Anda di halaman 1dari 5

BAB III

PEMBAHASAN

Salah satu peran ilmu kedoteran forensik adalah dalam bentuk pembuatan visum et
repertum atas permintaan pihak penyidik, yaitu polisi, yang berguna dalam membantu
penegakkan hukum dalam suatu tindak pidana yang menyangkut nyawa manusia. Visum et
repertum dibuat berdasarkan pemeriksaan medis yang dilakukan terhadap korban hidup,
korban mati maupun bahan yang diduga berasal dari tubuh manusia.
Pembuatan visum et repertum pada manusia sbeagai korban atau diduga korban
tindak pidana berdasarkan atas pasal 133 KUHAP. Sesuai dengan pasal 133 ayat ( 1 )
KUHAP, Didalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban
baik luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak
pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran
kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya.
Pada kasus ini, permintaan visum et repertum disampaikan secara tertulis dalam surat
permintaan visum ( SPV ) dari Kepolisian Resor Hulu Sungai Utara, Sektor Kalimantan
Selatan dengan surat nomor ---/--/VER/RSU pada tanggal 8 Januari 2016. Penyidik dapat
meminta keterangan ahli dalam hal ini dalam bentuk visum et repertum karena korban yang
tidak dikenal, dan cara kematian yang dinilai tidak wajar, termasuk tempat penemuan mayat
korban. Hal ini mendukung perlunya pemeriksaan medis yang dapat memberi petunjuk
apakah ada tindak pidana yang terkait dengan kematian korban.
Permintaan dilakukan secara tertulis dan disebutkan untuk pemeriksaan luar dan
dalam ( sesuai dengan pasal 133 KUHAP ayat 2, permintaan keterangan ahli sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara tertulis, yang dalam surat itu disebabkan dengan
tegas untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah
mayat).
Mayat dikirim tanpa label dan tanpa materai, hal ini tidak sesuai dengan pasal 133
KUHAP ayat 3 yang mengatakan ,mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman
atau dokter pada rumah sakit harus diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan
terhadapa mayat tersebut dan diberi label yang memuat identitas mayat, dilak dengan diberi
cap jabatan yang dilekatkan pada ibu jari kaki atau bagian lain badan mayat.penyidik
harus memberi label mayat pada korban karena korban merupakan barang bukti yang
merupakan milik negara. Pemberian label dan segel dapat menghindarkan manipulasi yang
mungkin terjadi pada mayat. Selain itu label juga merupakan identitas mayat yang membantu
dokter pemeriksa sehingga tertukarnya mayat dapat dihindari.
Dengan adanya surat permintaan visum tersebut dokter wajib untuk memberikan
bantuan sesuai dengan kemampuannya, dan dapat diancam pidana penjara atau denda jika
terjadi pelanggaran peraturan tersebut. Hal ini diterangkan dalam pasal 216 ayat 1 KUHP
yang berbunyi : Barang siapa dengan sengaja tidak menuruti perinta atau permintaan yang
dilakukan menurut undang undang oleh pejabat yang tugasnya mengawasi sesuatu, atau
oleh pejabat berdasarkan tugasnya, demikian pula barang siapa dengan sengaja mencegah,
menghalang halangi atau menggagalkan tindakan guna menjalankan ketentuan, diancam

pidana penjara paling lama empat bulan dua minggu atau denda paling banyak sembilan
ribu rupiah.
Dari surat permintaan visum tidak digambarkan dengan jelas keadaan tempat kejadian
perkara. selain itu juga tidak tertulis saksi saksi atau pihak penyidik yang dapat dimintai
keterangan. Gambaran kejadian perkara sangat membantu dalam pembuatan visum. Dari
surat permintaan visum diketahui korban ditemukan di samping Lanting di pinggir sungai di
desa Palimbangan Sari RT 1 Kecamatan Haur Gading Kabupatan Hulu Sungai Utara pada
tanggal 8 Januari 2016 jam 11.00 WITA. Keterangan mengenai kematian tidak dituliskan,
tidak dituliskan perkiraan kematian dan keterangan tambahan lain.
Aspek medikolegal yang penting untuk diperhatkian pada kasus ini adalah jawaban
dari pertanyaan pertanyaan berikut :
1.
2.
3.
4.

Apakah bayi tersebut lahir dalam keadaan hidup atau mati ?


Jika bayi lahir hidup, berapa lama bayi tersebut bertahan ?
Apakah bayi tersebut sudah dirawat ?
Apakah penyebab kematian bayi ?

