Anda di halaman 1dari 28

Laporan Kasus Ujian

OD Katarak Senilis Imatur + OS Suspect Low


Tension Glaucoma

PEMBIMBING

dr. Djoko Heru, Sp.M

Disusun oleh:
Santy
11-2015-271

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT MATA


PERIOD 9 MEI 2016-9 JUNI 2016
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA
RUMAH SAKIT MARDI RAHAYU

FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA


(UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA)
Jl. Terusan Arjuna No. 6 Kebon Jeruk-Jakarta Barat
LAPORAN KASUS UJIAN
KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT MATA
RUMAH SAKIT MARDI RAHAYU KUDUS

Nama :Santy

Tanda Tangan

Nim : 112015271

........................

Dr. Pembimbing/Penguji: dr. Djoko Heru, Sp. M


.......................

IDENTITAS PASIEN
Nama lengkap

: Tn. TS

Umur

: 55 tahun (01-01-1961)

Agama

: Islam

Alamat

: Kesambi RT/RW 01/02 Mejobo, Kudus

Pekerjaan

: Karyawan Swasta

No. RM

: 429628

ANAMNESIS`
Anamnesis secara

: Autoanamnesis pada tanggal 27 Mei 2016 di Poliklinik Mata.

Keluhan Utama

: Mata kanan mengalami penglihatan buram seperti berkabut sejak 6


bulan yang lalu.

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang ke poliklinik dengan keluhan penglihatan buram seperti berkabut pada mata
kanan sejak 6 bulan yang lalu. Penglihatan pada mata kanan bertambah buram perlahan-lahan
sejak 3 bulan yang lalu. Pasien mengatakan saat melihat sumber cahaya, pasien terkadang
merasa silau dan nyeri kepala yang hilang timbul. Pasien tidak melihat adanya pelangi di
2

sekitar cahaya atau lampu. Tidak ada keluhan rasa mengganjal, mata merah, mata berair dan
nyeri tekan pada mata maupun nyeri saat menggerakkan bola mata. Pasien juga tidak
mengalami mual dan muntah.
Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien tidak mempunyai riwayat pemakaian kacamata, diabetes mellitus, maupun riwayat
trauma pada mata sebelumnya. Tetapi memiliki riwayat hipertensi sejak 1 tahun yang lalu dan
rutin meminum obat.

Riwayat Penyakit Keluarga


Tidak terdapat anggota keluarga yang memiliki riwayat penyakit hipertensi, diabetes mellitus,
riwayat trauma dan keluhan yang sama dengan pasien.

Riwayat Obat
Pasien tidak memiliki riwayat pemakaian obat tetes mata sebelumnya.
Riwayat Sosial Ekonomi
Pasien bekerja sebagai karyawan swasta, biaya pengobatan ditanggung oleh BPJS. Keluarga
pasien memiliki kemampuan ekonomi cukup.
PEMERIKSAAN FISIK
VITAL SIGN
Tekanan darah

: 130/90 mmHg

Nadi

: 80 x / menit

Suhu

: 36,2C

Pernapasan

: 22 x / menit

Keadaan Umum

: Baik

Kesadaran

: Compos mentis

Berat Badan

: 64 Kg

Tinggi Badan

: 171 cm

Status Gizi

: Baik (IMT: 21.88)


3

STATUS OFTALMOLOGI
Gambar:
OD

OS

Keterangan:
OD

OS
1. Arkus senilis (+)

1. Arkus senilis (+)

2. Lensa keruh sebagian


OCULI DEXTRA(OD)
0,25 ph NC
Gerak bola mata normal,

PEMERIKSAAN
Visus

OCULI SINISTRA(OS)
0,63 f 3 ph 0,63
Gerak bola mata normal,

enoftalmus (-),

Bulbus okuli

enoftalmus (-),

eksoftalmus (-),

eksoftalmus (-),

strabismus (-)
Hitam, simetris
edema (-)

strabismus (-)
Hitam, simetris
edema (-)

Supra silia

hiperemis(-)
nyeri tekan (-)

hiperemis(-)
Palpebra

nyeri tekan (-)

blefarospasme (-)

blefarospasme (-)

lagoftalmus (-)

lagoftalmus (-)

ektropion (-)

ektropion (-)

entropion (-)
edema (-)

entropion (-)
edema (-)

injeksi siliar (-)

injeksi siliar (-)

injeksi konjungtiva (-)

Konjungtiva

injeksi konjungtiva (-)

infiltrat (-)

infiltrat (-)

anemis (-)
Putih
Bulat

anemis (-)
Putih
Bulat

Sklera

jernih

jernih

edema (-),

Kornea

edema (-)

arkus senilis (+)

arkus senilis (+)

keratik presipitat (-)

keratik presipitat (-)

infiltrat (-)

infiltrat (-)

sikatriks (-)
Jernih,kedalaman dangkal,

sikatriks (-)
Jernih, kedalaman cukup,

Camera Oculi Anterior

hipopion (-), hifema (-)


Kripta (N), hitam, atrofi

(COA)

hipopion (-),hifema (-)


Kripta (N), hitam, atrofi (-)

(-) coklat, edema(-),

Iris

coklat, edema(-),

synekia (-)
Reguler, bentuk bulat

synekia (-)
Reguler, bentuk bulat

Letak sentral, hitam

Pupil

Letak sentral, hitam

Diameter 3 mm

Diameter 3 mm

Refleks pupil L/TL : (+/+)


Keruh sebagian

Lensa

refleks pupil L/TL : (+/+)


Jernih

Shadow test : positif


Positif suram
Sulit dinilai
Sulit dinilai

Refleks fundus
Vitreus
Papil

Positif
Jernih
Papil batas tegas

Sulit dinilai

CD ratio

CDR 0,4

Sulit dinilai

Pembuluh darah

AVR 2:3

Sulit dinilai

Retina

Eksudat (-)
Perdarahan (-)

Kelainan lakrimasi(-)

Sistem Lakrimasi

Neovaskularisasi (-)
Kelainan lakrimasi (-)

Tes Lapang Pandang (Tes Konfrontasi)

+
+

OD
+

+
+

+
+

OS
+

+
+
5

Keterangan:

OD: tidak terdapat defek lapang pandang.

