Anda di halaman 1dari 3

Adithya Wilda Nova .

S
21010111130117
Kelas A

Servis Ekologi di Dunia Konstruksi, Peluang dan


Tantangannya
Ekologi merupakan ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara
mahluk

hidup

dengan

mahluk

hidup

ataupun

mahluk

hidup

dengan

lingkungannya. Ekologi tidak lepas dari komponen penyusunnya yaitu faktor


biotik seperti mahluk hidup (manusia, hewan, tumbuhan) dan abiotik seperti suhu,
air, topografi, cahaya. Berbicara tentang ekologi, erat kaitannya dengan tingkat
organisasi mahluk hidup, yaitu populasi, komunitas, dan ekosistem yang saling
mempengaruhi.
Dalam dunia konstruksi, konsep ekologi berkaitan dengan pembangunan
yang berwawasan lingkungan. Kesadaran global mengenai lingkungan hidup dan
perubahan iklim beberapa tahun belakangan ini mulai meningkat tajam. Di bidang
konstruksi hal ini ditunjukan dengan mulai dikembangkannya konsep ecobuilding atau bangunan yang ramah lingkungan. Berkembangnya gerakan hijau
saat ini tidak hanya bertujuan untuk melindungi sumber daya alam, tetapi juga
diimplementasikan

sebagai

upaya

efisiensi

penggunaan

energi

serta

meminimalisir kerusakan lingkungan sekitar. Hal ini sangat bermanfaat bagi


negara berkembang, khususnya Indonesia, yang sedang melakukan pembangunan
secara merata dan berkelanjutan. Penerapan material ramah lingkungan dan
metode konstruksi yang hemat bahan dan hemat energi, menggabungkan material
alam dan buatan harus mulai dipikirkan dalam pembangunan berkelanjutan,
sehingga turut mengatasi permasalahan global yang sedang berkembang saat ini
berkaitan dengan lingkungan hidup dan perubahan iklim. Konsep perancangan
yang berdasarkan pada keseimbangan alam ini, diharapkan juga dapat mengurangi
pemanasan global sehingga suhu bumi tetap terjaga. Kebanyakan pekerjaan

konstruksi hanya mementingkan struktur dan keberadaan bangunan itu sendiri dan
tidak melihat disekeliling dampak pada lingkungan tersebut. Apabila tidak
diterapkan

konsep

ekologi

pada

pembangunan

maka

akan

terjadi

ketidakseimbangan dan kerusakan alam.


Bidang konstruksi sendiri menyumbang kerusakan alam cukup besar,
mulai dari pengambilan material dari berbagai sumber terkait dengan proses
pengangkutannya, pengolahan material material yang akan dipergunakan,
pendistribusian material jadi dari sumbernya ke pemakai, proses konstruksi itu
sendiri, pengambilan lahan untuk bangunan, dan konsumsi energi yang dimulai
saat bangunan dipakai. Saat ini pembangunan tidak lagi meningkatkan kualitas
hidup kita, sebab kerusakan alam yang terjadi sebagai akibatnya sama dengan
penurunan kualitas manusia. Dalam hal ini untuk pemecahan bidang konstuksi
sangat diperlukan langkah yang bijaksana untuk menerapkan konstruksi yang
berkelanjutan dan menerapkan konsep servis ekologi atau ramah lingkungan.
Dimana konstruksi tersebut berusaha meminimalisasi kerusakan yang ada di alam.
Sebenarnya peluang penerapan servis ekologi dalam pembagunan di dunia
konstruksi sangat terbuka lebar. Hal ini ditandai dengan mulai maraknya
penerapan

bangunan

ramah

lingkungan.

Pembangunan

bangunan

yang

menerapkan perbaikan ekologi ini mencakup metode pelaksanaan, material yang


dipakai, hingga konsep desain arsitektural. Pembangunan yang menerapkan
perbaikan ekologi / servis ekologi ini juga turut mendorong penghematan energi,
perbaikan lingkungan, hingga perbaikan kesehatan penghuninya. Pembangunan
yang ramah lingkungan ini juga merupakan pembangunan berkelanjutan yang
memikirkan jangka panjang dari efek yang akan ditimbulkan oleh bangunan ini
nanti, baik dari segi dampak lingkungan hingga keawetan bangunan ini nanti.
Namun, saat ini penerapan servis ekologi dalam pembangunan di dunia
konstruksi memiliki beberapa tantangan, salah satunya permasalahan teknologi
yang masih terbatas untuk negara berkembang seperti Indonesia. Dalam
pelaksanaannya pun metode pelaksanaan untuk eco-building lebih rumit jika
dibandingkan dengan pelaksanaan pembangunan biasa, contohnya pelaksanaan
harus meminimalisir tingkat kebisingan di sekitar proyek, pengaturan alat berat
sehingga lebih hemat air, dan lalu lintasnya saat membawa material proyek

sehingga tidak merusak lingkungan sekitar dan debunya tidak turut mengganggu
pernafasan masyarakat sekitar. Dalam desain arsitektural juga lebih rumit, karena
faktor tata letak bangunan, dan pencahayaan dimaksimalkan semaksimal mungkin
agar bangunan yang berdiri nanti lebih hemat energi namun tetap nyaman
digunakan. Material yang digunakan bukan material biasa yang tidak ramah
lingkungan, contohnya seperti semen yang proses kalsinasi kapur dan pembakaran
batu bara oleh industri semen menghasilkan emisi karbon dioksida (CO 2) yang
memainkan peran penting sebagai komponen terbesar gas rumah kaca. Di
Indonesia, keterbatasan teknologi menyebabkan tidak semua material dapat
diganti oleh material yang benar-benar ramah lingkungan, melainkan pengurangan
material yang tidak ramah lingkungan dengan modifikasi material ataupun
substitusi material ramah lingkungan.
Pelaksana kegiatan jasa konstruksi dan owner juga belum melihat sisi
keberlanjutan bangunannya, jadi masih hanya menerapkan mencari untung
sebesar-besarnya dalam proses pembangunan. Salah satu konsekuensi dari
pembangunan yang menerapkan eco-building adalah mahalnya biaya diawal
karena seperti yang dijelaskan sebelumnya, proses pengerjaannya pun lebih rumit.
Hal ini yang cukup membuat banyak kontraktor dan owner tidak menerapkan
servis ekologi dalam pembangunan, padahal jika ditinjau lebih jauh bangunan
yang menerapkan konsep eco-building memberikan keberlanjutan dari segi
penghematan energi, keawetan bangunan, dan pemeliharaan lingkungan secara
jangka panjang sehingga biaya yang dikeluarkannya pun nantinya akan sama
bahkan lebih rendah.