Anda di halaman 1dari 29

SATUAN ACARA PENYULUHAN KESEHATAN

PERSIAPAN PRE DAN POST OPERASI


DI RUANG MERAK RSUD DR. SOETOMO
SURABAYA

Disusun Oleh:
Anis Ernawati

131523143025

Rachmad Handani

131523143030

Hardini Rahma Palupi

131523143031

Yan Laras M. M

131523143037

C. Ketut Subiyanto

131523143042

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2016

SATUAN ACARA PENYULUHAN


Bidang Studi

: Keperawatan Maternitas

Tema

: Persiapan Pre dan Post Operasi

Sasaran

: Pasien dan keluarga pasien di Ruang Merak RSUD Dr.


Soetomo Surabaya

Tempat

: Ruang tunggu di Merak RSUD Dr. Soetomo Surabaya

Waktu

: 45 menit

Hari/Tanggal

: Kamis, 4 Agustus 2016

I.

Tujuan Instruksional Umum


Setelah mengikuti kegiatan penyuluhan diharapkan pasien dan
keluarga pasien dapat memahami dan mengerti tentang persiapan pre operasi
dan post operasi.

II.

Tujuan Instruksional Khusus


Setelah diberikan penyuluhan selama 45 menit tentang persiapan pre
dan post operasi, diharapkan pasien dan keluarga pasien mampu:
1. Menjelaskan pengertian operasi
2. Menjelaskan tujuan persiapan pre operasi
3. Menjelaskan persiapan pasien sebelum operasi
4. Menjelaskan perawatan pasien setelah operasi

III.

Metode
1. Ceramah
2. Tanya Jawab

IV.

Media
1.

LCD proyektor

2.

Leaflet

V.

Materi
1. Pengertian operasi
2. Tujuan persiapan pre operasi
3. Persiapan pasien sebelum operasi
4. Persiapan pasien setelah operasi

VI.

Pelaksanaan
NO.

WAKTU

1.

2 menit

KEGIATAN

KEGIATAN PESERTA

PENYULUHAN
Pembukaan
1. Penyampaian salam

1. Membalas salam

2. Perkenalan

2. Mendengarkan

3. Menjelaskan topik

3. Mendengarkan

penyuluhan
4. Menjelaskan tujuan

4. Mendengarkan

5. Kontrak waktu

5. Mendengarkan

dan

menyetujui
2.

30 menit

Penyajian materi
1. Menggali
peserta

pengetahuan 1. Menjawab pertanyaan


mengenai

persiapan pre dan post

dan

mengemukakan

pendapat

operasi
2. Pengertian operasi

2. Memperhatikan

dan

mendengarkan
3. Tujuan

persiapan

operasi

pre 3. Memperhatikan
mendengarkan

4. Persiapan pasien sebelum 4. Memperhatikan


operasi

6. Diskusi (tanya jawab)

dan

mendengarkan

5. Persiapan pasien pasca 5. Memperhatikan


operasi

dan

dan

mendengarkan
6. Bertanya
mengemukakan
pendapat

dan

3.

10 menit

Evaluasi
1. Mengevaluasi kembali

1. Menjawab pertanyaan

pengetahuan peserta
mengenai materi yang
telah disampaikan
2. Umpan balik

2. Memperhatikan

dan

mendengarkan
4.

3 menit

Terminasi
1. Menyimpulkan hasil

1. Memperhatikan

penyuluhan

mendengarkan

2. Mengucapkan

terima 2. Memperhatikan

kasih

dan

mendengarkan

3. Mengakhiri dengan salam


VII.

dan

3. Menjawab salam

Pengorganisasian
1. Moderator

: Anis Ernawati, S. Kep.

2. Penyaji

: Yan Laras Malahayati M., S. Kep.

3. Fasilitator

: Rachmad Handani, S. Kep.


C. Ketut Subiyanto, S. Kep.

4. Observer
VIII.

: Hardini Rahma Palupi, S. Kep.

Uraian tugas
Observer

: Mengobservasi jalannya acara penyuluhan dari awal


sampai

akhir,

mengobservasi

performa

penyuluh,

mencatat pertanyaan dan mengobservasi keantusiasan


peserta penyuluhan.
Penyaji

: Menyampaikan materi penyuluhan yang dimulai dari


menggali pengetahuan peserta tentang mobilisasi pasca
operasi dan sesi diskusi (tanya jawab).

Moderator

: Membuka dan memimpin jalanya acara dimulai dari


pembukaan, penyampaian materi, evaluasi, dan yang
terakhir terminasi.

Fasilitator

: Memfasilitasi jalanya acara penyuluhan agar dapat

berjalan dengan baik.


IX.

Evaluasi
1.

Evaluasi Struktur
a.

Kesiapan materi

b.

Kesiapan SAP

c.

Kesiapan media: LCD dan


leaflet

d.

Penyelenggaraan

penyuluhan

dilakukan oleh mahasiswa


e.

Tempat dan alat tersedia sesuai


perencanaan

f.

Peserta

hadir

di

tempat

penyuluhan
g.

Penyelenggaraan

penyuluhan

dilaksanakan di Ruang Merak RSUD Dr. Soetomo Surabaya


h.

Pengorganisasian
penyelenggaraan penyuluhan dilakukan pada hari sebelumnya.

2.

Evaluasi Proses
a.

Fase dimulai sesuai dengan


waktu yang direncanakan.

b.

Peserta

antusias

terhadap

materi yang disampaikan oleh penyaji


c.

Peserta terlibat aktif dalam


kegiatan penyuluhan

d.

Peserta mengajukan pertanyaan


dan menjawab pertanyaan secara benar

e.

Suasana penyuluhan tertib

f.

Tidak

ada

peserta

yang

meninggalkan tempat penyuluhan


3.

Evaluasi Hasil
a.

