Anda di halaman 1dari 5

Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar (PONED)

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Angka kematian ibu (AKI) atau Maternal Mortality Rate (MMR), bukan saja merupakan indicator tingkat kesehatan wanita, tetapi juga menggambarkan tingkat
akses, integritas, dan efektifitas sector kesehatan. Oleh karena itu, MMR juga sering dipergunakan sebagai indicator tingkat kesejahteraan dari suatu Negara.
Angka kematian ibu dan bayi di Indonesia yang menempati urutan atas di ASEAN mendapat prioritas utama dari pemerintah. Salah satu cara yang telah ditempuh
adalah dengan program PONED dan PONEK yang di harapkan dapat nenurunkan derajat kesakitan dan meminimalkan jumlah kematian para ibu dan bayi di
Indonesia.
1.2. Perumusan Masalah
a. Menjelaskan pengertian poned.
b. Menjelaskan tujuan dari poned.
c. Menjelaskan bagaimana poned di puskesmas dan apa saja yang boleh di lakukan oleh bidan.
1.3. Tujuan Masalah
Agar dapat mengetahui garis besar poned di puskesmas, bagaimana kinerja poned di puskesmas, dan peran serta bidan dalam pelaksanaan poned.
1.4. Metode Penelitian
a. Metoda pustaka
b. Metode Internet
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A. Pengertian PONED
PONED merupakan kepanjangan dari Pelayanan Obstetri Neonatus Essensial Dasar. PONED dilakukan di Puskesmas induk dengan pengawasan dokter.
Pelayanan Obsterik dan Neonatal Emergensi Dasar, meliputi kemampuan untuk menangani dan merujuk :
a) Hipertensi dalam kehamilan (preeklampsia, eklampsia),
b) Tindakan pertolongan Distosia Bahu dan Ekstraksi Vakum pada Pertolongan Persalinan,
c) Perdarahan post partum,
d) infeksi nifas,
e) BBLR dan Hipotermi, Hipoglekimia, Ikterus, Hiperbilirubinemia, masalah pemberian minum pada bayi,
f) Asfiksia pada bayi,
g) Gangguan nafas pada bayi,
h) Kejang pada bayi baru lahir,
i) Infeksi neonatal,
j) Persiapan umum sebelum tindakan kedaruratan Obstetri Neonatal antara lain Kewaspadaan Universal Standar.
B. Tujuan PONED
Untuk menghindari rujukan yang lebih dari 2 jam dan untuk memutuskan mata rantai rujukan itu sendiri.
C. Petugas kesehatan yang boleh memberikan PONED
1. Dokter,
2. Bidan
3. Perawat
4. Tim PONED Puskesmas beserta penanggung jawab terlatih
D. Pelayanan Obstetri dan neonatal emergensi dasar puskesmas dan puskesmas perawatan
Bagian ini memberikan gambaran kebutuhan administrasi, staf, rancang bangun dan peralatan yang diperlukan untuk menyelenggarakan pelayanan
kegawatdaruratan dipuskesmas dengan perawatan.
Administrasi
a. Fasilitas kegawatdaruratan harus dikelola dan diselenggarakan sehingga sesuai dengan kebutuhan masyarakat
b. Penyelenggaraan unit gawat darurat harus didasarkan pada panduan pelayanan dan prosedur yang tertulis
c. Dokter dan bidan sebagai penanggungjawab unit, bekerjasama secara terpadu dan harus dapat memberikan jaminan pemantauan dan penilaian secara berkala
dari kualitas, keamanan dan ketersediaan pelayanan kegawatdaruratan.
d. Setiap petugas kesehatan baru yang akan ditugaskan pada unit gawat darurat harus menjalani program orientasi secara formal yang menjelaskan tentang misi
unit gawat darurat, standar prosedur pelayanan (standard operating procedurs) gawat darurat dan tanggung jawab masing-masing.
e. Setiap petugas unit gawat darurat harus selalu menjaga dan mengembangkan pengetahuan dan keterampilannya secara professional agar dapat selalu
memberikan pelayanan yang optimal kepada pasien.
f. Tugas dan tanggung jawab dokter, bidan, perawat serta petugas kesehatan lain pada unit gawat darurat harus dijelaskan secara tertulis. Program menjaga mutu
pelayanan harus dapat melakukan penilaian dan pemantauan setiap petugas unit gawat darurat secara berkala.
g. Sesuai dengan hukum, peraturan dan standar pelayanan yang ada, penyaringan untuk setiap pasien yang masuk untuk mendapatkan pelayanan harus dilakukan
oleh seorang dokter, atau oleh bidan yang telah mendapatkan pelatihan khusus.
h. Penilaian dan stabilisasi pasien dengan kegawatdaruratan sampai pada tingkat yang optimal, harus tersediauntuk setiap pasien yang masuk dengan
kegawatdaruratan medis.
i. Dokter bertanggung jawab pada pelayanan kesehatan yang diselenggarakan. Tanggung jawab ini meliputi kemampuan medis untuk melakukan penilaian,
menentukan diagnosis, dan pengobatan yang dianjurkan serta disposisi untuk pasien gawat darurat, termasuk pengarahan dan koordinasi pada semua unit pelayanan
kesehatan yang terlibat dalam pemberian pelayanan. Seorang bidan yang terdaftar bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan penilaian, perencanaan dan
evaluasi dampak dari pengobatan yang diberikan.
j. Unit gawat darurat harus menyediakan registrasi terkontrol (controlled register) atau log untuk setiap pasien yang memerlukan perawatan kegawatdaruratan.
k. Catatan medic yang sah dan sesuai harus dibuat untuk setiap pasien yang memerlukan perawatan kegawatdaruratan. Catatan medic harus tersimpan dalam
format sesuai dengan kebutuhan hokum dengan baik, sehingga selalu mudah dicari pada saat dibutuhkan oleh petugas pelayanan kegawatdaruratan.

