensik dan sukses dalam ujian tulis dan juga ujian praktiknya.
Selanjutnya Gubernur Amerika Utara mengakui adanya Antropolog dari
American Academy of Forensic Science (AAFS) dan orang-orang yang memiliki
keterampilan yang hampir serupa (seperti Patolog atau Biolog, Odontolog, Toxiolog,
Krimintolog, dan lain-lain) akan dijadikan anggota juga dalam akademi tersebut.
Garis akademik antara forensik antropolog dengan forensik patolog biasanya terkait
dari jaringan lunak (kulit). Sedangkan odontolog dengan forensik antropolog samasama memiliki keahlian dalam menganalisis anatomi gigi, variasi gigi dan estimasi
usia melalui struktur gigi.
Di Negara Eropa antropologi memiliki hubungan yang erat dengan teknik
ekskavasi milik arkeologi, namun tidak serupa bila dihadapkan dengan cara
menganalisa suatu kasus perkara.
Antropologi Forensik lahir sebagai satu disiplin ilmu yakni dalam
antropologi fisik, yang mana berkontribusi dalam aspek hukum di seluruh dunia.
Penelitian lebih lanjut dilakukan kepada masalah yang berhubungan dengan kasuskasus forensik yang mana diimbangi dengan peningkatan metodologi dalam tiap
bidang ilmu. Masyarakat dan para pelajar dan juga mahasiswa tertarik dengan
antropologi forensik di level yang berbeda, novel dan televisi sering menayangkan
pengetahuan seputar bidang forensik tersebut.

2.3

Manfaat Pemeriksaan Antropologi Forensik


Antropologi forensik bermanfaat untuk membantu penyidik dan penegak

hukum untuk mengidentifikasi temuan rangka tak dikenal. Temuan rangka biasanya
terdapat pada daerah terpencil, di atas permukaan tanah, dikubur pada lubang yang
dangkal karena pelaku kejahatan terburu buru menguburkannya, di sungai, di rawa
atau di hutan. Korban yang tidak dikubur secara layak ini biasanya menjadi salah satu

indikasi adanya tindak pidana terhadap korban kejahatan. Pada kasus forensik seperti
ini, antropologi forensik berguna dalam menentukan identifikasi temuaan.
Upaya identifikasi pada kerangka (antropologi forensik) bertujuan untuk
membuktikan bahwa kerangka tersebut adalah kerangka manusia, ras, jenis kelamin,
perkiraan umur, tinggi badan, ciri-ciri khusus, deformitas dan bila memungkinkan
dapat dilakukan rekonstruksi wajah. Pemeriksaan dapat juga memperkirakan waktu
kematian, penyebab kematian dan riwayat penyakit dahulu atau luka yang saat hidup
menimbulkan jejas pada struktur tulang.

2.4

Perbedaan Tulang Manusia Dengan Hewan


Sisa tulang dari binatang menyusui besar kemungkinan dapat mengacaukan

para penemu yang tidak terlatih. Seorang yang terlatih dalam ilmu tulang atau
anatomi manusia seperti dokter, dokter gigi dan ahli antropologi, tidak akan menemui
kesulitan dalam mendeteksi karakteristik nonhuman baik dari segi ukuran, arsitektur,
maupun bentuk dari tulang binatang yang utuh. Yang paling membedakan bagianbagian tulang manusia dan binatang adalah permukaan atrikular (gambaran
makroskopis). Mungkin perbedaan itu dapat hilang oleh karena aktivitas karnivoral,
pembusukan atau epifisis tulang yang belum matang.
Seandainya sisa tulang berupa fragmen diaphysis, roentgenography dapat
sangat menolong. Tulang, proses pembentukan tulang dan proses ekskresi yang
berhubungan dengan organ dan perlekatan otot berbeda antar manusia dan binatang.
Chilvarquer et al. menunjukkan perbedaan dalam penampilan roentgenographic
antara midshafts manusia dan tulang binatang. Pola tulang manusia berbentuk saluran
spongiosa dan medullary yang regular, memiliki ruang ovoid antara trabekula utama
yang agak kasar dan trabekula sekunder yang lebih halus. Zona transisi tersebut

