Anda di halaman 1dari 33

1

BAB 1
PENDAHULUAN
Thalasemia adalah penyakit kelainan darah yaitu anemia hemolitik
herediter yang diturunkan secara autosomal resesif dengan disebabkan oleh defek
genetik pada pembentukan rantai globin.Penyakit ini baru muncul pada seseorang
apabila ia memiliki dua gen talasemia yang berasal dari kedua orang tuanya yaitu
satu dari ayah dan satu dari ibu.
Berdasarkan data terakhir dari Badan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)
menyebutkan 250 juta penduduk dunia (4,5%) membawa genetik Thalasemia.
Dari 250 juta, 80-90 juta di antaranya membawa genetik Thalasemia Beta.1
Sementara itu di Indonesia Jumlah penderita Thalasemia hingga tahun
2009 naik menjadi 8, 3 persen dari 3.653 penderita yang tercatat pada tahun 2006.
Hampir 90% para penderita penyakit genetik sintesis Hemoglobin (Hb) ini berasal
dari kalangan masyarakat miskin.
Saat ini, penyakit thalasemia merupakan penyakit genetika yang cukup
banyak di Indonesia. Frekuensinya terus meningkat per tahun. Walupun begitu,
masyarakat tidak menaruh perhatian yang cukup besar terhadap penyakit yang
sudah menjadi salah satu penyakit genetika terbanyak ini. Hal ini disebabkan
karena gejala awal dari penyakit sangat umum. Padahal gejala akhir yang
ditimbulkan akan sangat fatal jika tidak ditangani secara akurat, cepat, dan tepat.
Melihat kenyataan ini, maka sebaiknya kita harus mewaspadai dengan cara
mengetahui dengan benar informasi tentang penyakit ini, sehingga penyakit ini
dapat diidentifikasi dan penanganannya pun dapat dilakukan secara dini dengan
cara yang tepat.

BAB 2
STATUS PASIEN
I.

ANAMNESIS
A. Identitas
1) Identitas Pasien
Nama

: An. N

Jenis Kelamin

: Perempuan

Umur

: 10 tahun

Alamat

: Windajaya

Agama

: Islam

Tanggal pemeriksaan : 26 April 2016


2) Identitas Orang tua pasien
Nama ayah

: Tn. S

Umur

: 40 tahun

Pendidikan

: SLTP

Pekerjaan

: Buruh

Hubungan

: Ayah kandung

Nama Ibu

: Ny. M

Umur

: 37 tahun

Pendidikan

: SD

Pekerjaan

: IRT

Hubungan

: Ibu kandung

B. Keluhan Utama
Lemas
C. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang diantar oleh ibumya dengan keluhan lemas yang
dirasakan sejak 2 hari yang lalu. Menurut ibunya pasien tampak pucat,
mudah letih, anak malas untuk beraktifitas/ bermain bersama teman ,
badan anak terasa nglemeng terus menerus, kejang (-), pusing, dada
berdebar debar (+), sakit kepala (-), perut terasa penuh dan membesar,

nafsu makan kurang, makan dan minum sulit terutama sayuran dan berat
badan tidak naik- naik, BB turun (-), nyeri pada tulang (-), pilek (-), batuk
(-), sesak napas (-), diare (-), mual (-), muntah (-), mimisan (-), gusi
berdarah (-), keluar cairan dari telinga (-), BAB dbn, tidak ditemukan
cacing, darah (-),BAK dbn, tidak berwarna merah atau coklat, anak
gampang sekali sakit, anak terlihat kurang bergairah serta tidak selincah
anak seusianya yang normal.
1 bulan yang lalu pasien dirawat di RSUD Waled dengan keluhan
tampak pucat, dan lemas. pasien dirawat selama 2 hari dan mendapat
tranfusi darah 1 labu. Kemudian pasien kontrol ke poli anak dan dokter
meminta untuk melakukan pemeriksaan laboraturium lebih lanjut dengan
hasil terlampir.
Hari masuk rumah sakit keluhan anak masih menetap, anak tampak
pucat dan semakin lemas, badan panas tapi kedua kaki dingin, riwayat
trauma (-).
D. Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien mengalami keluhan seperti ini sejak usia 4 bulan, menurut
ibu pada awalnya anak terlihat pucat, lemas dan sering muntah, lalu
ibu membawa pasien ke dokter spesialis anak, dan diberitahu tentang
penyakitnnya. Hingga sampai saat ini ibu membawa pasien untuk rutin
melakukan pemeriksaan setiap bulan ke poliklinik anak yang
selanjutnya dirawat inap untuk transfusi darah. Paseien menyangkal
adanya sakit kuning, maupun riwayat pengobatan 6 bulan,
E. Riwayat Penyakit Keluarga
Anggota keluarga dan lingkungan sekitar yang sakit dengan
keluhan yang sama di sangkal. Ibu pasien sempat melakukan pengobata
paru selama 6 bulan dan sudah tunas pengobatan sebelum mengandung
pasien. Riwayat anggota keluarga menderita sakit kuning, keganasan, dan
kelainan darah disangkal
F. Riwayat kehamilan dan persalinan

ANC : kontrol teratur di bidan sejak usia kehamilan 3 bulan, muntah


muntah berlebih (-), sakit kepala berat (-), riwayat trauma (-), minum
tablet penambah darah dan vitamin (-), minum obat obatan bebas (-),
riwayat terkena raddiasi (-).
NC

: anak lahir spontan, cukup bulan ditolong oleh bidan presentasi

kepala, menangis, BBL: 2100 gram, PB: 50 cm. Tidak ada tanda tanda
ikterik, sianosis pada anak
PNC

: rutn kontrol di bidan untuk timbang badan dan imunisasi.

