Anda di halaman 1dari 41

PERCOBAAN I

PERENCANAAN JARINGAN SELULER


1.1
1.

Tujuan
Mahasiswa dapat mengetahui langkah-langkah dalam perencanaan
jaringan seluler GSM/GPRS/EDGE khususnya dengan menggunakan

2.

software Atoll.
Mahasiswa dapat melakukan analisa (link budget) dan optimasi
berdasarkan hasil yang didapatkan.

1.2
1.
2.
3.
4.

Peralatan
Software Atoll
Data map, clutter, dan spesifikasi transmitter GSM
Laptop/PC
Software Google Earth

1.3

Dasar Teori

1.3.1

Software Atoll
Atoll merupakan sebuah software radio planning yang menyediakan satu

set alat dan fitur yang komperhensif dan terpadu yang memungkinkan user untuk
membuat suatu proyek perencanaan microwave ataupun perencanaan radio dalam
satu aplikasi. Berbagai prediksi study dari cakupan dapat dikonfigurasikan sesuai
kehendak perancang. Study yang disuguhkan diantaranya adalah :
1. Coverage by signal level: Menghitung area yang tertutupi oleh level sinyal dari
tiap cell.
2. Coverage by C/(I+N) level (DownLink) : Menghitung area yang tertutupi oleh
SINR (Signal to Interference plus Noise Ratio) downlink. SINR adalah
perbandingan antara kuat sinyal dengan kuat interferensi ditambah noise yang
dipancarkan oleh cell.
3. Coverage by C/(I+N) level (UpLink) : Menghitung area yang tertutupi oleh SINR
uplink.
4. Coverage by throughput (DownLink) : Menghitung area yang tertutupi oleh

throughput downlink.
5. Coverage by throughput (UpLink) : Menghitung area yang tertutupi oleh
throughput uplink.
1.3.2

Perkembangan Seluler
Perubahan telepon menjadi telepon seluler memang bukanlah dalam waktu

yang singkat. Akan tetapi, saat zaman modern muncul, semakin modern masa ini,
maka semakin cepat pula perkembangan telepon menjadi telepon seluler. Pada
tahun 1910 adalah cikal bakal telepon seluler yang ditemukan oleh Lars Magnus
Ericsson pendiri perusahaan Ericsson, kini dikenal dengan perusahaan Sony
Ericsson yang kala itu memfokuskan diri terhadap bidang bisnis peralatan
telegraf.
1.

Pada tahun 1921 pertama kalinya Departemen Kepolisian Detroit


Michigan menggunakan telepone mobile yang terpasang di semua mobil

2.

polisi dengan menggunakan freuensi 2 MHz.


Pada tahun 1945, diperkenalkan mobile phone 0G yang kemampuan
beroperasinya masih minim, yaitu tidak bisa mengganti frekuensi ketika

3.

pengguna berpindah dari satu jaringan ke jaringan lain.


Pada tahun 1947, Bell Labs mengajukan konsep penggunaan jaringan

4.

hexagonal yang kemudian dikembangkan pada tahun 1960an.


Namun pada periode perang dunia ke dua atau sekitar tahun 1950an,

5.

jaringan telepon radio telah digunakan oleh kalangan militer.


Pada tahun 1960, di Finlandia, berdiri sebuah perusahaan elektronik
Nokia sebagai handset telepon seluler. Perusahaan tersebut bernama
Fennis Cable Works dan berbisnis di bidang kabel. Tahun 1969, system
telekomunikasi seluler dikomersialkan.
Perkembangan teknologi telepon seluler sangat cepat. Bahkan saat ini,

telepon seluler bukan lagi sekedar alat komunikasi. Telepon seluler telah
dilengkapi dengan berbagi fitur-fitur pelengkap seperti kamera digital, radio, LCD
berwarna dengan resolusi tinggi, handphone menjadi perangkat yang canggih dan
pintar. Telepon seluler berkembang dengan teknologi wireless diantaranya :

1.

AMPS (Advance Mobile Phone System) merupakan generasi pertama pada


teknologi selular. Sistem ini berada pada Band 800 Mhz, yang
menggunakan 2 sirkuit yang terintergrasikan dari Computer Dedicated
dan System Switch. AMPS menggunakan frekuensi antara 825 Mhz - 894
Mhz. AMPS di operasikan pada Band 800 Mhz sehingga tidak
memungkinkan adanya fitur seperti e-mail dan browsing, serta masih
kekurangan dalam segikualitas suara. Inilah yang menjadi kendala,
sehingga system ini tidak berkembang dan di tinggalkan setelah teknologi

2.

digital berkembang.
GSM (Global System for Mobile system) merupakan generasi kedua
AMPS. GSM pertama kali dikeluarkan tahun 1991 dan berkembang pata
1993 dengan diadopsi oleh beberapa Negara seperti Afrika Selatan,
Australia, Timur Tengah, dan Amerika Utara. Sistem digital dalam GSM
memungkinkan perkembangan telepon seluler dengan sangat pesat. GSM
adalah system telekomunikasi bergerak dengan menggunakan system
selular digital. GSM pertama kali dibuat diperuntukan untuk menjadi
system telekomunikasi bergerak yang memiliki cakupan internasional yang
berdasarkan pada teknologi Multyplexing Time Division Multiple Access
(TDMA). GSM menggunakan frekuensi standart 900 Mhz dan frekuensi
1800 Mhz dengan nama Personal Communication Network. GSM juga
menyediakan layanan pengiriman data dengan high speed yang
menggunakan teknologi High Speed Circuit Switch Data (HSCSD) dengan
rate 64 Kbps hingga 100 Kbps. Saat ini di Indonesia yang mengadopsi
GSM sudah banyak, seperti Telkomsel, Exelkomindo, Satelindo, Indosat,
dan lain lain.
3. CDMA (Code Division Multiple Access) merupakan generasi ketiga. Code
Devision Multiple Access yang mengunakan sistem spectrum. Berbeda
dengan GSM yang menggunakan Time Division Multiplexing. CDMA
tidak memiliki frekuensi khusus pada setiap user. Setiap channel
menggunakan spectrum yang tersedia secara penuh. CDMA merupakan
perkembangan AMPS yang pertama kali digunakan oleh militer Amerika
Serikat sebagai komunikasi intelejen pada waktu perang. Perkembangan

