Anda di halaman 1dari 43

MAKALAH

KEPERAWATAN GERONTIK HIPERTENSI PADA LANSIA


Disusun Untuk Memenuhi Tugas Keperawatan Gerontik

Disusun Oleh :
KELOMPOK WISMA MELATI

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

FRENGKI ALVIN FALO


APRIYANTO BILI
ANTON BANYUAJI
DIANA BUDIARTI
ANITA RISMA LAMBO
NIKMATUN KHOIRUN NISA
TRIAS ALFI MAHGFIROH
SADAM HUSAIN BATARFI
CHRISTOFORUS E. NAIKOFI

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS


STIKes SURYA MITRA HUSADA
KEDIRI
2015
HALAMAN PERSETUJUAN

1.Judul Kegiatan

:Laporan penyuluhan tentang hipertensi pada lansia di


wisma melati UPT PSLU Blitar di Tulungagung

2. Bidang Kegiatan

: Pengabdian masyarakat

3. Bidang Ilmu

: Pendidikan Ners

4. Ketua Pelaksana
a. Nama

: Dedi Saifullah S.Kep.,Ns

b. NIK

: 13.07.14.005

c. Alamat

: Blitar

5. Anggota Pelaksana : Terlampir


6. Tempat Pelaksanaan: Wisma melati
7. Waktu Pelaksanaan : Rabu, 25 November 2015 / 09.00 WIB
Menyetujui,
KetuaPelaksana

Pembimbing
Wisma melati

Pembimbing lahan
Kepala Seksi Bimbingan
dan Pembinaan Lanjut

( Dedi Saifulah S.Kep.,Ns)

Nurul Hidayati P.R


NIP. 19911117 201403 2 002

(Sunu Pantjadharmo, AKS. MSI.)

NIK.13.07.14.005

NIP. 1966 1104 199201 1001

Ketua Prodi

Ketua LPPM

( Agusta D. E ., S.Kep.,Ns.,M.Kep)

(Prima Dewi K. S.Kep.Ns.,M.Kes)

NIK13.07.09.075

Ketua,
STIKes Surya MitraHusada Kediri

( Dr. SanduSiyoto. S.Sos. SKM,.M.Kes)


NIP.19700216 1992 03 1 007

KATA PENGANTAR
STIKes SURYA MITRA HUSADA

NIK.13.07.03.011

Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam,atas rahmat dan hidayahNya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Makalah ini penulis buat
dengan tujuan memenuhi tugas Pofesi Keperawatan Gerontik.
Penulis berharap agar setelah membaca makalah ini , para pembaca dapat
memahami dan mendapatkan pengetahuan yang lebih baik, sehingga dapat di
aplikasikan untuk mengembangkan kompetensi dalam bidang keperawatan.
Penulis juga menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih memiliki banyak
kekurangan, untuk itu penulis membuka diri menerima berbagai saran dan kritik
demi perbaikan di masa mendatang.

DAFTAR ISI

STIKes SURYA MITRA HUSADA

Halaman
HALAMAN COVER.......................................................................................
HALAMAN PERSETUJUAN.........................................................................
KATA PENGANTAR.......................................................................................
DAFTAR ISI.....................................................................................................

1
2
3
4

BAB I PENDAHULUAN ................................................................................


1.1 Latar Belakang..........................................................................
1.2 Rumusan Masalah ....................................................................
1.3 Tujuan Penelitian......................................................................
1. Tujuan Umum...........................................................................
2. Tujuan Khusus ..........................................................................
1.4 Manfaat Penelitian....................................................................

5
5
8
8
8
9
9

BAB II PEMBAHASAN..................................................................................
2.1 Pengertian ..............................................................................................
2.2 klasifikasi ..............................................................................................
2.3 etiologi ...................................................................................................
2.4 tanda dan gejala .....................................................................................
2.5 pemeriksaan penunjang .........................................................................
2.6 komplikasi .............................................................................................
2.7 penatalaksanaan .....................................................................................

9
10
10
11
15
16
17
19

BAB III METODE PELAKSANAAN.............................................................


BAB IV PENDANAAN...................................................................................
BAB V HASIL EVALUASI ............................................................................

32
35
37

BAB VI PENUTUP..........................................................................................

40

DAFTAR PUSTAKA........................................................................................

41

LAMPIRAN.....................................................................................................

42

BAB I

STIKes SURYA MITRA HUSADA

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Penduduk Lanjut Usia merupakan bagian dari anggota keluarga
dan anggota masyarakat yang semakin bertambah jumlahnya sejalan
dengan peningkatan usia harapan hidup. Pada tahun 1980 penduduk lanjut
usia baru berjumlah 7,7 juta jiwa atau 5,2 persen dari seluruh jumlah
penduduk. Pada tahun 1990 jumlah penduduk lanjut usia meningkat
menjadi 11,3 juta orang atau 8,9 persen. Jumlah ini meningkat di seluruh
Indonesia menjadi 15,1 juta jiwa pada tahun 2000 atau 7,2 persen dari
seluruh penduduk. Dan diperkirakan pada tahun 2020 akan menjadi 29
juta orang atau 11,4 persen. Hal ini menunjukkan bahwa penduduk lanjut
usia meningkat secara konsisten dari waktu ke waktu. Angka harapan
hidup penduduk Indonesia berdasarkan data Biro Pusat Statistik pada
tahun 1968 adalah 45,7 tahun, pada tahun 1980 : 55.30 tahun, pada tahun
1985 : 58,19 tahun, pada tahun 1990 : 61,12 tahun, dan tahun 1995 : 60,05
tahun serta tahun 2000 : 64.05 tahun (BPS.2000)
Dengan makin meningkatnya harapan hidup penduduk Indonesia,
maka dapat diperkirakan bahwa insidensi penyakit degeneratif akan
meningkat pula. Salah satu penyakit degeneratif yang mempunyai tingkat
morbiditas dan mortalitas tinggi adalah hipertensi. Hipertensi pada usia
lanjut menjadi lebih penting lagi mengingat bahwa patogenesis, perjalanan
penyakit dan penatalaksanaannya tidak seluruhnya sama dengan hipertensi
pada usia dewasa muda. Pada umumnya tekanan darah akan bertambah
tinggi dengan bertambahnya usia pasien, dimana tekanan darah diastolik
akan sedikit menurun sedangkan tekanan sistolik akan terus meningkat.
Penyakit degeneratif dan penyakit tidak menular mengalami
peningkatan resiko penyebab kematian, dimana pada tahun 1990, kematian
penyakit tidak menular 48 % dari seluruh kematian di dunia, sedangkan
kematian akibat penyakit jantung dan pembuluh darah, gagal ginjal dan
stroke sebanyak 43% dari seluruh kamatian di dunia dan meningkat pada

