Anda di halaman 1dari 15

Asuhan Keperawatan Tumor Medula Spinalis

KUMPULAN ASKEP

1.1. Definis
i
Tumor medula spinalis adalah tumor yang berkembang dalam tulang belakang atau isinya dan biasanya
menimbulkan gejala-gejala karena keterlibatan medula spinalis atau akar-akar saraf. (Price sylvia
anderson, 1995).
1.2 Klasifikasi
a. Tumor Intradural
Berbeda dengan tumor ekstradural tumor intradural pada umumnya jinak.
1. Tumor Ekstramedular
Terletak diantara durameter dan medula spinalis, sebagian besar tumor di daerah ini merupakan
neurofibroma atau meningioma jinak
2. Tumor Intramedular
Berasal dari dalam medula spinalis itu sendiri.
b. Tumor Ekstradural
1.

Tumor ekstradural terutama merupakan metastase dari lesi primer di payudara, prostat, tiroid,
paru-paru, ginjal, dan lambung

2.

Tumor ekstradural pada umumnya berasal dari kolumna vertebralis atau dari dalam ruangan
ekstradural. Neoplasma ekstradural dalam ruangan ekstradural biasanya karsinoma dan limfoma
metastase.

1.3. Etiologi
Faktor Resiko tumor dapat terjadi pada setiap kelompok Ras, insiden meningkat seiring dengan
pertambahan usia, faktor resiko akan meningkat pada orang yang terpajan zat kimia tertentu (Okrionitil,
tinta, pelarut, minyak pelumas), namun hal tersebut belum bisa dipastikan. Pengaruh genetik berperan
serta dalam tibulnya tumor, penyakit sklerosis TB dan penyakit neurofibomatosis.
1.4 Manisfestasi Klinis
a. Tumor ekstradural
1.

Nyeri yang digambarkan sebagai konstan dan terbatas pada daerah tumor diikuti oleh nyeri yang
menjalar menurut pola dermatom

2.

Nyeri paling hebat pada malam hari dan menjadi lebih hebat oleh gerakan tulang belakang dan
istirahat baring

3.

Nyeri radikuler diperberat oleh batuk dan mengedan

4.

Nyeri dapat berlangsung selama beberapa minggu atau bulan sebelum keterlibatan medula
spinalis.

5.

Fungsi medula spinalis akan hilang sama sekali

6.

Kelemahan spastik dan hilangnya sensasi getar

7.

Parestesi dan defisit sensorik akan berkembang cepat menjadi paraplegia yang irreversible

8.

Gangguan buang air besar dan buang air kecil

b. Tumor intradural
Perjalanan klinis dapat lebih lambat dan berlangsung selama berbulan-bulan.
1.

Berkurangnya persepsi nyeri dan suhu kontralateral dibawah tingkat lesi

2.

Penderita mengeluh nyeri, mula mula pada punggung dan kemudian sepanjang akar-akar spinal

3.

Nyeri diperhebat oleh gerakan, batuk, bersin, atau mengedan dan paling berat pada malam hari
( nyeri pada malam hari disebabkan oleh traksi pada akar-akar yang sakit, yaitu sewaktu tulang
belakang memanjang setelah hilangnya efek pemendekan dari gravitasi.

4.

