Anda di halaman 1dari 6

Deradikalisasi Agama Melalui Peran Majelis Shalawat

Oleh: Bayu Candra S


Khadim Komunitas Spiritual Jagad Shalawat
Pendahuluan
Radikalisme agama menjadi masalah penting bagi bangsa Indonesia
saat ini. Apalagi radikalisme agama seringkali berujung pada perilaku
terorisme. Kedua hal ini, yakni radikalisme dan terorisme, telah
mencoreng citra agama Islam di Indonesia yang sejak dulu dikenal santun
dan ramah. Hal ini pada akhirnya memunculkan kecurigaan-kecurigaan
dari berbagai pihak terhadap agama Islam, termasuk terhadap pihakpihak yang sama sekali tidak terkait dengan kedua hal tersebut.
Secara pribadi, penulis sebagai pengajar agama seringkali
mendapat banyak keluhan dari murid-murid mahasiswa yang belajar
agama. Sebagian besar di antara mereka mengadukan sikap keluarga
mereka yang cenderung mencurigai aktifitas mereka di Malang sejak
mereka mengikuti pengajian. Bahkan salah satu di antara orang tua
mereka suatu kali mengaku sendiri kepada penulis bahwa beliau meminta
seseorang untuk menyelidiki aktifitas anaknya selama mengikuti
pengajian. Hal demikian di satu sisi kita anggap wajar, tetapi di sisi lain
mungkin ini terlalu berlebihan. Dan tidak ada yang menyebabkan hal yang
demikian ini kecuali setelah isu radikalisme dan terorisme menyebar ke
tengah-tengah masyarakat.
Upaya-upaya untuk menangani masalah radikalisme perlu dilakukan
oleh berbagai pihak, agar masyarakat tidak sampai mengalami phobia
terhadap agama Islam. Lembaga pendidikan baik formal maupun non
formal seperti pondok pesantren dan majelis taklim adalah salah satu
pintu untuk menangani hal tersebut. Karena dari lembaga pendidikan iti
pula paham radikal masuk dan meracuni otak generasi bangsa.
Salah satu lembaga pendidikan non formal yang memiliki peran
besar dalam menangani isu radikalisme agama adalah majelis shalawat.
Majelis shalawat merupakan majelis atau perkumpulan orang dimana di
dalamnya dibacakan kisah perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW baik
berupa riwayat-riwayat maupun qasidah-qasidah yang memuji beliau
SAW. Di masyarakat bacaan-bacaan itu lazim disebut dengan maulid.
Selain membaca maulid di dalam majelis shalawat juga biasa disampaikan
nasehat-nasehat agama oleh seorang Kyai, Ustadz, atau Dai kepada
jamaah yang hadir.