OS: tidak terdapat defek lapang pandang.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Air Puff Tonometer
R : 15 mmHg
L : 13 mmHg
RESUME
Subjektif
Pasien datang ke poliklinik dengan keluhan penglihatan buram seperti berkabut pada mata
kanan sejak 6 bulan yang lalu. Penglihatan pada mata kanan bertambah buram perlahan-lahan
sejak 3 bulan yang lalu. Pasien mengatakan saat melihat sumber cahaya, pasien terkadang
merasa silau dan nyeri kepala yang hilang timbul.
Objektif
OCULI DEXTRA(OD)
0,25 ph NC

OCULI SINISTRA(OS)
0,63 f 3 ph 0,63

Arkus senilis (+)


Keruh sebagian

PEMERIKSAAN
Visus
Kornea
Lensa

Shadow test (+)


Sulit dinilai

CD ratio

0,4

Arkus senilis (+)


Jenih

Air Puff Tonometer


R : 15 mmHg
L : 13 mmHg
Tes Lapang Pandang (Tes Konfrontasi)

+
+
+

OD
+
+

+
+
+

+
+
+

OS
+
+

+
+
+
6

Keterangan:

OD: tidak terdapat defek lapang pandang

OS: tidak terdapat defek lapang pandang

DIAGNOSA KERJA
OD Katarak Senilis Imatur
Dari anamnesis didapatkan: keluhan penglihatan buram seperti berkabut pada mata kanan
sejak 6 bulan yang lalu. Penglihatan pada mata kanan bertambah buram perlahan-lahan sejak
3 bulan yang lalu. Pasien mengatakan saat melihat sumber cahaya, pasien terkadang merasa
silau. Umur pasien 55 tahun.
Pemeriksaan fisik mata: didapatkan COA dangkal, lensa keruh sebagian, shadow test positif.
OS Suspect Low Tension Glaucoma
Dari anamnesis didapatkan: saat melihat sumber cahaya, pasien terkadang merasa silau dan
nyeri kepala yang hilang timbul. Pasien tidak memiliki riwayat penggunaan obat tetes mata.
Pada pemeriksaan mata tidak ada defek lapang pandang. Pada pemeriksaan funduskopi
segmen posterior didapatkan CD ratio OS: 0,4.
Pada pemeriksaan tekanan intraokular (TIO) didapatkan OS 13 mmHg.

DIAGNOSA BANDING
OD Katarak Senilis Matur
Dasar yang mendukung
Dari anamnesis didapatkan: keluhan penglihatan buram seperti berkabut pada mata kanan
sejak 6 bulan yang lalu. Penglihatan pada mata kanan bertambah buram perlahan-lahan sejak
3 bulan yang lalu. Pasien mengatakan saat melihat sumber cahaya, pasien terkadang merasa
silau. Usia pasien 55 tahun.
Dasar yang tidak mendukung: pada pemeriksaan mata: COA dangkal, lensa keruh sebagian,
shadow test positif.
OD Katarak Traumatik
Dasar diagnosis yang mendukung
7

Adanya penglihatan kabur seperti berkabut.


Dasar yang tidak mendukung: dalam anamnesis tidak terdapat riwayat trauma pada mata.

TERAPI
Promotif

Edukasi mengenai katarak, dan komplikasinya.

Preventif

Melakukan pemeriksaan mata kepada dokter.

Mengkonsumsi vitamin A, C, dan E.

Mengkonsumsi makanan dengan gizi seimbang.

Kuratif
Medika Mentosa

Cendo lyters ED fl No. 1


S 4 dd gtt II ODS

Timolol 0,5% ED fl No 1.
S 2 dd gtt II ODS

Non Medikamentosa
Operatif
Untuk katarak senilis imatur dapat dilakukan tindakan pembedahan berupa Ekstraksi Katarak
Ekstrakapsular (EKEK), atau Phacoemulsifikasi dan Insersi Intraokular lensa.
Rehabilitatif

Memaksimalkan fungsi kedua mata dengan penggunaan kacamata (koreksi visus jarak
jauh dan jarak dekat).

Kontrol ke dokter dilakukan setelah kacamata jadi dibuat dan setiap 6 bulan sekali
sebagai pencegahan dini jika terdapat perubahan refraksi pada kedua mata pasien.

PROGNOSIS
OKULI DEKSTRA (OD)

OKULI SINISTRA (OS)

Ad Vitam

ad bonam

ad bonam

Ad Fungsionam

dubia ad bonam

dubia ad bonam

Ad Sanationam

Ad Kosmetikan

dubia ad bonam
ad bonam

dubia ad bonam
ad bonam

USUL

Dilakukan tindakan EKEK atau Phaco dengan insersi IOL pada OD.

Pengawasan dan evaluasi rutin TIO pada kedua mata.

Pengawasan dan evaluasi visus secara rutin.

Dilakukan pemeriksaan gonioskopi pada kedua mata.

Dilakukan pemeriksaan OCT dan pemeriksaan lapang dengan perimetri Goldmann


pada kedua mata.

Segera memeriksakan diri ke dokter apabila dengan penggunaan kacamata, pasien


merasa sering pusing-pusing maupun timbul keluhan-keluhan lain.

Tinjauan Pustaka
KATARAK
Definisi
Katarak berasal dari bahasa Yunani (Katarrhakies), Inggris (Cataract), dan Latin (Cataracta)
yang berarti air terjun. Dalam bahasa Indonesia disebut bular dimana penglihatan seperti
tertutup air terjun akibat lensa yang keruh. Seorang dengan katarak akan melihat benda
seperti ditutupi kabut. Katarak adalah setiap keadaan kekeruhan pada lensa yang terjadi
akibat hidrasi (penambahan cairan) lensa, denaturasi protein lensa, atau keduanya.1
Kekeruhan ini menyebabkan sulitnya cahaya untuk mencapai retina, sehingga penderita
katarak mengalami gangguan penglihatan dimana objek terlihat kabur. Mereka mengidap
kelainan ini mungkin tidak menyadari telah mengalami gangguan katarak apabila kekeruhan
tidak terletak dibagian tengah lensanya.
9

Biasanya kekeruhan mengenai kedua mata dan berjalan progresif ataupun dapat tidak
mengalami perubahan dalam waktu yang lama. Katarak umumnya merupakan penyakit pada
usia lanjut, akan tetapi dapat juga akibat kelainan kongenital, atau penyulit penyakit mata
lokal menahun.1,2
Anatomi lensa
Lensa adalah suatu struktur bikonveks, avaskular, tidak berwarna dan hampir transparan
sempurna, lensa juga tidak memiliki inervasi persarafan. Tebalnya sekitar 4 mm dan
diameternya 9 mm. Di belakang iris, lensa digantung oleh zonula zinii, yang terdiri dari
serabut yang lembut tetapi kuat, yang menghubungkannya dengan korpus siliar. Di sebelah
anterior lensa terdapat humor aqueous, sedangkan di sebelah posteriornya terdapat vitreus.
Lensa disusun oleh kapsul, epitel lensa, korteks, dan nukleus (lihat gambar 1)

Gambar 1. Anatomi lensa tampak anterior dan lateral


Sumber:http:// old.netterimages.com
1. Kapsul
Kapsul lensa adalah membran yang transparan dan elastik yang terdiri dari kolagen tipe
IV. Kapsul mengandung substansi lensa dan mampu untuk membentuknya pada saat
perubahan akomodatif. Lapisan paling luar dari kapsul lensa, zonullar lamella, juga
berperan sebagai titik perlekatan untuk serabut zonular. Kapsul lensa yang paling tebal
ada pada bagian perquatorial anterior dan posterior dan paling tipis pada bagian kutub
posterior sentral. Kapsul lensa bagian anterior lebih tebal daripada kapsul bagian posterior
pada saat lahir dan meningkat ketebalannya seiring dengan berjalannya waktu.3

