Anda di halaman 1dari 7

Diabetes mellitus (DM) adalah suatu penyakit atau gangguan metabolisme kronis dengan

multi etiologi yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah disertai dengan gangguan
metabolisme karbohidrat, lipid dan protein sebagai akibat insufisiensi fungsi insulin (Ditjen
Bina Farmasi dan Alkes, 2005).
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/35195/4/Chapter%20II.pdf

Klasifikasi etiologis DM menurut American Diabetes Association 2010 (ADA 2010), dibagi
dalam 4 jenis yaitu:
a. Diabetes Melitus Tipe 1 atau Insulin Dependent Diabetes Mellitus/IDDM
DM tipe 1 terjadi karena adanya destruksi sel beta pankreas karena sebab
autoimun. Pada DM tipe ini terdapat sedikit atau tidak sama sekali sekresi insulin
dapat ditentukan dengan level protein c-peptida yang jumlahnya sedikit atau tidak
terdeteksi sama sekali. Manifestasi klinik pertama dari penyakit ini adalah
ketoasidosis.
b. Diabetes Melitus Tipe 2 atau Insulin Non-dependent Diabetes Mellitus/NIDDM
Pada penderita DM tipe ini terjadi hiperinsulinemia tetapi insulin tidak bisa
membawa glukosa masuk ke dalam jaringan karena terjadi resistensi insulin yang
merupakan turunnya kemampuan insulin untuk merangsang pengambilan glukosa
oleh jaringan perifer dan untuk menghambat produksi glukosa oleh hati. Oleh karena
terjadinya resistensi insulin (reseptor insulin sudah tidak aktif karena dianggap
kadarnya masih tinggi dalam darah) akan mengakibatkan defisiensi relatif insulin. Hal
tersebut dapat mengakibatkan berkurangnya sekresi insulin pada adanya glukosa
bersama bahan sekresi insulin lain sehingga sel beta pankreas akan mengalami
desensitisasi terhadap adanya glukosa. Onset DM tipe ini terjadi perlahan-lahan
karena itu gejalanya asimtomatik. Adanya resistensi yang terjadi perlahan-lahan akan
mengakibatkan sensitivitas reseptor akan glukosa berkurang. DM tipe ini sering
terdiagnosis setelah terjadi komplikasi.
c. Diabetes Melitus Tipe Lain
DM tipe ini terjadi karena etiologi lain, misalnya pada defek genetik fungsi sel
beta, defek genetik kerja insulin, penyakit eksokrin pankreas, penyakit metabolik
endokrin lain, iatrogenik, infeksi virus, penyakit autoimun dan kelainan genetik lain.
Penyebab terjadinya DM tipe lain dapat dilihat pada tabel 1.

d.

Diabetes Melitus Gestasional


DM tipe ini terjadi selama masa kehamilan, dimana intoleransi glukosa
didapati pertama kali pada masa kehamilan, biasanya pada trimester kedua dan ketiga.
DM gestasional berhubungan dengan meningkatnya komplikasi perinatal. Penderita
DM gestasional memiliki risiko lebih besar untuk menderita DM yang menetap dalam
jangka waktu 5-10 tahun setelah melahirkan.
http://cme.medicinus.co/file.php/1/LEADING_ARTICLE_Diabetes_Mellitus_
Tipe_2_dan_tata_laksana_terkini.pdf
Patofisiologi Diabetes Melitus (Brunner and Suddarth, 2002)
1. Diabetes Tipe 1
Terdapat ketidakmampuan untuk menghasilkan insulin karena selsel
pankreas telah dihancurkan oleh proses autoimun. Glukosa yang berasal
dari makanan tidak dapat disimpan dalam hati meskipun tetap dalam darah
dan menimbulkan hiperglikemia posprandial (sesudah makan). Jika
konsentrasi glukosa dalam darah cukup tinggi, ginjal tidak dapat menyerap
kembali semua glukosa yang tersaring keluar akibatnya glukosa tersebut
dieksresikan dalam urin (glukosuria). Eksresi ini akan disertai oleh
pengeluaran cairan dan elekrolit yang berlebihan, keadaan ini disebut
diuresis osmotik. Pasien mengalami peningkatan dalam berkemih
(poliuria) dan rasa haus (polidipsi).
2. Diabetes Tipe II
Terdapat 2 masalah utama yang berhubungan dengan insulin, yaitu: resistensi
insulin dan gangguan sekresi insulin. Normalnya insulin akan terikat dengan reseptor
khusus pada permukaan sel. Sebagai akibat terikatnya insulin dengan reseptor
tersebut, terjadi suatu rangkaian reaksi dalam metabolisme glukosa di dalam sel.
Resistensi insulin pada diabetes Universitas Sumatera Utara tipe II disertai dengan
penurunan reaksi intrasel, dengan demikian insulin menjadi tidak efektif untuk
menstimulasi pengambilan glukosa oleh jaringan. Untuk mengatasi resistensi insulin
dan mencegah terbentuknya glukosa dalam darah harus terdapat peningkatan insulin
yang disekresikan. Pada penderita toleransi glukosa terganggu, keadaan ini terjadi
akibat sekresi insulin yang berlebihan dan kadar glukosa akan dipertahankan pada
tingkat yang normal atau sedikit meningkat. Namun, jika sel-sel tidak mampu
mengimbangi peningkatan kebutuhan akan insulin maka kadar glukosa akan
meningkat dan terjadi diabetes tipe II. Meskipun terjadi gangguan sekresi insulin yang
merupakan ciri khas diabetes tipe II, namun terdapat jumlah insulin yang adekuat

