Anda di halaman 1dari 5

1.

Dalam memberikan kredit , Bank Umum wajib mempunyai keyakinan


berdasarkan analisis yang mendalam atas iktikad dan kemampuan serta
kesanggupan Nasabah Debitur untuk melunasi utangnya sesuai dengan
yang Diperjanjikan. Jelaskan dengan lengkap bagaimanakah cara yang
dilakukan oleh bank dalam menilai hal-hal tersebut ?
2. Jelaskan dengan lengkap apa
saja yang diatur dalam Pedoman
Kebijaksanaan Perkreditan Bank ?
3. Jelaskan sedikitnya 3 (tiga) batasan dan larangan dalam pemberian kredit
yang berlaku bagi perbankan di Indonesia. Mengapa diperlukan batasan &
larangan tersebut?
4. Jelaskan perbedaan penting (sekurang-kurangnya 4 perbedaan) antara
Perkreditan (Bank Konvensional) dengan Pembiayaan (Bank Syariah).
5. Jelaskan apa yang dimaksud dengan istilah dalam perkreditan di bawah
ini:
a. Ultra vires b. Representation & warranties c. Side streaming
d. Conditons precedents
c. Events of Default
d. Cross default

Jawaban
1. Hal ini diatur dalam Pasal 29 ayat (3) UU Perbankan selanjutnya mengatur
bahwa dalam memberikan kredit, bank wajib menempuh cara-cara yang
tidak merugikan bank dan kepentingan nasabah yang mempercayakan
dananya kepada bank. Bank harus melakukan penilaian yang seksama
terhadap watak, kemampuan, modal, agunan, dan prospek usaha dari
Nasabah Debitur, yaitu si perusahaan penerima kredit tersebut.
Selanjutnya dalam pasal 8 ayat (2) UU Perbankan diatur bahwa
Bank wajib memiliki dan menerapkan pedoman perkreditan, sesuai
dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. Penjelasan
pasal ini menyatakan bahwa ketentuan yang ditetapkan oleh Bank
Indonesia mencakup:
1.
pemberian kredit atau pembiayaan berdasarkan Prinsip
Syariah dibuat dalam bentuk perjanjian tertulis;
2.
bank harus memiliki keyakinan atas kemampuan dan
kesanggupan Nasabah Debitur yang antara lain diperoleh dari
penilaian yang seksama terhadap watak, kemampuan, modal,
agunan, dan prospek usaha dari Nasabah Debitur;
3.
kewajiban bank untuk menyusun dan menerapkan prosedur
pemberian kredit atau pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah;
4.
kewajiban bank untuk memberikan informasi yang jelas
mengenai prosedur dan persyaratan kredit atau pembiayaan
berdasarkan Prinsip Syariah;
5.
larangan bank untuk memberikan kredit atau pembiayaan
berdasarkan Prinsip Syariah dengan persyaratan yang berbeda
kepada Nasabah Debitur dan atau pihak-pihak terafiliasi;
6.
penyelesaian sengketa
Jadi, perlu dilihat apakah dalam pemberian kredit tersebut
telah ditempuh prosedur sebagaimana diatur dalam UndangUndang dan kebijaksanaan perkreditan tersebut. Apabila ternyata

dalam pemeriksaan ditemukan bahwa dalam pemberian kredit


prosedur yang ada tidak dilakukan dengan benar, maka pengurus
bank tersebut dapat dikenakan pertanggungjawaban pidana. Hal ini
sesuai dengan pasal 49 ayat (2) UU Perbankan
2. Pedoman Kebijaksanaan Perkreditan Bank
Prinsip Kehati-hatian Dalam Perkreditan : Dalam ketentuan prinsip
kehati-hatian bank berkewajiban untuk menyediakan informasi mengenai
kemungkinan timbulnya risiko keinginan sehubungan dengan transaksi
nasabah yang dilakukan bank, sebagaimana dijelaskan dalam Pasal 29
ayat (4) Undang-Undang Perbankan Nomor 10 tahun 1998 tentang
Perubahan atas Undang-Undang Perbankan Nomor 7 tahun 1992 tentang
Perbankan. Penyediaan informasi mengenai kemungkinan timbulnya risiko
kerugian nasabah dimaksudkan agar akses untuk memperoleh informasi
perihal kegiatan usaha dan kondisi bank menjadi lebih terbuka yang
sekaligus menjamin adanya transparansi dalam dunia perbankan.
Organisasi dan Manajemen Kredit :
Pengendalian intern dalam proses perkreditan
Komite Kebijaksanaan Perkreditan & Komite Kredit
Tugas & wewenang Direksi Dalam Perkreditan
Tugas & wewenang Komisaris Dalam Perkreditan
Kebijaksanaan Persetujuan Kredit
Persetujuan Kredit mempertimbangkan konsep hubungan total
pemohon Kredit
Proses persetujuan Kredit
Permohonan Kredit
Rekomendasi persetujuan Kredit
Pemberian persetujuan Kredit
Perjanjian Kredit
Persetujuan pencairan
Dokumentasi dan Administrasi Kredit
Seluruh Kredit harus dicatat dan dibukukan secara benar
Administrasi Kredit harus ada unsur pengendalian intern
Penetapan Pejabat dan SatKer Perkreditan
Penyusunan Statistik Perkreditan
Pengawasan Kredit
Mengawasi pelaksanaan Kredit sesuai KPB
Mengawasi pemberian Kredit
Mengawasi penilaian kolektibilitas Kredit
Melakukan pembinaan kepada debitur
Memantau kebenaran pemberian Kredit
Memantau pengadministrasian Kredit
Memantau kecukupan PPAP
Penyelesaian Kredit Bermasalah
Rescheduling
Reconditioning
Restructuring
3. A. PBI No. 7/3/PBI/2005 tentang Batas Maksimum Pemberian Kredit Bank
Umum, mengatur tentang persentase maksimum penyediaan dana yang
diperkenankan terhadap modal Bank, yang merupakan peraturan lanjutan

