Anda di halaman 1dari 17

Pramusaji

Tanggung Jawab Instalasi Gizi

Minggu, 20 Februari 2011 oleh. Administrator


Hits : 6053Share :

Pembahasan berikut ini sederhana namun dapat dijadikan koreksi apakah


Instalasi Gizi sudah menjalankan proses penerimaan bahan makanan,
penyimpanan, persiapan, pengolahan dan penyajian makanan memenuhi
standard higinitas yang seharusnya? Adakah Quality Control yang
menjaga kualitas dan kebersihan di instalasi Gizi hingga penyajian
makanan ke pasien? Adakah instrument yang digunakan untuk mengukur
standar-standar suhu dan apakah ada pengukuran berkala tentang INOS
di instalasi gizi? Adakah pemeriksaan kesehatan berkala bagi karyawan
instalasi gizi? Dan hal-hal lain yang dianggap sepele dan bahakan
diabaikan, namun penting artinya guna menunjang kualitas makanan
yang
Instalasi

disajikan
Gizi

Rumah

Sakit

kepada
bertangung

jawab

pasien?.
untuk

menyediakan

kebutuhan makanan bagi pasien demi mempercepat proses kesembuhan


mereka. Pasien membutuhkan nutrisi yang semestinya dan seimbang
untuk dikonsumsi. Untuk itu ahli gizi dan staff instalasi gizi rumah sakit
memiliki tanggung jawab yang besar untuk mewujudkan kebutuhan
pasien dalam persoalan konsumsi nutrisi harian mereka untuk menunjang
perawatan mereka di rumah sakit.

Salah satu tugas mereka adalah

menjamin bahawa makanan yang mereka berikan aman untuk dimakan.


Hal ini menuntut langkah-langkah yang ada dalam SOP dijalankan dengan
benar dari proses pemilihan bahan makanan, penerimaan, persiapan,
pengolahan hingga distribusinya ke semua pasien tanpa adanya resiko
terjadinya

kontaminasi

yang

justru

akan

memperlama

proses

penyembuhan

pasien.

Kegagalan untuk menjaga instalsi gizi tetap bersih dalam segala aspek
(sdm, fasilitas, bahan makanan proses pengolahan, dan distribusinya)
dapat

menjadi

penyebab

berkembangnya

bakteri

dan

terjadinya

kontaminasi pada makanan yang akan disajikan kepada pasien. Seperti


halnya kewajiban staf paramedic di rumah sakit, karyawan di instalsi gizi
juga wajib mencuci tangan mereka secara teratur sesuai kebutuhan
sanitasi yang diharuskan dalam menjaga kebersihan makanan dari proses
hingga penyajian. Tangan harus dijaga kebersihannya untuk keamanan
persiapan dan penyajian makanan. Demikian juga perangkat penyajian
makanan seperti piring dan lainnya harus dicuci dengan standar yang
benar

untuk

menghindari

timbulnya

bakteri.

Walaupun higinitas sudah dijalankan dengan benar, makanan masih


dapat

terjadi tidak aman dikarenakan persiapan/produksi yang tidak

sesuai kaidah yang telah ditetapkan standardnya. Daging yang dimasak


dalam waktu yang kurang atau melebihi waktunya dan atau di simpan
dalam suhu yang terlalu tinggi dapat menimbulkan tumbuhnya bakter E
Coli atau salmonella. Hal ini tidak hanya akan menimbulkan penyakit yang
lebih parah bagi pasien yang sudah dirawat, tetapi lebih dari itu justru
dapat

menimbulkan

kematian

pasien.

Sering terjadi kecerobohan ketika makanan disajikan kepada pasien. Perlu


ditegaskan kembali bahwa higinitas itu sangat penting. Pramusaji yang
menyajikan makanan mungkin secara tidak sengaja terjadi

kontak

langsung denga makanan, menjadikan makanan terkontaminsai. Hal


berikut ini adalah tanggung jawab pramusaji juga untuk meyakinkan
bahwa makanan yang diberikan adalah benar untuk pasien yang benar.
Hal ini mungkin tidak menjadi masalah besar bagi sesorang yang mungkin
tidak begitu suka dengan makanan mereka, tetapi untuk pasien lain
barangkali dapat menyebakan hal yang fatal. Jika pasien memiliki alergi
makanan, seperti susu, kacang-kacangan, sea food, daging, gandum, atau
telur

yang

mana

mengkonsumsi

makanan

tersebut

justru

akan

memperparah

penyakitnya.