STIKes SURYA MITRA HUSADA

tahun 2000 kematian akibat penyakit tidak menular yaitu 64 % dari


seluruh kematian dimana 60% disebabkan karena penyakit jantung dan
pembuluh darah, stroke dan gagal ginjal. Pada tahun 2020, diperkirakan
kematian akibat penyakit tidak menular sebesar 73% dari seluruh kematian
di dunia dan sebanyak 66% diakibatkan penyakit jantung dan pembuluh
darah, gagal ginjal dan stroke, dimana faktor resiko utama penyakit
tersebut adalah hipertensi. (Zamhir, 2006).
Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan penyebab
kematian dan kesakitan yang tinggi. Darah tinggi sering diberi gelar The
Silent Killer karena hipertensi merupakan pembunuh tersembunyi karena
disamping karena prevalensinya yang tinggi dan cenderung meningkat di
masa yang akan datang, juga karena tingkat keganasannya yang tinggi
berupa kecacatan permanen dan kematian mendadak. Sehingga kehadiran
hipertensi pada kelompok dewasa muda akan sangat membebani
perekonomian keluarga, karena biaya pengobatan yang mahal dan
membutuhkan waktu yang panjang, bahkan seumur hidup. (Bahrianwar,
2009)
Di Indonesia dari hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT)
1995, prevalensi hipertensi di Indonesia adalah 8.3% (pengkuran standart
WHO yaitu pada batas tekanan darah normal 160/90 mmHg). Pada tahun
2000 prevalensi penderita hipertensi di indonesia mencapai 21%
(pengukuran standart Depkes yaitu pada batas tekanan darah normal 139 /
89 mmHg). Selanjutnya akan diestimasi akan meningkat menjadi 37 %
pada tahun 2015 dan menjadi 42 % pada tahun 2025. (Zamhir, 2006).
Penyebab hipertensi tidak diketahui pada sekitar 95 % kasus.
Bentuk hipertensi idiopatik disebut hipertensi primer atau esensial.
Patogenesis pasti tampaknya sangat kompleks dengan interaksi dari
berbagai variabel, mungkin pula ada predisposisi genetik. Mekanisme lain
yang dikemukakan mencakup perubahan perubahan berikut: (1). Eksresi
natrium dan air oleh ginjal, (2). Kepekaan baroreseptor, (3). Respon
vesikuler, dan (4). Sekresi renin. Sedangkan 5% penyakit hipertensi terjadi

STIKes SURYA MITRA HUSADA

sekunder akibat proses penyakit lain seperti penyakit parenkhim ginjal


atau aldosterronisme primer (Prince, 2005).
Beberapa organisasi dunia dan regional telah memproduksi,
bahkan memperbaharui pedoman penanggulangan hipertensi. Dari
berbagai strategi dapat disimpulkan bahwa penanggulangan hipertensi
melibatkan banyak disiplin ilmu. Kunci pencegahan atau penanggulangan
perorangan adalah gaya hidup sehat. Masyarakat juga perlu tahu risiko
hipertensi

agar

dapat

saling

mendukung

untuk

mencegah

atau

menanggulangi agar tidak menyebabkan peningkatan yang signifikan


sampai mencegah terjadinya komplikasi. (Bahrianwar,2009).
Di Indonesia, Pemerintah bersama Departemen Kesehatan RI
memberi apresiasi dan perhatian serius dalam pengendalian penyakit
Hipertensi. Sejak tahun 2006 Departemen Kesehatan RI melalui Direktorat
Pengendalian Penyakit Tidak Menular yang bertugas untuk melaksanakan
pengendalian penyakit jantung dan pembuluh darah termasuk hipertensi
dan penyakit degenaritaif lainnya, serta gangguan akibat kecelakaan dan
cedera. (Depkes, 2007).
Untuk mengendalikan hipertensi di Indonesia telah dilakukan
beberapa langkah, yaitu mendistribusikan buku pedoman, Juklak dan
Juknis pengendalian hipertensi; melaksanakan advokasi dan sosialisasi;
melaksanakan intensifikasi, akselerasi, dan inovasi program sesuai dengan
kemajuan teknologi dan kondisi daerah setempat (local area specific);
mengembangkan (investasi) sumber daya manusia dalam pengendalian
hipertensi; memperkuat jaringan kerja pengendalian hipertensi, antara lain
dengan

dibentuknya

Kelompok

Kerja

Pengendalian

Hipertensi;

memperkuat logistik dan distribusi untuk deteksi dini faktor risiko


penyakit jantung dan pembuluh darah termasuk hipertensi; meningkatkan
surveilans epidemiologi dan sistem informasi pengendalian hipertensi;
melaksanakan monitoring dan evaluasi; dan mengembangkan sistem
pembiayaan pengendalian hipertensi. (Depkes, 2007).
Pada usia lanjut aspek diagnosis selain kearah hipertensi dan
komplikasi, pengenalan berbagai penyakit yang juga diderita oleh orang

STIKes SURYA MITRA HUSADA

tersebut perlu mendapatkan perhatian oleh karena berhubungan erat


dengan penatalaksanaan secara keseluruhan. Dahulu hipertensi pada lanjut
usia dianggap tidak selalu perlu diobati, bahkan dianggap berbahaya untuk
diturunkan. Memang teori ini didukung oleh observasi yang menunjukkan
turunnya tekanan darah sering kali diikuti pada jangka pendeknya oleh
perburukan serangan iskemik yang transient (TIA). Tetapi akhir-akhir ini
dari

penyelidikan

epidemiologi

maupun

trial

klinik

obat-obat

antihipertensi pada lanjut usia menunjukan bahwa hipertensi pada lansia


merupakan risiko yang paling penting untuk terjadinya penyakit
kardiovaskuler, strok dan penyakit ginjal. Banyak data akhir-akhir ini
menunjukan bahwa pengobatan hipertensi pada lanjut usia dapat
mengurangi mortalitas dan morbiditas.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apa itu hipertensi pada lansia?
1.2.2 Apa saja klasifikasi hipertensi pada lansia?
1.2.3 Bagaimana etiologi hipertensi pada lansia?
1.2.4 Seperti apa patofisiologi hipertensi pada lansia?
1.2.5 Bagaimana Tanda dan Gejala hipertensi pada lansia?
1.2.6 Apa saja pemeriksaan penunjang hipertensi pada lansia?
1.2.7 Apa saja komplikasi hipertensi pada lansia?
1.2.8 Bagaimana penatalaksanaan hipertensi pada lansia?
1.2.9 Bagaimana Asuhan Keperawatan hipertensi pada lansia?
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Agar pembaca dapat memahami lebih jauh tentang penyakit
hipertensi pada lansia.
1.3.2 Tujuan Khusus
1.3.2.1 Untuk mengetahui pengertian hipertensi pada lansia.
1.3.2.2 Untuk mengetahui klasifikasi hipertensi pada lansia.
1.3.2.3 Untuk mengetahui etiologi hipertensi pada lansia.
1.3.2.4 Untuk mengetahui patofisiologi hipertensi pada lansia.
1.3.2.5 Untuk mengetahui Tanda dan Gejala hipertensi pada lansia.
1.3.2.6 Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang hipertensi pada
lansia.
1.3.2.7 Untuk mengetahui komplikasi hipertensi pada lansia.
1.3.2.8 Untuk mengetahui penatalaksanaan hipertensi pada lansia.
1.3.2.9 Untuk mengetahui Asuhan Keperawatan hipertensi pada lansia.

STIKes SURYA MITRA HUSADA

1.4 Manfaat
Tulisan ini diharapkan dapat menjadi salah satu sumber informasi baik
bagi tenaga kesehatan ataupun masyarakat umum mengenai Hipertensi
pada lansia.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Hipertensi Pada Lansia


Hipertensi dicirikan dengan peningkatan tekanan darah diastolik dan sistolik
yang intermiten atau menetap.
Pada populasi lansia, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160
mmHg dan tekanan diastolik 90 mmHg. (Smeltzer,2001).Menurut WHO
( 1978 ), tekanan darah sama dengan atau diatas 160 / 95 mmHg dinyatakan
sebagai hipertensi.
Pada Populasi manula, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160
mmHg dan tekanan diastolik 90 mmHg (Brunner & Suddarth, 1996)

STIKes SURYA MITRA HUSADA

2.2. Klasifikasi Hipertensi Pada Lansia


2.2.1. Berdasarkan etiologinya, hipertensi dibagi menjadi :
1. Hipertensi primer atau esensial
Penyebab pasti masih belum diketahui. Jenis ini adalah yang terbanyak,
yaitu sekitar 90-95% dari seluruh pasien hipertensi. Riwayat
keluarga,obesitas,diit tinggi natrium,lemak jenuh dan penuaan adalah
faktor

pendukung.