Penugasan (Staffing)
a. Petugas pelaksana pelayanan kegawatdaruratan yag memiliki kualifikasi dan terlatih denga baik secara professional, termasuk dokter, bidan dan perawat,
merupakan staf unit gawat darurat selama waktu pengoperasiannya.
b. Dokter puskesmas memimpin secara langsung pelayanan kesehatan maternal dan neonatal yang dilaksanakan di puskesmas dan harus :
Memiliki sertifikat Pelayana Obstetri dan Neonatal Emergensi Dasar (PONED), life saving skills (LSS) atau kualifikasi lain yang sejenis.
Memperlihatkan kemampuan dalam pengelolaan dan administrasi pelayanan klinik pada unit gawat darurat.
Memiliki pengetahuan tentang operasionalisasi system kegawatdaruratan medic dan jaringan kegawatdaruratan medic regional.

Memberikan jaminan bahwa staf unit gawat darurat memiliki kualifikasi dan telah medapatkan pendidikan/pelatihan yang sesuai.
c. Staf unit gawat darurat merupakan bagian dari proses administrasi umum dalam puskesmas. Dokter harus memiliki hak, kebebasan dan tanggng jawab yang sama
dengan staf medis yang lain, seperti jenjang kategori yang tergambar dalam susunan organisasi puskesmas.
d. Dokter dan bidan yang bekerja harus mengikuti pelatihan, memiliki pengalaman dan kompetensi dalam pengelolaan dan pengobatan kasus dengan
kegawatdaruratan untuk setiap pasien yang memerlukan pelayanan kegawatdaruratan , sesuai dan tidak bertentangan dengan hak serta kewenangan masing-masing.
e. Setiap petugas yang melakukan pelayanan di unit gawat darurat harus :
Membuktikan kemampuan sebelumnya pada unit gawat darurat atau telah mengikuti dan menyelesaikannprogram pendidikan kegawatdaruran.
Mendemonstrasikan/membuktikan memiliki pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk menyelenggarakan pelayanan sesuai dengan standar pelayanan
yang ada
f. Harus ada perencaan yang jelas untuk penyediaan tambahan tenaga medis pada saat ada kebutuhan mendadak atau bencana alam.
Fasilitas
a. Puskesmas harus dirancang untuk memberikan lingkungan yang aman untuk memberikan pelayanan dan harus mampu membrerikan akses yang nyaman untuk
setiap orang yag dating dan membutuhka pelayanan.
b. Puskesmas harus dirancang untuk menjaga, sampai pada tingkat kewajaran maksimum sesuai kebutuhan medis, hak pasien untuk terjaga kerahasiaannya (visual
and auditory privacy)
c. Pelayanan laboratorium sederhana harus tersedia selama periode waktu tertentu sebagai upaya penunjang untuk melaksanakan tes diagnostic bagi pasien yang
membutuhkan.
d. Harus dirancang dan dilaksanakan prosedur keamanan yang akan memberikan perlindungan yang memadai dan sesuai bagi staf, pasien dan pengunjung/pengantar.
