Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN KASUS

DERMATITIS KONTAK IRITAN


Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Program Pendidikan Profesi
Kedokteran Bagian Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin
Rumah Sakit Umum Daerah Kardinah Kota Tegal
Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Pembimbing :
dr. Dody Suhartono, Sp.KK, MM

Disusun oleh :
Anindya
030.11.033

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KARDINAH KOTA TEGAL
PERIODE 1 FEBRUARI 5 MARET 2016
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI

LAPORAN KASUS
DERMATITIS KONTAK IRITAN
dr. Dody Suhartono, Sp.KK, MM
Oleh : Anindya (030.11.033)

I.

PENDAHULUAN
Dermatitis kontak adalah dermatitis yang disebabkan oleh bahan atau substansi yang
menempel pada kulit. Dua jenis dermatitis adalah dermatitis kontak iritan dan dermatitis
kontak alergi yang keduanya dapat bersifat akut maupun kronik. Dermatitis kontak iritan
merupakan reaksi peradangan kulit non imunologik yang artinya kerusakan kulit terjadi
langsung tanpa didahului proses peradangan atau sensitisasi. Sedangkan, dermatitis kontak
alergi terjadi pada seseorang yang telah mengalami sensitisasi terhadap suatu bahan atau
penyebab atau alergen.1
Dermatitis kontak iritan dapat dialami oleh semua orang dari berbagai golongan umur,
ras, dan jenis kelamin. Kejadian dermatitis kontak iritan berhubungan dengan pekerjan.1
Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya dermatitis kontak iritan adalah pajanan
dengan bahan yang bersifat iritan, lama kontak, kekerapan kontak, oklusi, gesekan, trauma
fisis, suhu, dan kelembaban lingkungan. Selain itu, faktor individu juga berpengaruh seperti
perbedaan ketebalan kulit yang menyebabkan perbedaan permeabilitas, usia, ras, jenis
kelamin, dan penyakit kulit yang pernah atau sedang dialami.1
Kelainan kulit oleh bahan iritan terjadi akibat kerusakan sel secara kimiawi atau fisis.
Kebanyakan bahan iritan merusak membran lemak keratinosit, namun sebagian dapat
menembus membran sel dan merusak lisosom, mitokondria, atau komponen inti. Kerusakan
membran mengaktifkan fosfolipase dan melepaskan asam arakidonat, diasilgliserida, platelet
activating factor, dan inositida. Asam arakidonat diubah menjadi prostaglandin dan
leukotrien yang nantinya akan menyebabkan vasodilatasi dan meningkatkan permeabilitas
selular sehingga mempermudah transudasi pengeluaran komplemen dan kinin, selain itu juga
sebagai kemoatraktan kuat untuk limfosit dan neutrofil, serta mengaktifasi sel mast untuk
pelepasan antihistamin, leukotrien, prostaglandin lain, dan platelet activating factor sehingga
1 Sularsito SA, Soebaryo RW. Dermatitis Kontak. In: Menaldi SLSW, Bramono K, Indriatmi W, editors. Ilmu Penyakit Kulit dan
Kelamin, 7th ed. Badan Penerbit FKUI.Jakarta: 2015.p.157-61

terjadi perubahan vaskular. Diasilgliserida dan second messengers lain menstimulasi ekspresi
gen dan sintesis protein yang mengakibatkan stimulasi autokrin dan proliferasi sel tersebut.
Pada dermatitis kontak iritan, keratinosit juga melepaskan TNF- yang mengaktifasi sel T,
makrofag, dan granulosit, menginduksi ekspresi molekul adesi sel dan pelepasan sitokin.
Rentetan kejadian tersebut mengakibatkan peradangan klasik pada tempat kontak dengan
kelainan berupa eritema, edema, panas, nyeri, bila iritan kuat. Bahan iritan lemah
mengkibatkan kelainan setelah kontak berulang, yang dimulai dengan kerusakan stratum
korneum karena delipidasi yang menyebabkan desikasi sehingga kulit kehilangan fungsi
sawarnya yang akan mempermudah kerusakan sel di lapisan kulit lebih dalam. 1
Gejala klinis yang timbul tergantung iritannya, iritan kuat memberi gejala akut sedangkan
iritan lemah memberi gejala kronis, selain itu faktor individu dan lingkungan juga
mempengaruhi. Berdasarkan penyebab dan pengaruh faktor tersebut, dermatitis kontak iritan
diklasifikasikan menjadi dermatitis akut, dermatitis akut lambat, dermatitis kronis kumulatif,
reaksi iritan, dermatitis kontak traumatik, dermatitis kontak iritan non eritematosa, dan
dermatitis kontak iritan subjektif.
II.