Walaupun

faktor

genetik

sepertinya

sangat

berhubungan dengan hipertensi primer, tapi mekanisme pastinya masih


belum diketahui.
2. Hipertensi sekunder
Hipertensi sekunder akibat penyakit ginjal atau penyebab yang
terindentifikasi lainya. Hipertensi yang penyebabnya diketahui seperti
hipertensi

renovaskuler,

feokromositoma,

sindrom

cushing,

aldosteronisme primer, dan obat-obatan, yaitu sekitar 2-10% dari seluruh


pasien hipertensi.
2.2.2. Klasifikasi

Hipertensi

Berdasarkan

Pedoman

Joint

National

Committee 7
Kategori

Sistolik (mmHg)

Diastolik (mmHg)

Optimal

115 atau kurang

75 atau kurang

Normal

< 120

< 80

Prehipertensi

120-139

80-89

Hipertensi stage I

140-159

90-99

Hipertensi stage II

160

100

STIKes SURYA MITRA HUSADA

10

Berdasarkan klasifikasi dari JNC-VI maka hipertensi pada usia lanjut


dapat dibedakan:

Hipertensi sistolik saja (Isolated systolic hypertension), terdapat


pada 6-12% penderita di atas usia 60th, terutama pada wanita.

Insioden meningkat seiring bertambahnya umur.


Hipertensi diastolic saja (Diastolic hypertension), terdapat antara
12-14% penderita di atas usia 60th, terutama pada pria. Insidensi

menurun seiring bertambahnya umur.


Hipertensi sistolik-diastolik: terdapat pada 6-8% penderita usia di
atas 60th, lebih banyak pada wanita. Menningkat dengan
bertambahnya umur.

2.3. Etiologi Hipertensi Pada Lansia


Dengan perubahan fisiologis normal penuaan, faktor resiko hipertensi
lain meliputi diabetes ras riwayat keluarga jenis kelamin faktor gaya hidup
seperti obesitas asupan garam yang tinggi alkohol yang berlebihan.
Faktor resiko yang mempengaruhi hipertensi yang dapat atau tidak
dapat dikontrol, antara lain:
a. Faktor resiko yang tidak dapat dikontrol:
Faktor risiko yang tidak dapat diubah, seperti riwayat keluarga (genetik
kromosomal), umur (pria : > 55 tahun; wanita : > 65 tahun), jenis
kelamin pria atau wanita pasca menopause.
a. Jenis kelamin
Prevalensi terjadinya hipertensi pada

pria

sama

dengan

wanita.Namun wanita terlindung dari penyakit kardiovaskuler


sebelum menopause. Wanita yang belum mengalami menopause
dilindungi

oleh

hormon

estrogen

yang

berperan

dalam

meningkatkan kadar High Density Lipoprotein (HDL). Kadar


kolesterol HDL yang tinggi merupakan faktor pelindung dalam
mencegah terjadinya proses aterosklerosis. Efek perlindungan
estrogen dianggap sebagai penjelasan adanya imunitas wanita pada
usia premenopause. Pada premenopause wanita mulai kehilangan
sedikit demi sedikit hormon estrogen yang selama ini melindungi

STIKes SURYA MITRA HUSADA

11

pembuluh darah dari kerusakan. Proses ini terus berlanjut dimana


hormon estrogen tersebut berubah kuantitasnya sesuai dengan umur
wanita secara alami, yang umumnya mulai terjadi pada wanita umur
45-55 tahun.
Dari hasil penelitian didapatkan hasil lebih dari setengah penderita
hipertensi berjenis kelamin wanita sekitar 56,5%.Hipertensi lebih
banyak terjadi pada pria bila terjadi pada usia dewasa muda. Tetapi
lebih banyak menyerang wanita setelah umur 55 tahun, sekitar 60%
penderita hipertensi adalah wanita. Hal ini sering dikaitkan dengan
perubahan hormon setelah menopause.
b. Umur
Semakin tinggi umur seseorang semakin tinggi tekanan darahnya,
jadi orang yang lebih tua cenderung mempunyai tekanan darah yang
tinggi dari orang yang berusia lebih muda. Hipertensi pada usia
lanjut harus ditangani secara khusus. Hal ini disebabkan pada usia
tersebut ginjal dan hati mulai menurun, karena itu dosis obat yang
diberikan harus benar-benar tepat. Tetapi pada kebanyakan kasus ,
hipertensi banyak terjadi pada usia lanjut. hipertensi sering terjadi
pada usia pria : > 55 tahun; wanita : > 65 tahun. Hal ini disebabkan
terjadinya perubahan hormon sesudah menopause. Hanns Peter
(2009) mengemukakan bahwa kondisi yang berkaitan dengan usia
ini adalah produk samping dari keausan arteriosklerosis dari arteriarteri utama, terutama aorta, dan akibat dari berkurangnya
kelenturan. Dengan mengerasnya arteri-arteri ini dan menjadi
semakin kaku, arteri dan aorta itu kehilangan daya penyesuaian diri.
c. Keturunan (Genetik)
Adanya faktor genetik pada keluarga tertentu akanmenyebabkan
keluarga itu mempunyai risiko menderita hipertensi. Hal ini
berhubungan dengan peningkatan kadar sodium intraseluler dan
rendahnya rasio antara potasium terhadap sodium Individu dengan
orang tua dengan hipertensi mempunyai risiko dua kali lebih besar

STIKes SURYA MITRA HUSADA

12

untuk menderita hipertensi dari pada orang yang tidak mempunyai


keluarga dengan riwayat hipertensi. Seseorang akan memiliki
kemungkinan lebih besar untuk mendapatkan hipertensi jika orang
tuanya adalah penderita hipertensi.
b. Faktor resiko yang dapat dikontrol:
1. Obesitas
Pada usia + 50 tahun dan dewasa lanjut asupan kalori mengimbangi
penurunan kebutuhan energi karena kurangnya aktivitas. Itu
sebabnya berat badan meningkat. Obesitas dapat memperburuk
kondisi lansia. Kelompok lansia dapat memicu timbulnya berbagai
penyakit seperti artritis, jantung dan pembuluh darah, hipertensi.
Indeks masa tubuh (IMT) berkorelasi langsung dengan tekanan
darah, terutama tekanan darah sistolik. Risiko relatif untuk
menderita hipertensi pada orang obes 5 kali lebih tinggi
dibandingkan dengan seorang yang berat badannya normal. Pada
penderita hipertensi ditemukan sekitar 20-30% memiliki berat
badan lebih.
2. Kurang Olahraga.
Olahraga banyak dihubungkan dengan pengelolaan penyakit tidak
menular, karena olahraga isotonik dan teratur dapat menurunkan
tahanan perifer yang akan menurunkan tekanan darah (untuk
hipertensi) dan melatih otot jantung sehingga menjadi terbiasa
apabila jantung harus melakukan pekerjaan yang lebih berat karena
adanya kondisi tertentu Kurangnya aktivitas fisik menaikan risiko
tekanan darah tinggi karena bertambahnya risiko untuk menjadi
gemuk. Orang-orang yang tidak aktif cenderung mempunyai detak
jantung lebih cepat dan otot jantung mereka harus bekerja lebih
keras pada setiap kontraksi, semakin keras dan sering jantung harus
memompa semakin besar pula kekuaan yang mendesak arteri.
3. Kebiasaan Merokok
Merokok menyebabkan peninggian tekanan darah. Perokok berat
dapat dihubungkan dengan peningkatan insiden hipertensi maligna

STIKes SURYA MITRA HUSADA

13

dan risiko terjadinya stenosis arteri renal yang mengalami


ateriosklerosis.
4. Mengkonsumsi garam berlebih
Badan kesehatan dunia yaitu World Health Organization (WHO)
merekomendasikan pola konsumsi garam yang dapat mengurangi
risiko terjadinya hipertensi. Kadar sodium yang direkomendasikan
adalah tidak lebih dari 100 mmol (sekitar 2,4 gram sodium atau 6
gram

garam)

perhari.

