Anda di halaman 1dari 5

Penurunan Fungsi Sistem Respirasi Pada Lansia

Disusun sebagai salah satu tugas Keperawatan Komunitas II


Dosen Pengampu : Ns. Suryani, S.Kep, M.Kes

Kelompok II :
1.
2.
3.
4.
5.

Bangkit Fandana
Yeremia
Betira Sub
Nelci S Entong
Samuel S Kawari

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI KESEHATAN JAYAPURA
2015
PERUBAHAN AKIBAT PROSES MENUA
1. Pengertian Menua

Menua atau menjadi tua adalah suatu keadaan yang terjadi di dalam
kehidupan manusia. Proses menua merupakan proses sepanjang hidup, tidak
hanya dimulai dari suatu waktu tertentu, tetapi dimulai sejak permulaan
kehidupan. Menjadi tua merupakan proses alamiah, yang berarti seseorang telah
melalui tiga tahap kehidupannya, yaitu anak, dewasa, dan tua. Tiga tahap ini
berbeda, baik secara biologis maupun psikologis. Memasuki usia tua berarti
mengalami kemunduran, misalnya kemunduran fisik yang ditandai dengan kulit
mengendur, rambut memutih, gigi mulai ompong, pendengaran kurang jelas,
penglihatan semakin memburuk, gerakan lambat, dan figure tubuh yang tidak
proposional.
WHO dan Undang-undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang kesejahteraan
lanjut usia pada Bab 1 Pasal 1 Ayat 2 menyebutkan bahwa umur 60 tahun adalah
usia permulaan tua. Menua bukanlah suatu penyakit, tetapi merupakan proses
yang berangsur-angsur mengakibatkan perubahan yang kumulatif, merupakan
proses menurunya daya tahan tubuh dalam menghadapi rangsangan dari dalam
dan luar tubuh yang berakhir dengan kematian.
Dalam Buku Ajar Geriatri, Prof. Dr. R. Boedhi Darmojo dan Dr. H. Hadi
Martono (1994) mengatakan bahwa menua (menjadi tua) adalah suatu proses
menghilangnya secara perlahan kemampuan jaringan untuk memperbaikki
diri/mengganti diri danmempertahankan struktur dan fungsi normalnya sehingga
tidak dapat bertahan terhadap jejas (termasuk infeksi) dan memperbaiki
kerusakan yang diderita. Dari pernyataan tersebut, dapat disimpulkan bahwa
manusia secara perlahan mengalami kemunduran struktur dan fungsi organ.
Kondisi ini dapat memengaruhi kemandirian dan kesehatan lanjut usia, termasuk
kehidupan seksualnya.
2. Perubahan Fisik Dan Fungsi
a. Sel
1) Jumlah sel menurun / lebih sedikit
2) Ukuran sel lebih besar
3) Jumlah cairan tubuh dan cairan intraseluler berkurang
4) Proporsi protein di otak, otot, ginjal, darah, dan hati mennurun
5) Jumlah sel otak menurun
6) Mekanisme perbaikan sel tertanggu
7) Otot menjadi atrofi, beratnya berkurang 5-10 %
8) Lekukan otak akan menjadi lebih dangkal dan melebar.
b. System Pernafasan
1) Otot pernafasan mengalami kelemahan akibat atrofi, kehilangan kekuatan,
dan menjadi kaku.
2) Aktifitas silia menurun.

3) Paru kehilangan elastisitas, kapasitas residu meningkat, menarik nafas lebih


berat, kapasitas pernafasan maksimum menurun dengan kedalaman
bernafas menurun.
4) Ukuran alveoli melebar (melebar secara progresif) dan jumlah berkurang.
5) Berkurangnya elastisitas bronkus.
6) Oksigen pada arteri menurun menjadi 75 mmHg.
7) Karbon dioksida pada arteri tidak berganti. Pertukaran gas terganggu.
8) Refles dan kemampuan untuk batuk berkurang.
9) Sensitivitas terhadap hipoksia dan hiperkabia menurun.
10)Sering terjadi emsifema senilis.
11) Kemampuan pegas dinding dada dan kekuatan otot pernafasan menurun
seiring pertambahan usia.
c. Masalah Kesehatan Pada Sistem Pernafasan
1) Penyakit Paru Obstruksi Menahun (PPOM)
PPOM atau COPD (Chronic Obstructive

