Anda di halaman 1dari 7

VULVOVAGINITIS : SKRINING DAN PENGELOLAANNYA

PADA TRICHIMONIASIS, CANDIDIASIS


VULVOVAGINAL, DAN VAGINITIS BAKTERI
Abstrak
Tujuan : Untuk meninjau bukti dan memberikan rekomendasi mengenai skrining dan pengelolaan
kandidiasis vulvovaginal, trikomoniasis, dan vaginosis bakteri
Hasil : Hasil yang dievaluasi meliputi efikasi pengobatan antibiotik, tingkat kesembuhan infeksi ringan
dan berat, dan implikasi pada kehamilan
Bukti :Terbitan literatur ini diambil melalui pencarian dari MEDLINE, EMBASE, CINAHL, dan The
Cochrane Library Juni 2013 menggunakan kosakata yang sesuai (misalnya, vaginitis, trikomoniasis,
kandidiasis vagina) dan kata kunci (bakteri vaginosis, yeast, kandidiasis, trichomonas vaginalis,
trikomoniasis, vaginitis, pengobatan). Hasil ditinjau secara sistematis, dengan RCT dan studi
observasional. Tidak ada batasan waktu, tapi hasilnya terbatas pada materi bahasa Inggris atau bahan
bahasa Perancis. Pencarian diperbarui secara teratur dan dimasukkan dalam pedoman hingga mei 2014.
Literatur Grey (tidak dipublikasikan) diidentifikasi melalui pencarian situs pengkajian teknologi
kesehatan dan teknologi yang berhubungan dengan lembaga kesehatan, kumpulan pedoman praktik
klinis, dan masyarakat spesialisasi medis nasional dan internasional .
Penilaian: kualitas bukti dalam dokumen ini dinilai menggunakan kriteria yang dijelaskan dalam
Report of the Canadian Task Force on Preventive Health Care (Tabel 1)
Ringkasan Laporan
1.Kandidiasis vulvovaginal mempengaruhi 75% dari populasi wanita setidaknya terjadi sekali seumur
hidup. Obat antifungi golongan azole dengan sediaan topikal dan oral sama efektifnya. (I)
2. Kandidiasis vulvovaginal rekuren terjadi sebanyak 4 atau lebih
episode per tahun. (II-2)
3. Trichomonas vaginalis merupakan infeksi menular seksual non-viral yang paling akurat dideteksi
dengan tes antigen dengan menggunakan vaginal swab dan dievaluasi oleh immunoassay atau nucleic
acid amplification test (II-2)
4. Tingkat kesembuhan yang sama sampai dengan 88% untuk trikomoniasis yang diobati dengan
metronidazol oral 2 g sekali atau 500 mg dua kali sehari selama 7 hari. (IA)
5. Saat ini Bukti mengenai efikasi terapi alternatif untuk vaginosis bakteri (probiotik, vitamin C)
terbatas. (I)
Rekomendasi
1. Berdasarkan terapi awal, keberhasilan pengobatan Kandidiasis vulvovaginal rekuren ditingkatkan
dengan pemberian flukonazol oral mingguan selama6 bulan. (II-2A)
2. Gejala Kandidiasis vulvovaginal yang diobati dengan azoles topikal
mungkin memerlukan waktu terapi yang lebih lama untuk penyembuhan. (1-A)
3. Uji penyembuhan setelah pengobatan trikomoniasis dengan metronidazol oral tidak dianjurkan. (ID)
4. Terapi dosis tinggii mungkin diperlukan untuk kasus-kasus yang resisten terhadap terapi
trikomoniasis. (I-A)
5. Pada kehamilan, pengobatan simtomatik Trichomonas vaginalis dengan metronidazol oral
diperbolehkan untuk pencegahan kelahiran prematur. (I-A)
6. Vaginosis bakteri harus didiagnosis dengan menggunakan uji diagnostik klinis (Amsel) atau
laboratorium (pewarnaan Gram dengan sistem penilaian yang obyektif) . (II-2A)
7. Vaginosis bakteri gejala harus ditangani dengan metronidazole oral 500 mg dua kali sehari selama 7
hari. Sediaan alternatif termasuk vaginal gel metronidazole dan oral atau vaginal cream klindamisin.
(I-A)
8. Waktu terapi yang lebih untuk vaginosis bakteri pada wanita dengan riwayat mulipel rekuren
dieekomendasikan. (I-A)