Peserta yang datang 7 orang


atau lebih

b.

Peserta memahami materi yang


telah disampaikan oleh penyaji

c.

Ada umpan balik positif dari


peserta seperti dapat menjawab pertanyaan dengan benar yang
diajukan penyaji.

MATERI PENYULUHAN
PERSIAPAN PRE DAN POST OPERASI
1. PENGERTIAN OPERASI
Operasi merupakan tindakan pembedahan pada suatu bagian tubuh yang
mencakup fase praoperatif, intraoperatif dan pascaoperatif (postoperatif) yang
pada umumnya merupakan suatu peristiwa kompleks yang menegangkan bagi
individu yang bersangkutan.
Operasi merupakan tindakan pembedahan pada suatu bagian tubuh.
Individu dengan masalah kesehatan yang memerlukan intervensi pembedahan
mencakup pula pemberian anastesia atau pembiusan yang meliputi anastesi
lokal, regional atau umum (Smeltzer & Bare, 2002). Operasi atau pembedahan
merupakan semua tindak pengobatan yang menggunakan cara invasif dengan
membuka atau menampilkan bagian tubuh yang akan ditangani. Pembukaan
bagian tubuh ini umumnya dilakukan dengan membuat sayatan, setelah bagian
yang akan ditangani ditampilkan, dilakukan tindakan perbaikan yang diakhiri
dengan penutupan dan penjahitan luka. Perawatan selanjutnya akan termasuk
dalam perawatan pasca bedah. Tindakan pembedahan atau operasi dapat
menimbulkan berbagai keluhan dan gejala (Sjamsuhidajat, 2010).
Preoperatif adalah fase dimulai ketika keputusan untuk menjalani
operasi atau pembedahan dibuat dan berakhir ketika pasien dipindahkan ke
meja operasi (Smeltzer & Bare, 2002). Post operatif dimulai saat masuknya
klien ke ruang pasca-anestesi dan berakhir saat penyembuhan klien selesai
(Kozier & Erb, 2009).
2. TIPE OPERASI
Pembedahan dilakukan untuk berbagai alasan sebagai berikut (Smeltzer
& Bare, 2008):
a. Diagnostik, seperti dilakukan biopsi atau laparatomi eksplorasi
b. Kuratif, seperti ketika mengeksisi masa tumor atau mengangkat apendiks
yang inflamasi
c. Reparatif, seperti memperbaiki luka yang multipel

d. Rekonstruktif atau Kosmetik, seperti perbaikan wajah


e. Paliatif, seperti ketika harus menghilangkan nyeri atau memperbaiki
masalah, contoh ketika selang gastrostomi dipasang untuk mengkompensasi
terhadap kemampuan untuk menelan makanan
Menurut Smeltzer & Bare (2008), pembedahan dibagi menjadi 3
macam yaitu pembedahan menurut faktor resiko yang ditimbulkan,
pembedahan menurut tujuannya dan berdasarkan urgensinya.
a. Pembedahan menurut faktor resiko yang ditimbulkan:
1) Minor
Merupakan pembedahan yang menimbulkan trauma fisik yang minimal
dengan resiko kerusakan yang minimal. Contohnya insisi dan drainase
kandung kemih atau sirkumsisi
2) Mayor
Merupakan pembedahan yang dapat menimbulkan trauma fisik yang
luas, resiko kematian yang serius. Contohnya adalah laparotomi total,
bedah caesar, mastektomi, bedah torak, bedah otak.
b. Pembedahan menurut tujuannya
1) Mengetahui penyakit yang diderita seperti ketika dilakukan biopsi atau
laparotomi eksplorasi
2) Pengobatan untuk menyembuhkan penyakit seperti ketika mengeksisi
massa tumor atau mengangkat apendiks yang mengalami inflamasi
3) Memperbaiki deformitas atau menyambung daerah yang terpisah
4) Mengurangi gejala tetapi tidak menyembuhkan

seperti ketika

menghilangkan nyeri
5) Memperbaiki bentuk tubuh seperti ketika melakukan perbaikan wajah
3. PERSIAPAN PASIEN PRE OPERASI
Persiapan yang baik selama periode operasi membantu menurunkan
resiko operasi dan meningkatkan pemulihan pasca bedah. Tujuan tindakan
keperawatan preoperasi dimaksudkan untuk kebaikan bagi pasien dan
keluarganya yang meliputi:

a. Menunjukkan rasa takut dan cemasnya hilang atau berkurang (baik


ungkapan secara verbal maupun ekspresi muka.
b. Dapat menjelaskan dan mendemonstrasikan mobilisasi yang dilakukan
setelah tindakan operasi.
c. Terpelihara keseimbangan cairan, elektrolit dan nutrisi.
d. Tidak terjadi vomitus karena aspirasi selama pasien dalam pengaruh
anestesi.
e. Tidak ada atau berkurangnya kemungkinan terjadi infeksi setelah tindakan
operasi.
f. Mendapatkan istirahat yang cukup.
g. Menjelaskan tentang prosedur operasi, jadwal operasi serta menanda tangani
inform consent.
h. Kondisi fisiknya dapat dideteksi selama operasi berlangsung.
Tindakan keperawatan preoperatif merupakan tindakan yang dilakukan
oleh perawat dalam rangka mempersiapkan pasien untuk dilakukan tindakan
pembedahan dengan tujuan untuk menjamin keselamatan pasien intraoperatif.
Persiapan fisik maupun pemeriksaan penunjang serta persiapan mental sangat
diperlukan karena kesuksesan suatu tindakan pembedahan klien berawal dari
kesuksesan persiapan yang dilakukan selama tahap persiapan. Kesalahan yang
dilakukan pada saat tindakan preoperatif apapun bentuknya dapat berdampak
pada tahap-tahap selanjutnya, untuk itu diperlukan kerjasama yang baik antara
masing-masing komponen yang berkompeten untuk menghasilkan outcome
yang optimal, yaitu kesembuhan pasien secara paripurna. Pengakajian secara
integral dari fungsi pasien meliputi fungsi fisik biologis dan psikologis sangat
diperlukan untuk keberhasilan dan kesuksesan suatu operasi. Berbagai
persiapan fisik yang harus dilakukan terhadap pasien sebelum operasi menurut
Brunner & Suddarth (2008), antara lain :
a. Persiapan Fisik
1) Status kesehatan fisik secara umum
Sebelum dilakukan pembedahan, penting dilakukan pemeriksaan
status kesehatan secara umum, meliputi identitas klien, riwayat penyakit