Pulmonary

Disease)

dikarakteristikkan dengan obstruksi jalan nafas dan penurunan aliran nafas


(Weilitz, 1991), terdiri dari emsifema, bronkritis kronis dan bronkietasis.
Asma juga termasuk PPOM, terutama sebagai komponen hiperaktifitas jalan
nafas (Dettenmeier, 1992). PPOM merupakan penyakit dengan karakteristik
adanya obstruksi jalan nafas dan menurunnya frekuensi nafas, terdiri dari
asma, bronchitis kronis dan emfisema.
Factor resiko PPOM adalah usia 65-84 tahun, jenis kelamin laki-laki,
dengan penurunan fungsi paru, polusi udara, perokok pasif, riwayat alergi,
nutrisi buruk, alcoholic.
Tanda dan gejala meliputi riwayat dispnu progresif, batuk, mengi, dan
produksi sputum biasanya pagi hari (Listello, Glauser, 1992). Beberapa
gejala yang dapat diidentifikasi pada penderita PPOM yaitu sesaknafas,
batuk disertai sputum, terjadi penurunan berat badan serta kelelahan
(fatique).
2) Tuberculosis
Tuberculosis

(TB)

merupakan

penyakit

menular

kronik

yang

disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Gejala dan tanda


yang dapat diidentifikasi adalah batuk lebih dari 3 minnggu, batuk produktif
ataupun kering, penurunann berat badan dan keringat malam hari.
Penularannya melalui inhalasi droplet di udara dari batuk atau bersinnya
orang yang terinfeksi. (Kovach, Shore, 1991).
TB terbagi dua yaitu primer dan aktif, dimana TB primer dimulai dari
inhalasi droplet yang terinfeksi dan berkumpul di lobus paru atas sebagian
tempat ventilasi terbesar, karena kuman ini merupakn kuman aerob. System

imun tubuh akan memberikan respon untuk melokalisir peradangan dengan


cara membuat dinding disekitar bakteri.
Sedangkann TB aktif menimbulkan gejala inflamasi jalan nafas yang
berkembang menjadi lesi dan nikrosis jaringan (Kovach, Shore, 1991).
Kuman TB mempunyai kemampuan untuk tidak aktif (dormant) didalam
tubuh penderita bertahun-tahun. Pada lansia yang menderita TB, mungkin
kuman itu sudah dormant sejak lama, dan menjadi reaktif saat terjadi
perubahn system imun pada lansia. Prognosis lansia dengan tuberculosis
akan baik jika obat diminum secara teratur dan asupan nutrisi baik.
3) Influenza
Influenza adalah penyakit yang diakibatkan oleh virus Haemovilus
Influenza dan menimbulkan gejala bersin-bersin, batuk, pilek, demam,
menggigil, anoreksia dan malaise. Klien lansia yang sering tidur telentang
mudah terkena influenza karena telah terjadi penurunan kemampuan
mengeluarkan secret dan perlindungan jalan nafas. Prognosis influenza
cukup jelek karena 80-90 % lansia di Amerika meninggal karena penyakit
ini. (Ward, 1992)
4) Pneumonia
Pneumonia merupakan inflamasi parenkim paru, biasanya alveoli
dipenuhi cairan (Kersten, 1989). Dapat disebabkan oleh virus, bakteri atau
aspirasi. Dirawat apabila TTV tidak stabil, leucopenia, hipoksemia dan PaO2
< 60 mmHg (Brown, 1993; Glevkman, 1992). Diagnose Pneumonia didasari
adanya

riwayat

influenza,

dengan

hasil

laboratorium

menunjukan

penurunan jumlah leukosit, dan kultur darah menunjukkan adanya bakteri


gram. Komplikasi yang dapat terjadi adalah efusi pleura. Penderita
pneumonia mempunyai prognosis jelek akibat penurunan fungsi imunitas,
penyakit kronik dan penurunan reflex batuk.

DAFTAR ISI
Fatimah. (2010). Merawat Manusia Lanjut Usia Suatu Pendekatan Proses
Keperawatan Gerontik. Jakarta : CV.Trans Info Media
Nugroho Wahjudi. (2008). Keperawatan Gerontik & Geriatrik, Ed. 3. Jakarta :
Penerbit EGC.
Stanley Mickey. (2007). Buku Ajar Keperawatan Gerontik, Ed. 2. Jakarta : Penerbit
EGC