Anda di halaman 1dari 5

ADANYA MODUS KECURANGAN

LELANG ONLINE
POSTED BY M. FAIZAL KAMARULLAH 20 AGUSTUS 2015 TINGGALKAN KOMENTAR
FILED UNDER ETIKA PENGADAAN, PRINSIP

1 Vote

Kecurigaan ini sebenarnya sudah muncul sejak beberapa tahun lalu, waktu itu
ada curhatan dari beberapa orang baik dari pokja ulp atau dari pihak penyedia
yang sedang melaksanakan proses pemilihan penyedia. Kecurigaan adanya
kecurangan dalam pengaturan bandwith atau lebar pita jaringan internet yang di
setting

untuk

menerima

unggahan

dokumen

penawaran

dari

penyedia

barang/jasa.
Modus atau modal dusta yang dilakukan adalah dengan memperbesar bandwidth
ke server lpse tempat dilaksanakannya pengadaan barang jasa pada waktu
tertentu ketika penyedia jagoan akan melakukan upload atau unggah dokumen
penawaran. Setelah jagoan nya selesai menunaikan hajatnya yang terlarang
karena melanggar prinsip dan etika pengadaan, selanjutnya jalur bandwitdh
dikurangi atau dikecilkan kembali. Pengecilan banwidth atau lebar pita jaringan
ke lpse ini mengakibatkan penyedia penyedia lainnya ketika upload dokumen
penawaran akan berdesak desakan, yang bisa beresiko pada tidak sempurna
nya data dokumen yang diterima oleh server lpse.
Akibat dari tidak sempurnanya proses upload dokumen penawaran, ketika pokja
ulp melakukan proses download dokumen penawaran dan membukanya melalui
apendo, maka akan terjadi dokumen tidak dapat dibuka oleh aplikasi apendo,
atau dokumen bisa di buka tapi tidak semua data lengkap terupload. Langkah
selanjutnya tentunya pokja ulp akan meminta uji forensik ke lpse (layanan
pengadaan secara elektronik) atau LKPP (Lembaga Kebijakan Pengadaan
Barang/Jasa

Pemerintah) terhadap file yang gagal dibuka, sedangkan

terhadap file yang bisa dibuka namun isinya tidak lengkap sesuai dengan ketika

upload, tentunya pokja ulp tidak akan mau tahu dan menganggap dokumen
penaran tidak lengkap yang berujung pada pengguran penawaran.
Dokumen penawaran yang tidak bisa dibuka, meskipun dilakukan forensik oleh
lpse atau lkpp, biasa menghasilkan hasil yang menyatakan bahwa memang
dokumen begitu adanya alias gagal upload, dari curhatan banyak pokja ulp dan
pengalaman pribadi penulis, ujung ujungnya pada pengguguran juga. Bahkan
untuk pengadaan yang perlu cepat, biasanya kita anggap gugur saja dahulu
sambil nunggu hasil forensik, so proses lelang dilanjut saja tanpa menunggu
hasil forensik, karena keyakinan besar hasil tidak akan jauh dari gagal upload
dan gugur. Tapi kalau hasilnya

lain, tentunya masih bisa dikoreksi hasil

pemilihan penyedianya nanti. Maksimalnya sebelum kontrak hasil forensik harus


sudah ada.
Kecurangan dalam pengadaan melalui e-procurement ini sudah diendus juga
oleh Komisi Pengawas Persaingan Usaha yang menemukan modus curang baru
yang dilakukan peserta tender lelang proyek di instansi pemerintah, yaitu
dengan mempermainkan kecepatan penerimaan berkas syarat lelang dalam eprocurement.
Dari

berita

online

http://m.republika.co.id/berita/trendtek/internet/15/07/22/nrv56e-kppu-temukankecurangan-bandwidth-dalam-eprocurement#
KPPU menyatakan bahwa Ada modus baru yaitu mempermainkan bandwidth
saat peserta hendak mengirimkan syarat lelang, kata Kepala KPPU Kantor
Perwakilan Daerah Batam Lukman Sungkar di Batam Kepulauan Riau, Selasa
(21/7).
KPPU menemukan dugaan kecurangan dengan mempermainkan kecepatan
penerimaan data itu dalam kasus persengkokolan pada tender angkutan sampah
Pemkot Batam.
KPPU menduga, terjadi persengkokolan antara petugas lelang dan peserta
lelang, dengan mempermainkan bandwidth. Saat peserta lelang yang hendak
dimenangkan akan mengirimkan syarat, maka bandwidth dibesarkan. Namun,
setelah itu bandwidth dikecilkan kembali.
Jadi saat peserta lain hendak mengirimkan syarat lelang, mereka kesulitan,
kata dia.