Parestesia dan berlanjutnya defisit sensorik proprioseptif

1.5 Patofisiologi
Kondisi patofisiologi akibat tumor medula spinalis disebabkan oleh kerusakan dan infiltrasi, pergeseran dan
dekompresi medula spinalis dan terhentinya suplai darah atau cairan serebrospinal. Derajad gejala
tergantung dari tingkat dekompresi dan kecepatan perkembangan, adaptasi bisa terjadi dengan tumor
yang tumbuh lamban, 85 % tumor medula spinalis jinak.
Terutama tumor neoplasma baik yang timbul ekstramedula atau intra medula. Tumor sekunder atau tumor
metastase dapat juga mengganggu medula spinalis dan lapisannya serta ruas tulang belakang
Tumor ekstramedular dari tepi tumor intramedural pada awalnya menyebabkan nyeri akar sarat subyektif.
Dengan pertumbuhan tumor bisa muncul defisit motorik dan sensorik yang berhubungan dengan tingkat
akardan medula spinalis yang terserang. Karena tumor membesar terjadilah penekanan pada medula
spinalis. Sejalan dengan itu pasien kehilangan fungsi semua motor dan sensori dibawah lesi/tumor
Tumor medula spinalis, yang dimulai dari medula spinalis, sering menimbulkan gejala seperti pada sentral
medula spinalis, termasuk hilang rasa nyeri segmental dan fungsi temperatur. Tambahan pula fungsi selsel tanduk anterior seringkali hilang, terutama pada tangan. Seluruh jalur sentral yang dekat benda kelabu
menjadi disfungsi. Hilangnya rasanyeri dan sensori suhu dan kelemahan motorik berlangsung sedikit demi
sedikit, bertambah berat dan menurun. Motorik cauda dan fungsi sensorik yang terakhir akan hilang,
termasuk hilang fungsi eliminasi fecal dan urine. (Long C, Barbara, 1996)
1.6. Penatalaksanaan
a) Stabilisasi : fusi spinal
b) Pengobatan : relaksan otot, transquilizer, anti koagulan, laksatif, antasida dan steroid.
c) Tumor Ekstradural

Laminektomie

Hormon, radiasi dan kemoterapi merupakan pengobatan tambahan

Tumor Intradural

Pengangkatan dengan pembedahan

1.7 Pemeriksaan Diagnostik


Pemeriksaan diagnostik secara umum dapat dilakukan :

Pemeriksaan sinar X

CT. Scan

MRI

Analisa Gas Darah

Elektrolit

a. Tumor Ekstradural

Radiogram tulang belakan (Akan memperlihatkan osteoporosis atau kerusakan nyata pada korpus
vertebra dan pedikel)

Myelogram (Memastikan lokalisasi tumor)

Pemeriksaan LCS (Akan memperlihatkan peningkatan kadar protein dan kadar glukosa yang
normal)

b. Tumor Intradural

Radiogram tulang punggung memperlihatkan pembesaran foramen dan penipisan pedikel yang
berdekatan

Myelogram (Menentukan lokalisasi yang cepat)

1.9 Penatalaksanaan
a. Pembedahan
Pembedahan dilaksanakan untuk menegakkan diagnosis histologik dan untuk mengurangi efek akibat
massa tumor. Kecuali pada tipe-tipe tumor tertentu yang tidak dapat direseksi.
Banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan suatu pembedahan tumor otak yakni: diagnosis yang
tepat, rinci dan seksama, perencanaan dan persiapan pra bedah yang lengkap, teknik neuroanastesi yang
baik, kecermatan dan keterampilan dalam pengangkatan tumor, serta perawatan pasca bedah yang baik,
Berbagai cara dan teknik operasi dengan menggunakan kemajuan teknologi seperti mikroskop, sinar laser,
ultrasound aspirator, bipolar coagulator, realtime ultrasound yang membantu ahli bedah saraf
mengeluarkan massa tumor otak dengan aman.
b. Radiotherapi
Biasanya merupakan kombinasi dari terapi lainnya tapi tidak jarang pula merupakan therapi
tunggal.Adapun efek samping : kerusakan kulit di sekitarnya, kelelahan, nyeri karena inflamasi pada
nervus atau otot pectoralis, radang tenggorkan.

c. Chemotherapy
Jika tumor tersebut tidak dapat disembuhkan dengan pembedahan, kemoterapi tetap diperlukan sebagai
terapi tambahan dengan metode yang beragam. Pada tumor-tumor tertentu seperti meduloblastoma dan
astrositoma stadium tinggi yang meluas ke batang otak, terapi tambahan berupa kemoterapi dan regimen
radioterapi dapat membantu sebagai terapi paliatif.Pemberian obat-obatan anti tumor yang sudah
menyebar dalam aliran darah.Efek samping : lelah, mual, muntah, hilang nafsu makan, kerontokan
membuat, mudah terserang penyakit.
d. Manipulasi hormonal.
Biasanya dengan obat golongan tamoxifen untuk tumor yang sudah bermetastase
e. Terapi Steroid
Steroid secara dramatis mengurangi edema sekeliling tumor intrakranial, namun tidak berefek langsung
terhadap tumor.
1.10 Pemeriksaan Penunjang
1.