Peralatan dan Bahan
a. Harus terdapat peralatan dan bahan dengan kualitas baik dan sesuai dengan kebutuhan wajar pasien yang dikelola di puskesmas
b. Peralatan dan bahan yang diperlukan harus dapat tersedia dalam waktu singkat setiap saat.
c. Dapat dilakukan pembuktian pemeriksaan fungsi setiap peralatan pakai ulang (reusable medical equipment), dan hasil pemeriksaan harus didokumetasikan secara
berkala.
Mekanisme Farmakologi/Terapeutik
Obat yang diperlukan sesuai dengan Appendix 2 harus secara mudah dan selalu tersedia. Harus terdapat mekanisme untuk mengenali dan mengganti semua obat
sebelum batas waktu pakainya (expiration date) berakhir.
E. Indikator Kelangsungan dari Puskesmas PONED
1. Kebijakan tingkat PUSKESMAS
2. SOP (Sarana Obat Peralatan)
3. Kerjasama RS PONED
4. Dukungan Diskes
5. Kerjasama SpOG
6. Kerjasama bidan desa
7. Kerjasama Puskesmas Non PONED
8. Pembinaan AMP
9. Jarak Puskesmas PONED dengan RS
F. Hambatan dan kendala dalam penyelenggaraan PONED
1. Mutu SDM yang rendah.
2. Sarana prasarana yang kurang.
3. Ketrampilan yang kurang.
4. Koordinasi antara Puskesmas PONED dan RS PONEK dengan Puskesmas Non PONED belum maksimal.
5. Kebijakan yang kontradiktif (UU Praktek Kedokteran).
6. Pembinaan terhadap pelayanan emergensi neonatal belum memadai.

1)

Perbedaan puskesmas PONED dan non PONED serta contoh puskesmas PONED yang ada di daerah bantul !

PONED merupakan kepanjangan dari Pelayanan Obstetri Neonatus Essensial Dasar. PONED dilakukan di Puskesmas induk dengan pengawasan dokter.
Petugas kesehatan yang boleh memberikan PONED yaitu dokter, bidan, perawat dan tim PONED Puskesmas beserta penanggung jawab terlatih.
Pelayanan Obstetri Neonatal Esensial Dasar dapat dilayani oleh puskesmas yang mempunyai fasilitas atau kemampuan untuk penangan kegawatdaruratan
obstetri dan neonatal dasar. Puskesmas PONED merupakan puskesmas yang siap 24 jam, sebagai rujukan antara kasus-kasus rujukan dari polindes dan
puskesmas. Polindes dan puskesmas non perawatan disipakan untuk mealkukuan pertolongan pertama gawat darurat obstetri dan neonatal (PPGDON) dan
tidak disiapkan untuk melakukan PONED. Contoh puskesmas PONED yaitu puskesmas Dlingo I.
Puskesmas non PONED adalah puskesmas yang belum memiliki fasilitas atau kemampuan untuk penanganan kegawatdaruratan obstetri dan neonatal
dasar. Puskesmas yang belum siap 24 jam, belum mempunyai hubungan kerjasama dengan Rumah Sakit terdekat dan Dokter Spesialis dan Obgyn . Contoh
puskesmas non PONED yaitu puskesmas jetis II.

