Anda di halaman 1dari 21

PENDIDIKAN ISLAM DI INDIA

(SUB KONTINENTAL 2 MODEL PENDIDIKAN ISLAM & BARAT,


STUDY KELEMBAGAAN, SISTEM PENGELOLAAN &
MUATAN KURIKULUM)
oleh : Alfiatu Solikah

A. Pendahuluan
Sebelum

tahun

1813

perhatian

penjajah

Inggris

terhadap

pendidikan sangat kecil, karena tujuan kedatangan mereka ke India


memang untuk berdagang dan mencari keuntungan sebesar mungkin.
Sampai dengan tahun tersebut kompeni dagang Inggris hanya berhasil
membangun dua buah sekolah, masing-masing untuk masyarakat
Muslim dan Hindu.
Madrasah Aliyah di Calcuta (1781) dibangun dengan dukungan
dari kompeni. Madrasah ini dibangun untuk menghasilkan lulusanlulusan untuk bekerja sebagai hakim di pengadilan. 1[1] Pada tahun
yang

sama,

kompeni

tersebut

membangun

sekolah

berbahasa

Sansekerta untuk masyarakat Hindu.2[2]


Salah satu alasan mengapa Inggris ambivalen dalam kebijakan
pendidikannya
masyarakat

karena

mereka

pribumi

itu

kesadarannya

akan

hak

keberlanjutan

penjajahan

takut

bahwa

dikhawatirkan
mereka
Inggris

pendidikan

akan

sehingga
di

untuk

memunculkan
membahayakan

kawasan

tersebut.3[3]

Kekhawatiran ini menghantui Inggris yang akan mengeksploitasi


penduduk India dan membiarkan mereka dalam ketidaktahuan akan
kondisi

mereka

yang

sebenarnya

dalam

kondisi

yang

sangat

1[1] Imam Zafar, Muslim in India, (New Delhi : Orient Longman, 1975), 204.
2[2] Mohammad Akhlaq Ahmad, Tradisional Among Muslim, (New Delhi : B.R.
Publishing Corporation, 1985), 146.
3[3] Ibid., 145

memprihatinkan. Kekhawatiran ini ada benarnya karena ada bukti


bahwa yang mempelopori kemerdekaan India adalah dari kaum
terdidik.
Kebijakan tidak campur tangan ini berubah pada tahun 1813
ketika

pemerintah

mengeluarkan

menyebutkan bahwa

sebuah

undang-undang

yang

...sejumlah uang tidak kurang dari satu lak

Rupee setiap tahunnya harus dialokasikan dan diaplikasikan untuk


membangkitkan dan meningkatkan kemampuan baca tulis, mendorong
orang-orang

India

asli

yang

berpendidikan

dan

mengenal

dan

mempromosikan ilmu pengetahuan kepada penduduk di wilayah


pendudukan Inggris di India.4[4]
Ketika undang-undang itu dijalankan ternyata mengecewakan
umat Islam karena ternyata dana tersebut hanya digunakan untuk
peningkatan pembelajaran bahasa Sansekerta sebagaimana diatur
oleh Dewan Direktur.5[5]
Kebijakan

semacam

ini

menunjukkan

ketidak

seriusan

pemerintah dalam mengaplikasikan undang-undang tersebut, karena


ada kecenderungan untuk menganak emaskan mereka yang beragama
Hindu. Pada tanggal 7 Maret 1835,Gubernur Jendral Lord Bentinck
mengeluarkan peraturan yang lain yang semakin menyengsarakan
orang-orang Islam. Peraturan yang baru ini bahkan bertentangan
dengan semangat undang-undang sebelumnya. Ia berbunyi : ...semua
dana yang disediakan untuk keperluan pendidikan akan dialokasikan
untuk keperluan pendidikan berbahasa Inggris saja.6[6]

4[4] D. Bhatt and J.C. Aggarwal, Educational Documents in India (1813-1968),


(New Delhi : Arya Book Depot, 1969), 1.
5[5] Syed Masroor Ali Akhtar Hashmi, Muslim Response to Western Education
(A Study of Four Pionerr Institutions), (New Delhi : Commonwelt Publishers,
1989), 3.

Peraturan ini dan kebijakan yang lain menjadi bukti adanya


upaya pemerintah untuk merugikan rakyat pribumi khususnya mereka
yang beragama Islam. Orang-orang India bukannya diberi kesempatan
untuk mengembangkan pendidikan dan kebudayaan mereka, tetapi
justru harus

menyesuaikan pada kebudayaan yang asing buat

mereka.7[7] Demikian juga kata Chaube :


Tidak ada ruang sedikitpun untuk mengembangkan jiwa mandiri dalam
sistem pendidikan ini. Sebagian besar penguasa Inggris berpikiran
bahwa
pendidikan
yang
menanamkan
kemandirian
akan
menumbuhkan keinginan untuk merdeka dan bebas pada orang-orang
India dan mereka sangat terbius dengan pemikiran semacam ini.
Tujuannya adalah membuat orang India tetap berada dalam
genggaman mereka, untuk menghancurkan kebesarannya dan
merampas kekayaannya sendiri kepada negara-negara lain.8[8]
Pengaruh kolonialisme Inggris terhadap pembaharuan pendidikan Muslim di India
memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pembaharuan pendidikan islam di India,
sehingga memunculkan gerakan Aligarh (1877-1898) di India. Aligarh merupakan nama
kota di India utara, tetapi kemudian menjadi sebutan bagi gerakan pembaharuan yang
dipelopori oleh Sayid Ahmad Khan di kota tersebut. Ahmad Khan lahir pada tahun 1817
di Delhi. Menurut salah satu riwayat, Ia berasal dari keturunan Husain, cucu nabi
Muhamad SAW, dari jalur Fatimah dan Ali. Ahmad Khan adalah cucu sayyid Hadi salah
seorang pembesar Istana pada zaman Alamghir II (1754-1759).9[9]
Ia mendapatkan pendidikan dan pengajaran termasuk membaca Al Quran di rumahnya
sendiri. Ia adalah tokoh pendidikan yang besar di India, pendiri Universitas Islam di India
(Aligarch College, 1875). Pada tahun 1889 mendapat gelar doktor honoris causa dalam
ilmu hukum dari Universitas Edenburgh, dan meninggal dunia pada tahun 1899. Cita6[6] Bhatt and Anggarwal, Educational Development, 4 ; B.D. Basu, History of
Education in India under the Rule of the East India Company, (Calucutta : The
Modern Review Office, TT), 122.
7[7] Basu : History of Education, 98.
8[8] S.P. Chaube, A History of Education in India, (Allahabad : Ram Narain Lal
Beni Madho, 1965), 624.
9[9] Drs. Ahmad Syaukani M.A, Perkembangan Pemikiran Moderen di India, Pustaka
Setia Bandung, Bandung: 1997 h. 70