Korban dari kecerobohan persiapan bahan makanan yang tidak sesuai


standar di rumah sakit dapat mengajukan tuntutan kompensasi. Kejadian
ini dapat digolongkan dalam kategori mal praktek di rumah sakit.
Apakah Insatalsi Gizi Anda selalu terjaga keberisihannya? Anda sendiri
yang

harus

menilai

dan

mewujudkannya.

Bila Anda ingin berdiskusi bagaimana membangun, mengembangnkan,


atau merenovasi Insatlasi Gizi dari sisi infrastruktru alur dan peralatan
yang

sesuai

standard

kirim

email

ke

kami

melelui:

konsultanrumahsakit@yahoo.com atau menuliskan komentar di web ini.


Waiter/waitress/server adalah orang yang bertugas atau bekerja dibidang
penyajian, dalam hal ini makanan dan minuman atau setidak-tidaknya
menyampaikan hidangan kepada seseorang. Waiter/waitress/server
merupakan suatu jabatan yang terdapat dalam berbagai outlet food and
beverage department seperti restoran, room service, caf, bar dan
banquet. Seorang Waiter/waitress/server harus mampu memberikan
pelayanan yang memuaskan bagi tamu (excellent service) dan dapat
dilakukan dengan berbagai cara, seperti :

A.

Penampilan

diri

Penampilan akan menentukan apakah pelayanan yang diberikan


kepada tamu merupakan pelayanan yang berkualitas dan beretiket atau
tidak. Oleh karena memberikan pelayanan secara langsung kepada tamu,
senantiasa dituntut dengan penampilan yang rapid an menarik. Beberapa
ketentuan
mengenai
penampilan
yaitu
:
1.

Kebersihan

badan

(Cleanlines

of

the

Body)

Kebersihan badan harus mendapat perhatian yang utama, badan yang


kotor dan tidak terpelihara kebersihanya akan langsung merusak
pelayanan kepada tamu. Untuk itu harus selalu menjaga kebersihan dan
kesegaran
badan.
2.

Kulit

(skin)

Kesehatan dan kesegaran kulit harus mendapat perhatian yang utama.


Kulit juga sangat menentukan nilai dan mutu pelayanan yang diberikan
kepada tamu. Paling utama adalah segala macam penyakit kulit harus
diberantas.
3.

Rambut

(hair)

Masalah rambut tidak boleh diabaikan begitu saja dan harus dijaga
kebersihanya, kesehatanya, dan kerapianya. Pergunakan minyak rambut
seperlunya, jaga agar tidak menimbulkan aroma atau bau tidak sedap.
Bebaskan rambut dari ketombe dan jangan menggaruk-garuk kepala saat
sedang
melayani
atau
menemani
tamu.
4.

Kumis

dan

jenggot

(beard

and

moustachi)

Pelayanan kepada tamu akan dapat bernilai baik jika dapat menjaga
kerapian wajah dengan tidak memelihara kumis dan jenggot.
5.

Tangan

dan

Kuku

(hands

and

nails)

Kuku dan tangan harus bersih untuk menjamin kebersihan pelayanan.


Selalu cuci tangan untuk menjaga kebersihan dan tidak memanjangkan
kuku. Hindari pemakaian cat kuku yang berbau tajam. Selalu pelihara
kesehatan
kulit
telapak
tangan.
6.

Mulut

dan

Gigi

(mouth

and

teeth)

Bagian ini merupakan bagian terpenting dan tidak boleh dianggap


remeh. Selalu dijaga kebersihan dan kesegaranya. Hindari jangan sampai
mulut mengeluarkan bau tidak sedap. Hal ini karena akan berhadapan
langsung
dengan
tamu,
atasan,
dan
rekan
kerja.
7.

Kaki,

kaus

kaki,

dan

sepatu

(feet,

stocking,

and

shoes)

Kebersihan dan kesegaran kaki harus dipelihara secara cermat. Jangan


memakai kaus kaki dalam jangka waktu yang panjang sehingga
menimbulkan bau yang tidak sedap. Jangan biarkan sepatu disimpan di
tempat
yang
lembab.
8.

Emas

dan

perhiasan

(gold

and

jewelry)

Hindari pemakaian perhiasan secara berlebihan dan segala bentuk


penampilan
menyolok
ketika
bertugas.
9.