10

2. Epitel lensa
Dibelakang kapsul lensa anterior adalah sebuah lapisan tunggal sel epitel. Sel-sel ini aktif
secara metabolis dan melakukan semua aktivitas sel yang normal, yang mencakup
biosintesis DNA, RNA, protein dan lemak; mereka juga menghasilkan adenoid triposfat
untuk memenuhi kebutuhan energi lensa.3
3. Nukleus dan Korteks
Nukleus lensa lebih keras daripada korteksnya. Sesuai dengan bertambahnya usia, seratserat lamellar subepitel terus diproduksi, sehingga lensa lama-kelamaan menjadi lebih
besar dan kurang elastik. Nukleus dan korteks terbentuk dari lamellae konsentris yang
panjang. Garis-garis persambungan yang terbentuk dengan persambungan lamella ini
ujung ke ujung berbentuk [Y] bila dilihat dengan slitlamp. Bentuk [Y] ini tegak di
anterior dan terbalik di posterior. Masing-masing serat lamellar mengandung sebuah inti
gepeng. Pada pemeriksaan mikroskop, inti ini jelas di bagian perifer lensa didekat ekuator
dan bersambung dengan lapisan epitel subkapsul.3
Enam puluh lima persen lensa terdiri dari air, sekitar 35% protein (kandungan protein
tertinggi di antara jaringan tubuh yang lain), dan sedikit sekali mineral yang biasa ada di
jaringan tubuh lainnya. Kandungan kalium lebih tinggi di lensa daripada di sebagian besar
jaringan yang lain. Asam askorbat dan glutation terdapat dalam bentuk teroksidasi maupun
tereduksi.3
Fisiologi Lensa
Lensa tidak memiliki pembuluh darah maupun sistem saraf. Untuk mempertahankan
kejernihannya, lensa harus menggunakan aqueous humor sebagai penyedia nutrisi dan
sebagai tempat pembuangan produknya. Namun hanya sisi anterior lensa saja yang terkena
aqueous humor. Oleh karena itu, sel-sel yang berada di tengah lensa membangun jalur
komunikasi terhadap lingkungan luar lensa dengan membangun low-resistance gap junction
antarsel.4
Fungsi utama lensa adalah memfokuskan berkas cahaya ke retina. Untuk memfokuskan
cahaya datang dari jauh, otot-otot siliaris relaksasi, menegangkan serat zonula zinii dan
memperkecil diameter anteroposterior lensa sampai ukurannya yang terkecil, dalam posisi ini
daya refraksi lensa diperkecil sehingga berkas cahaya paralel akan terfokus ke retina. Untuk
11

memfokuskan cahaya dari benda dekat, otot siliaris berkontraksi sehingga tegangan zonula
berkurang. Kapsul lensa yang elastik kemudian mempengaruhi lensa menjadi lebih sferis
diiringi oleh peningkatan daya biasnya. Kerjasama fisiologis antar zonula, korpus siliaris, dan
lensa untuk memfokuskan benda dekat ke retina dikenal sebagai akomodasi. Seiring dengan
bertambahnya usia, kemampuan refraksi lensa perlahan-lahan berkurang.4
Pada orang dewasa lensanya lebih padat dan bagaian posterior lebih konveks. Proses
sklerosis bagian sentral lensa, dimulai pada masa kanak-kanak dan terus berlangsung
perlahan-perlahan sampai dewasa dan setelah ini proses bertambah cepat, dimana nukleus
menjadi besar dan korteks bertambah tipis. Pada orang tua lensa lebih besar, lebih gepeng,
warnanya kekuningan, kurang jernih dan tampak seperti gray reflek atau senil reflek,
yang sering disangka katarak. Karna proses sklerosis ini lensa menjadi kurang elastis dan
daya akomodasinya berkurang. Keadaan ini disebut presbiopia, dimana pada orang Indonesia
dimulai pada usia 40 tahun.4
Metabolisme Lensa
Transparansi lensa dipertahankan oleh keseimbangan air dan kation (sodium dan kalium).
Kedua kation berasal dari humor aqueous dan vitreus. Kadar kalium dibagian anterior lensa
lebih tinggi dibandingkan posterior, sedangkan kadar Natrium lebih tinggi dibagian posterior
lensa. Ion kalium bergerak ke bagian posterior dan keluar ke humor aqueus, dari luar ion
natrium masuk secara difusi bergerak ke bagian anterior untuk menggantikan ion kalium dan
keluar melalui pompa aktif Na-K ATPase, sedangkan kadar kalsium tetap dipertahankan
didalam oleh Ca-ATPase.4
Keseimbangan elektrolit antara lingkungan dalam dan luar lensa sangat tergantung dari
permeabilitas membran sel lensa dan aktivitas pompa sodium, Na+, K+ -ATPase. Inhibisi Na+,
K+-ATPase dapat mengakibatkan hilangnya keseimbangan elektrolit dan meningkatnya air di
dalam lensa. Keseimbangan kalsium juga sangat penting bagi lensa. Konsentrasi kalsium di
dalam sel yang normal adalah 30M, sedangkan di luar lensa adalah sekitar 2M. Perbedaan
konsentrasi kalsium ini diatur sepenuhnya oleh pompa kalsium Ca 2+-ATPase. Hilangnya
keseimbangan kalsium ini dapat menyebabkan depresi metabolisme glukosa, pembentukan
protein high-molecular-weight dan aktivasi protease destruktif. Transpor membran dan
permeabilitas sangat penting untuk kebutuhan nutrisi lensa. Asam amino aktif masuk ke

12

dalam lensa melalui pompa sodium yang berada di sel epitel. Glukosa memasuki lensa secara
difusi terfasilitasi, tidak langsung seperti sistem transport aktif.4
Metabolisme lensa melalui glikolisis anaerob (95%) dan HMP-shunt (5%). Jalur HMP-shunt
menghasilkan NADPH untuk biosintesis asam lemak dan ribose, juga untuk aktivitas
glutation reduktase dan aldose reduktase. Aldose reduktase adalah enzim yang merubah
glukosa menjadi sorbitol, dan sorbitol dirubah menjadi fruktosa oleh enzim sorbitol
dehidrogenase.4
Epidemiologi
Katarak senilis terjadi pada usia lanjut, yaitu di atas 50 tahun. Insidensi katarak di dunia
mencapai 5-10 juta kasus baru tiap tahunnya. Katarak senilis merupakan penyebab utama
kebutaan, sangat sering ditemukan dan bahkan dapat dikatakan sebagai suatu hal yang dapat
dipastikan timbulnya dengan bertambahnya usia penderita. Di negara berkembang, katarak
merupakan 50-70% dari seluruh penyebab kebutaan, selain kasusnya banyak dan munculnya
lebih awal.2
Etiologi dan Patofisiologi
Sebagian besar katarak terjadi karena proses degeneratif atau bertambahnya usia seseorang.
Usia rata-rata terjadinya katarak adalah pada umur 60 tahun keatas. Akan tetapi, katarak
dapat pula terjadi pada bayi karena sang ibu terinfeksi virus pada saat hamil muda.2
Penyebab katarak lainnya meliputi:2
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.