Tabel 1. Kunci sebagai pernyataan bukti dan rekomendasi grading, dengan menggunakan sistem
peringkat dari Canadian Task Force on Preventive Health Care
Kualitas penilaian bukti
Klasifikasi rekomendasi
I. Bukt iyang diperoleh dari setidaknya satu RCT
A. Terdapat bukti yang bagus untuk
merekomendasikan tindakan pencegahan
II-1. Bukti yang diperoleh dari well-designed
klinis
control trial tanpa randomisasi
B.Terdapat bukti yang seimbang untuk
II-2. Bukti dari studi well-designed control cohort merekomendasikan tindakan pencegahan klinis
(prospektif atau retrospektif) atau studi casecontrol, yang rujukannya lebih dari satu pusat C. Bukti yang telah ada saling bertentangan dan
atau kelompok penelitian
tidak
meperbolehkan
untuk
membuat
rekomendasi atau menentang penggunaan
II-3. Bukti yang diperoleh dari perbandingan tindakan pencegahan klinis, akan tetapi berbagai
antara waktu atau tempat-tempat dengan atau faktor mungkin berpengaruh terhadap pembuatan
tanpa intervensi. hasil yang dramatis dalam keputusan
percobaan terkontrol (seperti hasil pengobatan
dengan penisilin pada tahun 1940) bisa juga D. Terdapat bukti yang seimbang yang
dimasukkan dalam kategori ini.
direkomendasikan untuk menentang tindakan
pencegahan klinis
III. Pendapat otoritas yang
dihormati,
berdasarkan pengalaman klinis, penelitian E.
Terdapat
bukti
yang
bagus
yang
deskriptif, atau laporan dari komite ahli
direkomendasikan untuk menentang tindakan
pencegahan klinis
F.Terdapat bukti yang kurang mendukung untuk
membuat rekomendasi, akan tetapi berbagai
faktor bisa mempengaruhi dalam pembuatan
keputusan
Vulvovaginal Candidiasis
Vulvovaginal Candidiasis merupakan kondisi yang sangat umum yang mempengaruhi hingga 75% dari
perempuan setidaknya sekali seumur hidup. Faktor resiko VVC termasuk aktivitas seksual, riwayat
penggunaan antibiotik , kehamilan, dan imunosupresi pada berbagai kondisi seperti infeksi HIVtidak
terkontrol atau diabetes.
Organisme Penyebab
VVC paling sering disebabkan oleh Candida albicans. Namun, spesies lain dari Candida seperti
glabrata, parapsilosis, dan tropicalis juga dapat menyebabkan penyakit tersebut.
Reservoir utama Candida terdapat pada rektum, tetapi kolonisasi pada vagina juga dapat ditemukan.
Faktor yang terkait dengan perkembangan kolonisasi bakteri hingga menyebabkan gejala infeksi
melibatkan kombinasi dari kerentanan host, respon inflamasi host, dan faktor virulensi kandidiasis.
Gejala diduga disebabkan oleh peningkatan yeast cadida dan penetrasinya di sel epitel vulvovaginal
Gambaran Penyakit
Tanda-tanda dan gejala VVC ringan termasuk discharge kental seperti keju pada vagina dan vulva
pruritus, nyeri, rasa terbakar, eritema , dan / atau edema. Disuria eksternal dan dispareunia juga dapat
terjadi.
VVC berat dapat didefinisikan sebagai episode yang berulang (4 atau lebih dalam jangka waktu 12
bulan), gejala yng dialami lebih berat, akibat dari spesies non-albicans, atau muncul pada host yang
imunocompromised. Kondisi ini lebih umum pada orang-orang dengan imunosupresi, diabetes, atau
keduanya. Tes tambahan untuk HIV dan diabetes dapat dilakukan dalam kondisi tersebut.
Diagnosis