dari Pasal 11 UU Perbankan Tahun 1992 yang telah diubah dengan UU


Perbankan Tahun 1998.
Salah satu penyebab dari kegagalan usaha bank antara lain adalah
penyediaan dana yang tidak didukung oleh kemampuan bank mengelola
konsentrasi penyediaan dana secara efektif. Dalam rangka mengurangi
potensi kegagalan usaha bank sebagai akibat dari konsentrasi penyediaan
dana tersebut maka bank wajib menerapkan prinsip kehati-hatian, antara
lain dengan melakukan penyebaran dan diversifikasi portofolio penyediaan
dana terutama melalui pembatasan penyediaan dana, baik kepada pihak
terkait maupun kepada pihak bukan terkait sebesar persentase tertentu
dari modal bank atau yang dikenal dengan batas maksimum pemberian
kredit (BMPK).
B. Pembatasan transaksi rupiah dan pemberian kredit valuta asing oleh
Bank yang diatur dalam PBI No. 7/14/PBI/2005. pengaturan pembatasan
transaksi rupiah diperlukan dalam rangka menjamin integritas dan
stabilitas sistem keuangan Indonesia serta meminimalkan hal-hal yang
menghambat kegiatan produktif perbankan di Indonesia bagi
perekonomian Indonesia.
Dalam Pasal 2 PBI ini, Bank dilarang dan atau dibatasi dan atau
dikecualikan melakukan transaksi-transaksi tertentu dengan Pihak Asing,
contohnya antara lain adalah pemberian kredit dalam rupiah dan/atau
valuta asing, pembelian surat berharga dalam rupiah yang diterbitkan oleh
pihak asing, tagihan antarkantor dalam rupiah, dan sebagainya yang
diatur dalam pasal 3 PBI tersebut.
C. Pelunasan Kredit dengan Commercial Paper, yang diatur dalam SK Dir BI
No. 28/52/KEP/DIR tahun 1995 tantang Persyaratan Penerbitan dan
Perdagangan Surat Berharga Komersial Melalui Bank Umum di Indonesia.
Pembelian CP oleh Bank tidak dapat diperhitungkan sebagai angsuran atau
pelunasan Kredit debitur ;
Bank dilarang bertindak sebagai arranger, agen penerbit, dealer,
agen pembayaran dan pembeli dari CP yang diterbitkan oleh pihak terkait
dengan bank, debitur yang memiliki kolektibilitas diragukan dan macet.

4. A. Dalam pembiayaan konvensional, kredit diberikan atas akad pinjaman,


dan nasabah diharuskan mengembalikan pinjaman bersama bunga.
Namun, dalam Islamic banking, bunga tidak diperbolehkan karena
dianggap riba. Karena itu, pembiayaan syariah tidak menggunakan prinsip
akad bunga, namun menggunakan akad murabahah (jual beli), ijarah wa
iqtina (sewa dengan perubahan kepemilikan), dan musyarakah
mutanaqishah (capital sharing).
Dalam murabahah, bank bertindak sebagai pembeli benda yang
diinginkan nasabah. Lalu, bank akan menjual benda tersebut kepada
nasabah dengan margin tertentu. Contohnya: Nasabah menginginkan
mobil baru seharga Rp 150 juta. Bank akan membelikan mobil ini dan