2)

Jelaskan tentang pelatihan PONED, wewenang apa saja yang boleh dilakukan oleh petugas yang sudah mendapatkan pelatihan PONED!

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 1464/Menkes/Per/X/2010 tentang Izin dan Penyelenggaran Praktik Bidan, kewenangan
yang dimiliki bidan meliputi:

Kewenangan normal:
o

Pelayanan kesehatan ibu

Pelayanan kesehatan anak


Pelayanan kesehatan reproduksi perempuan dan keluarga berencana

Kewenangan dalam menjalankan program Pemerintah


Kewenangan bidan yang menjalankan praktik di daerah yang tidak memiliki dokter
Kewenangan normal adalah kewenangan yang dimiliki oleh seluruh bidan. n ini meliputi:
1.

Pelayanan kesehatan ibu

1.
o

Ruang lingkup:
Pelayanan konseling pada masa pra hamil

Pelayanan antenatal pada kehamilan normal

Pelayanan persalinan normal

Pelayanan ibu nifas normal

Pelayanan ibu menyusui

Pelayanan konseling pada masa antara dua kehamilan

1.
o

Kewenangan:
Episiotomi

Penjahitan luka jalan lahir tingkat I dan II

Penanganan kegawat-daruratan, dilanjutkan dengan perujukan

Pemberian tablet Fe pada ibu hamil

Pemberian vitamin A dosis tinggi pada ibu nifas

Fasilitasi/bimbingan inisiasi menyusu dini (IMD) dan promosi air susu ibu (ASI) eksklusif

Pemberian uterotonika pada manajemen aktif kala tiga dan postpartum

Penyuluhan dan konseling

Bimbingan pada kelompok ibu hamil

Pemberian surat keterangan kematian

Pemberian surat keterangan cuti bersalin

1.

Pelayanan kesehatan anak

1.
o

Ruang lingkup:
Pelayanan bayi baru lahir

Pelayanan bayi

Pelayanan anak balita

Pelayanan anak pra sekolah

1.
o

Kewenangan:
Melakukan asuhan bayi baru lahir normal termasuk resusitasi, pencegahan hipotermi, inisiasi menyusu dini (IMD), injeksi vitamin K 1,

perawatan bayi baru lahir pada masa neonatal (0-28 hari), dan perawatan tali pusat
Penanganan hipotermi pada bayi baru lahir dan segera merujuk

Penanganan kegawatdaruratan, dilanjutkan dengan perujukan

Pemberian imunisasi rutin sesuai program Pemerintah

Pemantauan tumbuh kembang bayi, anak balita dan anak pra sekolah

Pemberian konseling dan penyuluhan

Pemberian surat keterangan kelahiran

Pemberian surat keterangan kematian

1.

Pelayanan kesehatan reproduksi perempuan dan keluarga berencana, dengan kewenangan:

1.

Memberikan penyuluhan dan konseling kesehatan reproduksi perempuan dan keluarga berencana

2.

Memberikan alat kontrasepsi oral dan kondom


Selain kewenangan normal sebagaimana tersebut di atas, khusus bagi bidan yang menjalankan program Pemerintah mendapat kewenangan tambahan untuk
melakukan pelayanan kesehatan yang meliputi:

1.

Pemberian alat kontrasepsi suntikan, alat kontrasepsi dalam rahim, dan memberikan pelayanan alat kontrasepsi bawah kulit

2.

Asuhan antenatal terintegrasi dengan intervensi khusus penyakit kronis tertentu (dilakukan di bawah supervisi dokter)

3.