lebarnya kira-kira 1 mm 3 mm. Pada penyakit osteoporosis, zona transisi itu lebih
lebat karena adanya reduksi osteomalasia yang menghancurkan corticomedullary.
Pada binatang, corticomedullary terlihat sangat jelas. Saluran spongiosa lebih
sedikit dan berisi butiran-butiran kecil homogen. Terdapat selaput spicules atau
invaginations yang meluas ke dalam saluran medullary dari endosteum.
Untuk memastikan bahwa potongan tubuh berasal dari manusia, dapat
digunakan beberapa pemeriksaan seperti pengamatan jaringan secara makroskopis,
mikroskopis dan pemeriksaan serologik berupa reaksi antigen antibodi (reaksi
presipitin).
Pada gambaran mikroskopis perlu juga dilihat fusi epifisis dan metafisis serta
ukuran tulang belum begitu panjang. Pada manusia, fusi terjadi pada usia remaja
dimana panjang tulang sudah maksimal. Kepadatan tulang manusia juga berbeda
relatif dengan tulang hewan. Tulang manusia lebih banyak trabekulanya dibanding
tulang hewan pada tulang panjang mereka.

2.5 Anatomi Tulang Manusia


Pemeriksaan anatomik dapat memastikan bahwa kerangka yang ditemukan
adalah kerangka manusia. Tulang manusia berbeda dengan tulang hewan dalam hal
struktur, ketebalan, ukuran dan umur penulangan (osifikasi). Setiap manusia memiliki
190 tulang. Tulang ini dibedakan menjadi tulang panjang, pendek, pipih dan tidak
teratur. Tulang panjang didapati pada tangan dan kaki seperti humerus, radius, ulna,
femur, tibia dan fibula. Tulang pendek meliputi klavikula, metacarpal dan metatarsal
(jari tangan dan kaki). Tulang pipih terdapat pada tulang-tulang atap tengkorak
seperti frontal, parietal dan occipital. Tulang tidak teratur adalah tulang vertebra dan
basis cranii. Kesalahan penafsiran dapat timbul bila hanya terdapat sepotong tulang

saja. Dalam hal ini perlu dilakukan pemeriksaan serologik dan pemeriksaan
histologik.

Gambar 1. Anatomi rangka manusia

2.6 Pertumbuhan Tulang


Osteogenesis atau osifikasi terjadi pada dua lokasi intramembranosa
(contohnya pada tulang frontal dan parietal) dan endokondral (contohnya pada tulang
iga, vertebra, basis cranii, tulang tangan, dan tulang kaki), dimana osifikasinya
melalui fase kartilago. Pertumbuhan tulang meluas dari lokasi penetrasi awal, yang

10

menjadi foramen nutrisi. Membran tipis bernama perikondrium mengelilingi


kartilago pada tulang panjang. Osteoblas di bawah perikondrium pada tulang panjang
fetus mulai mendeposit tulang di sekitar bagian luar batang kartilago.
Sekali hal itu terjadi, membran ini disebut periosteum, jaringan ikat berserabut
yang mendeposit tulang selapis demi selapis. Diameter tulang panjang meningkat dan
osteoklas pada permukaan endosteal mereabsorpsi tulang, sedangkan osteoblas pada
periosteum mendeposit tulang. Proses pertumbuhan pada tulang melebar (diametrik)
tulang panjang ini disebut pertumbuhan aposisional.
Pertumbuhan memanjang tulang panjang terjadi pada bidang epiphyseal. Oleh
karena itu, lokasi ini disebut bidang pertumbuhan yang terletak di antara metafisis
(pusat osifikasi primer) dan epifisis (pusat osifikasi sekunder). Pertumbuhan
memanjang ini menjauhi bagian tengah tulang, yakni menuju proksimal dan menuju
distal. Pertumbuhan memanjang tulang panjang berhenti ketika metafisis menyatu
dengan epifisis. Pada sebelas minggu sebelum lahirnya, biasanya terdapat sekitar 800
pusat osifikasi. Pada waktu lahir terdapat 450 pusat osifikasi. Pusat osifikasi primer
muncul sebelum lahir dan pusat osifikasi sekunder muncul sesudah lahir. Setelah
dewasa, semua pusat osifikasi primer dan sekunder menyatu dan jumlah tulang
menjadi 206 elemen. Tulang manusia dewasa terdiri atas 206 tulang, ada yang
berpasangan dan ada yang tunggal.