Konsumsi

natrium

yang

berlebih

menyebabkan konsentrasi natrium di dalam cairan ekstraseluler


meningkat. Untuk menormalkannya cairan intraseluler ditarik ke
luar,

sehingga

volume

cairan

ekstraseluler

meningkat.

Meningkatnya volume cairan ekstraseluler tersebut menyebabkan


meningkatnya

volume

darah,

sehingga

berdampak

kepada

timbulnya hipertensi.
5. Minum alkohol
Banyak penelitian membuktikan bahwa alkohol dapat merusak
jantung dan organ-organ lain, termasuk pembuluh darah. Kebiasaan
minum alkohol berlebihan termasuk salah satu faktor resiko
hipertensi.
6. Minum kopi
Faktor kebiasaan minum kopi didapatkan dari satu cangkir kopi
mengandung 75 200 mg kafein, di mana dalam satu cangkir
tersebut berpotensi meningkatkan tekanan darah 5 -10 mmHg.
7. Stress
Hubungan antara stres dengan hipertensi diduga melalui aktivitas
saraf simpatis peningkatan saraf dapat menaikan tekanan darah
secara intermiten (tidak menentu). Stress yang berkepanjangan
dapat mengakibatkan tekanan darah menetap tinggi. Walaupun hal
ini belum terbukti akan tetapi angka kejadian di masyarakat
perkotaan lebih tinggi dibandingkan dengan di pedesaan. Hal ini
dapat dihubungkan dengan pengaruh stress yang dialami kelompok
masyarakat yang tinggal di kota. Menurut Anggraini (2009)

STIKes SURYA MITRA HUSADA

14

mengatakan stres akan meningkatkan resistensi pembuluh darah


perifer dan curah jantung sehingga akan menstimulasi aktivitas
saraf simpatis. Adapun stres ini dapat berhubungan dengan
pekerjaan, kelas sosial, ekonomi, dan karakteristik personal
2.4 Tanda Dan Gejala Hipertensi Pada Lansia
Seperti penyakit degeneratif pada lanjut usia lainnya, hipertensi sering
tidak memberikan gejala apapun atau gejala yang timbul tersamar
(insidious) atau tersembunyi (occult). Menurut Rokhaeni ( 2001 ),
manifestasi klinis beberapa pasien yang menderita hipertensi yaitu :
Mengeluh sakit kepala, pusing Lemas, kelelahan, Sesak nafas, Gelisah,
Mual Muntah, Epistaksis, Kesadaran menurun
2.5 Pemeriksaan Penunjang Hipertensi Pada Lansia
a.

Hemoglobin / hematokrit
Untuk mengkaji hubungan dari sel sel terhadap volume cairan
(viskositas) dan dapat mengindikasikan factor factor resiko seperti
hiperkoagulabilitas, anemia.

b.

BUN : memberikan informasi tentang perfusi ginjal

c.

Glukosa
Hiperglikemi (diabetes mellitus adalah pencetus hipertensi) dapat
diakibatkan oleh peningkatan katekolamin (meningkatkan hipertensi).

d.

Kalium serum
Hipokalemia

dapat

megindikasikan

adanya

aldosteron

utama

(penyebab) atau menjadi efek samping terapi diuretik.


e.

Kalsium serum
Peningkatan kadar kalsium serum dapat menyebabkan hipertensi.

f.

Kolesterol dan trigliserid serum


Peningkatan kadar dapat mengindikasikan pencetus untuk / adanya
pembentukan plak ateromatosa ( efek kardiovaskuler )

g.

Pemeriksaan tiroid.
Hipertiroidisme dapat menimbulkan vasokonstriksi dan hipertensi.

h.

Kadar aldosteron urin/serum

STIKes SURYA MITRA HUSADA

15

Untuk mengkaji aldosteronisme primer ( penyebab ).


i.

Urinalisa
Darah, protein, glukosa mengisyaratkan disfungsi ginjal dan atau
adanya diabetes.

j.

Asam urat
Hiperurisemia telah menjadi implikasi faktor resiko hipertensi.

k.

Steroid urin
Kenaiakn dapat mengindikasikan hiperadrenalisme.

l.

IVP
Dapat mengidentifikasi penyebab hieprtensiseperti penyakit parenkim
ginjal, batu ginjal / ureter.

m. Foto dada
Menunjukkan obstruksi kalsifikasi pada area katub, perbesaran jantung.
n.

CT scan
Untuk mengkaji tumor serebral, ensefalopati.

o.

EKG
Dapat menunjukkan pembesaran jantung, pola regangan, gangguan
konduksi, peninggian gelombang P adalah salah satu tanda dini
penyakit jantung hipertensi.

2.6 Komplikasi Hipertensi Pada Lansia


Pasien dengan hipertensi dapat meninggal dengan cepat; penyebab
tersering kematian adalah penyakit jantung, sedangkan stroke dan gagal
ginjal sering ditemukan, dan sebagian kecil pada pasien dengan retinopati.
a. Komplikasi pada Sistem Kardiovaskuler
Kompensasi akibat penambahan kerja jantung dengan peningkatan
tekanan sistemik adalah hipertrofi ventrikel kiri, yang ditandai dengan
penebalan dinding ventrikel. Hal ini menyebabkan fungsi ventrikel
memburuk, kapasitasnya membesar dan timbul gejala-gejala dan tanda-

STIKes SURYA MITRA HUSADA

16

tanda gagal jantung. Angina pektoris dapat timbul sebagai akibat dari
kombinasi penyakit arteri koronaria dan peningkatan kebutuhan oksigen
miokard karena penambahan massanya. Pada pemeriksaan fisik,
didapatkan pembesaran jantung dengan denyut ventrikel kiri yang
menonjol. Suara penutupan aorta menonjol dan mungkin ditemukan
murmur dari regurgitasi aorta. Bunyi jantung presistolik (atrial,
keempat) sering terdengar pada penyakit jantung hipertensif, dan bunyi
jantung protodiastolik (ventrikuler, ketiga) atau irama gallop mungkin
saja ditemukan. Pada elektrokardiogram, ditemukan tanda-tanda
hipertrofi ventrikel kiri. Bila penyakit berlanjut, dapat terjadi iskemi
dan infark. Sebagian besar kematian dengan hipertensi disebabkan oleh
infark miokard atau gagal jantung kongestif. Data-data terbaru menduga
bahwa kerusakan miokardial mungkin lebih diperantarai oleh
aldosteron pada asupan garam yang normal atau tinggi dibandingkan
hanya oleh peningkatan tekanan darah atau kadar angiotensin II.
b. Efek Neurologik
Efek neurologik pada hipertensi lanjut dibagi dalam perubahan
pada retina dan sistem saraf pusat. Karena retina adalah satu-satunya
jaringan dengan arteri dan arteriol yang dapat langsung diperiksa, maka
dengan

pemeriksaan

optalmoskopik

berulang

memungkinkan

pengamatan terhadap proses dampak hipertensi pada pembuluh darah


retina.
Efek pada sistem saraf pusat juga sering terjadi pada pasien
hipertensi. Sakit kepala di daerah oksipital, paling sering terjadi pada
pagi hari, yang merupakan salah satu dari gejala-gejala awal hipertensi.
Dapat juga ditemukan keleyengan, kepala terasa ringan, vertigo,
tinitus dan penglihatan menurun atau sinkope, tapi manifestasi yang
lebih serius adalah oklusi vaskuler, perdarahan atau ensefalopati.
Patogenesa dari kedua hal pertama sedikit berbeda. Infark serebri terjadi
secara sekunder akibat peningkatan aterosklerosis pada pasien
hipertensi, dimana perdarahan serebri adalah akibat dari peningkatan

