Anda di halaman 1dari 6

LTM Pemicu 3

Modul Kulit dan Jaringan Penunjang 2010


Oleh Wynne Oktaviane Lionika, 0906640015
PENATALAKSANAAN GATAL, BERCAK PUTIH, DAN PENYAKIT KULIT AKIBAT INFEKSI

1. Pioderma (akibat bakteri)


1.1 Pengertian dan Etiologi
Pioderma

adalah

penyakit

kulit

yang

disebabkan

oleh

Staphylococcus,

Streptococcus, ataupun oleh kedua-duanya. Penyebab utamanya adalah Staphylococcus


aureus dan Streptococcus B hemolyticus.
1.2 Pengobatan secara Umum
a. Sistemik
Penisilin G prokain dan semisintetiknya
o Penisilin G prokain
Dosis yang dipakai adalah 1,2 juta per hari, intramuskular. Obat ini tidak
dipakai lagi karena tidak praktis, diberikan secara intramuskular, membutuhkan
dosis yang tinggi dan sering terjadi syok anafilaktik.
o Ampisilin
Dosisnya adalah 4x500 mg dan diberikan sejam sebelum makan.
o Amoksisilin
Dosisnya sama dengan ampisilin. Kelebihan amoksisilin dibandingkan dengan
ampisilin adalah lebih praktis karena dapat diberikan setelah makan. Di
samping itu, amoksisilin lebih mudah diabsorbsi dibandingkan dengan
ampisilin sehingga konsentrasi dalam plasma lebih tinggi.
o Golongan obat penisilin resisten-penisilinase
Contohnya adalah oksasilin, kloksasilin, dikloksasilin, flukloksasilin. Dosis
kloksasilin 3x250 mg per hari sebelum makan. Golongan obat ini mempunyai
kelebihan yaitu berkhasiat bagi Staphylococcus aureus yang telah membentuk
penisilinase.
Linkomisin dan Klindamisin
Dosis linkomisin adalah 3x500 mg sehari. Klindamisin dapat diabsorbsi lebih baik
dibandingkan dengan linkomisin sehingga dosis yang dibutuhkan lebih kecil, yaitu
4x150 mg sehari. Pada infeksi yang berat, dosisnya menjadi 4x300-450 mg sehari.
Obat ini efektif untuk mengatasi pioderma di samping golongan obat penisilin

resisten-penisilinase. Akan tetapi linkomisin tidak lagi dipakai dan diganti dengan
klindamisin karena potensi antibakterialnya yang lebih besar, efek sampingnya
lebih sedikit, pada pemberian per oral tidak terlalu dihambat oleh adanya makanan
dalam lambung.
Eritromisin
Dosisnya adalah 4x500 mg sehari. Eritromisin jika dibandingkan dengan
linkomisin / klindamisin dan obat golongan penisilin resisten-penisilinase kurang
efektif. Obat ini cepat menyebabkan resistensi dan sering memberi rasa tak enak di
lambung.
Sefalosporin
Pada pioderma yang berat atau pioderma yang tidak memberi respons terhadap
obat-obat yang telah disebutkan di atas, dapat memakai sefalosporin. Ada empat
generasi yang berkhasiat untuk kuman Gram positif yaitu generasi I, juga generasi
IV. Contohnya sefadroksil dari generasi I dengan dosis untuk orang dewasa 2x500
mg atau 2x1000 mg sehari.
b. Topikal
Berbagai macam obat topikal dapat digunakan untuk mengobati pioderma. Obat
topikal antimikrobial hendaknya tidak dipakai secara sistemik agar nantinya tidak
terjadi resistensi dan hipersensitivitas, contohnya adalah basitrasin, neomisin, dan
mupirosin. Neomisin berkhasiat untuk kuman Gram negatif. Teramisin dan
kloramfenikol tidak begitu efektif, namun banyak digunakan karena harganya murah.
Obat-obat tersebut ditemukan dalam bentuk salap atau krim.
2. Mikosis (akibat jamur)
2.1 Definisi dan Klasifikasi
Mikosis adalah penyakit yang disebabkan oleh jamur. Penyakit jamur atau mikosis dibagi
menjadi 2, yaitu mikosis profunda dan mikosis superfisialis. Mikosis superfisialis ada 2
macam, yaitu dermatofitosis dan nondermatifitosis.
2.1.1