diagnosis VVC memerlukan pemeriksaan pelvis (vaginal examination). Kombinasi discharge kental
dan pruritis pada vulva tidak sensitif dan tidak spesifik untuk mendiagnosis penyakit tersebut.
Eritema dan edema pada vulva dan jaringan vagina disertai dengan discharge berwarna putih dapat
mendukung diagnosis. Sekresi vagina pada VVC memiliki pH <4,5, dan yeast dan pseudohyphae
dapat dilihat pada preparat basah. Tes bau ( - ) dan pewarnaan gram dapat mengetahui sel
polimorfonuklear, ragi, dan pseudohyphae.
Ketika ada bukti VVC berat, pengumpulan cairan vagina untuk kultur dan spesiasi yeast dapat
membantu terapi langsung karena ada kemungkinan peningkatan pewarnaan non-albicans pada
berbagai kasus
Pengobatan
Pengobatanuntuk VVC diperlukan untuk mengobati gejala yang ditimbulkan. Identifikasi yeast pada
preparat basah, pewarnaan gram / kultur, atau skrining Pap tanpa adanya gejala yang terkait tidak
menjamin keberhasilan terapi. Lebih dari 20% wanita mungkin memiliki yeast sebagai microbiome
alami pada vagina mereka dan mayoritas akan asymptomatic. Pengobatan dan pilihan dosis untuk VVC
ringan, VVC rekuren, dan non-albicans VVC diringkas dalam Tabel 2.
Efek pada Kehamilan
Pada kehamilan, VVC dapat terjadi lebih lama dan menimbulkan gejala yang lebih berat, dan resolusi
gejala biasanya memerlukan terapi yang lama. Hanya azoles topikal dianjurkan pada kehamilan.
Pengobatan menggunakan krim imidazol eksternal dan ovula intravaginal sampai 14 hari mungkin
diperlukan. Perawatan berulang mungkin juga diperlukan. Flukonazol oral harus dihindari pada
kehamilan karena dapat meningkatkan risiko tetralogi Fallot. Keamanan flukonazol oral pada trimester
kedua dan ketiga belum diselidiki. Asam borat Intravaginal telah dikaitkan dengan peningkatan resiko
lahir cacat sebesar dua kali lipat ketika digunakan selama 4 bulan pertama kehamilan, dan dengan
demikian harus dihindari hingga sekarang.
Ringkasan Laporan
1.Kandidiasis vulvovaginal mempengaruhi 75% dari wanita setidaknya sekali seumur hidup. Obat
antifungi golongan azole dengan sediaan topikal dan oral sama-sama efektif. (I)
2. Kandidiasis vulvovaginal rekuren didefinisikan terjadi sebanyak 4 atau lebih
episode per tahun. (II-2)
Rekomendasi
1. Berdasarkan terapi awal, keberhasilan pengobatan Kandidiasis vulvovaginal rekuren ditingkatkan
dengan pemberian flukonazol oral mingguan selama 6 bulan. (II-2A)
2. Gejala Kandidiasis vulvovaginal yang diobati dengan azoles topikal mungkin memerlukan waktu
terapi yang lebih lama untuk penyembuhan. (1-A)
Trichomonas Vaginalis
Organisme Penyebab
T. vaginalis merupakan organisme flagellata protozoa parasitic anaerob yang terletak sel epitel saluran
urogenital. Infeksi yang disebabkan oleh organisme ini terbatas pada saluran urogenital. Kondisi
infeksi ini disebut sebagai Trichomoniasis.
Gambaran penyakit
Prevalensi T. vaginalis di Amerika Serikat dilaporkan sebesar 3,1% diantara wanita usia produktif (1449 tahun). Secara global, hal itu merupakan infeksi menular seksual non-viral yang paling umum,
dengan perkiraan 170 juta kasus yang dilaporkan tiap tahun. Data tersebut bukan penyakit yang
dilaporkan di Kanada, sehingga data prevalensi Kanada tidak tersedia.
Gejala yang berhubungan dengan infeksi dapat diukur dari : 64% sampai 90% dari orang terinfeksi
biasanya asimtomatik, dan infeksi pada mereka yang tidak menunjukkan gejala, dapat bertahan
selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Pria cenderung memiliki gejala lebih sedikit daripada
wanita dan oleh karena itu dapat menjadi vektor asimtomatik untuk menyebabkan infeksi. Pria yang
bergejala mungkin mengalami gejala uretritis: disuria dan timbul discharge mukopurulen yang jelas.
Pada wanita, organisme dapat ditemukan di vagina, serviks, kandung kemih, atau Bartholin, Skene,
atau glandula periuretra. Pada wanita yang timbul gejala biasanya memiliki volume keputihan yang
meningkat; mungkin berbau busuk, berwarna hijau atau kuning , dan timbul busa. Selain itu, pruritus
yang signifikan dengan vulvitis dan vaginitis, disuria, dan dispareunia mungkin terjadi. Beberapa