Faktor keturunan
Cacat bawaan sejak lahir
Masalah kesehatan, misalnya diabetes
Penggunaan obat tertentu, khususnya steroid
Gangguan pertumbuhan
Mata tanpa pelindung terkena sinar matahari dalam waktu yang cukup lama
Asap rokok
Operasi mata sebelumnya
Trauma (kecelakaan) pada mata
Faktor-faktor lainnya yang belum diketahui

Penyebab katarak senilis sampai sekarang masih belum diketahui secara pasti. Ada beberapa
konsep penuaan yang mengarah pada proses terbentuknya katarak senil:1
-

Jaringan embrio manusia dapat membelah 50 kali kemudian akan mati.


Teori cross-link yang menjelaskan terjadinya pengikatan bersilang asam nukleat dan
molekul protein sehingga mengganggu fungsi.
13

Imunologis, dengan bertambahnya usia menyebabkan bertambahnya cacat imunologis

sehingga mengakibatkan keruasakan sel.


Teori mutasi spontan dan teori radikal bebas.

Pada dasarnya, semua sinar yang masuk ke mata harus terlebih dahulu melewati lensa.
Karena itu setiap bagian lensa yang menghalangi, membelokkan atau menyebarkan sinar bisa
menyebabkan gangguan penglihatan. Pada katarak terjadi kekeruhan pada lensa, sehingga
sinar yang masuk tidak terfokuskan pada retina, maka bayangan benda yang dilihat akan
tampak kabur.1
Terdapat 2 teori yang menyebabkan terjadinya katarak yaitu teori hidrasi dan sklerosis:6
1. Teori hidrasi terjadi kegagalan mekanisme pompa aktif pada epitel lensa yang berada
di subkapsular anterior, sehingga air tidak dapat dikeluarkan dari lensa. Air yang
banyak ini akan menimbulkan bertambahnya tekanan osmotik yang menyebabkan
kekeruhan lensa.
2. Teori sklerosis lebih banyak terjadi pada lensa manula dimana serabut kolagen terus
bertambah sehingga terjadi pemadatan serabut kolagen di tengah. Makin lama serabut
tersebut semakin bertambah banyak sehingga terjadilah sklerosis nukleus lensa.
Perubahan yang terjadi pada lensa usia lanjut:6
Kapsula

Menebal dan kurang elastik (1/4 dibanding anak)

Mulai presbiopia

Bentuk lamel kapsul berkurang atau kabur

Terlihat bahan granular

Epitel-makin tipis

Sel epitel (germinatif pada ekuator bertambah besar dan berat)

Bengkak dan vakuolisasi mitokondria yang nyata

Serat lensa

Serat irregular
Pada korteks jelas kerusakan serat sel

14

Brown sclerotic nucleus, sinar UV lama kelamaan merubah protein nukelus lensa,
sedang warna coklat protein lensa nucleusmengandung histidin dan triptofan

disbanding normal
Korteks tidak berwarna karenai kadar asam askorbat tinggi dan menghalangi foto
oksidasi.

Sinar tidak banyak mengubah protein pada serat muda. Perubahan fisik dan kimia dalam
lensa mengakibatkan hilangnya transparasi, akibat perubahan pada serabut halus multipel
yang memanjang dari badan siliar ke sekitar daerah di luar lensa, misalnya menyebabkan
penglihatan mengalami distorsi. Pada protein lensa menyebabkan koagulasi, sehingga
mengakibatkan pandangan dengan penghambatan jalannya cahaya ke retina.
Sebagian besar katarak terjadi karena suatu perubahan fisik dan perubahan kimia pada protein
lensa mata yang mengakibatkan lensa mata menjadi keruh.Perubahan fisik (perubahan pada
serabut halus multiple (zonula) yang memanjang dari badan siliar ke sekitar lensa)
menyebabkan hilangnya transparansi lensa. Perubahan kimia pada protein inti lensa
mengakibatkan pigmentasi progresif sehingga nukleus menjadi kuning atau kecokelatan juga
terjadi penurunan konsentrasi glutation dan kalium, peningkatan konsentrasi natrium dan
kalsium serta peningkatan hidrasi lensa. Perubahan ini dapat terjadi karena meningkatnya
usia sehingga terjadi penurunan enzim yang menyebabkan proses degenerasi pada lensa.
Penyebab pada katarak senilis belum diketahui pasti, namun diduga terjadi karena:5
a. Proses pada nukleus
Oleh karena serabut-serabut yang terbentuk lebih dahulu selalu terdorong ke arah
tengah, maka serabut-serabut lensa bagian tengah menjadi lebih padat (nukleus),
mengalami dehidrasi, penimbunan ion kalsium dan sklerosis. Pada nukleus ini
kemudian terjadi penimbunan pigmen. Pada keadaan ini lensa menjadi lebih
hipermetrop. Lama kelamaan nukleus lensa yang pada mulanya berwarna putih
menjadi kekuning-kuningan, lalu menjadi coklat dan kemudian menjadi kehitamhitaman. Karena itulah dinamakan katarak brunesen atau katarak nigra.
b. Proses pada korteks
Timbulnya celah-celah di antara serabut-serabut lensa, yang berisi air dan
penimbunan kalsium sehingga lensa menjadi lebih tebal, lebih cembung dan
membengkak, menjadi lebih miop. Berhubung adanya perubahan refraksi ke arah

15

miopia pada katarak kortikal, penderita seolah-olah mendapatkan kekuatan baru


untuk melihat dekat pada usia yang bertambah
Faktor Risiko1

Faktor individu
Faktor individu yang mempengaruhi diantaranya ras, keturunan dan usia pasien,
serta adanya kelainan pada faktor metabolik seperti pada penderita diabetes

melitus/kencing manis.
Faktor lingkungan
Bahan toksik khususnya (kimia dan fisik) dan merokok merupakan faktor
lingkungan yang dapat mempengaruhi.
Faktor risiko lainnya adalah menggunakan obat kortikosteroid, ergot dan
antikolinesterase.

Katarak dapat ditemukan dalam keadaan tanpa adanya kelainan mata atau sistemik (katarak
senil, juvenil, herediter) atau kelainan kongenital mata.
Klasifikasi Katarak
Berdasarkan waktu perkembangannya katarak diklasifikasikan menjadi katarak kongenital,
katarak juvenil dan katarak senilis.1,3
1. Katarak kongenital
Katarak kongenital dapat berkembang dari genetik, trauma atau infeksi prenatal dimana
kelainan utama terjadi di nukleus lensa. Kekeruhan sebagian pada lensa yang sudah
didapatkan pada waktu lahir dan umumnya tidak meluas dan jarang sekali
mengakibatkan keruhnya seluruh lensa. katarak yang terlihat pada usia di bawah 1
tahun.
Katarak kongenital bisa disebabkan oleh infeksi kongenital, seperti campak Jerman,
berhubungan dengan penyakit anabolik, seperti galaktosemia. Katarak kongenital
dianggap sering ditemukan pada bayi yang dilahirkan oleh ibu-ibu yang menderita
penyakit misalnya diabetes melitus. Jenis katarak ini jarang sering terjadi. Faktor risiko
terjadinya katarak kongenital adalah penyakit metabolik yang diturunkan, riwayat
katarak dalam keluarga, infeksi virus pada ibu ketika bayi masih dalam kandungan.
Katarak kongenital bisa merupakan penyakit keturunan (diwariskan secara autosomal
dominan) atau bisa disebabkan oleh infeksi kongenital, seperti campak Jerman,
berhubungan dengan penyakit anabolik, seperti galaktosemia. Katarak kongenital
16