CDMA tidak secepat perkembangan GSM yang paling banyak diadopsi di


berbagai macam negara. Di Indonesia untuk jaringan CDMA ditempati
oleh PT.Mobile-8, Telecom, Telkom flexy dan Esia.
1.3.3 Teknologi Generasi Awal / Zero Generation (0G)
Generasi awal (0G) atau Mobile radio telephone ini merupakan teknologi
telepon selular modern permulaan, dimana menggunakan jaringan gelombang
radio khusus dengan jangkauan jaringan yang terbatas dan dapat terhubung
dengan jaringan telepon umum biasa. Biasa pada mobil dan truk agar dapat
berkomunikasi. Mobile radio telephone ini dikenal dengan nama dagang WCCs
(Wireline Common Carriers), RCCs (Radio Common Carriers), and two-way
radio dealers. Prinsipnya seperti jaringan komunikasi Polisi atau Taxi (walkietalkie), hanya saja Mobile radio telephone ini mempunyai nomor telepon
tersendiri dan terhubung dengan jaringannya tersendiri. Kemampuan teknologi 0
G ini hanya dapat bisa melayani komunikasi suara saja dan merupakan teknologi
awal komunikasi bergerak (mobile) yang di implementasikan dan di
komersilakan. Kelemahan teknologi 0 G adalah Metoda transmisinya masih halfduplex meski pada perkembangannya mendukung full-duplex, jumlah pelangan
dan jangkauan jaringannya sangat terbatas, tidak mendukung komunikasi data,
oleh karena itu generaasi 0G tidak dapat bertahan lama.
1.3.4

Teknologi Generasi Pertama (1G)


Generasi pertama atau 1G merupakan teknologi handphone pertama yang

diperkenalkan pada era 80-an dan masih menggunakan sistem analog. Generasi
pertama ini menggunakan teknik komunikasi yang disebut Frequency Division
Multiple Access (FDMA). Teknik ini memungkinkan untuk membagi-bagi alokasi
frekuensi pada suatu sel untuk digunakan masing-masing pelanggan di sel
tersebut, sehingga setiap pelanggan saat melakukan pembicaraan memiliki
frekuensi sendiri (prinsipnya seperti pada stasiun radio dimana satu stasiun radio
hanya menggunakan satu frekuensi untuk siarannya). Kemampuan teknologi 1G
ini hanya dapat bisa melayani komunikasi suara saja tidak dapat melayani

komunikasi data dalam kecepatan tinggi dan besar. Kelemahan teknologi 1G


adalah kapasitas trafik yang kecil, jumlah pelanggan yang dapat ditampung dalam
satu sel sedikit, penggunaan spektrum frekuensi yang boros karena satu pengguna
menggunakan satu buah kanal frekuensi, dan suara tidak jernih.
1.3.5

Teknologi Generasi Kedua (2G)


Teknologi generasi kedua muncul karena tuntutan pasar dan kebutuhan

akan kualitas yang semakin baik. Generasi 2G sudah menggunakan teknologi


digital. Generasi ini menggunakan mekanisme Time Division Multiple Access
(TDMA) dan Code Division Multiple Access (CDMA) dalam teknik
komunikasinya.
Kemampuan teknologi 2G adalah Generasi kedua selain digunakan untuk
komunikasi suara, juga bisa untuk SMS (Short Message Service adalah layanan
dua arah untuk mengirim pesan pendek sebanyak 160 karakter), voice mail, call
waiting, dan transfer data dengan kecepatan maksimal 9.600 bps (bit per second).
Kelebihan 2G dibanding 1G selain layanan yang lebih baik, dari segi kapasitas
juga lebih besar. suara yang dihasilkan menjadi lebih jernih, karena berbasis
digital, maka sebelum dikirim sinyal suara analog diubah menjadi sinyal digital.
Tenaga yang diperlukan untuk sinyal sedikit sehingga dapat menghemat baterai,
sehingga handset dapat dipakai lebih lama dan ukuran baterai bisa lebih kecil.
Kelemahan teknologi 2 G adalah Kecepatan transfer data masih rendah, tidak
efisien untuk trafik rendah, jangkauan jaringan masih terbatas dan sangat
tergantung oleh adanya BTS (cell Tower).
1.3.6

Teknologi Generasi Dua Setengah (2.5G)


Teknologi 2.5G merupakan peningkatan dari teknologi 2G terutama dalam

platform dasar GSM telah mengalami penyempurnaan, khususnya untuk aplikasi


data. Untuk yang berbasis GSM teknologi 2.5G di implementasikan dalam GPRS
(General Packet Radio Services) dan WiDEN, sedangkan yang berbasis CDMA
diimplementasikan dalam CDMA2000 1x.

1.3.7

Teknologi Generasi Ketiga (3G)


Teknologi generasi ketiga (3G Third Generation) dikembangkan oleh

suatu kelompok yang diakui para ahli dan pelaku bisnis yang berkompeten dalam
bidang teknologi wireless di dunia. 3G (Third Generation) sebagai teknologi yang
berfungsi mempunyai kecepatan transfer data sebesar 144 kbps pada kecepatan
user 100 km/jam, mempunyai kecepatan transfer data sebesar 384 kbps pada
kecepatan berjalan kaki, mempunyai kecepatan transfer data sebesar 2 Mbps pada
untuk user diam (stasioner). Kemampuan teknologi 3G adalah Memiliki
kecepatan transfer data cepat (144kbps-2Mbps) sehingga dapat melayani layanan
data broadband seperti internet, video on demand, music on demand, games on
demand, dan on demand lain yang memungkinkan kita dapat memilih program
musik, video, atau game semudah memilih channel di TV. Kecepatan setinggi itu
juga mampu melayani video conference dan video streaming lainnya. Kelebihan
3G dari generasi-genersi sebelumnya adalah kualitas suara yang lebih bagus,
keamanan

yang

terjamin,

kecepatan

data

mencapai

Mbps

untuk

lokal/Indoor/slow-moving access dan 384 kbps untuk wide area access, support
beberapa koneksi secara simultan, sebagai contoh, pengguna dapat browse
internet bersamaan dengan melakukan call (telepon) ke tujuan yang berbeda,
infrastruktur bersama dapat mensupport banyak operator dilokasi yang sama.
Interkoneksi ke other mobile dan fixed users, roaming nasional dan internasional,
bisa menangani packet-and circuit-switched service termasuk internet (IP) dan
video conferencing. Juga high data rate communication services dan asymmetric
data transmission, efiensi spektrum yang bagus, sehingga dapat menggunakan
secara maksimum bandwidth yang terbatas, support untuk multiple cell layer, coexistance and interconnection dengan satellite-based services, mekanisme billing
yang baru tergantung dari volume data, kualitas service dan waktu. Kelemahan
Teknologi