2.7 Variasi-Variasi Pada Tulang


Variasi-variasi pada tulang bisa terjadi karena berbagai faktor, antara lain
fraktur, penyakit, dan kelainan genetis. White (2000) mengklasifikasikan variasi
tulang menjadi tiga : idiosinkratik, gender dan ontogenetik. Variasi idiosinkratik
adalah variasi normal antarindividu dan juga disebut variasi individual. Variasi
gender adalah dimorfisme seksual atau perbedaan yang terjadi pada tulang laki-laki

11

dan perempuan. Variasi ontogenetik adalah perbedaan tulang dari umur atau dari
kecil ke dewasa/tua.

2.8

Penentuan Jenis Kelamin


Sebelum menentukan jenis kelamin berdasarkan pemeriksaan tulang, pastikan

dahulu apakah itu tulang manusia atau hewan, apakah tulang itu berasal dari satu atau
beberapa orang, setelah jelas bahwa tulang belulang tersebut adalah tulang manusia
dan berasal dari satu orang atau lebih, barulah ditentukan jenis kelamin.
Perbedaan tulang laki-laki dan perempuan baru terlihat sesudah pubertas.
Umumnya tulang perempuan lebih kecil, lebih ringan, lebih halus karena tonjolan
tempat perlengketan otot dan tendon kurang menonjol pada perempuan. Tulangtulang iga biasanya lebih tipis dan lebih melengkung pada perempuan.
Hal-hal lain yang berhubungan dengan penentuan jenis kelamin berdasarkan
tulang dapat dilihat pada tabel berikut ini.
No.
1

Tulang
Sternum

Laki-laki

Perempuan

- Lebih panjang

- Lebih pendek

- Panjang corpus sterni

- Panjang corpus sterni

lebih
panjang

dari

kali

manubrium

sterni
- Pinggir

kurang dari 2 kali


panjang

manubrium

sterni
atas

sejajar

- Pinggir atas sejajar

dengan pinggir atas

dengan pinggir bawah

vertebra torakal II

vertebra torakal III

Pelvis
- umum

- Lebih ramping, kasar

- Lebih dangkal, halus

12

dan tidak begitu lebar

dan lebih lebar

- Lebih berat
- os illium
- os sacrum

- symphysis pubis

- Lebih

curam

pada

posterior

- Lebih ringan
- Kurang curam pada

- Pinggir kurang bulat

posterior

- Panjang dan sempit

- Lebih bulat

- Lebih masuk ke dalam

- Pendek dan lebar

- Sudut tulang kemaluan

- Menonjol keluar

(sub

pubic

angle)

