Anda di halaman 1dari 5

TUGAS KE 2 PAK MULYOTO

1. Komparisi adalah Adalah bagian dari suatu akta yang berisi atau yang memuat keteranganketerangan tentang identitas para pihak (nama, pekerjaan, tempat tinggal), dalam kedudukan
apa ia bertindak dan berdasarkan apa kedudukan itu, serta apakah ia mempunyai kecakapan
(rechtsbekwaamheid)

serta kewenangan (rechtsbevoegheid) untuk melakukan tindakan

hukum dalam akta


a. Komparisi menjadi penting agar akta yang dibuat mempunyai kekuatan otentitas. agar
suatu akta mempunyai kekuatan otentisitas Menurut pasal 1868 KUHPerdata maka akta
harus memenuhi beberapa syarat - syarat yaitu sebagai berikut: Aktanya itu harus di buat
oleh atau dihadapan pejabat umum dan Aktanya harus dibuat di dalam bentuk yang
ditentukan oleh undang - undang yaitu UUJN (pasal 38 ayat 3 UUJN)
b. Komparisi menjadi penting agar identitas yang memuat keterangan-keterangan tentang
para pihak dalam akta baik itu perorangan ataupun badan yang dimaksud menjadi jelas,
hal ini penting untuk mencegah adanya kemungkinan salah tafsir tentang orang atau
badan dikemudian hari.
2. Akta jual beli tersebut menjadi tidak sah karena bertentangan dengan syarat sahnya
perjanjian yang terdapat dalam pasal 1320 KUHPerdata mengenai suatu sebab yang halal.
Dalam hal ini saksi dalam akta notaries tersebut adalah anak kandung dari pihak pembeli
yang mana hal tersebut bertentangan dengan pasal 40 ayat (2) huruf e yang menyebutkan
saksi tidak mempunyai hubungan perkawinan atau hubungan darah dalam garis lurus ke atas
atau ke bawah tanpa pembatasan derajat dan garis ke samping sampai dengan derajat ketiga
dengan Notaris atau para pihak
Karena salah satu syarat obyektif dalam suatu perjanjian tidak dipenuhi maka perjanjian itu
batal demi hukum, artinya dari semula tidak pernah dilahirkan suatu perjanjian
3. notaris berwenang untuk melegalisir atau mewarmerking setiap akta dibawah tangan yang di
ajukan penghadap kepadanya dengan dasar hokum yang terdapat pada pasal 15 ayat (2)
UUJN yang menyatakan bahwa Notaris berwenang pula mengesahkan tanda tangan dan

menetapkan kepastian tanggal surat di bawah tangan dengan mendaftar dalam buku khusus
dan membukukan surat di bawah tangan dengan mendaftar dalam buku khusus;
contoh kasus :
Pak ahmad dan pak budi adalah rekan bisnis,dalam menjalankan bisnisnya mereka merasa perlu
dibuatkan suatau ikatan perjanjian,mereka kemudian mebuat perjanjian jual beli yang dimana isi
dan pasal2 yang terdapat didalam dibuat dan disepakati oleh kedua belah pihak, setalah
perjanjian dibuat mereka kemudian mengadap ke notaries Sudarmadji untuk melegalisir
perjanjian jual beli tersebut
Setelah akta tersebut ditanda tangani oleh para penghadap beserta saksi-saksi.notaris sudarmadji
kemudian melakukan pembetulan berupa penambahan, penggantian dan pencoretan bebrapa kata
yang tertuang dalam akta tanpa sepengatuhan (paraf) para penghadap beserta saksi2 ( Melanggar
ketentuan pasal 48 UUJN)
Dikemudian hari ternyata Pak ahmad menderita kerugian atas kesalahan notarsi Sudarmadji
tersebut berdasarkan Pasal 84 UU Jabatan Notaris, pihak yang menderita kerugian atas
kesalahan Notaris ini, berhak untuk menuntut penggantian biaya, ganti rugi, dan bunga kepada
Notaris.