Penanganan bayi dan anak balita sakit sesuai pedoman yang ditetapkan

4.

Melakukan pembinaan peran serta masyarakat di bidang kesehatan ibu dan anak, anak usia sekolah dan remaja, dan penyehatan lingkungan

5.

Pemantauan tumbuh kembang bayi, anak balita, anak pra sekolah dan anak sekolah

6.

Melaksanakan pelayanan kebidanan komunitas

7.

Melaksanakan deteksi dini, merujuk dan memberikan penyuluhan terhadap Infeksi Menular Seksual (IMS) termasuk pemberian kondom, dan
penyakit lainnya

8.

Pencegahan penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya (NAPZA) melalui informasi dan edukasi

9.

Pelayanan kesehatan lain yang merupakan program Pemerintah


Khusus untuk pelayanan alat kontrasepsi bawah kulit, asuhan antenatal terintegrasi, penanganan bayi dan anak balita sakit, dan pelaksanaan deteksi dini,
merujuk, dan memberikan penyuluhan terhadap Infeksi Menular Seksual (IMS) dan penyakit lainnya, serta pencegahan penyalahgunaan Narkotika,
Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya (NAPZA), hanya dapat dilakukan oleh bidan yang telah mendapat pelatihan untuk pelayanan tersebut.
Selain itu, khusus di daerah (kecamatan atau kelurahan/desa) yang belum ada dokter, bidan juga diberikan kewenangan sementara untuk memberikan
pelayanan kesehatan di luar kewenangan normal, dengan syarat telah ditetapkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Kewenangan bidan untuk
memberikan pelayanan kesehatan di luar kewenangan normal tersebut berakhir dan tidak berlaku lagi jika di daerah tersebut sudah terdapat tenaga dokter.
3)

pencatatan dan pelaporan tentang apa saja yang harus dilakukan puskesmas PONED (termasuk pencatatan untuk AMP)

Pencatatan
Dalam melaksanakan PONED diperluakn pencatatan yang akurat pada masing-masing tinkat pelayanan. Format yang tersedia dalam PONED antara lain:
o

Pencatatan dalam Sistem Informasi Manajemen Pelayanan Kesehatan (SP2TP)

KMS bumil / buku KIA

Register Kohort ibu dan bayi

Partograf

Kartu Persalian Nifas

Laporan hasil audot maternal perinatal

Pemantauan wilayah setempat kesehatan ibu dan anak ( PWS-KIA)

Form manajemen terpadu bayi muda (MTBM) dan manajemen terpadu balita sakit (MTBS).

Pelaporan
Pelaporan hasil kegiatan dilakukan secara berjenjang dengan menggunakan format yang sesuai dengan buku pedoman AMP yaitu:
o

Laporan Polindes / bidan di desa ke puskesmas

Laporan dari puskesmas ke Dinkes Kabupaten/Kota

Laporan dari RS PONEK di Kbupaten/Kota ke Dinkes Kabupaten/Kota.

Laporan Dinkes kabupaten/kota ke Dinkes Propinsi.

Eritromisin merupakan antibiotik golongan makrolid. Antibiotika golongan makrolida mempunyai persamaan yaitu terdapatnya cincin lakton yang besar
dalam rumus molekulnya.

1. ASAL DAN KIMIA Eritromisin dihasilkan oleh suatu strain Streptomyces erythreus. Zat ini berupa kristal berwarna kekuningan, larut dalam air sebanyak 2
mg/ml. Eritromisin larut lebih baik dalam etanol atau pelarut organik. Antibiotik ini tidak stabil dalam suasana asam, kurang stabil pada suhu kamar tetapi
cukup stabil pada suhu rendah. Aktivitas in vitro paling besar dalam suasana alkalis. Larutan netral eritromisin yang disimpan pada suhu kamar akan
menurun potensinya dalam beberapa hari, tetapi bila disimpan pada suhu 5 biasanya tahan sampai beberapa minggu.