citanya adalah mewujudkan masyarakat Islam yang modern dengan mengambil Turki
sebagai contoh. Semboyannya adalah tolonglah dirimu sendiri, hanya dengan demikian
engkau dapat maju.10[10]
Salah satu hal yang perlu dikemukakan bahwa penjajah Inggris
lebih

mengutamakan

kepentingan

kepentingan penduduk asli

penjajah

sendiri

daripada

dan tidak memberikan peluang kepada

mereka kecuali harus menyesuaikan diri terhadap norma-norma kaum


penjajah.
Ahmad Khan mengajak kaumnya untuk membekali diri dengan
sesuatu yang diperlukan untuk menghadapi tuntutan jaman yang
sudah berbeda dengan jaman sebelumnya. Salah jalan yang paling
efektif adalah dengan pembangunan lembaga pendidikan

yang

mampu membekali anak didiknya dengan nilai-nilai moral sesuai


dengan ajaran Islam sekaligus membekali anak didiknya dengan
pengetahuan dan ketrampilan yang diperlukan untuk peningkatan
kesejahteraan. Dalam rangka itu maka reformasi pendidikan Muslim
dipandang

sebagai

suatu

keharusan.

Gerakan

Aligarh

yang

termanifestasikan dalam bentuk lembaga pendidikan memiliki Peran


yang dapat dilihat dari munculnya lembaga pendidikan baru yang
mengadopsi

ilmu-ilmu

pengetahuan

umum,

meskipun

dalam

pelaksanaan pendidikannya tidak sepenuhnya mengikuti pola yang


dikembangkan Aligarh.
Ahmad Khan adalah seorang yang banyak belajar tentang
berbagai cabang ilmu pengetahuan tradisional yang menjadi bekal
yang sangat penting dalam memformulasikan pemikiran dan programprogram pembaharuan pendidikannya. Keterlibatan Ahmad Khan
dalam pemerintahan kolonial, dari sudut pandang pemerintahan
Inggris, merupakan bukti bahwa ia adalah orang yang bisa dipercaya.
10[10] Dyah Kumalasari, Pengantar Sejarah Pendidikan, (Yogyakarta : FISE
UNY, 2008), 21-23.

Bagi Ahmad Khan sendiri kehadiran pemerintahan Inggris merupakan


sesuatu hal yang tidak bisa dihindarkan, oleh karena itu ia (dan kaum
Muslim India) harus mengambil manfaat.
Dalam rangka mendekatkan Muslim dengan pemerintah, Ahmad Khan
menerapkan dua pendekatan yang berbeda terhadap dua kelompok
itu. Kepada Muslim India ia mengatakan bahwa sikap mereka terhadap
ilmu pengetahuan Barat telah membawa mereka ke keterbelakangan.
Ia berarguentasi bahwa kecurigaan Muslimin kepada ilmu pengetahuan
Barat merupakan satu kesalahan karena pendahulu mereka juga telah
mempelajari ilmu-ilmu yang mereka butuhkan tanpa harus
mempertanyakan siapa yang membawa ilmu itu. Ahmad Khan
berpendapat bahwa konservatisme yang mempengaruhi pola hidup
mereka. Sebaliknya kepada pemerintah Inggris Ahad Khan meyakinkan
bahwa pemberontakan itu tidak direncanakan oleh orang-orang
Muslim, tetapi merupakan pemberontakan yang sporadis dan tidak
terkoordinasi yang dilakukan oleh masyarakat India yang kecewa
terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah.11[11]
Sayyid ahmad berpendapat bahwa meningkatkan kedudukan umat Islam India,
hanya dapat diwujudkan melalui kerja sama dengan Inggris. Sebab saat itu, Inggris
merupakan penguasa yang menjajah India dan masih mempunyai kekuasaan yang kuat.
Menentang kekuasaannya tidak akan membawa kebaikan bagi umat Islam India, bahkan
akan membuat mereka tetap mundur dan akhirnya akan jauh ketinggalan dari masyarakat
Hindu India.
B. Pertemuan 2 Model Pendidikan Islam & Barat
Jalan bagi ummat Islam India untuk melepaskan diri dari kemunduran dan
selanjutnya mencapai kemajuan, ialah memperoleh ilmu pengetahuan dan teknologi
modern Barat. Agar usaha ini dapat dicapai sikap mental ummat yang kurang percaya
kepada kekuatan akal, kurang percaya pada kebebasan manusia dan kurang percaya pada
adanya hukum alam, harus dirubah terlebih dahulu. Perubahan sikap mental itu ia
usahakan melalui tulisan-tulisan dalam bentuk buku dan artikel-artikel dalam bentuk
majalah Tahzib Al Akhlaq.

11[11] Altaf Husain Hali, Hayat-I-Javed, translated by KH Qadiri and David J.


