Anda di halaman 1dari 11

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju
dewasa. Pada masa ini terjadi perubahan-perubahan pada remaja baik secara fisik
maupun psikologis. Perubahan secara fisik seperti menstruasi, perubahan hormon,
perubahan kognitif perubahan pada bagian tubuh seperti pinggul yang melebar,
buah dada yang membesar bagi wanita sedangkan bagi laki-laki tumbuhnya jakun,
kumis dll. Perubahan secara fisik juga diiringi dengan perubahan psikologis
seperti perubahan hormon yang mengakibatkan emosi yang kurang stabil dan
perubahan pada fisik seperti buah dada yang semakin membesar menambahnya
kepercayaan diri pada wanita. Makadari itu, perubahan-perubahan yang terjadi
sering dikaitkan remaja dengan masa badai dan tekanan yaitu sebagai suatu
masa dimana ketegangan emosi yang meninggi yang diakibatkan adanya
perubahan fisik dan kelenjar. (Hurlock,1980 : 212)
Perubahan-peruban yang terjadi pada remaja menyebabkan banyak
kesenjangan pada individu pada remaja dan lingkungan sekitarnya baik orangtua,
guru maupun teman. Kesenjangan tersebut terjadi karena adanya pemikiran yang
belum matang yang dikuasai oleh emosi yang tinggi sehingga seringkali
mengabaikan norma-norma yang ada di lingkungan terutama orangtua. Pemikiran
yang dikuasai emosional akan mengakibatkan pada tindakan yang dilakukan tanpa

pemikiran lebih panjang seperti mengabaikan dampak yang terjadi atas tindakan
tersebut. Hal tersebut akan berdampak pada permasalahan emosional remaja
sepeti gejala-gejala tekanan perasaan, frustrasi, atau konflik internal maupun
konflik eksternal pada diri individu.
Permasalahan emosi sering terjadi pada masa remaja, hal ini dikarenakan
terjadinya peningkatan hormon estreogen dan testeron yang menyebabkan
ketidakstabilan emosi pada remaja. Hal tersebut juga memicu remaja yang mudah
sensitif contohnya seperti saat remaja perempuan yang sedang mengalami
menstruasi mudah tersinggung dan seringnya marah-marah, gelisah, sedih dll .
Selain itu pemikirannya juga berubah, seperti keputusan-keputusan yang diambil.
Mereka terkadang mengambil keputusan tanpa melihat resiko jangka panjang
sehingga hal ini membuat mereka mudah untuk dipengaruhi.
Perubahan-perubahan yang terjadi pada remaja menuntut mereka untuk
berubah dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Penyesuaian diri yang
dilakukan seperti perubahan-perubahan perilaku agar dapat diterima pada
kelompok sebayanya dan tidak dianggap seperti anak kecil. Namun terkadang
perubahan-perubahan perilaku tersebut membuat remaja mengeyampingkan nilainilai yang sudah diterapkan oleh keluarga dan membawa pengaruh pada
kematangan emosi seperti seringnya membantah perintah orangtua dan
membentak-bentak jika keinginannya tidak sesuai dengan nilai-nilai pada oragtua.
Hal ini sesuai dengan pendapat (Hurlock, 213 :1980 ) menyatakan bahwa remaja
lebih banyak berada di luar rumah bersama dengan teman-teman sebayanya
sebagai kelompok, maka dapatlah dimengerti bahwa pengaruh teman-teman

sebayanya terhadap sikap, pembicaraan, minat, penampilan, dan perilaku lebih


besar daripada pengaruh keluarga.
Adapun tugas-tugas perkembangan masa remaja, menurut hurlock (1980 :
209) menyatakan bahwa remaja berusaha mampu menerima keadaan fisiknya,
mampu menerima dan memahami peran seks usia dewasa, mampu membina
hubungan baik dengan anggota kelompok yang berlainan jenis, mencapai
kemandirian secara emosional, mencapai kemandirian ekonomi mengembangkan
konsep dan keterampilan intelektual yang sangat diperlukan untuk melakukan
peran sebagai anggota masyarakat, memahami dan menginternalisasikan nilainilai orang dewasa dan orang tua, mengembangkan perilaku tanggung jawab
sosial yang diperlukan untuk memasuki dunia dewasa, mempersiapkan diri
untuk memasuki perkawinan, memahami dan mempersiapkan berbagai tanggung
jawab kehidupan keluarga.
Salah satu dari tugas perkembangan remaja yang sangat penting yaitu
kemandirian secara emosi atau bisa juga disebut kematangan emosi. Chaplin
(2002) mengatakan bahwa kematangan emosi merupakan suatu keadaan atau
kondisi mencapai tingkat kedewasaan dari perkembangan emosional dan karena
itu pribadi yang bersangkutan tidak lagi menampilkan pola emosi yang tak pantas
seperti saat menjadi anak-anak. Sedangkan menurut Hurlock (1980:213)
mengatakan bahwa salah satu petunjuk kematangan emosi yaitu individu menilai
situasi secara kritis sebelum bertindak secara emosional, tidak lagi bertindak tanpa
berpikir sebelumnya seperti anak-anak atau orang yang belum matang. Dari dua
pendapat tersebut bahwa istilah kematangan emosi seringkali membawa adanya