2. AKTIVITAS MIKROBA Golongan makrolid menghambat sintesis protein kuman dengan jalan berikatan secara reversible dengan ribosom subunit 50S,
dan bersifat bakteriostatik atau bakterisid tergantung dari jenis kuman dan kadarnya. Spektrum antimikroba. In vitro, efek terbesar eritromisin terhadap kokus
gram positif, seperti Str. Pyogenes dan Str. Pneumoniae. Str. Viridans mempunyai kepekaan yang bervariasi terhadap eritromisin. S. aureus yang resisten
terhadap eritromisin serin dijumpai di rumah sakit (strain nosokmial). Batang gram positif yang pka terhadap eritromisin ialah Cl. Perfringens, C. Diphtheriae,
dan L. monocytogenes. Eritromisin tidak aktif terhadap kebanyakan kuman gram negatif, namun ada beberapa spesies yang sangat peka terhadap
eritromisin yaitu N. Gonorrhoeae, Campylobacter jejuni, M. Pneumoniae, Legionella pneumophila, dan C. Trachomatis. H. Influenzae mempunyai kepekaan
yang bervariasi terhadap obat ini.

3. RESISTENSI Resistensi terhadap eritromisin terjadi melalui 3 mekanisme yang diperantarai oleh plasmid yaitu : 1.Menurunnya permeabilitas dinding sel
kuman, 2.Berubahnya reseptor obat pada ribosom kuman, dan 3.Hidrolisis obat oleh esterase yang dihasilkan oleh kuman tertentu (Enterobacteriaceae)

4.FARMAKOKINETIK 1.Pemberian Eritromisin basa dihancurkan oleh asam lambung sehingga obat ini diberikan dalam bentuk tablet salut enterik atau
ester. Semua obat ini diabsorpsi secara adekuat setelah pemberian per-oral. 2.Distribusi Distribusi eritromisin ke seluruh cairan tubuh baik kecuali ke cairan
sebrospinal. Obat ini merupakan satu di antara sedikit antibiotika yang bedifusi ke dalam cairan prostat da mempunyai sifat akumulasi unit ke dalam
makrofag. Obat ini berkumpul di hati. Adanya inflamasi menyebabkan penetrasinya ke jaringan lebih baik. 3.Metabolisme Eritromisin dimetabolisme secara
ekstensif dan diketahui menghambat oksidasi sejumlah obat melalui interaksinya dengan sistemsitokrom P-450. 4.Ekskresi Eritromisin terutama
dikumpulkan dan diekskresikan dalam bentuk aktif dalam empedu. Reabsorpsi parsial terjadi melalui sirkulasi enterohepatik.

5.EFEK SAMPING 1.Gangguan epigastrik Efek samping ini paling sering dan dapat mengakibatkan ketidakpatuhan pasien terhadap eritromisin. 2.Ikterus
Kolestatik Efek samping ini terjadi terutama pada eritromisin estolat. Reaksi ini timbul pada hari ke 10-20 setelah dimulainya terapi. Gejalanya berupa nyeri
perut yang menyerupai nyeri pada kolestasis akut, mual, muntah, kemudian timbul ikterus, demam, leukositosis dan eosinofilia; transaminase serum dan
kadar bilirubin meninggi; kolesitogram tidak menunjukkan kelainan. 3.Ototoksisitas Ketulian sementara berkaitan dengan eritromisin terutama dalam dosis
tinggi. 4.Reaksi Alergi Reaksi alergi mungkin timbul dalam bentuk demam, eosinofilia dan eksantem yang cepat hilang bila terapi dihentikan.