Dermatofitosis

2.1.1.1 Definisi

Merupakan penyakit pada jaringan yang mengandung zat tanduk, misalnya


stratum korneum pada epidermis, rambut, kuku, yang disebabkan golongan
jamur dermatofita.
2.1.1.2 Pengobatan
Dermatofitosis pada umumnya dapat diatasi dengan pemberian griseofulvin
yang bersifat fungistatik. Secara umum, griseofulvin diberikan dengan dosis
0,5-1 g untuk orang dewasa dan 0,25-0,5 g untuk anak-anak sehari atau 10-25
mg per kg berat badan. Lama pengobatan bergantung pada lokasi penyakit,
penyebab penyakit, dan keadaan imunitas penderita.
Untuk mempertinggi absorbsi obat dalam usus, sebaiknya obat dimakan
bersama-sama dengan makanan yang banyak mengandung lemak. Untuk
mempercepat waktu penyembuhan, kadang-kadang diperlukan tindakan khusus
atau pemberian obat topikal tambahan.
Obat per oral yang juga efektif untuk dermatofitosis yaitu ketokonazol yang
bersifat fungisitik. Pada kasus-kasus yang resisten terhadap griseofulvin dapat
diberikan obat tersebut sebanyak 200 mg per hari selama 10 hari-2 minggu
pada pagi hari setelah makan. Ketokonazol merupakan kontraindikasi untuk
penderita kelainan hepar.
Untuk menggantikan ketokonazol dapat digunakan itrakonazol. Pemberian
obat tersebut untuk penyakit kulit dan selaput lendir oleh penyakit jamur
biasanya cukup 2x 100-200 mg sehari dalam kapsul selama 3 hari.
2.1.2

Nondermatofitosis

2.1.2.1 Definisi pitiriasis versikolor


Salah satu contoh penyakit yang termasuk ke dalam nondermatofitosis
adalah pitiriasi versikolor. Pitiriasis versikolor adalah penyakit jamur
superficial yang kronik, biasanya tidak memberikan keluhan subyektif, berupa
bercak berskuama halus yang berwarna putih sampai coklat hitam, terutama
meliputi badan dan kadang-kadang dapat menyerang ketiak, lipatan paha,
lengan, tungkai atas, leher, muka, dan kulit kepala yang berambut.
2.1.2.2 Pengobatan
Pengobatan harus dilakukan menyeluruh, tekun, dan konsisten. Obat-obatan
yang dapat dipakai misalnya suspensi selenium sulfide (selsun) dapat dipakai
sebagai sampo 2-3 kali seminggu. Obat digosokkan pada lesi dan didiamkan

15-30 menit sebelum mandi. Obat-obat lain yang berkhasiat terhadap penyakit
ini adalah: salisil spiritus 10%; derivat-derivat azol, misalnya mikonazol,
klotrimazol, isokonazol, dan ekonazol; sulfur presipitatum dalam bedak kocok
4-20%; toksiklat; tolnaftam dan haloprogin. Jika sulit disembuhkan
ketokonazol dapat dipertimbangkan dengan dosis 1x200 mg sehari selama 10
hari.
3. Penyakit Kulit akibat Virus
3.1 Klasifikasi penyakit
Penyakit kulit karena virus terdiri dari herpes zoster, herpes simpleks, veruka,
kondiloma akuminatum, moluskum kontangiosum, varisela dan variola.
3.1.1

Herpes Zoster
Merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus varisela zoster
yang menyerang kulit dan mukosa, infeksi ini merupakan reaktivasi virus yang
terjadi setelah infeksi primer.