3G

adalah

Memerlukan

Kontrol

Daya

Ideal

dan

belum

mencukupinya kecepatan transfer data dalam melayani layanan multimedia yang


memerlukan kecepatan yang mumpuni.
1.3.8

Teknologi Generasi Tiga Setengah (3.5G)

Teknologi 3.5 G atau disebut juga super 3G merupakan peningkatan dari


teknologi 3G, terutama dalam peningkatan kecepatan transfer data yang lebih dari
teknologi 3G (>2 Mbps) sehingga dapat melayani komunikasi multimedia seperti
akses internet dan video sharing.
1.3.9

Teknologi Generasi Keempat (4G- Fourth Generation)


Teknologi fourth generation (4G) adalah teknologi yang baru memasuki

tahap uji coba. Salah satunya oleh Jepang dimana pihak NTT DoCoMo,
perusahaan ponsel di Jepang, memanfaatkan tenaga hingga 900 orang insinyur
ahli untuk mewujudkan teknologi generasi ke 4. Motivasi Teknologi 4G
adalah Mendukung service multimedia Interaktif, telekonfrensi, Wireless Intenet,
bandwidth yang lebar, bit rates lebih besar dari 3G, global mobility, Service
Portability, Low-cost service, dan skalabilitas untuk jaringan mobile. Teknologi
yang baru dalam 4G adalah Sepenuhnya untuk jaringan packet-switched, semua
komponen jaringan digital, bandwidth yang besar untuk mendukung multimedia
service dengan biaya yang murah ( Sampai 100 Mbps), dan jaringan keamanan
data yang kuat. Teknologi yang digunakan adalah Untuk teknologi 4G,
kemungkinan teknologi yang diadaptasi adalah MIMO-OFDM (Multi Input Multi
Output Orthogonal Frequency Modulation). OFDM merupakan suatu teknik
transmisi multi carrier (banyak frekuensi). Dimana tiap frekuensi adalah
orthogonal satu sama lain, sehingga terjadinya overlapping tidak akan
menyebabkan interferensi. Dan di sisi lain teknik MIMO dapat membuat kanal
paralel independen dalam spatial domain untuk mengirimkan data stream yang
beragam. Teknik MIMO bisa memperbesar kapasitas kanal tanpa mengurangi
bandwidth yang ada. Jumlah antena yang dipergunakan pada bagian pemancar 2
sedangkan pada bagian penerima 4. MIMO dapat mencapai kecepatan transfer
data sampai 59,52 Mb.

1.3.10 Propagasi
Propagasi gelombang radio dapat diartikan sebagai proses perambatan
gelombang radio dari pemancar ke penerima. Transmisi sinyal dengan media nonkawat memerlukan antena untuk meradiasikan sinyal radio ke udara bebas dalam
bentuk gelombang elektromagnetik. Gelombang ini akan merambat melalui udara
bebas menuju antena penerima dengan mengalami peredaman sepanjang
lintasannya, sehingga ketika sampai di antena penerima, energy sinyal sudah
sangat lemah. Gelombang dalam perambatannya menuju antena penerima dapat
melalui berbagai macam lintasan. Jenis lintasan yang diambil tergantung dari
frekuensi sinyal, kondisi atmosfir dan waktu transmisi.

Gambar 1.1 Propagasi Gelombang

Ada 3 jenis lintasan dasar yang dapat dilalui, yakni melalui permukaan
tanah (gelombang tanah), melalui pantulan dari lapisan ionosfir di langit
(gelombang langit), dan perambatan langsung dari antena pemancar ke antena
penerima tanpa ada pemantulan (gelombang langsung).
1.3.11 Propagasi Gelombang Tanah
Gelombang tanah merambat dekat permukaan tanah dan mengikuti
lengkungan bumi, sehingga dapat menempuh jarak melampaui horizon.
Perambatan melalui lintasan ini sangat kuat pada daerah frekuensi 30 kHz 3
MHz. Di atas frekuensi tersebut permukaan bumi akan meredam sinyal radio,
karena benda-benda di bumi menjadi satu ukuran dengan panjang gelombang
sinyal. Sinyal dari pemancar AM (Amplitude Modulation) utamanya merambat
melalui lintasan ini.

Gambar 1.2 Propagasi Gelombang Tanah

1.3.12 Propagasi Gelombang Langit


Gelombang langit diradiasikan oleh antena ke lapisan ionosfir yang
terletak di atmosfir bagian atas dan dibelokkan kembali ke bumi. Ada beberapa
lapisan ionosfir yakni lapisan D , E, F1 dan F2, dimana keberadaannya di langit
berubah-ubah menurut waktu, dan sangat mempengaruhi perambatan sinyal.
Lapisan D dan E adalah lapisan yang paling jauh dari matahari sehingga kadar
ionisasinya rendah. Lapisan ini hanya ada pada siang hari, dan cenderung
menyerap sinyal pada daerah frekuensi 300 kHz 3 MHz.

Gambar 1.3 Propagasi Gelombang Langit

Lapisan F terdiri dari lapisan F1 dan F2, mempunyai kadar ionisasi yang
paling tinggi karena dekat dengan matahari, sehingga ada pada baik pada siang
maupun malam hari. Lapisan ini yang paling mempengaruhi sinyal radio, dimana
pada daerah frekuensi 3 30 MHz, sinyal yang sampai ke lapisan ini pada sudut
tertentu, akan dibelokkan kembali ke bumi, ke tempat yang sangat jauh dari
antena pemancarnya dengan redaman yang kecil, sehingga sangat bermanfaat
untuk transmisi sinyal. Sinyal yang sampai ke lapisan tersebut pada sudut yang
besar terhadap bumi, akan dilewatkan ke ruang angkasa.