Arterigrafi atau Ventricolugram ; untuk mendeteksi kondisi patologi pada sistem ventrikel dan
cisterna.

2.

CT SCAN ; Dasar dalam menentukan diagnosa.

3.

Radiogram ; Memberikan informasi yang sangat berharga mengenai struktur, penebalan dan
klasifikasi; posisi kelenjar pinelal yang mengapur; dan posisi selatursika.

4.

Elektroensefalogram (EEG) ; Memberi informasi mengenai perubahan kepekaan neuron.

5.

Ekoensefalogram ; Memberi informasi mengenai pergeseran kandungan intra serebral.

6.

Sidik otak radioaktif ; Memperlihatkan daerah-daerah akumulasi abnormal dari zat radioaktif.
Tumor otak mengakibatkan kerusakan sawar darah otak yang menyebabkan akumulasi abnormal
zat radioaktif

DAFTAR PUSTAKA
Doenges, E. M (2000), Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian, ed. 3, EGC, Jakarta.
Hudak & Gallo. (1996). Keperawatan kritis : pendekatan holistic. Vol. 2. EGC.jakarta.
Tweet
Title : Asuhan Keperawatan Tumor Medula Spinalis
Description : 1.1. Definisi Tumor medula spinalis adalah tumor yang berkembang dalam tulang belakang
atau isinya dan biasanya menimbulkan gejala-gejala ka...
Rating : 5

1.6 KOMPLIKASI
Komplikasi yang mungkin pada tumor medula spinalis antara lain:
a. Paraplegia
Merupakan paralisis ekstremitas bawah, biasanya mencakup kandung kemih dan rektum.
(Hinchliff, 1999 : 324)
b. Quadriplegia
Merupakan paralisis keseluruhan pada empat anggota gerak. (Hinchliff, 1999 : 432)
c. Infeksi saluran kemih
d. Kerusakan jaringan lunak
e. Komplikasi pernapasan
Komplikasi yang muncul akibat pembedahan adalah:
Deformitas pada tulang belakang post operasi lebih sering terjadi pada anak-anak dibanding
orang dewasa. Deformitas pada tulang belakang tersebut dapat menyebabkan kompresi
medula spinalis.
Setelah pembedahan tumor medula spinalis pada servikal, dapat terjadi obstruksi foramen
Luschka sehingga menyebabkan hidrosefalus.
1.7 PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Tumor Ekstradural (Price, 2006 : 1193)
1. Radiogram tulang belakang
Sebagian besar penderita tumor akan memperlihatkan osteoporosis atau kerusakan nyata pada
pedikulus dan korpus vertebrae.
2. Mielogram
Untuk memastikan letak tumor.
3. CT-Scan Resolusi Tinggi.
4. CSF memperlihatkan kadar protein yang meningkat dan kadar glukosa yang normal.
b. Tumor Intradural
1. Tumor Ekstramedular (Price, 2006 : 1193)
- CSF memperlihatkan kadar protein yang meningkat.
- Radiografi spinal
Memperlihatkan pembesaran foramen dan penipisan pedikulus yang berdekatan.
- Mielogram.
- CT-Scan
- MRI
2. Tumor Intramedular (Price, 2006 : 1194)
- Radiogram
Memperlihatkan pelebaran canalis vertebralis dan erosi pedikulus.
- Mielogram, CT-Scan atau MRI memperlihatkan pembesaran medula spinalis.
1.8 PENATALAKSANAAN
a. Tumor Ekstradural (Price, 2006 : 1193)
- Analgetik
- Kortikosteroid
- Terapi radiasi
- Kemoterapi
- Terapi hormonal
b. Tumor Intradural (Price, 2006 : 1194)
- Pembedahan

Pengangkatan tumor intramedular terutama pada ependimoma dan hemangioblastoma


II.