G. Riwayat Makanan
0-4 bulan : ASI saja, semau bayi
4-6 bulan : ASI dan susu formula
6-9 bulan : ASI, tim saring, susu formula, buah
9-12 bulan: ASI, bubur, susu formula, buah
1

th- sekarang: ASI sampai usia 2 tahun, nasi, sayur, lauk pauk, buah

H. Riwayat tumbuh kembang


0 3 bulan
3 6 bulan
6 9 bulan
9 12 bulan
12 - 18 bulan
18 24 bulan
24 36 bulan

: bereaksi dan mengoceh spontan


: mulai memegang benda disekitarnya
: mulai dapat membalikan tubuh
: mencoba bisa duduk
: mecoba berdiri dan berjalan dengan bantuan
: sudah mulai bisa berjalan sendiri
: mulai berjalan lebih lama

I. Riwayat Imunisasi
Imunisasi
Hep. B
BCG
DPT-HB
Polio
Campak
II. PEMERIKSAAN FISIK

Awal
Usia 1 hari
Usia 1 bulan
Usia 2 bulan
Usia 1 bulan
Usia 9 bulan

Kesan Umum

: tampak pucat

Kesadaran

: Composmentis

Keadaan Umum

: tampak sakit sedang

Tanda Vital

: Tekanan darah

Ulangan
Usia 3 dan 4 bulan
Usia 2,3 dan 4 bulan

: 100/70 mmHg

Nadi

: 88 x/menit, regular, isi kuat

Frekuensi Napas

: 22 x/menit

Suhu

: 36,3 0C

Status antopometri

BB : 33 kg

TB : 136 cm

IMT = 18,47

Kesan : Gizi kurang


Status Generalis
Kulit

: turgor kulit baik, terlihat pucat

Kepala

: bentuk simetris, distribusi rambut merata

Wajah

: bentuk wajah simetris dan pucatpenonjolan dahi (-), pipi


menonjol (+)

Mata

: conjunctiva anemis (+/+), sclera ikterik (-/-), edema


palpebra (-/-) jarak ke dua mata jauh (-)

Hidung

: tidak ditemukan adanya epistaksis, discharge (-/-)


deformitas (-)Nasal bridge (-),

Mulut

: sianosis (-), mukosa bibir basah.

Tenggorokan : faring hiperemis (-), tonsil membesar (-)


Telinga: deformitas (-/-), secret (-/-), perdarahan (-/-)
Leher

: tidak ditemukan adanya pembesaran kelenjar tiroid


maupun limfonodi

Thoraks

: Anterior

Inspeksi

: normotorak, simetris, retraksi (-), lesi (-)

Palpasi

: NT -, ekspansi pernapasan simetris

Perkusi

: sonor di semua lapang paru

Auskultasi

: Cor BJ1 dan BJ2 reguler, M (-), G (-)


Pulmo Vesikular Breath Sound disemua lapang
paru, ronkhi (-/-), whezing (-/-)

Abdomen

inspeksi

: datar, supel, lesi (-)

auskultasi

: BU(+) normal

perkusi

: timpani di semua regio

palpasi

:supel, nyerti tekan (-), lien Schuffner III I

Ekstremitas

: tidak ditemukan adanya luka, ujung-ujung jari


tampakpucat, akral agak teraba dingin

Kulit
III.

: petekie (-), lesi (-)

RESUME
Pasien pemepuan datang diantar oleh ibumya dengan keluhan
lemas yang dirasakan sejak 2 hari yang lalu. pasien tampak pucat, mudah
letih, anak malas untuk beraktifitas/ bermain bersama teman , badan anak
terasa nglemeng terus menerus, nafsu makan kurang, makan dan minum
sulit terutama sayuran dan berat badan tidak naik- naik, 1 bulan yang lalu
pasien dirawat di RSUD Waled dengan keluhan tampak pucat, dan lemas.
pasien dirawat selama 2 hari dan mendapat tranfusi darah 1 labu.
Kemudian pasien kontrol ke poli anak dan dokter meminta untuk
melakukan pemeriksaan laboraturium lebih lanjut dengan hasil terlampir.
Pada

pemeriksaan

fisik didapatkan

pasien tampak pucat,

konjungtiva anemis, dada berdebar, serta palpasi abdomen teraba lien


shufner I
1V. DIAGNOSIS BANDING
a. ThalasemiaMayor
b. Leukemia
c. Anemia defisiensi besi
d. Anemia penyakit kronis

V. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan adalah pemeriksaan darah rutin,
untuk memonitor tanda-tanda adanya infeksi, memonitor kadar Hb untuk indikasi
transfusi darah.

Hemoglobin 5,8 gr %
Hematokrit 18 %
Trombosit 234.000 mm3
Leukosit 4.000 mm3
MCV 71 mikro m3
MCH 23 pg
MCHC 33 g/dl
Eritrosit 2.500 mm
Eosinophil 0 %
Basophil 0%
Neutrofil batang 0 %
Neutrofil segmen 47 %
Limfosit 43 %
Monosit 10%
Gambaran Darah Tepi
Eritrosit

: Mikrositik hipokromik, anisopoikilositosis, ditemukan sel


target, fragmentosit

Leukosit

: kesan jumlah dan morfologi dalam batas normal

Trombosit

: kesan jumlah dan morfologi dalam batas normal

Kesan

: Anemia mikrositik hipokromik

VI. DIAGNOSIS KERJA


Thalasemia

VII. PENATALAKSANAAN
Diet: tinggi kalori tinggi protein
InfuseNacl 9% 4 tpm
Tranfusi PRC 500 cc
I : 250 cc

II: 250 cc
Fermiprox 1x1
Asam Folat 1x1
Furosemid 17mg IV post transfusi
Cek darah rutin post transfusi
Observasi TTV, tanda tanda reaksi transfusi

BAB 3
TINJAUAN PUSTAKA
A. Hemopoiesis

Proses pembentukkan sel darah yaitu hemopoiesis. Proses pembentukkan


darah pertama kali terjadi pada fase prenatal yaitu di yolk sac (kantung kuning
telur) pada janin usia 0-2 bulan, kemudian fase selanjutnya pada hepar dan lien
pada janin usia 2-7 bulan, dan pada fase lanjut di sumsum tulang mulai janin usia
5-9 bulan. Pada post natal, pembentukan utama terjadi di sumsum tulang. Pada
bayi dan anak, hematopoisis yang aktif terutama pada sumsum tulang termasuk
bagian distal tulang panjang, hal ini berbeda dengan dewasa dimana hematopoisis
terbatas pada vertebra, costae, sternum, pelvis, scapula, dan jarang berlokasi pada
humerus dan femur. Pada keadaan patologis (sumsum tulang sudah tidak
berfungsi atau adanya kebutuhan yang meningkat), pembentukan dapat terjadi di
nodus limfatikus, lien, timus, hepar. Pembentukan darah di luar sumsum tulang ini
disebut hemopoisis ekstra meduler.
Proses pembentukkan darah dimulai dari sel induk pluripoten yang
berdiferensiasi menjadi sel induk limfoid dan sel progenitor myeloid campuran
yang kemudian berdiferensiasi lagi.