Pakaian

seragam

(uniform)

Pakaian seragam harus dan hanya dipakai pada saat bekerja dan harus
senantiasa dirawat dengan baik agar tetap rapi, bersih, dan tahan lama.
Kenakan uniform dengan baik dan benar dan selalu perhatikan kerapian
penampilan
terutama
pada
saat
sedang
bekerja.
B.

Sikap

dan

Tingkah

Laku

Sikap, pembawaan, dan tingkah laku sebagai seorang karyawan


khususnya bagi para waiter/server harus dijaga dan dipelihara. Harus

senantiasa bersikap lebih terampil dan cekatan serta selalu dalam


keadaan siap sedia dalam menyediakan pelayanan. Harus selalu dalam
keadaan rapi dengan sesekali mengontrol penampilan dan pembawaan
diri.
Setiap waiter/server harus selalu bersikap ramah terhadap setiap tamu
yang datang. Penampilan dengan selalu tersenyum dalam keadaan
bagaimanapun juga akan membawa arti yang sangat banyak bagi diri
sendiri, bagi tamu yang datang, relasi, pimpinan, dan rekan kerja.
Seorang waiter/server dituntut untuk memiliki sikap yang toleran, yaitu
mampu berpikir dan mempertimbangkan segala sisi dan kepentingan
orang lain, bukan dari sisi kepentingan individu pribadinya dan juga harus
mempunyai rasa tanggung jawab yang besar terhadap pekerjaanya.
1. Gaya berbicara harus dimiliki oleh setiap waiter/server untuk dapat
menimbulkan daya tarik kepada lawan bicara. Misalnya dengan bahasa
tubuh, mimik muka, atau campuran dari gerak tangan dan suara.
2. Sikap badan saat berbicara dapat memberikan daya tarik tersendiri
dan dapat menghidupkan suasana sehingga antara lawan bicara dan
pembicara
terdapat
suasana
penuh
keakraban.
3.
Sopan santun merupakan sesuatu yang sangat essensial dalam
berhadapan
dengan
tamu
yaitu
dari
disiplin
pribadinya.
C.

Tugas

dan

Tanggung

Jawab

Waiter/Server

Tugas utama seorang waiter/server adalah memberikan pelayanan


kapada tamu yang akan minum dan makan. Disamping tugas utama
diatas, juga harus melaksanakan yang berhubungan dengan tugas utama
tersebut
:
1.

Mempersiapkan

2.

Melaksanakan

3.

Menjalankan

4.
5.

service

table
step

set-up
to

equipment
dan

customer

clear
dengan

up
baik

Memastikan tamu yang datang dalam keadaan nyaman dan senang


Mengkondisikan

area

sekitar

tamu selalu

bersih dan aman

Selain itu juga harus bertanggung jawab atas kebersihan, keselamatan,


dan kemanan atas dirinya dan tempat kerjanya. Tanggung jawab yang lain
seperti
:
1.

Bertanggung jawab terhadap head waiter atau captaint floor

2.

Bertanggung jawab atas kebersihan dan kerapian area kerja

3. Bertanggung jawab atas inventaris peralatan dan perlengkapan


pelayanan
D.

Fungsi

Waiter/Server

Salah satu fungsi waiter/server adalah sebagai penyaji hidangan


dimana tamu akan dibantu untuk memilih menu serta menjelaskanya.
Sehingga tamu merasa lebih mudah dalam memilih menu yang akan
dipesan.
E.

Formulasi

Sikap

Pelayanan

Ada tiga pokok kaidah pelayanan yang sangat mendasar dimana antara
yang satu dengan yang lainya saling memiliki dan saling keterkaitan, yaitu
:

Persiapan

Pelayanan

Yang dimaksud adalah mempersiapkan mental dan fisik serta berbagai


peralatan kerja yang mendukung terciptanya kelancaran pelayanan.
1.

Persiapan

Fisik

Persiapan fisik sangat penting sebelum bekerja. Diantaranya adalah


sebagai
berikut
:
Berpakaian
rapi,
pantas,
dan
benar
- Menampilkan raut muka yang jernih serta menunjukkan keceriaan
Sikap
tubuh
lentur
dan
luwes
- Sopan dan ramah dengan ditampilkan melalui air muka dan sikap tubuh
Menunjukkan
kondisi
sehat
jasmani
Sikap
siap
untuk
bekerja
Sehubungan dengan penjagaan kesehatan, waiter/server perlu menjaga
agar tidak terlalu larut dalam pekerjaan dan bisa mengatur tempo
emosional, serta selalu berupaya menghindari stress dengan selalu
menikmati pekerjaan dan mensyukuri berkah yang diperoleh dari
pekerjaan tersebut. Persiapan fisik yang benar akan memeberikan
pelayanan
yang
prima
kepada
tamu-tamunya.
2.