seperti kesehatan masa lalu, riwayat kesehatan keluarga, pemeriksaan


fisik lengkap, antara lain status hemodinamika, status kardiovaskuler,
status pernafasan, fungsi ginjal dan hepatik, fungsi endokrin, fungsi
imunologi, dll. Selain itu pasien harus istirahat yang cukup, karena
dengan istirahat dan tidur yang cukup pasien tidak akan mengalami stres
fisik, tubuh lebih rileks sehingga bagi pasien yang memiliki riwayat
hipertensi, tekanan darahnya dapat stabil dan bagi pasien wanita tidak
akan memicu terjadinya haid lebih awal.
2) Kebersihan lambung dan kolon
Lambung dan kolon harus dibersihkan terlebih dahulu sebelum
melakukan pembedahan. Refluks esophagus mudah terjadi terutama pada
permulaan anesthesia sehingga dapat terjadi aspirasi isi lambung yang
merupakan suatu penyulit berbahaya pernah menimbulkan pneumonia
yang tidak mudah diatasi. Intervensi keperawatan yang bisa diberikan
diantaranya

adalah

pasien

dipuasakan

dan

dilakukan

tindakan

pengosongan lambung dan kolon dengan tindakan enema/lavement.


Lamanya puasa berkisar antara 7 sampai 8 jam (biasanya puasa
dilakukan mulai pukul 24.00 WIB). Tujuan dari pengosongan lambung
dan kolon adalah untuk menghindari aspirasi (masuknya cairan lambung
ke paru-paru) dan menghindari kontaminasi feses ke area pembedahan
sehingga menghindarkan terjadinya infeksi pasca pembedahan. Khusus
pada pasien yang menbutuhkan operasi CITO (segera), seperti pada
pasien kecelakaan lalu lintas. Maka pengosongan lambung dapat
dilakukan dengan cara pemasangan NGT (naso gastric tube).
3) Keseimbangan cairan dan elektrolit
Balance cairan perlu diperhatikan dalam kaitannya dengan input
dan output cairan. Demikian juga kadar elektrolit serum harus berada
dalam rentang normal. Kadar elektrolit yang biasanya dilakuakan
pemeriksaan diantaranya dalah kadar natrium serum (normal : 135 -145
mmol/l), kadar kalium serum (normal : 3,5/5 mmol/l) dan kadar kreatinin
serum (0,70/1,50 mg/dl). Keseimbangan cairan dan elektrolit terkait erat
dengan fungsi ginjal. Dimana ginjal berfungsi mengatur mekanisme asam

basa dan ekskresi metabolit obat-obatan anastesi. Jika fungsi ginjal baik
maka operasi dapat dilakukan dengan baik. Namun jika ginjal mengalami
gangguan seperti oliguri/anuria, insufisiensi renal akut, nefritis akut maka
operasi harus ditunda menunggu perbaikan fungsi ginjal. Kecuali pada
kasus-kasus yang mengancam jiwa. Pada penderita diabetes mellitus, jika
perlu dilakukan koreksi kadar gula darah dan ketonuria. Penyulit pasca
bedah paling banyak terjadi di paru. Perokok harus berhenti merokok
sekurang-kurangnya satu minggu sebelum rencana operasi.
4) Status Nutrisi
Kebutuhan nutrisi ditentukan dengan mengukur tinggi badan dan
berat badan, lipat kulit trisep, lingkar lengan atas, kadar protein darah
(albumin dan globulin) dan keseimbangan nitrogen. Segala bentuk
defisiensi nutrisi harus di koreksi sebelum pembedahan untuk
memberikan protein yang cukup untuk perbaikan jaringan. Kondisi gizi
buruk dapat mengakibatkan pasien mengalami berbagai komplikasi pasca
operasi dan mengakibatkan pasien menjadi lebih lama dirawat di rumah
sakit. Komplikasi yang paling sering terjadi adalah infeksi pasca operasi,
dehisiensi (terlepasnya jahitan sehingga luka tidak bisa menyatu), demam
dan penyembuhan luka yang lama. Pada kondisi yang serius pasien dapat
mengalami sepsis yang bisa mengakibatkan kematian.
5) Pencukuran daerah operasi
Pencukuran pada daerah operasi ditujukan untuk menghindari
terjadinya infeksi pada daerah yang dilakukan pembedahan karena
rambut yang tidak dicukur dapat menjadi tempat bersembunyi kuman dan
juga mengganggu/menghambat proses penyembuhan dan perawatan luka.
Meskipun demikian ada beberapa kondisi tertentu yang tidak
memerlukan pencukuran sebelum operasi, misalnya pada pasien luka
incisi pada lengan. Tindakan pencukuran (scheren) harus dilakukan
dengan hati-hati jangan sampai menimbulkan luka pada daerah yang
dicukur. Sering kali pasien di berikan kesempatan untuk mencukur
sendiri agar pasien merasa lebih nyaman. Daerah yang dilakukan
pencukuran tergantung pada jenis operasi dan daerah yang akan