kurang dari 90o

- Sudut

tulang

kemaluan (sub pubic


angle) lebih dari 90o

- Sudut tumpul

- Sudut hampir 90o

Tulang-tulang

- Lebih berat

- Lebih ringan

kepala

- Cavitas cranium 10%

- Cavitas cranium 10%

Sudut antara
collum dan corpus
femoris

lebih

besar

dari

perempuan
5

Condylus

lebih kecil dari lakilaki

- Lebih menonjol

- Kurang menonjol

- Bentuk mebundar

occipitalis
6

Orbita

- Bentuk persegi

Dahi

- Curam,

kurang

- Membundar

membundar
8

Tulang pipi

- Berat, arkus lebih ke


lateral

Glabella, arcus
zygomaticus,
arcus super ciliaris

- Lebih menonjol

- Ringan,

lebih

memusat
- Kurang menonjol

13

dan processus
mastoideus
10

Mandibula

- Besar,

simfisisnya

tinggi,

ramus

asendingnya lebar
11

Palatum

- Besar

dan

cenderung

lebar,
seperti

- Kecil, dengan ukuran


corpus

dan

ramus

lebih kecil
- Kecil,

cenderung

seperti parabola

huruf U
Tabel 1. Perbedaan tulang laki-laki dan perempuan

Gambar 2. Perbedaan pelvis pria dan wanita

14

Gambar 3. Perbedaan tulang tengkorak pria dan wanita


Tabel: Identifikasi jenis kelamin pada kranium (diadaptasi dari bikstra dan mielke,
1985)
Karakter tulang

Laki-laki

Perempuan

Kranium dan wajah

Secara umum lebih besar

Secara umum lebih kecil

Kapasitas kranium

Cenderung > 1.450 cc

Cenderung <1.300 cc

Rigi supraorbitalis

Lebih menonjol

Lebih halus/datar

Dahi/frontal

Mengarah ke belakang

Halus lebih tegak dan


membulat

Batas tepi atas atap


orbita
Krista temporalis, garis

Tumpul lebih berkembang

Tajam kurang

nuchale dan

dan menonjol

berkembang halus dan

protuberantia occipitalis
eksterna

lebih datar

15

Krista mastoideus,

Lebih besar, lebih lebar

Halus, lebih tegak dan

processus

dan kasar

membulat

Lebih besar, lebar dan

Kecil, ramping dan halus

supramastoideus,
processus zigomaticus
Tulang zigomaticus

kasar
Mandibula : bodi, ramus

Lebih lebar, besar

Symphisis dan condylus

Tinggi dan kuat

Sudut gonion

Tajam, kuat dan kasar,

Kecil dan halus

Cenderung 125

cenderung eversi
Dagu/gnathion

Cenderung segiempat,

Lebih runcing

proyeksi kedepan

2.9

Penentuan Identitas Ras


Ras pada prinsipnya adalah penggolongan manusia secara biologi berdasarkan

penampakan fisiknya atau fenotipnya, bukan berdasarkan stuktur genetisnya. Secara


umum, ras manusia digolongkan menjadi tiga: mongoloid, negroid dan kaukasoid.
Orang Indonesia termasuk dalam ras mongoloid dan autralomelanesoid (jacob, 1976).
Perbedaan morfologis ras pada tulang dapat dilihat pada kranium yang meliputi posisi
tulang zygomaticus relatif terhadap wajah, lebar apertura nasalis, bentuk tulang
orbita, lebar dan bentuk tulang palatum, serta lurus atau berbeloknya sutura
zygomaticomaxillaris.
a. Ras Kaukasoid
Tulang zygomaticus cenderung mundur terhadap tulang fasial,
apertura nasalis sangat sempit dan tajam tepi bawahnya. Dasar tulang orbita
cenderung miring ke bawah, palatum relatif sempit dan cenderung miring ke
bawah, palatum relatif sempit dan cenderung berbentuk segitiga, sutura

16

zygomaticomaxillaris cenderung membelok. Presentase sutura cenderung


lebih tinggi dibandingkan dua ras lainnya.
b. Ras Mongoloid
Kranium cenderung memiliki tulang zygomaticus yang menonjol
lebar, apertura nasalis sedang, dan tepi bawah nasal agak runcing. Tulang
orbita cenderung sirkulait. Tulang palatum lebarnya sedang. Sutura
zygomaticomaxillaris cenderung lurus.
c. Ras Negroid
Tulang zygomaticus tidak begitu menjorok ke depan relatif terhadap
tulang fasial. Appertura nasalis sangat lebar dan tepi bawah tulang nasalis
tumpul, tulang orbita cenderung persegi empat, alveolus anterior pada
maksila dan mandibula cenderung sangat prognatis. Sering didapati depresi
coronal posterior pada sutura koronaria. Sutura zygomaticomaxillaris
cenderung membentuk huruf S.
Tabel 2. Perbedaan tulang-tulang pada berbagai ras
No.