Dugaan itu muncul karena berdasarkan penyelidikan diketahui peserta lelang


merasa sudah mengirimkan seluruh berkas syarat lelang. Namun setelah dicek
ulang ke panitia lelang, ternyata ada syarat yang kurang.
Dan setelah kita periksa, syarat mereka memang lengkap, tapi tidak terkirim.
Mereka kesulitan untuk mengecek satu per satu apakah semuanya sudah
terkirim, ternyata tidak, kata dia menjelaskan.
Karena panitia lelang tidak menerima syarat lengkap, maka peserta lain
dinyatakan tidak lolos.
KPPU akan terus mencermati modus baru itu agar tidak berulang pada proses
lelang yang lain.
Ia mengatakan secara umum, laporan dugaan persengkokolan dalam tender
pemerintahan di Kepri pada tahun ini relatif menurun dibanding tahun lalu.
Ada kecenderungan menurun. Jumlah investigasi dan jumlah laporan. Ini
menjadi kekhawatiran kami sekaligus kegembiraan kami, kata dia.
Penurunan itu bisa diartikan pelaku usaha sudah sadar dan jera sehingga tidak
lagi melakukan persengkokolan.
Namun di sisi lain KPPU curiga, pelaku usaha menemukan cara baru dalam
bertindak curang. Karena temuan KPPU selama ini selalu menggunakan modus
yang sama, yaitu adanya kesamaan penawaran lelang, kesalahan ketikan yang
sama dan pengiriman penawaran dari satu komputer yang sama.
Siapa ya kira kira yang melakukan pelanggaran terhadap prinsip pengadaan ini?
Secara teknis operasionak tentunya hal ini ada pada kekuasaan lpse, para admin
dan operator di lpse sangat tidak mungkin kalau tidak mengenali modus ini.
Tinggal dicari siapa aktor intelektualnya ya. Mangga KPPU, KPK atau LKPP
silahkan sama sama menyelidikinya ya soalnya modus nih alias sudah sering
terjadi di lapangan, so tunggu apalagi sikat aja bos

REPUBLIKA.CO.ID, BATAM -- Komisi Pengawas Persaingan Usaha


menemukan modus curang baru yang dilakukan peserta tender
lelang proyek di instansi pemerintah, yaitu dengan

mempermainkan kecepatan penerimaan berkas syarat lelang


dalam e-procurement.
"Ada modus baru yaitu mempermainkan 'bandwidth' saat peserta
hendak mengirimkan syarat lelang," kata Kepala KPPU Kantor
Perwakilan Daerah Batam Lukman Sungkar di Batam Kepulauan
Riau, Selasa (21/7).
KPPU menemukan dugaan kecurangan dengan mempermainkan
kecepatan penerimaan data itu dalam kasus persengkokolan pada
tender angkutan sampah Pemkot Batam.
KPPU menduga, terjadi persengkokolan antara petugas lelang dan
peserta lelang, dengan mempermainkan 'bandwidth'. Saat
peserta lelang yang hendak dimenangkan akan mengirimkan
syarat, maka 'bandwidth' dibesarkan. Namun, setelah itu
'bandwidth' dikecilkan kembali.
"Jadi saat peserta lain hendak mengirimkan syarat lelang, mereka
kesulitan," kata dia.
Dugaan itu muncul karena berdasarkan penyelidikan diketahui
peserta lelang merasa sudah mengirimkan seluruh berkas syarat
lelang. Namun setelah dicek ulang ke panitia lelang, ternyata ada
syarat yang kurang.
"Dan setelah kita periksa, syarat mereka memang lengkap, tapi
tidak terkirim. Mereka kesulitan untuk mengecek satu per satu
apakah semuanya sudah terkirim, ternyata tidak," kata dia
menjelaskan.
Karena panitia lelang tidak menerima syarat lengkap, maka
peserta lain dinyatakan tidak lolos.
KPPU akan terus mencermati modus baru itu agar tidak berulang
pada proses lelang yang lain.

Ia mengatakan secara umum, laporan dugaan persengkokolan


dalam tender pemerintahan di Kepri pada tahun ini relatif
menurun dibanding tahun lalu.
"Ada kecenderungan menurun. Jumlah investigasi dan jumlah
laporan. Ini menjadi kekhawatiran kami sekaligus kegembiraan
kami," kata dia.
Penurunan itu bisa diartikan pelaku usaha sudah sadar dan jera
sehingga tidak lagi melakukan persengkokolan.
Namun di sisi lain KPPU curiga, pelaku usaha menemukan cara
baru dalam bertindak curang. Karena temuan KPPU selama ini
selalu menggunakan modus yang sama, yaitu adanya kesamaan
penawaran lelang, kesalahan ketikan yang sama dan pengiriman
penawaran dari satu komputer yang sama.
Temuan itu yang menjadi landasan KPPU menetapkan beberapa
perusahaan membuat persengkokolan dalam lelang.