Mathew, (Delhi : Idarah-i Adabiyat-i Delli, 1979), 61-62.

Bagi Ahmad Khan, pendidikan adalah instrumen yang dengannya


umat Islam dapat merealisasikan potensinya dan mencapai kemajuan.
Ahmad Khan sangat bangga dengan pendidikan para pendahulunya
dan mengakui pendidikan yang demikian telah menghasilkan orangorang besar sepanjang sejarahnya. Akan tetapi Ahmad Khan juga
mengakui bahwa jaman telah berubah ; karena itu ia berpendapat
meniru model pendidikan para pendahulunya tidak akan membuahkan
hasil yang diiginkan, motode-metode baru yang sesuai dengan jaman
harus digali. Ahmad berpendapat bahwa pendidikan

sangat penting

dalam pembentukan kepribadian.


Selain dasar ketinggian dan kekuasaan Barat, termasuk yang dimiliki Inggris
adalah ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) modern. Bagi umat Islam, untuk dapat
maju, juga dapat menguasai IPTEK seperti mereka. Jalan yang harus ditempuh umat
Islam untuk memperoleh IPTEK yang diperlukan itu bukan bekerja sama dengan Hindu
dalam menentang Inggris, tapi memperbaiki dan memperkuat hubungan baik dengan
mereka.
Scientific Society (Masyarakat ilmiah Aligarh), dan sepuluh tahun kemudian
menjadi Mahomedan Anglo Oriental College (MAOC). Kedua lembaga itu, dipimpin
oleh sayid Ahmad Khan (1817-1898), didirikan dengan tujuan agar Ilmu-ilmu Eropa
kontemporer dapat diakses oleh public yang memiliki hak istimewa khususnya kaum
Muslim. Pada tahun 1920, lembaga tersebut dikembangkan menjadi Universitas Muslim
Aligarh (UMA) yang otonom dan berhak menganugrahkan gelar kesarjanaan. Setelah
pemisahan India, dan terbentuknya Pakistan sebagai Negara-negara tersendiri bagi
Muslim Asia selatan, UMA masih tetap di India sebagai salah satu di antara kelompok
kecil universitas nasional.
Sesuai dengan pemikiran Ahmad Khan bahwa umat Islam harus
mempelajari ilmu-ilmu Barat maka MAOC memiliki 2 fakultas : Inggris
dan Timur. Di fakultas Inggris matakuliah diajarkan dengan bahasa
Inggris, sementara bahasa Arab dan Persi menjadi bahasa ke dua. Di
fakultas Timur, sastra dan sejarah diajarkan dengan bahasa Arab dan

Persia, sementara geografi, matematika, kesenian dan sains diajarkan


dengan bahasa Urdu. Di fakultas ini bahasa Inggris menjadi bahasa ke
dua. Pada tahun 1880, dari dua fakultas ini hanya fakultas Inggris yang
tetap hidup. Karena terlalu sedikit yang mendaftar di fakultas timur.
Ahmad Khan sendiri tidak antusias mempromosikan fakultas ini,
dengan alasan bahwa :
.........Fakultas ketimuran tidak akan membawa kebaikkan, tidak
akan membawa manfaat untuk masyarakat.......Cuma akan membuang
waktu

bagi

mereka

yang

dengan

perangkapnya.12[12]
Ahmad Khan menggunakan

malangnya

pendekatan

masuk

pada

Self-Corrective

terhadap Muslim. Menurutnya kaum tradisionalis yang terlalu menitik


beratkan

pada

mengakibatkan

aspek

spiritual

kemandekan

dalam

bahkan

kehidupan

kemunduran

sehari-hari

dunia

Islam,

sementara kelompok lain telah mengalami kemajuan di bidang


ekonomi. Ahmad Khan terobsesi

dengan kebesaran Barat, yang ia

saksikan ketika berhubungan dengan pemerintahan Inggris dan ketika


ia berkunjung ke Inggris. Ia berpendapat bahwa kemajuan material
merupakan prioritas, karena dengan cara itu kesejahteraan mereka
akan bisa sejajar dengan kaum kolonial.

12[12] M.S. Jain, The Aligarh Movement : Its Origin and Development 18581906, (Agra : Sir Ram Mehra, 1965), 42.

C. Study Kelembagaan
Keinginan Ahmad Khan untuk mengembangkan pendidikan
Muslim India pertama kali mendapatkan sambutan dengan berdirinya
the Scientific Society di Ghazipur pada tanggal 9 Januari 1864.
Lembaga ini melakukan penerjemahan karya-karya dalam bahasa
Inggris kedalam bahasa Urdu, agar isinya dapat dipahami oleh Muslim
India. Ahmad Khan berpandangan bahwa umat Islam harus menguasai
sejarah, filsafat alam dan ekonomi politik, karena tiga cabang ilmu itu
merupakan alat yang sangat penting untuk mencapai kemajuan.
Pada tanggal 1 April 1869, bersama dua anaknya Sayid Hamid
dan Sayid Mahmud, Ahmad Khan berangkat ke Inggris. Perjalanan itu
semakin menyuburkan minatnya pada sistem pendidikan di Inggris.
Disini pula Ahmad Khan mendapatkan kesempatan untuk lebih kenal
dengan peradaban Barat dan sekaligus untuk merenungkan kondisi
umat Islam di India. Dalam perjalanan di negeri penjajah itu pula
Ahmad