6.INTERAKSI OBAT 1.Eritromisin dengan obat asma (turunan teofilin) Efek obat asma dapat meningkat. Obat asma digunakan untuk membuka jalan udara
paru-paru dan untuk mempermudah pernapasan penderita asma. Akibatnya : terjadi efek samping merugikan karena terlalu banyak obat asma. Gejala yang
dlaporkan : mual, salit kepala, pusing, mudah terangsang, tremor, insomnia, aritmia jantung, takhikardia, dan kemungkinan kejang. 2.Eritromisin dengan

Karbamazepin Efek karbamazepin dapat meningkat. Karbamazepin adalah antikonvulsan yang digunakan untuk mengendalikan kejang pada gangguan
seperti ayan. Akibatnya : terjadi efek samping merugikan yang disebabkan karena terlalu banyak karbamazepin. Gejala yang dilaporkan : pusing, mual, nyeri
perut, dan nanar. 3.Eritromisin dengan Digoksin Efek digoksin meningkat. Digoksin digunakan untuk layu jantung dan untuk menormalkan kembali denyut
jantung yang tak teratur. Akibatnya : terjadi fek samping merugikan karena terlalu banyak digoksin. Gejala yang dilaporkan : mual, kehilangan nafsu makan,
aritmia jantung, takhikardia atau bradikardia. 4.Erirtromisin dengan Klindamisin atau Linkomisin Efek antibiotika klindamisin dan linkomisin dapat berkurang.
Akibatnya : infeksi yang diobati mungkin tidak sembuh seperti yang diharapkan. 5.Erirtromisin dengan Antibiotika penisilin Efek masing-masing antibiotika
dapat meningkat atau berkurang. Karena akibatnya sulit diramalkan, sebaiknya kombinasi ini dihindari.

7.SEDIAAN DAN POSOLOGI Tabel Posologi eritromisin Preparat Kemasan Posologi/ cara pemberian Keterangan Eritromisin Kapsul/tablet 250 mg dan 500
mg Dewasa : 1-2 g/hari, dibagi dalam 4 dosis Anak : 30-50 mg/kg berat badan sehari dibagi dalam 4 dosis Dosis dapat ditingkatkan 2x lipat pada infeksi
berat Obat diberikan sebelum makan Eritromisin stearat Kapsul 250 mg dan tablet 500 mg Suspensi oral mengandung 250 mg/5 ml Dewasa : 250-500 mg
tiap 6 jam atau 500 mg tiap 12 jam Anak : 30-50 mg/kg berat badn sehari dibagi dalam beberapa dosis Idem Eritromisin etilsuksinat Tablet kunyah 200 mg
Suspensi oral mengandung 200 mg/5 ml dalam botol 60 ml Tetes oral mengandung 100 mg/2,5 ml dalam botol 30 ml Dewasa : 400-800 mg tiap 6 jam atau
800 m tiap 12 jam Anak: 30-50 mg/kg berat badan sehari dibagi dalam beberapa dosis Obat tidak perlu diberikan sebelum makan