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

2.1 PENGKAJIAN
1. BIODATA
a. Umur
Tumor medula spinalis dapat terjadi pada semua kelompok usia tetapi jarang dijumpai
sebelum usia 10 tahun. (Price, 2006 : 1190)
b. Jenis Kelamin
Meningioma lebih sering terjadi pada wanita usia separuh baya. (Price, 2006 : 1193)
c. Pekerjaan
Pekerjaan yang berhubungan langsung terhadap paparan bahan kimia yang bersifat.
2. KELUHAN UTAMA
Nyeri hebat pada malam hari dan ketika tulang belakang digerakan serta pada saat istirahat
baring.
3. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG
Awal dirasakan nyeri hebat pada malam hari dan saat berubah posisi serta keluhan-keluhan
lain seperti kelemahan ekstremitas, mual muntah, kesulitan bernapas serta cara
penanganannya.
4. RIWAYAT PENYAKIT DAHULU
a. Riwayat tumor baik yang ganas maupun jinak pada sistem syaraf atau pada organ lain
b. Keluhan yang pernah dirasakan misalnya : pusing, nyeri, gangguan dalam berbicara,
kesulitan dalam menelan, kelemahan ekstremitas.
5. RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA
Riwayat tumor atau kanker dalam keluarga
6. RIWAYAT PSIKOSOSIOSPIRITUAL
Pengkajian mekanisme koping yang digunakan untuk menilai respon emosi klien terhadap
penyakit yang dideritanya dan perubahan peran klien dalam keluarga. Apakah ada dampak
yang timbul pada klien yaitu timbul seperti ketakutan akan kecacatan, rasa cemas, rasa
ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas secara optimal, dan pandangan terhadap dirinya
yang salah (gangguan citra tubuh).
7. PEMENUHAN KEBUTUHAN (ADL)
a. Nutrisi
Terjadi ketidakmampuan untuk menelan, mual muntah, serta kesulitan bernapas dapat
menyebabkan intake makanan yang tidak adekuat sehingga dapat terjadi penurunan berat
badan.
b. Aktivitas Istirahat tidur
1. Aktivitas
Kelemahan ekstremitas, nyeri pada punggung dapat menyebabkan ketidakmampuan untuk
melakukan aktivitas
2. Istirahat tidur
Gangguan istirahat tidur dapat terjadi akibat nyeri yang hebat pada malam hari serta saat
berbaring dan karena cemas.
c. Hygiene personal
Terjadi peningkatan kebutuhan akan bantuan orang lain dalam pemenuhan hygiene personal
akibat adanya kelemahan ekstremitas, penurunan tingkat kesadaran serta nyeri.
d. Eliminasi

Terjadi gangguan BAB dan BAK


8. PEMERIKSAAN FISIK
B1 (Breathing)
Irama pernapasan tidak teratur
Takipnea
Dispnea
Kesulitan bernapas
Pergerakan dada asimetris
B2 (Blood)
Bradikardi
Hipotensi
Sianosis
B3 (Brain)
Penurunan kesadaran
Nyeri pada vertebra thorakalis, vertebra servikal, vertebra lumbalis
Defisit sensorik
B4 (Bladder)
Distensi kandung kemih
Nyeri tekan pada kandung kemih
B5 (Bowel)
Berat badan menurun
Nyeri abdomen
B6 (Bone)
Penurunan skala otot
Kelemahan fleksi panggul dan spastisitas tungkai bawah
Kehilangan refleks lutut dan refleks pergelangan kaki
Atrofi otot betis dan kaki
9. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Radiogram tulang belakang
b. Mielogram
c. CT-Scan Resolusi Tinggi
d. Pemeriksaan CSF
e. MRI
f. Analisa Gas Darah
2.2 DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Ketidakefektifan pola pernapasan berhubungan dengan kelemahan otot pernapasan


2. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan gangguan aliran darah
sekunder akibat hipotensi
3. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual muntah
4. Nyeri berhubungan dengan inflamasi akibat tumor
5. Gangguan pola tidur berhubungan dengan sering terbangun akibat nyeri
6. Resiko cedera berhubungan dengan perubahan fungsi sensori
7. Gangguan eliminasi urine (inkotenensia urine) berhubungan dengan gangguan pada saraf
8. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan neuromuskular
9. Ansietas berhubungan dengan perubahan dalam status kesehatan /hopitalisasi
2.3 INTERVENSI
1. Ketidakefektifan pola pernapasan berhubungan dengan kelemahan otot pernapasan

