Anda di halaman 1dari 10

TINJAUAN PUSTAKA

Definisi
Kandidiasis oral merupakan salah satu manifestasi dari penyakit mulut berupa infeksi
oportunistik pada mukosa rongga mulut yang disebabkan oleh pertumbuhan abnormal dari jamur
candida albicans (Prasanna, 2012).
Candida albicans ini sebenarnya merupakan flora normal rongga mulut. Namun berbagai
faktor penyakit ini sangat sering ditemukan pada orang yang memiliki imunitas yang rendah atau
terjadi penurunan kekebalan tubuh seperti orang yang terkena HIV dan orang yang menjalani
pengobatan kanker dengan kemoterapi. Sebenarnya penyakit ini dapat dicegah apabila kesehatan
mulut

kita dijaga dengan baik dan mengonsumsi makanan yang baik. Selain itu, apabila

kandidiasis oral tidak cepat dilakukan perawatan akan berbahaya dan menyebabkan
ketidaknyamanan pada mulut (Greenberg et al, 2008).
Epidemiologi
Kandidiasis oral dapat menyerang semua umur, baik pria maupun wanita. Kejadiannya
juga dihubungkan dengan faktor-faktor predisposisi seperti usia, jenis kelamin, kebiasaan
merokok, penggunaan antibiotik oral, dan pengobatan antirertoviral. Secara epidemiologi
menurut laporan World Health Organization (WHO) tahun 2001 frekuensi kandidiasis oral
antara 5,8% sampai 98,3%. Terdapat sekitar 30-40% Candida albicans pada rongga mulut orang
dewasa sehat, 45% pada neonatus, 45-65% pada anak-anak sehat, 50-65% pada pasien yang
memakai gigi palsu lepasan, 65-88% pada orang yang mengkonsumsi obat-obatan jangka
panjang, 90% pada pasien leukemia akut yang menjalani kemoterapi, dan 95% pada pasien
HIV/AIDS (Repentigny,2004).
Meningkatnya prevalensi infeksi Candida albicans ini dihubungkan dengan kelompok
penderita HIV/AIDS, penderita yang menjalani transplantasi dan kemoterapi maligna. Odds dkk
( 1990 ) dalam penelitiannya mengemukakan bahwa dari 6.545 penderita HIV/AIDS, sekitar
44.8% adalah penderita kandidiasis (Mourent, 2010).

Etiologi

Penyebab utama kandidiasis ialah Candida albicans. Spesies lain seperti Candida krusei,
Candida stellatoidea, Candida tropicalis, Candida pseudotropicalis, dan Candida parapsilosis,
umumnya bersifat apatogen (Siregar, 2005).
Kandida dapat dengan mudah tumbuh di dalam media Sabauroud dengan membentuk
koloni ragi dengan sifat-sifat khas, yakni: menonjol dari permukaan medium, permukaan koloni
halus, licin, bewarna putih kekuning-kuningan, dan berbau ragi. Jamur kandida dapat hidup di
dalam tubuh manusia, hidup sebagai parasit atau saprofit, yaitu di dalam alat percernaan, alat
pernapasan, vagina orang sehat (Siregar, 2005).
Pada bayi bisa mendapatkan jamur candida dengan beberapa cara, antara lain, vagina ibu
ketika persalinan, alat-alat seperti dot, mulut bayi tidak bersih karena sisa susu yang diminum
tidak dibersihkan sehingga akan menyebabkan jamur tumbuh semakin cepat.
Faktor Predisposisi
Faktor-faktor yang mempermudah terjadinya candida pada seseorang digolongkan dalam
dua kelompok (Gandrahusada, 2006) :
1.Faktor endogen
a Perubahan fisiologi tubuh yang terjadi pada :
i. Kehamilan, terjadi perubahan di dalam vagina.
ii
Orang tua dan bayi lebih mudah terkena infeksi karena status imunologinya.
b. Perubahan non fisiologik :
i. Trauma, terjadinya kerusakan kulit karena pekerjaan, misalnya maserasi kulit pada
tukang cuci, kerusakan mukosa mulut (karena tekanan gigi palsu)
ii. Malnutrisi (defisiensi riboflavin).
iii. Obesitas, kegemukan menyebabkan banyak keringat, mudah terjadi maserasi kulit,
memudahkan infestasi candida.
iv. Endokrinopati, gangguan konsentrasi gula dalam darah, yang pada kulitakan
v.
vi.
vii.
viii.

menyuburkan pertumbuhan candida.


Penyakit menahun, seperti tuberculosis, lupus eritematosus, karsinomadan leukemia.
Pengaruh pemberian obat-obatan, seperti antibiotic, kortikosteroid, dan sitostatik.
Pemakaian alat-alat di dalam tubuh, seperti gigi palsu, infus dan kateter.
Gangguan imunologis, keadaan umum yang kurang baik, penyakit infeksi lain atau
penyakit menahun dan defisiensi imun (AIDS).