mungkin menunjukkan bintik-bintik perdarahan (petechiae) pada mukosa genital, disebut sebagai
colpitis macularis (strawberry cervix).

Diagnosis
Preparat basah untuk pemeriksaan mikroskopik dari parasit yang motil memiliki sensitivitas hingga
65%, dan sampel harus periksa dalam waktu 10 menit untuk mengamati kemungkinan motilitas.
Kultur T. vaginalis memiliki spesifisitas yang tinggi (hampir 100%), tetapi memiliki sensitivitas yang
lebih rendah ( 75%) untuk ditegakannya diagnosis. Pemindahan prepararat yang cepat ke laboratorium
ideal untuk memastikan viabilitas organism. Walaupun organisme dapat dideteksi pada tes skrining
Papanicolaou, hal ini tidak dapat digunakan untuk memastikan diagnostik karena sensitivitas T.
vaginalis yang rendah untuk tes tersebut.
Tabel 2. Pilihan pengobatan sebagai terapi candidiasis vulvovaginitis
VVC Ringan
Terapi
Medikasi
Imidazole antifungals
Clotrimazole
(over the counter)
cream/ointment

Insert/ovule/suppository
Miconazole
cream/ointment
Insert/ovule/suppository

VVC Rekuren

Induction

Imidazole cream
Fluconazole (oral)
Boric acid insert 13

Maintenance

Clotrimazole insert
Fluconazole (oral)
Boric acid insert

VVC non-albican

Ketoconazole (oral)
Boric acid insert
Flucytosine cream
Amphotericin
suppository
Nystatin suppository

Dosis
1%: 1x1 selama 7
hari, or
2%: 11 selama 3
hari , atau
10%: hanya sekali
200 mg: 11 selama
3 hari atau
500 mg: hanya sekali
2%: 11 selama 7
hari, atau
4%: 11 selama 3
hari
100 mg: 11 selama
7 hari, atau
400 mg: 11 selama
3 hari, atau
1200 mg: hanya
sekali
10 - 14 hari, untuk
VVC ringan
150 mg: 3 dosis,
dalam jeda 72 jam
300 to 600 mg 1x1
selama 14 hari
500 mg: sekali
sebulan selama 6
bulan
150
mg:
sekali
seminggu
300
mg
sehari
selama 5 hari saat
awal siklus mens
100 mg 1x1 selama
14 hari
300 to 600 mg pada
malam hari 14 hari
5 g 11 selama 14
hari
50 mg 1x1 selama 14
hari
100 000 units 1x1
untuk 3 - 6 bulan