Tujuan : Pasien memperlihatkan frekuensi


gas pada paru dengan kriteria hasil :
RR : 16-20 x/menit
Nadi : 60 100 x/menit
Nadi teraba kuat dan reguler
Retraksi dada ringan
INTERVENSI
1. Jelaskan pada pasien tentang penyebab
1.
dan cara mengatasi ketidakefektifan pola
napas
2.
2. Pertahankan jalan napas: posisi kepala
dalam posisi netral, tinggikan sedikit
kepala tempat tidur jika dapat ditoleransi
pasien
3. Ubah
posisi
teratur,hindari
telungkup

atau
atau

balik
batasi

napas yang efektif dan mengalami pertukaran

RASIONAL
Meningkatkan sikap kooperatif dari pasien
Memudahkan
menggunakan
ekspansi paru

fungsi pernapasan dengan


gravitasi,
meningkatkan

secara
3. meningkatkan ventilasi semua bagian paru
posisi

4.
4. Bantu
pasien
untuk
mengontrol
pernapasan jika diperlukan. ajarkan dan
anjurkan pasien untuk melakukan napas
dalam
5.
5. Pantau atau batasi pengunjung jika
diperlukan
6.

bernapas mungkin bukan hanya aktivitas


volunter tetapi membutuhkan usaha secara
sadar tergantung pada lokasi trauma yang
berhubungan dengan otot pernapasan
Kelemahan secar umum dan gangguan
pernapasan membuat resiko tinggi bagi pasien
mendapatkan infeksi saluran pernapasan atas
Trauma pada C1-C2 menyebabkan hilangnya
fungsi pernapasan secara menyeluruh

6. Observasi fungsi pernapasan dengan


menginstruksikan pasien melakukan
napas dalam
7. menggambarkan akan terjadinya gagal napas
yang memerlukan intervensi medis dengan
segera
7. Observasi warna kulit adanya sianosis,
keabu-abuan
8. menyatakan
ventilasi
atau
oksigenasi.
mengidentifikasi masalah pernapasan
8. Kolaborasi
dengan
dokter
dalam
pemeriksaan Analisa Gas Darah (AGD)
dan oksimetri
9. Meningkatkan kadar oksigen dalan tubuh
9. Kolaborasi
dengan
dokter
dalam
pemberian oksigen kanul atau masker
Tidak menggunakan otot bantu pernapasan

2. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan gangguan aliran darah


sekunder akibat hipotensi
Tujuan : Pasien menunjukkan gangguan perfusi jaringan perifer teratasi dengan kriteria
hasil :
Akral hangat
Perfusi baik
CRT < 2 detik
Tidak cianosis
Nadi teratur
Nadi :60- 100x/mnt
Intervensi
Rasional
Tindakan Mandiri
1. Jelaskan pada pasien tentang tindakan
1. Meningkatkan sikap kooperatif dari
yang akan dilakukan
pasien
2. Pertahankan ekstermitas dalam posisi
2. Menurunkan statis vena di kaki dan
tergantung
pengumpulan darah pada vena pelvis
untuk
menurunkan
resiko
pembentukkan trombus
3. Ukur haluaran urine dan catat berat
3. Syok lanjut atau penurunan curah
jenisnya
jantung menimbulkan penurunan
perfusi ginjal
4. Observasi warna dan membran
4. Kulit pucat atau sianosis, kuku,
mukosa kulit
membran
bibir/lidah
yang
menunjukkan vasokontriksi perifer
atau gangguan aliran darah sistemik
Tindakan Kolaborasi
1. Peningkatan cairan diperlukan untuk
1. Kolaborasi dengan dokter dalam menurunkan hiperviskositas darah
pemberian cairan (IV/per oral)
atau
mendukung
volume
sirkulasi/perfusi jaringan
2. Meningkatkan kadar oksigen dalam
2. Kolaborasi dengan dokter dalam tubuh
pemberian oksigen sesuai indikasi
3.
Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual muntah
Tujuan : Pasien mengalami pemenuhan nutrisi setelah dilakukan tindakan keperawatan
selama ...x 24 jam dengan kriteria hasil:
Nafsu makan meningkat
Dapat menghabiskan makanan sesuai dengan porsinya
Berat badan dapat dipertahankan/ditingkatkan

INTERVENSI
RASIONAL
1.
Meningkatkan
sikap kooperatif dari
1. Jelaskan kepada pasien dan
keluarga tentang pentingnya nutrisi pasien
yang adekuat
2. Berikan makan dengan berlahan
2. Mempertahankan asupan cairan yang
pada lingkungan yang tenang
adekuat
3.