Khan

berkesempatan

untuk

mengunjungi

Universitas

Cambridge dan Oxford dan beberapa sekolah dasar seperti Eton dan
Harrow dimana ia dapat melihat secara langsung sistem pendidikan
Inggris yang akan menjadi model pendidikan di MAOC (Muhammadan
Anglo Oriental College) yang akan didirikannya kelak.
Setelah 7 bulan ia di Inggris, kembali ke India ide-idenya untuk
reformasi pendidikan mulai mengkristal. Untuk itu dibentuklah sebuah
panitia lomba penulisan karya ilmiah yang berisi tentang alasan
mengapa Muslim India menolak pendidikan pemerintah. Dari karya
ilmiah

yang

masuk

dapat

ditemukan

beberapa

alasan

yang

berhubungan dengan pemerintah dan Muslim. Pemerintah dianggap


bersalah karena telah menghilangkan pelajaran agama. Disamping itu
sekolah pemerintah juga dikritik karena tidak mengijinkan siswanya
melakukan ibadah termasuk sholat 5 waktu. Murid-murid Muslim juga
merasa dihina oleh guru Hindu dan Kristen. Beberapa buku yang isinya
merendahkan bahkan anti Islam dimasukkan kedalam kurikulum
sekolah. Sedangkan para bangsawan Muslim dikriktik karena tidak mau

mengirmkan anak-anaknya belajar di sekolah pemerintah, karena


dianggapnya didirikan untuk anak-anak dari golongan rendah. Sedang
masyarakat Muslim umumnya tidak tahu manfaat dari pendidikan
pemerintah, karena mereka tidak pernah berkumpul dengan orangorang Inggris. Setelah mengkaji beberapa alasan tersebut, panitia
sepakat untuk mendirikan

sebuah lembaga pendidikan yang akan

menutup kelemahan pendidikan pemerintah dan Muslim.


Pada bulan berikutnya panitia lomba tersebut berganti nama
menjadi Muhammadan Anglo Oriental College Fund Committee.
Anggota panitia ini terdiri dari para zamindar (tuan tanah), pegawai
pemerintah
bertugas

dan

untuk

perwakilan
membuat

kerajaan-kerajaan
keputusan

yang

India.

Panitia

berkaitan

ini

dengan

rekruitmen siswa dan guru, kurikulum, tempat pendirian college dan


kewenangan college.
Selanjutnya kami akan memberikan analisa mengenai sejauh
mana gerakan Aligarh telah berhasil didalam proses pembaharuan
pendidikan Muslim di India. Untuk itu paling tidak ada beberapa
variabel yang dapat digunakan untuk mengukur keberhasilan tersebut,
yakni respon para ulama, lembaga pendidikan tradisional,

lembaga

pendidikan baru dan lulusan MAOC maupun Aligarh.


Respon para ulama, dengan munculnya MAOC di India tidak
langsung ditanggapi secara positif oleh para ulama pada umumnya.
Begitu proposal untuk pendirian MAOC diumumkan, para ulama India
mengeluarkan fatwa yang mengharamkan dukungan pada college
tersebut.

Penentangan

mereka

terus

berlanjut

bahkan

ketika

perguruan tersebut berhasil dibangun, yakni dengan dikeluarkannya


seruan

kepada

orang

tua

Muslim

untuk

memboikot

lembaga

pendidikan tersebut.13[13]
Ada beberapa alasan ulama India melakukan pemboikotan,
antara lain karena mereka memiliki pemahaman yang sempit terhadap
13[13] Shan Muhammad, The Aligarh Movement : Basic Document : 18641898, (Nachiketa Publication Limited, 1978), 20-21.

Islam, dimana Islam dipahami hanya memiliki aspek spiritual. Ilmu-ilmu


Barat seperti Fisika, matematika, membaca dan menulis dengan skrip
selain Arab dianggap tidak Islami. Mempelajari hal-hal semacam itu
dianggap sebagai sesuatu diluar sistem Islam. Selain alasan itu, para
ulama mungkin memiliki alasan pribadi dimana pendirian MAOC di
India

akan

mengancam

status

kepemimpinan

mereka

dalam

masyarakat.14[14]
Para ulama, memiliki pengalaman dalam berhubungan dengan
penjajah. Mereka kehilangan basis kultural dan kehidupannya akibat
kebijakan pemerintah yang tidak aspiratif bahkan diskriminatif. Ulama
sangat

dipinggirkan

oleh

kebijakan

pemerintah

Inggris

dengan

mengganti bahasa administrasi pemerintah dari Urdu ke Inggris pada


tahun 1837. Demikian juga tindakan-tindakan pemerintah

setelah

peristiwa tahun 1857 meninggalkan luka yang sangat dalam bagi


ulama dan umat Islam pada umumnya.
Dengan kondisi seperti itu, Ahmad Khan terus maju dengan
program pendidikannya, dengan suatu keyakinan bahwa apa yang
mereka lakukan bukan untuk kepentingan mereka tetapi untuk
kepentingan Muslim. Akhirnya berhasil menghadapi opisisi ulama.
Dalam sejarah India Ahmad Khan memiliki kehormatan yang demikian
tinggi seorang pelopor yang gigih dan seorang pemimpin yang dicintai,
yang meskipun menghadapi tantangan yang tidak berhenti tetap
memberikan jalan baru untuk diikuti oleh saudara-saudaranya sesama
Muslim.
Untuk

mengukur

sejauhmana

pengaruh

MAOC

terhadap

pendidikan Muslim, maka kita harus melihat kondisi pendidikan


tradisional setelah melihat pendirian sekolah baru tersebut. Secara
singkat dapat dikatakan bahwa lembaga pendidikan tradisional tetap
berperan sebagai pusat studi agama tetapi mengalami perubahan
internal. Madrasah Deoband misalnya menjadi lebih populer diluar
14[14] Shaista Azizalamm, Sayyid Ahmad Khan and the Ulama : A Study in
Socio-Political Contex, (McGill University, 1992), 71-72.