KASUS
Seorang perempuan berusia 39 tahun, bekerja sebagai pemilik toko, datang ke Poliklinik
Kulit dan Kelamin RSUD Kardinah dengan keluhan bercak merah dan bersisik yang terasa
gatal pada wajah sejak 26 tahun yang lalu.
ANAMNESIS
(Autoanamnesis dilakukan pada hari Jumat, 19 Februari 2016 pukul 11.45 WIB di Poliklinik
Kulit dan Kelamin RSUD Kardinah).
Pasien datang dengan keluhan bercak merah dan bersisik yang terasa gatal pada wajah sejak
26 tahun yang lalu. Awalnya keluhan muncul semenjak pasien di sekolah menengah pertama
yaitu sejak pasien menstruasi, awalnya keluhan berupa ketombe yang banyak pada kepala
dan alis yang diikuti dengan bercak merah disertai sisik seperti ketombe pada pelipis kanan
dan kiri, kedua alis, dan leher yang terasa gatal. Selain itu, pasien merasa kulit yang kering,
kasar, kemerahan, dan terasa tebal pada kedua sudut bibir, kedua lipat hidung, dan daerah
kedua belakang telinga. Bercak-bercak merah yang bersisik tersebut hanya muncul di wajah,
leher, dan kepala namun tidak muncul bagian-bagian tubuh lain seperti badan, ekstremitas
dan daerah lipatan kulit lainnya. Pasien sudah memeriksakan keluhan kulitnya ke beberapa

dokter, awalnya dengan salep hidrokortison, pasien merasa kulitnya membaik seperti gatal
yang berkurang dan bercak merah bersisik yang membaik, namun akan muncul kembali jika
pasien tidak menggunakan salep tersebut. Pasien sering menggunakan copy resep untuk
mendapatan obat tersebut, hingga selanjutnya keluhan kulit pasien tidak ada perbaikan
meskipun menggunakan salep tersebut. Sejak pada sekolah menengah pertama, pasien
mengaku menggunakan bedak Marcks dan dirasa membuat bercak dan sisik tidak membaik.
Sebelum berobat ke Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD Kardinah, pasien menggunakan
pelembab yang dibeli di supermarket dan bedak Marcks yang dirasa juga tidak memperbaiki
keluhan kulit pasien. Untuk mengatasi ketombe pada kepala pasien, pasien menggunakan
sampo Selsun seminggu sekali dan pada hari lainnya menggunakan sampo Dove atau lainnya
yang diperuntukkan rambut berketombe. Pasien merasa kulitnya sangat sensitif sebab jika
menggunakan kalung dan anting maka akan menyebabkan munculnya bercak-bercak merah
dan rasa gatal pada kulit sekitarnya. Pasien mengaku, keluhan bercak merah bersisik dan rasa
gatal akan memberat jika pasien sedang lelah dan stress sehingga pada saat itu kedua sudut
bibir bisa menjadi kering, pecah-pecah hingga berdarah. Pasien merupakan 9 bersaudara, 5
diantaranya memiliki keluhan seperti ini dan hanya pasien dan satu orang kakaknya yang
memiliki keluhan paling berat. Ayah pasien memiliki keluhan ketombe yang banyak.
PEMERIKSAAN FISIK
1. STATUS GENERALIS
Keadaan umum
: Baik, tampak sakit ringan
Kesadaran
: Composmentis
Tanda Vital
Tekanan darah
: 120/80 mmHg
Nadi
: 84x/menit
Suhu
: Afebris
Pernapasan
: 18x/menit
Berat badan
: 72 kg
Tinggi badan
: 161 cm
Status gizi
: Berlebih
Kepala
Mata
Hidung
Mulut
Telinga
Leher