dianggap sering ditemukan pada bayi yang dilahirkan oleh ibu-ibu yang menderita
penyakit misalnya diabetes melitus. Jenis katarak ini jarang sering terjadi. Faktor risiko
terjadinya katarak kongenital adalah penyakit metabolik yang diturunkan, riwayat
katarak dalam keluarga, infeksi virus pada ibu ketika bayi masih dalam kandungan.
2. Katarak juvenil merupakan katarak yang terjadi pada anak-anak sesudah lahir.
Kekeruhan lensa terjadi pada saat masih terjadi perkembangan serat-serat lensa.
Biasanya konsistensinya lembek seperti bubur dan disebut sebagai soft cataract.
Katarak juvenil biasanya merupakan bagian dari satu sediaan penyakit keturunan lain.
yaitu katarak yang terlihat pada usia di atas 1 tahun dan di bawah 40 tahun.
3. Katarak presenil, yaitu katarak yang terjadi sesudah usia 30-40 tahun.
4. Katarak senilis adalah jenis katarak yang paling sering dijumpai. Telah diketahui bahwa
katarak senilis berhubungan dengan bertambahnya usia dan berkaitan dengan proses
penuaan lensa. katarak yang mulai terjadi pada usia lebih dari 40 tahun.
Katarak senilis merupakan katarak yang sering dijumpai. Satu-satunya gejala adalah distorsi
penglihatan dan pengihatan yang semakin kabur. Apabila diindikasikan pembedahan, maka
eksraksi lensa akan secara definitif akan memperbaiki ketajaman penglihatan pada lebih dari
90% kasus. Sisanya (10%) mungkin telah mengalami kerusakan retina atau mengalami
penyulit pasca bedah serius misalnya glaukoma, ablasi retina, perdarahan korpus vitreum,
infeksi atau pertumbuhan epitel ke bawah kamera okuli anterior yang menghambat
pemulihan visual.
Klasifikasi katarak berdasarkan stadium (untuk katarak senilis)1,2
1.

Katarak Insipien
Pada stadium ini belum menimbulkan gangguan visus. Visus pada stadium ini
bisa normal atau 6/6-6/20. Dengan koreksi,visus masih dapat 5/5-5/6. Kekeruhan
terutama terdapat pada bagian perifer berupa bercak-bercak seperti baji (jari-jari
roda), terutama mengenai korteks anterior, sedangkan aksis masih terlihat jernih.
Gambaran ini disebut Spokes of wheel, yang nyata bila pupil dilebarkan.

2.

Katarak Imatur
Pada katarak imatur sebagian lensa keruh tetapi belum mengenai seluruh lapis
lensa. Visus pada stadium ini 6/60-1/60. Kekeruhan ini terutama terdapat dibagian
posterior dan bagian belakang nukleus lensa. Kalau tidak ada kekeruhan di lensa,
maka sinar dapat masuk ke dalam mata tanpa ada yang dipantulkan. Oleh karena
17

kekeruhan berada di posterior lensa, maka sinar oblik yang mengenai bagian yang
keruh ini, akan dipantulkan lagi, sehingga pada pemeriksaan terlihat di pupil, ada
daerah yang terang sebagai reflek pemantulan cahaya pada daerah lensa yang
keruh dan daerah yang gelap, akibat bayangan iris pada bagian lensa yang keruh.
Keadaan ini disebut shadow test (+). Pada stadium ini juga terjadi kekeruhan
yang lebih tebal, tetapi belum mengenai semua lapisan lensa sehingga masih
terdapat bagian-bagian yang jernih pada lensa. Pada stadium ini mungkin terjadi
hidrasi korteks yang mengakibatkan lensa menjadi cembung, sehingga indeks
refraksi berubah karena daya biasnya bertambah dan mata menjadi miopia.
Keadaan ini dinamakan intumesensi. Dengan mencembungnya lensa iris
terdorong kedepan, menyebabkan sudut bilik mata depan menjadi lebih sempit,
sehingga dapat menimbulkan glaukoma sebagai penyulitnya. Selain itu juga
terjadi penambahan volume lensa akibat meningkatnya tekanan osmotik bahan
lensa yang degeneratif. Pada keadaan lensa yang mencembung akan dapat
menimbulkan hambatan pupil, mendorong iris ke depan, mengakibatkan bilik
mata dangkal sehingga terjadi glaukoma sekunder. Pada pemeriksaan uji
bayangan iris atau shadow test, maka akan terlihat bayangan iris pada lensa,
sehingga hasil uji shadow test (+).(lihat gambar 2)
3.

Katarak Intumesen
Kekeruhan lensa disertai pembengkakan lensa akibat lensa yang degeneratif
menyerap air. Masuknya air ke dalam lensa menyebabkan lensa menjadi bengkak
dan besar yang akan mendorong iris sehingga bilik mata menjadi dangkal
dibandingkan dalam keadaan normal. Katrak intumesen biasanya terjadi pada
katarak yang berjalan cepat dan menyebabkan miopia lentikular.

4.

Katarak Matur
Kekeruhan telah mengenai seluruh massa lensa, sehingga semua sinar yang
melalui pupil dipantulkan kembali ke permukaan anterior lensa. Kekeruhan
seluruh lensa yang bila lama akan mengakibatkan kalsifikasi lensa. Visus pada
stadium ini 1/300. Bilik mata depan akan berukuran kedalaman normal kembali,
tidak terdapat bayangan iris pada lensa yang keruh, sehingga uji bayangan iris
negatif (shadow test (-)). Di pupil tampak lensa seperti mutiara. Pada katarak
matur kekeruhan telah mengenai seluruh lensa. Proses degenerasi yang berjalan
terus maka akan terjadi pengeluaran air bersama hasil disintegrasi melalui kapsul,
18

sehingga lensa kembali ke ukuran normal. Bilik mata depan akan berukuran
kedalaman normal kembali. Tidak terdapat bayangan iris pada lensa yang keruh,
sehingga bayangan iris negatif.
5.

Katarak Hipermatur
Pada stadium hipermatur terjadi proses degenerasi lanjut yang dapat menjadi
keras atau lembek dan mencair. Massa lensa yang berdegenerasi keluar dari
kapsul lensa sehingga lensa menjadi mengecil, bewarna kuning dan kering. Visus
pada stadium ini 1/300-1/~. Pada pemeriksaan terlihat bilik mata dalam dan
lipatan kapsul lensa. Kadang-kadang pengkerutan berjalan terus sehingga
berhubungan dengan zonula zinii menjadi kendur. Bila proses katarak berjalan
lanjut disertai kapsul yang tebal, maka korteks yang berdegenerasi dan cair tidak
dapat keluar, maka korteks akan memperlihatkan sekantong susu dengan nukleus
yang terbenam di korteks lensa. Uji banyangan iris memberikan gambaran
pseudopositif.