STIKes SURYA MITRA HUSADA

17

tekanan darah dan perkembangan mikroaneurisma vaskuler serebri


(aneurisma Charcot-Bouchard). Hanya umur dan tekanan arterial
diketahui berpengaruh terhadap perkembangan mikroaneurisma.
Ensefalopati hipertensi terdiri dari gejala-gejala : hipertensi berat,
gangguan kesadaran, peningkatan tekanan intrakranial, retinopati
dengan papiledem dan kejang. Patogenesisnya tidak jelas tapi
kemungkinan tidak berkaitan dengan spasme arterioler atau udem
serebri. Tanda-tanda fokal neurologik jarang ditemukan dan jikalau ada,
lebih dipikirkan suatu infark / perdarahan serebri atau transient
ischemic attack.
Hipertensi atau tekanan darah tinggi memberikan kelainan pada
retina berupa retinopati hipertensi, dengan arteri yang besarnya tidak
beraturan, eksudat pada retina, edema retina dan perdarahan retina.
Kelainan pembuluh darah dapat berupa penyempitan umum atau
setempat, percabangan pembuluh darah yang tajam, fenomena crossing
atau sklerosis pembuluh darah.
c. Efek pada Ginjal
Lesi aterosklerosis pada arteriol aferen dan eferen serta kapiler
glomerulus adalah lesi vaskuler renal yang paling umum pada
hipertensi dan berakibat pada penurunan tingkat filtrasi glomerulus dan
disfungsi tubuler. Proteinuria dan hematuria mikroskopik terjadi karena
lesi pada glomerulus dan 10 % kematian disebabkan oleh hipertensi
akibat gagal ginjal. Kehilangan darah pada hipertensi terjadi tidak
hanya dari lesi pada ginjal; epitaksis, hemoptisis dan metroragi juga
sering terjadi pada pasien-pasien ini.
2.7 Penatalaksanaan Hipertensi Pada Lansia
Lebih dari 10 tahun yang lalu masih terjadi perdebatan tentang perlu
tidaknya pengobatan hipertensi pada usia lanjut. Golongan yang kontra
menyatakan bahwa penurunan tekanan darah pada hipertensi lansia justru
akan menyebabkan kemungkinan terjadinya trombosis koroner, hipotensi
postural dan penurunan kualitas hidup. Dengan penelitian-penelitian yang
STIKes SURYA MITRA HUSADA

18

diadakan dalam 10 tahun terakhir ini jelas dibuktikan bahwa menurunkan


tekanan darah pada hipertensi lansia jelas akan menurunkan komplikasi
akibat hipertensi secara bermakna.
Tujuan penatalaksanaan hipertensi adalah mengurangi morbiditas dan
mortalitas yang berkaitan dengan sistem kardiovaskuler dan ginjal. Karena
kebanyakan penderita hipertensi, khususnya yang berusia > 50 tahun akan
mencapai target tekanan diastol saat target tekanan sistol sudah dicapai,
sehingga fokus utamanya adalah mencapai target tekanan sistol. Penurunan
tekanan sistol dan diastol < 140 / 90 mmHg berhubungan dengan penurunan
terjadinya komplikasi stroke, dan pada pasien hipertensi dengan diabetes
melitus, target tekanan darah ialah < 130 / 80 mmHg.
Penalaksanaan hipertensi dilandasi oleh beberapa prinsip, yaitu :
1.

Pengobatan hipertensi sekunder lebih mendahulukan


pengobatan kausal.

2.

Pengobatan hipertensi esensial ditujukan untuk


menurunkan tekanan darah dengan harapan memperpanjang umur dan
mengurangi timbulnya komplikasi.

3.

Upaya menurunkan tekanan darah dicapai dengan


menggunakan obat antihipertensi.

4.

Pengobatan hipertensi adalah pengobatan jangka


panjang, bahkan mungkin seumur hidup.

5.

Pengobatan dengan menggunakan standart triple


therapy (stt) menjadi dasar pengobatan hipertensi.

Pemakain obat pada lanjut usia perlu dipikirkan kemungkinan adanya :


a. Gangguan absorsbsi dalam alat pencernaan
b. Interaksi obat
STIKes SURYA MITRA HUSADA

19

c. Efek samping obat.


d. Gangguan akumulasi obat terutama obat-obat yang ekskresinya melalui
ginjal.
Pada pengobatan hipertensi ada tiga hal evaluasi menyeluruh terhadap
kondisi penderita adalah :
a. Pola hidup dan indentifikasi ada tidaknya faktor resiko kardiovaskuler.
b. Penyebab langsung hipertensi sekunder atau primer.
c. Organ yang rusak karena hipertensi.

Secara garis besar, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam
pemilihan obat antihipertensi, yaitu:
1. Mempunyai efektivitas yang tinggi
2. Mempunyai toksisitas dan efek samping yang ringan atau minimal
3. Memungkinkan penggunaan obat secara oral.
4. Tidak menimbulkan intoleransi
5. Harga obat relatif murah sehingga terjangkau oleh penderita.
6. Memungkinkan penggunaan obat dalam jangka panjang

Tidak jarang penatalaksanaan hipertensi dengan menggunakan obat-obat


antihipertensi mengalami kegagalan, yang dapat disebabkan oleh hal-hal di
bawah ini :
1. Ketidakpatuhan penderita

STIKes SURYA MITRA HUSADA

20

2. Peningkatan volume oleh karena peningkatan asupan natrium,


kerusakan ginjal, dan kurangnya pemberian diuretik
3. Obesitas
4. Dosis yang tidak adekuat
5. Interaksi obat
6. Kontrasepsi oral
7. Penggunaan obat-obat steroid
8. Hipertensi sekunder

Klasifikasi dan Managemen Tekanan Darah untuk Dewasa *

BP Classification

SBP

DBP

Lifestyle

(mmHg)

(mmHg

Modificati

)*

on

Initial Drug Therapy


Without

With Compelling

Compelling

Indication

Indication
Normal

< 120

and < 80 Encourage

Prehypertension

120-139

or 80-89

STIKes SURYA MITRA HUSADA

Yes

21

No

Drug(s)

antihypertensive

compelling

indicated

indications.

for

Stage

I 140-159

or 90-99

Yes

Thiazide-type

Hypertension

Drug(s) for the

diuretics for most. compelling


consider indications.

May
ACEI

ARB,

BB , CCB or

Other
antihypertensive

combination.

drugs
Stage

II 160

100

Yes

ACEI, ARB, BB,

Two-drug

Hypertension

combination
most

for

CCB) as needed.

(usually

thiazide-type
diuretic and ACEI
or ARB or BB or
CCB)
SBP : Systolic Blood Pressure
DBP : Diastolic Blood Pressure.
Drug abbreviations : BP :
ACEI : Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor
ARB : Angiotensin Receptor Blocker
CCB : Calsium Channel Bloker.
BB : Beta-Bloker
* Treatment determined by highest BP category.

Initial combined therapy should be used cautiously in those at risk for orthostatic
hypotension.

STIKes SURYA MITRA HUSADA

22

(diuretics,

Treat patients with chronic kidney disease or diabetes or BP goal < 130/80
mmHg
2.7.1

Konsep Penatalaksanaan Hipertensi Terkini


Joint National Committee VII merekomendasikan konsep terapi yang
terbaru yaitu :
a. Pasien dengan tekanan darah sistolik 120-139 mmHg dan tekanan
darah diastolic 80-89 mmHg hanya memerlukan penatalaksanaan
nonfarmakologis dengan cara modifikasi gaya hidup.
b. Pasien yang tidak memiliki komplikasi hipertensi, diperlukan
penatalaksanaan secara farmakologis dengan diberikan obat
golongan diuretik atau bisa juga diberikan obat dari golongan lain.
c. Lebih memperhatikan tekanan darah sistolik dan penanganannya
harus dimulai jika tekanan darah sistolik meningkat walaupun
tekanan darah diastoliknya tidak.
d. Sebagian besar pasien hipertensi memerlukan obat kombinasi
antihipertensi, salah satunya adalah obat dari golongan diuretik
tiazid.
e. Kebanyakan

pasien

hipertensi

memerlukan

atau

lebih

pengobatan untuk mencapai tekanan darah 20/10 mmHg di atas


tekanan darah yang diinginkan.
f. Golongan ACE Inhibitor sendiri atau kombinasi dengan golongan
diuretic masih merupakan terapi pilihan yang terbaik untuk pasien
dengan hipertensi yang sudah mengalami komplikasi penyakit
jantung.