India setelah menjalin kerjasama dengan Universitas al Azhar di Cairo,


Mesir. Akan tetapi Deoband juga bekerjasama dengan MAOC melalui
pertukaran guru.
Lembaga pendidikan MAOC tidak dapat diterima sepenuhnya
oleh semua Muslim India. Hal ini dapat dimaklumi karena Muslim pada
umumnya masih terikat dengan tradisi berkaitan dengan pendidikan
agama. Mereka masih mengukur kualitas pendidikan agama di
lembaga tersebut. Disamping itu karena problem keuangan, MAOC
tidak mampu mengembangkan seluruh program pendidikan. Oleh
karena itu MAOC itu kuat didalam pengajaran ilmu-ilmu pengetahuan
umum tetapi lemah didalam pendidikan agama. Lembaga pendidikan
seperti Nadwat al-Ulama, yang dibangun pada tahun 1894, yang
menekankan pendidikan agama, ada juga lembaga pendidikan model
baru yang mengikuti garis tradisional dengan memfokuskan pada
pendidikan agama, seperti Madzahir al-Ulum di Saharanpur dan
sekolah Ahl al-Hadits di Benares.
Pengaruh MAOC dapat dilihat dari jumlah alumni lembaga
tersebut dalam pembangunan masyarakat di India. Pendirian MAOC
semakin menambah jumlah kaum intelektual. Pada tahun 1920 MAOC
berkembang

menjadi

Aligarh

University,

yang

tentunya

akan

meningkatkan peran didalam pembangunan tidak hanya di bidang


pendidikan, tentunya juga bidang yang lain. Kenyataannya para alumni
Aligarh mampu memainkan peranan yang sangat penting dalam
pembangunan masyarakat Muslim. MAOC telah menghasilkan lulusan
untuk semua bidang kehidupan yang telah menunjukkan karyanya
dalam bidang masing-masing. Selain pendidik, ilmuwan, olahragawan,
bahkan sejarawan MAOC menghasilkan pejuang kemerdekaan, seperti
Maulana Muhammed Ali, Maulana Syaukat Ali, Raja Mahinder Pratap,
dan lain-lain. Disamping itu Aligarh juga telah menghasilkan orangorang yang memiliki posisi penting yang tampil sebagai presiden India,
seperti Ayub Khan dan Ghulam Muhammad yang menjadi presiden

Pakistan, Lia Qat Ali Khan dan Khwaja Nazimuddin, keduanya menjadi
perdana menteri Pakistan. Bidang-bidang pelayanan baik urusan
pemerintah maupun swasta menjadi bidang yang banyak dilakukan
oleh para alumni Aligarh.15[15]
Dengan bukti-bukti tersebut diatas, tidak dapat dipungkiri bahwa
Aligarh telah berhasil meningkatkan status Muslim India.

15[15] David Lelyveld, Aligarhs First Generation, (Princeton : Princeton


University Press, 1978), 325.

D. Sistem Pengelolaan
Dengan bantuan dari pemerintah Inggris, yang diperkuat oleh oposisi Ahmad
Khan pada 1887 terdapat kongres Nasional India yang baru didirikan, lembaga Aligarh
berhasil dalam tujuannya menciptakan generasi baru pemimpin yang diyakini oleh
Ahmad Khan sebagai jamaah kaum atau Community (komunitas) Muslim.
Ide-ide pembaharuan yang dicetuskan Ahmad Khan dianut dan disebarkan
selanjutnya oleh murid serta pengikut dan timbullah apa yang dikenal dengan gerakan
Aligarh. Pusatnya adalah sekolah MAOC yang didirikan pemimpin pembaharuan Islam
India di Aligarh. Setelah ditingkatkan menjadi universitas, dengan nama Universitas
Islam Aligarh ditahun 1920, perguruan tinggi ini meneruskan tradisi sebagai pusat
gerakan pembaharuan Islam India. Gerakan Aligarh inilah yang menjadi penggerak
utama bagi terwujudnya pembaharuan dikalangan ummat Islam India. Tanpa adanya
gerakan ini, ide-ide pembaharuan selanjutnya seperti yang dicetuskan oleh Amir Ali,
Muhammad Iqbal, Maulana Abdul Kalam Azad, dan sebagainya sulit dimunculkan.
Gerakan ini pula yang meningkatkan ummat Islam India dari masyarakat yang bangkit
menuju kemajuan. Pengaruhnya terasa benar di golongan intelegensia Islam India.
Setelah Sayyid Ahmad Khan menghadapi masa tua, maka pimpinan MAOC
digantikan oleh pengikutnya, diantaranya adalah : Sayyid Mahdi Ali (1837-1907) dan
Viqar Al Mulk (1841-1917).
Setelah Sayyid Ahmad Khan menghadapi masa tua, pimpinan Muhammedan
Angol Oriental Conference (M.A.O.C.) pindah ketangan Sayyid Mahdi Ali yang lebih
dikenal dengan nama Nawab Muhsin Al-Mulk (1837-1907). Pada mulanya ia adalah
pegawai Serikat India Timur, kemudian menjadi pembesar di Hyderabad. Ia pernah
berkunjung ke Inggris untuk keperluan Pemerintah Hyderabad. Di tahun 1863 ia
berkenalan dengan Sayyid Ahmad Khan dan antara keduanya terjalin tali persahabatan
yang erat. la banyak menulis artikel Tahzib Al Akhlaq dan kemudian juga di majalah
yang diterbitkan M.A.O.C. la pindah ke Aligarh dan menetap di sana mulai dari tahun
1893. Pada tahun 1897 ia menggantikankan kedudukan Sayyid Ahmad Khan di M.A.O.C.