10

Darah terdiri dari berbagai komponen yang penting, antara lain sel darah
merah (eritosit), sel darah putih (leukosit), keping darah (trombosit) serta plasma.
Fungsi leukosit adalah untuk melindungi tubuh terhadap infeksi. Fungsi dari
trombosit adalah untuk mekanisme pembekuan darah sedangkan eritrosit
membawa satu protein yaitu hemoglobin yang berfungsi dalam mengikat O2 di
paru, membawanya ke peredaran darah dan melepaskannya ke sel dan jaringan
tubuh.
Hemoglobin (Hb) tersusun atas heme yang merupakan cincin porfirin
dalam ikatan dengan Fe dan globulin yang merupakan protein pendukung. Satu
molekul hemoglobin mengandung 4 sub-unit. Masing-masing sub-unit tersusun
atas satu molekul globin dan satu molekul heme.

11

Globulin terdiri atas 2 pasang rantai polipeptida, yaitu sepasang rantai dan
sepasang rantai non alpha (,,). Kombinasi rantai polipeptida tersebut akan
menentukan jenis hemoglobin. Hb A1(22) merupakan lebih dari 96 % Hb total,
Hb F (22) kurang dari 2% dan Hb A2 (22) kurang dari 3%.
Rantai polipeptida tersusun atas 141 asam amino, sedangkan rantai non
tersusun atas 146 asam amino. Sintesis rantai disandi oleh gen 1 dan gen 2 di
kromosom 16, sedangkan gen yang mensintesis rantai , rantai dan rantai
terletak di kromosom 11.

12

Pada orang normal sintesis rantai sama dengan rantai non alpha.
Sejak masa embrio, janin, anak hingga dewasa, sel darah merah memiliki 6
hemoglobin, antara lain :

Hemoglobin embrional (Hb Gower1, Hb Gower2, Hb Portland)

Hemoglobin fetal (Hb-F)

Hemoglobin dewasa (Hb-A1, Hb-A2)

Hemoglobin embrional :
Selama masa gestasi 2 minggu pertama, eritoblas primitif dalam yolc sack
membentuk rantai globin epsilon () dan zeta (Z) yang membentuk Hb primitif
yaitu Hb Gower1 (Z22). Selanjutnya mulailah sintesis rantai menggantikan
rantai Z dan rantai menggantikan rantai sehingga membentuk Hb Gower2, Hb
Portland. Pada masa gestasi 4-8 minggu yang ditemukan adalah Hb Gower 1 dan
Hb Gower 2 dan menghilang pada masa gestasi 3 bulan.
Hemoglobin Fetal
Migrasi sel pruripoten stem sel dari yolc sack ke hati diikuti sintesi Hb fetal
yang merupakan awal sintesis rantai Hb . Setelah masa gestasi 8 minggu, muncul
Hb-F yang paling dominan dan setelah janin berusia 6 bulan merupakan 90% Hb
terdiri dari Hb-F dan kemudian menurun menjelang kelahiran, setelah bayi lahir
dan setelah usia 6-12 bulan, HbF tetap ada tapi hanya ditemukan sedikit.
Hemoglobin Dewasa
Pada masa embrio, telah dideteksi HbA karena telah terjadi proses
perubahan sintesis rantai menjadi rantai dan selanjutnya globin meningkat

13

dan pada masa gestasi 6 bulan ditemukan HbA 5-10% dan waktu lahir 30%.
Menginjak usia 6-12 bulan Hb sudah memperlihatkan gambaran Hb dewasa yaitu
HbA1 dan HbA2 dan sedikit HbF
Struktur kimia hemoglobin memungkinkan molekul hemoglobin memiliki
kemampuan untuk mengikat oksigen secara reversible. Zat besi dalam molekul
heme secara langsung berfungsi sebagai pengikat oksigen. Hemoglobin memiilki
struktur kuartener empat rantai polipeptida, masing-masing dengan satu tempat
pegikatan oksigen. Sehingga satu molekul hemoglobin dapat mengikat 4 molekul
oksigen.
B. Definisi
Thalasemia berasal dari bahasa Yunani yaitu thalasso yang berarti laut.
Pertama kali ditemukan oleh seorang dokter Thomas B. Cooley tahun 1925 di
daerah Laut Tengah, dijumpai pada anak-anak yang menderita anemia dengan
pembesaran limfa setelah berusia satu tahun. Anemia dinamakan splenic atau
eritroblastosis atau anemia mediteranean atau anemia Cooley sesuai dengan nama
penemunya (Ganie, 2005).
Thalasemia adalah suatu penyakit keturunan yang diakibatkan oleh
kegagalan pembentukan salah satu dari empat rantai asam amino yang
membentuk hemoglobin, sehingga hemoglobin tidak terbentuk sempurna. Tubuh
tidak dapat membentuk sel darah merah yang normal, sehingga sel darah merah
mudah rusak atau berumur pendek kurang dari 120 hari dan terjadilah anemia
(Herdata.N.H. 2008 dan Tamam.M. 2009).
Thalasemia adalah kelompok dari anemia herediter yang diakibatkan oleh
berkurang nya sintesis salah satu rantai globin yang mengkombinasikan
hemoglobin (HbA, 2 2). Disebut hemoglobinopathies, tidak terdapat
perbedaan kimia dalam hemoglobin. Nolmalnya HbA memiliki rantai polipeptida
dan , dan yang paling penting thalasemia dapat ditetapkan sebagai - atau
-thalassemia.3
Hemoglobin adalah suatu zat di dalam sel darah merah yang berfungsi
mengangkut zat asam dari paru-paru ke seluruh tubuh, juga memberi warna merah
pada eritrosit. Hemoglobin manusia terdiri dari persenyawaan hem dan globin.