kontrol emosional. Bagian terbesar orang dewasa mengalami pula emosi yang
sama dengan anak-anak, namun mereka mampu menekan atau mengontrolnya
lebih baik, khususnya di tengah-tengah situasi sosial
Masa remaja yang merupakan masa pencarian identitas, dimana mereka
bereksplorasi untuk menemukan identitas mereka. Namun dalam penemuan
identitas tersebut, mereka masih terbawa oleh sifat kekanak-kanak sehingga
membuat mereka menjadi labil dan belum bisa mengendalikan dirinya sendiri.
Hal tersebut sesuai dengan salah satu ciri-ciri kematangan emosi remaja dalam
pernyataan Hurlock (1980:213) bahwa indikator dari kematangan emosi yaitu
kontrol diri. Sedangkan menurut penelitian Friedberg (1996) dalam dian (2011)
ketidakmatangan emosi pada remaja akan memuncul perilaku-perilaku agresi,
impulsif, frustasi,mengalami gangguan perhatian seperti kurang konsentrasi,
kecemasan, kehilangan harapan-harapan, dan hal-hal yang terkait dengan mood
management.
Beberapa

penelitian

mengungkapkan

bahwa

perilaku

dari

ketidakmatangan emosi itu dipengaruhi faktor internal dalam diri yaitu loneliness
(kesepian). Penelitian dari (Zilboorg 1938 dalam Tara 2009:3) menyatakan bahwa
individu yang kesepian bisanya berperilaku agresif dan memiliki sikap hostility
(kebenciann). Hal tersebut disebabkan karena individu yang mengalami loneliness
kurang dapat mengontrol kekesalannya sehingga ia mengeluarkan rasa bencinya.
Ketidakmampuan dalam mengontrol kekesalan seperti mengeluarkan rasa benci
itu merupakan tanda dari ketidakmatangan emosi, seperti yang diungkapkan
bahwa ciri kematangan emosi (Hurlock,1980 : 213) yaitu dengan tidak

menunjukkan emosi dihadapan orang lain melainkan mengungkapkan dengan


cara-cara yang lebih dapat mudah diterima. Selain itu, loneliness juga terkait
dengan depresi/frustasi (Andersoon dan harvey 1988 dalam Tara 2009 ), dengan
ciri-ciri memiliki proses berpikir yang lambat (Holmes,1991). Russel (Peplau dan
Perlman, 1982) juga menyatakan bahwa mahasiswa yang loneliness mudah
marah, menutup diri dan canggung.
Loneliness berarti suatu keinginan yang tidak terpenuhi untuk membangun
hubungan interpersonal yang akrab (Peplau dan Perlman dalam Byrne dan
Baron,2005). Sedangkan menurut Sears dkk (1994) kesepian menunjuk pada
kegelisahan subjektif yang dirasakan pada saat hubungan seseorang kehilangan
ciri-ciri pentingnya. Hilangnya ciri-ciri tersebut bersifat kuantitatif yaitu tidak
mempunyai teman atau hanya mempunyai sedikit teman dekat . Sedangkan yang
bersifat kualitatif yaitu seseorang mungkin merasa bahwa hubungan sosialnya
dangkal atau kurang memuaskan dibandingkan dengan apa yang diharapkan.
Hubungan yang dangkal atau kurang memuaskan ini bisa dikarenakan
ketidakcocokan / ketidakserasi sifat individu dengan orang lain sehingga tidak
mempunyai teman, sahabat ataupun pasangan hidup. Selain ketidakserasian,
individu sudah mempunyai hubungan yang baik sebelumnya tetapi karena ada
sesuatu hal terputus seperti perceraian, ditinggal meninggal orangtua atau
berpindah rumah itu juga akan menyebabkan seseorang mengalami loneliness.
Hal-hal tersebut sering kali dirasakan oleh remaja, dimana remaja merupakan
masa peralihan dari kanak-kanak menuju dewasa yang rentan terhadap stress