dioperasi. Biasanya daerah sekitar alat kelamin (pubis) dilakukan


pencukuran jika yang dilakukan operasi pada daerah sekitar perut dan
paha. Misalnya : apendiktomi, herniotomi, uretrolithiasis, operasi
pemasangan plate pada fraktur femur, hemmoroidektomi. Selain terkait
daerah pembedahan, pencukuran pada lengan juga dilakukan pada
pemasangan infus sebelum pembedahan, sedangkan operasi pada daerah
kepala dilakukan pencukuran sekitar 1,5 - 2 cm dari daerah yang akan
dilakukan operasi.
6) Personal Hygine
Kebersihan tubuh pasien sangat penting untuk persiapan operasi
karena tubuh yang kotor dapat merupakan sumber kuman dan dapat
mengakibatkan infeksi pada daerah yang dioperasi. Kulit tubuh harus
bersih, penderita harus mandi atau dimandikan dengan larutan sabun atau
larutan antiseptic, seperti klorheksidin atau larutan yang mengandung
yodium. Pada pasien yang kondisi fisiknya kuat dianjurkan untuk mandi
sendiri dan membersihkan daerah operasi dengan lebih seksama.
Sebaliknya jika pasien tidak mampu memenuhi kebutuhan personal
hygiene secara mandiri maka perawat akan memeberikan bantuan
pemenuhan kebutuhan personal hygiene.
7) Pengosongan kandung kemih
Pengosongan kandung kemih dilakukan dengan melakukan
pemasangan kateter. Selain untuk pengongan isi bladder tindakan
kateterisasi juga diperluka untuk mengobservasi balance cairan.
8) Latihan Pre Operasi
Berbagai latihan sangat diperlukan pada pasien sebelum operasi,
hal ini sangat penting sebagai persiapan pasien dalam menghadapi
kondisi pasca operasi, seperti: nyeri daerah operasi, batuk dan banyak
lendir pada tenggorokan. Latihan yang diberikan pada pasien sebelum
operasi antara lain:
a) Latihan Nafas Dalam
Latihan nafas dalam sangat bermanfaat bagi pasien untuk mengurangi
nyeri setelah operasi dan dapat membantu pasien relaksasi sehingga

pasien lebih mampu beradaptasi dengan nyeri dan dapat meningkatkan


kualitas tidur. Selain itu teknik ini juga dapat meningkatkan ventilasi
paru dan oksigenasi darah setelah anastesi umum. Dengan melakukan
latihan tarik nafas dalam secara efektif dan benar maka pasien dapat
segera mempraktekkan hal ini segera setelah operasi sesuai dengan
kondisi dan kebutuhan pasien.
b) Latihan Batuk Efektif
Latihan batuk efektif juga sangat diperlukan bagi klien terutama klien
yang mengalami operasi dengan anstesi general. Karena pasien akan
mengalami pemasangan alat bantu nafas selama dalam kondisi
teranstesi. Sehingga ketika sadar pasien akan mengalami rasa tidak
nyaman pada tenggorokan. Dengan terasa banyak lendir kental di
tenggorokan. Latihan batuk efektif sangat bermanfaat bagi pasien
setalah operasi untuk mengeluarkan lendir atau sekret tersebut. Pasien
dapat dilatih melakukan teknik batuk efektif dengan cara : Pasien
condong ke depan dari posisi semifowler, jalinkan jari-jari tangan
dan letakkan melintang diatas incisi sebagai bebat ketika batuk.
Kemudian pasien nafas dalam seperti cara nafas dalam (3-5 kali)
c) Latihan Gerak Sendi
Latihan gerak sendi merupakan hal sangat penting bagi pasien
sehingga setelah operasi, pasien dapat segera melakukan berbagai
pergerakan yang diperlukan untuk mempercepat proses penyembuhan.
Pasien/keluarga pasien seringkali mempunyai pandangan yang keliru
tentang pergerakan pasien setalah operasi. Banyak pasien yang tidak
berani menggerakkan tubuh karena takut jahitan operasi sobek atau
takut luka operasinya lama sembuh. Pandangan seperti ini jelas keliru
karena justru jika pasien selesai operasi dan segera bergerak maka
pasien akan lebih cepat merangsang usus (peristaltik usus) sehingga
pasien akan lebih cepat kentut/flatus. Keuntungan lain adalah
menghindarkan penumpukan lendir pada saluran pernafasan dan
terhindar dari kontraktur sendi dan terjadinya dekubitus. Tujuan
lainnya adalah memperlancar sirkulasi untuk mencegah stasis vena

dan menunjang fungsi pernafasan optimal. Intervensi ditujukan pada


perubahan posisi tubuh dan juga Range of Motion (ROM).
b. Persiapan penunjang
Berbagai macam pemerikasaan laboratorium diperlukan terutama
pemeriksaan masa perdarahan (bledding time) dan masa pembekuan
(clotting time) darah pasien, elektrolit serum, Hemoglobin, protein darah,
dan hasil pemeriksaan radiologi berupa foto thoraks dan EKG.
1) Pemeriksaan Radiologi dan diagnostik, seperti : Foto thoraks, abdomen,
foto tulang (daerah fraktur), USG (Ultra Sono Grafi), CT scan
(computerized Tomography Scan) , MRI (Magnrtic Resonance Imagine),
BNO-IVP, Renogram, Cystoscopy, Mammografi, CIL (Colon in Loop),
EKG/ECG (Electro Cardio Grafi), ECHO, EEG (Electro Enchephalo
Grafi), dll.
2) Pemeriksaan Laboratorium, berupa pemeriksan darah : hemoglobin,
angka leukosit, limfosit, LED (laju enap darah), jumlah trombosit,
protein total (albumin dan globulin), elektrolit (kalium, natrium, dan
chlorida), CT BT, ureum kretinin, BUN, dll. Bisa juga dilakukan
pemeriksaan pada sumsun tulang jika penyakit terkaut dengan kelainan
darah.
3) Biopsi, yaitu tindakan sebelum operasi berupa pengambilan bahan
jaringan tubuh untuk memastikan penyakit pasien sebelum operasi.
Biopsi biasanya dilakukan untuk memastikan apakah ada tumor
ganas/jinak atau hanya berupa infeksi kronis saja.
4) Pemeriksaan Kadar Gula Darah (KGD)
Pemeriksaan KGD dilakukan untuk mengetahui apakah kadar gula darah
pasien dalan rentang normal atau tidak. Uji KGD biasanya dilakukan
dengan puasa 10 jam (puasa jam 10 malam dan diambil darahnya jam 8
pagi) dan juga dilakukan pemeriksaan KGD 2 jam PP (post prandial).
5) Pemeriksaan Status Anastesi
Pemeriksaaan status fisik untuk dilakukan pembiusan dilakukan untuk
keselamatan selama pembedahan. Sebelum dilakukan anastesi demi
kepentingan pembedahan, pasien akan mengalami pemeriksaan status