14

Hem terdiri dari zat besi (Fe) dan globin adalah suatu protein yang terdiri dari
rantai polipeptida. Hemoglobin pada manusia normal terdiri dari 2 rantai alfa ()
dan 2 rantai beta () yang meliputi HbA (22 = 97%), sebagian lagi HbA2 (22
= 2,5%) sisanya HbF (22 = 0,5%).
C. Etiologi dan Predisposisi
Adapun

etiologi

dari

thalasemia

adalah

faktor

genetik

(herediter).Thalasemia merupakan penyakit anemia hemolitik dimana terjadi


kerusakan sel darah merah didalam pembuluh darah sehingga umur eritrosit
menjadi pendek (kurang dari 100 hari). Penyebab kerusakan tersebut karena
hemoglobin yang tidak normal (hemoglobinopatia ) dan kelainan hemoglobin
ini karena adanya gangguan pembentukan yang disebabkan oleh ;

1 Gangguan struktural pembentukan hemoglobin


abnormal) misalnya : Pada HBS,HbF, HbD.

(hemoglobin

2 Gangguan jumlah (salah satu atau beberapa )rantai globin seperti pada
thalasemia.
D. Klasifikasi
Di indonesia talasemia merupakan penyakit terbanyak di antara golongan
anemia hemolitik dengan penyebab intrakorpuskuler.
Secara molekuler thalasemia dibedakan atas :
-

Thalasemia- (gangguan pembentuakan rantai ).

Thalasemia- (gangguan pembentukan rantai ).

Thalasemia- - (gangguan pembentukan rantai dan yang letak gen


nya di duga berdekatan ).

Thalasemia (gangguan pembentukan rantai ). 4

Secara Klinis thalasemia dibedakan atas : 3


TABLE 2.4.2 klasifikasi klinis
thalasemia
Carrier
Thalassemia Trait
(-thalassemia
trait

Hematologi normal
anemia ringan dengan mikrositik dan
atau

hipokromik.

15

thalassemia trait)
Hemoglobin H Disease
(-thalassemia)
Atau
Hemoglobin HConstant Spring
Thalassemia Major
Thalassemia Intermedia

anemia hemolitik menuju ke berat


ikterus dan spleenomegali
anemia berat, hepatosleenomegali.
beberapa jenis thalasemia tanpa terapi

tranfusi regular.
Sumber : Hastings, the childrens hospital Oakland hematology/oncology
handbook
Saat ini dikenal sejumlah besar sindrom thalasemia, masing-masing melibatkan
penurunan produksi satu atau lebih rantai globin, yang membentuk bermacammacam

jenis

Hb

yang

ditemukan

pada

merah.Jenis yang paling penting dalam praktek klinis adalah

sel

darah

sindrom

yang

mempengaruhi baik atau sintesis rantai maupun .

Thalasemia-
Anemia mikrositik yang disebabkan oleh defisiensi sintesis globin- banyak d

itemukan di Afrika, negara di daerah Mediterania, dan sebagian besar Asia. Delesi
gen

globin-

menyebabkan

sebagian

besar

kelainan

ini.

Terdapat empat gen globin- padaindividu normal, dan empat bentuk thalassemia yang berbeda telah diketahui sesuai dengan delesi satu, dua, tiga, dan semua
empat gen ini.
Genotip

Jumlah

Presentasi Klinis

gen
/

-/

Hemoglobin Elektroforesis
Saat Lahir

Normal

>6 bulan
N

Silent Carrier

0-3%

Hb

N
N

--/ atau

Trait thal-

Barts
2-10%

-/-
--/-

Penyakit Hb H

Hb Barts
15-30% Hb

Hb H

--/--

Hydrops fetalis

Barts
>75%

Barts

Hb

16

a. Silent carrier thalasemia-


Merupakan tipe thalasemia subklinik yang paling umum, biasanya Ditemukan
secara kebetulan diantara populasi, seringnya pada etnik Afro-Amerika. Tardapat
2 gen yang terletak padak romosom 16. Pada tipe silent carrier, salah satu gen
pada kromosom 16 menghilang, menyisakan hanya 3 dari 4 gen tersebut.
Penderita sehat secara hematologis, hanya ditemukan adanya jumlah eritrosit (sel
darah merah) yang rendah dalam beberapa pemeriksaan. Pada tipe ini, diagnosis
tidak dapat dipastikan dengan pemeriksaan elektroforesis Hb, sehingga harus
dilakukan tes lain yang lebih canggih.
Pada tipe ini, diagnosis tidak dapat dipastikan dengan pemeriksaan
elektroforesis Hb, sehingga harus dilakukan tes lain yang lebih canggih.
Bisamjuga dicari akan adanya kelainan hematologi pada anggota keluarga
(misalnya orangtua) untuk mendukung diagnosis. Pemeriksaan darah lengkap
pada salah satu orangtua yang menunjukkan adanya hipokromia dan mikrositosis
tanpa penyebab yang jelas merupakan bukti yang cukup kuat

untuk

menuju diagnosis thalasemia.


b. Trait Thalas\semia-
Trait ini dikarakterisasi dengan anemia ringan dan jumlah sel darah merah
yang rendah. Kondisi ini disebabhkan oleh hilangnya 2 gen pada satu kromosom
16 atau satu gen pada masing-masing kromosom. Kelainan inisering ditemukan
di

Asia

Tenggara,

sub

benua

India, dan

Timur

Tengah.

Pada bayi baru lahir yang terkena, sejumlah kecil Hb Barts (4) dapat

ditemukan

pada elektroforesis Hb. Lewat umur satu bulan, Hb Barts tidak terlihat lagi, dan
kadar Hb A2 dan HbF secara khas normal.

17

Gambar . Thalasemia alpha menurut Hukum Mendel.


c. Penyakit Hb H
Kelainan disebabkan oleh hilangnya 3 gen globin , merepresentasikan
thalasemia-

intermedia,

dengan

anemia

sedang

sampai

berat,

splenomegali,ikterus, dan jumlah sel darah merah yang abnormal. Pada sediaan
apus darahtepi yang diwarnai dengan pewarnaan supravital akan tampak sel-sel
darahmerah yang diinklusi oleh rantai tetramer (Hb H) yang tidak stabil
danterpresipitasi di dalam eritrosit, sehingga menampilkan gambaran golf
ball .Badan inklusi ini dinamakan sebagai Heinz bodies.