selain itu juga kondisi emosi yang tidak stabil. Remaja sendiri merupakan
golongan usia yang rentan mengalami loneliness. Hal ini sesuai dengan hasil
survei nasional di Amerika yang dilakukan oleh majalah Psychology Today
(dalam Sears, 1994), memperlihatkan bahwa dari 40.000 individu, yang kadangkadang bahkan seringkali merasa loneliness adalah individu pada kelompok usia
remaja yaitu sebanyak 79%, dibandingkan dengan kelompok individu yang
berusia diatas 55 tahun.
Menurut Brennan 1982 dalam Cendra 2012: 2, kesepian pada remaja
disebabkan oleh berbagai hal, antara lain : pemisahan diri dari orang tua,
kkematangan cara berpikir, perkembangan kemandirian, konsep diri, dan
perjuangan untuk mencapai kebermaknaan hidup. Pemisahan diri dari orangtua
terjadi karena berkaitan dengan tugas perkembangan remaja yaitu untk mencari
kemandirian. Adaptasi terhadap pemisahan ini membuat remaja kehilangan figur
attachment sehingga mengalami kesepian. Selain itu,perubahan konsep diri seperti
muncul kesadaran diri (self-awareness) yang semakin besar dan kemampuan
untuk berefleksi (self-reflection) yang semakin baik sehingga membuat remaja
makin menyadari perasaan kesepian yang dirasakan .
Selain faktor-faktor tersebut, faktor latar belakang budaya terutama budaya
timur seperti indonesia. Remaja di negara bagian timur lebih banyak
menghabiskan waktu bersama keluarga dibandingkan orang di negara barat
(Papalia et al., 2009), sehingga penderitaan mereka akan lebih besar jika tidak
mengalami hubungan yang mendalam dengan anggota keluarga. Berdasarkan hal

tersebut akan memicu timbulnya perasaan lonesliness jika jarak anak dengan
keluarga terutama orang tua itu berjauhan .
Salah satu fungsi keluarga yaitu dengan menyejahterahkan keluarga
melalui menjalin hubungan/ komunikasi antar anggota keluarga baik itu suami
dengan istri maupun orangtua dengan anak dengan baik. Jika di dalam suatu
hubungan antara anggota keluarga itu buruk akan menimbulkan suatu masalah
yaitu salahsatu perasaan loneliness terutama pada remaja. Karena pada usia ini, ia
sedang mencari identitas dalam dirinya maka dari itu ia membutuhkan panutan
baginya. Selain itu, ia juga membutuhkan seseorang pengontrol dirinya dalam
mencari identitas sehingga membuat remaja kebingungan dan keraguan dalam
memutuskan sesuatu. Maka dari itu, dibutuhkan orangtua untuk kesediannya
dalam mendengar, menerima, menyayangi, menegur, mendukung dan memantu
sehingga hal ini akan menciptakan kondisi yang baik bagi remaja.
Peran orangtua berada di dekat remaja itu sangat penting dan tidak bisa
digantikan. Jika hubungan orangtua dengan anak itu jauh akan mengakibatkan
remaja kehilangan tempat berpegang untuk mencurahkan perasaannya, mereka
sering merasa tidak bahagia dan loneliness karena tidak adanya kepuasaan dalam
hal berkomunikasi dengan orangtuanya.
Fenomena tersebut terjadi pada keluarga yang berprofesi sebagai TKW.
Pada fenomena ini, untuk memenuhi nafkah keluarga ibu menjadi TKW. Hal ini
merupakan suatu tugas yang mulia bagi keluarga karena dengan hal tersebut dapat
membantu suami dalam memenuhi kebutuhan yang semakin bertambah, namun

disisi lain membawa dampak buruk yaitu meninggalkan anaknya terutama


remaja. Padahal masa ini sangat dibutuhkan figur orangtua yang utuh yang
mempunyai tugas masing-masing seperti peran ibu dan peran bapak yang berbeda.
Selain itu, posisi bapak juga yang bekerja membuat suasana rumah sepi.
Rubbemstein dan Shaver (1982) mengungkapkan salah satu penyebab dari
loneliness yaitu Being Alone yang mempunyai arti pulang ke rumah tanpa ada
yang menyambut, selalu sendiri.
Berdasarkan hasil wawancara dengan MY (17) pada tanggal 25 Maret
2015, menyatakan bahwa ia merasakan loneliness jika di rumah sehingga ia lebih
memilih bermain di rumah nenek atau bermain dengan teman-teman sekolah
daripada di rumah sepi dan bosan. Perasaan loneliness itu biasanya dialihkan
dengan aktifitas lain yang bersifat positif maupun negatif. Kegiatan-kegiatan
tersebut itu akan menunjukkan kematangan emosi remaja tersebut.
Hal