Mengetahui peranan majelis shalawat dalam rangka menekan


angka radikalisme agama di masyarakat penting untuk dilakukan karena
beberapa alasan.
Pertama, majelis shalawat merupakan majelis yang telah ada di
masyarakat sejak puluhan tahun yang lalu serta diselenggarkan oleh
mayoritas umat Islam di Indonesia. Baik itu di perkotaan hingga pelosok
desa. Baik itu dilakukan masjid, mushola, rumah warga, bahkan lembaga
pemerintahan. Artinya, majelis shalawat bukan hal yang baru atau asing
bagi umat Islam.
Kedua, majelis shalawat memiliki jamaah yang mayoritas adalah
orang awam yang rata-rata belum memahami Islam secara mendalam.
Sehingga dikhawatirkan akan mudah mengikuti paham-paham baru.
Dengan tulisan ini diharapkan pengurus majelis shalawat di manapun
berada dapat memberikan pengarahan kepada jamaah lewat mauidloh
atau ceramah agama yang biasa disampaikan saat majelis.
Ketiga, dengan mengetahui peran majelis shalawat dalam menekan
isu radikalisme di masyarakat. Diharapakn akan muncul kesadaran dari
umat Islam untuk terus menggalakkan kegiatan ini secara rutin baik itu di
masjid-masjid, rumah warga sekolah, kampus, hingga lembaga
pemerintahan.
Keempat, majeis shalawat merupan pembeda yang sanga mencook
antara kelompok Islam radikal dengan yang tidak. Karena dapat
dipastikan bahwa kelompok Islam radikal menganggap bahwa majeis
shalawat adalah perbuaan bidah dan tidak sesuai dengan al Quran
maupun Hadits Nabi SAW.
Pokok masalah yang dikaji meliputi dua hal. Pertama, bagaimanakah
paham radikalisme agama berkembang di masyarakat? dan kedua,
bagaimanakah strategi deradikalisasi agama melalui peran majelis
shalawat?
Akar Radikalisme Agama
Fenomena radikalisme Islam diyakini oleh banyak pihak sebagai
ciptaan abad ke-20 di dunia Muslim, terutama di Timur Tengah, sebagai
produk dari krisis identitas yang berujung pada reaksi dan resistensi
terhadap Barat yang melebarkan kolonialisasi di dunia Muslim.
Terpecahnya dunia Muslim ke dalam berbagai negara bangsa (nationstate) dan proyek modernisasi yang dicanangkan oleh pemerintah baru
berhaluan Barat mengakibatkan umat Islam merasakan mengikisnya
ikatan agama dan moral yang selama ini mereka pegangi secara kuat. Hal
ini meruapakan salah satu sebab munculnya paham radikal yang
menyerukan kembali ke ajaran Islam yang murni sebagai jalan keluar.

Radikalisme agama di dalam Islam hampir dimulai dari ideologi


takfiri, yaitu pemikiran yang menganggap bahwa siapapun atau kelompok
mannapun yang tidak sama dengan kelompoknya adalah kafir, sesat, dan
masuk neraka. Baik itu tidak sama dari segi akidah (keyakinan),
ubudiyyah (peribadatan), dan muamaah (hubungan antar sesame
manusia). Oleh karena anggapan kafir itulah mereka kemudian
menganggap halal hukumnya membunuh .
Pemahaman ini sebenarnya bukanlah hal yang baru dalam Islam.
Awal mula paham ini muncul adalah saat pengangkatan Ali ibn Abi Thalib
r.a sebagai khalifah pasca wafatnya Utsman ibn Affan r.a. Muawiyyah ibn
Abu Sufyan, yang kala itu menjabat sebagai gubernur Damaskus menolak
pengangkatan Ali r.a dan menuntut Ali r.a unuk mengusut kasus
terbunuhnya Utsman serta menangkap para peakunya. Bahkan Muawiiyah
menuduh Ali r.a berada dibalik wafatnya Utsman ra.
Pertikaian politik tersebut pada puncaknya meletus dalam perang
besar antara pasukan Ali dan Muawiyah di Siffin. Pasukan Ali dapat
mendesak tentara Muawiyah sehingga pasukan Muawiyah bersedia
untuk melarikan diri. Namun tangan kanan Muawiyah, Amr ibn al-Ash
yang terkenal sebagai orang licik, minta berdamai dengan mengangkat alQuran ke atas. Qurra yang ada di pihak Ali mendesak Ali supaya
menerima tawaran itu dan dengan demikian dicarilah perdamaian dengan
mengadakan arbitrase (tahkim) diantara kedua pihak. Sebagai pengantara
diangkat dua orang: Amr ibn al-Ash dari pihak Muawiyah dan Abu Musa
al-Asyari dari pihak Ali. Sejarah mengatakan antara keduanya terdapat
kesepakatan untuk menjatuhkan kedua pemuka sahabat yang
bertentangan.
Namun,
berkat
kelicikan
Amr,
arbitrase
ini
menguntungkanpihak
Muawiyahkarena
ia
mengumumkanhanya
menyetujui pemakzulan Ali yang telah diumumkan lebih dulu oleh alAsyari, dan menolak penjatuhan Muawiyah. Akibat arbitrase ini
kedudukan Muawiyah naik menjadi Khalifah yang tidak resmi.
Dari keputusan di atas kubu sayyidina Ali r.a kemudian tepecah
menjadi dua golongan, yang setuju dengan yang tidak. Yang tidak setuju
dan keluar dari barisan Ali ra disebut dengan Khwarij dan kelompok yang
setuju kemudian berkembang menjadi aliran Syiah. Khawarij menolak
keputusan tahkim yang dilakukan oleh pihak Ali dan Muawiyyah,
disebabkn anggapan mereka bahwa hukum hanya bisa diputuskan
dengan keputusan Allah yang telah ada dalam al Quran. Bukan
diputuskan oleh manusia sebagaimana peristiwa tahkim di atas.
Semboyon mereka la hukmu ila lillah (tidak ada hokum kecuali hokum dari
Allah swt) sebagaimana termaktub dalam surah al Maidah ayat: 44. Dari
sini kelompok khawarij berpendapa bahwa Ali ra, Muawwiyah, Abu Musa al