Gambar . Pewarnaan supravital pada sapuan apus darah tepi Penyakit Hb


H yangmenunjukkan Heinz-Bodies

18

d. Thalasemia mayor
Bentuk thalassemia yang paling berat, disebabkan oleh delesi semua genglobi
n-, disertai dengan tidak ada sintesis rantai sama sekali. Karena Hb F, Hb A,
dan Hb A2 semuanya mengandung rantai , maka tidak satupun dari Hb ini
terbentuk. Hb Barts (4) mendominasi pada bayi yang menderita, dan karena 4
memiliki afinitas oksigen yang tinggi, maka bayi- bayi itu mengalami hipoksia
berat.

Eritrositnya

juga

mengandung

sejumlah

kecil Hb embrional normal (Hb Portland = 22), yang berfungsi sebagai pengangk
ut oksigen. Kebanyakan dari bayi-bayi ini lahir mati, dan kebanyakan dari bayi
yang lahir hidup meninggal dalam waktu beberapa jam. Bayi ini sangat hidropik,
dengangagal

jantung

kongestif

dan edema

anasarka

berat.

Yang

dapat hidup dengan manajemen neonatus agresif juga nantinya akan sangat
bergantung dengan transfuse.
3

Thalasemia
Sama dengan thalassemia-, dikenal beberapa bentuk klinis dari thalassemia, antaralain :
Silent carrier thalassemia-
Penderita tipe ini biasanya asimtomatik, hanya ditemukan nilai eritrosit yang
rendah. Mutasi yang terjadi sangat ringan dan mempresentasikan suatu
thalasemia-+. Bentuk silent carrier thalasemia- tidak menimbulkan kelainan
yang diidentifikasi pada individu yang heterozigot, tetapi gen intuk keadaan ini
jika diwariskan bersama-sama dengan gen unruk thalassemia-, menghasilkan
sindrom thalassemia intermedia.

19

Gambar . Thalasemia beta menurut Hukum Mendel


b

Trait thalasemia-
Penderita mengalami anemia ringan, nilai eritrosit abnormal, danelektroforesi
s Hb abnormal dimana didapatkan peningkatan jumlah Hb A2, HbF, atau
keduanya.
Individu dengan ciri (trait) thalasemia sering didiagnosis salah sebagai

anemia

defisiensi besi dan mungkin diberi terapi yang tidak tepat dengan preparat besi
selama waktu yang panjang. Lebih dari 90% individu dengantrait thalassemia-
mempunyai

peningkatan

Hb-A2

individu ini

juga mempunyai

yang

sedikit

berarti

kenaikan

(3,4%-7%).Kira-kira 50%
HbF, sekitar 2-6%.

Pada

sekelompok kecil kasus, yang benar-benar khas, dijumpai Hb A2 normal dengan


c

kadar HbF berkisar 5% sampai 15%, yang mewakili thalassemia tipe .


Thalasemia- yang terkait dengan variasi struktural rantai
Presentasi klinisnya bervariasi dari seringan thalassemia media hingga seberat
thalasemia- mayor. Ekspresi gen homozigot thalassemia (+) menghasilkan
sindrom mirip anemia Cooley yang tidak terlalu berat (thalassemia intermedia).
Deformitas skeletdan hepatosplenomegali timbul pada penderita ini, tetapi kadar
Hb mereka biasanya bertahan pada 6-8 gr/dL tanpa transfusi. Kebanyakan bentuk
thalassemia- heterozigot terkait dengan anemia ringan.Kadar Hb khas sekitar 2-3
gr/dL lebih rendah dari nilai normal menurut umur. Eritrosit adalah mikrositik
hipokromik dengan poikilositosis, ovalositosis, dan seringkali bintik-bintik
basofil. Sel target mungkin juga ditemukan tapi biasanya tidak mencolok dan

20

tidak spesifik untuk thalasemia. MCV rendah, kira-kira 65 fL, dan MCH juga
rendah (<26 pg). Penurunan ringan pada ketahanan hidup eritrosit juga dapat
diperlihatkan, tetapi tanda hemolisis biasanya tidak ada. Kadar besi serum normal
d

atau meningkat.
Thalasemia- homozigot (Anemia Cooley, Thalassemia Mayor)
Bergejala sebagai anemia hemolitik kronis yang progresif selama 6bulan
kedua kehidupan. Transfusi darah yang reguler diperlukan pada penderita ini
untuk mencegah kelemahan yang amat sangat dan gagal jantung yang disebabkan
oleh anemia. Tanpa transfusi, 80% penderita meninggal pada 5tahun pertama
kehidupan. Pada kasus yang tidak diterapi atau pada penderita yang
jarangmenerima

transfusi

pada

waktu

anemia

berat,

terjadi

hipertrofi jaringan eritropoetik disumsum tulang maupun di luar sumsum tulang.


Tulang-tulang menjadi tipisdan fraktur patologis mungkin terjadi. Ekspansi masif
sumsum tulang di wajahdan tengkorak menghasilkan bentuk wajah yang khas.

Gambar . Deformitas tulang pada thalasemia mayor (facies cooley)


Pucat, hemosiderosis, dan ikterus samasama memberi kesan coklat
kekuningan. Limpa dan hati membesar karena hematopoesis ekstrameduler dan
hemosiderosis. Pada penderita yang lebih tua, limpa mungkin sedemikian
besarnya sehingga menimbulkan ketidak nyamanan melanis dan dipersplenisme
sekunder.

21

Gambar. Splenomegali pada thalasemia.


