Anda di halaman 1dari 4

SURAT UNTUK NONA BENNETT

SURAT PERTAMA
Aku menulis surat ini bukan bermaksud untuk mengingatkanmu atas kejengkalanmu padaku.
Dari semua senjata di dunia, aku tahu cintalah senjata yang paling berbahaya. Karena aku
sudah terluka olehnya. Aku tak ingat kapan aku jatuh begitu dalam pada mantramu, nona
Bennett. Seandainya aku bisa perbaiki cara pandangku dan perkataanku yang telah
membangkitkan amarahmu, aku sudah berada begitu jauh saat kemudian aku sadar aku ingin
memulainya. Tapi aku orang bodoh yang sangat banggasaat itu. Aku harus menghadapi
kenyataan pahit ini, bahwa aku tidak akan pernah mendapatkan cintamu. Jadi aku
akan mencari pelipur lara dengan cara bertempur. Aku menulis surat ini di tengah
serbuan di London. Jika kami gagal, mereka akan mencapai Jembatan Hingham. Jika
itu terjadi maka bendungannya telah runtuh, dan mereka semakin dekat dengan
kita. Nona Bennett, aku memintamu untuk bersiap.
--- Dikutip dari film "Pride and Prejudice and Zombies" --- Dengan sedikit
perubahan...

SURAT KEDUA
Nona Bennett, ini adalah surat kedua yang aku tuliskan padamu. Sebenarnya aku tak lagi ingin
menulis surat seperti ini, sebab aku ingin sekali berada dihadapanmu dan memperbaiki segala
hal yang telah rusak diantara kita. Sebelumnya kau adalah sahabatku yang menyenangkan. Ada
kalanya memperolok diriku, begitu pula sebaliknya. Walau terkadang itu menyakitkan, tapi di
saat-saat seperti itulah aku bisa menikmati betapa indah matamu dan betapa terlalu cantik
wajahmu untuk dilahirkan ke dunia yang kejam ini. Membuatku merasa seolah aku
adalah utusan Tuhan untuk melindungi dirimu, selalu berjaga selayaknya pengawal
seorang putri. Jika Tuhan memang tak ijinkan aku jadi pangeranmu.

Nona Bennett, aku merasa perlu kutuliskan surat ini, sebab saat ini aku tak lagi yakin
bisa pulang ke rumah dengan selamat karena saat ini kami benar-benar terjepit
mempertahankan Jembatan Hingham. Sekali lagi aku berharap kau telah bersiap
untuk menghadapi segala kemungkinan yang terjadi jika seandainya Jembatan ini
runtuh. Sebab seperti hari-hari yang telah berlalu, tidak ada yang lebih kuharapkan
selain keselamatanmu dan kebahagianmu. Kutuliskan surat ini diantara ketakutan
para prajurit yang sedang berjaga di malam hari, jadi maafkan jika tak seindah yang
seharusnya surat-surat cinta dibuat. Namun ketahuilah, malam ini kulihat di angkasa
timur bersinar terang sebuah bintang kejora. Mengingatkanku pada mitos Bangsa
Viking di masa kuno, di mana jika seorang pria mati karena melindungi kekasih

hatinya, maka ia akan menjadi bintang di cakrawala. Bersinang terang sepanjang


malam untuk memberi cahaya pada kegelapan yang dilalui kekasihnya. Kuharap aku
akan menjadi bintang yang seperti itu jika Tuhan memang mengijinkan.

Nona Bennett, kucoba tulis surat yang pendek namun dapat menyentuh hatimu, dan
berharap membuatmu bisa mengerti bahwa aku bukanlah seorang pria yang seburuk
kau kira sebelumnya. Namun aku tak bisa lakukan itu, maka jadilah surat ini yang
begitu panjang dengan ratusan kata. Tidak lain maksudnya adalah agar dalam
segala keegoisan dan keangkuhan yang kumiliki, aku coba merendah pada hatimu
dan membujukmu untuk memberikan maafmu. Dan selebihnya Nona Bennett, aku
tak perduli meski ratusan kata ini tidak kau selesaikan membacanya lalu kau buang
begitu saja. Sebab dalam surat ini aku masih tak bisa hilangkan sedikit sisa dari
keangkuhanku. Kuharap kau mengerti betapa angkuhnya aku, sebab karena hal itu
pulalah aku sangat angkuh untuk mencintaimu meski kutahu takkan pernah
kudapatkan cinta darimu. Bahkan meski pernah kau katakan untuk lupakan cintaku
padamu dengan cara pelan-pelan saja.
--- Terinspirasi dari film "Pride and Prejudice and Zombies", namun semua isi tulisan
adalah tulisanku. Khusus untukmu ....... ---

SURAT KETIGA
Nona Bennet, ini surat ketiga yang aku layangkan. Sungguh ganjil memang rasanya, jika aku
masih kirimkan sebuah surat lagi, sebab dua surat sebelumnya tidak ada balasan darimu.
Mungkin ini menunjukkan sesuatu, bahwa hanya kepadamu aku turunkan sedikit harga diriku.
Atau lebih tepatnya banyak, bukan sedikit saja. Dan apa kabar dirimu di Kota London saat ini?
Semoga baik-baik saja.