2. Faktor eksogen

Iklim panas dan kelembaban menyebabkan banyak keringat terutama pada lipatan kulit,

menyebabkan kulit maserasi, dan ini mempermudah invasi candida.


Kebiasaan dan pekerjaan yang banyak berhubungan dengan air mempermudah invasi

candida.
Kebersihan dan kontak dengan penderita.
Kedua faktor eksogen dan endogen ini dapat berperan menyuburkan pertumbuhan

candida atau dapat mempermudah terjadinya invasi candida ke dalam jaringan tubuh.
Patofisiologi
Kandidiasis oral sering disebabkan oleh candida albicans. Umumnya memang terdapat di
dalam rongga mulut sebagai saprofit sampai terjadi perubahan keseimbangan flora mulut atau
perubahan mekanisme pertahanan lokal dan sistemik, yang menurunkan daya tahan tubuh. Pada
keadaan ini jamur akan berproliferasi dan menyerang jaringan. Hal ini merupakan infeksi jamur
rongga mulut yang paling sering ditemukan.
Tidak terkontrolnya pertumbuhan candida karena faktor-faktor predisposisi yang telah
disebutkan, di antaranya, penggunaan kortikosteroid dalam jangka waktu yang lama dan
penggunaan obat-obatan yang menekan sistem imun serta penyakit yang menyerang sistem imun
seperti Aquired Immunodeficiency Sindrome (AIDS). Bisa juga karena gangguan keseimbangan
mikroorganisme dalam mulut yang biasanya dihubungkan dengan penggunaan antibiotik yang
tidak terkontrol. Sehingga, ketika pertahanan tubuh/antibodi dalam keadaan lemah, jamur
candida albicans yang dalam keadaan normal tidak memberikan reaksi apapun pada tubuh
berubah tumbuh tak terkontrol dan menyerang sistem imun manusia itu sendiri yang
menimbulkan penyakit disebut candidiasis oral atau moniliasis.
Kelainan yang disebabkan oleh spesies kandida ditentukan oleh interaksi yang komplek
antara patogenitas fungi dan mekanisme pertahanan host. Faktor penentu patogenitas kandida
adalah (Mourent, 2010) :
1

Spesies : Genus kandida mempunyai 200 spesies, 15 spesies dilaporkan dapat


menyebabkan proses pathogen pada manusia. C. albicans adalah kandida yang paling

tinggi patogenitasnya.
Daya lekat : Bentuk hifa dapat melekat lebih kuat daripada germtube, sedang germtube
melekat lebih kuat daripada sel ragi. Bagian terpenting untuk melekat adalah suatu
glikoprotein permukaan atau mannoprotein. Daya lekat juga dipengaruhi oleh suhu
lingkungan.

Dimorfisme : C. albicans merupakan jamur dimorfik yang mampu tumbuh dalam` kultur
sebagai blastospora dan sebagai pseudohifa. Dimorfisme terlibat dalam patogenitas
kandida.Bentuk blastospora diperlukan untuk memulai suatu lesi pada jaringan dengan
mengeluarkan enzim hidrolitik yang merusak jaringan. Setelah terjadi lesi baru terbentuk

hifa yang melakukan invasi.


Toksin : Toksin glikoprotein mengandung mannan sebagai komponen toksik.
Glikoprotein khususnya mannoprotein berperan sebagai adhesion dalam kolonisasi
jamur. Adhesion merupakan proses melekatnya sel Kandida ke dinding sel epitel host.
Kanditoksin sebagai protein intraseluler diproduksi bila C. albicans dirusak secara

mekanik.
Enzim : Enzim diperlukan untuk melakukan invasi. Enzim yang dihasilkan oleh
C.albicans ada 2 jenis yaitu proteinase dan fosfolipid.

Mekanisme pertahanan Host (Mourent, 2010) :


1

Sawar mekanik : Kulit normal sebagai sawar mekanik terhadap invasi kandida.
Kerusakan mekanik pertahanan kulit normal merupakan faktor predisposisi terjadinya

kandidiasis.
Substansi antimikrobial non spesifik : Hampir semua hasil sekresi dan cairan dalam
mamalia mengandung substansi yang bekerja secara non spesifik menghambat atau

membunuh mikroba.
Fagositosis dan intracellular killing : Peran sel PMN dan makrofag jaringan untuk
memakan dan membunuh spesies kandida merupakan mekanisme yang sangat penting
untuk menghilangkan atau memusnahkan sel jamur. Sel ragi merupakan bentuk kandida
yang siapdifagosit oleh granulosit. Sedangkan pseudohifa karena ukurannya, susah
difagosit. Granulosit dapat juga membunuh elemen miselium kandida. Makrofag
berperan dalam melawan kandida melalui pembunuhan intraseluler melalui system

mieloperoksidase (MPO).
Respon imun spesifik : imunitas seluler memegang peranan dalam pertahanan melawan
infeksi kandida. Terbukti dengan ditemukannya defek spesifik imunitas seluler pada
penderita kandidiasi mukokutan kronik, pengobatan imunosupresif, dan penderita dengan
infeksi

HIV.