Pertumbuhan terganggu pada anak yang lebih tua; pubertas terlambat atau
tidak terjadi karena kelainan endokrin sekunder. Diabetes mellitus yang
disebabkan oleh siderosis pancreas mungkin terjadi. Komplikasi jantung,termasuk
aritmia dan gagal jantung kongestif kronis yang disebabkan oleh siderosis
miokardium sering merupakan kejadian terminal.
Kelainan morfologi eritrosit pada penderita thalassemia- homozigot yang
tidak ditransfusi adalah ekstrem. Disamping hipokromia dan mikrositosis berat,
banyak ditemukan poikilosit yang terfragmentasi, aneh (sel bizarre) dansel target.
Sejumlah besar eritrosit yang berinti ada di darah tepi, terutama setelah
splenektomi. Inklusi intraeritrositik, yang merupakan presipitasi kelebihan rantai
, juga terlihat pasca splenektomi. Kadar Hb turun secaracepat menjadi < 5 gr/dL
kecuali mendapat transfusi. Kadar serum besi tinggidengan saturasi kapasitas
pengikat besi (iron binding capacity). Gambaran biokimiawi yang nyata adalah
adanya kadar HbF yang sangat tinggi dalam eritrosit.
E. Patofisiologi
Pada thalassemia terjadi pengurangan atau tidak ada sama sekali produksi
rantai globin satu atau lebih rantai globin. Penurunan secara bermakna kecepatan
sintesis salah satu jenis rantai globin (rantai- atau rantai-) menyebabkan rantai
globin yang tidak seimbang. Bila pada keadaan normal rantai globin yang
disintesis seimbang antara rantai dan rantai , yakni berupa 22, maka pada
thalassemia-0, dimana tidak disintesis sama sekali rantai , maka rantai globin
yang diproduksi berupa rantai yang berlebihan (4). Sedangkan pada

22

thalassemia-0, dimana tidak disintesis sama sekali rantai , maka rantai globin
yang diproduksi berupa rantai yang berlebihan (4).
a Thalassemia-
Patofisiologi Thalassemia- umumnya sama dengan yang dijumpai pada
Patofisiologi Thalassemia- kecuali beberapa perbedaan utama akibat delesi (-)
atau mutasi (T) rantai globin-. Hilangnya gen globin- tunggal (-/ atau
T/) tidak berdampak pada fenotip. Sedangkan thalassemia-2 a- homozigot (/-) atau thalassemia-1a- heterozigot ( /- -) memberi fenotip

seperti

thalassemia- carrier. Kehilangan 3 dari 4 gen globin- memberikan fenotip


tingkat penyakit berat menengah (moderat), yang dikatakan sebagai HbH disease.
Sedangkan thalassemia- 0 homozigot (--/--) tidak dapat bertahan hidup, disebut
sebagai Hb-Barts hydrops syndrome.
b

Thalassemia-
Pada Thalassemia-, dimana terdapat penurunan produksi rantai , terjadi

produksi berlebihan rantai . Produksi rantai globin , dimana pasca kelahiran


masih tetap diproduksi rantai globin 22 (HbF), tidak mencukupi untuk
mengkompensasi defisiensi 22 (HbA). Hal ini menunjukkan bahwa produksi
rantai globin dan rantai globin tidak pernah dapat mencukupi untuk mengikat
rantai yang berlebihan. Rantai yang berlebihan ini merupakan ciri khas pada
patogenesis thalassemia-.
Rantai yang berlebihan, yang tidak dapat berikatan dengan rantai globin
lainnya, akan berpresipitasi pada prekursor sel darah merah dalam sumsum tulang
dan dalam sel progenitor dalam darah tepi. Presipitasi ini akan menimbulkan
gangguan pematangan prekursor eritoid dan eritropoiesis yang tidak efektif
(inefektif), sehingga umur eritrosit menjadi pendek hingga timbul anemia.
Anemia ini akan menjadi pendorong (drive) profiferasi eritoid yang terus menerus
(intens) dalam sumsum tulang yang inefektif, sehingga menjadi ekspansi sumsum
tulang. Hal ini kemudian akan menyebabkan deformitas skeletal dan berbagai
gangguan pertumbuhan dan metabolisme. Anemia kemudian akan ditimbulkan
lagi dengan adanya hemodilusi akibat adanya hubungan langsung darah akibat
sumsum tulang yang berekspansi dan juga oleh adanya splenomegali.
Pada limpa yang membesar, makin banyak sel darah merah abnormal yang
terjebak, untuk kemudian akan dihancurkan oleh sistem fagosit. Hiperplasia

23

sumsum tulang kemudian akan meningkatkan absorpsi dan muatan besi. Transfusi
yang diberikan secara teratur juga menambah muatan besi. Hal ini akan
menyebabkan penimbunan besi yang progresif di jaringan berbagai organ yang
diikuti kerusakan organ dan diakhiri dengan kematian bila besi tidak segera
dikeluarkan (Atmakusuma dan Setyaningsih, 2009).
Penderita thalasemia memiliki gejala yang bervariasi tergantung jenis
rantai asam amino yang hilang dan jumlah kehilangannya. Penderita sebagian
besar mengalami anemia yang ringan khususnya anemia hemolitik (Tamam.M.
2009). Keadaan yang berat pada beta-thalasemia mayor akan mengalami anemia
karena kegagalan pembentukan sel darah, penderita tampak pucat karena
kekurangan hemoglobin. Perut terlihat buncit karena hepatomegali dan
splenomegali sebagai akibat terjadinya penumpukan Fe, kulit kehitaman akibat
dari meningkatnya produksi Fe, juga terjadi ikterus karena produksi bilirubin
meningkat. Gagal jantung disebabkan penumpukan Fe di otot jantung, deformitas
tulang muka, retrakdasi pertumbuhan, penuaan dini (Herdata.N.H. 2008 dan
Tamam. M. 2009).
F. Penegakan Diagnosis
A. Anamnesis
Penderita pertama datang dengan keluhan lemas anemia/pucat, tidak
nafsu makan dan perut membesar. Keluhan umumnya muncul pada usia 6
bulan, kemudian dilakukan pemeriksaan fisis yang meliputi bentuk muka
mongoloid (facies Cooley), ikterus, gangguan pertumbuhan, splenomegali dan
hepatomegali.
B. Pemeriksaan Fisik
a. Tanda vital: Tekanan darah menurun, nadi brakikardia, suhu tubuh
normal, pernapasan meningkat
b. Kulit

: pucat dan ikterus ringan

c. Jantung

: Ejection systolic murmur gr 2

d. Liver

: teraba 4 cm di bawah arcus costae dextra, konsistensi

kenyal permukaan licin


e. Spleen

: teraba 5 cm di bawah arcus costae sinistra (Schuffner III)

24

f. Limfadenopati negative
g. Gangguan pertumbuhan tulang +/C. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan laboratorium yang perlu untuk menegakkan diagnosis
thalasemia ialah:
1. Darah
Pemeriksaan darah yang dilakukan pada pasien yang dicurigai
menderita thalasemia adalah

Darah rutin
Kadar hemoglobin menurun. Dapat ditemukan peningkatan jumlah
lekosit, ditemukan pula peningkatan dari sel PMN. Bila terjadi
hipersplenisme akan terjadi penurunan dari jumlah trombosit.