4.

Mulailah untuk memberikan makan


peroral setengah cair, makan lunak
ketika klien dapat menelan air
3. Penurunan berat badan menunjukkan
adanya dehidrasi
Awasi asupan dan haluaran setiap 2
jam.

Tindakan Kolaborasi
4. Merupakan pengukuran yang baik
1. Kolaborasi dengan tim dokter untuk terhadap keseimbangan cairan tubuh
memberikan cairan melalui iv atau
makanan melalui selang

1. Meningkatkan cairan dalam tubuh


4.Nyeri berhubungan dengan inflamasi akibat tumor
Tujuan : pasien mengungkapkan rasa nyaman setelah dilakukan tindakan keperawatan
selama ...x 24 jam dengan kriteria hasil :
TD : 120/80 mmHg
Nadi : 60-100x/menit
RR : 16-20x/menit
VAS : 0-1
Ekspresi wajah pasien tampak tenang
INTERVENSI
RASIONAL
1. Jelaskan kepada pasien tentang
1. Meningkatkan kan sikap kooperatif dari
penyebab nyeri
pasien
2. Berikan tindakan kenyamanan
2.
seperti perubahan posisi,masase,
kompres hangat/ dingin sesuai
indiakasi
3.
3. Dorong
penggunaan
teknik
relaksasi seperti naps dalam dan
berikan aktivitas hiburan seperti
televisi/radio
4.

Tindakan alternatif mengontrol nyeri

Memfokuskan
kembali
perhatian.meningkatkan rasa kontrol dan
dapat meningkatkan kemampuan koping

Petunjuk nonverbal dari nyeri yang


memerlukan intervensi medis dengan
4. Observasi peningkatan iritabilitas, segera
tegangan
otot,
gelisah
dan
perubahan TTV yang tak dapat
5. Dibutuhkan
untuk
menghilangkan
dijelaskan
spasme atau nyeri otot
5. Kolaborasi dengan dokter dalm
pemberian analgesik

5.Gangguan pola tidur berhubungan dengan sering terbangun akibat nyeri


Tujuan : Pasien tidak mengalami gangguan pola tidur setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama ...x 24 jam dengan kriteria hasil :
Mudah tertidur
Tidak letih saat bangun
Tidak ada gangguan Pola Tidur
INTERVENSI
RASIONAL
Jelaskan tindakan yang akan kita Agar pasien mengetahui dan mengerti
lakukan kepada pasien.
tindakan yang dilakukan oleh perawat
Berikan lingkungan yang nyaman
bagi pasien untuk meningkatkan
tidur
atau
istirahat
(seperti
mematikan lampu, memberikan
ventilasi ruangan yang adekuat,
memberikan suhu yang sesuai dan
menghindari kebisingan)

Hambatan kortikal pada vormasi reticular


akan berkurang selama tidur, meningkatkan
respons otomatik, oleh karenanya respons
kardiovaskuler terhadap suara meningkat
selama tidur.

Buat jadwal pengkajian atau


intervensi untuk memungkinkan
waktu tidur lebih lama ( seperti
memeriksa tanda-tanda vital, dan
merubah posisi pasien pada waktu
yang sama).

Gangguan tidur sering terjadi dan dapat


menggangu pemulihan sehubungan dengan
gangguan psikologis dan fisiologis. Irama
sirkandian pasien sering terganggu oleh
terjadinya gangguan tersebut.

Kurangi asupan cairan sebelum Agar pasien tidak terbangun pada malam hari
waktu tidur tiba
untuk
berkemih
karena
itu
dapat
mengganggu istirahat tidur pasien
Hindari kafein
sebelum tidur

selama

Kurangi kebisingan

jam Karena kafein mengandung suatu zat yang


merangsang sistem saraf pusat pada manusia
yang dapat mengusir rasa ngantuk, sehingga
pasien sulit tidur
Agar pada saat beristirahat pasien tidak
merasa terganggu

Evaluasi efek obat-obatan yang Derangement psikis dapat terjadi bila


pasien dapatkan ( seperti steroid, terdapat
penggunaan
kortiko
steroid
diuretic) yang mungkin menggangu termaksud perubahan mood, insomnia.
tidur
Kolaborasi dengan dokter dalam Analgesik mempengaruhi
pemberian analgesik
persepsi nyeri di SSP
6.