STIKes SURYA MITRA HUSADA

23

Bila hipertensi yang terjadi tanpa disertai dengan komplikasi atau


penyakit

penyerta

lain,

maka

pengobatan

adalah

mudah.

Penatalaksanaan untuk hipertensi dibagi menjadi :


1. Non Farmakologis atau modifikasi gaya hidup.
2. Farmakologis
A. Non farmakologis atau modifikasi gaya hidup meliputi :
Kriteria Indeks Massa Tubuh

Kriteria

IMT (kg/m2)

Kurang

<18,5

Normal

18,5-24,9

Berat badan lebih

25,0-29,9

Obesitas

30,0-34,9

Obesitas berat

35,0

Jaga berat badan ideal. Turunkan berat badan bila IMT 27

Membatasi alkohol.
Olahraga teratur sesuai dengan kondisi tubuh.
Mengurangi asupan natrium (<100 mmol Na, atau 2.4 g Na , atau 6 g
NaCl/hari)
Mempertahankan asupan kalium (90 mmol/hari), kalsium dan
magnesium yang adekuat.

STIKes SURYA MITRA HUSADA

24

Berhenti merokok.
Kurangi asupan lemak jenuh dan kolesterol dalam makanan.

Modifikasi Gaya Hidup Penatalaksanaan Hipertensi *

Modification

Recommendation

Approximate

SBP

Reduction (Range)
Weight reduction

Maintain normal body weight (BMI 18,5 5-20 mmHg / 10 kg


24,9 kg/m2)

Adopt

weight loss

DASH Consume a diet rich in fruits, vegetables 8-14 mmHg

eating plan

and low fat dairy products with a


reduced content of saturated and total fat

Dietary

sodium Reduced dietary sodium intake to no 2-8 mmHg

reduction

more than 100 mmol per day (2,4 g


sodium or 6 g sodium chloride)

Physical activity

Engage in regular aerobic physical 4-9 mmHg


activity such as brisk walking (at least 30
min per day, most days of the week)

Moderation

of Limit consumption to no more than 2 2-4 mmHg

alcohol

drinks (1 oz or 30 ml ethanol; e.g. 24 oz

consumption

beer, 10 oz wine, or 3 oz 80-proof


whiskey) per day in most men and to no
more thsn 1 drink per day in women and

STIKes SURYA MITRA HUSADA

25

lighter weight persons


DASH, Dietary Approaches to Stop Hypertension
* For overall cardiovascular risk reduction, stop smoking.
The effects of implementing these modifications are dose and time
dependent, and could be greater for some individuals.
B. Farmakologis :
Obat-obat Antihipertensi :
1. Diuretik

Cara kerja : meningkatkan ekskresi natrium, klorida dan air


sehingga volume plasma dan cairan ekstrasel.

Untuk terapi jangka panjang pengaruh utama adalah mengurangi


resistensi perifer.

Terdapat beberapa golongan, yaitu :


a. Diuretik Tiazid dan sejenisnya (paling luas digunakan) , contoh
:
-

Hidroklorotiazid (HCT) tab 25 dan 50 mg

Klortalidonn tab 50 mg

Bendroflumentiazid tab 5 mg

Indapamid tab 2,5 mg

Xipamid tab 20 mg

STIKes SURYA MITRA HUSADA

26

b. Diuretik kuat :
a. Furosemid tab 40 mg
c. Diuretik hemat kalium :
a. Amilorid tab 5 mg
b. Spironolakton tab 25 dan 100 mg

Efek samping : hipotensi dan hipokalemia.

2. Penghambat Adrenergik

Efektif untuk menurunkan denyut jantung dan curah jantung, serta


menurunkan sekresi renin

Kontraindikasi bagi pasien gagal jantung kongestif

Terdiri dari golongan :


-

penghambat adrenoreseptor / bloker : terazosin,


doxazosin, prazosin

penghambat adrenoreseptor / -bloker : propanolol,


asebutolol, atenolol, bisoprolol

penghambat adrenoreseptor dan : labetalol

adrenolitik sentral : klonidin, metildopa, reserpin, guanfasin

3. Vasodilator

STIKes SURYA MITRA HUSADA

27

Bekerja langsung pada pembuluh darah dengan cara relaksasi otot


polos yang akan mengakibatkan penurunan resistensi pembuluh
darah

Yang termasuk golongan ini adalah natrium nitroprusid, hidralazin,


doksazosin, prazosin, minoksidil, diaksozid.

Yang paling sering digunakan adalah natrium nitroprusid dengan


efek samping hipotensi ortostatik.

4. Penghambat Enzim Konversi Angiotensin

Bekerja menghambat sistem renin-angiotensin, menstimulasi


sintesis prostaglandin dan juga mengurangi aktivitas saraf simpatis

Preparat yang paling banyak digunakan adalah Kaptopril,


diberikan 1 jam sebelum makan. Pada gagal ginjal dosis dikurangi
(bila CCT > 1.5 mg%).

Efek samping : batuk kering , eritema, gangguan pengecap,


proteinuria, gagal ginjal dan agranulositosis.

5. Antagonis Kalsium

Mempunyai efek mengurangi tekanan darah dengan cara


menyebabkan vasodilatasi perifer yang berkaitan dengan refleks
takikardi yang kurang nyata dan retensi cairan yang kurang
daripada vasodilator lainnya.

STIKes SURYA MITRA HUSADA

28

Preparat yang biasa digunakan seperti nifedipin, nikardipin,


felodipin, amilodipin, verapamil dan diltiazem.

6. Antagonis Reseptor Angiotensin II (AIIRA / ARB)

Merupakan

golongan

obat

antihipertensi

terbaru,

tidak

mempengaruhi produksi Angiotensin II tetapi memblok di tempat


kerja pada organ target.

Kelebihannya adalah tidak menimbulkan batuk karena tidak


mempengaruhi metabolisme bradikinin.

Proses apoptosis dan regenerasi jaringan juga tetap berlangsung


karena reseptor tidak dipengaruhi.

Prinsip pemberian obat anti hipertensi pada lansia :


Dimulai dengan 1 macam obat dengan dosis kecil (START

LOW GO SLOW)
Penurunan tekanan darah sebaiknya secara perlahan, untuk

penyesuaian autoregulasi guna mempertahankan perfusi ke organ vital.