Asyari, Amr ibn Ash, serta semua pihak yang menerima tahkim adalah
kafir karena tidak menyelesaikan persoalan dengan kembai pada al
Quran. Tidak sampai disitu, kaum khawarij kemudian bersepaka unuk
membunuh keempat tokoh tersebut, walaupun pada akhirnya hanya Ali r.a
yang berhasil di bunuh. Dari sinilah kemudian paham Khawarij
berkembang menjadi sebuah ideologi yang berpandangan bahwa
siapapun yang tidak berhukum pada al Quran adalah kafir dan hukum
membunuh orang kafir adalah tidak berdosa.
Di zaman ini, kelompok yang menamakan diri mereka Khawarij
mungkin memang tidak kita temukan. Tetapi pemikiran-pemikiran
Khawarij sebagaimana yang telah disinggung di atas masih ada,
berkembang, dan dianut oleh kelompok-kelompok tertentu. Semboyan
mereka hampir sama sekalipun nama organisasi mereka berbeda,
kembali kepada al Quran dan Sunnah. Semboyan itu sekilas terdengar
baik, tetapi jika dipelajari lebih dalam maka akan kita pahami bahwa
semboyan itu mirip dengan semboyan Kaum Khawarij.
Semboyan itulah yang menjadi benih benih radikalisme muncul,
hujatan-hujatan dilemparkan terutama kepada kelompok yang menurut
mereka tidak kembali kepada al Quran dan Sunnah. Amalan apapun yang
menurut mereka tidak sesuai dengan al Quran atau Hadits Nabi
Muhammad SAW dicap sebagai bidah dan pengamalnya adalah sesat
serta masuk neraka. Di antara fatwa-fatwa kaum radikal yang
kontroversial itu sebagaimana disebut di dalam buku Membongkar
Kebohongan Buku "Mantan Kiai NU Menggugat Sholawat & Dzikir Syirik"
(H. Mahrus Ali), halaman 241-245 adalah :
1. Mengharamkan memakai cincin, gelang, dan kalung emas bagi
kaum wanita
2. Mengharamkan berwudhu dengan air yang lebih dari satu mud
(sekitar setengah liter) dan mengharamkan mandi dengan air yang
lebih dari lima mud (sekitar tiga liter).
3. Mengharamkan shalat malam melebihi 11 raka'at.
4. Mengharamkan memakai tasbih (penghitung) untuk berdzikir.
5. Melarang shalat tarawih melebihi 11 raka'at.
6. Melarang membaca shalawat Nariyah, Burdah dan sejenisnya.
Deradikalisasi Melalui Majelis Shalawat
Mengapa majelis shalawat? Pertanyaan tersebut dapat kita jawab
dengan mengetahui indikator aliran Islam radikal. Ciri yang paling
menonjol pada paham ini adalah sikap keberagamaan mereka yang
cenderung kaku, kolot, dan tidak mau menerima perbedaan. Urusan
apapun harus dikembalikan kepada al Quran dan Hadits Nabi saw serta