Persiapan

Mental

Untuk mempersiapkan mental agar dapat melakukan pekerjaan dengan


baik, haruslah selalu memelihara konsentrasi, selalu percaya diri, dan
merasa bangga dengan tugas-tugasnya dan juga sebisa mungkin
menjauhkan complaint dan masalah-masalah pribadi ketika akan bekerja.

Seorang waiter/server harus memelihara konsentrasi pemikiranya agar


perhatianya mengarah terhadap pekerjaan yang akan dilakukan. Agar
pemusatan pemikiran dapat dilakukan dengan sempurna beberapa hal
perlu
menjadi
pedoman,
antara
lain
:
-

Menganggap
Semua yang dimiliki
Pekerjaan
yang

3.

pekerjaan
sebagai
diperoleh dari hasil pekerjaan
dilakukan
itu
merupakan

Persiapan

Yang dimaksuda adalah


dipergunakan
dalam
F.

hobby
tersebut
ibadah

Alat
segala

macam
bekerja,

Alat
Alat-alat

peralatan yang
seperti

tulis
penyajian
dan

Bantu
akan
:

menulis
menu
sebagainya

Interaksi

Proses interaksi diawali dengan datangnya tamu ke outlet. Pada saat


yang sama proses pelayanan juga dimulai dengan melakukan
penyambutan (greeting). Proses interaksi berlanjut dengan timbulnya
komunikasi, dimana dengan komunikasi ini kedua belah pihak
mengharapkan
memperoleh
pengertian
masing-masing.
Pihak
waiter/server berupaya memahami apa yang diinginkan tamu, sedangkan
pihak tamu akan memahami berbagai informasi yang diberikan berkaitan
dengan kebutuhan. Kecocokan dalam berkomunikasi akan menghasilkan
hal-hal
positif
bagi
kedua
belah
pihak.
Khusus bagi waiter/server, pertanyaan yang diajukan tamu harus
disadari sebagai suatu permintaan informasi dan bukan merupakan
interogasi. Tamu menginginkan penjelasan atas sesuatu atau kepastian
dari sesuatu yang diinginkan. Tamu tersebut juga menginginkan
keterangan yang lengkap dan terinci menyangkut kebutuhanya
sehubungan dengan persyaratan yang ditetapkan perusahaan. Namun
demikian, apapun jenis pertanyaan yang diajukan tamu, waiter/server
harus siap menjawabnya dengan cara yang sopan, jelas, dan ramah.
Apalagi yang menyangkut produk yang dijual seperti basic ingredients,
porsi,
harga,
dan
lain
sebagainya.
G.

Tindak

Lanjut

Pelayanan

Tindak lanjut pelayanan setelah interaksi adalah pelaksanaan


pelayanan untuk memenuhi kebutuhan tamu sesuai permintaan atau
pemesanan. Dalam melaksanakan pelayanan ini, seluruh kesepakatan
dengan tamu harus dapat terealisasikan berdasarkan ketentuan dan
standar pelayanan yang telah ditetapkan.

Uraian Tugas Kebersihan


Posted on February 10, 2012 by finsensius
Bidang kebersihan mempunyai tugas pokok mengadakan perencanaan
terhadap kegiatan pengelolaan dan, mengadakan penyuluhan kepada
masyarakat, kelompok industri, pedagang, pelaku lainnya
tentang kebersihan yang diatur melalui Peraturan Daerah.
Operasionalisasi sampah di jalanan umum, pasar, perumahan, lokasi
perkantoran pemerintah dan membutuhkan pemeliharaan terhadap
sarana dan prasarana pengangkut sampah, penetapan Tempat
Pembuangan Sementara (TPS) dan Tempat Pembuangan Akhir (TPA),
mengadakan urusan dan penagihan jumlah retribusi sampah pergolongan
pelanggan serta melakukan koodinasi dengan instansi terkait atas
terselenggaranya kebersihan kota.Bidang kebersihan mempunyai fungsi :

Menyusun perencanaan terhadap pengelolaan kebersihan;