1.3.13 Propagasi Gelombang Langsung


Pada propagasi ini, sinyal yang dipancarkan oleh antena pemancar
langsung diterima oleh antenna penerima tanpa mengalami pantulan, disebut Line
Of Sight (LOS). Karena perambatannya harus secara langsung, maka di lokasilokasi yang antena penerimanya terhalang, tidak akan menerima sinyal (blocked
spot). Jarak transmisi yang dapat dijangkau pada propagasi LOS relative pendek
dan dibatasi oleh tinggi antenna pemancar dan penerimanya, direpresentasikan
melalui rumus berikut:
d=4 ht+ 4 hR (1.1)
Dimana,
d : jarak antena pemancar dan penerima (km)
ht : tinggi antena pemancar (m)
hr : tinggi antena penerima (m)

Gambar 1.4 Propagasi Line of Sight

Komunikasi LOS paling banyak digunakan pada transmisi sinyal radio di


atas 30 MHz yakni pada daerah VHF, UHF, dan microwave. Pemancar FM
(Frequency Modulation) dan TV, menggunakan propagasi ini. Untuk mengatasi
jarak jangkau yang pendek, digunakan repeater, yang terdiri dari receiver dengan
sensitivitas tinggi, transmitter dengan daya tinggi, dan antena yang diletakkan di
lokasi yang tinggi.
Free Space Loss (FSL) adalah loss (kerugian) yang terjadi dalam
sambungan

komunikasi

melalui

gelombang

radio.

Pada

saat

sinyal

meninggalkan antenna, sinyal akan berpropagasi atau lepas ke udara. Antena yang
kita gunakan akan menentukan bagaimana propagasi akan terjadi.

Persamaan dari redaman Free Space (Free Space Loss / FSL) adalah
sebagai berikut:
4 d/
()
...(1.2)
FSLdB =20 log
Atau bisa juga dengan :
d /
()
...(1.3)
FSLdB =21,98+20 log

FSPL tergantung pada dua parameter: Pertama adalah frekuensi sinyal


radio, kedua adalah jarak transmisi nirkabel. Rumus berikut dapat mencerminkan
hubungan antara mereka.
FSPL (dB) = 20log10(d) + 20log10(f) + K..(1.4)
d = distance (jarak)
f = frequency (frekuensi)
K= konstanta yang bergantung pada satuan yang digunakan untuk d dan f
Jika d diukur dalam kilometer, f dalam MHz, formula adalah:
FSPL (dB) = 20log10(d)+ 20log10(f) + 32.44.(1.5)
Atau
FSPL (dB) = 20log10(d)+ 20log10(f) + 92.44.(1.6)
Dimana :
d

: jarak (km)

: frekuensi (MHz)

1.3.14 Model Propagasi


Model-model ini ditujukan untuk memprediksi kekuatan sinyal di titik
lokasi penerimaan tertentu, atau di wilayah lokal tertentu yang disebut sektor,
dengan metode yang bervariasi secara luas dalam pendekatannya, kerumitannya
maupun ketepatannya. Sebagian besar Model propagasi ini berlandaskan pada
interpretasi sistematik dan pengukuran data yang diperoleh dalam wilayah layanan

yang dimiliki oleh operator sistem komunikasi nirkabel. Berikut adalah model
propagasi outdoor :

1.3.15 Model Okumura


Model Okumura merupakan salah satu metode atau model propagasi dan
salah satu jenis pemodelan yang paling banyak digunakan untuk prediksi median
transmission loss terutama di daerah perkotaan. Model ini dapat digunakan untuk
ketinggian antena base station antara 30 m hingga 1000 m, jarak antara 1 km
hingga 100 km, serta frekuensi antara 150 MHz hingga 1920 MHz. Okumura
menggunakan sebuat set kurva yang memberikan median atenuasi yang relative
keruang bebas (AMU), di urban area wilayah dataran halus mempunyai antena
yang efektif dengan ketinggian 200m dan antena berjalan dengan ketinggian 3m.
dengan jarak dan frekuensi yang sama maka okumura model dapat diartikan loss
pada ruang bebas antara titik yang ditarik harus ditentukan dan kemudian nilai
dari AMU di tambahkan kedalamnya dengan factor koreksi untuk menghitung
tipe medan. Bentuk modelnya di ekspresikan dengan model :
L50( dB)=LF+ Amu (f , d )G(hte ) G(hre) Garea .............(1.7)
L adalah nilai rata-rata redaman lintasan propagasi, dengan kata lain
median dari nilai path loss. LF merupakan free space propagation loss(redaman
lintasan ruang bebas). Amu merupakan median atteniation relatif terhadap free
space, yang merupakan fungsi dari frekuensi dan jarak (rata-rata redaman relatif
terhadap redaman ruang bebas). G(hte) merupakan gain factor ketinggian antena
base station. G(hre) merupakan gain factor ketinggian antena penerima.

Garea

adalah gain berdasarkan tipe lingkungan tempat perambatan gelombang. Gain


antena disini adalah karena berkaitan dengan tinggi antena dan tidak ada
hubungannya dengan pola antena. Okumura juga menemukan bahwa G(hte)
mempunyai nilai yang bervariasi dengan perubahan20 dB/decade dan G(hre)
bervariasi dengan perubahan 10 dB/decade pada ketinggian antena kurang dari 3
m.

Gambar 1.5 Grafik Model Okumura

1.3.16 Model Okumura-Hatta


Model Hatta merupakan bentuk persamaan empirik dari kurva redaman
lintasan yang dibuat oleh Okumura, karena itu model ini lebih sering disebut
sebagai model Okumura-Hatta. Model ini valid. Model ini valid untuk daerah
range frekuensi antara 150-1500 MHz.
Lu=69,55 + 26,16logfc 13,82loghte a(hre) + (44,9 6,55loghre) logd.........(1.8)
Dimana fc adalah frekuensi kerja antara 150-1500 MHz, hte adalah tinggi
efektif antena transmitter(BS) sekitar 30-200 m , hre adalah tinggi efektif antena
receiver (MS) sekitar 1-10 m, d adalah jarak antara Tx-Rx (km), dan a(hre) adalah
faktor koreksi untuk tinggi efektif antena MS sebagai fungsi dari luas daerah yang
dilayani. Untuk kota kecil sampai sedang, faktor koreksi a(hre) diberikan oleh
persamaan:
a(hre) = (1,1logfc 0,7) hre (1,56logfc0,8) dB.................(1.9)
Sedangkan untuk kota besar:
A(hre) = 8,29 (log1,54hre)2 1,1 db untuk fc<300 MHz.........(1.10)
A(hre) = 3,2 (log11,75hre)2 4,97 dB untuk f c>300 MHz.............(1.11)