: Normosefali, rambut hitam distribusi merata, ketombe (+)


: Konjungtiva pucat (-/-), sklera ikterik (-/-), dan tidak tampak kelainan
lainnya
: Deformitas (-), sekret (-/-), kelainan kulit ada pada status dermatologikus
: Kelainan kulit ada pada status dermatologikus
: Kelainan kulit ada pada status dermatologikus
: Kelainan kulit ada pada status dermatologikus

Toraks
Abdomen
Ekstremitas
Superior
Inferior

: Tidak tampak kelainan


: Tidak tampak kelainan
: Tidak tampak kelainan
: Tidak tampak kelainan

2. STATUS DERMATOLOGIKUS
Status Dermatologikus 1
Distribusi
: Regional
Ad Regio
: Kepala
Lesi
: Multipel, kering
Efloresensi : Skuama

Gambar 1. Kepala
Status Dermatologikus 2
Distribusi
: Regional
Ad Regio
: Wajah, kedua sudut bibir, kedua lipat hidung, pelipis, daerah depan dan
Lesi
Efloresensi

belakang telinga
: Multipel, bentuk tidak teratur, batas tidak jelas
: Makula eritema, skuama

Gambar 2. Wajah dan pembesaran daerah sekitar bibir serta hidung

Gambar 3. Telinga kiri dan kanan


RESUME

Seorang perempuan berusia 39 tahun, bekerja sebagai pemilik toko, datang ke Poliklinik
Kulit dan Kelamin RSUD Kardinah dengan keluhan bercak merah dan bersisik yang terasa
gatal pada wajah sejak 26 tahun yang lalu.
Dari anamnesis, didapatkan bahwa Awalnya keluhan muncul semenjak pasien di sekolah
menengah pertama yaitu sejak pasien menstruasi, awalnya keluhan berupa ketombe yang
banyak pada kepala dan alis yang diikuti dengan bercak merah disertai sisik seperti ketombe
pada pelipis kanan dan kiri, kedua alis, dan leher yang terasa gatal. Selain itu, pasien merasa
kulit yang kering, kasar, kemerahan, dan terasa tebal pada kedua sudut bibir, kedua lipat
hidung, dan daerah kedua belakang telinga. Bercak-bercak merah yang bersisik tersebut
hanya muncul di wajah, leher, dan kepala namun tidak muncul bagian-bagian tubuh lain
seperti badan, ekstremitas dan daerah lipatan kulit lainnya. Sejak pada sekolah menengah
pertama, pasien mengaku menggunakan bedak Marcks dan dirasa membuat bercak dan sisik
tidak membaik. Sebelum berobat ke Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD Kardinah, pasien
menggunakan pelembab yang dibeli di supermarket dan bedak Marcks yang dirasa juga tidak
memperbaiki keluhan kulit pasien. Untuk mengatasi ketombe pada kepala pasien, pasien
menggunakan sampo Selsun seminggu sekali dan pada hari lainnya menggunakan sampo
Dove atau lainnya yang diperuntukkan rambut berketombe. Pasien mengaku, keluhan bercak
merah bersisik dan rasa gatal akan memberat jika pasien sedang lelah dan stress, sehingga
pada saat itu kedua sudut bibir bisa menjadi kering, pecah-pecah hingga berdarah. Pasien
merupakan 9 bersaudara, 5 diantaranya memiliki keluhan seperti ini dan hanya pasien dan
satu orang kakaknya yang memiliki keluhan paling berat. Ayah pasien memiliki keluhan
ketombe yang banyak.
Pada pemeriksaan fisik, status generalis dalam batas normal. Sedangkan pada status
dermatologikus didapatkan ad regio kepala , tampak lesi multipel, kering dengan efloresensi
skuama. Dan pada ad regio wajah, kedua sudut bibir, kedua lipat hidung, pelipis, daerah
depan dan belakang telinga, tampak Lesi yang multipel, bentuk tidak teratur, batas tidak jelas
dengan efloresensi makula eritema dan skuama.