Melakukan inventarisasi terhadap lokasi-lokasi Tempat Pembuangan


Sementara ( TPS)

Menginventarisi jumlah produksi sampah rumah tangga, pertokoan,


pabrik,jalanan umum, rumah sakit dan fasilitas umum lainnya;

Melaksanakan kegiatan operasional kebersihan;

Mengadakan pengaturan jadwal operasionalisasi pengangkutan


sampah;

Melaksanakan pengawasan dan pengendalian terhadap sarana dan


prasarana kebersihan yang ada;

Melaksanakan bimbingan dan pembinaan terhadap buruh


pengangkut sampah

Menyelenggarakan koordinasi dengan instansi terkaiti dalam rangka


pengelolaan kebersihan.

Dalam menyelenggarakan kegiatan Bidang kebersihan dipimpin oleh


seorang Kepala Bidang. Bidang Kebersihan terdiri dari :
1.

Seksi Pengelolaan Kebersihan dan Pemeliharaan Sarana.

2.

Seksi Retribusi dan Penagihan

1. Seksi Pengelolaan Kebersihan dan Pemeliharaan Sarana


Seksi Pengelolaan Kebersihan dan Pemeliharaan Sarana mempunyai tugas
membantu Kepala Bidang Kebersihan dalam penanganan kebersihan.
Seksi Pengelolaan Kebersihan dan Pemeliharaan Sarana mempunyai tugas
:

Melaksanakan kegiatan pengangkutan dan pembuangan sampah ke


Tempat Pembuangan Akhir (TPA)

Melaksanakan pengelolaan dan pemusnahan sampah serta


pemeliharaan jalan di tempat pembuangan akhir;

Melaksanakan perawatan kendaraan pengangkut sampah, serta


bimbingan dan latihan bagi petugas pengangkut sampah;

Melaksanakan pembersihan jalan, taman/monumen, lapangan olah


raga, tempat rekreasi, saluran air, termasuk pengotoran/pencemaran
limbah industri; .

Melaksanakan penyuluhan dan penertiban pembuangan sampah


oleh masyarakat

Melaksanakan kegiatan pengosongan jamban, seperti kotoran tinja


dan air limbah ke tempat yang ditentukan

Melakukan pemeliharaan rutin terhadap semua sarana dan


prasarana kebersihan yang ada;

Melaksanakan tugas-tugas kedinasan lain yang diherikan oleh


Kepala Bidang Kebersihan.

2. Seksi Retribusi dan Penagihan


Seksi Retribusi dan Penagihan mempunyai tugas membantu Kepala
Bidang Kebersihan dalam penanganan masalah retribusi dan penagihan
persampahan. Seksi Pengelolaan Kebersihan dan Pemeliharaan Sarana
mempunyai tugas :

Melakukan perhitungan dan penetapan retribusi, pengelolaan daftar


wajib retribusi serta perencanaan peningkatan sumber pendapatan;

Membuat usul/rencana penetapan penyediaan karcis kebersihan;

Membuat daftar pelanggan dan tunggakan, menyusun rencana


peningkatan pendapatan retribusi kebersihan serta melaksanakan
penagihan retribusi.

Menetapkan petugas penagih retribusi kebersihan;

Menyelenggarakan kegiatan pengawasan dan penyuluhan kepada


industri (pengelola peternakan dan lain -lain ) dan

masyarakat pada umumnya tentang pelaksanaan Peraturan Daerah


dan kebijakan teknis kebersihan terutama penertiban penagihan
retribusi kebersihan;

Melaksanakan tugas-tugas kedinasan lain yang diberikan oleh


Kepala Bidang Kebersihan.

KEBERSIHAN TEMPAT KERJA


Kebersihan tempat kerja sangat terkait dengan program sistim manajemen lingkungan.
Dengan tempat kerja yang bersih berarti di lokasi kerja terbebas dari sampah-sampah,
sehingga setiap pekerja merasa nyaman dalam bekerja.
Dalam istilah 5 S, kegiatan pembersihan termasuk dalam kegiatan inspeksi, karena pada
saat melakukan kegiatan kebersihan berarti melakukan pengontrolan terhadap barangbarang yang tidak dipergunakan di tempat kerja. Tujuan jangka panjang dari kegiatan ini
adalah meminimalkan terjadinya kesalahan-kesalahan kecil yang bisa mengganggu proses
produksi, sehingga kualitas produk yang dihasilkan tetap terjaga.
Langkah-langkah yang dapat menunjang kebersihan tempat kerja adalah :

Kebersihan merupakan tanggung jawab seluruh karyawan.