Resiko cedera berhubungan dengan perubahan fungsi sensori

transmisi

dan

Tujuan : Pasien tidak mengalami cedera setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ... x
24 jam dengan kriteria hasil
Pasien tidak mengalami cedera
Pasien mampu menjelaskan cara/metode mencegah terjadinya cedera
Intervensi
Tindakan Mandiri
1. Jelaskan pada pasien tentang kondisinya
1.
dan tindakan yang akan dilakukan.
2. Beri pengaman di sekitar tempat tidur
pasien
2.
3. Dampingi pasien (perawat berada di
samping pasien)
3.

Rasional

Penjelasan
akan
meningkatkan
pengetahuan pasien sehinnga pasien
akan kooperatif
Pengaman disekitar tempat tidur
mencegah pasien jatuh
Perawat dapat mengantisipasi hal-hal
yang dapat menyebabkan terjadinya
cedera
7. Gangguan eliminasi urine (inkotenensia urine) berhubungan dengan gangguan pada saraf
Tujuan : Pasien mampu mengontrol pengeluaran urine dengan kriteria hasil:
Klien akan melaporkan penurunan atau hilangnya inkontinensia
Tidak ada distensi kandung kemih
Intevensi
Rasional
1. Melatih dan membantu
1. Ajarkan teknik untuk mencetuskan refleks
berkemih (rangsangan kutaneus dengan kandung kemih.
penepukan suprapubik).

pengosongan

2. Berikan penjelasan tentang pentingnya


hidrasi optimal (sedikitnya 2000 cc per hari
bila tidak ada kontraindikasi)
2. Hidrasi optimal diperlukan untuk mencegah
3. Bila masih terjadi inkontinensia, kurangi
infeksi saluran perkemihan dan batu ginjal
waktu antara berkemih pada jadwal yang
telah direncanakan
4. Observasi pola berkemih pasien
3. Kapasitas kandung kemih mungkin tidak
cukup untuk menampung volume urin
sehingga memerlukan untuk lebih sering
berkemih
4. Indikasi perkembangan pasien
8. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan neuromuskular
Tujuan : Pasien tidak mengalami kerusakan mobilitas fisik setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama ...x 24 jam dengan kriteria hasil :
Ekstremitas tidak tampak lemah
Klien dapat menahan posisi tubuh saat miring kanan atau kiri

Skala otot baik


INTERVENSI
MANDIRI
1. Observasi secara teratur fungsi
1.
motorik (jika timbul keadaan syok
spinaledema yang berubah) dengan
menginstruksikan
pasien
untuk
melakukan
gerakan
seperti
mengangkat bahu, memregangkan
jari-jari, menggenggam tangan
pemeriksa atau melepas genggaman
pemeriksa.
2.
2.

3.

4.

5.

6.

7.
8.

RASIONAL
Mengevaluasi keadaan secara khusus
(gangguan
sensorik-motorik
dapat
bermacam-macam dan atau tak jelas.
Pada
beberapa
lokasi
trauma
mempengaruhi tipe dan pemilihan
intervensi.