3.1.2

Pengobatan
Terapi sistemik umumnya bersifat simtomatik, untuk nyerinya diberikan
analgetik. Jika disertai infeksi sekunder diberikan antibiotik.
Pengobatan topikal bergantung pada stadiumnya. Jika masih stadium
vesikel diberikan bedak dengan tujuan protektif untuk mencegah pecahnya vesikel
agar tidak terjadi infeksi sekunder. Bila erosif diberikan kompres terbuka. Kalau
terjadi ulserasi dapat diberikan salap antibiotik.

4. Penyakit Kulit akibat Parasit


Penyakit yang disebabkan oleh parasit di antaranya adalah pedikulosis (pedikulosis
humanus capitis, pedikulosis humanus corporis, dan phthirus pubis), skabies dan creeping
disease.
4.1 Pedikulosis Korporis
Penyakit ini biasanya menyerang orang dewasa dengan higiene yang buruk.
Penyebaran penyakit ini bersifat kosmopolit, lebih sering pada daerah beriklim dingin
karena orang memakai baju tebal serta jarang dicuci.
4.2 Pengobatan

Pengobatannya dengan pemberian krim gameksan 1% yang dioleskan tipis di


seluruh tubuh dan didiamkan selama 24 jam, setelah itu penderita disuruh mandi. Jika
masih belum sembuh diulangi 4 hari kemudian. Obat lainnya adalah emulsi bensil benzoat
25% dan bubuk malathion 2%. Jika terdapat infeksi sekunder diobati dengan antibiotik
secara sistemik dan topikal.
5. Penatalaksanaan terhadap Bercak Putih
Pengobatan terhadap bercak putih harus dilakukan menyeluruh, tekun, dan konsisten.
Obat-obatan yang dapat dipakai misalnya suspensi selenium sulfide (selsun) dapat dipakai
sebagai sampo 2-3 kali seminggu. Obat digosokkan pada lesi dan didiamkan 15-30 menit
sebelum mandi. Obat-obat lain yang berkhasiat terhadap penyakit ini adalah: salisil spiritus
10%; derivat-derivat azol, misalnya mikonazol, klotrimazol, isokonazol, dan ekonazol; sulfur
presipitatum dalam bedak kocok 4-20%; toksiklat; tolnaftam dan haloprogin. Jika sulit
disembuhkan ketokonazol dapat dipertimbangkan dengan dosis 1x200 mg sehari selama 10
hari.
6. Penatalaksanaan terhadap Gatal
Pengobatan gatal dapat dikategorikan ke dalam beberapa cara. Sebuah metode umum
mengelompokannya menjadi pengobatan terhadap penyebab dan gejala.
Tata laksana gatal disesuaikan dengan penyebab yang mendasari. Pada pasien gatal
dengan penyebab sistemik, keluhan gatal akan berkurang sesuai dengan perbaikan penyakit
yang mendasari. Naltrexone dan Nalmefene dapat mengurangi gatal pada pasien dengan
gangguan hati. Gabapentin dapat mengurangi gatal pada pasien dengan gagal ginjal kronis.
Obat yang dapat digunakan antara lain antihistamin topikal dan sistemik,
kortikosteroid, anestesi lokal, dan immunomodulators topikal.

Daftar Pustaka
1. Djuanda A. Pioderma dalam Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi ke 5. Jakarta: Balai
Penerbit FKUI; 2010. p. 57-58.
2. Budimulja U. Mikosis dalam Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi ke 5. Jakarta: Balai
Penerbit FKUI; 2010. p. 89, 100-101.
3. Handoko RP. Penyakit Virus dalam Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi ke 5. Jakarta:
Balai Penerbit FKUI; 2010. p. 110-112.
4. Handoko RP. Penyakit Parasit Hewani dalam Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi ke 5.
Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2010. p. 119-121.
5. Riskiyana.

Penatalaksanaan

Pitiriasis

Versicolor.

Diunduh

dari

http://www.fkumyecase.net/wiki/index.php?page=Penatalaksanaan+Pitiriasis+Versicolor. Pada
tanggal 2 Oktober 2010, pukul 23.11.
6. Lovell

P.

Management

and

Treatment

of

Pruritus.

Diunduh

http://www.skintherapyletter.com/2007/12.1/1.html. Pada tanggal 3 Oktober, pukul 16.01.

dari