Pengujian Terhadap Antigen


Tes Immunoassay dipstick merupakan tes antigen yang cepat dengan hasil yang muncul dalam waktu
10 menit. Sensitivitasnya (82-95%) dan spesifisitas (97-100%) keduanya memiliki hasil yang tinggi.
NAATs adalah tes yang paling sensitif yang tersedia saat ini untuk memeriksa hasil dari swab vagina.
Swab urine dan serviks juga dapat digunakan. Sensitivitas dan spesifisitas untuk NAATs keduanya
95% sampai 100% .
Karena T. vaginalis adalah Infeksi Menular Seksual, diagnosis ini berguna untuk skrining penyakit
Infeksi Menular Seksual lainnya.
Pengobatan
Pengobatanuntuk T. vaginalis terdiri dari metronidazol oral 2 g dosis tunggal atau 500 mg dua kali
sehari selama 7 hari. Tingkat kesembuhan dengan salah satu dari rejimen ini setinggi 88%, dan bahkan
lebih tinggi lagi ketika pasangan seksual secara bersamaan juga diobati. Sekitar 5% dari strain T.
vaginalis resisten terhadap metronidazol. Dosis tinggi dan/atau terapi metronidazol dalam jangka
waktu yang lebih lama cenderung efektif dalam situasi ini. Sebuah terapi alternatif untuk kasus-kasus
resisten terhadap terapi metronidazole adalah Tinidazol 2 g secara oral sekali.
Pengobatan Kepada Pasangan Seksual
Guidlines PHAC 2010 pedoman tentang IMS tidak direkomendasikan untuk skrining pada pasangan
seksual
tetapi direkomendasikan untuk menjalani pengobatan. Banyak pasangan pria yang
asimtomatik. Pasien dan pasangannya harus diberikan jenis rejimen pengobatan yang sama. Pasien dan
pasangan disarankan tidak berhubungan seksual sampai kedua pasien diobati dan asymptomatic. Uji
obat ini tidak dianjurkan, tapi evaluasi ulang disarankan dengan kekambuhan gejala. Ada peningkatan
risiko penularan HIV bagi pria dan wanita yang terinfeksi T. vaginalis , sehingga akan sangat penting
untuk menjalani skrining dan pengobatan untuk penyakit ini yang tertular HIV dari pasangannya.
Efek Pada Kehamilan
Infeksi T. vaginalis pada kehamilan dikaitkan dengan kejadian kelahiran prematur. Jika pasien
bergejala dan pengujian menunjukan adanya infeksi, pengobatan segera diberikan. Skrining dan
pengobatan untuk infeksi asimtomatik pada wanita dengan riwayat kelahiran prematur atau ketuban
pecah dini masih diperdebatkan. Beberapa studi telah menunjukkan adanya manfaat dan studi lain
menunjukkan peningkatan angkakelahiran prematur pada grup yang diobati. Penggunaan metronidazol
dalam kehamilan dianggap aman; banyak studi meta-analisis menunjukkan tidak ada peningkatan
risiko efek teratogenik dengan pengobatan metronidazole. Dosis metronidazole yang dianjurkan pada
kehamilan sama dengan dosis untuk wanita yang tidak hamil.
Efek Samping Obat
Efek samping metronidazol meliputi mual, muntah, sakit kepala, insomnia, pusing, mengantuk , ruam,
mulut kering, dan pengecapan seperti rasa logam. Reaksi disulfiram dapat terjadi jika dikombinasikan
dengan alkohol. Menghindari alkohol untuk setidaknya satu hari setelah menyelesaikan pengobatan
yang dianjurkan .
Ringkasan Laporan
3. Trichomonas vaginalis merupakan infeksi menular seksual non-viral yang paling akurat dideteksi
dengan tes antigen dengan menggunakan vaginal swab dan dievaluasi oleh immunoassay atau nucleic
acid amplification test (II-2)
4. Tingkat kesembuhan yang sama sampai dengan 88% untuk trikomoniasis diobati
dengan metronidazol oral 2 g sekali atau 500 mg dua kali sehari selama 7 hari. (IA)
Rekomendasi
3. Uji penyembuhan setelah pengobatan trikomoniasis dengan metronidazol oral tidak dianjurkan. (ID)
4. Terapi dosis tinggi mungkin diperlukan untuk kasus-kasus yang resisten terhadap terapi
trikomoniasis. (I-A)
5. Pada kehamilan, pengobatan simtomatik Trichomonas vaginalis dengan metronidazol oral
diperbolehkan untuk pencegahan kelahiran prematur. (I-A)