Hitung retikulosit
Hitung retikulosit meningkat antara 2-8 %.

Gambaran darah tepi


Anemia pada thalassemia mayor mempunyai sifat mikrositik
hipokrom. Pada gambaran sediaan darah tepi akan ditemukan
retikulosit, poikilositosis, tear drops sel dan target sel.

Serum Iron & Total Iron Binding Capacity

25

Kedua

pemeriksaan

ini

dilakukan

untuk

menyingkirkan

kemungkinan anemia terjadi karena defisiensi besi. Pada anemia


defisiensi besi SI akan menurun, sedangkan TIBC akan meningkat.

LFT
Kadar unconjugated bilirubin akan meningkat sampai 2-4 mg%. bila
angka tersebut sudah terlampaui maka harus dipikir adanya
kemungkinan hepatitis, obstruksi batu empedu dan cholangitis.
Serum SGOT dan SGPT akan meningkat dan menandakan adanya
kerusakan hepar. Akibat dari kerusakan ini akan berakibat juga
terjadi kelainan dalam faktor pembekuan darah.

2. Elektroforesis Hb
Diagnosis definitif ditegakkan dengan pemeriksaan eleltroforesis
hemoglobin. Pemeriksaan ini tidak hanya ditujukan pada penderita
thalassemia saja, namun juga pada orang tua, dan saudara sekandung jika
ada. Pemeriksaan ini untuk melihat jenis hemoglobin dan kadar Hb A 2.
petunjuk adanya thalassemia adalah ditemukannya Hb Barts dan Hb H.
Pada thalassemia kadar Hb F bervariasi antara 10-90%, sedangkan dalam
keadaan normal kadarnya tidak melebihi 1%.

26

3. Pemeriksaan sumsum tulang


Pada sumsum tulang akan tampak suatu proses eritropoesis yang
sangat aktif sekali. Ratio rata-rata antara myeloid dan eritroid adalah 0,8.
pada keadaan normal biasanya nilai perbandingannya 10 : 3.
4. Pemeriksaan rontgen
Ada hubungan erat antara metabolisme tulang dan eritropoesis. Bila
tidak mendapat tranfusi dijumpai osteopeni, resorbsi tulang meningkat,
mineralisasi berkurang, dan dapat diperbaiki dengan pemberian tranfusi
darah secara berkala. Apabila tranfusi tidak optimal terjadi ekspansi rongga
sumsum dan penipisan dari korteknya. Trabekulasi memberi gambaran
mozaik pada tulang. Tulang terngkorak memberikan gambaran yang khas,
disebut dengan hair on end yaitu menyerupai rambut berdiri potongan
pendek pada anak besar, korteks menipis, diploe melebar dengan trabekula
tegak lurus pada korteks.Foto tulang pipih dan ujung tulang panjang :
perluasan sumsum tulang sehingga trabekula tampak jelas.

Hair on end

Trabekula tulang jelas

G. Diagnosa Banding
Thalasemia minor harus dibedakan dari penyebab lain dari mikrositik
ringan, hipokromik anemia, defisiensi besi dan -thalasemia. Berbeda dengan
penderita anemia difisiensi besi, mereka dengan -thalassemia minor memiliki
peningkatan jumlah eritrosit dan index MCV dibagi eritrosit dengan hasil di
bawah 13. Secara umum, ditemukannya peningkatan Hb A2 merupakan
diagnosis. Namun rendahnya HbA2 juga dapat disebabkan oleh defesiensi besi

27

yang terjadi secara bersamaan. Sehingga dapat mengaburkan diagnosis dan


sering salah diagnosis dengan anemia defesiensi besi.
Thalassemia major sering sangat beda dari kelainan lain. Hb elektroporesis
dan study keluarga membuktikan mudah membedakan dengan Hb E- Thalassemia, yang paling penting adalah tranfusi rutin merupakan poin penting
diagnosa -Thalassemia.
H. Penatalaksanaan
a. Medikamentosa
-

Pemberian iron chelating agent (desferoxamine): diberikan setelah kadar


feritin serum sudah mencapai 1000 mg/l atau saturasi transferin lebih 50%,
atau sekitar 10-20 kali transfusi darah. Desferoxamine, dosis 25-50 mg/kg
berat badan/hari subkutan melalui pompa infus dalam waktu 8-12 jam
dengan minimal selama 5 hari berturut setiap selesai transfusi darah.

Vitamin C 100-250 mg/hari selama pemberian kelasi besi, untuk


meningkatkan efek kelasi besi.

Asam folat 2-5 mg/hari untuk memenuhi kebutuhan yang meningkat.

Vitamin

200-400

IU

setiap

hari

sebagai

antioksidan

dapat

memperpanjang umur sel darah merah


b. Bedah
-

Splenektomi, dengan indikasi: limpa yang terlalu besar, sehingga


membatasi

gerak

penderita,

menimbulkan

peningkatan

tekanan

intraabdominal dan bahaya terjadinya ruptur hipersplenisme ditandai


dengan peningkatan kebutuhan transfusi darah atau kebutuhan suspensi
eritrosit (PRC) melebihi 250 ml/kg berat badan dalam satu tahun.
-

Transplantasi sumsum tulang telah memberi harapan baru bagi penderita


thalasemia dengan lebih dari seribu penderita thalasemia mayor berhasil
tersembuhkan

dengan

tanpa

ditemukannya

akumulasi

besi

dan

hepatosplenomegali. Keberhasilannya lebih berarti pada anak usia


dibawah 15 tahun. Seluruh anak anak yang memiliki HLA-spesifik dan
cocok dengan saudara kandungnya di anjurkan untuk melakukan
transplantasi ini.

28

c. Suportif
-

Tranfusi Darah
Hb penderita dipertahankan antara 8 g/dl sampai 9,5 g/dl. Dengan
kedaan ini akan memberikan supresi sumsum tulang yang adekuat,
menurunkan tingkat akumulasi besi,

dan dapat mempertahankan

pertumbuhan dan perkembangan penderita. Pemberian darah dalam bentuk


PRC (packed red cell), 3 ml/kg BB untuk setiap kenaikan Hb 1 g/dl.