Melakukan kegiatan pembersihan tempat kerja 3 menit setiap hari.

Seluruh karyawan adalah petugas kebersihan.

Bersihkan setiap tempat walaupun jarang digunakan.

Biasakan kebersihan merupakan inspeksi awal untuk menemukan kesalahankesalahan kecil.

Untuk menjaga kebersihan tempat kerja, hal yang perlu dilakukan adalah :

Tentukan penanggung jawab kebersihan untuk setiap bagian

Tentukan apa saja yang perlu dibersihkan.

Patuhi aturan yang telah disepakati.

Penanggungjawab kebersihan

Secara umum seperti yang disebutkan di atas, kebersihan merupakan tanggung jawab
setiap orang. Tetapi pada pelaksanaannya sering kali tidak bisa berjalan dengan baik karena
tidak ada penanggung jawab kebersihan untuk area tertentu.
Penanggung jawab kebersihan akan sangat diperlukan terutama untuk tempat-tempat yang
sering dipakai bersama-sama.

Apa yang perlu dibersihkan

Hal ini perlu merupakan kesepakatan bersama agar setiap orang mempunyai keseragaman
dan tidak melakukan kesalahan dalam melakukan kegiatan pembersihan tempat
kerja. Sehingga setiap orang harus memahami pentingnya pembersihan dan dapat
mengurangi penyebab terjadinya pengotoran di tempat kerja.

Patuhi aturan

Aturan yang telah disepakati, bisa berjalan dengan baik apabila setiap orang berusaha
mematuhi kesepakatan tersebut.

Kebersihan tempat kerja merupakan dasar dari pelaksanaan 5 S. Dengan melakukan


langkah pembersihan tempat kerja secara teratur tujuan jangka panjang perusahaan untuk
menerapkan sistem manajemen mutu, sistem manajemen lingkungan dan sistem
manajemen keselamatan dan kesehatan kerja akan lebih mudah.

Beberapa etika kerja dan cara


meningkatkan etika kerja di
lingkungan perusahaan
Posted: October 2, 2015 in Uncategorized

Pada dasarnya etika kerja merupakan gabungan antara


dari kata etika yang berarti ilmu tentang apa yang baik,
apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral.
Pengertian ini muncul mengingat etika berasal dari bahasa
Yunani kunoethos (jamak: ta etha), yang
berarti adat kebiasaan, cara berkipikir, akhlak, sikap,
watak, cara bertindak. Kemudian diturunkan
kata ethics (Inggris), etika (indonesia). Kamus Besar
Bahasa Indonesia, 1988, menjelaskan etika dengan
membedakan tiga arti, yakni: Ilmu tentang apa yang baik
dan buruk, kumpulan azas atau nilai, dan nilai mengenai
benar dan salah. Dengan pembedaan tiga definsi etika
tersebut maka kita mendapatkan pemahaman etika yang

lebih lengkap mengenai apa itu etika, sekaligus kita lebih


mampu memahami pengertian etika yang sering sekali
muncul dalam pembicaraan sehari-hari, baik secara lisan
maupun tertulis. Objek etika adalah alam yang berubah,
terutama alam manusia.
Sedangkan apabila etika digabungkan dengan kata kerja,
yang menjadi etika kerja memiliki arti yaitu nilai-nilai atau
kebiasaan yang harus dilakukan ketika berada di
lingkungan kerja. Sehingga dapat disimpulkan etika kerja
adalah sistem nilai yang dianut secara perorangan yang
termasuk etika hubungan antar Karyawan dan perusahaan.
Etika kerja mengatur hubungan yang lebih bersifat ke
dalam (perusahaan), yakni antara Karyawan dan
perusahaan secara umum.
Kumulasi Sikap, perilaku, cara berhubungan dan
bagaimana proses kerja dilaksanakan, akan membangun
Budaya Kerja yang merupakan salah satu elemen penting
dalam perusahaan.
Etika Kerja meliputi hal-hal berikut ini :

Sikap Karyawan dalam Perusahaan

Sikap Karyawan dengan wewenang dan jabatannya di


Perusahaan

Hubungan Karyawan dengan Atasan dan dengan


Bawahannya

Hubungan Karyawan dengan Sesama Karyawan

Berikut ini adalah penjelasan lebih lanjut mengenai butirbutir di atas.