Vaginosis Bakteri
Organisme Penyebab
flora normalpada vagina yang terdiri bakteri aerobik dan anaerobik, dengan spesies Lactobacillus
sebagai mikroorganisme dominan dan dengan jumlah lebih dari 95% dari semua bakteri yang ada.
Lactobacilli diyakini memberikan pertahanan terhadap infeksi dengan mempertahankan pH asam di
vagina dan memastikan adanya hidrogen peroksida dalam lingkungan. Sebaliknya, vaginosis bakteri
merupakan sindrom polimikroba yang mengakibatkan konsentrasi dari lactobacilli menurun dan
menyebabkan peningkatan bakteri patogen. Organisme tunggal tidak didapatkan pada vaginosis
bakteri, melainkan banyak bakteri yang berbeda yang muncul, termasuk Gardnerella vaginalis, spesies
Mobiluncus, spesies Bacteroides dan Prevotella, dan spesies mycoplasma .
Gambaran Penyakit
Bakteri vaginosis merupakan penyakit yang paling umum pada traktus genitalis bagian bawah pada
wanita usia reproduktif, penyebab paling umum dari vaginitis baik pada wanita hamil dan tidak hamil,
dan penyebab paling umum dari sekret vagina yang bau. Tingkat prevalensi vaginosis pada wanita
hamil dan tidak hamil sama . Hal Ini dikaitkan dengan banyak komplikasi obstetri dan ginekologis
seperti persalinan dan kelahiran prematur , ketuban pecah dini, aborsi spontan, korioamnionitis,
endometritis postpartum, infeksi luka pasca operasi caesar, infeksi pascaoperasi, dan gejala subklinis
pelvic inflamatory disease.
Beberapa faktor risiko telah diidentifikasi dapat meningkatkan risiko akuisisi vaginosis bakteri. Hal ini
lebih sering terjadi pada wanita kulit hitam, wanita yang merokok, dan wanita yang menggunakan
douche vagina atau produk intravaginal. Meskipun saat ini tidak dianggap sebagai IMS, vaginosis
bakteri telah dikaitkan dengan aktivitas seksual. Hal ini lebih sering terjadi pada wanita yang aktif
secara seksual, dan risikonya meningkat dengan banyaknya pasangan seksual dan frekuensi hubungan
seksual.
Diagnosis
bakteri vaginosis dapat didiagnosis secara klinis dan / atau mikrobiologis. Kriteria diagnostik klinis
yang diterbitkan pada tahun 1983 oleh Amsel et al, masih digunakan sampai sekarang,
merekomendasikan diagnosis vaginosis bakteri jika 3 dari 4 tanda-tanda berikut ini muncul : sekret
vagina yang adheren dan homogen ; pH vagina lebih dari 4,5; deteksi pada preparat basah berupa clue
cell (sel epitel vagina seperti lapisan koloni bakteri dgn batas perifer tidak tegas); dan / atau bau amina
setelah penambahan kaliumhidroksida (uji bau positif).
Pewarnaan gram pada cairan vagina merupakan metode mikrobiologis yang paling banyak digunakan
dan dievaluasi untuk diagnosis vaginosis bakteri. Kebanyakan laboratorium menggunakan skema
diagnostik objektiv dengan cara menghitung jumlah morphotypes Lactobacillus dan bakteri patogen,
sehingga menghasilkan skor yang digunakan untuk menentukan ketika infeksi timbul. Sistem yang
paling umum digunakan dikembangkan oleh Nugent dan rekan-rekanya dan dikenal sebagai skor
Nugent (Tabel 3) .vaginosis bakterial didiagnosis dengan skor 7 atau lebih . Skor 4-6 dianggap
intermediet dan skor 0-3 dianggap normal.
Pengobatan
Meskipun vaginosis bakteri telah dikaitkan dengan hasil ginekologis yang merugikan, tidak ada bukti
yang jelas bahwa pengobatan vaginosis bakteri dapat mengurangi resiko komplikasi ginekologi
tersebut. Oleh karena itu, pengobatan biasanya diberikan untuk wanita dengan gejala-gejala yang
mengganggu.
Pengobatan untuk vaginosis bakteri yang direkomendasikan di Kanada dalam pedoman PHAC pada
IMS disajikan pada Tabel 4. Terapi lini pertama adalah metronidazole oral 500 mg dua kali sehari
selama 1 minggu. Tingkat kesembuhan yang dilaporkan setelah terapi berkisar antara 75% sampai 85%
dan tidak ada perbedaan antara metrondiazole oral dan vaginal. Tinidazol oral telah dipelajari sebagai
alternatif untuk metronidazol dalam uji coba di Eropa dan Amerika Serikat. Bukti sampai saat ini
menunjukkan tingkat kesembuhan yang sama dengan kemungkinan pengurangan jumlah dosis yang
diperlukan dan efek samping gastrointestinal dengan tinidazole. Obat ini saat ini tidak tersedia di
Kanada.