Pemeriksaan kadar feritin setiap 1-3 bulan, karena kecenderungan


kelebihan besi sebagai akibat absorbsi besi meningkat dan transfusi darah
berulang. Efek samping kelasi besi yang dipantau: demam, sakit perut,
sakit kepala, gatal, sukar bernapas. Bila hal ini terjadi kelasi besi
dihentikan.

Tumbuh Kembang : Anemia kronis memberikan dampak pada proses


tumbuh kembang, karenanya diperlukan perhatian dan pemantauan
tumbuh kembang penderita.

Gangguan Jantung, Hepar, dan Endokrin : Anemia kronis dan kelebihan


zat besi dapat menimbulkan gangguan fungsi jantung (gagal jantung),

29

hepar (gagal hepar), gangguan endokrin (diabetes melitus, hipoparatiroid)


dan fraktur patologis.
I. Komplikasi
Akibat anemia yang berat dan lama, sering terjadi gagal jantung. Tranfusi
darah yang berulang ulang dan proses hemolisis menyebabkan kadar besi dalam
darah sangat tinggi, sehingga di timbun dalam berbagai jarigan tubuh seperti
hepar, limpa, kulit, jantung dan lain lain. Hal ini menyebabkan gangguan fungsi
alat tersebut (hemokromatosis). Limpa yang besar mudah ruptur akibat trauma
ringan. Kadang kadang thalasemia disertai tanda hiperspleenisme seperti
leukopenia dan trompositopenia. Kematian terutama disebabkan oleh infeksi dan
gagal jantung.
Hepatitis pasca transfusi biasa dijumpai, apalagi bila darah transfusi telah
diperiksa terlebih dahulu terhadap HBsAg. Hemosiderosis mengakibatkan sirosis
hepatis, diabetes melitus dan jantung. Pigmentasi kulit meningkat apabila ada
hemosiderosis, karena peningkatan deposisi melanin.
J.

Skrining dan Pencegahan


Skrining
Bila populasi tersebut hendak memiliki pasangan, dilakukan skrining
premarital. Penting sekali menyediakan program konselin verbal dan tertulis
mengenai hasil skring.Alternatif lain, memeriksakan setiap wanita hamil muda
berdasarkan ras. Skrining yang efektif adalah melalui eritrosit. Bila MCV dan
MCH sesuai gambaran thalasemia, perkiraan kadar HbA harus diukur. Bila
kadarnya normal, pasien dikirim ke pusat yang menganalisis gen. Penting
untuk memeriksa Hb elektroforesa pada kasus-kasus ini untuk mencari
kemungkinan variasi struktural Hb.

Pencegahan
Ada 2 pendekatan untuk menghindari thalasemia, yaitu :

Karena karier thalasemia bisa diketahui dengan mudah, skrining


populasi dan konseling tentang pasangan bisa dilakukan. Bila heterozigot

30

menikah, 1 dari 4 anak mereka bisa menjadi homozigot atau gabungan


heterozigot

Bila ibu heterozigot sudah diketahui sebelum lahir, pasangan bisa


diperiksa dan bila termasuk karier, pasangan tersebut ditawari diagnosis
prenatal dan terminasi kehamilan pada fetus dengan thalasemia berat

31

BAB 4
KESIMPULAN
Thalassemia

merupakan

penyakit

genetik

yang

disebabkan

oleh

ketidaknormalan pada protein globin yang terdapat di gen. Dapat menyerang siapa
aja dengan berbagai etnik ras di seluruh dunia dan termasuk salah satu penyakit
genetik kelainan darah yang terbanyak di Indonesia. Jika globin alfa yang rusak
maka penyakit itu dinamakan alfa-thalassemia dan jika globin beta yang rusak
maka penyakit itu dinamakan alfa thalassemia. Gejala yang terjadi dimulai dari
anemia hingga gangguan tumbuh kembang. Pemeriksaan thalasemia bisa
dilakukan melalui pemeriksaan darah, Hb elektroforesa, pemeriksaan sumsum
tulang dan roentgen. Thalassemia harus sudah diobati sejak dini agar tidak
berdampak fatal. Pengobatan yang dilakukan adalah dengan melakukan transfusi
darah, meminum beberapa suplemen asam folat, terapi kelasi besi, splenektomi,
hingga transplantasi sumsum tulang. Thalasemia bisa diketahui sedini mungkin
dengan proses skrining.

32

DAFTAR PUSTAKA
A.V. Hoffbrand and J.E. Pettit; alih bahasa oleh Iyan Darmawan : Kapita
Selekta Haematologi, edisi ke 2. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta :
1996, hal 66-85
Atmakusuma, Djumhana. 2009. Thalassemia : Manifetasi Klinis,
Pendekatan Diagnosis, dan Thalssemia Intermedia. Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam Jilid II Edisi V. Jakarta : InternaPublishing.
Berhman, RE; Kliegman, RM ; Arvin: Nelson Ilmu Kesehatan Anak,
volume 2, edisi 15. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta : 2005, hal17081712
Children's Hospital & Research Center Oakland. 2005. What is
Thalassemia and Treating Thalassemia.
Haemoglobinopathies. The Pathophysiology of Beta-thalassemia Major,
C.B. Modell, from theDepartment of Paediatrics, University College Hospital,
London, J. clin. Path., 27, Suppl. (Roy. Coll.Path.), 8, 12-18
Hassan R dan Alatas H. (2002). Buku Kuliah 1 Ilmu Kesehatan anak.
bagian 19
Hematologi hal. 419-450 ,Bagian ilmu kesehatan anak Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia : Jakarta
Markum : Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak jilid 1. FKUI, Jakarta : 1991,
hal 331
Paediatrica Indonesiana, The Indonesian Journal of pediatrics and
Perinatal Medicine, volume 46, No.5-6. Indonesian Pediatric Society, Jakarta:
2006, page 134-138
Permono, H. BAmbang; Sutaryo; Windiastuti, Endang; Abdulsalam,
Maria; IDG Ugrasena: Buku Ajar Hematologi-Onkologi Anak, Cetakan ketiga.
Penerbit Badan Penerbit IDAI, Jakarta : 2010, hlm 64-84

33

Petunjuk Diagnosis dan Tatalaksana Kasus Talasemia.Jakarta:Subbagian


Hematologi,Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM,1997