fisik yang diperlukan untuk menilai sejauh mana resiko pembiusan


terhadap diri pasien. Pemeriksaan yang biasa digunakan adalah
pemeriksaan dengan menggunakan metode ASA (American Society of
Anasthesiologist). Pemeriksaan ini dilakukan karena obat dan teknik
anastesi pada umumnya akan mengganggu fungsi pernafasan, peredaran
darah dan sistem saraf.
6) Informed Consent
Selain dilakukannya berbagai macam pemeriksaan penunjang
terhadap pasien, hal lain yang sangat penting terkait dengan aspek hukum
dan tanggung jawab dan tanggung gugat, yaitu Informed Consent. Baik
pasien maupun keluarganya harus menyadari bahwa tindakan medis,
operasi sekecil apapun mempunyai resiko. Oleh karena itu setiap pasien
yang akan menjalani tindakan medis, wajib menuliskan surat pernyataan
persetujuan dilakukan tindakan medis (pembedahan dan anestesi).
Meskipun mengandung resiko tinggi tetapi seringkali tindakan operasi
tidak dapat dihindari dan merupakan satu-satunya pilihan bagi pasien.
Dalam

kondisi

nyata,

tidak

semua

tindakan

operasi

mengakibatkan komplikasi yang berlebihan bagi klien. Bahkan seringkali


pasien dapat pulang kembali ke rumah dalam keadaan sehat tanpa
komplikasi atau resiko apapun segera setelah mengalami operasi.
Tentunya hal ini terkait dengan berbagai faktor seperti: kondisi nutrisi
pasien yang baik, cukup istirahat, kepatuhan terhadap pengobatan,
kerjasama yang baik dengan perawat dan tim selama dalam perawatan.
Informed Consent sebagai wujud dari upaya rumah sakit
menjunjung tinggi aspek etik hukum, maka pasien atau orang yang
bertanggung jawab terhadap pasien wajib untuk menandatangani surat
pernyataan persetujuan operasi. Artinya apapun tindakan yang dilakukan
pada pasien terkait dengan pembedahan, keluarga mengetahui manfaat
dan tujuan serta segala resiko dan konsekuensinya. Pasien maupun
keluarganya sebelum menandatangani surat pernyataan tersebut akan
mendapatkan informasi yang detail terkait dengan segala macam
prosedur pemeriksaan, pembedahan serta pembiusan yang akan dijalani.

Jika

petugas

belum

menjelaskan

secara

detail,

maka

pihak

pasien/keluarganya berhak untuk menanyakan kembali sampai betulbetul paham. Hal ini sangat penting untuk dilakukan karena jika tidak
maka penyesalan akan dialami oleh pasien/keluarga setelah tindakan
operasi yang dilakukan ternyata tidak sesuai dengan gambaran keluarga.
7) Persiapan Mental/Psikis
Persiapan mental merupakan hal yang tidak kalah pentingnya
dalam proses persiapan operasi karena mental pasien yang tidak siap atau
labil dapat berpengaruh terhadap kondisi fisiknya. Masalah mental yang
biasa muncul pada pasien preoperasi adalah kecemasan. Maka perawat
harus mengatasi permasalahan yang sedang dihadapi klien. Perawat perlu
mengkaji mekanisme koping yang biasa digunakan oleh pasien dalam
menghadapi stres. Disamping itu perawat perlu mengkaji hal-hal yang
bisa digunakan untuk membantu pasien dalam menghadapi masalah
ketakutan dan kecemasan preoperasi, seperti adanya orang terdekat,
tingkat perkembangan pasien, faktor pendukung/support system. Untuk
mengurangi/ mengatasi kecemasan pasien, perawat dapat menanyakan
hal-hal yang terkait dengan persiapan operasi, antara lain : Pengalaman
operasi sebelumnya, persepsi pasien dan keluarga tentang tujuan/alasan
tindakan operasi, Pengetahuan pasien dan keluarga tentang persiapan
operasi baik fisik maupun penunjang, Pengetahuan pasien dan keluarga
tentang situasi/kondisi kamar operasi dan petugas kamar operasi.,
Pengetahuan pasien dan keluarga tentang prosedur (pre, intra, post
operasi), Pengetahuan tentang latihan-latihan yang harus dilakukan
sebelum operasi dan harus dijalankan setalah operasi, seperti: latihan
nafas dalam, batuk efektif, ROM, dll. Persiapan mental yang kurang
memadai dapat mempengaruhi pengambilan keputusan pasien dan
keluarganya. Sehingga tidak jarang pasien menolak operasi yang
sebelumnya telah disetujui dan biasanya pasien pulang tanpa operasi dan
beberapa hari kemudian datang lagi ke rumah sakit setelah merasa sudah
siap dan hal ini berarti telah menunda operasi yang mestinya sudah
dilakukan beberapa hari/minggu yang lalu. Oleh karena itu persiapan