4. Notaris dilarang/tidak berwenag membuat akta pembatalan erjanjian pemberian kuasa secara
sepihak dimana akta pemberian kuasa tersebut telah ditandatangani oleh kedua belah pihak
(pemberi kuasa dan penerima kuasa) dimasa lalu
Notaris tidak dapat membatalkan akta perjanjian pemberian kuasa semata-mata berdasarkan
kehendak pemberi kuasa, namun juga harus didasarkan pada persetujuan penerima kuasa

5.CONTOH KOMPARISI AKTA MEWAKILI SUATU CV ATAU PT.

TUGAS KE 3 PAK MULYOTO

1. Apa yang dimaksud dengan kriminalisasi terhadap Notaris ?berilah contohnya


!
Jawaban :
kriminalisasi adalah proses mengangkat perbuatan yang semula bukan
perbuatan pidana menjadi perbuatan yang dapat dipidana.
Jadi Yang dimaksud Kriminalisasi notaries adalah
Dalam pembuatan akta tiada satu ketentuan hukum pun yang dilanggar oleh
Notaris, baik :
- Teknik Pembuatan Akta
- bentuk akta otentik yang diharuskan Pasal 38 UUJN
- tiada mmelanggar ketentuan larangan dalam pembuatan akta
Kalau menyangkut Perubahan AD/Data PT
- tidak melanggar UU PT / KUHD
- tidak melanggar AD PT
- tidak melanggar Peraturan/Surat Edaran Menteri Hukum dan HAM RI
sehubungan dengan Perubahan AD PT
tetapi tetap disidik, bahkan kemudian dipidana.
Contoh Kriminalisasi Notaris
a) Notaris Tjondro Santoso di Surakarta
-

yang dibuat adalah PKR RUPS LB PT Perubahan Pengurus


(Komisaris) dikeluarkan walaupun ia Pemegang Saham (minoritas)
RUPS kourum telah terpenuhi

b) Notaris Stefanus di Surabaya


-

yang memalsu identitas adalah penghadapnya tetapi Notarisnya


yang kemudian dihukum, dianggap telah memasukkan
keterangan palsu ke dalam akta otentik (akta Notaris), padahal
yang memalsukan identitas penghadapnya

2. Jelaskan sejauh mana tanggung jawab Notaris sehubungan dengan legalisasi


Kuasa Menjual (atas bidang tanah tertentu)
Jawaban :
- Tanggung jawab notaries hanya sebatas menjamin yang tanda tangan
adalah orang yang bersangkutan dalam hal ini proses tanda tangannya
semua harus dilakukan di hadapan Notaris
- kalau kemudian Kuasa Jual (atas bidang tanah) yang dilegalisir Notaris,
dalam hal pembubuhan tanda tangannya tidak di hadapan Notaris, maka
Notaris bisa dipertanggungjawabkan secara perdata dan/ pidana dalam
hal ada pihak yang merasa dirugikan .

3. Apa yang dimaksud dengan kewajiban ingkar Notaris, bagaimana biasanya


sikap Kepolisian mengenai hal tersebut ?
Jawaban :
- Notaris berkewajiban merahasiakan isi akta dan semua keterangan
yang disampaikan penghadap dalam rangka pembuatan akta serta
semua data/dokumen yang dilekatkan pada minuta akta
- Dalam hal kewajiban ingkar notaries, sikap kePolisian biasanya
berpedoman kepada KUHPidana dan UU Kepolisian. Yang menyatakan
bahwa siapapun tidak terkecuali (termasuk Notaris) harus
menyampaikan/memberikan keterangan yang diminta Kepolisian dalam
rangka penyidikan
- Hakim lah yang kemudian yang berwenang untuk mengabulkan/tidak
mengabulkan terhadap Notaris untuk menggunakan hak/kewajiban
ingkar tersebut
4. Apakah kalau ketentuan Pasal 16 huruf C sudah dipenuhi, apakah kemudian
minuta aktanya tidak perlu dijempol (dalam hal penghadap/para penghadap
tidak bisa tanda tangan)
Jawaban :
Ketentuan Pasal 16 huruf C UU no. 2 tahun 2014 memuat tentang keharusan
melampirkan kertas tersendiri yang ada cap ibu jari penghadap/para
penghadap
- dalam hal penghadap tidak dapat menandatangani akta, maka minuta
aktanya tetap harus dijempol untuk menggantikan peran tanda tangan
sebagai bentuk persetujuan terhadap apa yang diuraikan dalam akta
- bila ada penghadap yang tidak bisa tanda tangan maka harus
dijelaskan alasannya dalam bentuk catatan
5. Apa yang dimaksud dengan legal standing dan berilah 2 (dua) contoh dimana
legal standing tidak terpenuhi dalam komparisi
Jawaban :
Legal stending adalah kewenangan bertindak