Vaginosis Bakteri Rekuren


Sayangnya, tingkat rekurensi setelah pengobatan pada vaginosis bakteri masih tinggi dalam banyak
studi, sampai dengan sepertiga dari wanita yang diobati nengalami rekurensi dalam waktu 3 bulan, dan
dengan adanya banyak perempuan yang rekuren semakin lama pula tindak follow up-nya. Sebelum
memulai beberapa program terapi, dianjurkan untuk memastikan diagnosisnya. Pada wanita dengan
rekurensi yang dicatat , memperluas tindak terapi menekan pertumbuhan bakteri abnormal telah
terbukti menjadi strategi yang efektif untuk mengurangi kemungkinan rekurensi lebih lanjut. Opsi
pertama adalah dengan menggunakan metronidazol oral 500 mg dua kali sehari selama 10 sampai 14
hari. Jika ini tidak efektif, terapi yang dianjurkan adalah metronidazol gel vagina 0,75% dengan
aplikator (5 g) setiap hari selama 10 hari, kemudian 2 kali per minggu selama 3 sampai 6 bulan. hasil
rejimen ini secara signifikan menurunkan kemungkinan rekurensi saat pengobatan dan selanjutnya
dibandingkan dengan placebo Ada juga beberapa bukti bahwa penggunaan kondom dapat menurunkan
kemungkinan kekambuhan pada wanita yang aktif secara seksual.
Baru-baru ini telah terjadi peningkatan minat penggunaan probiotik dan agen lainnya untuk pengobatan
insidensi dan vaginosis bakteri rekuren. Sayangnya sangat sedikit literatur ada dalam penggunaan
produk ini. Ada satu penelitian yang diterbitkan dari Cina di mana wanita dengan vaginosis bakteri
rekuren yang dipilih secara random menggunakan probiotik vagina setiap hari atau plasebo. Wanita
pada kelompok probiotik memiliki tingkat kekambuhan lebih rendah dibandingkan di group plasebo
.Studi lain menguji penggunaan tablet vitamin C vagina dibandingkan dengan plasebo untuk
pengobatan vaginosis bakteri. Banyak perempuan pada kelompok plasebo yang masih memiliki
vaginosis bakteri pada akhir periode penelitian. Sayangnya, kedua studi diagnosis didasarkan pada
kriteria klinis (Amsel) daripada Nugent score atau pengecatan gram, dan total follow up dalam studi
vitamin C hanya 20 hari.
Efek Pada Kehamilan
vaginal discharge adalah umum pada kehamilan dan mungkin hal itu fisiologis. Pada wanita dengan
discharge persisten, skrining untuk traktus genitalis bagian bawah (vagina dan leher rahim) dianjurkan.
Jika vaginosis bakteri didiagnosis pada wanita hamil yang disertai dengan gejala, pengobatan
diindikasikan. Pedoman PHAC pada IMS merekomendasikan penggunaan metronidazol 500 mg secara
oral dua kali sehari selama 7 hari atau clindamycin 300 mg secara oral dua kali sehari selama 7 hari.
Pengobatan topikal tidak dianjurkan. Keberhasilan pengobatan memiliki tingkat yang relatif moderat
dengan tingginya tingkat kekambuhan pada beberapa wanita.
Ringkasan Laporan
5. Bukti saat ini mengenai efikasi terapi alternatif untuk
vaginosis bakteri (probiotik, vitamin C) terbatas. (I)
Rekomendasi
6. Vaginosis bakteri harus didiagnosis dengan menggunakan uji diagnostik klinis (Amsel) atau
laboratorium (pewarnaan Gram dengan sistem penilaian yang obyektif) . (II-2A)
7. Vaginosis bakteri gejala harus ditangani dengan metronidazole oral 500 mg dua kali sehari selama 7
hari. Sediaan alternatif termasuk vaginal gel metronidazole dan oral atau vaginal cream klindamisin.
(I-A)
8. Waktu terapi yang lebih untuk vaginosis bakteri pada wanita dengan riwayat mulipel rekuren
dieekomendasikan. (I-A)