Tabel 1. Perbandingan katarak berdasarkan stadium

Gambar 2. Katarak imatur


Sumber:http://www.intechopen.com
19

Katarak Komplikata1
Merupakan katarak akibat penyakit mata lain seperti radang dan proses degenerasi seperti
ablasi retina, retinitis pigmentosa, glaukoma, tumor intraokular, iskemia okular, nekrosis
anterior segmen, buftalmos, akibat suatu trauma dan pasca bedah mata.
Katarak komplikata dapat pula disebabkan oleh penyakit sistemik endokrin, seperti diabetes
melitus, hipoparatiroid, galaktosemia dan miotonia distrofi, maupun disebabkan oleh
keracunan obat (tiotepa intravena, steroid lokal lama, steroid sistemik, oral kontraseptik dan
miotika antikolinesterase). Katarak komplikata memberikan tanda khusus dimana kekeruhan
dimulai di daerah bawah kapsul atau pada lapis korteks, kekeruhan dapat difus, pungtata,
linier, rosete, reticulum dan biasanya terlihat vakuol.
Katarak Traumatik1,3
Katarak jenis ini paling sering disebabkan oleh cedera benda asing di lensa atau trauma
tumpul terhadap bola mata. Sebagian besar katarak traumatik dapat dicegah. Lensa menjadi
putih segera setelah masuknya benda asing, karena lubang pada kapsul lensa menyebabkan
humor aqueous dan kadang-kadang corpus vitreum masuk dalam struktur lensa. Pasien
mengeluh penglihatan kabur secara mendadak. Mata menjadi merah, lensa opak dan mungkin
disertai terjadinya perdarahan intraokular. Apabila humor aqueus atau korpus vitreum keluar
dari mata, mata menjadi sangat lunak. Penyulit adalah infeksi, uveitis, ablasio retina dan
glukoma.
Katarak Brunesen1,5
Katarak yang berwarna coklat sampai hitam (katarak nigra) terutama pada nukleus lensa, juga
dapat terjadi pada katarak pasien diabetes mellitus dan miopia tinggi. Sering tajam
penglihatan lebih baik daripada dugaan sebelumnya dan biasanya ini terdapat pada orang
berusia lebih dari 65 tahun yang belum memperlihatkan adanya katarak kortikal posterior.
Klasifikasi katarak berdasarkan lokasi terjadinya:6
1. Katarak Inti (Nuclear)
Katarak nuclear dihasilkan dari sklerosis nuclear dan perubahan menjadi kuning,
dengan konsekuensi pembentukan kekeruhan lentikular sentral. Kekeruhan nuklear
disebabkan oleh peningkatan densitas lensa secara bertahap pada lapisan paling dalam
20

dari nucleus berjalan perlahan untuk melibatkan lapisan-lapisan yang lebih luar.
Nukleus juga mungkin berubah warna dari bening (tidak berwarna) menjadi kuning
hingga coklat dan kadang-kadang hitam. Nukleus yang sangat keruh dan coklat dinamai
brunescent nuclear cataract. Pasien mungkin mengalami peningkatan miopia
(dikarenakan peningkatan indeks bias lensa) dan penurunan yang progresif lambat pada
ketajaman visual dan hilangnya sensitivitas terhadap kontras. Merupakan yang paling
banyak terjadi. Lokasinya terletak pada nukleus atau bagian tengah dari lensa. Biasanya
karena proses penuaan. Keluhan yang biasa terjadi: menjadi lebih rabun jauh sehingga
mudah melihat dekat, dan untuk melihat dekat melepas kaca matanya. Setelah
mengalami penglihatan kedua ini (melihat dekat tidak perlu kaca mata) penglihatan
mulai bertambah kabur atau lebih menguning, lensa lebih coklat, menyetir malam silau
dan sukar membedakan warna biru dan ungu.
2. Katarak Kortikal
Perubahan komposisi ionik dari korteks lensa dan mungkin juga perubahan pada
pengairan serat-serat lensa menghasilkan katarak kortikal. Kekeruhan kortikal
menyebabkan beberapa gejala pada awalnya karena sumbu visual tetap jernih, tetapi
belakangan kekeruhan meliputi sebagian besar dari korteks lensa. Katarak kortikal ini
biasanya terjadi pada korteks. Mulai dengan kekeruhan putih mulai dari tepi lensa dan
berjalan ketengah sehingga mengganggu penglihatan. Banyak pada penderita DM.
Keluhan yang biasa terjadi:penglihatan jauh dan dekat terganggu.
3. Katarak Subkapsular
Pembentukan granul dan kekeruhan seperti plak pada korteks subkapsular posterior
sering memperlihatkan pembentukan katarak subkapsular posterior. Kekeruhan
subkapsular posterior dimulai di daerah kutub posterior, kemudian menyebar ke perifer.
Pasien mengalami gangguan silau yang signifikan karena cahaya berhamburan pada
titik dekat mata. Mulai dengan kekeruhan kecil dibawah kapsul lensa, tepat pada lajur
jalan sinar masuk. DM, renitis pigmentosa dan pemakaian kortikosteroid dalam jangka
waktu yang lama dapat mencetuskan kelainan ini. Biasanya dapat terlihat pada kedua
mata. Keluhan yang biasa terjadi: mengganggu saat membaca, memberikan keluhan
silau dan halo atau warna sekitar sumber cahaya, mengganggu penglihatan
Gambaran klinis6,7
Seorang penderita katarak mungkin tidak menyadari telah mengalami gangguan katarak.
Katarak terjadi secara perlahan-lahan,sehingga penglihatan penderita terganggu secara
berangsur, karena umumnya katarak tumbuh sangat lambat dan tidak mempengaruhi daya
21

penglihatan sejak awal. Daya penglihatan baru terpengaruh setelah katarak berkembang
sekitar 3-5 tahun. Karena itu, pasien katarak biasanya menyadari penyakitnya setelah
memasuki stadium kritis.
Gangguan penglihatan demikian bervariasi bergantung pada jenis katarak yang dialami oleh
pasien:7
Penurunan ketajaman visual
Merupakan keluhan paling umum dari pasien katarak senilis. Katarak dapat dipertimbangkan
jika ketajaman visual dipengaruhi secara signifikan. Lebih jauh, jenis lain katarak
menghasilkan efek yang berbeda pada ketajaman visual.
Sebagai contoh, katarak subkapsular posterior derajat ringan dapat menghasilkan penurunan
ketajaman visual dengan ketajaman penglihatan dekat lebih terganggu daripada ketajaman
penglihatan jauh, kemungkinan sebagai akibat miosis akomodatif. Namun, sklerosis nuklear
sering dihubungkan dengan menurunnya ketajaman penglihatan jarak jauh dan penglihatan
dekat yang baik. Derajat gangguan penglihatan dapat bervariasi pada keadaan berbeda.
Misalnya, gangguan refraksi miopia (nearsighted) yang tidak dikoreksi tampak lebih berat di
lingkungan yang gelap. Hal ini terjadi karena dilatasi pupil memungkinkan lebih banyak
berkas cahaya yang tak terfokus jatuh di retina dan makin mengaburkan pandangan. Katarak
setempat di sentral tampak lebih parah di bawah sinar matahari. Dalam hal ini, konstriksi
pupil mengurangi jumlah cahaya yang dapat melintasi lensa yang keruh. Pandangan kabur
akibat edema kornea semakin membaik saat siang karena adanya dehidrasi kornea akibat
penguapan dari permukaan.
Cahaya yang menyilaukan
Meningkatnya kesilauan adalah keluhan umum lainnya pada pasien katarak senilis. Keluhan
dapat mencakup seluruh spektrum mulai dari menurunnya sensitivitas kontras pada
lingkungan dengan cahaya terang. Gangguan penglihatan seperti itu terutama khas pada
katarak subkapsular posterior dan, pada tingkat yang lebih rendah, pada katarak kortikal. Hal
ini lebih jarang dihubungkan dengan sklerosis nuklear. Banyak pasien dapat menoleransi
kesilauan derajat sedang tanpa banyak kesulitan, dan dengan demikian, kesilauan itu sendiri
tidak memerlukan tindakan operasi.