Untuk memperoleh redaman lintasan di daerah suburban dapat diturunkan


dari persamaan standar Hatta untuk daerah urban dengan menambahkan faktor
koreksi, sehingga diperoleh persamaan berikut:
L(suburban)(dB) = L(urban) 2[log(fc/28)]2 5,4...................(1.12)
dan untuk daerah rural terbuka, persamaannya adalah:
L(open rural)(dB) = L(urban) 4,78 (logfc)2 18,33logfc 40,98.......(1.13)
European Co-operative for Scientific and Technical Research (EUROCOST) membentuk komite kerja COST-231 untuk membuat model Hatta yang
disempurnakan atau diperluas. COST-231 mengajukan suatu persamaan untuk
menyempurnakan model Hatta agar bisa dipakai pada frequensi 2GHz. Model
redaman lintasan yang diajukan oleh COST-231 ini memiliki bentuk persamaan:
Lu=46,3 + 33,9logfc 13,82 loghte a(hre) + (44,9-6,55loghte)logd + CM...(1.14)
dimana a(hre) adalah faktor koreksi tinggi efektif antena MS sesuai dengan hasil
Hatta, dan0 dB untuk kota sedang dan suburban CM = 3 dB untuk daerah pusat
metropolitan. Model Hatta COST-231 hanya cocok untuk parameter-parameter
berikut :
f : 1500 2000 MHz
hte: 30-200m
hre: 1-10 m
d : 1-20 km
1.3.17 Model Longley-Rice
Model Longley-Rice ini cocok untuk diterapkan pada system komunikasi
titik ke titik didalam frekuensi dari 400 MHz sampai 100 GHz.. Redaman media
transmisi dihitung dengan mengacu pada bentuk geometri dari profil permukaan
daerah layanan dan efek refraksi dari troposphere.

Teknik geometri optik

(utamanya model refleksi 2-ray) digunakan untuk memperkirakan kekuatan sinyal


sampai batas horizon gelombang radio. Redaman karena difraksi dihitung dengan
menggunakan model Fresnel-Kirchoff knife-edge. Sementara itu teori hamburan
digunakan untuk membuat perhitungan troposcatter pada jarak jauh, dan redaman
difraksi medan jauh dihitung dengan menggunakan metode Van der Pol-Bremmer

yang dimodifikasi. Model Longley-Rice bekerja pada dua mode. Jika informasi
mengenai profil permukaan lintasan tersedia secara mendetail maka parameterparameter khusus lebih mudah untuk menentukan

dan menghitung redaman

lintasan, mode ini disebut mode prediksi dari titik ke titik (point to point mode).
1.3.18 Model Durkin
Pendekatan prediksi propagasi klasik mirip dengan yang digunakan oleh
Longley Rice yang dibahas oleh Edward dan Durkin, serta paper Dadson
menggambarkan simulator komputer, untuk memprediksi kontur kekuatan medan
di medan yang tidak teratur, yang diadopsi oleh komite radio gabungan (JRC) di
Inggris untuk perkiraan daerah cakupan radio mobile efektif. Sebagai masukan
simulator untuk menghitung path loss, Durkin membaginya menjadi dua bagian.
Bagian pertama adalah akses terhadap database dari topografi dan informasi profil
permukaan bumi sepanjang arah radial dari transmitter ke receiver.
Dengan asumsi bahwa antena receiver menerima semua energi yang
berasal dari arah radial, maka tidak terjadi efek multipath. Dengan kata lain
propagasi yang dimodelkan disederhanakan ke dalam bentuk Line of Sight (LOS)
dan difraksi dari rintangan sepanjang arah radial, dan mengabaikan pantulan dari
benda-benda disekitarnya dan efek scater local. Sedangkan bagian kedua adalah
algoritma simulasi untuk menghitung perkiraan redaman lintasan sepanjang arah
radial.
1.3.19 Perhitungan Link Budget
Link budget merupakan sebuah cara untuk menghitung mengenai semua
parameter dalam transmisi sinyal, mulai dari gain dan losses dari Tx sampai Rx
melalui media transmisi. Link merupakan parameter dalam merencanakan suatu
jaringan yang menggunakan media transmisi berbagai macam. Link budget ini
dihitung berdasarkan jarak antara transmitter (Tx) dan receiver (Rx). Link budget
juga dihitung karena adanya penghalang antara Tx dan Rx misal gedung atau
pepohonan. Link budget juga dihitung dengan melihat spesifikasi yang ada pada
antena. Manfaat Link Budget ialah untuk menjaga keseimbangan gain dan loss

guna mencapai SNR yang diinginkan di receiver, dan mengetahui radius sel
penyebab diperolehnya maksimum loss.

Untuk menghitung pathloss, dapat

menggunakan rumus berikut :


Uplink :
L pu = Pm + Gm Lm + Gb + Gd Sb Ld Lj......(1.15)
Downlink :
L pd = Pb + Gb + Gm Sm Ld Lj Ltf .........(1.16)
Keterangan :
L pu

maksimum pathloss arah uplink ( dB )

Pm

EIRP transmitter pada mobile station (dBm)

Gd

gain diversity BTS (dBm)

Sb

: sensitivitas receiver BTS (dBm)

Lpd

Gb

: gain antena base station (dBi)

Ld

loss duplekser (dB)

Lj

loss jumper (dB)

Sm

: sensitivitas mobile station receiver (dBm)

Pb

Ltf

maksimum pathloss arah downlink (dB)

power base station (dBm)


loss filter transmitter base station (dB)

1.4

Langkah Percobaan

1.

Buka software Atoll

2.

1.6 yang
Tampilan
Awal Atollpilih File > New > From a
Untuk menentukan Gambar
teknologi
digunakan

Document Template > GSM GPRS EDGE

Gambar 1.7 Tampilan Awal Atoll

3.

Untuk menentukan koordinat peta pilih Document > Properties maka akan
muncul jendela berikut

Gambar 1.8 Tampilan Atoll Saat Menentukan titik koordinat

4.

Pada kolom Projection pilih WGS 84/UTM zone 49S dimana ini
menunjukkan koordinat antara 108 Bujur Barat hingga 114 Bujur Timur

5.

Gambar 1.9 Tampilan Atoll Saat Menentukan titik koordinat Bujur

Pada kolom display pilih WGS 84 yang menandakan garis Lintang untuk
koordinat dunia

Gambar 1.10 Tampilan Atoll Saat Menentukan titik koordinat Lintang

6.