Mungkin kau sudah dengar kabar, bahwa pasukan kita segera pulang. Sebab peperangan yang
mencekik kita di hari-hari sebelumnya, telah berakhir dengan datangnya bala bantuan para
militan dari Oxford dan pasukan kavaleri dari York. Hal itu bukan hanya sebagai pertanda bahwa
aku akan pulang ke rumah, tapi juga sebagai pertanda bahwa aku harus segera menemuimu
untuk meminta maaf secara langsung. Ketahuilah jika hari-hari sebelumnya aku takut Jembatan
Hingham runtuh, namun saat ini aku tetap takut, bukan pada musuh, melainkan jika aku nanti
ada di rumah. Sungguh semalaman aku berpikir keras, bagaimana caranya menyiapkan katakata yang indah dan sempurna saat berbicara denganmu nanti di rumah. Sebab seperti
biasanya, aku hanyalah pria yang angkuh dan kaku, apalagi di hadapan wanita secantik dirimu.

Pastinya aku akan salah tingkah lalu lidahku menjadi kelu. Bahkan hingga kutulis surat ini, aku
masih tidak tahu bagaimana caranya aku akan mengetuk pintu rumahmu.

Namun dengan datangnya surat ini padamu dan surat-surat sebelumnya, sebenarnya aku telah
mengetuk pintu. Tetapi bukan pintu rumahmu, melainkan langsung pada pintu hatimu. sayang
sekali, surat sebelumnya tidak ada yang kau balas, itu jadi pertanda bahwa pintu hatimu tidak
terbuka untukku. Kuharap surat kali ini, akan berbeda cara kau menanggapinya.

Nona Bennett, surat ini kutulis saat kami baru saja melintasi Sungai Thames ketika matahari
persis berada di ufuk barat. Beberapa saat kemudian gelap gulita melanda jalanan yang kami
tempuh, lalu kami mulai memasang kemah. Aku berharap sekali saat pulang nanti tidak seperti
itu. Aku ingin masuk ke pintu gerbang kota saat pagi hari. Dan ada dirimu yang menunggu di
balik gerbang itu dengan senyuman manismu yang hanya khusus untukku. Namun kusadari, itu
sepertinya sebuah mimpi yang terlalu berlebihan. Setidaknya Nona Bennett, saat aku sampai di
rumah, kau berkenan hadir di acara pesta dansa yang seperti biasanya jika kita baru saja
menang dalam perang. Tetapi sekali lagi, aku minta maaf lebih dulu Nona Bennett, jika aku tak
mengajakmu berdansa atau bahkan jika sama sekali tak kupalingkan wajahku menghadap
wajahmu yang cantik dengan gaun putih seperti biasanya kulihat. Atau bahkan jika kau temui
aku sedang duduk menyendiri dengan menggenggam gelas berisi Vodka, itu bukan berarti tak
ada dirimu dihatiku saat itu. Ketahuilah bahwa jika kupandangi gelas yang kugenggam, aku
seolah memandang wajahmu. Dan caraku mengagumi kecantikanmu adalah dengan
menenggak cinta di dalamnya hingga mabuk berat.

Kemudian Nona Bennett, jika aku sudah mabuk berat, pasti akan berakhir dengan dua pilihan,
pertama aku akan tertidur di jalanan. Dan sudah bisa dipastikan bahwa aku akan bermimpi
menikah denganmu di altar gereja. Dan pilihan yang kedua, aku dirampok oleh orang-orang
jahat, dan pastinya aku akan melawan meski mabuk berat. Malaikat maut bisa saja
menjemputku, atau setidaknya aku terluka parah. Sebab itulah diriku, pria angkuh dan sombong
dengan sedikit saja kelebihan.

Kuceritakan semua isi hatiku di dalam surat ini dan segala kemungkinan yang akan terjadi,
bukan berarti aku meratap padamu dan minta belas kasih atau ibamu. Melainkan hanya satu hal,
aku ingin kamu tahu bahwa tidak ada di dunia ini pria yang segila aku dalam mencintaimu.
Bahkan mungkin tidak akan ada hingga tujuh kehidupan berikutnya. Aku mencintaimu dengan
segenap isi hatiku dan dengan segenap sikapku yang kaku saat di hadapanmu, Nona Bennett.
Selebihnya, kau artikan sendiri saja ke mana sebenarnya arah dari tulisanku, dalam surat yang
panjang ini. Surat yang mungkin saja akan kau buang ke tempat sampah.

--- Terinspirasi dari film "Pride and Prejudice and Zombies", namun semua isi tulisan adalah
tulisanku. Khusus untukmu, sebab aku sangat mencintaimu ....... ---