Tulang

Kaukasoid

Mongoloid

Negroid

Cranium

Bulat

Persegi

Oval

Kening

Menonjol

Miring (inclined)

Kecil

(raised)
3

Muka

Ekstremitas

Relatif

dan

melekuk
sempit/ Lebar, datar, tulang Maxilla / rahang

kecil

pipi menonjol

atas menonjol

Normal

Lebih kecil

Ekstremitas
superior
lebih

relatif
panjang

disbanding
ukuran tubuh

17

18

Gambar 4. Perbedaan tulang-tulang pada berbagai ras

2.10

Penentuan Perkiraan Umur


Perkiraan umur seseorang dapat ditentukan berdasarkan hal-hal berikut:

a.

Penutupan sutura
Pemeriksaan terhadap penutupan sutura pada tulang-tulang atap
tengkorak berguna untuk memperkirakan umur sudah lama diteliti dan telah
berkembang berbagai metode. Namun, pada akhirnya hampir semua ahli
menyatakan bahwa cara ini tidak akurat dan hanya digunakan dalam lingkup
dekade (umur 20-30-40 tahun) atau mid-dekade (umur 25-35-45 tahun) saja.

19

Sutura-sutura pada cranium menghubungkan 22 tulang yang ada pada


kepala. Salah satu teknik yang dikembangkan oleh Mindle dan Lovejoy
(1985) untuk menentukan umur mati adalah latero-anterior suture closure,
penutupan sutura cranial pada daerah lateral dan anterior. Sutura-sutura yang
dipeiksa adalah:
1. Midcoronal
2. Pterion
3. Sphenofrontal, titik tengah
4. Sphenotemporal inferior
5. Sphenotemporal superior
Kelima sutura itu masing-masing diberi score dari nol sampai dengan
empat, tergantung pada derajat penutupan suturanya. Menurut penelitian
Midle dan Lovejoy (1985), score total penutupan kelima sutura anterolateral
cranium ini hasilnya terlihat pada tabel berikut;

Tabel: perkiraan umur mati menggunakan penutupan sutura lateroanterior pada bagian Ektocranial.
Skor Total

Jumlah Sampel

Umur

Rata- Kisaran Umur

Rata
0 ( buka )

42

32,0

-50

48

36,2

19-48

48

41,1

25-49

3,4,5

56

43,4

23-68

17

45,5

23-63

7,8

31

51,9

32-65

9,10

29

56,2

33-65

20

11,12,13,14

24

15 (Tutup)

Total

236

33-76
34-68

Gambar 5. Perbedan sutura yang terbuka dan tertutup

b.

Pertumbuhan dan perkembangan badan


Proses pertumbuhan dimulai sejak terjadi konsepsi dan berlangsung
terus sampai umur dewasa, kemudian stabil dan pada umur tua relatif
berkurang. Sesudah dilahirkan, umur dapat diperkirakan sesuai golongan
pertumbuhan dan perkembangan badan, antara lain bayi, balita, anak-anak,
dewasa muda.

21

c.