Ia mempunyai jasa yang besar dalam menyebarkan ide ide Sayyid Ahmad Khan yang
dilakukannya melalui Muhammedan Educational Conference.16[16]
Muhsin al-Mulk tidak hanya membawa para ulama dekat dengan Aligarh, lebih
jauh ia mampu menarik beberapa lawan politik pendiri Perguruan Tinggi tersebut. Ia
adalah orang yang paling cinta damai, namun ia dihadapkan juga kepada kontraversi
Hindu-Urdu yang telah ada sejak akhir-akhir kehidupan Sayyid Ahmad Khan. Inilah yang
pada akhirnya menyebabkan ia mengundurkan dari Perguruan Tinggi tersebut. Ia wafat
16 Oktober 1907, dan dikuburkan di samping kuburan Sayyid Ahmad Khan di Aligarh.17
[17]
Yang menjadi perbedaan faham keagamaan dan politik Aligarh dan Deoband. Dari
segi politik Deoband anti terhadap Inggris dan Aligarh justru sebaliknya pro terhadap
Inggris. Dari segi keagamaan Deoband tetap mempertahankan taklid kepada ulama
klasik dan menutup pintu ijtihad, beda halnya dengan gerakan Aligarh mereka tidak
menutup pintu ijtihad. Tetapi pada akhirnya sikap Deoband yang tadinya keras bisa
melembut dan berubah terhadap sikap yang tadinya mempertahankan tradisi dan menutup
pintu ijtihad, perlahan mulai membuka pintu ijtihad. Karena Dalam menghadapi
golongan ulama Nawab Muhsin al-Mulk bersikap lebih lembut dari Sayyid Ahmad
Khan.18[18]
Dari bidang politik Nawab Muhsin Al-Mulk jelas terlihat. Nawab Muhsin AlMulk tidak ragu-ragu memasuki bidang politik. Ini terlihat dari usahanya dalam
membentuk Delegasi Umat Islam India karena pada waktu itu pemimpin-pemimpin Islam
India yang duduk di dalam Dewan-Dewan Perwakilan Daerah melihat bahwa sebagai
minoritas umat Islam tidak dapat menandingi golongan mayoritas Hindu, dalam
pemilihan yang akan diadakan. Oleh karena itu, kepada umat Islam harus diberikan
16[16] Taufik Abdullah, Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, Jilid 2, (Jakarta :
Ichtiar Baru Van Hoeve, 2002), 174-175
17[17] Mukti Ali, Alam Pikiran Islam Modern di India dan Pakistan, Bandung:
Mizan, 1993, 73
18[18] Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam Sejarah Pemikiran dan
Pergerakan, (Jakarta : Bulan Bintang, 1990), 175

daerah-daerah pemilihan terpisah. Delegasi umat Islam India diterima oleh Lord Minto
dan tuntutan diterima. Peristiwa itulah yang membawa kepada terbentuknya Liga
Muslimin India di tahun itu juga 1906.19[19]
Dalam bidang politik terlihat antara Sayyid Ahmad Khan dan Nawab Muhsin AlMulk mempunyai perbedaan prinsip, Sayyid Mahdi Ali yang lebih dikenal dengan Nawab
Muhsin Al-Mulk ia tidak ragu-ragu dalam memasuki bidang politik. Dan sebaliknya,
Sayyid Ahmad Khan berprinsip turut campur dalam bidang politik akan merugikan umat
Islam India. Ia berpendapat bahwa kemajuan bukannya melalui jalan politik.
Viqar al-Mulk (1841-1917) bernama Mushtaq Hussain yang lahir, di Distrik
Moradabad, United Pravinces. Ia adalah rekan Sayyid Ahmad Khan dan juga Muhsin alMulk. Bersama dengan Muhsin al-Mulk ia selalu bekerja sama dalam masalah
administrasi Aligarh. Dan setelah Muhsin al-Mulk meninggal pada tahun 1907, ia dipilih
menjadi Sekretaris Badan Pendiri. Masa inilah terjadinya perubahan-perubahan besar
dalam adminsitrasi Perguruan Tinggi Aligarh, bahkan dalam kebijaksanaan politik umat
Muslim India.
Pada masa Viqar ini terjadi pertentangan antara Viqar al -Mulk dengan Mr. Archbold
yang menjadi Direktur M.A.O.C. di waktu itu. Dalam pertentangan ini Gubernur Daerah
menyebelah Archbold sedang Viqar al Mulk disokong oleh Agha Khan serta Amir Ali dan
selanjutnya oleh masyarakat Islam di luar. Archbold akhirnya terpaksa mengundurkan
diri. Kekuasaan Iriggris di M.A.O.C. dari semenjak itu mulai berkurang. Pada masa Viqar
inilah berakhirnya kontraversi tentang administrasi Perguruan Tinggi, dan di mulainya era
baru bagi perjalanan Aligarh.20[20]
Ini berarti bahwa di masa Sayyid Ahmad Khan dan Nawab Muhsin Al-Mulk
kekuasan besar yang menjadi direktur M.A.O.C. yang pada saat itu ialah orang Inggris,
tetapi pada masa Viqar Al-Mulk kekuasaan besar yang menjadi direktur M.A.O.C. yang
dipegang oleh orang Inggris berkurang. Karena tersingkirnya orang Inggris (Archbold)
yang menjadi direktur dalam M.A.O.C. yang mengundurkan diri akibat terjadinya
pertentangan antara dia dengan Viqar Al-Mulk yang banyak mendapat dukungan atau
sokongan dari masyarakat Islam di luar.
19[19] Ibid., 175-176
20[20] Mukti Ali, Alam Pikiran Islam Modern di India dan Pakistan, 73