Membuat pasien memiliki rasa aman,


dapat mengatur dan mengurangi
Berikan suatu alat agar pasien ketakutan karena ditinggal sendiri.
mampu untuk meminta pertolongan,
seperti bel atau lampu pemanggil. 3. Meningkatkan
sirkulasi,
mempertahankan tonus otot dan
Bantu/lakukan latihan rom pada mobilisasi
sendi,
meningkatkan
semua ekstremitas dan sendi, mobilisasi dan mencegah kontraktur dan
pakailah gerakan perlahan dan atrofi otot.
lembut. Lakukan hiperekstensi pada
paha secara teratur (periodik).
4. Mencegah kontraktur pada daerah bahu.
Letakan tangan dalam posisi
(melipat) kedalam menuju pusaran
90 drajat dengan teratur.
5. Mencegah footdroop dan rotasi eksternal
Pertahankan sendi pada 90 drajat pada paha.
terhadap papan kaki, sepatu dengan
hak yang tinggi dan sebagainya,
gunakan rol trokhanter dibawah
bokong selamaberbaring ditempat
tidur.
6. Mencegah
kelelahan,
memberikan
kesempatan
untuk
berperan
Buat rencana aktivitas untuk pasien serta/melakukan upaya yang maksimal.
sehingga pasien dapat beristirahat
tanpa terganggu. Anjurkan pasien
untuk berperan serta dalam aktivitas
sesuai dengan kemampuan.
7. Mengurangi tekanan pada salah satu area
dan meningkatkan sirkulasi perifer.
Gantilah posisi secara periodik
walaupun dalam keadaan duduk. 8. Banyak sekali pasien dengan trauma
saraf servikal mengalami pembentukan
Observasi rasa nyeri, kemerahan, trombus karena gangguan sirkulasi
bengkak, ketegangan otot jari.
perifer, immobilisasi dan kelumpuhan
flaksid

KOLABORASI
9. Tempatkan pasien pada tempat tidur
9. Immobilisasi yang efektif dan kolumna

kinetik jika diperlukan.

spinal dapat menstabilkan kolumna


spinal dan meningkatkan sirkulasi
sistemik, yang dapat mengurangi
komplikasi karena immobilisasi.

10. Membantu dalam merencanakan dan


10. Konsultasi dengan ahli terapi melaksanakan latihan secara individual
fisik/terapi kerja dari tim rehabilitasi. dan
mengidentifikasikan/mengembangkan
alat-alat bantu untuk mempertahankan
fungsi, mobilisasi dan kemandirian
pasien.
11. Berikal relaks otot sesuai kebutuhan
11. Berguna
untuk
membatasi
dan
dan diazepam (Valium); balkopen mengurangi nyeri yang berhubungan
(Lioresal) ; kantrolen (Dantrium).
dengan spastisitas.
9. Ansietas berhubungan dengan perubahan dalam status kesehatan /hopitalisasi
Tujuan : Pasien menyatakan peningkatan kenyamanan psikologis dan fisiologis setelah
dilakukan tindakan keperawatan selama ... x 24 jam dengan kriteria hasil
Pasien mendiskusikan rasa takut
Pasien mengungkapkan pengetahuan tentang situasi
Pasien tampak rileks
INTERVENSI
RASIONAL
1. Jelaskan hubungan antara proses
1. Meningkatkan pemahaman, mengurangi
penyakit dan gejalanya
rasa takut karen ketidaktahuan dan dapat
membantu menurunkan ansietas
2. Dapat meringankan ansietas
2. Jelaskan dan persiapkan untuk
tindakan
prosedur
sebelum
dilakukan
3. Mengungkap rasa takut secara terbuka
3. Berikan kesempatan pasien untuk dimana rasa takut dapat ditujukan
mengungkapkan isi pikiran dan
perasaan takutnya
4. Penting untuk menciptakan kepercayaan,
4. Jawab setiap pertanyaan dengan informasi yang akurat dapat memberikan
penuh perhatian dan berikan keyakinan pada pasien dan juga keluarga
informasi
tentang
prognosa
penyakit
5. meningkatkan perasaan akan keberhasilan
5. Berikan
dukungan
terhadap dalam penyembuhan
perencanaan gaya hidup yang
nyata
setelah
saikt
dalm
keterbatasannya tetapi sepenuhnya
menggunakan kemampuan pasien
6. Meningkatkan perasaan kontrol terhadap
6. Libatkan pasien / keluarga dalam diri dan meningkatkan kemandirian

perawatan,
perencanaan
7. Memberikan
jaminan
bahwa
yang
kehidupan sehari-hari
diperlukan
adlah
penting
untuk
meningkatkan mekanisme kooping pasien
7. Berikan
petunjuk
mengenai
sumber-sumber penyokong yang
ada seperti keluarga, konselor
profesional
8. Gangguan
tingkat
kesadaran
dapat
mempengaruhi ekspresi rasa takut
8. Observasi status mental
tingkat ansietas dari pasien

dan

Beri Nilai