mental pasien menjadi hal yang penting untuk diperhatikan dan didukung
oleh keluarga/orang terdekat pasien. Persiapan mental dapat dilakukan
dengan bantuan keluarga dan perawat. Kehadiran dan keterlibatan
keluarga sangat mendukung persiapan mental pasien. Keluarga hanya
perlu mendampingi pasien sebelum operasi, memberikan doa dan
dukungan pasien dengan kata-kata yang menenangkan hati pasien dan
meneguhkan keputusan pasien untuk menjalani operasi.
4. PERAWATAN PASIEN POST OPERASI
Selama fase postoperasi, aktivitas keperawatan meliputi mengkaji
respons klien (fisiologis dan psikologis) terhadap pembedahan, melakukan
intervensi untuk memfasilitasi penyembuhan dan mencegah komplikasi,
memberikan penyuluhan dan memberikan dukungan kepada klien dan individu
pendukungnya, serta merencanakan perawatan di rumah. Tujuan dari fase ini
adalah membantu klien untuk mencapai status kesehatan paling optimal yang
dapat diraih.
Tahapan perawatan pasca operasi (Majid et al, 2011):
a. Pemindahan pasien dari kamar operasi ke ruang pemulihan
Pemindahan pasien ke ruang pemulihan harus mempertimbangkan posisi
agar pasien tidak berbaring pada posisi yang menyumbat drain atau selang
drainase.
b. Perawatan pasien di ruang pemulihan
Pasien dirawat sementara di ruang pemulihan sampai kondisi pasien stabil,
tidak mengalami komplikasi operasi dan memenuhi syarat untuk
dipindahkan ke ruang perawatan/bangsal. Alat monitoring digunakan untuk
menilai kondisi pasien yang meliputi pemantauan hemodinamika. Kriteria
penilaian

yang

digunakan

untuk

pemindahan

pasien

ke

ruang

perawatan/bangsal meliputi fungsi pulmonal yang tidak terganggu, hasil


oksimetri menunjukkan saturasi oksigen adekuat, tanda-tanda vital stabil,
orientasi pasien pada tempat, waktu dan orang, urin output tidak kurang dari
30 ml/jam, mual dan muntah terkontrol, nyeri minimal (Majid et al, 2011).

c. Perawatan pasien di ruang rawat/bangsal


Ketika pasien sudah dipindahkan ke bangsal, yang harus perawat lakukan
adalah (Majid et al, 2011):
a. Monitor tanda-tanda vital dan keadaan umum pasien, drainase,
tube/selang dan komplikasi
b. Manajemen luka
c. Mobilisasi dini
Mobilisasi dini yang dapat dilakukan meliputi ROM (Range of Motion),
nafas dalam dan batuk efektif yang penting untuk mengaktifkan kembali
fungsi neuromuskuler dan mengeluarkan sekret dan lendir. Intervensi
atau tindakan yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pengembalian
fungsi tubuh dan mengurangi nyeri, pasien dianjurkan melakukan
mobilisasi dini, yaitu latihan gerak sendi, gaya berjalan, toleransi
aktivitas sesuai kemampuan dan kesejajaran tubuh. Ambulasi dini pasca
laparatomi dapat dilakukan sejak di ruang pulih sadar (recovery room)
dengan miring kanan/kiri dan memberikan tindakan rentang gerak secara
pasif. Menurut penelitian mobilisasi dini pasca operasi laparatomi dapat
dilakukan secara bertahap, setelah operasi, pada 6 jam pertama pasien
harus tirah baring dulu. Mobilisasi dini yang bisa dilakukan adalah
menggerakkan lengan, tangan, menggerakkan ujung jari kaki dan
memutar pergelangan kaki, mengangkat tumit, menegangkan otot betis
serta menekuk dan menggeser kaki. Setelah 6-10 jam, pasien diharuskan
untuk dapat miring ke kiri dan ke kanan untuk mencegah thrombosis
(pembekuan darah didalam pembuluh darah) dan jendalan darah atau
tromboemboli. Setelah 24 jam pasien dianjurkan untuk dapat mulai
belajar duduk. Setelah pasien dapat duduk, dianjurkan untuk belajar
berjalan. Latihan ambulasi dini dapat meningkatkan sirkulasi darah yang
akan memicu penurunan nyeri dan penyembuhan luka lebih cepat. Terapi
latihan dan mobilisasi merupakan modalitas yang tepat untuk
memulihkan fungsi tubuh bukan saja pada bagian yang mengalami
cedera tetapi juga pada keseluruhan anggota tubuh. Terapi latihan dapat

berupa latihan pasif dan aktif, terapi latihan juga dapat berupa miring
kanan kiri, duduk dan berjalan sedini mungkin untuk meningkatkan
kemampuan aktivitas mandiri.
Beberapa tujuan dari mobilisasi menurut penelitian antara lain:
mempertahankan fungsi tubuh, memperlancar perdaran darah, membantu
pernafasan