positif yang dilakukan oleh remaja yaitu membantu ayah serta

menggantikan tugas ibu didalam keluarga seperti mencuci piring dan baju,
membersihkan rumah dll. Hal ini seperti diungkapkan oleh MY (17) bahwa
semenjak ibu bekerja di korea, ia menggantikan posisi ibunya untuk membantu
meringankan pekerjaan ayahnya seperti membantu menyiapkan makan,
membersihkan rumah, bahkan ia juga mengantar jemput adiknya sekolah. Selain
itu, ia juga mengajari tetangganya mengerjakan PR ketika sore . Sedangkan pada
hal negatif, diungkapkan oleh MY (17) bahwa ia mempunyai saudara bernama
Xn (16) yang sikapnya berubah ketika ditinggal ibunya bekerja ke luar negeri.
Saudaranya tersebut suka menghamburkan uang yang dikirim ibunya untuk

memodifikasi motornya, bermain-main dengan temannya, bahkan ia juga sering


membolos sekolah. Xn sudah sering mendapatkan teguran baik dari keluarga
maupun sekolah tapi ia mengabaikannya. Ia bahkan pernah keluar dari rumah
ketika permintaannya tidak dikabulkan. Dari 2 hal tersebut, terlihat bahwa
kematangan emosi remaja yang berbeda-beda. Remaja yang emosinya sudah
matang, ia melakukan kegiatan positif untuk mengurangi perasaan loneliness,
sedangkan remaja yang emosinya belum matang ia akan melakukan kegiataan
sebaliknya.
Dari Latarbelakang tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian
mengenai Hubungan Loneliness terhadap Kematangan Emosi Remaja pada
keluarga TKW. Penelitian ini dilakukan pada beberapa Sekolah di kecamatan
Gemuh Kota Kendal.

1.2. Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan
masalah dalam penelitian ini yaitu :
1. Tipe

Loneliness apa saja yang dialami remaja yang ibu

bekerja sebagai TKW di kecamatan Gemuh Kota Kendal ?


2. Bagaimana kematangan emosi remaja yang ibu bekerja
sebagai TKW di Kecamatan Gemuh Kota Kendal ?
3. Bagaimana Hubungan loneliness terhadap kematangan emosi
remaja yang ibu bekerja sebagai TKW di Kecamatan Gemuh
Kota Kendal ?

10

1.3. Tujuan Penelitian


Tujuan dari penelitian yang dilakukan ini antara lain :
1. Mengetahui tipe loneliness

remaja yang ibunya bekerja

sebagai TKW di kecamatan Gemuh Kota Kendal


2. Mengetahui kematangan emosi remaja yang ibunya bekerja
sebagai TKW di Kecamatan Gemuh Kota Kendal
3. Mengetahui hubungan loneliness terhadap
emosi

remaja

yang

ibunya

bekerja

kematangan

sebagai

TKW

di

Kecamatan Gemuh Kota Kendal

1.4. Manfaat Penelitian


Dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat secara praktis maupun
secara teoritik yaitu:
1.4.1 Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat menambah kajian ilmu pengetahuan dan
pengembangan di bidang ilmu psikologi terutama psikologi perkembangan dan
psikologi sosial yang berfokus pada kematangan emosi yang dipengaruhi oleh
loneliness pada remaja yang ibunya bekerja sebagai TKW.
1.4.2 Manfaat Praktis
a. Bagi remaja dan keluarga
Bagi orang tua, keluarga dan remaja penelitian ini diharapkan dapat menjadi
referensi dan kajian kepustakaan untuk memperbaiki hubungan yang baik

11

sehingga dapat meminimalisir dampak buruk yang dapat ditimbulkan dari


kematangan emosi
b. Bagi Penulis
Bagi penulis penelitian ini berguna sebagai sarana latihan dan pengembangan
kemampuan serta menambah wawasan khususnya dibidang penelitian dan
dapat digunakan sebagai acuan untuk penelitian selanjutnya.