Anda di halaman 1dari 6

MERSERISASI

I.
II.
III.
IV.

JUDUL PRAKTIKUM
MERSERISASI KAPAS DENGAN NAOH
TANGGAL PRAKTIKUM
19 JANUARI 2014
TUJUAN PRAKTIKUM
Untuk memperoleh kain kapas yang berkilau dan berdaya serap tinggi.
TEORI DASAR
Merserisasi
Proses merserisasi adalah pengerjaan bahan kapas dengan alkali kuat
yaitu NaOH pada suhu tertentu dan waktu yang tertentu pula disertai
dengan pencucian.
Tujuan dari proses merserisasi adalah untuk memperbaiki sifat-sifat
dari bahan kapas yang dikerjakan, seperti sifat kilau dan daya serap.
Proses merserisasi merupakan proses penyempurnaan permanen pada
bahan dan tidak hilang meskipun dicuci, dicelup atau berbagai
pengerjaan selanjutnya. Proses ini meliputi proses impregnasi kapas
dalam

larutan

NaOH

pekat,

dan

jika

diperlukan

menggunakan

tegangan kemudian dicuci bersih dan dinetralkan.


Perbaikan yang didapat pada bahan kapas setelah mengalami proses
merserisasi adalah
Merserisasi tanpa tegangan menghasilkan :
Bahan menjadi mengkeret
Kekuatan tarik bertambah
Perpanjangan sebelum putus bertambah
Daya serap dan reaksi selulosa terhadap zat warna pada suhu
rendah bertambah
Merserisasi disertai dengan tegangan menghasilkan :
Bertambahnya kilau pada bahan kapas yang permanen, selain dari
perubahan-perubahan sifat diatas, bertambahnya kilau serat terutama
disebabkan oleh orientasi dari rantai-rantai molekul selulosa yang
menyebabkan

deretan

kristalin

yang

lebih

sejajar

dan

teratur

Pengerjaan merserisasi dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu :


Merserisasi kering, yaitu proses merserisasi yang dilakukan pada
bahan dalam keadaan kering.

Merseriasai basah, yaitu proses merserisasi yang dilakukan pada


bahan dalam keadaan basah, misalnya setelah pemasakan.
Dalam proses merserisasi akan terjadi penggelembungan serat kapas
yang menyebabkan terjadinya perubahan komposisi atau konstruksi
dari molekul selulosa. Pada konsentrasi 18 % NaOH, penggelembungan
adalah yang terbesar.
Efek pertama dari merserisasi adalah pengedaran ikatan antara
mikrofibril,

sehingga

mikrokapiler

diantara

menggelembung.

Bila

mikrofibril-mikrofibril

penetrasi
bundel

larutan

terus

rantai

selulosa

penetrasi
tersebut,

NaOH
hal

ini

dapat

sampai
dan
masuk

ke

ruang

mikrofibril
diantara

mengakibatkan

serat

menggelembung dengan bebas dan terjadi slip diantara mikrofibrilmikrofibril tersebut.


V.

RESEP
NaOH
: 25% Larutan ( 360Be)
Pembasah : 0.5-1% Larutan
Suhu
: 200C
Waktu
: 40 Detik

VI.

ALAT DAN BAHAN


Alat :
a. Gelas Piala
b. Batang Pengaduk
c. Frame
d. Oven
e. Bunsen
Bahan:
a. NaOH
b. Kain Kapas
c. Air

VII.

PROSEDUR
a. Larutkan NaOH, dan dinginkan pada suhu kamar. Tambahkan
pembasah, lalu cek konsentrasinya, harus menunjukkan 360Be.

b. Kemudian kain kapas direndam selama 40 detik dalam larutan


NaOH, kemudian di press.
c. Bila dikehendaki pegangan, saat rendam/sebelum cuci memakai
frame.
d. Bahan dicuci beberapa kali , kemudian netralkan dalam larutan
asam pH 6.
e. Keringkan.
f. Evaluasi : Daya Serap, Visual dan Warna kain setelah proses.

VIII.

DATA PENGAMATAN
Konsentrasi NaOH
: 360Be
Setelah Bahan di merser terlihat lebih berkilau dan daya serap lebih
tinggi disbanding kain sebelum di merserisasi.

IX.

DISKUSI
Proses merserisasi merupakan sebuah tahapan proses yang penting
bagi bahan tekstil yang terbuat dari serat yang mengandung kapas
karena akan mempengaruhi sifat kimia bahan yaitu daya serap
terhadap zat warna dan uap air, sifat fisik bahan seperti kilau bahan,
kekuatan tarik,mengkeret, dan stabilitas dimensi. Dalam praktikum ini
dilakukan proses merserisasi pada kain kapas yang telah melalui
proses desizing dan scouring. Kain kapas hasil desizing dan scouring ini
akan dimerser dalam larutan NaOH dengan konsentrasi 36 Be sambil
diberi peregangan pada arah lusi dan pakan dilakukan selama 40 detik.
Hasil

dari

proses

merserisasi

yang

diharapkan

adalah

untuk

memperbaiki struktur serat yang meliputi meningkatnya kilau kain,


meningkatnya kekuatan serat dan meningkatnya daya serap kain
terhadap zat warna dan uap air. Adanya proses peregangan pada
benang lusi dan pakan saat merser berlangsung mengakibatkan
derajat kristalitas meningkat yang juga diikuti oleh meningkatanya

derajat orientasi kain. Dalam praktikum digunakan NaOH dengan


konsentrasi tinggi yang bertujuan untuk menggembungkan serat
sehingga struktur serat dapat lebih baik dan kekuatan tariknya pun
bertambah.
Selama

berlangsungnya

berpengaruh

pada

percobaan

proses

diketahui

merserisasi

adalah

faktor-faktor
penggunaan

yang
zat

pembantu, pelunak air, konsentrasi alkali, suhu, kualitas bahan,dan


struktur anyaman kain. Pengaruh zat pembantu terutama pembasah
adalah jika merserisasi dilakukan tanpa pemberian pembasah maka
hasil merser tidak rata, namun karena tidak tersedia di laboratorium
X.

maka tidak digunakan pembasah ini.


KESIMPULAN
Hasil kain setelah di merserisasi adalah lebih berkilau dan daya serap

XI.

lebih tinggi.
DAFTAR PUSTAKA
Jumaeri. Dkk.1977. Pengetahuan Barang Tekstil. Institute Teknologi
Tekstil, Bandung.
Hendrodyantopo. S.,dkk. 1998. Teknologi Penyempurnaan. Sekolah
Tinggi Teknologi Tekstil, Bandung. 1998.

Anda mungkin juga menyukai