Pertanyaan pertanyaan diatas penting untuk ditelusuri untuk menghubungkan pasal


pasal yang berkaitan dengan kasus ini.
Penemuan jenazah bayi perlu diperhatikan lagi kira kira kemungkinan apa
kriminalitas yang terjadi dibalik kejadian kematian.
Pengertian pengguguran kandungan menurut hukum ialah tindakan menghentikan
kehamilan atau mematikan janin sebelum waktu kelahiran, tanpa melihat usia kandungannya.
Yang diaanggap penting adalah bahwa sewaktu pengguguran kehamilan dilakukan,
kandungan tersebut masih hidup.
Pembunuhan anak sendiri menurut undang undang di Indonesia adalah pembunuhan
yang dilakukan oleh seorang ibu atas anaknya pada ketika dilahirkan atau tidak berapa lama
setelahnya dilakukan usaha pembunuhan, akan terjerat hukum dengan pasal pasal berikut :
1. Pasal 341 : seorang ibu yang karena takut akan melahirkan anak pada saat anak
dilahirkan atau tidak lama kemudian, dengan sengaja merampas nyawa anaknya,
diancam karena membunuh anak sendiri, dengan pidana penjara paling lama 7 tahun.
2. Pasal 342 : seorang ibu yang untuk melaksanakan niat yang ditentukan karena takut
akan ketahuan bahwa ia akan melahirkan anak, pada saat anak dilahirkan atau tidak
lama kemudian merampas nyawa anaknya, diancamkarena melakukan pembunuhan
anak sendiri dengan rencana, dengan pidana penjara paling lama 9 tahun.
Pasal pasal diatas berlaku jika dan hanya jika pembunuhan adalah ibu kandung sendiri.
Apabila pembunuhan bukan ibu kandung, berarti orang tersebut dihukum karena
pembunuhan tanpa rencana ( pasal 338, ancaman pidana 15 tahun ) atau pembunuhan
berencana ( pasal 339 dan 340 ancaman 20 tahun , seumur hidup atau hukuman mati ).

Apabila pada jenazah bayi tidak ditemukan tanda tanda kekerasan, namun dari
pemeriksaan dapat dibuktikan bayi lahir hidup, berarti terdapat kemungkinan kasus tersebut
adalah bayi yang ditelantarkan. Pasal yag berhubungan dengan kasus ini adalah:
1. Pasal 308 : jika seorang ibu karena takut akan diketahui orang tentang kelahiran
anaknya, tidak lama sesudah melahirkan, menempatkan anaknya untuk ditemukan
atau meninggalkannya dengan maksud untuk melepaskan diri dari padanya, maka
maksimum pidana tersebut dalam pasal 305 dan 306 dikurangi separuh.
2. Pasal 305 : barang siapa menempatkan anak yang umurnya belum 7 tahun untuk
ditemukan atau meninggalkan anak itu dengan maksud untuk melepaskan diri
padanya, diancam dengan pidana penjara paling lama 5 tahun 6 bulan.
3. Pasal 306 : (1) jika melibatkan luka berat, ancaman pidana penjara paling lama 7
tahun 6 bulan (2) jika mengakibatkan kematian pidana penjara paling lama 9 tahun.
Apabila jenazah bayi yang ditemukan telah dibuktikan lahir mata, kemudian ibu sengaja
membuang atau menyembunyikan, berarti pasal yang berlaku adalah :
Pasal 181 : barang siapa mengubur, menyembunyikan, membawa lari atau
menghilangkan mayat dengan maksud menyembunyikan kematian atau kelahirannya,
diancam dengan pidana penjara selama 9 bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu
lima ratus rupiah.
Apabila bayi yang lahir mati itu sebelumnya masih dapat hidup di dalam kandungan
ibunya, namun karena usaha usaha tertentu mengakibatkan pengeluaran janin tersebut
sebelum waktunya, terkena pasal :
1. Pasal 346 : seorang wanita yang sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan
atau menyuruh orang lain untuk itu, diancam dengan pidana paling lama empat tahun.
2. Pasal 347 : (1) Barangsiapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan
kandungan seorang wanita tanpa persetujuannya, diancam dengan pidana penjara
paling lama dua belas tahun. ( 2 ) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita
tersebut, dikenakan pidana penjara paling lama lima belas tahun.
3. Pasal 348 : ( 1 ) Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan
kandungan seorang wanita dengan pidana penjara paling lama lima tahun enam bulan.
(2) jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut, dikenakan pidana
penjara paling lama tujuh tahun.
4. Pasal 349 : Jika seorang dokter, bidan atau juru obat membantu melakukan kejahatan
yang tersebut pasal 346, ataupun melakukan atau membantu melakukan salah satu
kejahatan yang diterangkan dalam pasal 347 dan 348, maka pidana yang ditentukan
dalam pasal itu dapat ditambah sepertiga dan dapat dicabut hak untuk menjalankan
pencaharian dalam mana kejahatan dilakukan .
Pemeriksaan Jenazah
Terdapat beberapa hal yang perlu ditentukan pada autopsi mayat bayi yang baru lahir seperti:
1. Apakah bayi baru dilahirkan sudah dirawat atau belum dirawat ?

2. Apakah bayi sudah mampu hidup terus di luar kandungan ibu ( viable ) atau belum (
non viable ) ?
3. Umur bayi dalam kandungan , premature, matur atau postmatur ?
4. Sudah bernapas ( lahir hidup ) atau belum ( lahir mati ) ?
5. Bila terbukti lahir hidup dan telah dirawat, berapa jam atau hari umur bayi tersebut (
umur setelah dilahirkan )?
6. Adakah tanda tanda kekerasan ?
7. Bila terbukti lahir hidup, apakah sebab matinya ?