menjadi

lebih

baik,

mempertahankan

tonus

otot,

memperlancar eliminasi alvi (buang air besar) dan urin, mengembalikan


aktivitas tertentu sehingga pasien dapat kembali normal atau dapat
memenuhi kebutuhan gerak harian, memberi kesempatan perawat dan
pasien untuk berinteraksi atau komunikasi.
Pergerakan akan mencegah kekakuan otot dan sendi sehingga juga
mengurangi nyeri, menjamin kelancaran peredaran darah, memperbaiki
pengaturan metabolisme tubuh, mengembalikan kerja fisiologis organorgan vital yang pada akhirnya justru akan mempercepat penyembuhan
pasien. Menggerakkan badan atau melatih kembali otot-otot dan sendi
pascaoperasi di sisi lain akan memperbugar pikiran dan mengurangi
dampak negatif dari beban psikologis yang tentu saja berpengaruh baik
juga terhadap pemulihan fisik. Keberhasilan mobilisasi dini dalam
mempercepat pemulihan pasca pembedahan telah dibuktikan dalam
penelitian terhadap pemulihan peristaltik usus pada pasien pasca
pembedahan. Dimana hasil penelitiannya mengatakan bahwa mobilisasi
diperlukan bagi pasien pasca pembedahan untuk membantu mempercepat
pemulihan usus dan mempercepat penyembuhan dan pemulihan pasien.
d. Rehabilitasi
Rehabilitasi diperlukan oleh pasien untuk memulihkan kondisi pasien
kembali. Rehabilitasi dapat berupa berbagai macam latihan spesifik yang
diperlukan untuk memaksimalkan kondisi pasien seperti sedia kala.
e. Discharge planning

Merencanakan kepulangan pasien dan memberikan informasi kepada


klien dan keluarganya tentang hal hal yang perlu dihindari dan dilakukan
sehubungan dengan kondisi/penyakit pasca operasi.

a. Nutrisi
Karena tidak adanya kontraindikasi, pemberian nutrisi secara enteral
lebih dipilih dibanding rute parenteral, khususnya jika terdapat
komplikasi infeksi (Kudsk, 1992; Moore, 1992). Keuntungan lain dari
nutrisi enteral adalah penurunan biaya penyembuhan (Nehra, 2002).
Setelah operasi telah ditemukan efektif, dimulai sesegera mungkin
setelah operasi. Makan segera setelah operasi telah menunjukkan
peningkatan

penyembuhan

luka,

merangsang

motilitas

usus,

menurunkan stasis usus, meningkatkan aliran darah usus, dan


merangsang refleks sekresi hormon gastrointestinal yang dapat
mempermudah kerja usus setelah operasi (Anderson, 2003; Braga,
2002; Correia, 2004; Lewis, 2001). Keputusan inisiasi makan
sesegera mungkin dengan cairan atau makanan lunak telah diteliti
secara prospektif (Jeffery, 1996). Pada pasien yang diberikan makanan
lunak sebagai makanan pertama setelah operasi. Sesudah penderita
sadar, pada pascaoperasi ia dapat menggerakkan lengan dan kakinya,
dan tidur miring apabila hal itu tidak dihalangi oleh infus yang
diberikan kepadanya. Tidak ada ketentuan yang pasti kapan ia bisa
duduk, keluar dari tempat tidur, dan berjalan. Hal itu, tergantung dari
jenis operasi, kondisi badannya, dan komplikasi-komplikasi yang
mungkin timbul. Di Indonesia keperluan early ambulation tidak
seberapa mendesak karena disini bahaya tromboflebitis pascaoperasi
tidak besar. Pada umumnya pengangkatan jahitan pada laparatomi
dilakukan pada hari ke-7 pascaoperasi untuk sebagian dan
diselesaikan pada hari ke-10. Secara umum, untuk mempercepat
proses penyembuhan dan pemulihan kondisi pasien pasca operasi,
perlu kita perhatikan tips di bawah ini:

(1) Makan makanan bergizi, misalnya: nasi, lauk pauk, sayur, susu,
buah.
(2) Konsumsi makanan (lauk-pauk) berprotein tinggi, seperti: daging,
ayam, ikan, telor dan sejenisnya.
(3) Minum sedikitnya 8-10 gelas per hari.
(4) Usahakan cukup istirahat.
b. Mobilisasi bertahap hingga dapat beraktivitas seperti biasa. Makin
cepat makin bagus.
(1) Mandi seperti biasa, yakni 2 kali dalam sehari.
(2) Kontrol secara teratur untuk evaluasi luka operasi dan pemeriksaan
kondisi tubuh.
(3) Minum obat sesuai anjuran dokter.
5. KOMPLIKASI PASCA OPERASI
Komplikasi yang dapat muncul pada pasien pasca operasi meliputi:
a. Pernafasan
Komplikasi pernafasan yang dapat muncul termasuk hipoksemia yang tidak
terdeteksi, bronkhitis, bronkopneumonia, pneumonia lobaris, kongesti
pulmonal hipostatik (Smeltzer & Bare, 2001).
b. Kardiovaskuler
Komplikasi kardiovaskuler yang dapat terjadi misalnya hipotensi. Hipotensi
merupakan tekanan darah systole kurang dari 70 mmHg atau turun lebih
dari 25% dari nilai sebelumnya. Hipotensi dapat disebabkan oleh
hipovolemia yang diakibatkan oleh perdarahan, penyakit kardiovaskuler dan
reaksi obat maupun reaksi transfusi (Baradero et al, 2008).
c. Perdarahan
Penatalaksanaan perdarahan seperti halnya pada pasien syok. Pasien
diberikan posisi terlentang dengan posisi tungkai kaki membentuk sudut 20
derajat dari tempat tidur sementara lutut harus dijaga tetap lurus.
Manifestasi klinis meliputi gelisah, gundah, terus bergerak, merasa haus,
kulit dingin, basah dan pucat, nadi meningkat, suhu turun, pernafasan cepat
dan dalam, bibir dan konjungtiva pucat dan pasien melemah.

d. Hipertermi maligna
Hipertermi maligna terjadi akibat gangguan otot yang disebabkan oleh agen
anastetik. Selama anastesi, agen anastesi inhalasi (haloten, enfluran) dan
relaksan otot (suksinilkolin) dapat memicu terjadinya hipertermi malignan.
e. Hipotermi
Hipotermi yang tidak diinginkan dapat terjadi akibat suhu rendah di kamar
operasi, infus dengan cairan yang dingin, inhalasi gas-gas dingin, aktivitas
otot yang menurun, usia lanjut atau obat-obatan yang digunakan.