Viqar Al-Mulk populer di kalangan ulama India, ia mendapat simpati dari


kalangan ulama India dengan menerapkan dengan kuat hidup keagamaan di MAOC
pelaksanaan ibadat misalnya : shalat dan puasa dan memperketat pengawasannya. Lulus
dalam ujian agama menjadi syarat untuk dapat naik tingkat. Hal ini wajar jika Viqar AlMulk lebih populer dan disenangi ulama India dari pada Sayyid Ahmad Khan pada
waktu itu. Sedangkan Ahmad Khan lebih populer di kalangan pelajar.
Dalam pandangan politik ia tidak sama dengan Ahmad Khan meskipun dahulunya
ia sependapat bahwa Inggris lah yang dapat menciptakan kelanjutan wujud umat Islam
India akan dapat terjamin hanya dengan berlanjutnya kekuasaan Inggris. Tetapi ia pada
akhirnya merubah pandangan bahwa Inggris bukan tempat orang Islam menggantungkan
nasib dalam kelanjutan wujud umat Islam India. Karena ia berpendapat Inggris tidak akan
pernah peduli terhadap penderitaan dari umat Islam di India, bisa kami gambarkan
melalui pepatah habis manis sepah dibuang.
Tetapi terhadap partai Kongres Nasional India, pendiriannya tetap tidak berubah.
Orang Islam harus mempunyai partai sendiri dan harus mempertahankan Liga Muslimin
India. Yang dahulu pada masa Ahmad Khan dan Nawab Muhsin Al-Muk ketergantungan
gerakan Aligarh kepada Inggris kuat, tetapi pada masa Viqar Al-Mulk telah mulai
berkurang dan tidak lagi sekeras dizaman Ahmad Khan dan Nawab Muhsin Al-Mulk
dahulu. Hal ini menggambarkan bahwa Viqar Al-Mulk tidak mau bergantung kepada
Inggris seperti yang dilakukan oleh Ahmad Khan dan Nawab Muhsin Al-Mulk pada masa
sebelumnya.
Tokoh India lainnya yang terkenal sebagai penyebar ide ide pembaharuan Ahmad
Khan adalah Altaf Husain Hali (1837- 1914). Ia pernah bekerja sebagai penerjemah di
kantor Pemerintah Inggris di Lahore, tetapi kemudian pindah ke Delhi. Di sinilah ia
berkenalan dengan Ahmad Khan dan keduanya menjadi teman baik. Hali terkenal sebagai
seorang penyair, tetapi ia juga menulis karangan karangan untuk Tahzib Al Akhlaq.
Atas permintaan Ahmad Khan ia menulis syair tentang peradaban Islam di Zaman Klasik.
Ia menyebarkan ide ide pembaharuan gerakan Aligarh dengan cara yang berbeda dari
tokoh yang lain. Ia menyebarkan ide ide pembaharuan melalui syair yang terkenal
dengan nama musaddas. Musaddas sangat berpengaruh terhadap ummat Islam India,
sehingga dikatakan bahwa di samping MAOC dan Muhammedan Educational

Conference. Musadddaslah yang mempunyai jasa besar dalam mempopulerkan gerakan


Aligarh.21[21]
Dalam bidang politik ia berpandangan bahwa umat Islam India merupakan suatu
kesatuan tersendiri di samping umat Hindu. Tetapi bukan anti Hindu. Semangat
patriotisme Hal ini terlihat dalam Syairnya: Jika Anda ingin kebaikan dari negerimu.
Maka janganlah menganggap sebagai orang asing sesama patriot dari tanah airmu,
Apakah ia Muslim atau Hindu, Apakah Budhis atau Brahma, Pandanglah mereka dengan
mata persahabatan yang syahdu, Anggaplah mereka seperti bagian hitam dari matamu.22
[22]
Dalam dunia pendidikan ia berbeda pendapat menurutnya pendidikan wanita ia
lebih bersifat progresif. Sedangkan, Ahmad Khan yang memandang kaum wanita belum
perlu mendapatkan pendidikan sebagaimana kaum laki-laki.
Maulvi Nazir Ahmad termasuk orang menyebarkan ide-ide pembaharuan dengan
cara yang berbeda yaitu melalui gerakan keilmiahan. Karangan-karangannya berkisar
sekitar soal agama, budi pekerti, dan problem-problem sosial. Maulvi berpendapat
kemunduran umat Islam, terletak pada umat Islam itu sendiri dan bukan datang dari luar.
Umat Islam tidak hidup lagi sesuai dengan ajaran-ajaran agama. Ia juga menerjemahkan
Al-Quran dalam bahasa Urdu yang pada saat itu banyak dibaca dan berpengaruh pada
masyarakat Islam India, dari hal itu gerakan Aligarh semakin dekat dengan golongan
ulama India.`
Dengan berdirinya MAOC maka Muslim India memiliki lembaga
pendidikan tinggi yang sangat diimpikan oleh Ahmad Khan. Ia melihat
bahwa ditingkat inilah Muslim jauh tertinggal oleh umat-umat agama
lain.
E. Muatan Kurikulum
Pembentukan kepribadian sebagai target penting dalam tujuantujuan pendidikan. Ahmad Khan berpendapat tak seorangpun dapat
mencapai kebesaran di dunia ini dan akhirat kecuali ia memiliki
kepribadian yang baik. Seorang yang berkepribadian yang baik adalah
yang

mengamalkan

ajaran

al-Quran

dan

Hadits.

Karena

21[21] Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam Sejarah Pemikiran dan


Pergerakan,177

22[22] Ibid, 178

Nabi

merupakan teladan pengamalan al-Quran dan Hadits, maka proses


pembentukan kepribadian siswa harus diperkenalkan pada kehidupan
dan ajaran-ajaran Nabi.23[23]
Pendidikan harus membekali siswa dengan ketrampilan yang
diperlukan untuk mencapai kemajuan material. Karena itu pendidikan
harus sesuai dengan kebutuhan masyarakat dimana siswa itu hidup.
Maka

pendidikan

yang

turun

temurun

tanpa

memperhatikan

perkembangan jaman dan tanpa melihat relevansinya, dipandang


lemah dalam kaitan untuk kemajuan dibidang ekonomi.
Ahmad Khan (dalam tulisan Muhammad Akhlak