Tinggi dan berat badan


Pada janin, bayi baru lahir dan anak-anak sampai masa pubertas, umur
dapat ditentukan berdasarkan tinggi (panjang) dan berat badan. Beberapa
faktor harus dipertimbangkan antara lain keturunan, bangsa, gizi dan lain-lain.
Pada orang dewasa, penentuan umur berdasarkan tinggi dan berat badan tidak
dapat dipergunakan lagi.Berikut ini adalah tabel yang memperlihatkan
hubungan antara umur, tinggi (panjang), berat badan dan pusat penulangan
bayi.
No.
1

Umur

Tinggi (panjang)

4 bulan 6-9 inci (15-20 cm)

Berat

Pusat

Tanda

badan

penulangan

lain

60-120 g

Segmen

terbawah dari
sacrum
2

5 bulan 10 inci (25 cm)

500-750

Os calcaneus

Manubrium

g
3

6 bulan 12 inci (30 cm)

1000 g

sterni
4

7 bulan 14 inci (35 cm)

1500 g

Os talus

Testis
pada
anulus
inguinalis
interna

8 bulan 16 inci (40 cm)

2500 g

Sternum

bawah
6

9 bulan 19-20 inci (45-50 2500cm)

3500 g

Distal

femur, Aterm

proksimal tibia (cukup


dan os cuboid

bulan)

Tabel 3. Hubungan umur, tinggi, berat badan dan pusat penulangan

22

Panjang bayi baru lahir berkisar antara 47.5 sampai 52.5 cm (rata-rata
50 cm). Pada umur 6-12 bulan, panjang bayi adalah 60 cm, pada umur 1 tahun
adalah 67.5 cm dan pada umur 4 tahun panjang bayi 2 kali panjang waktu
lahir (lebih kurang 100 cm).
Umur bayi dalam kandungan bisa ditentukan dengan formula de Haas,
yaitu:
- Umur bayi 1-5 bulan sama dengan akar pangkat dua dari panjang badan
(dalam cm).
- Umur bayi 5-10 bulan sama dengan panjang badan (dalam cm) dibagi
dengan 5.
Sesudah bayi lahir, pada mulanya berat badannya akan turun,
kemudian berat badannya akan bertambah 120 gram setiap minggu atau 500
gram setiap bulannya. Pada umur 6 bulan, berat badannya dua kali berat
waktu lahir.Pada umur 1 tahun, berat badannya tiga kali berat waktu lahir.

d.

Gigi-geligi
Ada 2 jenis gigi, yaitu gigi susu dan gigi permanen. Gigi susu (milk
teeth) disebut gigi sementara atau dens decidui, jumlahnya 20 buah, terdiri
atas 4 buah insisivus, 2 caninus dan 4 molar di setiap rahang. Bayi akan
mengalami pertumbuhan gigi susu pada umur 6 bulan dan selesai
pertumbuhannya pada umur 24 bulan. Jika ada gigi susu insisivus tumbuh,
maka umurnya diperkirakan sekitar 6-8 bulan. Gigi permanen (permanent
eeth) disebut gigi tetap, jumlahnya 32 buah, terdiri atas 4 buah insisivus, 2
caninus, 4 premolar dan 6 molar di setiap rahang.

23

Penentuan umur berdasarkan jumlah dan jenis gigi hanya dapat


ditentukan secara umum sampai umur 17-25 tahun.Di atas umur ini yang
diperhatikan adalah keausan gigi (atrisi), warna dan lain-lain.
Gustafson menemukan formula penentuan umur di atas 18-20 tahun
berdasarkan adanya perubahan gigi karena penuaan dan pembusukan gigi
(ageing and decaying changes). Perubahan ini meliputi atrisi, peridontosis,
dentin sekunder, resorpsi akar, aposisi sementum dan transparensi akar gigi.
Formula Gustafson ini hanya dapat dipakai untuk penentuan umur pada orang
yang telah meninggal karena gigi harus dicabut dari soket gigi, kecuali pada
orang hidup pengamatan atrisi dan peridontosis dapat dilakukan tanpa
pencabutan gigi.

Gambar 6.Erupsi gigi susu dan permanen

24

e.