Jenazah bayi ditemukan di samping lanting di pinggir sungai dengan posisi mengapung di
desa Palimbangan Sari RT 1 Kecamatan Haur Gading Kabupaten Hulu Sungai Utara. Tali
pusat sudah terpotong rapi , dengan panjang kurang lebih 15 sentimeter. Lemak bayi pada
tubuh sudah menghilang, namun masih terdapat pada daerah daerah lipatan seperti
ketiak, lipat paha, lipat leher, dan lain lain. Hal ini membuktikan bahwa bayi belum
mengalami perawatan.
Saat dilakukan pemeriksaan luar jenazah korban, ditemukan tanda tanda pembusukan
pada perut kanan bawah jenazah yang berwarna kehijauan yang tidak hilang dengan
penekanan. ..................................................

Pada hasil pengukuran antropometri pada jenazah bayi di dapatkan berat tubuh 300
gram, panjang badan ( panjang kepala sampai tumit ) 24 cm, lingkar kepala 17 cm,
lingkar dada 16cm, panjang tulang paha 5 cm.
Anak baru mungkin hidup di luar kandungan kalau beratnya telah mencapai 1000
gram atau umur kehamilan 28 minggu. Untuk menentukan umur janin dapat digunakan
beberapa cara, salah satunya yaitu penggunaan panjang badan dengan Rumus De Haas,
yaitu untuk bayi ( janin ) yang berumur di bawah 5 bulan, umur sama dengan akar
pangkat dua dari panjang badan. Pada jenazah ini panjang badan 24 cm di perkirakan usia
janin kurang lebih 4 5 bulan dalam kandungan.
Viable adalah keadaan janin dapat hidup di luar kandungan lepas dari ibunya. Kriteria
untuk itu adalah umur kehamilan lebih dari 28 minggu dengan panjang badan lebih dari
35 cm, panjang kepala bokong lebih dari 23 cm, berat badan lebih dari 1000 gram, lingkar
kepala lebih dari 32 cm, dan tidak ada cacat bawaan yang fatal. Pada kasus di atas dari
perhitungan antropometrik dapat disimpulkan bahwa janin lahir belum cukup umur untuk
hidup di luar kandungan.
Ciri ciri eksternal bayi imatur juga didapatkan pada jenazah korban, dimana tulang
rawan daun telinga belum terbentuk sempurna dan terlihat masih menempel lengket
dengan kulit kepala, tidak ditemukan tonjolan puting susu, kuku jari tidak melebihi ujung
jari, tidak tampak garis garis pada telapak kaki, dan penis belum tumbuh sempurna.

Pada tubuh bayi tidak ditemukan luka luka ataupun patah tulang, sehingga dari
pemeriksaan luar tanda tanda kekerasan dapat disingkirkan.
Karena dalam pemeriksaan jenazah ini tidak dilakukan pemeriksaan dalam, sehingga
tidak diketahui apakah bayi lahir mati atau tidak, karena tidak dilakukan pemeriksaan
organ dalam.

Kesimpulan
Berdasarkan data data yang dideskripsikan di atas, maka dapat disimpulkan pemeriksaan
terhadap janin mati didapatkan perkiraan usia janin dalam kandungan antara 4 5 bulan. Dari
pemeriksaan luar di dapatkan bahwa bayi imatur. Ada tanda tanda perawatan karena ari
ari bayi sudah terpotong rata, namun tanda tanda kekerasan pada bayi tidak ada. Sehingga
kemungkinan penyebab kematian pada bayi ini diperkirakan karena usianya yang terlalu
muda dan belum mampu untuk hidup di luar kandungan ibunya ( non viable ). Penyebab pasti
kematian tetap membutuhkan hasil pemeriksaan dalam dan penunjang histopatologis.
Dari penemuan penemuan yang sudah diuraikan di atas , semoga dapat membantu
penyidik untuk melakukan penyelidikan dan pencarian bukti bukti lain demi terciptanya
keadilan.
Fakta bahwa bayi lahir dalam keadaan mati melepes kemungkinan adanya
pembunuhan pada janin ini. Namun masih tersisa dua kemungkinan dibalik kasus ini, yaitu
apakah bayi memang mati dalam kandungan tanpa ada usaha tertentu dari orang lain, atau
bayi sebelumnya hidup namun sengaja dilakukan usaha tertentu yang menyebabkan
terjadinya pengguguran kandungan.
Apabila bayi lahir mati tanpa kesengajaan dilakukan pengguguran kandungan, maka
ibu akan terjerat pasal 181 mengenai penyembunyian kematian atau kelahiran bayinya.
Namun apabila telah terjadi usaha usaha pengguguran kandungan maka ibu dan orang
orang lain yang membantunya terjerat padal 346 sampai 349.
Pembuktian mengenai hal diatas adalah tugas penyidik. Dokter hanya membantu
menggunakan ilmunya untuk memeriksa barang bukti, yaitu manusia ataupun bagian dari
manusia, demi terciptanya peradilan.