Menempelnya mikroorganisme dalam jaringan sel host menjadi syarat mutlak untuk
berkembangnya infeksi.Secara umum diketahui bahwa interaksi antara mikroorganisme dan sel

host diperantarai oleh komponen spesifik dari dinding sel mikroorganisme, adhesindan reseptor.
Manan dan manoprotein merupakan molekul-molekul Candida albicans yang mempunyai
aktifitas adhesif. Khitin, komponen kecil yang terdapat pada dinding sel Candidaalbicans juga
berperan dalam aktifitas adhesif. Pada umumnya Candida albicans berada dalam tubuh manusia
sebagai saproba dan infeksi baru terjadi bila terdapat faktor predisposisi pada tubuh host.
Klasifikasi
Oral Kandidiasis dikelompokkan menjadi 3 yaitu (Morent, 2010) :
1

Oral kandidiasis akut


a Kandidiasis Pseudomembranosus Akut
Kandidiasis pseudomembranosus akut (thrush), tampak sebagai plak mukosa
yang putih, difus, bergumpal atau seperti beludru, terdiri dari sel epitel deskuamasi,
fibrin, dan hifa jamur, dapat dihapus meninggalkan permukaan merah dan kasar. Pada
umumnya dijumpai pada mukosa pipi, lidah, dan palatum lunak. Penderita kandidiasis
ini dapat mengeluhkan rasa terbakar pada mulut. Sering terjadi pada pasien dengan
sistem imun rendah, seperti HIV/AIDS, pasien yang mengkonsumsi kortikosteroid, dan
menerima kemoterapi. Diagnosa dapat ditentukan dengan pemeriksaan klinis, kultur
jamur, atau pemeriksaan mikroskopis secara langsung dari kerokan jaringan.

Kandidiasis Pseudomembranous Akut


b

Kandidiasis Atropik Akut


Kandidiasis jenis ini biasa disebut sebagai antibiotic sore tongue atau kandidiasis
eritematus biasa dijumpai pada mukosa bukal, palatum, dan bagian dorsal lidah dengan
daerah permukaan mukosa oral mengelupas dan tampak sebagai bercak-bercak merah
difus yang rata.

Infeksi ini terjadi karena pemakaian antibiotik spektrum luas, terutama


Tetrasiklin, yang mana obat tersebut dapat mengganggu keseimbangan ekosistem oral
antara Lactobacillus acidophilus dan Kandida albikan. Pasien yang menderita
Kandidiasis ini akan mengeluhkan sakit seperti terbakar.

Kandidiasis Atropik Akut

2. Oral kandidiasis kronik


a

Kandidiasis atropik kronik


Disebut juga denture stomatitis atau alergi gigi tiruan merupakan bentuk
kandidiasis yang paling umum ditemukan pada 24-60% pengguna gigi tiruan. Mukosa
palatum maupun mandibula yang tertutup basis gigi tiruan akan menjadi merah, kondisi
ini dikategorikan sebagai bentuk dari infeksi Kandida. Gigi tiruan yang menutup mukosa
dari saliva menyebabkan daerah tersebut mudah terinfeksi jamur.

Kandidiasis Atropik Akut


Berdasarkan gambaran klinis yang terlihat pada mukosa yang terinflamasi di bawah gigi

tiruan rahang atas, denture stomatitis ini dapat diklasifikasikan atas tiga yaitu :
Tipe I : tahap awal dengan adanya pin point hiperemi yang terlokalisir

Tipe II : tampak eritema difus pada mukosa yang berkontak dengan gigi tiruan

Tipe III : tipe granular (inflammatory papillary hyperplasia) yang biasanya tampak pada
bagian tengah palatum keras.

Kandidiasis Hiperplastik Kronik


Infeksi jamur timbul pada mukosa bukal atau tepi lateral lidah berupa bintikbintik putih yang tepinya menimbul tegas dengan beberapa daerah merah. Kondisi ini
dapat berkembang menjadi displasia berat atau keganasan, dan kadang disebut sebagai
Kandida leukoplakia. Bintik-bintik putih tersebut tidak dapat dihapus, sehingga diagnosa
harus ditentukan dengan biopsi. Kandidiasis ini paling sering diderita oleh perokok.