Regimen obat harus sederhana dan dosis sebaiknya sekali

sehari

Antisipasi efek samping obat-obat antihipertensi

Pemantauan tekanan darah untuk evaluasi efektivitas


pengobatan

STIKes SURYA MITRA HUSADA

29

Setelah tercapai target maka pemberian obat harus


disesuaikan kembali untuk maintenance (Gambar 2)

Pengobatan harus segera dilakukan pada hipertensi berat dan apabila


terdapat kelainan target organ. Oleh karena fungsi ginjal telah menurun dan
terdapat gangguan metabolisme obat, sebaiknya dosis awal dimulai dengan
dosis yang lebih rendah. Pada hipertensi tanpa komplikasi golongan diuretik
dosis rendah (HCT 12,5 25 mg atau setara) yang dikombinasi dengan
diuretik hemat kalium dapat diberi sebagai pengobatan awal. Obat anti
hipertensi lain dapat diberikan atas indikasi spesifik.
Pada pasien dengan payah jantung, obat penghambat ACE dan
diuretik merupakan obat pilihan pertama. Tetapi pada pemberian diuretika
sering menimbulkan efek hipokalemia dan hiponatremia karena kedua
mineral tadi ikut terbuang bersama urine.
Pada pasien pascainfark miokard, pemakaian penyebat yang
kardioselektif dianjurkan. Akan tetapi pada umumnya pemakaian penyekat
tidak begitu disukai oleh karena menimbulkan perburukan penyakit vaskuler
perifer dan bronkospastik. Penghambat merupakan pilihan pada pasien
dengan dislipidemia dan hipertrofi prostat, akan tetapi harus hati-hati
terhadap efek hipotensi ortostatik, karena hal ini dapat menyebabkan lansia
jatuh bahkan sampai mengalami komplikasi fraktur.
Antagonis kalsium jangka panjang cukup efektif, terutama karena
mempunyai efek natriuretik dan dianjurkan pada pasien dengan penyakit
jantung koroner. Pada pasien dengan diabetes dan proteinuria diindikasikan
pemakaian obat penghambat ACE.
Obat simpatolitik sentral seperti metildopa, klonidin dan guanfasin
walaupun efektif, pemakaiannya kurang dianjurkan pada usia lanjut karena

STIKes SURYA MITRA HUSADA

30

efek samping sedasi, mulut kering dan hipotensi ortostatik. Dan obat-obat
yang mempunyai pengaruh pada susunan saraf pusat, dan bloker dapat
mengakibatkan depresi serta penurunan kesadaran/fungsi kognitif.
Pemberian antihipertensi pada lansia harus hati-hati karena pada lansia
terdapat :
Penurunan refleks baroreseptor sehingga meningkatkan

risiko hipotensi ortostatik.


Gangguan autoregulasi otak sehingga iskemia serebral

mudah terjadi dengan hanya sedikit penurunan tekanan darah sistemik.


Penurunan fungsi ginjal dan hati sehingga terjadi akumulasi

obat.

Pengurangan

volume

intravaskular

sehingga

sensitif

terhadap deplesi cairan.

Sensitivitas terhadap hipokalemi sehingga mudah terjadi


aritmia dan kelemahan otot.

Pemberian obat juga harus dipikirkan mengenai penyakit


komorbid yang ada pada lansia itu. Jangan sampai obat antihipertensif
yang kita beri mempunyai efek samping yang dapat memperberat gejala
penyakit komorbid.

Berdasarkan hal-hal di atas, maka sebaiknya obat-obat yang dapat


menyebabkan hipotensi ortostatik, yaitu guanetidin, guanadrel, alfa bloker
dan labetolol sebaiknya dihindarkan atau diberikan dengan hati-hati,
tekanan darah diturunkan perlahan-lahan dengan cara memberi dosis awal

STIKes SURYA MITRA HUSADA

31

yang lebih rendah dan peningkatan dosis yang lebih kecil dengan interval
yang lebih panjang dari biasanya pada penderita yang lebih muda, dan
pilihan antihipertensi harus secara individual, berdasarkan pada kondisi
penyerta.
Tahap-tahap yang perlu diperhatikan agar terapi hipertensi dapat berhasil
adalah :
1.

Diagnosis yang tepat dan sedini mungkin


(pengukuran beberapa kali dan kalau perlu lebih dari 1 kali kunjungan)

2.

Pendidikan masyarakat untuk meningkatkan


kewaspadaan akan bahaya hipertensi dan makna serta manfaat bila
tekanan darah dapat dinormalkan.

3.

Menyampaikan data yang akurat dari studi


klinik pada tenaga kesehatan maupun masyarakat, khususnya mengenai
manfaat penurunan/terapi hipertensi.

4.

Meningkatkan

kepatuhan

berobat

atau

control pasien.
5.

Memotivasi para tenaga kesehatan untuk


berusahamenurunkan tekanan darah pasien hipertensi.

6.

Menggunakan obat antihipertensi yang dapat


ditoleransi dengan baik dan yang dapat dimakan sekali sehari.

Terapi Kombinasi
Biasanya bila terapi dengan satu macam obat gagal untuk mencapai
sasaran, maka perlu ditambahkan obat ke-2 dengan dosis rendah dahulu dan

STIKes SURYA MITRA HUSADA

32

tidak meningkatkan dosis obat pertama.

Hal ini adalah upaya untuk

memaksimalkan efek penurunan tekanan darah dengan efek samping


seminimal mungkin. Pada penelitian HOT, terapi kombinasi diperlukan
pada sekitar 70% penderita.

Dalam JNC-VII, para ahli bahkan

menganjurkan terapi antihipertensi kombinasi langsung pada penderita yang


ada pada stadium 1. Walaupun dosis campuran tetap banyak disediakan
oleh pabrik farmasi, upaya titrasi dosis secara individual dianggap lebih
baik. Berikut diberikan pedoman yang dianut oleh para ahli hipertensi di
Inggris yang disebut sebagai The Birmingham Hypertension Square.
The Birmingham Hypertension Square

ACE Inhibitor
atau Bloker
Reseptor
Angiotensin II

Diuretik

Nasihat
nonfarmakologik :
garam, berat badan,
alkohol, olahraga,

Bloker Kanal
Kalsium
golongan
dihidropiridine

STIKes SURYA MITRA HUSADA

-Bloker

33

Mulai terapi pada kotak manapun dan gunakan terapi tambahan


dengan obat yang ditunjuk oleh panah. Obat-obatan pada kotak yang
berdekatan memiliki efek antihipertensi tambahan, aksi yang saling
melengkapi dan biasanya ditoleransi dengan baik.

STIKes SURYA MITRA HUSADA

34

BAB III
METODE PELAKSANAAN

A.
B.
C.
D.
E.
F.
G.
H.

Pokok Bahasan
Sub Pokok Bahasan
Sasaran
Waktu Pelaksanaan
Tempat
Media
Metode
Kegiatan

NO

FASE
DAN
WAKTU
Pembuka
an
(5 menit)
Pelaksana
an
(10
menit)

: penyuluhan tentang hipertensi


: hipertensi
: Lansia di Wisma Melati
: Rabu, 25 November 2015 (Pukul 10.00 WIB)
: Wisma Melati
: Leaflet
: Ceramah dan Tanya Jawab

KEGIAT
AN
Perkenala
n

Ceramah
1.
2.
3.
4.

5.

Evaluasi
(10 menit)

Tanya-Jawab

Terminasi
(5 menit)

Penutup

STIKes SURYA MITRA HUSADA

KEGIATAN
PENYULUH

KEGIATAN
PESERTA

Memberi salam
Memperkenalkan diri

Menjawab
salam
Menyimak
Mendengarka
n
Memperhatika
n

Memberikan
penjelasan :
Pengertian hipertensi
Tanda
dan
gejala
hipertensi
Pencegahan hipertensi
Faktor-faktor
yang
mempengaruhi
hipertensi
Dampak yang muncul
pada
masalah
hipertensi.
1. Memberikan
Bertanya
kesempatan kepada
peserta
untuk
bertanya
2. Menjawab
pertanyaan
1. Menyimpulkan
Memperhatikan
materi penyuluhan Menjawab
bersama peserta
35

2. Evaluasi
secara
lisan
3. Memberikan salam
penutup
I. Materi
J. Kepanitiaan
1. Moderator
2. Penyaji
3. Fasilitator
4. Observer
5. Dokumentasi

: Terlampir
: Sadam Husen Batarfi
: Diana Budiarti
: Trias A. Mahgfiroh
: Anton Banyuaji
: Anita R. Lambo