untuk mencegah pemecahan lemak dan produksi badan keton. Oleh karena itu,
ketoasidosis diabetik tidak terjadi pada diabetes tipe II. Meskipun demikian, diabetes
tipe II yang tidak terkontrol dapat menimbulkan masalah akut lainnya yang
dinamakan sindrom hiperglikemik hiperosmoler nonketotik. Akibat intoleransi
glukosa yang berlangsung lambat dan progresif, maka awitan diabetes tipe II dapat
berjalan tanpa terdeteksi, gejalanya sering bersifat ringan dan dapat mencakup
kelelahan, iritabilitas, poliuria, pilidipsia, luka pada kulit yang tidak sembuh-sembuh,
infeksi dan pandangan yang kabur.

Mengapa Kadar Gula Darah Bisa Meningkat?


Kadar gula darah bisa naik melalui beberapa cara bergantung pada macam diabetesnya. Pada
diabetes tipe 1, pankreas yang memproduksi insulin tidak mampu atau kurang mampu
memproduksinya. Akibatnya, kadar insulin kurang bahkan bisa tidak ada sama sekali.
Dengan demikian, glukosa tidak dapat ditransfer ke sel-sel untuk diubah menjadi energi. Gula
darah tetap berada dalam darah, makin lama makin banyak. Terjadilah peningkatan kadar
gula darah dalam darah.
Pada diabetes tipe 2, insulin diproduksi tetapi kualitasnya tidak baik sehingga tidak bisa
berfungsi sebagaimana seharusnya, yaitu tidak seluruh glukosa dapat ditransfer ke sel-sel.
Akibatnya, terjadi peningkatan kadar glukosa dalam darah. Atau hormon insulin tidak dapat
berfungsi sebagaimana seharusnya karena reseptor tertutup lemak (jika penderita diabetes
bertubuh gemuk) sehingga insulin tidak dapat membawa glukosa ke sel-sel tubuh.
http://www.herbalisnusantara.com/?mengapa-kadar-gula-darah-bisameningkat-,61

Insulin merupakan hormon yang dihasilkan oleh pankreas. Tiga fungsi insulinyaitu
membuka jalan agar glukosa dapat masuk ke dalam sel untuk menghasilkan energi, menekan
produksi gula di hati dan otot, serta mencegah pemecahan lemak sebagai sumber energi.

Normalnya, pankreas akan mengeluarkan insulin dalam jumlah kecil sepanjang hari. Jika
seseorang makan, maka pankreas akan memproduksi lebih banyak insulin untuk menangkap
glukosa yang terdapat dalam makanan.
Pada penderita diabetes melitus, insulin tidak tersedia di dalam tubuh. kondisi ini bisa terjadi
karena pankreas tidak dapat memproduksi insulin. Akibatnya tubuh tidak dapat memperoleh
energi dan dapat berbahaya bagi Anda.
https://sehatituherbal.wordpress.com/2013/05/16/fungsi-insulin/