Kandidiasis hiperplastik kronik


c

Median Rhomboid Glositis


Median Rhomboid Glositis adalah daerah simetris kronisyang terdapat bercak
merah di anterior lidah ke papila sirkumvalata, tepatnya terletak pada duapertiga anterior
dan sepertiga posterior lidah.

Median Rhomboid Glossitis


3.Keilitis Angularis
Keilitis angularis merupakan infeksi Kandida albikan pada sudut mulut, dapat
bilateral maupun unilateral. Sudut mulut yang terkena infeksi tampak merah dan pecahpecah, dan terasa sakit ketika membuka mulut. Keilitis angularis ini dapat terjadi pada
penderita defisiensi vitamin B12 dan anemia defisiensi besi.

Keilitis Angularis

Pemeriksaan Penunjang
1
2

Laboratorium : ditemukan adanya jamur candida albicans pada swab mukosa.


Pemeriksaan endoskopi : hanya di indikasikan jika tidak terdapat perbaikan dengan

pemberian flukonazol.
Diagnosa pasti dengan biopsi.

Penatalaksanaan
Pada pasien yang kesehatan tubuhnya normal, seperti perokok dan pemakai gigi tiruan,
perawatan kandidiasis oral relatif mudah dan efektif, namun pasien yang mengkonsumsi antibiotik
jangka panjang, dan pasien dengan sistem imun tubuh rendah yang mendapat perawatan kemoterapi
dimana infeksi jamur mau tidak mau akan timbul, maka perawatan kandidiasisnya lebih spesifik.
Adapun perawatan kandidiasis oral yaitu dengan menjaga kebersihan rongga mulut, memberi obatobatan antifungal baik lokal maupun sistemik, dan berusaha menanggulangi faktor predisposisi,
sehingga infeksi jamur dapat dikurangi.
Kebersihan mulut dapat dijaga dengan menyikat gigi maupun menyikat daerah bukal dan
lidah dengan sikat lembut. Pada pasien yang memakai gigi tiruan, gigi tiruan harus direndam dalam
larutan pembersih seperti Klorheksidin, hal ini lebih efektif dibanding dengan hanya meyikat gigi
tiruan, karena permukaan gigi tiruan yang tidak rata dan poreus menyebabkan Kandida mudah
melekat, dan jika hanya menyikat gigi tiruan tidak dapat menghilangkannya.
Pemberian obat-obatan antifungal juga efektif dalam mengobati infeksi jamur. Terdapat dua
jenis obat antifungal, yaitu pemberian obat antifungal secara topikal dan sistemik. Pengobatan
antifungal topikal pada awal abad 20 yaitu dengan menggunakan gentian violet, namun karena
perkembangan resisten dan adanya efek samping seperti meninggalkan stain pada mukosa oral,
sehingga obat itu diganti dengan Nystatin yang ditemukan pada tahun 1951 dan Amphotericin B pada
tahun 1956.
Obat-obat tersebut bekerja dengan mengikat sterol pada membran sel jamur, dan mengubah
permeabilitas membran sel. Nystatin merupakan obat antifungal yang paling banyak digunakan. Obat
antifungal sistemik digunakan pada pasien yang tidak mempan terhadap obat antifungal topikal dan
pada pasien dengan resiko tinggi menderita infeksi sistemik.
Selain menjaga kebersihan rongga mulut dan memberi obat-obatan antifungal pada pasien,
faktor predisposisi juga harus ditanggulangi. 6 Penanggulangan faktor predisposisi meliputi
pembersihan dan penyikatan gigi tiruan secara rutin dengan menggunakan cairan pembersih, seperti

Klorheksidin, mengurangi rokok dan konsumsi karbohidrat, mengunyah permen karet bebas gula
untuk merangsang pengeluaran saliva, menunda pemberian antibiotik dan kortikosteroid, menangani
penyakit yang dapat memicu kemunculan kandidiasis seperti penanggulangan penyakit diabetes,
HIV, dan leukemia.

Penyulit
1

Jika candida masuk ke esofagus(pada kasus yg berat) maka akan menjadi candida

esophagitisjika sudah terjadi pasien akan mengalami kesulitan menelan


Jika dibiarkan dan tidak di obati akan tertelan dan masuk keusus,maka akan menimbulkan
difteri dan lebih parahnya akan infeksi usus (Bagian ilmu penyakit kulit & kelamin, 2009) .
Pencegahan
Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah timbulnya oral kandidiasis menurut
(Lamont et al ,2006) :

Cuci tangan sebelum memberi makanan/ minuman kepada bayi

Memelihara kesehatan rongga mulut

Mengonsumsi makanan yang sehat