DIAGNOSIS BANDING

Dermatitis Kontak Iritan


Dermatitis Seboroik
Dermatitis Kontak Alergen
Dermatitis Perioral

DIAGNOSIS KERJA
Dermatitis Kontak Iritan dan Dermatitis Seboroik
USULAN PEMERIKSAAN
Uji tempel terhadap bahan yang dicurigai
PENATALAKSANAAN
1. UMUM
Menjelaskan pasien mengenai penyakitnya
Mengedukasi pasien untuk tidak menggunakan sabun, bedak, pelembab atau

bahan iritan lain yang dicurigai sebagai penyebab keluhan pasien


Mengedukasi pasien untuk tidak menggaruk daerah yang gatal
Menjelaskan pasien tentang cara penggunaan obat yang diberikan
Memotivasi pasien untuk berobat secara rutin

2. KHUSUS
Anti inflamasi : Sistemik (metilprednisolone) dan topikal (krim campuran

decubal dan betametasone)


Anti histamin : Cetirizine
Anti ketombe : tetap dilanjutkan menggunaan sampo yang mengandung
Selenium sulfide 1%

PROGNOSIS
Quo ad vitam
Quo ad fungtionam
Quo ad sanationam
Quo ad cosmeticum
III.

: ad bonam
: ad bonam
: dubia ad malam
: ad bonam

PEMBAHASAN
Berdasarkan penyebab dan pengaruh faktor tersebut, dermatitis kontak iritan
diklasifikasikan menjadi dermatitis akut, dermatitis akut lambat, dermatitis kronis kumulatif,
reaksi iritan, dermatitis kontak traumatik, dermatitis kontak iritan non eritematosa, dan
dermatitis kontak iritan subjektif. Dermatitis kontak iritan akut disebabkan oleh iritan kuat,
yang biasanya terjadi karena kecelakaan di tempat kerja dan reaksi segera timbul. Intensitas
reaksi sebanding dengan konsentrasi dan lama kontak, serta reaksi terbatas hanya pada

tempat kontak. Kulit terasa pedih, panas, rasa terbakar dengan kelainan berupa eritema
edema, bula, dan nekrosis, tepi kelainan berbatas tegas, dan umumnya asimetris. Dermatitis
kontak iritan akut lambat memiliki gambaran dan gejala klinis yang sama dengan dermatitis
kontak akut namun baru terjadi 8-24 jam setelah kontak. Dermatitis kontak iritan kronik
kumulatif disebabkan kontak berulang dengan iritan lemah, dapat tunggal namun juga
gabungan faktor lain yang kelainan baru muncul beberapa minggu atau bulan atau bertahun
kemudian. Gejala yang muncul berupa kulit kering disertai eritema, skuama, yang lambat
laun menjadi hiperkeratosis dengan likenifikasi yang difus, lama laun terjadi fisura. Keluhan
pasien umumnya gatal atau nyeri karena fisura, dan berhubungan dengan pekerjaan. Reaksi
iritan merupakan dermatitis kontak iritan subklinis pada seseorang yang terpajan dengan
pekerjaan basah dalam beberapa bulan pertama. Kelainan kulit bersifat monomorf dapat
berupa skuama, eritema, vesikel, pustul, dan erosi. Umumnya dapat sembuh sendiri dan
menimbulkan penebalan kulit dan menjadi dermatitis kontak iritan kumulatif. Dermatitis
kontak iritan traumatik, kelaianan kulit menyerupai dermatitis numularis setelah trauma
panas atau laserasi dengan penyembuhan lambat paling cepat 6 minggu. Dermatitis kontak
iritan non eritematosa ditandai dengan perubahan fungsi sawar tanpa disertai kelainan klinis.
Dermatitis kontak iritan subjektif dengan nama lain dermatitis kontak iritan sensori sebab
kelainan kulit tidak terlihat namun pasien merasa pedih atau terbakar (panas) setelah
berkontak dengan bahan kimia tertentu. 1
Sedangkan pada dermatitis kontak alergika, pasien umumnya mengeluh gatal dengan
kelainan kulit tergantung keparahan dan lokasi dermatitisnya. Pada stadium akut dimulai
dengan bercak eritematosa berbatas tegas kemudian diikuti edema, papulovesikel, vesikel
atau bula yang jika pecah menyebabkan erosi dan eksudasi. Dermatitis kontak alergen akut
pada kelopak mata, penis, skrotum lebih didominasi oleh eritema dan edema. Sedangkan
pada keadaan kronis, tampak kulit kering, berskuama, papul, dan likenifikasi dan mungkin
fisura dengan batas tidak tegas. Dermatitis kontak alergen dapat meluas ke daerah lain
dengan cara autosensitisasi, namun scalp, telapak tangan dan kaki relatif resisten terhadap
dermatitis kontak alergen.1,2