1. Karyawan dalam perusahaan :

Menjadi warga Perusahaan yang baik, mentaati


peraturan Perusahaan dan peraturan perundangan yang
berlaku.

Menggunakan dan mengembangkan potensinya


secara optimal untuk kepentingan Perusahaan.

Turut menciptakan lingkungan kerja yang kondusif


dan secara bersama-sama membangun budaya kerja
yang baik.

2. Karyawan dengan wewenang dan jabatannya di


Perusahaan :

Menggunakan dengan penuh tanggung jawab untuk


kepentingan Perusahaan dan tidak untuk kepentingan
pribadi atau pihak-pihak tertentu.

Menjaga dan menggunakan seluruh data, informasi,


harta dan fasilitas Perusahaan untuk kepentingan
Perusahaan dan tidak menggunakannya untuk
kepentingan pribadi atau pihak-pihak tertentu.

Menjaga nama baik Perusahaan dalam sikap dan


perilakunya, baik di luar maupun di dalam Perusahaan.

3. Karyawan dengan Atasan dan Bawahannya di


Perusahaan :

Atasan sebagai panutan, pengarah dan pembimbing


bawahannya dan bertanggung jawab atas perilaku,
kinerja dan unjuk kerja bawahannya di Perusahaan.

Bawahan secara aktif mengembangkan diri dan


mengekspresikan potensinya dalam arah dan di bawah
tanggung jawab Atasannya.

Saling menerima, menghargai dan membina


kerjasama dalam suasana keterbukaan didasari ketulusan
dan itikad baik.
4. Karyawan dengan sesama Karyawan :

Saling menghargai, mendorong semangat dan


membina kerjasama dalam tugas dan tanggung jawabnya
masing-masing.

Mengembangkan integritas, keterbukaan dan


kelimpahruahan dalam hubungan yang harmonis sebagai
warga Perusahaan.

Setelah membahas mengenai pengertian dari etika kerja


tersebut, tulisan selanjutnya mengenai bahasan tentang
meningkatkan etika kerja di lingkungan kerja. Untuk
mendapatkan kesuksesan dalam karir, setiap karyawan
hendaknya meningkatkan etika kerja. Ikuti tips berikut ini
dalam meningkatkan etika kerja.
Etika kerja berkaitan dengan apa yang semestinya
dilakukan oleh karyawan. Seharusnya etika kerja makin
lama bukannya semakin menurun tetapi semakin
meningkat. Seperti dikutip Ehow, untuk meningkatkan etos
kerja, setiap karyawan perlu membangun prinsip-prinsip
seperti di bawah ini.
1.

Datang ke kantor lebih awal, setidaknya 15 menit


sebelum mulai bekerja. Menyediakan waktu luang
sebelum bekerja membuat Anda lebih siap mental untuk

mengerjakan tugas kantor. Karyawan yang tidak pernah


telat berarti menjunjung tinggi prinsip etika kerja.
2.

Pertahankan sikap profesional setiap


saat. Jadilah karyawan yang ramah dan bersahabat
kepada staf lainnya di perusahaan. Hindarilah gosip dan
fokuskan diri pada masalah-masalah pekerjaan.

3.

Bersikap postif terhadap komentar negatif. Sikap


positif sangat penting untuk menguatkan etos kerja.
Bawalah perspektif yang segar pada pendapat negatif.

4.

Inisiatif untuk menangani proyek baru. Jadilah


karyawan dengan inisiatif tinggi dalam mengambil proyek
baru dan percaya dirilah menjalankan semua tanggung
jawab pekerjaan.

5.

Produktif. Kualitas dan kuantitas pekerjaan


merupakan cerminan langsung karakter profesional dan
integritas. Seorang pekerja yang produktif dengan etika
kerja yang kuat, dapat menghasilkan karya yang
berkualitas.

6.

Menghormati kontribusi rekan lain. Bagi sebagian


orang bekerja dengan tim lebih sulit karena harus
menyatukan beberapa pendapat menjadi satu. Belajarlah
untuk menghormati rekan lain di kantor yang
memberikan ide.

7.

Tidak perhitungan dengan waktu kerja. Bekerja


lembur sesekali bukanlah suatu masalah besar. Bekerja
lembur akan menyukseskan proyek yang akan dijalani
dan dapat menyelesaikannya lebih cepat dari waktu yang
diprediksikan.

Anda mungkin juga menyukai