8.PENGGUNAAN KLINIK 1.Infeksi Mycoplasma pneumoniae Eritromisin yang diberikan 4 kali 500 mg sehari per oral mempercepat turunnya panas dan
mempercepat penyembuhan sakit. 2.Penyakit Legionnaire Eritromisin merupakan obat yang dianjurkan untuk pneumonia yang disebabakan oleh Legionella
pneumophila. Dosis oral ialah 4 kali 0,5-1 g sehari atau secara intravena 1-4 g sehari. 3.Infeksi Klamidia Eritromisin merupakan alternatif tetrasiklin untuk
infeksi klamidia tanpa komplikasi yang menyerang uretra, endoserviks, rektum atau epididimis. Dosisnya ialah 4 kali sehari 500 mg per oral yang diberikan
selama 7 hari. Eritromisin merupakan obat terpilih untu wanita hamil dan anak-anak dengan infeksi klamidia. 4.Difteri Eritromisin sangat efektif untuk
membasmi kuman difteri baik pada infeksi akut maupun pada carrier state. Perlu dicatat bahwa eritromisin maupun antibiotika lain tidak mempengaruhi
perjalanan penyakit pada infeksi akut dan komplikasinya. Dalam hal ini yang penting antitoksin. 5.Infeksi streptokokus Faringitis, scarlet fever dan erisipelas
oleh Str. Pyogenes dapat diatasi dengan pemberian eritromisin per oral dengan dosis 30 mg/kg BB/hari selama 10 hari. Pneumonia oleh pneumokokus juga
dapat diobati secara memuaskan dengan dosis 4 kali sehari 250-500 mg. 6.Infeksi stapilokokus Eritromisin merupakan alternatif penisilin untuk infeksi
ringan oleh S. Aureus (termasuk strain yang resisten terhadap penisilin). Tetapi munculnya strain-strain yang resisten telah mengurangi manfaat obat ini.
Untuk infeksi berat oleh stafilokokus yang resisten terhadap penisilin lebih efektif bila digunakan penisilin yang tahan penisilinase (misalnya dikloksasilin atau
flkloksasilin) atau sefalosporin. Dosis eritromisin untuk infeksi stafilokokus pada kulit atau luka ialah 4 kali 500 mg sehar yang diberikan selama 7-10 hari per
oral. 7.Infeksi Campylobacter Gastroenteritis oleh Campylobacter jejuni dapat diobati dengan eritromisin per oral 4 kali 250 mg sehari. Dewasa ini
fluorokuinolon telah menggantikan peran eritromisin untuk infeksi ini. 8.Tetanus Eritromisin per oral 4 kali 500 mg sehari selama 10 hari dapat membasmi Cl.
tetani pada penderita tetanus yan alergi terhadap penisilin. Antitoksin, obat kejang dan pembersih luka merupakan tindakan lain yang sangat penting.
9.Sifilis Untuk penderita sifilis stadium diniyang alergi terhadap penisilin, dapat diberikan eritromisin per oral dengan dosis 2-4 g sehari selama 10-15 hari.
10.Gonore Eritromisin mungkin bermanfaat untuk gonore diseminata pada wanita hamil yang alergi tehadap penisilin. Dosis yang diberikan ialah 4 kali 500
mg sehari yang diberika selama 5 hari per oral. Angka relaps hampir mencapai 25 % 11.Penggunaan profilaksis Obat terbaik untuk mencegah kambuhnya
demam reumatik ialah penisilin. Sulfonamid dan eritromisin dapat dipakai bila penderita alergi terhadap penisilin. Eritromisin juga dapat dipakai sebagai
pengganti penisilin untuk penderita endokarditis bakterial yang akan dicabut giginya. Dosis eritromisin untuk keperluan ini ialah 1 g per oral yang diberikan 1
jam sebelum dilakukan tindakan, dilanjutkan dengan dosis tunggal 500 mg yang diberikan 6 jam kemudian. 12.Pertusis Bila diberikan pada awal infeksi,
eritromisin dapat mempercepat penyembuhan.

9.NAMA DAGANG DIPASARAN 1.Aknemycin 2.Arsitrosin 3.Bannthrocin 4.Cetathrocin 5.Corsatrocin 6.Decathrocin 7.Erira 8.Eritromec 9.Erphatrocine
10.Erybiotic 11.Erycoat forte 12.Eryderm 13.Erymed 14.Erymed plus 15.Eryprima 16.Erysanbe 17.Erythrin 18.Erythrocin 19.Erythrocin E.E.S 20.Hoprin
21.Jeracin 22.Kemothrocin 23.Konithrocin 24.Medoxin 25.Opithrocin 26.Pharothrocin 27.Rythron 28.Tamaret 29.Throcidan 30.Tromilin 31.Zapphire

DAFTAR PUSTAKA

1. Ganiswara, G, Suliatia, dkk., 1995., Farmakologi Dan Terapi Edisi ke-4., Fakultas Kedokteran UI., Jakarta., 675-678 2. J. Mycek, Mary, dkk., 2001.,
Farmakologi Ulasan Bergambar Edisi ke-2., Widya Medika., Jakarta., 321-323 3. Harkness, Richard., 1984., Interaksi Obat., ITB., Bandung., 210-211 4.
Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia., ISO., Jakarta., 501