K. Evaluasi
Evaluasi dengan tes formatif memberikan pertanyaan kembali
mengenai hipertensi.
1. Evaluasi proses
a. Peserta antusias terhadap materi penyuluhan
b. Tidak ada peserta yang meninggalkan tempat penyuluhan
sebelum acara selesai
c. Peserta mengajukan pertanyaan
2. Evaluasi hasil
a. Peserta mengerti tentang hipertensi
b. Peserta mengetahui tentang tanda dan gejala hipertensi.
c. Peserta mengetahui pencegahan hipertensi
d. Peserta mengetahui dampak hipertensi.
3. Pertanyaan
a. Menganjurkan klien untuk menjelaskan pengertian
hipertensi?
b. Menganjurkan klien untuk menjelasakan tanda dan gejala
hipertensi?
c. Menganjurkan klien untuk melakukan relaksasi (nafas
dalam dan bisa dengan tidur)?
J. Setting Tempat

STIKes SURYA MITRA HUSADA

36

Keterangan Gambar:
:

Pembimbing

: Pasien/Peserta

Moderator

: Fasilitator

Presentator

BAB IV
ANGGARAN DANA DAN JADWAL KEGIATAN
A. ANGGARAN DANA
Rencana Anggaran Dana Pengabdian Masyarakat
Penyuluhan Kesehatan
Jenis Kebutuhan
Pembuatan Proposal dan leaflet
Konsumsi
Lain-lain
TOTAL ANGGARAN

STIKes SURYA MITRA HUSADA

Anggaran Dana
Rp. 35.000, 00
Rp. 100.000, 00
Rp. 10.000, 00
Rp. 145.000, 00

37

B. JADWAL KEGIATAN PROGRAM YANG AKAN DILAKSANAKAN


SEBAGAI BERIKUT :
No
.

November

Kegiatan

1.

Bina
hubungan
saling percaya

2.

Pengkajian individu

3.

Penyuluhan mencuci
tangan

4.

Penyuluhan
hidup
sehat pada lansia

5.

Penyuluhan personal
hygine

6.

Senam kaki DM

7.

Senam Reumatik

8.

Penyuluhan
Hipertensi

9.

Pengajuan
miniriset

10.

Pembuatan miniriset

11.

Penelitian miniriset

12.

Kegiatan lomba

13.

Seminar kasus

judul

STIKes SURYA MITRA HUSADA

38

Desember
4

BAB V
HASIL EVALUASI
Kegiatan penyuluhan tentang hipertensi pada lansia telah dilaksanakan
pada hari Rabu, 25 November 2015 di wisma Melati, peserta penyuluhan terdiri
dari 14 lansia.
5.1 Resume Pelaksanaan Penyuluhan Penyakit Hipertensi
Hari/ tanggal : Rabu, 25 November 2015
Jam
: 10.00 sampai selesai
Tempat: di wisma Melati
A. Acara dihadiri oleh:
a. Penanggung jawab wisma melati
b. Mahasiswa STIKes Surya Mitra Husada Kediri
c. Lansia wisma Melati
B. Evaluasi
a. Evaluasi Struktur
a) Koordinasi dengan pembimbing lahan dan akademik
b) Menyusun proposal
c) Pengorganisasian
d) Menyiapkan SAP dan leaflet hipertensi
e) Menyiapkan materi dan media
f) Undangan kepada lansia
g) Koordinasi menyiapkan tempat
Evalusi Proses
a) Sasaran memperhatikan dan mendengarkan selama
pendidikan kesehatan berlangsung
b) Sasaran mengajukan pertanyaan jika belum mengerti
c) Sasaran memberi jawaban atas pertanyaan pemberi materi
d) Sasarn tidak meninggalkan tempat saat kegiatan berlangsung
NO
1

WAKTU
10.00-10.10 wib

10.10-10.40 wib

STIKes SURYA MITRA HUSADA

KEGIATAN
Pemateri memberikan

penyuluhan

hipertensi
Diskusi dan klarifikasi
a. Mbah wiji siti
Apa yang di maksud hipertensi?

39

tentang

Jawab : tekanan darah meningkat ,dan


3 10.45

pusing kepala.
Penutup / doa

b. Evaluasi hasil
a). Lansia mengatakan memahami atau mengerti dengan apa yang di
jelaskan dan mampu yang tlah di sampaikan mengenai:
1.
2.
3.
4.

pengertian hipertensi
gejala hipertensi
cara pencegahan hipertensi
penatalaksanaan hipertensi dengan teknik relaksasi (nafas dalam,
tidur).

b). Presentasi kehadiran 98% dari undangan di tambah petugas


penanggung jawab wisma Melati
c). Kegiatan pada umumnya berjalan lancar seperti penjelasan materi
sudah mengena dan dalam penyampaian sudah menggunakan bahasa
yang dapat di mengerti oleh lansia dan luwes, situasi tidak tegang
d). Mahasiswa bertugas sesuai dengan tugasnya dan perannya masingmasing

STIKes SURYA MITRA HUSADA

40

BAB VI
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dengan meningkatnya populasi lanjut usia di Indonesia, kejadian
hipertensi pada populasi ini meningkat pula. Meningkatnya tekanan darah
sudah terbukti meningkatkan morbiditas dan mortalitas pada usia lanjut.
Salah satu karakteristik hipertensi pada usia lanjut adalah terdapatnya
berbagai penyakit penyerta (komorbid) dan komplikasi organ target,
seperti kejadian penyakit kardiovaskuler, ginjal, gangguan pada sistem
saraf pusat dan mata. Dengan menurunkan tekanan darah sampai target
140/90 mmHg dapat menurunkan angka morbiditas dan mortalitas.
Selain diagnosis yang sangat teliti, tatalaksana hipertensi pada usia
lanjut

harus

juga

Penatalaksanaan

memperhatikan

hipertensi

pada

kedua
lansia

hal
tidak

tersebut
berbeda

di

atas.

dengan

penatalaksanaan hipertensi pada umumnya, yaitu merubah pola hidup dan


pengobatan anti hipertensi. Dan saat ini berbagai pilihan obat-obat anti
hipertensi telah beredar di pasaran. Pemakaian berbagai obat tersebut bisa
disesuaikan dengan penyakit komorbid yang menyertai keadaan hipertensi
tersebut.
3.2 Saran
Dalam kehidupan sehari2 lansia sudah memahami tentang
hipertensi dan cara pencegahannya.

STIKes SURYA MITRA HUSADA

41

DAFTAR PUSTAKA

Chobanian A . 2003. JNC VII Report 18th Annual Scientific Meeting and
Exposotion of American Society of Hypertension. New York, USA.
Martono, H. (2004). Penatalaksanaan Hipertensi pada Usia Lanjut, Buku
Ajar Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut) Edisi Ke-3. Jakarta : Balai
Penerbit FKUI.
Geratosima, Salma 2004. Buku Ajar GERIATRI (ilmu kesehatan usia lanjut)
edisi 3. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
Ganiswarna S., et al. 1995. Farmakologi & Terapi Edisi 4. Jakarta : Balai
Penerbit FKUI.
Stanley, Mickey. 2007. Buku Ajar Keperawatan Gerontik Edisi 2. Jakarta :
EGC.
Stocklager, Jaime L. 2008. Asuhan Keperawatan Geriatric Edisi 2. Jakarta :
EGC.
Kowalski, Robert E. 2010. Terapi Hipertensi. Bandung : Mizan Pustaka.
Nugroho, Wahjudi. 2000 . Keperawatan Gerontik . Jakarta : EGC.
http://www.google.co.id/url?
sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&ved=0CB8QFjAA&ur
l=http%3A%2F%2Frepository.usu.ac.id%2Fbitstream
%2F123456789%2F19074%2F5%2FChapter
%2520I.pdf&ei=FxSCUPTKEuciAeXsIDwAQ&usg=AFQjCNEirKwyg
_Z55lpLGGwhFxTq-efDKA

STIKes SURYA MITRA HUSADA

42

Lampiran
DOKUMENTASI PENYULUHAN DI WISMA MELATI

STIKes SURYA MITRA HUSADA

43