Contoh :
a. CV membeli bidang tanah yang bersertifikat Hak Milik, Hak Guna
Bangunan, dalam hal demikian maka LS tidak terpenuhi karena CV
adalah perusahaan yang tidak memiliki kewenangan untuk memiliki
bidang tanah tertentu dengan status HM atau HGB, bahkan
sebenarnya CV itu bukan person dan bukan rechts person atau bukan
subyek hukum jadi bukan merupakan pendukung hak dan kewajiban.
b. Dalam Pendirian PT, LS tidak terpenuhi dalam hal salah satu pendiri
tidak ambil bagian saham atau pendirian PT yang merupakan
kelanjutan/perubahan atau pengembangan dari CV, namun aset CV
kurang 25% dari modal dasar yang ditentukan dalam PT sedangkan
mantan Pesero dalam CV tidak mau menambah saham yang diambil

bagian/ditempatkan atau tidak menarik seseorang yang lain untuk


turut serta menjadi Pendiri PT.
6. Apakah notaris bisa didakwa telah memasukkan keterangan palsu dalam hal
notaris membuat Akta Pernyataan Kesaksian mengenai Hak yang
sebenarnya, tetapi memang ternyata terbukti bahwa yang dinyatakan
kepada notaris yang katanya sebenarnya tersebut, ternyata adalah tidak
benar (tidak sebenarnya)
Jawaban :
apabila Notaris tersebut tidak mengetahui bahwa keterangan yang diberikan oleh
kliennya adalah keterangan palsu, maka yang berlaku adalah Pasal 266 ayat (1) KUHP:
selaku pejabat pembuat akta otentik jika tdk mengetahui perihal tidak benarnya
keterangan tentang sesuatu hal itu (karena hanya disuruh), maka Pejabat Pembuat Akta
Otentik (dalam hal ini Notaris) tidak dapat didakwa (dipidana). Karna tugas notaries
hanya mencatatkan keteraangan berdasarkan kebenaran formil dari para penghadap
tapi jika perbuatan yang dilakukan notaries tersebut nyata-nyata telah diketahui umum
bahwa tindakannya tidak benar maka MPD dalam memeriksa patut menduga, demi rasa
keadilan, dan kepentingan umum, apalagi merugikan masyarakat, hendaknya dalam kasus
tersebut dapat diteruskan ke penyidik.
Mengacu pada ketentuan Pasal 55 ayat (1) angka 1 Kitab Undang-Undang Hukum
Pidana (KUHP)yang mengatur mengenai pidana penyertaan, seseorang dapat dipidana
sebagai pelaku tindak pidana, yaitu bagi:mereka yang melakukan, yang menyuruh melakukan,
dan yang turut serta melakukan perbuatan.
Dalam hal seorang Notaris membuat atau bekerja sama dan menandatangani suatu akta palsu
atau akta proforma (akta pura-pura), maka terhadap Notaris tersebut dapat dikenakan pidana
penyertaan pemalsuan akta sebagaimana diatur dalam Pasal 55 ayat (1) angka 1 jo Pasal 264
ayat (1) KUHP.
Unsur-unsur yang harus terpenuhi untuk Notaris tersebut dapat dijerat dengan pidana pemalsuan
akta sebagaimana diatur dalam Pasal 264 ayat (1) KUHP