KOMPLIKASI Pada DM yang tidak terkendali dapat terjadi komplikasi metabolik akut
maupun komplikasi vaskuler kronik, baik mikroangiopati maupun makroangiopati. Di
Amerika Serikat, DM merupakan penyebab utama dari end-stage renal disease (ESRD),
nontraumatic lowering amputation, dan adult blindness. 5 Sejak ditemukan banyak obat
untuk menurunkan glukosa darah, terutama setelah ditemukannya insulin, angka kematian
penderita diabetes akibat komplikasi akut bisa menurun drastis. Kelangsungan hidup
penderita diabetes lebih panjang dan diabetes dapat dikontrol lebih lama. Komplikasi kronis
yang dapat terjadi akibat diabetes yang tidak terkendali adalah:6,7 Kerusakan saraf
(Neuropati) Sistem saraf tubuh kita terdiri dari susunan saraf pusat, yaitu otak dan sumsum
tulang belakang, susunan saraf perifer di otot, kulit, dan organ lain, serta susunan saraf
otonom yang mengatur otot polos di jantung dan saluran cerna. Hal ini biasanya terjadi
setelah glukosa darah terus tinggi, tidak terkontrol dengan baik, dan berlangsung sampai 10
tahun atau lebih. Apabila glukosa darah berhasil diturunkan menjadi normal, terkadang
perbaikan saraf bisa terjadi. Namun bila dalam jangka yang lama glukosa darah tidak berhasil
diturunkan menjadi normal maka akan melemahkan dan merusak dinding pembuluh darah
kapiler yang memberi makan ke saraf sehingga terjadi kerusakan saraf yang disebut neuropati
diabetik (diabetic neuropathy). Neuropati diabetik dapat mengakibatkan saraf tidak bisa
mengirim atau menghantar pesan-pesan rangsangan impuls saraf, salah kirim atau terlambat
kirim. Tergantung dari berat ringannya kerusakan saraf dan saraf mana yang terkena.
Prevalensi Neuropati pada pasien DM tipe 1 pada populasi klinik berkisar 3% s/d 65.8% dan
dalam penelitian pada populasi berkisar 12.8% s/d 54%. Sedangkan pada pasien DM tipe 2
prevalensi neuropati pada populasi klinik berkisar 7.6% s/d 68.0% dan dalam penelitian pada
populasi berkisar 13.1% s/d 45.0%.6 Kerusakan ginjal (Nefropati) Ginjal manusia terdiri dari

dua juta nefron dan berjuta-juta pembuluh darah kecil yang disebut kapiler. Kapiler ini
berfungsi sebagai saringan darah. Bahan yang tidak berguna bagi tubuh akan dibuang ke urin
atau kencing. Ginjal bekerja selama 24 jam sehari untuk membersihkan darah dari racun yang
masuk ke dan yang dibentuk oleh tubuh. Bila ada nefropati atau kerusakan ginjal, racun tidak
dapat dikeluarkan, sedangkan protein yang seharusnya dipertahankan ginjal bocor ke luar.
Semakin lama seseorang terkena diabetes dan makin lama terkena tekanan darah tinggi, maka
penderita makin mudah mengalami kerusakan ginjal. Gangguan ginjal pada penderita
diabetes juga terkait dengan neuropathy atau kerusakan saraf. Prevalensi mikroalbuminuria
dengan penyakit DM tipe 1 berkisar 4.3% s/d 37.6% pada populasi klinis dan 12.3% s/d
27.2% dalam penelitian pada populasi. Sedangkan pada pasien DM tipe 2 prevalensi
mikroalbuminuria pada populasi klinik berkisar 2.5% s/d 57.0% dan dalam penelitian pada
populasi berkisar 18.9% s/d 42.1%. Prevalensi overt nephropathy dengan penyakit DM tipe 1
berkisar 0.7% s/d 27% pada populasi klinis dan 0.3% s/d 24% dalam penelitian pada
populasi. Sedangkan pada pasien DM tipe 2 prevalensi overt nephropathy pada populasi
klinik berkisar 5.4% s/d 20.0% dan dalam penelitian pada populasi berkisar 9.2% s/d 32.9%.6
Kerusakan mata (Retinopati) Penyakit diabetes bisa merusak mata penderitanya dan
menjadipenyebab utama kebutaan. Ada tiga penyakit utama pada mata yang disebabkan oleh
diabetes, yaitu: 1) retinopati, retina mendapatkan makanan dari banyak pembuluh darah
kapiler yang sangat kecil. Glukosa darah yang tinggi bisa merusak pembuluh darah retina; 2)
katarak, lensa yang biasanya jernih bening dan transparan menjadi keruh sehingga
menghambat masuknya sinar dan makin diperparah dengan adanya glukosa darah yang
tinggi; dan 3) glaukoma, terjadi peningkatan tekanan dalam bola mata sehingga merusak
saraf mata. Prevalensi retinopati dengan penyakit DM tipe 1 berkisar 10.8% s/d 60.0% pada
polpulasi klinik dan 14.5% s/d 79.0% dalam penelitian pada populasi. Sedangkan pada pasien
DM tipe 2 prevalensi leading article 12 MEDICINUS Vol. 27, No.2, Agustus 2014 retinopati
pada populasi klinik berkisar 10.6% s/d 47.3% dan dalam penelitian pada populasi berkisar
10.1% s/d 55.0%.6 Penyakit jantung koroner (PJK) Diabetes merusak dinding pembuluh
darah yang menyebabkan penumpukan lemak di dinding yang rusak dan menyempitkan
pembuluh darah. Akibatnya suplai darah ke otot jantung berkurang dan tekanan darah
meningkat, sehingga kematian mendadak bisa terjadi. Prevalensi Penyakit jantung koroner
dengan penyakit DM (baik tipe 1 dan 2) berkisar 1.0% s/d 25.2% pada polpulasi klinik dan
1.8% s/d 43.4% dalam penelitian pada populasi. Lima puluh persen dari prevalensi penyakit
jantung koroner berkisar 0.5% s/d 8.7% dengan Diabetes tipe 1 dan berkisar 9.8% s/d 22.3%
dengan Diabetes tipe 2.6 Stroke Prevalensi stroke dengan penyakit DM (baik tipe 1 dan 2)