menolak sumber selain dari kedua hal tersebut. Amalan apapun yang
menurut mereka tidak memiliki dasar baik dari al Quran dan Hadits
adalah perbuatan bidah dan pengamalnya adalah sesat bahkan kafir.
Termasuk dalam hal ini adalah membaca kitab shalawat seperti Diba,
Smitud Dluror, Dliyaul Lami, Burdah, Barzanzi, Dalailul Khairat dan
sebagainya.
Oleh karena anggapan bidah sesat itulah maka dapat dipastikan
bahwa majelis taklim, halaqah, atau perkumpulan kaum radikal tidak
mungkin di dalamnya terdapat pembacaan kitab maulid. Sehingga dari
sini bisa kita ambil kesimpulan bahwa majelis apapun yang di dalamnya
tidak pernah terdapat pembacaan kitab maulid, bahakn justru mengkafir
kafirkan pembaca maulid adalah majelis yang patut untuk diawasi. Karena
majelis yang demikian itu, walalupun kecil tapi bisa jadi merupakan
embrio dari gerakan terorisme yang akan berdampak besar.
Dengan majelis shalawat kita dapat melakukan beberapa hal.
Pertama, hendaknya majelis shalawat yang telah ada di sekitar kita
diperkuat dengan cara memberikan edukasi melalui ceramah kepada
jamaah tentang bahayanya radikalisme agama serta kelompok-kelompok
yang mengusung paham tersebut. Dengan demikian jamaah akan paham
mana-mana saja kelompok yang patut untuk dihindari dan mana yang
tidak. Kedua, melalui majelis shalawat jamaah diperkenalkan dengan
akhak mulia Rasulullah lewat sejarah dan qasidah yang dibaca. Tujuannya,
agar jamaah paham bahwa Rasulullah adalah pribadi yang santun, lemah
lembut, penyayang, dan bukan pribadi yang radikal. Ketiga, majelis
shalawat harus diperkenalkan kepada masyarakat di semua kalangan
umat Islam, khususnya yang masih awam. Seperti di daerah pesisir,
pegunungan, bahkan sekolah dan universitas.
Penutup
Dari pemamaparan di atas, kita memahami bahwa berkembanganya
masalah radikalisme agama adalah karena munculnya kelompokkelompok Islam yang mengusung semboyan kembali kepada al Quran
dan Sunnah. Kelompok ini cenderung meng-kafirkan kelompok lain yang
tidak sepaham bahkan sampai menghukumi kafir dan sesat. Salah satu
amalan yang menurut mereka sesat dan tidak sesuan dengan Quran dan
Sunnah adalah membaca kitab shalawat.
Dalam menangani hal tersebut, majelis shalawat memiliki peran
yang tidak dapat dipandang sebelah mata. Majelis shalawat dapat
menjadi wahana edukasi bagi jamaahnya untuk mengenal dan kemudian
mewaspadai paham-paham radikal. Selain itu majelis shalawat

merupakan pembeda yang mencolok antara kelompok yang radikal


dengan yang tidak.
Saran
Melihat pentingnya peran majelis shalawat dalam rangka menekan
angka radikalisme agama di masyrakat. Maka kita semua harus
mempertahankan kelangsungan majelis shalawat di daerah kita masingmasing agar jangan sampai punah. Pemerintah sebagai lembaga yang
berwenang juga perlu berkontribusi dengan cara mendata serta
mengawasi kelompok-kelompok tertentu yang tidak pernah mengadakan
pembacaan shalawat kepada Nabi Muhammad saw.
Daftar Pustaka
Muhmmad Nur Hidayat. Benteng Ahlussunnah wal Jamaah (Kediri: Nasyrul
Ilmi, 2012)
------------------------------. Meluruskan Vonis Wahabi (Kediri: Nasyrul Ilmi,
2012)
Nasution, Harun. Teologi Islam: Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan
(Jakarta: UI Press, 1986).