22

Pergeseran miopik
Perkembangan katarak kadang-kadang mungkin meningkatkan kekuatan dioptri lensa
menghasilkan miopi ringan sampai sedang atau disebut pergeseran miopi. Sebagai akibatnya,
pasien presbiopi melaporkan adanya peningkatan pada penglihatan dekat dan kurang
memerlukan kacamata baca yang disebut penglihatan kedua. Namun, kejadian ini hanya
sementara, dan seraya kualitas penglihatan lensa menurun, penglihatan kedua ini akhirnya
menghilang.Khasnya, pergeseran miopi dan penglihatan kedua tidak ditemukan pada katarak
kortikal dan subkapsular posterior. Lebih jauh, perkembangan asimetrik miopia yang
diinduksi lensa dapat berakibat pada anisometropi simptomatik yang signifikan yang
mungkin memerlukan penanganan operasi.
Monokular diplopia
Kadang-kadang, perubahan nuklear terkonsentrasi pada lapisan dalam dari lensa,
menghasilkan area refraktil di tengah lensa, yang sering terlihat jelas dalam refleks merah
melalui retinoskopi atau oftalmoskopi langsung.
Fenomena demikian dapat mengarah pada monokular diplopia yang tidak dikoreksi dengan
kacamata, prisma, atau lensa kontak.
Manajemen Katarak8
Indikasi operasi katarak dibagi dalam 3 kelompok:
1. Indikasi Optik
Merupakan indikasi terbanyak dari pembedahan katarak. Jika penurunan tajam penglihatan
pasien telah menurun hingga mengganggu kegiatan sehari-hari, maka operasi katarak bisa
dilakukan.
2. Indikasi Medis
Pada beberapa keadaan di bawah ini, katarak perlu dioperasi segera, bahkan jika prognosis
kembalinya penglihatan kurang baik:
-

Katarak hipermatur

Glaukoma sekunder

Uveitis sekunder

Dislokasi/Subluksasio lensa

Benda asing intra-lentikuler


23

Retinopati diabetika

Ablasio retina

3. Indikasi Kosmetik
Jika penglihatan hilang sama sekali akibat kelainan retina atau nervus optikus, namun
kekeruhan katarak secara kosmetik tidak dapat diterima, misalnya pada pasien muda, maka
operasi katarak dapat dilakukan hanya untuk membuat pupil tampak hitam meskipun
pengelihatan tidak akan kembali.
Teknik-teknik pembedahan katarak8
Penatalaksanaan utama katarak adalah dengan ekstraksi lensa melalui tindakan bedah. Dua
tipe utama teknik bedah adalah Intra Capsular Cataract Extraction/Ekstraksi katarak Intra
Kapsular (ICCE) dan Extra Capsular Cataract Extraction/Ekstraksi katarak Ekstra Kapsular
(ECCE). Di bawah ini adalah metode yang umum digunakan pada operasi katarak, yaitu
ICCE, ECCE dan phacoemulsifikasi.
Operasi katarak intrakapsular/ Ekstraksi katarak intrakapsular
Metode yang mengangkat seluruh lensa bersama kapsulnya melalui insisi limbus superior
140-160 derajat dengan memutus zonula Zinn yang telah mengalami degenerasi. Metode ini
sekarang sudah jarang digunakan. Masih dapat dilakukan pada zonula Zinn yang telah rapuh
atau berdegenerasi atau mudah putus. Keuntungannya adalah tidak akan terjadi katarak
sekunder.
Meskipun demikian, terdapat beberapa kerugian dan komplikasi post operasi yang
mengancam dengan teknik ICCE. Insisi limbus superior yang lebih besar 160-180
dihubungkan dengan penyembuhan yang lebih lambat, rehabilitasi tajam penglihatan yang
lebih lambat, angka kejadian astigmatisma yang lebih tinggi, inkarserata iris, dan lepasnya
luka operasi. Edema kornea juga dapat terjadi sebagai komplikasi intraoperatif dan
komplikasi dini.

Operasi katarak ekstrakapsular


Metode ini mengangkat isi lensa dengan memecah atau merobek kapsul lensa anterior,
sehingga masa lensa dan korteks lensa dapat keluar melalui robekan tersebut. Pembedahan ini
24

dilakukan pada pasien katarak muda, pasien dengan kelainan endotel, bersama-sama
keratoplasti, implantasi lensa okuler posterior. Keuntungan dari metode ini adalah karena
kapsul posterior utuh maka dapat dimasukan lensa intraokuler ke dalam kamera posterior
serta insiden komplikasi paska operasi (ablasi retina dan edema makula sistoid) lebih kecil
jika dibandingkan metode intrakapsular. Penyulit yang dapat terjadi yaitu dapat timbul
katarak sekunder.
Fakoemulsifikasi
Ekstraksi lensa dengan fakoemulsifikasi, yaitu teknik operasi katarak modern menggunakan
gel, suara berfrekuensi tinggi dengan sayatan 3 mm pada sisi kornea. Pada teknik ini
diperlukan irisan yang sangat kecil (sekitar 2-3 mm) di kornea. Getaran ultrasonik akan
digunakan untuk menghancurkan katarak, selanjutnya mesin phaco akan menyedot massa
katarak yang telah hancur tersebut sampai bersih. Sebuah lensa intra ocular (IOL) yang dapat
dilipat dimasukkan melalui irisan tersebut. Untuk lensa lipat (foldable lens) membutuhkan
insisi sekitar 2,8 mm, sedangkan untuk lensa tidak lipat insisi sekitar 6 mm. Karena insisi
yang kecil untuk foldable lens, maka tidak diperlukan jahitan, akan pulih dengan sendirinya,
yang memungkinkan dengan cepat kembali melakukan aktivitas sehari-hari.
Indikasi teknik fakoemulsifikasi berupa calon terbaik pasien muda (40-50 tahun), tidak
mempunyai penyakit endotel, bilik mata dalam, pupil dapat dilebarkan hingga 7 mm.
Kontraindikasinya berupa tidak terdapat hal-hal salah satu di atas, luksasi atau subluksasi
lensa. Prosedurnya dengan getaran yang terkendali sehingga insidens prolaps menurun. Insisi
yang dilakukan kecil sehingga insiden terjadinya astigmat berkurang dan edema dapat
terlokalisasi, rehabilitasi pasca bedahnya cepat, waktu operasi yang relatif lebih cepat, mudah
dilakukan pada katarak hipermatur. Tekanan intraokuler yang terkontrol sehingga prolaps iris,
perdarahan ekspulsif jarang. Kerugiannya berupa dapat terjadinya katarak sekunder sama
seperti pada teknik EKEK, alat yang mahal, pupil harus terus dipertahankan lebar, endotel
loss yang besar.