berkisar 1.0% s/d 11.3% pada populasi klinik dan 2.8% s/d 12.5% dalam penelitian pada
populasi. Lima puluh persen dari prevalensi stroke berkisar 0.5% and 4.3% dengan Diabetes
tipe 1 dan berkisar 4.1% and 6.7% dengan Diabetes tipe 2.6 Hipertensi Hipertensi atau
tekanan darah tinggi jarang menimbulkan keluhanyang dramatis seperti kerusakan mata atau
kerusakan ginjal. Namun, harus diingat hipertensi dapat memicu terjadinya serangan jantung,
retinopati, kerusakan ginjal, atau stroke. Risiko serangan jantung dan stroke menjadi dua kali
lipat apabila penderita diabetes juga terkena hipertensi. Penyakit pembuluh darah perifer
Kerusakan pembuluh darah di perifer atau di tangan dan kaki, yang dinamakan Peripheral
Vascular Disease (PVD), dapat terjadi lebih dini dan prosesnya lebih cepat pada penderita
diabetes daripada orang yang tidak mendertita diabetes. Denyut pembuluh darah di kaki
terasa lemah atau tidak terasa sama sekali. Bila diabetes berlangsung selama 10 tahun lebih,
sepertiga pria dan wanita dapat mengalami kelainan ini. Dan apabila ditemukan PVD
disamping diikuti gangguan saraf atau neuropati dan infeksi atau luka yang sukar sembuh,
pasien biasanya sudah mengalami penyempitan pada pembuluh darah jantung. Gangguan
pada hati Banyak orang beranggapan bahwa bila penderita diabetes tidak makan gula bisa
bisa mengalami kerusakan hati (liver). Anggapan ini keliru. Hati bisa terganggu akibat
penyakit diabetes itu sendiri. Dibandingkan orang yang tidak menderita diabetes, penderita
diabetes lebih mudah terserang infeksi virus hepatitis B atau hepatitis C. Oleh karena itu,
penderita diabetes harus menjauhi orang yang sakit hepatitis karena mudah tertular dan
memerlukan vaksinasi untuk pencegahan hepatitis. Hepatitis kronis dan sirosis hati (liver
cirrhosis) juga mudah terjadi karena infeksi atau radang hati yang lama atau berulang.
Gangguan hati yang sering ditemukan pada penderita diabetes adalah perlemakan hati atau
fatty liver, biasanya (hampir 50%) pada penderita diabetes tipe 2 dan gemuk. Kelainan ini
jangan dibiarkan karena bisa merupakan pertanda adanya penimbunan lemak di jaringan
tubuh lainnya. Penyakit paru Pasien diabetes lebih mudah terserang infeksi tuberkulosis paru
dibandingkan orang biasa, sekalipun penderita bergizi baik dan secara sosioekonomi cukup.
Diabetes memperberat infeksi paru, demikian pula sakit paru akan menaikkan glukosa darah.
Gangguan saluran cerna Gangguan saluran cerna pada penderita diabetes disebabkan karena
kontrol glukosa darah yang tidak baik, serta gangguan saraf otonom yang mengenai saluran
pencernaan. Gangguan ini dimulai dari rongga mulut yang mudah terkena infeksi, gangguan
rasa pengecapan sehingga mengurangi nafsu makan, sampai pada akar gigi yang mudah
terserang infeksi, dan gigi menjadi mudah tanggal serta pertumbuhan menjadi tidak rata. Rasa
sebah, mual, bahkan muntah dan diare juga bisa terjadi. Ini adalah akibat dari gangguan saraf
otonom pada lambung dan usus. Keluhan gangguan saluran makan bisa juga timbul akibat

pemakaian obat- obatan yang diminum. Infeksi Glukosa darah yang tinggi mengganggu
fungsi leading article Vol. 27, No.2, Agustus 2014 MEDICINUS 13 kekebalan tubuh dalam
menghadapi masuknya virus atau kuman sehingga penderita diabetes mudah terkena infeksi.
Tempat yang mudah mengalami infeksi adalah mulut, gusi, paru-paru, kulit, kaki, kandung
kemih dan alat kelamin. Kadar glukosa darah yang tinggi juga merusak sistem saraf sehingga
mengurangi kepekaan penderita terhadap adanya infeksi.
http://cme.medicinus.co/file.php/1/LEADING_ARTICLE_Diabetes_Mellitus_Tipe_2_dan_ta
ta_laksana_terkini.pdf