DAFTAR PUSTAKA
Baradero, Mary, et al, 2008, Keperawatan Perioperatif, Jakarta: EGC
Effendy, Christantie, 2002, Handout Kuliah Keperawatan Medikal Bedah:
Preoperatif Nursing, Yogyakarta: tidak dipublikasikan
Gruendeman, Barbara J, and Bilie Fernsebner, 2006, Buku ajar keperawatan
perioperatif volume 2, Jakarta: EGC
Hidayat, A, Aziz, A, 2007, Riset Keperawatan dan Teknik Pemulihan Ilmiah,
Jakarta: Salemba Medika
Majid, Abdul et al, 2011, Keperawatan Perioperatif edisi 1, Yogyakarta: Goysen
Publishing
Sjamsuhidajat, R. & De Jong, W., 2010, Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi Revisi,
Jakarta: EGC
Smelzer, S.C & Bare, B.G, 2008, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah,
Jakarta: EGC
Shodiq, Abror, 2004, Operating Room, Instalasi Bedah Sentral RS dr. Sardjito
Yogyakarta: tidak dipublikasikan

DAFTAR HADIR PESERTA PENYULUHAN


Ruang

: Merak RSUD Dr. Soetomo Surabaya

Hari/tanggal

: Kamis, 4 Agustus 2016

Jam/Waktu

: 09.00 09.30 / 30 menit

No
1

Nama peserta

Alamat

TTD
1

2
3

2
3

4
5

4
5

6
7

6
7

8
9

8
9

10
11

10
11

12
13

12
13

14
15

14
15

16
17
18

16
17
18

19

19

20
21

20
21

22
23

22
23

24
25

24
25

LEMBAR OBSERVASI PELAKSANAAN PENYULUHAN MAHASISWA


PROGRAM PENDIDIKAN NERS FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS AIRLANGGA

Kriteria Stuktur
a. Kontrak waktu dan
tempat
satu hari

diberikan
sebelum

Kriteria Proses

SAP

dilakukan satu hari


sebelum pelaksanaan
penyuluhan
c. Peserta hadir pada
tempat yang telah
ditentukan
d. Penyelenggaraan

Pembukaan:
a. Mengucapkan

salam

dan

hadir 10
orang

dan

b. Acara dimulai
tepat waktu

memperkenalkan diri
tujuan

maksud penyuluhan
c. Menjelaskan kontrak waktu dan
mekanisme
d. Menyebutkan materi penyuluhan
Pelaksanaan:
a. Menggali

Pengetahuan

dan

Pengalaman sasaran penyuluhan

penyuluhan
dilakukan

oleh

tentang operasi
b. Menjelaskan materi penyuluhan

mahasiswa
bekerjasama dengan

berupa :

Tim PKRS RSUD

1. Pengertian operasi

Dr.

2. Tujuan persiapan pre operasi

Soetomo

Surabaya di ruang
Merak RSUD Dr.
Soetomo Surabaya
e. Pengorganisasian
penyelenggaraan
penyuluhan
dilakukan

sebelum

3. Persiapan

pasien

sebelum

pasien

setelah

operasi
4. Persiapan
operasi
Memberikan
sasaran

kesempatan
penyuluhan

kepada
untuk

dan saat penyuluhan

mengajukan pertanyaan mengenai

dilaksanakan

materi yang disampaikan


c. Menjawab

Pengorganisasian

Kritera Hasil
a. Peserta yang

b. Menyampaikan

acara dilakukan
b. Pengumpulan

pertanyaan

yang

diajukan oleh peserta penyuluhan

c. Peserta
mengikuti
acara sesuai
dengan aturan
yang
disepakati
d. Peserta
memahami
materi yang
telah
disampaikan
dan menjawab
pertanyaan
dengan benar

penyelenggaraan

d. Peserta antusias dalam mengikuti

penyuluhan dilakukan
sebelum

dan

saat

penyuluhan
e. Peserta

mendengarkan

penyuluhan

memperhatikan

dilaksanakan

dengan seksama

dan

penyuluhan

Catatan Evaluasi :

Observer

(..................................................)

LEMBAR NOTULEN
Kegiatan
Topik
Hari, Tanggal
Tempat
Waktu

: Penyuluhan Tindakan Operasi


: Persiapan Pre dan Post Operasi
: Kamis, 4 Agustus 2016
: Ruang Merak RSUD Dr. Soetomo Surabaya
: 30 menit

Jam

Kegiatan Diskusi
1. Nama Penanya
...........................................................................................................................
Pertanyaan
...........................................................................................................................
...........................................................................................................................
...........................................................................................................................
Jawaban
...........................................................................................................................
...........................................................................................................................
...........................................................................................................................
...........................................................................................................................
...........................................................................................................................
2. Nama Penanya
...........................................................................................................................
Pertanyaan
...........................................................................................................................
...........................................................................................................................
...........................................................................................................................
Jawaban
...........................................................................................................................
...........................................................................................................................
...........................................................................................................................
...........................................................................................................................
...........................................................................................................................
3. Nama Penanya
...........................................................................................................................
Pertanyaan
...........................................................................................................................
...........................................................................................................................
...........................................................................................................................
Jawaban
...........................................................................................................................
...........................................................................................................................
...........................................................................................................................
...........................................................................................................................

...........................................................................................................................
4. Nama Penanya
...........................................................................................................................
Pertanyaan
...........................................................................................................................
...........................................................................................................................
...........................................................................................................................
Jawaban
...........................................................................................................................
...........................................................................................................................
...........................................................................................................................
...........................................................................................................................
Surabaya, 4 Agustus 2016

Notulen

(..................................................)