Untuk memasukkan peta digital pilih File > Import. Pilih peta yang ingin
dimasukkan

Gambar 1.11 Tampilan Atoll Setelah Meng-import Map

7.

Import data clutter pilih File > Import. Pilih data clutter yang akan

8.

diimport, pada tipe data pilih clutter classes


Import ketinggian peta pilih File > Import. Pilih data ketinggian peta yang

9.

akan diimport, pada tipe data pilih altitudes


Import data vector pilih File > Import. Pilih data vector yang akan

10.

diimport, pada tipe data pilih vectors


Tentukan lokasi untuk melakukan perencanaan dan tampilan akhir akan
terlihat seperti berikut:

11.

Gambar 1.12 Tampilan Atoll Setelah meng-import data clutter

Klik icon site dan letakkan di posisi yang diinginkan

Gambar 1.13 Tampilan Atoll Saat Meletakkan site (BTS)

12.

Atur parameter antena, klik kanan pada Transmitter > Open Table.

13.

Gambar
Tampilan
Meletakkan
site (BTS)
Akan muncul
tab1.14
baru,
klikAtoll
duaSaat
kali
pada masing-masing
transmitter

untuk mengatur spesifikasinya sesuai data yang diberikan

Gambar 1.15 Menu untuk men-setting site

14.

Setelah mengatur spesifikasi antena, kembali ke tab perencanaan untuk


melakukan prediksi coverage area. Klik kanan pada prediction > new
prediction

15.

Gambar
Tampilan
site (BTS)
Pilih coverage
by1.16
signal
levelAtoll
(DL)Saat
> Meletakkan
OK dan klik
Calculate. Maka akan

terlihat coverage area dari site seperti berikut

Gambar 1.17 Coverage Area Site saat downlink

16.

Ulangi langkah 11-16 dengan menempatkan site di posisi yang berbeda


hingga mendapatkan hasil seperti berikut

Gambar 1.18 Coverage Area Site saat downlink

17. Hasil tersebut dapat dilihat melalui Google Earth dengan cara memilih icon
Convert to Google Earth pada software

Gambar 1.19 Coverage Area Site saat downlink dengan tampilan Google Earth

1.5

Data Hasil Percobaan

1.5.1

Coverage Area BTS dengan GSM Frekuensi 900 MHz

1.5.1.1 Coverage Area BTS Kondisi UpLink dengan Frekuensi 900 MHz

Gambar 1.20 Coverage Area BTS kondisi uplink

Pada BTS ini menggunakan model propagasi Okumura-Hatta


Keterangan :
Frekuensi

: 900 MHz

Power

: 48 dBm

Tinggi Antena

: 30 m

Panjang Feeder

: 41 m (transmission), 3 m ( reception )

Tipe Feeder

: 5/8

Radius

:0m

Resolusi

: 50 m

1.5.1.2 Coverage Area BTS Kondisi DownLink dengan Frekuensi 900 MHz

Gambar 1.21 Coverage Area BTS kondisi downlink

Pada BTS ini menggunakan model propagasi Okumura-Hatta.


Keterangan :
Frekuensi

: 900 MHz

Power

: 48 dBm

Tinggi Antena

: 30 m

Panjang Feeder

: 41 m (transmission), 3 m ( reception )

Tipe Feeder

: 5/8

Radius

:0m

Resolusi

: 50 m

1.5.2

Coverage Area BTS dengan GSM Frekuensi 1800 MHz

1.5.2.1 Coverage Area BTS Kondisi UpLink dengan Frekuensi 1800 MHz

Gambar 1.22 Coverage Area BTS kondisi uplink

Pada BTS ini menggunakan model propagasi Cost-Hatta


Keterangan :
Frekuensi

: 1800 MHz

Power

: 48 dBm

Tinggi Antena

: 30 m

Panjang Feeder

: 41 m (transmission), 3 m ( reception )

Tipe Feeder

: 5/8

Radius

:0m

Resolusi

: 50 m

1.5.2.2 Coverage Area BTS Kondisi DownLink dengan Frekuensi 1800 MHz

Gambar 1.23 Coverage Area BTS kondisi downlink

Pada BTS ini menggunakan model propagasi Cost-Hatta


Keterangan :
Frekuensi

: 1800 MHz

Power

: 48 dBm

Tinggi Antena

: 30 m

Panjang Feeder

: 41 m (transmission), 3 m ( reception )

Tipe Feeder

: 5/8

Radius

:0m

Resolusi

: 50 m

1.6

Analisa Hasil Percobaan

1.6.1

Analisa Link Budget Jaringan GSM 900 MHz dan 1800 MHz

1.6.1.1 Link Budget UpLink dan DownLink dengan Frekuensi 900 MHz

Gambar 1.24 Coverage Area BTS kondisi uplink

Gambar 1.25 Coverage Area BTS kondisi downlink

Pada gambar 1.20 dan 1.21 adalah coverage area BTS dalam kondisi
uplink. Dalam jaringan GSM, frekuensi uplink adalah istilah yang digunakan
untuk sebuah band (atau kelompok) dari frekuensi yang didedikasikan untuk
transmisi data dari unit mobile (atau ponsel) ke menara BTS. Sementara
frekuensi downlink dalam jaringan GSM mengacu pada frekuensi transmisi dari
BTS antena ke unit ponsel di tanah. Berikut adalah perhitungan link budget
kondisi uplink dan downlink GSM 900 MHz dengan parameter yang dapat di
asumsikan sebagai berikut:
Frekuensi

: 900 MHz

BS Diversity Gain

: 2,5 dB

Tinggi Receiver

:1m

BS Duplexer Loss

: 0,8 dB

Power Receiver

: 100 mW

BS Jumper Loss

: 0,9 dB

Antena Gain Receiver : 2 dBi

BS Tx Filter Loss

: 2,3 dB

Receiver Sensitivity

: -101 dBm

Body Attenuation

: 2 dB

BS Rx Sensitivity

: -104 dBm

Buiding Attenuation : 15 dB

Tabel 1.1 Parameter Link Budget Menghitung Product Path Loss

Parameter
Frekuensi
MS TX Power
MS RX Sensitivity
MS Antenna Gain
MS Feeder Loss
BS TX Power
BS RX Sensitivity
BS Antena Gain
BS Diversity Gain
BS Duplexer Loss
BS Jumper/Connector Loss
BS TX Filter Loss
Product Path Loss