Intraokular Lens (IOL)8


Setelah pembedahan, pasien akan mengalami hipermetropi karena kahilangan kemampuan
akomodasi. Maka dari itu dilakukan penggantian dengan lensa buatan (berupa lensa yang

25

ditanam dalam mata, lensa kontak maupun kacamata). IOL dapat terbuat dari bahan plastik,
silikon maupun akrilik.
Merupakan pilihan utama untuk kasus aphakia. Bahan dasar IOL yang dipakai sampai saat ini
yaitu polymethylmethacrylate (PMMA). Ada beberapa tipe dari IOL berdasarkan metode
fiksasinya di mata:
o Anterior Chamber IOL
Lensa jenis ini berada di depan iris dan disuport oleh anterior chamber. ACIOL ini
dapat ditanam setelah proses ICCE dan ECCE. Jenis ini jarang dipakai karena
mempunyai resiko tinggi terjadinya bullous Keratopathy.
o Iris-Supported lenses
Lensa difiksasi di iris dengan bantuan jahitan. Lensa jenis ini juga telah jarang dipakai
karena mempunya insidens yang tinggi terjadinya komplikasi post operatif
o Posterior chamber lenses
PCIOL ini terletak di bagian belakang iris yang disuport oleh sulkus siliar atau oleh
capsular bag.
Komplikasi Katarak4,5
Komplikasi katarak yang tersering adalah glaukoma yang dapat terjadi karena proses
fakolitik, fakotopik, fakotoksik.
Fakolitik
-

Pada lensa yang keruh terdapat lerusakan maka substansi lensa akan keluar
yang akan menumpuk di sudut kamera okuli anterior terutama bagian kapsul lensa.

Dengan keluarnya substansi lensa maka pada kamera okuli anterior akan
bertumpuk pula serbukan fagosit atau makrofag yang berfungsi merabsorbsi substansi
lensa tersebut.

Tumpukan akan menutup sudut kamera okuli anterior sehingga timbul


glaukoma.

Fakotopik
-

Berdasarkan posisi lensa

Oleh karena proses intumesensi, iris, terdorong ke depan sudut kamera okuli
anterior menjadi sempit sehingga aliran humor aqueaous tidak lancar sedangkan
produksi berjalan terus, akibatnya tekanan intraokuler akan meningkat dan timbul
glaukoma
26

Fakotoksik
-

Substansi lensa di kamera okuli anterior merupakan zat toksik bagi mata
sendiri (auto toksik).Terjadi reaksi antigen-antibodi sehingga timbul uveitis, yang
kemudian akan menjadi glaukoma.

Selain itu, dislokasi lensa dan subluksasi sering ditemukan bersamaan dengan
katarak traumatik. Komplikasi lain yang dapat berhubungan, seperti blok pupil,glaukoma
sudut tertutup, uveitis,retinal detachment , rupture koroid, hifema,perdarahan retrobulbar,
neuropati optik traumatik.
Komplikasi operasi katarak bervariasi berdasarkan waktu dan luasnya. Komplikasi dapat
terjadi intra operasi atau segera sesudahnya atau periode pasca operasi lambat. Oleh
karenanya penting untuk mengobservasi pasien katarak paska operasi dengan interval waktu
tertentu yaitu pada 1 hari, 1 minggu, 1 bulan, dan 3 bulan setelah operasi katarak. Angka
komplikasi katarak adalah rendah. Komplikasi yang sering terjadi endoftalmitis, ablasio
retina, dislokasi atau malposisi IOL, peningkatan TIO, dan edema makula sistoid.
Pencegahan3
Umumnya katarak terjadi bersamaan dengan bertambahnya umur yang tidak dapat dicegah.
Pemeriksaan mata secara teratur sangat perlu untuk mengetahui adanya katarak. Bila telah
berusia 60 tahun sebaiknya mata diperiksa setiap tahun. Pencegahan utama adalah
mengontrol penyakit yang berhubungan dengan katarak dan menghindari faktor-faktor yang
mempercepat terbentuknya katarak. Pada saat ini dapat dijaga kecepatan berkembangnya
katarak dengan:
-

Tidak merokok, karena merokok mengakibatkan meningkatkan radikal bebas dalam

tubuh, sehingga risiko katarak akan bertambah


Pola makan yang sehat, memperbanyak konsumsi buah dan sayur
Lindungi mata dari sinar matahari, karena sinar UV mengakibatkan katarak pada mata
Menjaga kesehatan tubuh seperti kencing manis dan penyakit lainnya.

27

Prognosis
Prognosis penglihatan untuk pasien anak-anak yang memerlukan pembedahan tidak sebaik
prognosis untuk pasien katarak senilis, karena adanya ambliopia dan kadang-kadang anomali
saraf optikus atau retina.Prognosis untuk perbaikan ketajaman pengelihatan setelah operasi
paling buruk pada katarak kongenital unilateral dan paling baik pada katarak kongenital
bilateral inkomplit yang proresif lambat.Prognosis penglihatan pasien dikatakan baik apabila:
o Fungsi media refrakta baik
Dilakukan dengan melihat kejernihan serta keadaan media refrakta mulai dari kornea,
iris, pupil dan lensa melalui lampu sentolop maupun slit lamp.
o Fungsi makula atau retina baik
Dilakukan dengan pemeriksaan retpersepsi warna, dengan cara menyorotkan cahaya
merah dan hijau di depan mata yang kemudian dengan sentolop cahaya diarahkan ke
mata.
o Fungsi N. Opticus (N.II) baik
o Fungsi serebral baik
Daftar Pustaka
1. Ilyas HS, Yulianti SR. Ilmu penyakit mata. Ed.4. Badan Penerbit FK UI: Jakarta;
2013.h.204-14.
2. Riordan P, Eva,Whitcher JP. Oftalmologi umum. Ed.17. Penerbit Buku Kedokteran
EGC: Jakarta;2015.h.169-78.
3. Harper RA, Shock JP. Oftamologi umum: lensa. Ed.17. JPenerbit Buku EGC :
Jakarta; 2009.h. 169-77.
4. Setiohadji, B.Community opthalmology.Cicendo Eye Hospital/Departement of
Ophthalmology Medical Faculty of Padjadjaran University. 2011.
5. Khurana AK. Comprehensive ophthalmology. 4th ed. India: New Age International
Publishers; 2007, p.161-204.
6. Tsai JC, Denniston A, Murray PI, et. Al, editors. Oxford American handbook of
ophthalmology. New York: Oxford University Press; 2011.p.178-88.
7. Langston DP. Manual of ocular diagnosis and therapy.6 th Ed. Lippincot Williams and
Wilkins: Philadelphia; 2008.p.154-68.
8. Garg A, Alio JL.Cataract surgery. Jaypee Brothers Medical Publisher:New
Delhi;2010.p.63-79.

28