2 Hanifati S, Menaldi SL. Dermatitis. In: Tanto C, Liwang F, Hanifati S, Pradipta EA, editors. Kapita Selekta Kedokteran, 4 th ed.
Media Aesculapius: Jakarta: 2014.p.330-4

Dermatitis perioral (POD) adalah peradangan pada kulit yang mengenai daerahperioral
dan lipatan nasolabialis (sekitar hidung). Dari wajah dengan bentuk efloresensi berupa papulpapul eritomatosa yang mengalami pustulasi, erupsi yangkronik berbatas tegas, dan dapat
berupa squama yang eksematosa pada wajah. Timbulnya dermatitis perioral dapat dipicu oleh
beberapa faktor antara lainalergi mengeluh perih apabila terkena panas, sinar matahari,
parfum, angin,kosmetik dan sabun. Penyakit ini dapat berkembang menjadi kronis, namun
umumnya dapat sembuh sendiri. Banyak pasien penyalahgunaan steroid topikal. Tidak ada
korelasi yang jelas antara risiko perioral dermatitis dan kekuatan steroid atau lamanya
penggunaan. Selain obat, Fluorine pasta gigi,krim dan salep perawatan kulit, terutama yang
memiliki bahan dasar petrolatum atau parafin, dan isopropil myristate dicurigai menjadi
faktor penyebab. Faktor fisik: sinar UV, panas dapat memperburuk dermatitis. Faktor
Mikrobiologic: spirilla Fusiformis bakteri. Kandidiasis di duga memicu perioral dermatitis.
Faktor hormonal dicurigai karena kerusakan pramenstruasi yang diamati.Gejala dari
dermatitis perioral berupa timbulnya erupsi berbatas tegas yangpersisten dan eritematosa
yang ukurannya 1-2 mm berbentuk papul dan pustuladidaerah perioral, lipatan nasolabial,
dan daerah periorbital umumnya terdistribusi dan diawali pada daerah dagu atau pada bibir
atas dan menyebar disekitar mulut,membentuk daerah kecil berbatas kemerahan dan diantara
batas bibir dengan ruam kulit biasanya dipisahkan oleh daerah kulit yang masih normal,
akhirnya dapat menyebar di alis, glabella atau keduanya sekaligus, penderita mengeluh gatal
dan rasa seolah terbakar. Gejala-gejala ini dapat berlangsung beberapa hari sampai beberapa
minggudan bisa saja tiba-tiba sembuh, hal ini bisa terjadi selama beberapa bulan dan bahkan
bertahun-tahun. Karena tidak ada obat yang bisa menyembuhkan dalam waktu yang singkat
maka banyak wanita berusaha untuk menutupi ruam merah dengan memakai krim, padahal
saat ini banyak krim yang mengandung bahan kimia sintetik yang justru akan memperparah
ruam.3
Upaya pengobatan yang terpenting adalah menghindari pajanan bahan iritan yang
menjadi penyebab, baik yang bersifat mekanik, fisis, maupun kimiawi, serta menyingkirkan
faktor yang memperberat. Bila dilaksanakan dengan baik, maka akan sembuh tanpa
pengobatan topikal, mungkin cukup hanya dengan pelembab. Untuk mengatasi peradangan
3 Suseno A. Dermatitis Periorbita. Available at: https://www.scribd.com/doc/51646651/Refrat-Agus-Dermatitis-Perioral.
Acceses at 2016 Februari 26.

dapat diberikan kortikosteroid topikal atau untuk kelainan kronis diawali dengan
kortikosteroid potensi kuat.1
Prognosis pada dermatitis kronis iritan kronis cenderung kuran baik sebab penyebabnya
ultifaktor. Mengigat pasien ini telah merasakan keluhan sejak tahun 1987.