Pemeriksaan rahang bawah


Perubahan rahang bawah terjadi sejalan dengan pertambahan
umur.Bisa dibedakan rahang bayi, dewasa dan orang tua. Rahang bayi
corpusnya dangkal dan ramusnya sangat pendek serta membentuk sudut 140o
terhadap corpus dari rahang tersebut.
Pada rahang dewasa, corpus menjadi lebih tebal dan panjang serta
sudut antara ramus dan corpus menjadi 90o.
Pada orang tua, batas dari prosesus alveolaris mulai hilang dan corpus
akan mulai dangkal kembali serta sudut antara ramus dan corpus akan kembali
menjadi tumpul.

Gambar 7. Perkembangan rahang bawah

f.

Pusat penulangan (ossification centre) dari tulang-tulang


Pemeriksaan terdahap pusat penulangan sering digunakan untuk
perkiraan umur pada tahun-tahun pertama kehidupan. Biasanya berkaitan
dengan kasus abortus dan infanticide. Pemeriksaan ini dapat dilakukan dengan
menggunakan foto radiologis atau dengan melakukan pemeriksaan langsung
terhadap pusat penulangan pada tulang.

g.

Penutupan garis epifisis pada tulang panjang


Penentuan umur dengan menggunakan penutupan garis epifisis pada
tulang panjang ini terutama dipakai pada anak-anak yang sedang
tumbuh.Pemastian

penutupan

ini

hanya

dapat

ditentukan

secara

radiologis.Garis epifisis pada tulang humerus bagian distal menutup pada

25

umur 13-15 tahun pada perempuan dan 14-15 tahun pada laki-laki.Pada tulang
radius bagian proksimal menutup pada umur 13-14 tahun pada perempuan dan
14-15 tahun pada laki-laki.Pada tulang ulna bagian distal menutup pada umur
17 tahun pada perempuan dan 18 tahun pada laki-laki.Pada tulang clavicula
bagian medial menutup pada umur 20 tahun pada perempuan dan 22 tahun
pada laki-laki.Penulangan tulang rawan pada garis epifisis pada wanita terjadi
lebih dahulu dari laki-laki.

26

BAB III
PENUTUP
3.1

Kesimpulan
Antropologi

forensik

adalah

aplikasi

ilmu

pengetahuan

dari

antropologi fisik untuk proses hukum dimana pada tahun 1890 untuk
pertamakalinya antropologi forensik digunakan untuk menyeret seseorang ke
penjara. Ilmu ini sangat bermanfaat untuk membantu penyidik dan penegak
hukum untuk mengidentifikasi terutama pada temuan rangka tak dikenal.
Sehingga dari identifikasi pada kerangka (antropologi forensik) dapat
dibuktikan bahwa kerangka tersebut adalah kerangka manusia, ras, jenis
kelamin, perkiraan umur, tinggi badan, ciri-ciri khusus, deformitas dan bila
memungkinkan dapat dilakukan rekonstruksi wajah. Selain itu juga
memperkirakan waktu kematian, penyebab kematian dan riwayat penyakit
dahulu atau luka yang saat hidup menimbulkan jejas pada struktur tulang.
Dengan begini ilmu antropologi forensik memegang peranan penting dan
sangat membantu dalam proses hukum untuk mewujudkan kebenaran dan
keadilan.

27

Daftar Pustaka
1. Amri A. Rangkaian Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi kedua. Medan:
Ramadhan, 2016. Hal: 178-191
2. Sumy Hp. Ilmu Kedokteran Forensik Untuk Kepentingan Penyidikan. Jakarta:
Rayyana Komunikasindo, 2014. Hal: 77-113
3. Abdul MI, Agung LT. Penerapan Ilmu Kedokteran Forensik Dalam Proses
Penyidikan. Jakarta: Sagung Seto, 2011. Hal: 177-190
4. Arif B, dkk. Ilmu kedokteran forensik. Bagian kedokteran forensik fakultas
kedokteran universitas indonesia, 1997. Hal: 197-202
5. Shirley N, Tersigni M. Forensic Anthropology: An Introduction. US: CRC
Press, . 2013: Hal. 1-15