Persamaan uplink (L pu)

Symbol
F
Pm
Sm
Gm
Lm
Pb
Sb
Gb
Gd
Ld
Lj
Ltf
Lp

Unit
MHz
dBm
dBm
dBi
dB
dBm
dBm
dBi
dB
dB
dB
dB
dB

Uplink
900
20
2
0
-104
17
2.5
0.8
0.9
143,8

Downlink
900
-101
2
0
48
17
0.8
0.9
2.3
164

= Pm + Gm Lm + Gb + Gd Sb Ld Lj
= 20 + 2 0 + 17 + 2,5 (-104) 0,8 0,9
= 143,8 dB

Persamaan downlink (L pd)

= Pb + Gb + Gm Sm Ld Lj Ltf
= 48 + 17 + 2 (-101) 0,8 0,9 2,3
= 164 dB

Tabel 1.2 Parameter Link Budget

Parameter

Unit

Product Path Loss(Lp)


BS Antenna Height(Hb)
Body attenuation(Ab)
Total feeder loss (Lf)
Vehide attenuation(Av)

dB
M
dB
dB
dB
dB
dB

Building attenuation(Abd)

Total Path Loss(Lpt)

Total Path Loss (Uplink)

Urban
Uplink
143,8
30
2
2,76
0
15
124,04

Downlink
164
30
2
2,76
0
15
144,24

= Lp Ab Lf Abd
= 143,8 2 2,76 15
= 124,04

Total Path Loss (Downlink) = Lp Ab Lf Abd


= 164 2 2,76 15
= 144,24
Rumus Okumura-Hatta :
Lu = 69,55 + 26,16log fC 13,83log hT a(hR) + [44,9 6,55 log hT ] log d
11,75 h R
log

Untuk mencari

a ( h R ) =3,2
3,2(log 11,75 . 1)24,97
3,2 ( 1,145 ) 4,97
1,306

KondisiUplink :
Lu = 69,55 + 26,16 log fC 13,83log hT a(hR) + [44,9 6,55 log hT ] log d
= 69,55 + 26,16 log 900 13,83 log 30 (-1,306)+[44,9-6,55 log 30] log d
= 69,55 + 26,16 log 900 13,83 log 30 (-1,306)+[44,9-6,55 log 30] log d
= 69,55 + 26,16 (2,95)-13,83(1,48)+1,306+[44,9-6,55(1,48)] log d
= 69,55 +77,172 20,453 + 1,306 + (35,206) log d
124,04 =162,781 log d
124,04
162,781 = log d
0,76 = log d
d = 1,19 km
Kondisi Downlink :
Lu = 69,55 + 26,16 log fC 13,83log hT a(hR) + [44,9 6,55 log hT ] log d
= 69,55 + 26,16 log 900 13,83 log 30 (-1,306)+[44,9-6,55 log 30] log d
= 69,55 + 26,16 log 900 13,83 log 30 (-1,306)+[44,9-6,55 log 30] log d
= 69,55 + 26,16 (2,95)-13,83(1,48)+1,306+[44,9-6,55(1,48)] log d
= 69,55 +77,172 20,453 + 1,306 + (35,206) log d
144,24 =162,781 log d
144,24
162,781 = log d
0,88 = log d
d = 1,23 km

Jadi untuk kondisi uplink jarak jangkauan mobile systemnya adalah 1,19
km, sedangkan untuk kondisi downlink jarak jangkauan base stationnya adalah
1,23 km.

1.6.1.2 Link Budget UpLink dan DownLink dengan Frekuensi 1800 MHz

Gambar 1.26 Coverage Area BTS kondisi uplink

Gambar 1.27 Coverage Area BTS kondisi downlink

Pada gambar 1.22 dan 1.23 adalah coverage area BTS dalam kondisi
uplink. Dalam jaringan GSM, frekuensi uplink adalah istilah yang digunakan
untuk sebuah band (atau kelompok) dari frekuensi yang didedikasikan untuk
transmisi data dari unit mobile (atau ponsel) ke menara BTS. Sementara
frekuensi downlink dalam jaringan GSM mengacu pada frekuensi transmisi dari
BTS antena ke unit ponsel di tanah. Berikut adalah perhitungan link budget
kondisi uplink dan downlink GSM 1800 MHz dengan parameter yang dapat di
asumsikan sebagai berikut:
Frekuensi

: 1800 MHz

BS Diversity Gain

: 2,5 dB

Tinggi Receiver

:1m

BS Duplexer Loss

: 0,8 dB

Power Receiver

: 100 mW

BS Jumper Loss

: 0,9 dB

Antena Gain Receiver : 2 dBi

BS Tx Filter Loss

: 2,3 dB

Receiver Sensitivity

: -101 dBm

Body Attenuation

: 2 dB

BS Rx Sensitivity

: -104 dBm

Buiding Attenuation : 15 dB

Tabel 1.1 Parameter Link Budget Menghitung Product Path Loss

Parameter
Frekuensi
MS TX Power
MS RX Sensitivity
MS Antenna Gain
MS Feeder Loss
BS TX Power
BS RX Sensitivity
BS Antena Gain
BS Diversity Gain
BS Duplexer Loss
BS Jumper/Connector Loss
BS TX Filter Loss
Product Path Loss

Persamaan uplink (L pu)

Symbol
F
Pm
Sm
Gm
Lm
Pb
Sb
Gb
Gd
Ld
Lj
Ltf
Lp

Unit
MHz
dBm
dBm
dBi
dB
dBm
dBm
dBi
dB
dB
dB
dB
dB

Uplink
1800
20
2
0
-104
17
2.5
0.8
0.9
143,8

Downlink
1800
-101
2
0
48
17
0.8
0.9
2.3
164

= Pm + Gm Lm + Gb + Gd Sb Ld Lj
= 20 + 2 0 + 17 + 2,5 (-104) 0,8 0,9
= 143,8 dB

Persamaan downlink (L pd)

= Pb + Gb + Gm Sm Ld Lj Ltf
= 48 + 17 + 2 (-101) 0,8 0,9 2,3
= 164 dB

Tabel 1.2 Parameter Link Budget

Parameter

Unit

Product Path Loss(Lp)


BS Antenna Height(Hb)
Body attenuation(Ab)
Total feeder loss (Lf)
Vehide attenuation(Av)

dB
M
dB
dB
dB
dB
dB

Building attenuation(Abd)