menjualnya kembali kepada nasabah seharga Rp 155 juta, dan inilah


jumlah yang akan dicicil nasabah selama kurun waktu tertentu. Margin
yang didapat adalah keuntungan bank.
Dalam ijarah wa iqtina, bank akan membelikan benda yang diinginkan
nasabah, dan nasabah tinggal menyewa benda yang dibeli selama waktu
tertentu. Namun, setelah menggunakan benda tersebut selama waktu
tertentu, nasabah bisa memutuskan untuk membeli benda tersebut.
Dalam mutanaqishah, bank dan nasabah sama-sama menaruh modal
dalam suatu hal. Misalnya, bank membiayai 60% dari pembelian mobil,
dan nasabah membiayai 40%. Nantinya, nasabah bisa membeli porsi
kepemilikan bank untuk sepenunya memiliki mobil tersebut.
B. Pada pembiayaan konvensional, nasabah sepenuhnya menanggung
resiko jika tidak bisa membayar kembali cicilan. Namun, karena prinsip
akad dalam pembiayaan syariah, bank pun ikut menanggung sebagian
resiko.
Misalnya, jika nasabah meminjam Rp 100 juta dari pembiayaan
konvensional sebagai modal memulai usaha, nasabah tetap harus
membayar kembali pokok pinjaman berserta bunga walau investasinya
hanya menghasilkan Rp 70 juta.
Namun, jika nasabah meminjam Rp 100 juta sebagai modal usaha dari
pembiayaan syariah berdasarkan mutanaqishah, maka bank akan
menanggung sebagian kerugian jika ternyata, investasi nasabah hanya
menghasilkan Rp 70 juta.
C. Pembiayaan syariah mengharuskan bahwa dana disalurkan untuk halhal yang halal. Karena itu, nasabah harus menyatakan kegunaan dana
pinjaman, dan pemakaiannya pun tidak boleh melenceng dari itu.
D. Dari segi dokumen pengajuan diri, pembiayaan syariah dan
konvensional memang mirip. Anda harus menyerahkan dokumen seperti
fotokopi KTP serta bukti penghasilan, seperti slip gaji. Anda pun bisa
mengajukan diri untuk pinjaman dari sekitar Rp 5 juta hingga Rp 250 juta
baik untuk pinjaman syariah dan konvensional dari bank-bank ternama.
Namun, pembiayaan syariah bisa menawarkan produk untuk keperluan
tertentu yang tidak ada pada pembiayaan konvensional. Misalnya, Syariah
Mandiri menawarkan pembiayaan khusus untuk pendidikan. Sementara
itu, Permata Bank Syariah menawarkan pembiayaan untuk naik haji dan
umrah.
Karena perbedaan-perbedaan yang ada, Anda disarankan untuk berbicara
pada pihak bank tentang struktur pembiayaan yang Anda inginkan.
Perhitungan yang tepat akan membantu Anda mendapatkan produk
terbaik untuk memenuhi kebutuhan keuangan Anda.\
5.

a. Ultra vires : istilah Latin yang berarti melampaui, melebihi


kewenangan atau kekuasaan yang dimilikinya. Padanan katanya
beyond the powers. Apabila perbuatan kekuasaan dari otoritas
publik atau privat dianggap berlebihan atau melampau kekuasaan
yang
dimilikinya,
maka
perbuatannya,
sebuah
peraturan
perundang-undangan atau kebijakan yang dikeluarkan adalah tidak
sah.
b. Representation and warranties : Representation: Pernyataan lisan
atau tertulis yang dibuat selama negosisasi untuk suatu kontrak
baik mengenai fakta-fakta penting atau tidak, pernyataan yang
dibuat harus memiliki tingkat kebenaran yang mutla atau menurut
keyakinan pihak kreditur dan debitur. Warranties : Perjanjian yang
dibuat oleh kedua belah pihak yang harus dilaksanakan dengan
penuh tanggung jawab oleh pihak debitur, karena apabila dilanggar,
kreditur dapat menuntut ganti rugi.
c. Side streaming : istilah lain dari perbuatan penyalahgunaan fasilitas
kredit yang didapatkan dari perbankan. Jadi, penggunaan kredit
yang telah diperoleh tidak sesuai dengan peruntukan awalnya
d. Conditions precedents : persyaratan-persyaratan yang telah
disepakati oleh kedua belah pihak sebelum kontrak diadakan, dapat
berupa implied conditions yang tidak dinyatakan secara tertulis.
e. Event of default : pelanggaran atas semua persyaratan yang telah
disepakati
f. Cross default : situasi dimana seorang debitur gagal dalam
membayar kredit yang diperkjanjikannya dengan pihak bank,
dimana ketika mendapatkan titel ini, seorang debiitur akan
dinyatakan juga gagal bayar atas utang lainnya.