Ahmad),

memberi nasehat kepada kaumnya yang dikutip oleh orang-orang


India akan maju jika mereka sendiri tanpa intervensi dari pemerintah
mengurus pendidikannya sendiri untuk anak-anak mereka dengan
memberikan

sumbangan

yang

sukarela,

mereka

sendiri

yang

mengurus dan mengontrolnya. Muslim sendirilah yang akan merubah


nasib mereka bukan pemerintah
Dalam rangka pembentukan

kepribadian

siswa,

MAOC

memberikan pembinaan keagamaan, kegiatan ekstra kurikuler dan


penyediaan asrama siswa. Pendidikan agama memang bukan pokok
perhatian Ahmad Khan, karena yang ia impikan adalah kemajuan di
bidang ilmu pengetahuan modern. Mengutip ucapan Muhammad Ali
Jinnah (1876-1948) dalam bukunya Hafeedz Malik :
Ia (Ahmad Khan) tidak menginginkan masyarakatnya (Muslim
India) dikagumi karena semangat keberagamaan mereka, akan tetapi
kemajuan, kebijaksanaan dan kemajuan moral mereka.24[24]
Ini tidak berarti bahwa Ahmad Khan tidak menyutujui pengajaran
Agama, yang ia inginkan adalah bahwa pendidikan agama jangan
sampai mengorbankan ilmu pengetahuan modern. Untuk itu di MAOC
23[23] Suja, Muhammadiyah dan pendirinya, (Yogyakarta : Majlis Pustaka,
1989), 17.
24[24] Hafeedz Malik, Sir Sayyed Ahmad Khan and Mulim Modernization in
India and Pakistan, (New York : Columbia University Press, 1968), 106.

tetap diberikan pendidikan agama yang dikelola oleh dua komite, satu
untuk kelompok sunni dan satu lagi untuk kelompok syiah.
Disamping itu siswa-siswa Muslim diwajibkan untuk sholat dan
puasa ramadlan. Mereka juga dilibatkan untuk perayaan-perayaan
agama Islam, seperti peringatan maulid nabi dan perayaan hari raya
ied. Dengan pembinaan keagamaan semacam itu diharapkan siswasiswa Muslim dapat memiliki sense of Muslim identity yang telah luntur
akibat kekuasaan pemerintah Inggris.
Disamping itu para mahasiswa ditempatkan di asrama, dengan
hidup disana para siswa mendapatkan pembinaan yang penuh seharisemalam, dengan pengawasan yang ketat dari para pengelola MAOC.
Diluar jam belajar para siswa mendapatkan kegiatan ekstra meliputi
berbagai jenis cabang olah raga seperti menunggang kuda dan
menembak, latihan berdebat, berpidato dan berbagai jenis kegiatan
sosial. Semua kegiatan itu dilakukan untuk membentuk calon-calon
pemimpin Muslim India yang tangguh dan mempersiapkan generasi
baru masyarakat Muslim yang cohesive.
F. Penutup
Pembaharuan pendidikan yang dilakukan oleh gerakan Aligarh
merupakan produk dialektik Muslim dengan setting sosial dan politik
dibawah kekuasaan kolonial Inggris. Ahmad Khan berkeyakinan bahwa
lembaga pendidikan Muslim tidak dapat berjalan berdasarkan model
tradisional karena kebutuhan umat Islam sudah berubah. Maka Aligarh
menyelenggarakan

pendidikan

yang

menyesuaikan

diri

dengan

kebijakan pemerintah kolonial Inggris. Dengan cara demikian MAOC


mewakili

model

lembaga

pendidikan

baru

telah

mendorong

modernisasi pendidikan Muslim untuk menghasilkan lulusan-lulusan


yang memiliki kemampuan lebih baik dibawah pemerintahan kolonial
Inggris.

BIBLIOGRAFI
Altaf Husain Hali, Hayat-I-Javed, translated by KH Qadiri and David J.
Mathew, Delhi : Idarah-i Adabiyat-i Delli, 1979
Basu : History of Education
Bhatt and Anggarwal, Educational Development, 4 ; B.D. Basu, History
of Education in India under the Rule of the East India Company,
Calucutta : The Modern Review Office, TT
D. Bhatt and J.C. Aggarwal, Educational Documents in India (18131968), New Delhi : Arya Book Depot, 1969
David Lelyveld, Aligarhs First Generation, Princeton : Princeton
University Press, 1978
Drs. Ahmad Syaukani M.A, Perkembangan Pemikiran Moderen di India, Pustaka Setia
Bandung, Bandung, 1997
Dyah Kumalasari, Pengantar Sejarah Pendidikan, Yogyakarta : FISE
UNY, 2008
Hafeedz Malik, Sir Sayyed Ahmad Khan and Mulim Modernization in
India and Pakistan, New York : Columbia University Press, 1968
Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Pergerakan,
Jakarta : Bulan Bintang, 1990
Imam Zafar, Muslim in India, New Delhi : Orient Longman, 1975
M.S. Jain, The Aligarh Movement : Its Origin and Development 18581906, Agra : Sir Ram Mehra, 1965
Mohammad Akhlaq Ahmad, Tradisional Among Muslim, New Delhi : B.R.
Publishing Corporation, 1985
Mukti Ali, Alam Pikiran Islam Modern di India dan Pakistan, Bandung:
Mizan, 1993
S.P. Chaube, A History of Education in India, Allahabad : Ram Narain Lal
Beni Madho, 1965
Shaista Azizalamm, Sayyid Ahmad Khan and the Ulama : A Study in
Socio-Political Contex, McGill University, 1992

Shan Muhammad, The Aligarh Movement : Basic Document : 18641898, Nachiketa Publication Limited, 1978
Suja,
1989

Muhammadiyah dan pendirinya, Yogyakarta : Majlis Pustaka,

Syed Masroor Ali Akhtar Hashmi, Muslim Response to Western


Education (A Study of Four Pionerr Institutions), New Delhi :
Commonwelt Publishers, 1989
Taufik Abdullah, Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, Jilid 2, Jakarta :
Ichtiar Baru, 2002