Total Path Loss(Lpt)

Total Path Loss (Uplink)

Urban
Uplink
143,8
30
2
2,76
0
15
124,04

Downlink
164
30
2
2,76
0
15
144,24

= Lp Ab Lf Abd
= 143,8 2 2,76 15
= 124,04

Total Path Loss (Downlink) = Lp Ab Lf Abd


= 164 2 2,76 15
= 144,24
Rumus Cost 231 :
Lu = 46,3 + 33,9 log fC 13,82 log hT a(hR) + [44,9 6,55 log hT ] log d +
CM
7

1.1 log ( f )0,


Untuk mencari

a ( h R ) =

7
(
1.1 log 1800 ) 0,

2,554,27

1,72

KondisiUplink :

Lu = 46,3 + 33,9 log fC 13,82 log hT a(hR) + [44,9 6,55 log hT ] log d +
CM

= 46,3 + 33,9 log 1800 13,82 log 30 (-1,72)+[44,9-6,55 log

30] log d+3


= 46,3 + 33,9 (3,26) 13,82 (1,48) (-1,72)+[44,9-6,55 log 30] log d+3
= 46,3 + 110,5 20,45 + 1,72 + 35,206 log d + 3
124,04 = 141,07 + 35,206 log d
-17,03 = 35,206 log d

17 , 03
35,206 = log d
-0,48 = log d
d = 0,33 km
Kondisi Downlink :

Lu = 46,3 + 33,9 log fC 13,82 log hT a(hR) + [44,9 6,55 log hT ] log d +
CM

= 46,3 + 33,9 log 1800 13,82 log 30 (-1,72)+[44,9-6,55 log

30] log d+3


= 46,3 + 33,9 (3,26) 13,82 (1,48) (-1,72)+[44,9-6,55 log 30] log d+3
= 46,3 + 110,5 20,45 + 1,72 + 35,206 log d + 3
144,24 = 141,07 + 35,206 log d
3,17 = 35,206 log d
3,17
35,206 = log d
-0,09 = log d
d = 0,81 km
Jadi untuk kondisi uplink jarak jangkauan mobile systemnya adalah 0,33
km, sedangkan untuk kondisi downlink jarak jangkauan base stationnya adalah
0,81 km.

1.6.3

Analisa Perbandingan Jaringan GSM 900 MHz dan 1800 MHz

Pada jaringan GSM frekuensi 900 MHz didapatkan jangkauan base station
kondisi uplink sebesar 1,19 km, sedangkan untuk kondisi downlink jarak
jangkauan base stationnya adalah 1,23 km. Dan pada jaringan GSM frekuensi
1800 MHz didapatkan jangkauan base station kondisi uplink sebesar 0,33 km,
sedangkan untuk kondisi downlink jarak jangkauan base stationnya adalah 0,81
km. Dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi frekuensi yang digunakan maka
semakin sempit coverage areanya. Yang mempengaruhi hal tersebut adalah
adanya redaman ruang bebas (Free Space Loss) dan juga adanya pengaruh
panjang gelombang. Perhitungan Free Space Loss pada BTS kondisi uplink dan
downlink menggunakan frekuensi 900 MHz. Jika jarak dari transmitter ke
receiver (d) di asumsikan = 1 km maka di dapatkan hasil sebagai berikut :
FSL ( dB )=20 log f +20 log d +32,44
20 log 900+20 log 1+ 32,44

59,08+0+32,44
92,24 dB

Berikut adalah gambar kondisi uplink dan downlink frekuensi 900 MHz :

Gambar 1.28 Coverage Area BTS kondisi uplink

Gambar 1.29 Coverage Area BTS kondisi downlink

Perhitungan Free Space Loss pada BTS kondisi uplink dan downlink
menggunakan frekuensi 1800 MHz dapat dilihat sebagai berikut :
FSL ( dB )=20 log f +20 log1+32,44
20 log 1800+ 20 log1+32,44
65,10+0+32,44

97,54 dB

Berikut adalah gambar kondisi uplink dan downlink frekuensi 1800 MHz :

Gambar 1.30 Coverage Area BTS kondisi uplink

Gambar 1.31 Coverage Area BTS kondisi downlink

1.7
1.

Simpulan
Atoll merupakan sebuah software radio planning yang menyediakan satu
set alat dan fitur yang komperhensif dan terpadu yang memungkinkan
user untuk membuat suatu proyek perencanaan microwave ataupun
perencanaan radio dalam satu aplikasi.

2.

Propagasi gelombang radio dapat diartikan sebagai proses perambatan


gelombang radio dari pemancar ke penerima. Transmisi sinyal dengan
media non-kawat memerlukan antenna untuk meradiasikan sinyal radio ke
udara bebas dalam bentuk gelombang elektromagnetik. Gelombang ini
akan merambat melalui udara bebas menuju antenna penerima dengan
mengalami peredaman sepanjang lintasannya, sehingga ketika sampai di
antenna penerima, energy sinyal sudah sangat lemah. Ada 3 jenis lintasan
dasar yang dapat dilalui, yakni melalui permukaan tanah (gelombang
tanah), melalui pantulan dari lapisan ionosfir di langit (gelombang langit),
dan perambatan langsung dari antena pemancar ke antena penerima tanpa
ada pemantulan (gelombang langsung).

3.

Pada jaringan GSM frekuensi 900 MHz didapatkan jangkauan base station
kondisi uplink sebesar 1,99 km, sedangkan untuk kondisi downlink jarak
jangkauan base stationnya adalah 1,23 km. Dan pada jaringan GSM
frekuensi 1800 MHz didapatkan jangkauan base station kondisi uplink
sebesar 0,33 km, sedangkan untuk kondisi downlink jarak jangkauan base
stationnya adalah 0,81 km.

4.

Semakin tinggi frekuensi yang digunakan maka semakin sempit coverage


areanya. Yang mempengaruhi hal tersebut adalah adanya redaman ruang
bebas (Free Space Loss) yang meredam frekuensi tersebut, dan juga
adanya pengaruh panjang gelombang.

5.

Hasil Free Space Loss pada BTS kondisi uplink dan downlink
menggunakan frekuensi 900 MHz adalah

92,24 dB

dan 92,24 dB.

Untuk hasil Free Space Loss pada BTS kondisi uplink dan downlink
menggunakan frekuensi 1800 MHz adalah 97,54 dB dan 97,54 dB.